WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Hucap

Hucap merupakan makanan tradisional khas Kabupaten Kuningan yang dikenal sebagai salah satu sajian kupat tahu masyarakat setempat. Hidangan ini terdiri atas kupat atau ketupat, tahu goreng, bumbu kacang, kecap manis, dan taburan bawang goreng. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa gurih dan manis dengan tekstur kupat yang kenyal, tahu yang lembut, serta bumbu kacang yang menjadi unsur penting dalam keseluruhan hidangan.

Dalam Kamus Kuline Jawa Barat terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, hucap dijelaskan sebagai makanan khas Kuningan berupa tahu putih dan ketupat yang disiram saus kacang, ditambah kecap serta taburan bawang goreng. Komposisinya memperlihatkan bahwa hucap mengandalkan bahan-bahan sederhana yang dipadukan melalui racikan bumbu. Tidak seperti beberapa jenis kupat tahu di daerah lain yang menggunakan tauge, bihun, atau aneka sayuran, hucap khas Kuningan dikenal dengan susunan bahan yang lebih sederhana.

Menurut pemberitaan detikFood dalam artikel “Gurih Medhok! Hucap Khas Kuningan yang Sederhana dan Legendari” (2023), hucap telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat Kuningan. Sebutan ini digunakan masyarakat setempat untuk menyebut sajian kupat tahu yang menjadi bagian dari kuliner sehari-hari. Oleh karena itu hucap tidak sekadar dipahami sebagai perpaduan tahu dan kecap, tetapi juga sebagai nama kuliner lokal yang memiliki ciri penyajian dan cita rasa tersendiri.

Sejarah
Sejarah hucap berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Kuningan dalam mengolah bahan makanan yang mudah diperoleh, seperti ketupat, tahu, kacang tanah, dan kecap. Bahan-bahan tersebut kemudian dipadukan menjadi hidangan yang dapat dinikmati sebagai sarapan maupun makanan pada siang hari. Meskipun komposisinya sederhana, racikan bumbu dan pemilihan bahan turut membentuk karakter hucap yang dikenal hingga sekarang.

Dalam pemberitaan detikFood (2023), seorang pekerja di warung hucap Ma Iroh menjelaskan bahwa hucap merupakan sebutan tersendiri bagi kupat tahu khas Kuningan. Menurut keterangan tersebut, masyarakat setempat telah menggunakan nama hucap sejak dahulu. Namun, belum terdapat catatan sejarah yang memastikan kapan makanan ini pertama kalii dibuat dan siapa orang yang pertama kali memperkenalkannya.

Asal-usul nama hucap juga memiliki penjelasan yang beragam. Sebagian sumber menghubungkan namanya dengan kata tahu dan kecap, sesuai dengan dua unsur yang mudah dikenali dalam hidangan tersebut. Akan tetapi, keterangan yang dimuat detikFood (2023) menunjukkan bahwa masyarakat Kuningan juga mengenal hucap sebagai nama makanan tersendiri, bukan semata-mata singkatan dari kedua bahan itu. Dengan demikian, penjelasan mengenai asal-usul namanya perlu dipahami sebagai bagian dari cerita kuliner lokal yang masih memiliki beragam penafsiran.

Keberadaan hucap juga dapat dilihat dari berkembangnya usaha warung makan yang menjadikan hidangan ini sebagai menu utama. Sejumlah pedagang mempertahankan usaha keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pemberitaan detikJabar mengenai hucap Ma Iroh (2026), misalnya, mencatat bahwa usaha tersebut telah bertahan selama tiga generasi sejak dirintis pada era 1980-an. Sementara itu, pemberitaan tentang hucap Cilimus pada 2025 menyebutkan bahwa usaha penjualan hucap di kawasan tersebut telah berlangsung sejak sekitar 19960-an berdasarkan cerita keluarga pedagangnya.

Kisah para pedagang tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan hucap tidak hanya ditentukan oleh resep, tetapi juga oleh kebiasaan masyarakat dalam membeli, mengolah, dan menikmati makanan lokal. Warung hucap menjadi tempat berlangsungnya pewarisan pengetahuan kuliner, mulai dari pemilihan ketupat dan tahu hingga pengolahan bumbu kacang. Resep yang dipertahankan dari waktu ke waktu menjadi salah satu cara kuliner ini terus dikenal oleh masyarakat Kuningan maupun pengunjung dari luar daerah.

Kekhasan
Kekhasan hucap terutama terlihat pada komposisi bahan yang relatif sederhana. Kupat menjadi sumber karbohidrat, sedangkan tahu goreng memberikan rasa gurih dan tekstur lembut. Kedua bahan tersebut disiram bumbu kacang dan kecap manis, kemudian diberi taburan bawang goreng. Perpaduan ini menghasilkan rasa manis dan gurih yang menjadi karakter utama hucap.

Salah satu unsur yang membedakan hucap dari kupat tahu di daerah lain adalah penggunaan kupat dengan karakter tertentu. Dalam pemberitaan detikJabar mengenai Hucap Cilimus (2025), ketupat yang digunakan disebut memiliki warna lebih kecokelatan dan tekstur lebih kenyal dibandingkan ketupat pada umumnya. Keterangan pedagang setempat menghubungkan karakter tersebut dengan cara pengolahan beras dan proses perebusan kupat. Akan tetapi, teknik pembuatan dapat berbeda menurut kebiasaan pembuatnya, sehingga ciri tersebut tidak selalu dapat digeneralisasi untuk seluruh penjual hucap di Kuningan.

Tahu juga berperan penting dalam menentukan cita rasa hidangan. Tahu digoreng hingga matang sebelum dipotong dan dicampurkan dengan ketupat. Pada sejumlah warung, tahu digoreng ketika ada pesanan agar tetap hangat saat disajikan. Perpaduan tahu yang baru digoreng dengan ketupat dan bumbu kacang memberikan ppengalaman rasa yang khas.

Bumbu kacang merupakan unsur lain yang menentukan identitas hucap. Meskipun bahan dasarnya relatif serupa, racikan setiap pedagang dapat menghasilkan cita rasa yang berbeda. Perbandingan kacang tanah, cabai, gula, garam, dan kecap serta tingkat kehalusan bumbu memengaruhi rasa akhir hidangan. Sebagaimana dijelaskan dalam pemberitaan detikFood (2023), racikan bumbu kacang menjadi salah satu pembeda antara pencual hucap yang satu dan lainnya. Resep yang dipertahankan masing-masing pedagang dapat menjadi ciri khas sekaligus daya tarik bagi pelanggan.

Kesederhanaan komposisi hucap juga menjadi pembeda dari ketoprak atau kupat tahu yang menggunakan lebih banyak bahan pelengkap. Hucap pada umumnya tidak mengandalkan tauge, bihun, atau berbagai jenis sayuran. Ketupat dan tahu menjadi unsur utama, sedangkan bumbu kacang dan kecap menyatukan rasa keseluruhan hidangan. Walaupun terdapat variasi dalam penyajian, susunan dasar tersebut tetap menjadi ciri yang mudah dikenali.

