WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Nasi Kasreng

Nasi kasreng merupakan makanan tradisional khas Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan. Makanan ini dikenal sebagai hidangan sederhana yang terdiri atas nasi putih dengan pelengkap berupa tauge mentah, sambal terasi, udang rebon, dan aneka gorengan. Meskipun bahan-bahannya relatif sederhana, perpaduan rasa gurih, pedas, dan segar menjadikan Nasi Kasreng memiliki ciri khas tersendiri di antara beragam kuliner tradisional masyarakat Sunda.

Menurut pemberitaan RRI Cirebon dalam artikel “Nasi Kasreng, Nasinya Orang Luragung” (2024), makanan ini telah dikenal sebagai salah satu kuliner khas masyarakat Luragung. Ciri yang membedakannya dari nasi bungkus pada umumnya adalah penggunaan udang rebon sebagai pelengkap, tauge mentah sebagai lalapan, serta sambal yang memberikan rasa pedas. Nasi Kasreng pada mulanya dikenal sebagai makanan yang terjangkau dan mengenyangkan, terutama bagi masyarakat yang memulai aktivitas sejak pagi hari.

Sejarah
Sejarah Nasi Kasreng berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di sekitar Pasar Galuh dan kawasan Terminal Luragung. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat dan sejumlah pemberitaan kuliner, makanan ini mulai dikenal sekitar tahun 1970-an. Salah seorang pedagang yang disebut dalam cerita asal-usulnya adalah Ibu Kasri, yang berjualan nasi dengan lauk sederhana dan aneka gorengan. Pembelinya pada masa itu antara lain sopir bus, kernet, pekerja, pedagang pasar, serta masyarakat yang beraktivitas pada pagi hari.

Sebagaimana diberitakan detikJabar dalam artikel “Nasi Kasreng Kuningan, Menu Sarapan Sopir Bus yang Jadi Kuliner Khas” (2024), nama Kasreng dipercaya berasal dari gabungan nama Kasri dan kata gorengan. Sebutan tersebut kemudian melekat pada nasi yang dijual bersama gorengan hangat. Cerita serupa juga disampaikan dalam pemberitaan Radar Cirebon mengenai sosok Ibu Kasri dan perkembangan Nasi Kasreng di Luragung.

Pada masa awal perkembangannya, nasi kasreng merupakan makanan sederhana yang dijual untuk memenuhi kebutuhan makan masyarakat dengan harga terjangkau. Penjualannya berkaitan dengan aktivitas pasar dan transportasi, ketika para pekerja serta pengemudi membutuhkan makanan praktis sebelum melanjutkan pekerjaan. Nasi disajikan bersama lauk yang mudah disiapkan, seperti gorengan, sambal, tauge, dan udang rebon.

Seiring berjalannya waktu, Nasi Kasreng semakin dikenal oleh masyarakat di luar Luragung. Pedagang yang menjual makanan ini pun bertambah, baik di wilayah Luragung maupun di daerah lain di Kabupaten Kuningan. Pilihan lauknya berkembang menjadi lebih beragam, seperti telur, ayam, ikan, pepes, dan berbagai masakan rumahan. Meskipun mengalami perkembangan, unsur utama berupa nasi putih, tauge, sambal, udang rebon, dan gorengan tetap dipertahankan sebagai penanda identitas kuliner tersebut.

Kekhasan
Kekhasan nasi kasreng terlihat dari perpaduan bahan yang sederhana dan cara penyajiannya. Nasi putih menjadi unsur utama, kemudian dilengkapi tauge mentah, sambal terasi, udang rebon, serta gorengan seperti bala-bala, tempe berbalut tepung, dan gehu. Udang rebon yang berukuran kecil memberikan rasa gurih, sedangkan tauge menghadirkan tekstur renyah dan kesegaran. Sambal terasi melengkapi hidangan dengan rasa pedas dan aroma khas.

Menurut RRI Cirebon 2024), nasi kasreng secara tradisional disajikan dalam bungkusan berbentuk mengerucut. Pada masa lalu, pembungkusnya menggunakan daun jati atau daun pisang. Dalam perkembangannya, kertas nasi juga digunakan untuk membungkus hidangan tersebut. Bentuk bungkusan yang praktis mendukung kebiasaan masyarakat yang membeli makanan untuk dibawa atau disantap di sela-sela aktivitas.

Kekhasan lainnya terletak pada hubungan Nasi Kasreng dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Makanan ini tidak berawal dari hidangan khusus untuk upacara atau kalangan tertentu, melainkan berkembang dari kebutuhan makan masyarakat pekerja. Kesederhanaan bahan dan penyajiannya memperlihatkan bagaimana kuliner lokal dapat tumbuh dari kegiatan ekonomi rakyat, kemudian berkembang menjadi identitas daerah.

Dalam perkembangannya, Nasi Kasreng tidak lagi terbatas sebagai menu sarapan. Makanan ini juga dinikmati sebagai hidangan makan siang atau santapan bersama keluarga. Berbagai pilihan lauk yang tersedia di warung-warung Nasi Kasreng memperlihatkan adanya penyesuaian terhadap selera konsumen, tanpa sepenuhnya meninggalkan komposisi dasar yang dikenal sejak awal.

Peralatan dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk membuat Nasi Kasreng pada dasarnya merupakan peralatan dapur sehari-hari. Peralatan tersebut meliputi penanak nasi atau dandang, panci, wajan, kompor, spatula, pisau, cobek dan ulekan untuk membuat sambal, serta wadah untuk menyimpan nasi dan lauk. Kertas nasi atau daun pembungkus dapat digunakan apabila hidangan hendak disajikan dalam bentuk nasi bungkus.

Bahan utama Nasi Kasreng adalah beras yang dimasak menjadi nasi putih. Bahan pelengkapnya meliputi tauge, udang rebon, cabai, bawang, terasi, garam, serta bahan lain yang diperlukan untuk membuat sambal. Aneka gorengan seperti bakwan, tempe berbalut tepung, dan gehu menjadi pelengkap yang lazim ditemukan. Dalam penyajiannya, beberapa penjual juga menyediakan telur dadar, telur ceplok, ayam goreng, ikan, atau lauk lainnya sesuai dengan kebutuhan dan selera pembeli.

Bahan-bahan tersebut memperlihatkan bahwa Nasi Kasreng tidak memerlukan komposisi yang rumit. Nasi menjadi sumber makanan pokok, sedangkan tauge, sambal, udang rebon, dan gorengan memberikan variasi rasa serta tekstur. Jenis dan jumlah lauk dapat berbeda antara satu penjual dan penjual lainnya, sehingga tidak terdapat satu susunan pelengkap yang selalu sama pada setiap hidangan.

Proses Pembuatan
Pembuatan Nasi Kasreng diawali dengan memasak beras hingga menjadi nasi putih. Nasi kemudian disiapkan dalam keadaan hangat agar dapat langsung disajikan kepada pembeli. Sementara itu, bahan pelengkap dipersiapkan secara terpisah. Tauge dibersihkan dan ditiriskan, sedangkan udang rebon disiapkan sebagai taburan. Pada sebagian penjual, udang rebon digoreng terlebih dahulu untuk menghasilkan tekstur yang lebih kering dan rasa gurih.

Sambal dibuat dengan menghaluskan cabai, terasi, garam, dan bahan tambahan sesuai selera. Tingkat kepedasan sambal menjadi salah satu unsur yang menonjol dalam Nasi Kasreng. Sambal yang pedas berpadu dengan rasa gurih udang rebon dan gorengan, sementara tauge memberikan sensasi segar ketika disantap bersama nasi.

Gorengan dibuat secara terpisah. Bahan seperti tempe, bakwan, dan gehu dilapisi adonan tepung sebelum digoreng hingga matang. Gorengan umumnya disajikan dalam keadaan hangat agar teksturnya tetap renyah. Dalam pemberitaan detikJabar (2024), gorengan hangat, sambal terasi, tauge, dan taburan rebon disebut sebagai unsur yang mempertahankan ciri khas Nasi Kasreng di tengah berkembangnya pilihan lauk.

Setelah semua bahan siap, nasi disatukan dengan pelengkapnya sesuai kebiasaan penjual. Sebagian penjual menyajikannya langsung dalam bungkusan, sedangkan penjual lainnya menyediakan nasi dan lauk secara terpisah agar pembeli dapat menentukan sendiri pilihan makanannya. Cara pembuatan dan penyajian dapat berbeda menurut kebiasaan masing-masing penjual, tetapi komposisi utama Nasi Kasreng tetap menjadi dasar hidangan.

Penyajian
Nasi Kasreng dapat disajikan di atas kertas nasi atau dibungkus dengan bentuk mengerucut. Nasi putih ditempatkan sebagai bagian utama, kemudian dilengkapi tauge mentah, sambal terasi, dan taburan udang rebon. Gorengan seperti bakwan, tempe goreng tepung, atau gehu disajikan sebagai pendamping. Perpaduan nasi hangat, tauge yang renyah, sambal pedas, rebon yang gurih, dan gorengan menciptakan rasa yang sederhana tetapi khas.

Dalam perkembangannya, penyajian Nasi Kasreng tidak hanya berbentuk nasi bungkus. Banyak warung menyediakan nasi dan berbagai lauk di meja agar pembeli dapat memilih sesuai selera. Selain gorengan yang menjadi pelengkap utama, tersedia pula pilihan lauk seperti telur, ayam, ikan, pepes, dan masakan rumahan lainnya. Meskipun pilihan tersebut semakin beragam, nasi dengan tauge, sambal, dan udang rebon tetap menjadi ciri yang mudah dikenali.

Nasi Kasreng menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak selalu tumbuh dari resep yang rumit atau bahan yang mahal. Makanan ini berkembang dari kebiasaan masyarakat memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dengan bahan yang mudah diperoleh dan harga yang terjangkau. Hubungannya dengan aktivitas pasar dan transportasi di Luragung turut membentuk sejarahnya sebagai makanan rakyat.

Kini, Nasi Kasreng telah menjadi salah satu identitas kuliner Kabupaten Kuningan. Keberadaannya memperlihatkan hubungan antara makanan, kegiatan ekonomi masyarakat, dan perkembangan kehidupan lokal. Kesederhanaan yang menjadi ciri awalnya tetap bertahan meskipun pilihan lauk dan tempat penjualannya semakin beragam. Dengan demikian, Nasi Kasreng bukan hanya hidangan untuk memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga bagian dari ingatan kuliner masyarakat Luragung yang terus diwariskan melalui kegiatan memasak, berjualan, dan menikmati makanan bersama.

Sumber
Octaviana, Gina. 2024. “Nasi Kasreng, Nasinya Orang Luragung,” diakses dari , RRI Cirebon, 28 Juni 2024. https://rri.co.id/cirebon/kuliner/785865/nasi-kasreng-nasinya-orang-luragung?utm_source=chatgpt.com, tanggal 20 Oktober 2026.

Taufik, Mohamad. 2024. “Nasi Kasreng Kuningan, Menu Sarapan Sopir Bus yang Jadi Kuliner Khas,” diakses dari https://www.detik.com/jabar/kuliner/d-7271156/nasi-kasreng-kuningan-menu-sarapan-sopir-bus-yang-jadi-kuliner-khas, tanggal 20 Oktober 2026.

Sudarman, Iman. 2020. “Kasri, Sang Legenda Nasi Kasreng,” diakses dari https://radarcirebon.id/2020/07/12/kasri-sang-legenda-nasi-kasreng/?, tanggal 20 Oktober 2026.

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko merupakan makanan tradisional yang dikenal di wilayah Cirebon dan kawasan pesisir utara Jawa, termasuk Indramayu, Brebes, dan Tegal. Makanan ini terdiri atas nasi putih yang disajikan bersama tahu dan tempe goreng, tauge, irisan mentimun, serta bumbu kacang dan kecap manis. Sebagai pelengkap, sega lengko biasanya ditaburi daun kucai dan bawang goreng sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, segar, dan sedikit pedas.


Pemerintah Kota Cirebon menyebut nasi lengko sebagai salah satu makanan khas rakyat yang dikenal luas oleh masyarakat. Kesederhanaan bahan dan cara penyajiannya menjadi salah satu ciri yang membuat makanan ini tetap digemari hingga sekarang. Dalam satu porsi, nasi dan lauk berbahan kedelai dipadukan dengan sayuran segar serta bumbu kacang, sehingga menghasilkan makanan yang sederhana tetapi mengenyangkan (Pemerintah Kota Cirebon, 2018).

Sejarah
Sejarah sega lengko berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Cirebon dan kebiasaan mereka mengolah bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. Salah satu cerita yang berkembang menyebutkan bahwa makanan ini muncul ketika masyarakat menghadapi keterbatasan bahan pangan dan lauk-pauk. Pada masa tersebut, tahu dan tempe menjadi bahan yang mudah diperoleh, sementara lauk seperti daging atau telur tidak selalu terjangkau oleh semua orang. Bahan-bahan sederhana itu kemudian dipadukan dengan nasi, tauge, mentimun, dan bumbu kacang untuk menjadi makanan sehari-hari.

Dalam pemberitaan Pemerintah Kota Cirebon, nama lengko dikaitkan dengan kata langka, yang menggambarkan keadaan ketika lauk-pauk sulit diperoleh. Cerita tersebut menjelaskan bahwa nasi dengan lauk sederhana berupa tahu, tempe, tauge, dan mentimun dapat menjadi pilihan makanan yang mengenyangkan di tengah keterbatasan (Pemerintah Kota Cirebon, 2018).

Meskipun kisah tersebut cukup dikenal, asal-usul nama sega lengko belum sepenuhnya memiliki satu penjelasan yang disepakati. Sejumlah penuturan menghubungkan kata lengko dengan langka, sedangkan penjelasan lain mengaitkannya dengan cara makanan tersebut disiram bumbu kacang atau dengan istilah yang menggambarkan hidangan sederhana dan ekonomis. Oleh karena itu, cerita mengenai asal-usulnya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pengetahuan kuliner yang berkembang di masyarakat, bukan sebagai satu-satunya versi sejarah yang telah dipastikan.