Peralatan dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk membuat hucap pada dasarnya merupakan peralatan dapur sehari-hari. Peralatan tersebut meliputi kompor, panci untuk merebus ketupat, wajan untuk menggoreng tahu, saringan minyak, pisau, talenan, cobek dan ulekan atau alat penghalus bumbu, serta wadah untuk menyiapkan bahan. Piring digunakan untuk menyajikan hidangan setelah semua bahan diracik.

Bahan utama hucap adalah ketupat dan tahu putih. Ketupat atau kupat dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa, kemudian direbus hingga matang. Tahu dipotong sesuai kebutuhan dan digoreng sebelum disajikan. Pemilihan tahu yang tidak mudah hancur membantu mempertahankan bentuk potongan ketika dicampurkan dengan ketupat dan bumbu.

Bahan untuk membuat bumbu kacang meliputi kacang tanah, cabai, bawang putih, garam, gula, dan air. Komposisinya dapat disesuaikan dengan resep masing-masing pedagang. Kecap manis digunakan untuk memberikan rasa manis sekaligus memperkuat warna hidangan. Bawang goreng ditambahkan sebagai pelengkap, sedangkan sambal dan kerupuk dapat disediakan sesuai selera.

Bahan-bahan tersebut memperlihatkan bahwa hucap tidak memerlukan banyak jenis pelengkap. Kualitas kupat, tahu, dan bumbu kacang menjadi unsur penting yang menentukan cita rasa. Meskipun bahan dasarnya relatif seragam, perbedaan pemilihan bahan dan teknik pengolahan dapat menghasilkan karakter hucap yang berbeda di setiap warung.

Proses Pembuatan
Pembuatan hucap diawali dengan menyiapkan ketupat atau kupat. Beras dimasukkan dalam anyaman janur, kemudian direbus hingga matang dan padat. Setelah dingin, kupat dapat disimpan untuk digunakan ketika ada pesanan. Dalam praktinya, sebagian pembuat menggunakan ketupat yang diperoleh dari perajin khusus. Cara ini memungkinkan pedagang memusatkan perhatian pada pengolahan tahu dan bumbu serta menjaga konsistensi sajian.

Tahap berikutnya adalah menyiapkan tahu. Tahu putih dipotong sesuai kebutuhan, kemudian digoreng dalam minyak panas hingga matang. Tingkat kematangan tahu dapat disesuaikan dengan kebiasaan pedagang, tetapi umumnya bagian luarnya menjadi lebih kokoh sementara bagian dalam tetap lembut. Setelah digoreng, tahu ditiriskan untuk mengurangi minyak sebelum dipotong menjadi bagian-bagian kecil.

Bumbu kacang dibuat dengan menghaluskan kacang tanah bersama cabai, bawang putih, garam, gula, dan bahan lain sesuai resep. Bumbu kemudian dicampur dengan air hingga mencapai kekentalan yang diinginkan. Sebagian penjual menyiapkan bumbu kacang terlebih dahulu, sedangkan yang lain menyesuaikan racikan ketika menerima pesanan. Tingkat kehalusan kacang dan keseimbangan rasa manis, gurih, serta pedas menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Setelah bahan siap, kupat dipotong-potong dan ditempatkan di atas piring. Tahu goreng kemudian dipotong dan disusun bersama kupat. Keduanya disiram bumbu kacang, lalu diberi kecap manis sesuai selera. Bawang goreng ditambahkan sebagai pelengkap. Urutan tersebut menghasilkan hidangan yang mempertemukan rasa dan tekstur kupat, tahu, bumbu kacang, serta kecap dalam satu sajian.

Walaupun langkah dasarnya relatif sederhana, proses pembuatan hucap membutuhkan perhatian terhadap kualitas bahan dan racikan bumbu. Ketupat yang terlalu lembek dapat memengaruhi tekstur hidangan, sedangkan tahu yang tidak digoreng dengan baik dapat mudah hancur ketika dicampurkan. Karena itu, setiap pedagang dapat memiliki cara tersendiri dalam mengolah bahan dan mempertahankan rasa yang menjadi ciri khas warungnya.

Penyajian
Hucap umumnya disajikan di atas piring dengan ketupat dan tahu goreng yang telah dipotong-potong. Bumbu kacang disiramkan hingga melapisi kedua bahan tersebut, kemudian ditambahkan kecap manis dan taburan bawang goreng. Sebagian pedagang menyediakan sambal bagi pembeli yang menginginkan rasa lebih pedas. Kerupuk juga dapat disajikan sebagai pelengkap untuk menambah tekstur renyah.

Saat disantap, ketupat memberikan tekstur kenyal, sementara tahu menghadirkan rasa gurih dan lembut. Bumbu kacang yang kaya rasa berpadu dengan kecap manis menghasilkan cita rasa yang cenderung manis dan gurih. Perbedaan racikan bumbu pada setiap warung membuat pengalaman menikmati hucap tidak selalu sama, meskipun bahan utamanya serupa.

Hucap lazim dijumpai di warung makan dan tempat penjualan makanan di Kabupaten Kuningan. Hidangan ini dapat dinikmati sebagai menu sarapan maupun santapan pada waktu lainnya. Penyajiannya yang praktis membuat hucap mudah diterima oleh berbagai kalangan, baik masyarakat setempat maupun pengunjung yang ingin mengenal kuliner khas Kuningan.

Keberadaan hucap memperlihatkan bagaimana makanan sederhana dapat berkembang menjadi identitas kuliner suatu daerah. Ketupat dan tahu yang dipadukan dengan bumbu kacang serta kecap tidak hanya memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat yang diwariskan melalui kegiatan memasak dan berdagang. Keberlanjutan warung-warung hucap menunjukkan bahwa pengetahuan kuliner lokal dapat terus hidup melalui praktik sehari-hari dan hubungan antara pedagang dengan pelanggan.

Dengan demikian, hucap bukan hanya hidangan kupat tahu, melainkan bagian dari kekayaan kuliner Kabupaten Kuningan. Ciri khasnya terletak pada kesederhanaan bahan, karakter bumbu kacang, serta tradisi penjualan yang bertahan di tengah perubahan selera masyarakat. Pelestarian hucap dapat dilakukan dengan mendokumentasikan pengetahuan para pembuatnya, menjaga mutu bahan, dan memperkenalkan sejarah serta kekhasannya kepada generasi berikutnya.

Sumber:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tanpa tahun. Kamus Kuliner Jawa Barat. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

“Sajian Manis dan Gurih Hucap Cilimus Khas Kuningan,” diakses dari https://www.detik.com/jabar/cirebon-raya/d-8019884/sajian-manis-dan-gurih-hucap-cilimus-khas-kuningan?, tanggal 21 Oktober 2026.

“Hucap Ma Iroh, Kuliner Legendaris Kuningan yang Bertahan 3 Generasi,” diakses dari https://www.detik.com/jabar/cirebon-raya/d-8437873/hucap-ma-iroh-kuliner-legendaris-kuningan-yang-bertahan-3-generasi?, tanggal 21 Oktober 2026.

“Gurih Medhok! Hucap Khas Kuningan yang Sederhana dan Legendaris,” diakses dari https://food.detik.com/info-kuliner/d-7069785/gurih-medhok-hucap-khas-kuningan-yang-sederhana-dan-legendaris?, tanggal 21 Oktober 2026.