Seiring waktu, sega lengko berkembang dari makanan sederhana menjadi salah satu identitas kuliner Cirebon. Makanan ini dijual di warung-warung kecil, tempat makan keluarga, hingga rumah makan yang secara khusus menawarkan nasi lengko. Popularitasnya juga terlihat dalam kegiatan masyarakat. Pada 2018, Pemerintah Kota Cirebon menyelenggarakan kegiatan makan nasi lengko bersama yang diikuti ribuan warga sebagai salah satu upaya memperkenalkan kuliner tersebut kepada masyarakat yang lebih luas (Pemerintah Kota Cirebon, 2018).

Kekhasan Sega Lengko
Kekhasan sega lengko terletak pada penggunaan bahan yang sederhana dan perpaduan rasa yang dihasilkan. Nasi putih menjadi dasar hidangan, sedangkan tahu dan tempe goreng memberikan rasa gurih. Tauge dan mentimun menambahkan kesegaran serta tekstur renyah, sementara bumbu kacang dan kecap manis menyatukan seluruh bahan menjadi satu hidangan.

Menurut Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Nasi Lengko versi Tegal juga disajikan dengan nasi putih, tahu goreng, tauge, mentimun, bumbu kacang, kecap manis, daun kucai, dan bawang goreng. Sebelum disantap, bahan-bahan tersebut biasanya diaduk agar bumbu merata (Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, tanpa tahun). Kesamaan ini menunjukkan bahwa sega lengko memiliki pola penyajian yang dikenal luas di kawasan pesisir utara Jawa, meskipun racikan masing-masing daerah dapat berbeda.

Pada versi Cirebon, daun kucai menjadi salah satu pelengkap yang mudah dikenali. Aroma khas kucai berpadu dengan bawang goreng dan bumbu kacang, sedangkan kecap manis memberikan rasa manis yang menyeimbangkan gurihnya tahu dan tempe. Ada pula penjual yang menambahkan sambal atau menggunakan racikan bumbu dengan tingkat kekentalan berbeda sesuai selera pelanggan.

Keunikan sega lengko bukan hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada cara makanan ini memanfaatkan bahan pangan yang relatif mudah diperoleh. Tahu, tempe, dan tauge menjadi unsur penting yang memperlihatkan penggunaan bahan nabati dalam makanan sehari-hari. Kesederhanaan tersebut membuat sega lengko dikenal sebagai makanan rakyat yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

Peralatan dan Bahan
Pembuatan sega lengko menggunakan peralatan dapur yang relatif sederhana, seperti panci untuk menanak nasi, wajan untuk menggoreng tahu dan tempe, pisau, talenan, wadah untuk mencuci sayuran, serta cobek atau alat penghalus bumbu. Peralatan tersebut digunakan untuk menyiapkan setiap bahan sebelum dirangkai menjadi satu porsi hidangan.

Bahan utama sega lengko terdiri atas nasi putih, tahu, tempe, tauge, mentimun, dan bumbu kacang. Tahu dan tempe biasanya dipotong menjadi bagian kecil sebelum digoreng. Tauge dibersihkan dan dapat diseduh atau direbus sebentar, sedangkan mentimun diiris tipis agar mudah dicampurkan dengan nasi dan lauk lainnya.

Bumbu kacang dibuat dari kacang tanah yang telah digoreng atau disangrai, kemudian dihaluskan bersama bawang putih, cabai, garam, dan bahan tambahan sesuai resep. Air ditambahkan untuk memperoleh kekentalan yang sesuai. Kecap manis digunakan sebagai pelengkap rasa, sementara daun kucai dan bawang goreng memberikan aroma serta memperkaya penampilan makanan.

Komposisi bahan tersebut sesuai dengan gambaran sega lengko yang dicatat Pemerintah Kota Cirebon, yakni nasi dengan tahu, tempe, tauge, mentimun, bumbu kacang, kecap manis, kucai, dan bawang goreng (Pemerintah Kota Cirebon, 2018). Meski demikian, setiap penjual dapat memiliki racikan tersendiri, baik dalam pemilihan bahan, ukuran potongan tahu dan tempe, maupun rasa bumbu kacangnya.

Proses Pembuatan
Pembuatan sego lengko dimulai dengan menyiapkan nasi putih. Beras dicuci hingga bersih, kemudian ditanak sampai matang. Nasi yang telah matang biasanya disajikan dalam keadaan hangat agar lebih nikmat ketika dicampur dengan tahu, tempe, sayuran, dan bumbu kacang.

Tahap berikutnya adalah mengolah tahu dan tempe. Keduanya dipotong menjadi bagian kecil, kemudian digoreng hingga matang. Tingkat kematangan dapat disesuaikan dengan selera. Sebagian penjual menggoreng tahu dan tempe hingga bagian luarnya kecokelatan, tetapi tetap mempertahankan tekstur bagian dalam agar tidak terlalu keras.

Tauge dibersihkan dan disiapkan sebagai pelengkap. Tauge dapat diseduh dengan air panas atau direbus sebentar agar teksturnya tetap segar. Mentimun dicuci, kemudian diiris tipis atau dipotong kecil-kecil. Daun kucai juga dicuci dan dicincang halus sebelum digunakan sebagai taburan.

Bumbu kacang disiapkan dengan menghaluskan kacang tanah bersama bawang putih, cabai, garam, dan bumbu lainnya. Setelah halus, campuran tersebut diberi air secukupnya hingga menghasilkan saus yang dapat disiramkan ke atas nasi. Kecap manis dapat dicampurakan langsung ke dalam bumbu atau ditambahkan ketika makanan dirangkai, bergantung pada kebiasaan masing-masing penjual.

Tahap terakhir adalah merangkai bahan. Nasi putih diletakkan di atas piring, kemudian diberi potongan tahu dan tempe goreng, tauge, serta irisan mentimun. Bumbu kacang dan kecap manis disiramkan di atasnya, lalu ditaburi daun kucai dan bawang goreng. Proses ini menghasilkan hidangan yang menggabungkan nasi hangat, lauk gurih, sayuran segar, serta bumbu dengan rasa manis dan gurih.

Walaupun tahapan pembuatannya sederhana, kualitas sega lengko sangat dipengaruhi oleh kesegaran bahan dan keseimbangan bumbu. Tahu dan tempe yang digoreng dengan baik, tauge yang tidak terlalu lembek, mentimun yang segar, serta bumbu kacang dengan kekentalan yang tepat akan memengaruhi cita rasa keseluruhan hidangan.

Penyajian
Sega lengko biasanya disajikan di atas piring dengan nasi putih sebagai dasar. Potongan tahu dan tempe goreng diletakkan di atas nasi, kemudian ditambahkan tauge dan irisan mentimun. Setelah itu, bumbu kacang dan kecap manis disiramkan hingga melapisi bahan-bahan tersebut. Taburan daun kucai dan bawang goreng menjadi sentuhan akhir yang memberikan aroma khas.