Nasi Kasreng

Nasi kasreng merupakan makanan tradisional khas Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan. Makanan ini dikenal sebagai hidangan sederhana yang terdiri atas nasi putih dengan pelengkap berupa tauge mentah, sambal terasi, udang rebon, dan aneka gorengan. Meskipun bahan-bahannya relatif sederhana, perpaduan rasa gurih, pedas, dan segar menjadikan Nasi Kasreng memiliki ciri khas tersendiri di antara beragam kuliner tradisional masyarakat Sunda.

Menurut pemberitaan RRI Cirebon dalam artikel “Nasi Kasreng, Nasinya Orang Luragung” (2024), makanan ini telah dikenal sebagai salah satu kuliner khas masyarakat Luragung. Ciri yang membedakannya dari nasi bungkus pada umumnya adalah penggunaan udang rebon sebagai pelengkap, tauge mentah sebagai lalapan, serta sambal yang memberikan rasa pedas. Nasi Kasreng pada mulanya dikenal sebagai makanan yang terjangkau dan mengenyangkan, terutama bagi masyarakat yang memulai aktivitas sejak pagi hari.

Sejarah
Sejarah Nasi Kasreng berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di sekitar Pasar Galuh dan kawasan Terminal Luragung. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat dan sejumlah pemberitaan kuliner, makanan ini mulai dikenal sekitar tahun 1970-an. Salah seorang pedagang yang disebut dalam cerita asal-usulnya adalah Ibu Kasri, yang berjualan nasi dengan lauk sederhana dan aneka gorengan. Pembelinya pada masa itu antara lain sopir bus, kernet, pekerja, pedagang pasar, serta masyarakat yang beraktivitas pada pagi hari.

Sebagaimana diberitakan detikJabar dalam artikel “Nasi Kasreng Kuningan, Menu Sarapan Sopir Bus yang Jadi Kuliner Khas” (2024), nama Kasreng dipercaya berasal dari gabungan nama Kasri dan kata gorengan. Sebutan tersebut kemudian melekat pada nasi yang dijual bersama gorengan hangat. Cerita serupa juga disampaikan dalam pemberitaan Radar Cirebon mengenai sosok Ibu Kasri dan perkembangan Nasi Kasreng di Luragung.

Pada masa awal perkembangannya, nasi kasreng merupakan makanan sederhana yang dijual untuk memenuhi kebutuhan makan masyarakat dengan harga terjangkau. Penjualannya berkaitan dengan aktivitas pasar dan transportasi, ketika para pekerja serta pengemudi membutuhkan makanan praktis sebelum melanjutkan pekerjaan. Nasi disajikan bersama lauk yang mudah disiapkan, seperti gorengan, sambal, tauge, dan udang rebon.

Seiring berjalannya waktu, Nasi Kasreng semakin dikenal oleh masyarakat di luar Luragung. Pedagang yang menjual makanan ini pun bertambah, baik di wilayah Luragung maupun di daerah lain di Kabupaten Kuningan. Pilihan lauknya berkembang menjadi lebih beragam, seperti telur, ayam, ikan, pepes, dan berbagai masakan rumahan. Meskipun mengalami perkembangan, unsur utama berupa nasi putih, tauge, sambal, udang rebon, dan gorengan tetap dipertahankan sebagai penanda identitas kuliner tersebut.

Kekhasan
Kekhasan nasi kasreng terlihat dari perpaduan bahan yang sederhana dan cara penyajiannya. Nasi putih menjadi unsur utama, kemudian dilengkapi tauge mentah, sambal terasi, udang rebon, serta gorengan seperti bala-bala, tempe berbalut tepung, dan gehu. Udang rebon yang berukuran kecil memberikan rasa gurih, sedangkan tauge menghadirkan tekstur renyah dan kesegaran. Sambal terasi melengkapi hidangan dengan rasa pedas dan aroma khas.

Menurut RRI Cirebon 2024), nasi kasreng secara tradisional disajikan dalam bungkusan berbentuk mengerucut. Pada masa lalu, pembungkusnya menggunakan daun jati atau daun pisang. Dalam perkembangannya, kertas nasi juga digunakan untuk membungkus hidangan tersebut. Bentuk bungkusan yang praktis mendukung kebiasaan masyarakat yang membeli makanan untuk dibawa atau disantap di sela-sela aktivitas.

Kekhasan lainnya terletak pada hubungan Nasi Kasreng dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Makanan ini tidak berawal dari hidangan khusus untuk upacara atau kalangan tertentu, melainkan berkembang dari kebutuhan makan masyarakat pekerja. Kesederhanaan bahan dan penyajiannya memperlihatkan bagaimana kuliner lokal dapat tumbuh dari kegiatan ekonomi rakyat, kemudian berkembang menjadi identitas daerah.

Dalam perkembangannya, Nasi Kasreng tidak lagi terbatas sebagai menu sarapan. Makanan ini juga dinikmati sebagai hidangan makan siang atau santapan bersama keluarga. Berbagai pilihan lauk yang tersedia di warung-warung Nasi Kasreng memperlihatkan adanya penyesuaian terhadap selera konsumen, tanpa sepenuhnya meninggalkan komposisi dasar yang dikenal sejak awal.

Peralatan dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk membuat Nasi Kasreng pada dasarnya merupakan peralatan dapur sehari-hari. Peralatan tersebut meliputi penanak nasi atau dandang, panci, wajan, kompor, spatula, pisau, cobek dan ulekan untuk membuat sambal, serta wadah untuk menyimpan nasi dan lauk. Kertas nasi atau daun pembungkus dapat digunakan apabila hidangan hendak disajikan dalam bentuk nasi bungkus.

Bahan utama Nasi Kasreng adalah beras yang dimasak menjadi nasi putih. Bahan pelengkapnya meliputi tauge, udang rebon, cabai, bawang, terasi, garam, serta bahan lain yang diperlukan untuk membuat sambal. Aneka gorengan seperti bakwan, tempe berbalut tepung, dan gehu menjadi pelengkap yang lazim ditemukan. Dalam penyajiannya, beberapa penjual juga menyediakan telur dadar, telur ceplok, ayam goreng, ikan, atau lauk lainnya sesuai dengan kebutuhan dan selera pembeli.

Bahan-bahan tersebut memperlihatkan bahwa Nasi Kasreng tidak memerlukan komposisi yang rumit. Nasi menjadi sumber makanan pokok, sedangkan tauge, sambal, udang rebon, dan gorengan memberikan variasi rasa serta tekstur. Jenis dan jumlah lauk dapat berbeda antara satu penjual dan penjual lainnya, sehingga tidak terdapat satu susunan pelengkap yang selalu sama pada setiap hidangan.

Proses Pembuatan
Pembuatan Nasi Kasreng diawali dengan memasak beras hingga menjadi nasi putih. Nasi kemudian disiapkan dalam keadaan hangat agar dapat langsung disajikan kepada pembeli. Sementara itu, bahan pelengkap dipersiapkan secara terpisah. Tauge dibersihkan dan ditiriskan, sedangkan udang rebon disiapkan sebagai taburan. Pada sebagian penjual, udang rebon digoreng terlebih dahulu untuk menghasilkan tekstur yang lebih kering dan rasa gurih.

Sambal dibuat dengan menghaluskan cabai, terasi, garam, dan bahan tambahan sesuai selera. Tingkat kepedasan sambal menjadi salah satu unsur yang menonjol dalam Nasi Kasreng. Sambal yang pedas berpadu dengan rasa gurih udang rebon dan gorengan, sementara tauge memberikan sensasi segar ketika disantap bersama nasi.

Gorengan dibuat secara terpisah. Bahan seperti tempe, bakwan, dan gehu dilapisi adonan tepung sebelum digoreng hingga matang. Gorengan umumnya disajikan dalam keadaan hangat agar teksturnya tetap renyah. Dalam pemberitaan detikJabar (2024), gorengan hangat, sambal terasi, tauge, dan taburan rebon disebut sebagai unsur yang mempertahankan ciri khas Nasi Kasreng di tengah berkembangnya pilihan lauk.

Setelah semua bahan siap, nasi disatukan dengan pelengkapnya sesuai kebiasaan penjual. Sebagian penjual menyajikannya langsung dalam bungkusan, sedangkan penjual lainnya menyediakan nasi dan lauk secara terpisah agar pembeli dapat menentukan sendiri pilihan makanannya. Cara pembuatan dan penyajian dapat berbeda menurut kebiasaan masing-masing penjual, tetapi komposisi utama Nasi Kasreng tetap menjadi dasar hidangan.

Penyajian
Nasi Kasreng dapat disajikan di atas kertas nasi atau dibungkus dengan bentuk mengerucut. Nasi putih ditempatkan sebagai bagian utama, kemudian dilengkapi tauge mentah, sambal terasi, dan taburan udang rebon. Gorengan seperti bakwan, tempe goreng tepung, atau gehu disajikan sebagai pendamping. Perpaduan nasi hangat, tauge yang renyah, sambal pedas, rebon yang gurih, dan gorengan menciptakan rasa yang sederhana tetapi khas.

Dalam perkembangannya, penyajian Nasi Kasreng tidak hanya berbentuk nasi bungkus. Banyak warung menyediakan nasi dan berbagai lauk di meja agar pembeli dapat memilih sesuai selera. Selain gorengan yang menjadi pelengkap utama, tersedia pula pilihan lauk seperti telur, ayam, ikan, pepes, dan masakan rumahan lainnya. Meskipun pilihan tersebut semakin beragam, nasi dengan tauge, sambal, dan udang rebon tetap menjadi ciri yang mudah dikenali.

Nasi Kasreng menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak selalu tumbuh dari resep yang rumit atau bahan yang mahal. Makanan ini berkembang dari kebiasaan masyarakat memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dengan bahan yang mudah diperoleh dan harga yang terjangkau. Hubungannya dengan aktivitas pasar dan transportasi di Luragung turut membentuk sejarahnya sebagai makanan rakyat.

Kini, Nasi Kasreng telah menjadi salah satu identitas kuliner Kabupaten Kuningan. Keberadaannya memperlihatkan hubungan antara makanan, kegiatan ekonomi masyarakat, dan perkembangan kehidupan lokal. Kesederhanaan yang menjadi ciri awalnya tetap bertahan meskipun pilihan lauk dan tempat penjualannya semakin beragam. Dengan demikian, Nasi Kasreng bukan hanya hidangan untuk memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga bagian dari ingatan kuliner masyarakat Luragung yang terus diwariskan melalui kegiatan memasak, berjualan, dan menikmati makanan bersama.

Sumber
Octaviana, Gina. 2024. “Nasi Kasreng, Nasinya Orang Luragung,” diakses dari , RRI Cirebon, 28 Juni 2024. https://rri.co.id/cirebon/kuliner/785865/nasi-kasreng-nasinya-orang-luragung?utm_source=chatgpt.com, tanggal 20 Oktober 2026.

Taufik, Mohamad. 2024. “Nasi Kasreng Kuningan, Menu Sarapan Sopir Bus yang Jadi Kuliner Khas,” diakses dari https://www.detik.com/jabar/kuliner/d-7271156/nasi-kasreng-kuningan-menu-sarapan-sopir-bus-yang-jadi-kuliner-khas, tanggal 20 Oktober 2026.

Sudarman, Iman. 2020. “Kasri, Sang Legenda Nasi Kasreng,” diakses dari https://radarcirebon.id/2020/07/12/kasri-sang-legenda-nasi-kasreng/?, tanggal 20 Oktober 2026.

Sega Lengko

Sega lengko atau nasi lengko merupakan makanan tradisional yang dikenal di wilayah Cirebon dan kawasan pesisir utara Jawa, termasuk Indramayu, Brebes, dan Tegal. Makanan ini terdiri atas nasi putih yang disajikan bersama tahu dan tempe goreng, tauge, irisan mentimun, serta bumbu kacang dan kecap manis. Sebagai pelengkap, sega lengko biasanya ditaburi daun kucai dan bawang goreng sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, segar, dan sedikit pedas.


Pemerintah Kota Cirebon menyebut nasi lengko sebagai salah satu makanan khas rakyat yang dikenal luas oleh masyarakat. Kesederhanaan bahan dan cara penyajiannya menjadi salah satu ciri yang membuat makanan ini tetap digemari hingga sekarang. Dalam satu porsi, nasi dan lauk berbahan kedelai dipadukan dengan sayuran segar serta bumbu kacang, sehingga menghasilkan makanan yang sederhana tetapi mengenyangkan (Pemerintah Kota Cirebon, 2018).

Sejarah
Sejarah sega lengko berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Cirebon dan kebiasaan mereka mengolah bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. Salah satu cerita yang berkembang menyebutkan bahwa makanan ini muncul ketika masyarakat menghadapi keterbatasan bahan pangan dan lauk-pauk. Pada masa tersebut, tahu dan tempe menjadi bahan yang mudah diperoleh, sementara lauk seperti daging atau telur tidak selalu terjangkau oleh semua orang. Bahan-bahan sederhana itu kemudian dipadukan dengan nasi, tauge, mentimun, dan bumbu kacang untuk menjadi makanan sehari-hari.

Dalam pemberitaan Pemerintah Kota Cirebon, nama lengko dikaitkan dengan kata langka, yang menggambarkan keadaan ketika lauk-pauk sulit diperoleh. Cerita tersebut menjelaskan bahwa nasi dengan lauk sederhana berupa tahu, tempe, tauge, dan mentimun dapat menjadi pilihan makanan yang mengenyangkan di tengah keterbatasan (Pemerintah Kota Cirebon, 2018).

Meskipun kisah tersebut cukup dikenal, asal-usul nama sega lengko belum sepenuhnya memiliki satu penjelasan yang disepakati. Sejumlah penuturan menghubungkan kata lengko dengan langka, sedangkan penjelasan lain mengaitkannya dengan cara makanan tersebut disiram bumbu kacang atau dengan istilah yang menggambarkan hidangan sederhana dan ekonomis. Oleh karena itu, cerita mengenai asal-usulnya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pengetahuan kuliner yang berkembang di masyarakat, bukan sebagai satu-satunya versi sejarah yang telah dipastikan.