Pemerintah Kota Cirebon menjelaskan bahwa perpaduan nasi, tahu, tempe, tauge, mentimun, bumbu kacang, kecap manis, kucai, dan bawang goreng merupakan ciri penyajian nasi lengko yang dikenal di daerah tersebut (Pemerintah Kota Cirebon, 2018). Hidangan ini umumnya disantap dengan cara mengaduk nasi bersama seluruh pelengkapnya agar bumbu kacang dan kecap tercampur merata.

Di wilayah Tegal, penyajian sego lengko memiliki kemiripan dengan versi Cirebon. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah juga mencatat penggunaan nasi putih, tahu goreng, tauge, mentimun, bumbu kacang, kecap manis, daun kucai, dan bawang goreng. Meskipun unsur dasarnya serupa, kebiasaan meracik dan menyajikan makanan dapat berbeda menurut penjual dan lingkungan setempat.

Sega lengko dapat dinikmati sebagai menu sarapan, makan siang, atau makanan sehari-hari. Bahan-bahannya yang sederhana membuat makanan ini mudah dijumpai di warung-warung makan dan menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan hidangan mengenyangkan tanpa banyak lauk hewani. Perpaduan nasi, tahu, tempe, dan sayuran juga memperlihatkan pemanfaatan bahan pangan nabati dalam tradisi kuliner masyarakat pesisir.

Keberadaan sega lengko hingga sekarang menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak selalu bertahan karena menggunakan bahan yang mahal atau proses pengolahan yang rumit. Sebaliknya, kesederhanaan dapat menjadi kekuatan ketika sebuah hidangan sesuai dengan kebiasaan makan masyarakat dan mudah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Sega lengko pada akhirnya bukan sekadar nasi dengan tahu, tempe, dan bumbu kacang. Makanan ini juga menyimpan cerita mengenai kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan yang tersedia, membangun kebiasaan makan, serta mengembangkan kuliner yang kemudian menjadi identitas daerah. Melalui warung-warung yang tetap menyajikannya dan pewarisan racikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, Sega lengko terus menjadi bagian dari kekayaan kuliner Cirebon dan kawasan pesisir utara Jawa.

Sumber:
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah. Tanpa tahun. “Nasi Lengko.” Portal Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Pemerintah Kota Cirebon. 2018. “3 Ribu Lebih Warga Makan Nasi Lengko Bersama, Pecahkan Rekor ORI.” 15 September 2018.

Pemerintah Kabupaten Cirebon. 2011. “Nasi Lengko.” Arsip laman Wisata Kuliner Kabupaten Cirebon.

Es Goyobod

Es goyobod merupakan minuman tradisional khas Sunda yang dikenal terutama di wilayah Garut dan Bandung. Minuman ini memiliki perpaduan rasa manis dan gurih dengan tekstur kenyal dari bahan goyobod yang dipotong kecil-kecil. Dalam penyajiannya, goyobod dicampur dengan santan, es serut, dan pemanis, kemudian dilengkapi berbagai bahan seperti alpukat, kelapa muda, serta roti tawar.

Ropiah (2016) memasukkan goyobod sebagai salah satu jenis minuman tradisional Sunda dalam kajiannya mengenai makanan dan minuman tradisional Jawa Barat. Pengelompokan tersebut menunjukkan bahwa goyobod tidak hanya dikenal sebagai minuman pelepas dahaga, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner yang menggunakan nama dan pengetahuan lokal masyarakat Sunda.

Sejarah
Sejarah Es Goyobod memiliki beberapa versi yang berkembang melalui cerita para pedagang dan penuturan masyarakat. Salah satu kisah yang cukup dikenal menyebutkan bahwa minuman ini diperkenalkan oleh Junaedi, seorang pedagang Sunda yang berjualan di kawasan Kwitang, Jakarta, sekitar dekade 1930-an. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh anaknya, Usep Suryana, yang membawa Es Goyobod ke Bandung sekitar 1940 dan berjualan di kawasan Banceuy.

Sadli (2014), dalam tulisan yang diterbitkan melalui Kabar UPI, menceritakan bahwa usaha Usep berkembang di Bandung, tetapi kemudian harus berpindah setelah peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946. Usep selanjutnya melanjutkan penjualan Es Goyobod di kawasan Alun-alun Garut. Dari Garut, minuman ini semakin dikenal dan kemudian menjadi salah satu kuliner yang lekat dengan daerah tersebut.

Kisah serupa juga muncul dalam tulisan Manggini (2015) di Kabar UPI yang membahas Es Goyobod Kliningan di Bandung. Tulisan tersebut mengaitkan perkembangan minuman ini dengan perjalanan usaha keluarga dan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Walaupun terdapat perbedaan penuturan mengenai waktu dan tokoh dalam sejarah awalnya, cerita perpindahan usaha dari Jakarta dan Bandung menuju Garut menjadi bagian penting dalam ingatan kuliner mengenai Es Goyobod.

Dengan demikian, sejarah Es Goyobod dapat dilihat sebagai perjalanan sebuah minuman yang berkembang melalui pengalaman berdagang, perpindahan penduduk, dan penerimaan masyarakat. Garut kemudian dikenal sebagai salah satu pusat yang membuat nama Es Goyobod semakin populer, sementara Bandung juga tetap memiliki tradisi penjualan dan racikan goyobod tersendiri.

Kekhasan Es Goyobod
Kekhasan Es Goyobod terletak pada bahan utamanya, yaitu adonan bertekstur kenyal yang dipotong menyerupai dadu. Bahan ini memberikan sensasi berbeda ketika disantap bersama es serut dan kuah santan. Perpaduan tekstur kenyal, lembut, dan renyah dari bahan pelengkap menjadikan goyobod berbeda dari minuman es campur lainnya.

Manggini (2015) menjelaskan bahwa Es Goyobod Kliningan menggunakan campuran goyobod berbahan aci sagu, sekoteng, dan alpukat yang disajikan bersama santan, es serut, sirup gula, susu kental manis, serta roti manis. Sementara itu, Sadli (2014) menggambarkan penyajian goyobod dengan kuah gula, susu, es serut, dan buah-buahan. Perbedaan komposisi tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada satu racikan yang sepenuhnya seragam untuk semua penjual.

Bahan goyobod sendiri dapat dibuat menggunakan tepung hunkwe atau bahan pati lainnya, bergantung pada resep yang digunakan. Perbedaan bahan dasar tersebut turut memengaruhi warna, kekenyalan, dan rasa. Selain itu, takaran santan, pemanis, serta bahan pelengkap menjadi bagian dari ciri khas masing-masing penjual.

Es Goyobod juga memperlihatkan hubungan antara kuliner tradisional dan pengetahuan lokal. Nama, cara pengolahan, serta kebiasaan penyajiannya diwariskan melalui praktik sehari-hari dan usaha keluarga. Dalam konteks tersebut, keberadaan goyobod sejalan dengan pembahasan Ropiah (2016) yang menempatkan minuman tradisional sebagai salah satu unsur yang turut mempertahankan keberadaan kuliner dan identitas budaya Sunda.

Peralatan dan Bahan
Peralatan untuk membuat es goyobod relatif sederhana. Peralatan yang dibutuhkan antara lain panci, kompor, pengaduk, wadah adonan, pisau, talenan, saringan, dan cetakan atau loyang. Peralatan tersebut digunakan untuk memasak adonan goyobod, mendinginkannya hingga mengeras, memotongnya menjadi bagian kecil, serta menyiapkan bahan pelengkap sebelum disajikan.

Bahan utama goyobod dapat berupa tepung hunkwe atau tepung pati sesuai resep yang digunakan. Bahan tersebut dicampur dengan air, kemudian dimasak hingga mengental. Sebagian resep menggunakan air daun pandan atau daun suji untuk memberikan aroma dan warna. Setelah adonan matang, adonan dituangkan ke dalam cetakan dan dibiarkan dingin sampai teksturnya mengeras serta dapat dipotong.

Bahan pelengkap Es Goyobod umumnya terdiri atas santan, gula merah atau sirup gula, es serut, alpukat, dan kelapa muda. Sebagian penjual menambahkan roti tawar, sekoteng, tape singkong, atau susu kental manis. Pemilihan bahan pelengkap tersebut dapat berbeda sesuai dengan kebiasaan penjual dan selera pembeli.

Perbedaan racikan merupakan salah satu hal yang menarik dalam perkembangan Es Goyobod. Sebagaimana tergambar dalam tulisan Manggini (2015) mengenai Es Goyobod Kliningan, penggunaan sekoteng, alpukat, santan, sirup, dan roti manis membentuk karakter penyajian yang khas. Sementara itu, penjual lain dapat menggunakan bahan yang lebih sederhana atau menambahkan pelengkap sesuai resep keluarga masing-masing.

Proses Pembuatan
Pembuatan es goyobod dimulai dengan menyiapkan adonan bahan utama. Tepung hunkwe atau bahan pati dicampur dengan air, kemudian dimasak sambil terus diaduk hingga mengental. Pengadukan perlu dilakukan secara merata agar adonan tidak menggumpal dan menghasilkan tekstur yang sesuai. Jika digunakan, air daun pandan atau daun suji dapat ditambahkan untuk memberikan aroma dan warna.

Setelah adonan matang, adonan dituangkan ke dalam loyang atau cetakan. Adonan kemudian dibiarkan dingin hingga mengeras dan memiliki tekstur kenyal. Setelah itu, goyobod dipotong kecil-kecil sesuai ukuran yang diinginkan. Tahap ini menentukan bentuk bahan utama yang akan menjadi ciri khas minuman ketika disajikan.

Tahap berikutnya adalah menyiapkan pemanis dan bahan pelengkap. Gula merah dapat dimasak bersama air hingga larut menjadi sirup, sedangkan santan disiapkan secara terpisah. Alpukat dikerok, kelapa muda diserut, dan bahan tambahan lainnya disiapkan sesuai kebutuhan. Es serut dibuat menjelang penyajian agar minuman tetap dingin.

Proses tersebut merupakan gambaran umum pembuatan Es Goyobod. Dalam praktiknya, setiap penjual dapat memiliki takaran, pilihan bahan, dan teknik pengolahan yang berbeda. Perbedaan itu dapat memengaruhi kekenyalan goyobod, kekentalan kuah, serta keseimbangan rasa manis dan gurih. Resep keluarga atau kebiasaan usaha yang diwariskan dari generasi sebelumnya juga dapat menjadi bagian dari identitas masing-masing penjual.

Penyajian
Es Goyobod disajikan dalam gelas atau mangkuk dengan menempatkan potongan goyobod sebagai bahan utama. Potongan tersebut kemudian dipadukan dengan alpukat, kelapa muda, dan bahan pelengkap lain sesuai racikan penjual. Santan dan sirup gula ditambahkan untuk membentuk perpaduan rasa gurih dan manis, kemudian es serut diletakkan di atasnya agar minuman terasa dingin dan menyegarkan.

Pada beberapa penyajian, roti tawar atau roti manis ditambahkan sebagai pelengkap. Susu kental manis juga dapat digunakan untuk memperkuat rasa manis dan memberikan tekstur kuah yang lebih kaya. Sementara itu, penjual yang menggunakan racikan lebih sederhana dapat mengutamakan goyobod, santan, gula, dan es sebagai unsur utama.

Manggini (2015) menunjukkan bahwa Es Goyobod Kliningan memiliki racikan yang menggabungkan bahan kenyal, buah, santan, pemanis, dan roti. Komposisi ini memperlihatkan bahwa penyajian bukan hanya tahap akhir dalam pembuatan minuman, tetapi juga bagian dari identitas rasa yang dikenali pelanggan. Setiap penjual dapat mempertahankan racikan tertentu sehingga pembeli memiliki alasan untuk kembali.

Es Goyobod umumnya dinikmati pada siang hari atau ketika cuaca panas. Sensasi dingin dari es serut, rasa gurih santan, manisnya sirup, dan tekstur goyobod menjadikan minuman ini cocok sebagai pelepas dahaga. Meski demikian, keberadaan Es Goyobod tidak hanya bergantung pada kesegarannya. Cerita tentang perjalanan para pedagang dan keberlanjutan usaha keluarga juga menjadi bagian dari daya tarik kuliner ini.

Hingga sekarang, Es Goyobod dikenal di sejumlah daerah di Jawa Barat, khususnya Garut dan Bandung. Perkembangannya menunjukkan bahwa kuliner tradisional dapat bertahan melalui pewarisan resep, penyesuaian bahan, dan hubungan yang terjalin antara penjual dengan pelanggan. Es Goyobod pada akhirnya bukan hanya minuman campuran es, melainkan bagian dari kekayaan kuliner Sunda yang menyimpan jejak perjalanan masyarakat dan usaha perdagangan dari masa ke masa.

Sumber
Manggini, Asdian Rangga. 2015. “Es Goyobod, Minuman GoKil Khas Priangan.” Kabar UPI, Universitas Pendidikan Indonesia, 6 Januari 2015. https://berita.upi.edu/es-goyobod-minuman-gokil-khas-priangan/.

Ropiah, Opah. 2016. “Makanan dan Minuman Tradisional Sunda sebagai Eksistensi Bahasa Daerah untuk Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).” Lokabasa, Vol. 7, No. 2. https://doi.org/10.17509/jlb.v7i2.9169.

Sadli, Ridwan Ahmad. 2014. “Sejarah Es Goyobod, Tak Segar Rasanya.” Kabar UPI, Universitas Pendidikan Indonesia, 29 Desember 2014. https://berita.upi.edu/sejarah-es-goyobod-tak-segar-rasanya/.