Seiring waktu, sega lengko berkembang dari makanan sederhana menjadi salah satu identitas kuliner Cirebon. Makanan ini dijual di warung-warung kecil, tempat makan keluarga, hingga rumah makan yang secara khusus menawarkan nasi lengko. Popularitasnya juga terlihat dalam kegiatan masyarakat. Pada 2018, Pemerintah Kota Cirebon menyelenggarakan kegiatan makan nasi lengko bersama yang diikuti ribuan warga sebagai salah satu upaya memperkenalkan kuliner tersebut kepada masyarakat yang lebih luas (Pemerintah Kota Cirebon, 2018).

Kekhasan Sega Lengko
Kekhasan sega lengko terletak pada penggunaan bahan yang sederhana dan perpaduan rasa yang dihasilkan. Nasi putih menjadi dasar hidangan, sedangkan tahu dan tempe goreng memberikan rasa gurih. Tauge dan mentimun menambahkan kesegaran serta tekstur renyah, sementara bumbu kacang dan kecap manis menyatukan seluruh bahan menjadi satu hidangan.

Menurut Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Nasi Lengko versi Tegal juga disajikan dengan nasi putih, tahu goreng, tauge, mentimun, bumbu kacang, kecap manis, daun kucai, dan bawang goreng. Sebelum disantap, bahan-bahan tersebut biasanya diaduk agar bumbu merata (Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, tanpa tahun). Kesamaan ini menunjukkan bahwa sega lengko memiliki pola penyajian yang dikenal luas di kawasan pesisir utara Jawa, meskipun racikan masing-masing daerah dapat berbeda.

Pada versi Cirebon, daun kucai menjadi salah satu pelengkap yang mudah dikenali. Aroma khas kucai berpadu dengan bawang goreng dan bumbu kacang, sedangkan kecap manis memberikan rasa manis yang menyeimbangkan gurihnya tahu dan tempe. Ada pula penjual yang menambahkan sambal atau menggunakan racikan bumbu dengan tingkat kekentalan berbeda sesuai selera pelanggan.

Keunikan sega lengko bukan hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada cara makanan ini memanfaatkan bahan pangan yang relatif mudah diperoleh. Tahu, tempe, dan tauge menjadi unsur penting yang memperlihatkan penggunaan bahan nabati dalam makanan sehari-hari. Kesederhanaan tersebut membuat sega lengko dikenal sebagai makanan rakyat yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

Peralatan dan Bahan
Pembuatan sega lengko menggunakan peralatan dapur yang relatif sederhana, seperti panci untuk menanak nasi, wajan untuk menggoreng tahu dan tempe, pisau, talenan, wadah untuk mencuci sayuran, serta cobek atau alat penghalus bumbu. Peralatan tersebut digunakan untuk menyiapkan setiap bahan sebelum dirangkai menjadi satu porsi hidangan.

Bahan utama sega lengko terdiri atas nasi putih, tahu, tempe, tauge, mentimun, dan bumbu kacang. Tahu dan tempe biasanya dipotong menjadi bagian kecil sebelum digoreng. Tauge dibersihkan dan dapat diseduh atau direbus sebentar, sedangkan mentimun diiris tipis agar mudah dicampurkan dengan nasi dan lauk lainnya.

Bumbu kacang dibuat dari kacang tanah yang telah digoreng atau disangrai, kemudian dihaluskan bersama bawang putih, cabai, garam, dan bahan tambahan sesuai resep. Air ditambahkan untuk memperoleh kekentalan yang sesuai. Kecap manis digunakan sebagai pelengkap rasa, sementara daun kucai dan bawang goreng memberikan aroma serta memperkaya penampilan makanan.

Komposisi bahan tersebut sesuai dengan gambaran sega lengko yang dicatat Pemerintah Kota Cirebon, yakni nasi dengan tahu, tempe, tauge, mentimun, bumbu kacang, kecap manis, kucai, dan bawang goreng (Pemerintah Kota Cirebon, 2018). Meski demikian, setiap penjual dapat memiliki racikan tersendiri, baik dalam pemilihan bahan, ukuran potongan tahu dan tempe, maupun rasa bumbu kacangnya.

Proses Pembuatan
Pembuatan sego lengko dimulai dengan menyiapkan nasi putih. Beras dicuci hingga bersih, kemudian ditanak sampai matang. Nasi yang telah matang biasanya disajikan dalam keadaan hangat agar lebih nikmat ketika dicampur dengan tahu, tempe, sayuran, dan bumbu kacang.

Tahap berikutnya adalah mengolah tahu dan tempe. Keduanya dipotong menjadi bagian kecil, kemudian digoreng hingga matang. Tingkat kematangan dapat disesuaikan dengan selera. Sebagian penjual menggoreng tahu dan tempe hingga bagian luarnya kecokelatan, tetapi tetap mempertahankan tekstur bagian dalam agar tidak terlalu keras.

Tauge dibersihkan dan disiapkan sebagai pelengkap. Tauge dapat diseduh dengan air panas atau direbus sebentar agar teksturnya tetap segar. Mentimun dicuci, kemudian diiris tipis atau dipotong kecil-kecil. Daun kucai juga dicuci dan dicincang halus sebelum digunakan sebagai taburan.

Bumbu kacang disiapkan dengan menghaluskan kacang tanah bersama bawang putih, cabai, garam, dan bumbu lainnya. Setelah halus, campuran tersebut diberi air secukupnya hingga menghasilkan saus yang dapat disiramkan ke atas nasi. Kecap manis dapat dicampurakan langsung ke dalam bumbu atau ditambahkan ketika makanan dirangkai, bergantung pada kebiasaan masing-masing penjual.

Tahap terakhir adalah merangkai bahan. Nasi putih diletakkan di atas piring, kemudian diberi potongan tahu dan tempe goreng, tauge, serta irisan mentimun. Bumbu kacang dan kecap manis disiramkan di atasnya, lalu ditaburi daun kucai dan bawang goreng. Proses ini menghasilkan hidangan yang menggabungkan nasi hangat, lauk gurih, sayuran segar, serta bumbu dengan rasa manis dan gurih.

Walaupun tahapan pembuatannya sederhana, kualitas sega lengko sangat dipengaruhi oleh kesegaran bahan dan keseimbangan bumbu. Tahu dan tempe yang digoreng dengan baik, tauge yang tidak terlalu lembek, mentimun yang segar, serta bumbu kacang dengan kekentalan yang tepat akan memengaruhi cita rasa keseluruhan hidangan.

Penyajian
Sega lengko biasanya disajikan di atas piring dengan nasi putih sebagai dasar. Potongan tahu dan tempe goreng diletakkan di atas nasi, kemudian ditambahkan tauge dan irisan mentimun. Setelah itu, bumbu kacang dan kecap manis disiramkan hingga melapisi bahan-bahan tersebut. Taburan daun kucai dan bawang goreng menjadi sentuhan akhir yang memberikan aroma khas.

Pemerintah Kota Cirebon menjelaskan bahwa perpaduan nasi, tahu, tempe, tauge, mentimun, bumbu kacang, kecap manis, kucai, dan bawang goreng merupakan ciri penyajian nasi lengko yang dikenal di daerah tersebut (Pemerintah Kota Cirebon, 2018). Hidangan ini umumnya disantap dengan cara mengaduk nasi bersama seluruh pelengkapnya agar bumbu kacang dan kecap tercampur merata.