Batagor, Kuliner Khas Bandung

Batagor merupakan singkatan dari bakso tahu goreng, yaitu makanan yang dikenal sebagai salah satu kuliner khas Kota Bandung, Jawa Barat. Hidangan ini umumnya dibuat dari adonan ikan yang dicampur dengan tepung dan bumbu, kemudian disajikan bersama tahu atau kulit pangsit yang digoreng hingga matang. Batagor biasanya disantap dengan saus kacang, kecap manis, sambal, serta perasan jeruk limau atau jeruk nipis.

Dalam publikasi mengenai kuliner Kota Bandung, Pemerintah Kota Bandung menjelaskan bahwa batagor menjadi salah satu makanan yang dikenal luas dan berkembang dari kreativitas pedagang makanan di kota tersebut. Perpaduan adonan yang gurih, tahu yang lembut, dan bagian luar yang renyah menjadikan batagor memiliki cita rasa serta tekstur yang khas.

Sejarah
Sejarah batagor sering dikatikan dengan seorang perantau bernama Isan yang berjualan bakso tahu di Bandung. Kisan yang berkembang menyebutkan bahwa ketika dagangannya tidak habis terjual, Isan kemudian menggoreng sisa bakso tahu tersebut agar tidak terbuang. Makanan itu dibagikan kepada tetangga dan ternyata mendapat sambutan baik. Dalam perkembangannya, bakso tahu yang digoreng tersebut semakin dikenal dan disebut batagor, singkatan dari bakso tahu goreng (Pemerintah Kota Bandung, tanpa tahun)

Laman Bandung Mirasa juga mengaitkan kemunculan batagor dengan pengalaman Isan mengolah sisa dagangan menjadi makanan yang kemudian disukai masyarakat. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kreasi sederhana dapat berkembang menjadi kuliner yang melekat dengan identitas suatu kota (Bandung Mirasa, 2025).

Meskipun cerita mengenai awal kemunculan batagor memiliki beberapa versi dalam berbagai sumber, Isan dan perkembangan usaha batagor H. Isan sering disebut dalam kisah sejarah kuliner ini. Dari makanan yang awalnya dijual secara sederhana, batagor kemudian berkembang menjadi jajanan yang dapat ditemukan di berbagai tempat, mulai dari pedagang kaki lima hingga rumah makan.

Kekhasan Batagor
Kekhasan batagor terletak pada perpaduan rasa gurih, tekstur renyah, dan saus kacang yang menjadi pelengkap utamanya. Adonan ikan memberikan cita rasa khas, sedangkan tahu dan kulit pangsit menghadirkan variasi bentuk serta tekstur. Ketika digoreng, bagian luarnya menjadi kecokelatan dan renyah, sementara bagian dalamnya tetap terasa lembut atau kenyal, bergantung pada komposisi adonan dan cara pengolahannya.

Menurut laman Bandung Mirasa, bahan yang umum digunakan untuk membuat Batagor antara lain ikan tenggiri, tahu putih, kulit pangsit, dan bumbu kacang (Bandung Mirasa, tanpa tahun). Meski demikian, komposisi dan racikan setiap penjual dapat berbeda. Perbedaan tersebut membuat Batagor memiliki variasi rasa yang menjadi ciri khas masing-masing tempat usaha.

Peralatan dan Bahan
Pembuatan batagor memerlukan peralatan dapur yang relatif sederhana, seperti wadah untuk mencampur adonan, pisau, talenan, sendok, alat penghalus bumbu, wajan, dan kompor. Perlatan tersebut digunakan untuk menyiapkan bahan, membentuk adonan, menggoreng batagor, serta membuat saus kacang.

Bahan utama batagor umumnya terdiri atas ikan tenggiri, tahu putih, tepung tapioka, tepung terigu dalam beberapa resep, bawang putih, garam, dan bumbu penyedap sesuai kebutuhan. Adonan ikan dan tepung menjadi bagian penting yang membentuk rasa serta tekstur batagor. Tahu dapat diisi dengan adonan tersebut, sedangkan kulit pangsit digunakan untuk membungkus sebagian adonan sehingga menghasilkan bentuk dan tekstur yang berbeda setelah digoreng.

Selain bahan utama, batagor dilengkapi saus kacang yang dibuat dari kacang tanah dan berbagai bumbu, seperti bawang putih, cabai, gula merah, garam, dan air. Kecap manis serta jeruk limau atau jeruk nipis dapat ditambahkan ketika makanan disajikan. Perpaduan bahan-bahan tersebut menghasilkan rasa gurih, manis, pedas, dan sedikit asam yang melengkapi cita rasa batagor. Komposisi ini merupakan gambaran umum; resep setiap penjual dapat berbeda sesuai kebiasaan dan selera masing-masing.

Proses Pembuatan
Pembuatan batagor dimulai dengan menyiapkan adonan ikan. Daging ikan yang telah dibersihkan dihaluskan, kemudian dicampur dengan tepung, bawang putih, garam, dan bumbu lainnya. Air ditambahkan secukupnya hingga adonan memiliki kekentalan yang sesuai untuk dibentuk. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tahu atau dibungkus menggunakan kulit pangsit.

Setelah dibentuk, batagor digoreng dalam minyak panas hingga matang dan berwarna kecokelatan. Proses penggorengan perlu diperhatikan agar bagian luar menjadi renyah, sedangkan bagian dalam matang dengan baik. Ukuran potongan dan ketebalan adonan turut memengaruhi waktu penggorengan serta hasil akhir makanan.

Sementara itu, saus kacang disiapkan dengan menghaluskan kacang tanah bersama bumbu-bumbu yang digunakan. Campuran tersebut kemudian dimasak dengan air hingga mencapai kekentalan yang diinginkan. Rasa saus dapat disesuaikan melalui penambahan gula merah, garam, cabai, dan bahan pelengkap lainnya.

Dalam perkembangannya, cara pembuatan batagor tidak selalu sama. Ada penjual yang membentuk adonan langsung sebelum digoreng, sementara penjual lain menggunakan variasi bentuk dan komposisi bahan. Perbedaan teknik tersebut menunjukkan bahwa batagor terus mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan usaha dan selera konsumen. Gambaran proses ini merupakan uraian umum pengolahan batagor, bukan resep baku yang berlaku bagi semua penjual.

Penyajian
Batagor umumnya disajikan setelah digoreng dan dipotong menjadi beberapa bagian. Potongan tersebut kemudian disiram dengan saus kacang, ditambah kecap manis dan sambal sesuai selera. Perasan jeruk limau atau jeruk nipis memberikan rasa segar yang menyeimbangkan gurinya adonan dan rasa saus kacang. Beberapa penjual juga menambahkan mentimun sebagai pelengkap.

Selain penyajian dengan saus kacang, terdapat variasi batagor yang disajikan bersama kuah. Perbedaan cara penyajian ini memperlihatkan perkembangan batagor dalam menyesuaikan diri dengan selera konsumen. Walaupun bentuk dan pelengkapnya dapat berubah, batagor tetap dikenal melalui perpaduan adonan gurih, tahu atau kulit pangsit, serta teknik penggorengan yang menjadi ciri utamanya.