Di wilayah Tegal, penyajian sego lengko memiliki kemiripan dengan versi Cirebon. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah juga mencatat penggunaan nasi putih, tahu goreng, tauge, mentimun, bumbu kacang, kecap manis, daun kucai, dan bawang goreng. Meskipun unsur dasarnya serupa, kebiasaan meracik dan menyajikan makanan dapat berbeda menurut penjual dan lingkungan setempat.

Sega lengko dapat dinikmati sebagai menu sarapan, makan siang, atau makanan sehari-hari. Bahan-bahannya yang sederhana membuat makanan ini mudah dijumpai di warung-warung makan dan menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan hidangan mengenyangkan tanpa banyak lauk hewani. Perpaduan nasi, tahu, tempe, dan sayuran juga memperlihatkan pemanfaatan bahan pangan nabati dalam tradisi kuliner masyarakat pesisir.

Keberadaan sega lengko hingga sekarang menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak selalu bertahan karena menggunakan bahan yang mahal atau proses pengolahan yang rumit. Sebaliknya, kesederhanaan dapat menjadi kekuatan ketika sebuah hidangan sesuai dengan kebiasaan makan masyarakat dan mudah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Sega lengko pada akhirnya bukan sekadar nasi dengan tahu, tempe, dan bumbu kacang. Makanan ini juga menyimpan cerita mengenai kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan yang tersedia, membangun kebiasaan makan, serta mengembangkan kuliner yang kemudian menjadi identitas daerah. Melalui warung-warung yang tetap menyajikannya dan pewarisan racikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, Sega lengko terus menjadi bagian dari kekayaan kuliner Cirebon dan kawasan pesisir utara Jawa.

Sumber:
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah. Tanpa tahun. “Nasi Lengko.” Portal Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Pemerintah Kota Cirebon. 2018. “3 Ribu Lebih Warga Makan Nasi Lengko Bersama, Pecahkan Rekor ORI.” 15 September 2018.

Pemerintah Kabupaten Cirebon. 2011. “Nasi Lengko.” Arsip laman Wisata Kuliner Kabupaten Cirebon.

Es Goyobod

Es goyobod merupakan minuman tradisional khas Sunda yang dikenal terutama di wilayah Garut dan Bandung. Minuman ini memiliki perpaduan rasa manis dan gurih dengan tekstur kenyal dari bahan goyobod yang dipotong kecil-kecil. Dalam penyajiannya, goyobod dicampur dengan santan, es serut, dan pemanis, kemudian dilengkapi berbagai bahan seperti alpukat, kelapa muda, serta roti tawar.

Ropiah (2016) memasukkan goyobod sebagai salah satu jenis minuman tradisional Sunda dalam kajiannya mengenai makanan dan minuman tradisional Jawa Barat. Pengelompokan tersebut menunjukkan bahwa goyobod tidak hanya dikenal sebagai minuman pelepas dahaga, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner yang menggunakan nama dan pengetahuan lokal masyarakat Sunda.

Sejarah
Sejarah Es Goyobod memiliki beberapa versi yang berkembang melalui cerita para pedagang dan penuturan masyarakat. Salah satu kisah yang cukup dikenal menyebutkan bahwa minuman ini diperkenalkan oleh Junaedi, seorang pedagang Sunda yang berjualan di kawasan Kwitang, Jakarta, sekitar dekade 1930-an. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh anaknya, Usep Suryana, yang membawa Es Goyobod ke Bandung sekitar 1940 dan berjualan di kawasan Banceuy.

Sadli (2014), dalam tulisan yang diterbitkan melalui Kabar UPI, menceritakan bahwa usaha Usep berkembang di Bandung, tetapi kemudian harus berpindah setelah peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946. Usep selanjutnya melanjutkan penjualan Es Goyobod di kawasan Alun-alun Garut. Dari Garut, minuman ini semakin dikenal dan kemudian menjadi salah satu kuliner yang lekat dengan daerah tersebut.

Kisah serupa juga muncul dalam tulisan Manggini (2015) di Kabar UPI yang membahas Es Goyobod Kliningan di Bandung. Tulisan tersebut mengaitkan perkembangan minuman ini dengan perjalanan usaha keluarga dan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Walaupun terdapat perbedaan penuturan mengenai waktu dan tokoh dalam sejarah awalnya, cerita perpindahan usaha dari Jakarta dan Bandung menuju Garut menjadi bagian penting dalam ingatan kuliner mengenai Es Goyobod.

Dengan demikian, sejarah Es Goyobod dapat dilihat sebagai perjalanan sebuah minuman yang berkembang melalui pengalaman berdagang, perpindahan penduduk, dan penerimaan masyarakat. Garut kemudian dikenal sebagai salah satu pusat yang membuat nama Es Goyobod semakin populer, sementara Bandung juga tetap memiliki tradisi penjualan dan racikan goyobod tersendiri.

Kekhasan Es Goyobod
Kekhasan Es Goyobod terletak pada bahan utamanya, yaitu adonan bertekstur kenyal yang dipotong menyerupai dadu. Bahan ini memberikan sensasi berbeda ketika disantap bersama es serut dan kuah santan. Perpaduan tekstur kenyal, lembut, dan renyah dari bahan pelengkap menjadikan goyobod berbeda dari minuman es campur lainnya.

Manggini (2015) menjelaskan bahwa Es Goyobod Kliningan menggunakan campuran goyobod berbahan aci sagu, sekoteng, dan alpukat yang disajikan bersama santan, es serut, sirup gula, susu kental manis, serta roti manis. Sementara itu, Sadli (2014) menggambarkan penyajian goyobod dengan kuah gula, susu, es serut, dan buah-buahan. Perbedaan komposisi tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada satu racikan yang sepenuhnya seragam untuk semua penjual.

Bahan goyobod sendiri dapat dibuat menggunakan tepung hunkwe atau bahan pati lainnya, bergantung pada resep yang digunakan. Perbedaan bahan dasar tersebut turut memengaruhi warna, kekenyalan, dan rasa. Selain itu, takaran santan, pemanis, serta bahan pelengkap menjadi bagian dari ciri khas masing-masing penjual.

Es Goyobod juga memperlihatkan hubungan antara kuliner tradisional dan pengetahuan lokal. Nama, cara pengolahan, serta kebiasaan penyajiannya diwariskan melalui praktik sehari-hari dan usaha keluarga. Dalam konteks tersebut, keberadaan goyobod sejalan dengan pembahasan Ropiah (2016) yang menempatkan minuman tradisional sebagai salah satu unsur yang turut mempertahankan keberadaan kuliner dan identitas budaya Sunda.

Peralatan dan Bahan
Peralatan untuk membuat es goyobod relatif sederhana. Peralatan yang dibutuhkan antara lain panci, kompor, pengaduk, wadah adonan, pisau, talenan, saringan, dan cetakan atau loyang. Peralatan tersebut digunakan untuk memasak adonan goyobod, mendinginkannya hingga mengeras, memotongnya menjadi bagian kecil, serta menyiapkan bahan pelengkap sebelum disajikan.

Bahan utama goyobod dapat berupa tepung hunkwe atau tepung pati sesuai resep yang digunakan. Bahan tersebut dicampur dengan air, kemudian dimasak hingga mengental. Sebagian resep menggunakan air daun pandan atau daun suji untuk memberikan aroma dan warna. Setelah adonan matang, adonan dituangkan ke dalam cetakan dan dibiarkan dingin sampai teksturnya mengeras serta dapat dipotong.

Bahan pelengkap Es Goyobod umumnya terdiri atas santan, gula merah atau sirup gula, es serut, alpukat, dan kelapa muda. Sebagian penjual menambahkan roti tawar, sekoteng, tape singkong, atau susu kental manis. Pemilihan bahan pelengkap tersebut dapat berbeda sesuai dengan kebiasaan penjual dan selera pembeli.

Perbedaan racikan merupakan salah satu hal yang menarik dalam perkembangan Es Goyobod. Sebagaimana tergambar dalam tulisan Manggini (2015) mengenai Es Goyobod Kliningan, penggunaan sekoteng, alpukat, santan, sirup, dan roti manis membentuk karakter penyajian yang khas. Sementara itu, penjual lain dapat menggunakan bahan yang lebih sederhana atau menambahkan pelengkap sesuai resep keluarga masing-masing.

Proses Pembuatan
Pembuatan es goyobod dimulai dengan menyiapkan adonan bahan utama. Tepung hunkwe atau bahan pati dicampur dengan air, kemudian dimasak sambil terus diaduk hingga mengental. Pengadukan perlu dilakukan secara merata agar adonan tidak menggumpal dan menghasilkan tekstur yang sesuai. Jika digunakan, air daun pandan atau daun suji dapat ditambahkan untuk memberikan aroma dan warna.

Setelah adonan matang, adonan dituangkan ke dalam loyang atau cetakan. Adonan kemudian dibiarkan dingin hingga mengeras dan memiliki tekstur kenyal. Setelah itu, goyobod dipotong kecil-kecil sesuai ukuran yang diinginkan. Tahap ini menentukan bentuk bahan utama yang akan menjadi ciri khas minuman ketika disajikan.

Tahap berikutnya adalah menyiapkan pemanis dan bahan pelengkap. Gula merah dapat dimasak bersama air hingga larut menjadi sirup, sedangkan santan disiapkan secara terpisah. Alpukat dikerok, kelapa muda diserut, dan bahan tambahan lainnya disiapkan sesuai kebutuhan. Es serut dibuat menjelang penyajian agar minuman tetap dingin.

Proses tersebut merupakan gambaran umum pembuatan Es Goyobod. Dalam praktiknya, setiap penjual dapat memiliki takaran, pilihan bahan, dan teknik pengolahan yang berbeda. Perbedaan itu dapat memengaruhi kekenyalan goyobod, kekentalan kuah, serta keseimbangan rasa manis dan gurih. Resep keluarga atau kebiasaan usaha yang diwariskan dari generasi sebelumnya juga dapat menjadi bagian dari identitas masing-masing penjual.

Penyajian
Es Goyobod disajikan dalam gelas atau mangkuk dengan menempatkan potongan goyobod sebagai bahan utama. Potongan tersebut kemudian dipadukan dengan alpukat, kelapa muda, dan bahan pelengkap lain sesuai racikan penjual. Santan dan sirup gula ditambahkan untuk membentuk perpaduan rasa gurih dan manis, kemudian es serut diletakkan di atasnya agar minuman terasa dingin dan menyegarkan.

Pada beberapa penyajian, roti tawar atau roti manis ditambahkan sebagai pelengkap. Susu kental manis juga dapat digunakan untuk memperkuat rasa manis dan memberikan tekstur kuah yang lebih kaya. Sementara itu, penjual yang menggunakan racikan lebih sederhana dapat mengutamakan goyobod, santan, gula, dan es sebagai unsur utama.

Manggini (2015) menunjukkan bahwa Es Goyobod Kliningan memiliki racikan yang menggabungkan bahan kenyal, buah, santan, pemanis, dan roti. Komposisi ini memperlihatkan bahwa penyajian bukan hanya tahap akhir dalam pembuatan minuman, tetapi juga bagian dari identitas rasa yang dikenali pelanggan. Setiap penjual dapat mempertahankan racikan tertentu sehingga pembeli memiliki alasan untuk kembali.

Es Goyobod umumnya dinikmati pada siang hari atau ketika cuaca panas. Sensasi dingin dari es serut, rasa gurih santan, manisnya sirup, dan tekstur goyobod menjadikan minuman ini cocok sebagai pelepas dahaga. Meski demikian, keberadaan Es Goyobod tidak hanya bergantung pada kesegarannya. Cerita tentang perjalanan para pedagang dan keberlanjutan usaha keluarga juga menjadi bagian dari daya tarik kuliner ini.

Hingga sekarang, Es Goyobod dikenal di sejumlah daerah di Jawa Barat, khususnya Garut dan Bandung. Perkembangannya menunjukkan bahwa kuliner tradisional dapat bertahan melalui pewarisan resep, penyesuaian bahan, dan hubungan yang terjalin antara penjual dengan pelanggan. Es Goyobod pada akhirnya bukan hanya minuman campuran es, melainkan bagian dari kekayaan kuliner Sunda yang menyimpan jejak perjalanan masyarakat dan usaha perdagangan dari masa ke masa.

Sumber
Manggini, Asdian Rangga. 2015. “Es Goyobod, Minuman GoKil Khas Priangan.” Kabar UPI, Universitas Pendidikan Indonesia, 6 Januari 2015. https://berita.upi.edu/es-goyobod-minuman-gokil-khas-priangan/.

Ropiah, Opah. 2016. “Makanan dan Minuman Tradisional Sunda sebagai Eksistensi Bahasa Daerah untuk Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).” Lokabasa, Vol. 7, No. 2. https://doi.org/10.17509/jlb.v7i2.9169.

Sadli, Ridwan Ahmad. 2014. “Sejarah Es Goyobod, Tak Segar Rasanya.” Kabar UPI, Universitas Pendidikan Indonesia, 29 Desember 2014. https://berita.upi.edu/sejarah-es-goyobod-tak-segar-rasanya/.

Batagor, Kuliner Khas Bandung

Batagor merupakan singkatan dari bakso tahu goreng, yaitu makanan yang dikenal sebagai salah satu kuliner khas Kota Bandung, Jawa Barat. Hidangan ini umumnya dibuat dari adonan ikan yang dicampur dengan tepung dan bumbu, kemudian disajikan bersama tahu atau kulit pangsit yang digoreng hingga matang. Batagor biasanya disantap dengan saus kacang, kecap manis, sambal, serta perasan jeruk limau atau jeruk nipis.

Dalam publikasi mengenai kuliner Kota Bandung, Pemerintah Kota Bandung menjelaskan bahwa batagor menjadi salah satu makanan yang dikenal luas dan berkembang dari kreativitas pedagang makanan di kota tersebut. Perpaduan adonan yang gurih, tahu yang lembut, dan bagian luar yang renyah menjadikan batagor memiliki cita rasa serta tekstur yang khas.