Batagor kini bukan hanya makanan yang mudah ditemukan di Bandung, tetapi juga bagian dari pengenalan kuliner kota tersebut kepada masyarakat luas. Perkembangannya dari jajanan sederhana menjadi makanan yang dikenal di berbagai daerah memperlihatkan bahwa kuliner dapat tumbuh melalui kreativitas masyarakat, pengalaman berdagang, dan perubahan selera. Dengan demikian, Batagor dapat dipahami bukan sekadar sebagai makanan, melainkan juga sebagai bagian dari perjalanan kuliner Kota Bandung.

Sumber:
Bandung Mirasa. 2025. “Batagor.” Warisan Budaya Tak Benda, diakses dari https://bandungmirasa.id/warisan/batagor, tanggal 15 Oktober 2026.

Pemerintah Kota Bandung. Tanpa tahun. Kuliner Kota Bandung. Dokumen informasi kuliner Kota Bandung, bagian “Batagor”.

Wayang Kulit Gagrak Cirebon

Wayang Kulit Gagrak Cirebon merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang berkembang di wilayah Cirebon dan sekitarnya, termasuk kawasan pesisir Indramayu. Istilah gagrak merujuk pada gaya atau corak yang menjadi penanda suatu tradisi seni. Dengan demikian, Gagrak Cirebon bukan sekadar wayang kulit yang dipentaskan di wilayah Cirebon, melainkan memiliki ciri tersendiri dalam bentuk tokoh, ragam hias, penokohan, serta cara pertunjukannya.

Keistimewaan wayang kulit Cirebon terlihat dari perpaduan unsur seni, kepercayaan, dan kehidupan sosial masyarakat pesisir. Bentuk wayang, pilihan tokoh, serta cerita yang dibawakan memperlihatkan proses panjang pertemuan kebudayaan lokal dengan pengaruh agama dan tradisi dari luar. Habibi (2016) dalam kajiannya mengenai Ki Dalang Basari di Gegesik menjelaskan bahwa wayang kulit Cirebon memiliki kekhasan visual dan fungsi pertunjukan tersendiri. Bagi masyarakat pendukungnya, wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga merupakan warisan leluhur yang mengandung nilai kehidupan dan keagamaan.

Sejarah
Perkembangan wayang kulit Cirebon berkaitan erat dengan sejarah kebudayaan pesisir utara Jawa dan pertumbuhan Islam di wilayah tersebut. Cirebon sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat, tradisi, dan kepercayaan. Dalam perkembangannya, seni pertunjukan yang telah dikenal masyarakat kemudian berhubungan dengan proses penyebaran ajaran Islam. Wayang menjadi salah satu media kebudayaan yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan melalui cerita, tokoh, simbol, dan pertunjukan.

Hisyam (2024), dalam dokumentasi mengenai sejarah wayang kulit Cirebon, menerangkan hubungan perkembangan wayang dengan masuk dan berkembangnya Islam di Cirebon. Sumber tersebut juga mencatat keberadaan sembilan tokoh panakawan dalam tradisi wayang kulit Cirebon. Gambaran ini memperlihatkan bahwa perkembangan wayang di Cirebon tidak hanya berkaitan dengan perubahan cerita, tetapi juga dengan pembentukan karakter dan simbol yang memiliki makna bagi masyarakat setempat.

Meskipun demikian, sejarah perkembangan wayang kulit Cirebon perlu dipahami sebagai proses yang panjang, bukan sebagai hasil dari satu peristiwa atau satu tokoh saja. Cerita mengenai peran para wali, termasuk Sunan Kalijaga, merupakan bagian dari tradisi sejarah yang hidup dalam masyarakat. Untuk memastikan urutan perkembangan dan penanggalan yang lebih terperinci, diperlukan kajian sejarah yang membandingkan sumber tertulis, tradisi lisan, dan bukti pertunjukan yang masih bertahan.

Kekhasan Wayang Kulit Gagrak Cirebon
Salah satu kekhasan Wayang Kulit Gagrak Cirebon terletak pada bentuk visual tokohnya. Secara umum, bentuk tubuh wayang Cirebon dikenal memiliki kesan ramping dan memanjang, dengan tangan yang relatif panjang. Penggambaran tokohnya tidak dibuat menyerupai tubuh manusia secara realistis, melainkan melalui stilisasi bentuk yang mengikuti kaidah seni wayang. Bentuk tersebut menjadi bagian dari identitas visual yang membedakannya dari gaya wayang kulit di daerah lain.

Ragam hias juga menjadi unsur penting dalam penampilan wayang Cirebon. Motif yang berhubungan dengan lingkungan budaya Cirebon, seperti Megamendung dan Wadasan, kerap dikaitkan dengan kekayaan seni hias daerah tersebut. Pada sejumlah penggambaran tokoh, terdapat pula bentuk ornamen yang dikenal dengan sebutan Buta Liyong. Ragam hias tersebut tidak hanya memperindah permukaan wayang, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara seni tatah, seni sungging, dan lingkungan kebudayaan tempat wayang berkembang. Kekhasan ini perlu dilihat melalui perbandingan langsung dengan koleksi wayang dan dokumentasi dari para perajin atau dalang Cirebon.

Keunikan lainnya terdapat pada jumlah dan ragam tokoh panakawan. Dalam tradisi yang dicatat Hisyam (2024), panakawan wayang kulit Cirebon berjumlah sembilan, yaitu Semar, Curis, Bitarota, Ceblok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung, dan Gareng. Susunan ini berbeda dari tradisi wayang yang lebih umum dikenal melalui empat panakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Perbedaan tersebut menjadi salah satu penanda penting yang dapat digunakan untuk mengenali kekhasan tradisi wayang Cirebon.

Pada beberapa tokoh, unsur keagamaan juga tampak melalui simbol atau ornamen yang dikaitkan dengan Islam, misalnya, adanya penggambaran lafaz Allah pada tokoh Cungking dan lafaz Muhammad pada tokoh Bagal Buntung. Keterangan semacam ini menarik untuk dibahas sebagai bagian dari penafsiran simbolik wayang Cirebon. Namun, identifikasi bentuk dan makna ornamen tersebut sebaiknya tetap dicocokkan dengan wujud wayang yang bersangkutan serta keterangan dari dalang, perajin, atau sumber dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Peralatan dan Bahan Pembuat Wayang
Wayang kulit dibuat melalui keterampilan mengolah bahan, membentuk figur, menatah ornamen, dan memberi warna. Bahan utama yang lazim digunakan dalam pembuatan wayang kulit adalah kulit hewan yang telah diproses agar cukup kuat sekaligus dapat dibentuk. Kulit tersebut kemudian dipotong mengikuti pola tokoh yang telah dirancang. Setelah bentuk dasarnya diperoleh, permukaan wayang ditatah untuk membentuk garis tubuh, wajah, pakaian, serta berbagai ragam hias.

Peralatan yang digunakan mencakup alat untuk menggambar pola, memotong kulit, menatah, dan menyelesaikan bentuk wayang. Tahap penataan ornamen memerlukan ketelitian karena bagian-bagian kecil pada pakaian, aksesori, dan tubuh tokoh turut membentuk karakter visualnya. Setelah proses tatah selesai, wayang diberi warna melalui tahap sungging. Pemilihan warna dan penggarapan detail membantu membedakan tokoh satu dengan lainnya, sekaligus mempertegas ciri estetika yang berkembang dalam tradisi setempat.