Sejarah
Sejarah batagor sering dikatikan dengan seorang perantau bernama Isan yang berjualan bakso tahu di Bandung. Kisan yang berkembang menyebutkan bahwa ketika dagangannya tidak habis terjual, Isan kemudian menggoreng sisa bakso tahu tersebut agar tidak terbuang. Makanan itu dibagikan kepada tetangga dan ternyata mendapat sambutan baik. Dalam perkembangannya, bakso tahu yang digoreng tersebut semakin dikenal dan disebut batagor, singkatan dari bakso tahu goreng (Pemerintah Kota Bandung, tanpa tahun)

Laman Bandung Mirasa juga mengaitkan kemunculan batagor dengan pengalaman Isan mengolah sisa dagangan menjadi makanan yang kemudian disukai masyarakat. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kreasi sederhana dapat berkembang menjadi kuliner yang melekat dengan identitas suatu kota (Bandung Mirasa, 2025).

Meskipun cerita mengenai awal kemunculan batagor memiliki beberapa versi dalam berbagai sumber, Isan dan perkembangan usaha batagor H. Isan sering disebut dalam kisah sejarah kuliner ini. Dari makanan yang awalnya dijual secara sederhana, batagor kemudian berkembang menjadi jajanan yang dapat ditemukan di berbagai tempat, mulai dari pedagang kaki lima hingga rumah makan.

Kekhasan Batagor
Kekhasan batagor terletak pada perpaduan rasa gurih, tekstur renyah, dan saus kacang yang menjadi pelengkap utamanya. Adonan ikan memberikan cita rasa khas, sedangkan tahu dan kulit pangsit menghadirkan variasi bentuk serta tekstur. Ketika digoreng, bagian luarnya menjadi kecokelatan dan renyah, sementara bagian dalamnya tetap terasa lembut atau kenyal, bergantung pada komposisi adonan dan cara pengolahannya.

Menurut laman Bandung Mirasa, bahan yang umum digunakan untuk membuat Batagor antara lain ikan tenggiri, tahu putih, kulit pangsit, dan bumbu kacang (Bandung Mirasa, tanpa tahun). Meski demikian, komposisi dan racikan setiap penjual dapat berbeda. Perbedaan tersebut membuat Batagor memiliki variasi rasa yang menjadi ciri khas masing-masing tempat usaha.

Peralatan dan Bahan
Pembuatan batagor memerlukan peralatan dapur yang relatif sederhana, seperti wadah untuk mencampur adonan, pisau, talenan, sendok, alat penghalus bumbu, wajan, dan kompor. Perlatan tersebut digunakan untuk menyiapkan bahan, membentuk adonan, menggoreng batagor, serta membuat saus kacang.

Bahan utama batagor umumnya terdiri atas ikan tenggiri, tahu putih, tepung tapioka, tepung terigu dalam beberapa resep, bawang putih, garam, dan bumbu penyedap sesuai kebutuhan. Adonan ikan dan tepung menjadi bagian penting yang membentuk rasa serta tekstur batagor. Tahu dapat diisi dengan adonan tersebut, sedangkan kulit pangsit digunakan untuk membungkus sebagian adonan sehingga menghasilkan bentuk dan tekstur yang berbeda setelah digoreng.

Selain bahan utama, batagor dilengkapi saus kacang yang dibuat dari kacang tanah dan berbagai bumbu, seperti bawang putih, cabai, gula merah, garam, dan air. Kecap manis serta jeruk limau atau jeruk nipis dapat ditambahkan ketika makanan disajikan. Perpaduan bahan-bahan tersebut menghasilkan rasa gurih, manis, pedas, dan sedikit asam yang melengkapi cita rasa batagor. Komposisi ini merupakan gambaran umum; resep setiap penjual dapat berbeda sesuai kebiasaan dan selera masing-masing.

Proses Pembuatan
Pembuatan batagor dimulai dengan menyiapkan adonan ikan. Daging ikan yang telah dibersihkan dihaluskan, kemudian dicampur dengan tepung, bawang putih, garam, dan bumbu lainnya. Air ditambahkan secukupnya hingga adonan memiliki kekentalan yang sesuai untuk dibentuk. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tahu atau dibungkus menggunakan kulit pangsit.

Setelah dibentuk, batagor digoreng dalam minyak panas hingga matang dan berwarna kecokelatan. Proses penggorengan perlu diperhatikan agar bagian luar menjadi renyah, sedangkan bagian dalam matang dengan baik. Ukuran potongan dan ketebalan adonan turut memengaruhi waktu penggorengan serta hasil akhir makanan.

Sementara itu, saus kacang disiapkan dengan menghaluskan kacang tanah bersama bumbu-bumbu yang digunakan. Campuran tersebut kemudian dimasak dengan air hingga mencapai kekentalan yang diinginkan. Rasa saus dapat disesuaikan melalui penambahan gula merah, garam, cabai, dan bahan pelengkap lainnya.

Dalam perkembangannya, cara pembuatan batagor tidak selalu sama. Ada penjual yang membentuk adonan langsung sebelum digoreng, sementara penjual lain menggunakan variasi bentuk dan komposisi bahan. Perbedaan teknik tersebut menunjukkan bahwa batagor terus mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan usaha dan selera konsumen. Gambaran proses ini merupakan uraian umum pengolahan batagor, bukan resep baku yang berlaku bagi semua penjual.

Penyajian
Batagor umumnya disajikan setelah digoreng dan dipotong menjadi beberapa bagian. Potongan tersebut kemudian disiram dengan saus kacang, ditambah kecap manis dan sambal sesuai selera. Perasan jeruk limau atau jeruk nipis memberikan rasa segar yang menyeimbangkan gurinya adonan dan rasa saus kacang. Beberapa penjual juga menambahkan mentimun sebagai pelengkap.

Selain penyajian dengan saus kacang, terdapat variasi batagor yang disajikan bersama kuah. Perbedaan cara penyajian ini memperlihatkan perkembangan batagor dalam menyesuaikan diri dengan selera konsumen. Walaupun bentuk dan pelengkapnya dapat berubah, batagor tetap dikenal melalui perpaduan adonan gurih, tahu atau kulit pangsit, serta teknik penggorengan yang menjadi ciri utamanya.

Batagor kini bukan hanya makanan yang mudah ditemukan di Bandung, tetapi juga bagian dari pengenalan kuliner kota tersebut kepada masyarakat luas. Perkembangannya dari jajanan sederhana menjadi makanan yang dikenal di berbagai daerah memperlihatkan bahwa kuliner dapat tumbuh melalui kreativitas masyarakat, pengalaman berdagang, dan perubahan selera. Dengan demikian, Batagor dapat dipahami bukan sekadar sebagai makanan, melainkan juga sebagai bagian dari perjalanan kuliner Kota Bandung.

Sumber:
Bandung Mirasa. 2025. “Batagor.” Warisan Budaya Tak Benda, diakses dari https://bandungmirasa.id/warisan/batagor, tanggal 15 Oktober 2026.

Pemerintah Kota Bandung. Tanpa tahun. Kuliner Kota Bandung. Dokumen informasi kuliner Kota Bandung, bagian “Batagor”.

Popular Posts