Wayang yang telah selesai dibuat biasanya dilengkapi tangkai untuk menggerakkan tubuh dan kedua tangannya. Dalam pertunjukan, wayang dimainkan di hadapan kelir atau layar, dengan pencahayaan yang memungkinkan bayangannya terlihat oleh penonton. Peralatan pertunjukan juga mencakup perlengkapan musik pengiring dan perangkat lain yang dibutuhkan sesuai dengan bentuk pementasan.

Walaupun proses pembuatan wayang kulit secara umum memiliki tahapan yang serupa di berbagai daerah, pilihan bahan, pola tatah, ragam hias, dan pewarnaan dapat berbeda mengikuti tradisi masing-masing. Karena itu, penjelasan mengenai peralatan dan bahan Wayang Kulit Gagrak Cirebon secara lebih khusus perlu memperhatikan praktik para perajin dan dalang yang masih menjalankan tradisi tersebut.

Pertunjukan
Pertunjukan wayang kulit melibatkan kerja dalang, pengrawit atau pemain musik, serta unsur pendukung lainnya. Dalang menjadi penggerak utama jalannya cerita. Ia memainkan tokoh, mengatur pergantian adegan, membawakan dialog, dan menghubungkan peristiwa dalam lakon. Kemampuan dalang tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknik memainkan wayang, tetapi juga oleh pengetahuan mengenai cerita, karakter tokoh, bahasa, dan irama pertunjukan.

Dalam tradisi Cirebon, penggunaan bahasa setempat menjadi salah satu unsur yang menghubungkan pertunjukan dengan kehidupan masyarakat. Bahasa yang digunakan dapat menyesuaikan lingkungan penonton dan tradisi pertunjukan yang berkembang di wilayah tersebut. Melalui dialog dan penggambaran karakter, cerita wayang dapat disampaikan dengan cara yang dekat dengan pengalaman masyarakat. Unsur humor, nasihat, dan komentar terhadap kehidupan sehari-hari dapat hadir bersamaan dengan bagian cerita yang bersifat serius atau religius.

Pertunjukan juga diiringi musik yang membantu membangun suasana. Iringan tersebut mengatur peralihan adegan, menegaskan kemunculan tokoh, serta menghidupkan gerak wayang. Dalam tradisi wayang Cirebon, bentuk iringan dan gaya penyajiannya perlu dipahami sesuai dengan lingkungan kesenian setempat, sebab tradisi keraton dan tradisi pesisiran dapat memperlihatkan perbedaan dalam kebiasaan pertunjukan.

Lakon yang dibawakan dapat bersumber dari kisah Mahabharata dan Ramayana, tetapi pertunjukan wayang di lingkungan masyarakat juga dapat berhubungan dengan cerita lokal dan kebutuhan acara tertentu. Oleh sebab itu, proses pertunjukan tidak hanya dapat dipandang sebagai penyajian cerita yang sudah tetap. Pertunjukan juga menjadi ruang tempat dalang menafsirkan cerita, berinteraksi dengan penonton, dan menyesuaikan penyajian dengan konteks sosialnya.

Penyajian dan Pementasan
Wayang Kulit Gagrak Cirebon dapat hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat. Dalam lingkungan tertentu, pertunjukan wayang berhubungan dengan upacara tradisi, kegiatan pertanian, penghormatan kepada leluhur, maupun perayaan sosial. Beberapa konteks yang dikenal dalam tradisi masyarakat Cirebon dan Indramayu antara lain Mapag Sri, Sedekah Bumi, Ngunjung ke Buyut, dan ruwatan. Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan wayang tidak selalu ditentukan oleh kebutuhan hiburan, tetapi juga oleh fungsi sosial dan budaya yang melekat pada pertunjukan.

Pada kegiatan seperti Mapag Sri dan Sedekah Bumi, pertunjukan dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mengungkapkan rasa syukur serta harapan terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat. Sementara itu, Ngunjung ke Buyut berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur atau tokoh yang dianggap memiliki arti penting bagi suatu komunitas. Dalam konteks ruwatan, pertunjukan wayang dapat berhubungan dengan kepercayaan mengenai upaya menghindarkan seseorang dari keadaan yang dipandang membawa kesialan. Bentuk pelaksanaan dan maknanya dapat berbeda menurut tradisi masing-masing kelompok masyarakat.

Hisyam (2024) dan Habibi (2016) membantu menunjukkan bahwa wayang kulit Cirebon perlu dipahami melalui hubungan antara bentuk kesenian, sejarah keagamaan, dan kehidupan masyarakat pendukungnya. Dengan demikian, pementasan wayang bukan hanya peristiwa ketika dalang memainkan tokoh di hadapan penonton. Di dalamnya terdapat hubungan antara seniman, pemilik hajat, penonton, dan lingkungan sosial yang memberi tempat bagi pertunjukan itu.

Dalam perkembangan sekarang, keberlanjutan Wayang Kulit Gagrak Cirebon menghadapi tantangan berupa perubahan selera hiburan, berkurangnya ruang pertunjukan tradisional, serta kebutuhan untuk meneruskan keterampilan kepada generasi berikutnya. Upaya pelestarian karena itu tidak cukup hanya dengan menyimpan wayang sebagai benda koleksi atau mendokumentasikan pertunjukan. Pelestarian juga perlu memberi ruang bagi dalang, perajin, dan kelompok pendukung untuk terus berlatih, tampil, serta menyampaikan pengetahuan mengenai bentuk, cerita, dan makna kesenian kepada generasi muda.

Wayang Kulit Gagrak Cirebon pada akhirnya merupakan warisan budaya yang memperlihatkan hubungan antara kreativitas seni dan pengalaman sejarah masyarakat pesisir. Ciri visual, ragam tokoh panakawan, simbol keagamaan, bahasa, musik, dan konteks pementasannya membentuk identitas yang tidak dapat dilepaskan dari lingkungan kebudayaan Cirebon. Memahami kekhasan tersebut menjadi langkah penting agar wayang Cirebon tidak hanya dikenal sebagai bagian dari tradisi wayang kulit Jawa, tetapi juga dihargai berdasarkan karakter dan sejarah kebudayaannya sendiri.

Sumber:
Habibi. 2016. “Peran Ki Dalang Basari (1950–2003) dalam Perkembangan Islam di Gegesik Cirebon.” Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam. Tersedia melalui laman jurnal UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Hisyam, Ade Fatchullah. 2024. “Wayang Purwa: Sejarah Wayang Kulit Cirebon.” Dokumentasi Inovatif Kreatif, BRIN.

Akbar, Muhammad Wildan. 2025. Wayang Kulit dan Media Penyebaran dalam Ajaran Tarekat Syattariyah di Cirebon. Skripsi, Jurusan Sejarah Peradaban Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Popular Posts