WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Perayaan Penetapan WBTB Indonesia

Perayaan Penetapan WBTB Indonesia


Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di berbagai suku bangsa Indonesia amatlah melimpah namun sosialisasi dan penetapan dari Indonesia selama ini masih belum dilakukan secara resmi. Oleh karena itu, beberapa negara kerap melakukan “penyerobotan” atas kekayaan WBTB yang sebenarnya menjadi milik bangsa Indonesia.
Proses untuk melakukan penetapan WBTB sebenarnya sudah dilakukan Indonesia namun langsung berskala dunia yaitu berupa penetapan langsung oleh UNESCO sehingga berakibat proses pembiayaan dan pencarian data yang harus sesuai dengan apa yang menjadi kriteria UNESCO. Hasilnyapun tidak memuaskan karena sampai saat ini baru ada 6 WBTB Indonesia yang diakui UNESCO, yaitu:
1. Wayang,
2. Keris,
3. Tari saman,
4. Angklung,
5. Batik,
6. Noken.
Penetapan terbaru, yaitu noken, sebenarnya berbarengan dengan satu ajuan lainnya yaitu kain tenun khas sumba barat namun masih terdapat berbagai kekurangan data sehingga tidak disahkan oleh UNESCO untuk tahun ini. Hal tersebut menurut Windu Nuryanti (Wamendikbud bidang Kebudayaan) menjadi salah satu alasan untuk melakukan penetapan sendiri secara resmi. Penetapan WBTB ini memiliki dasar hukum sangat kuat karena akan disebarkan ke seluruh negara sehingga mereka mengetahui dan tidak akan sembarangan lagi mencaplok apa yang menjadi WBTB milik Indonesia.
Perayaan penetapan WBTB Indonesia yang dilakukan pada tanggal 16 s.d 18 Desember 2013 di Hotel Millenium jl. Fachrudin no. 3 Jakarta merupakan puncak dari seluruh tahapan kegiatan pencarian dan penseleksian secara ketat seluruh ajuan WBTB yang dilakukan para ahli yang diketuai oleh Mukhlis Paeni. Dari seluruh WBTB yang diajukan oleh 11 BPNB, baru ada sekitar 70 WBTB yang lulus seleksi dan ditetapkan pada perayaan tersebut. Ajuan WBTB BPNB Bandung yang berhasil lulus seleksi untuk tahun ini berjumlah 8 buah, yaitu:
1. Tapis,
2. Debus Banten,
3. Ondel-ondel,
4. Topeng dan Lenong Betawi,
5. Pantun Betawi,
6. Kujang,
7. Ronggeng Gunung,
8. Sisingaan.
Penyerahan sertifikat dilakukan langsung oleh Wamendikbud bidang Kebudayaan kepada para perwakilan seluruh WBTB. Dalam kesempatan ini, Wamendikbud berpesan agar sertifikat tersebut disebar ke tiap instansi terkait agar dapat diketahui, disadari, dan menjadi rangsangan bagi seluruh masyarakat untuk mendukung program pelestarian kebudayaan.

Ribuan Pengunjung Memadati Alun-alun Sumedang

Sumedang - Ribuan warga Kabupaten Sumedang antusias menghadiri Festival Prabu Geusan Ulun yang dipusatkan di Alun-alun Kota Sumedang Sabtu (23/11/2013).

Kegiatan tersebut, hasil kerja sama antara Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang dan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Kementerian Pendidikan dan Kebudyaaan (Kemendikbud).

Pantauan “KP” di lapangan, pertunjukan dan pameran seni budaya itu, nampak mampu menghipotis pengunjung karena acara tersebut turut menampilkan berbagai hasil karya putra daerah dalam menopang pembangunan.

Bahkan, penonton nampak larut dalam gelak dan tawa karena penyelenggara menyuguhkan aneka permainan serta hiburan rakyat.

Kepala dinas kebudayaan pariwisata pemuda dan olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang, Herman Suryatman mengaktakan, kegiatan tersebut digelar sebagai upaya melestarikan seni dan budaya sekaligus menghibur warga Sumedang.

“Acara ini bertemakan Gilig Ngawujudkeun Sumedang Nyunda yang akan berlangsung selama empat hari dimulai Sabtu (23/11/2013) hingga Rabu (27/11/2013).” Kata Herman kepada sejumlah wartawan di Alun-alun Sumedang, kemarin.

Tentu saja, kata dia, berbagai komponen masyarakat diantaranya pelajar, turut mempertunjukan hasil karya seni, budaya dan berbagai kreativitas penopang dan hasil pembangunan.

Yang pasti, ujarnya menambahkan, acara tersebut bukan hanya penampilan karya seni saja namun sebagai ajang pemahaman wawasan dan pendidikan.

Panitia pun menyuguhkan berbagai ranah pendidikan seperti drama tentang Prabu Geusan Ulun, kongres kebudayaan daerah, lomba melukis kesejarahan dan puisi.

“Bahkan, dalam kesemptan baik ini, kita pun meluncurkan buku biografi tetang guru kalbu (Een Sukaesih).” Ujarnya.

Pesertanya, kata dia, tak hanya dari Kabupaten Sume­dang saja. Namun, beberapa karya seni dari berbagai daerah lain di Jawa Barat pun turut ditampilkan. ìTak dipungkiri, pengaruh budaya dari negara asing berdampak negatif bagi generasi bangsa terlebih di era globalisasi seperti sekarag ini. Sehingga, hal tepat acara ini digelar dalam upaya kembali membangkitkan gairah sekaligus menumbuhkembangkan budaya lokal.” Ucap Herman.

Kegiatan itu pun, kata dia, salah satu momentum tepat da­lam meyukseskan pencanangan gerakan pembangunan Sume­dang Nyunda. Bahkan, acara itu dinilai seirama dengan kerangka visi Sumedang Sejahtera, Nyunda, Maju, Mandiri, Agamis (Senyum Manis). Bahkan, selaras dengan peraturan bupati (Perbup) tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS).

Diharapkan, kata dia, masyarakat mengambil hikmah terbesar dalam pelaksanaan ke­giatan itu. “Semoga, masyarakat menjadi lebih aktif dalam mengapresiasikan kesenian sekaligus selalu menjaga nilai karya budaya sunda sekaligus meniru sepak terjang dan semangat Prabu Geusan Ulun dalam mejaga keutuhan NKRI,” ujarnya.

Bahkan, katanya, Pemkab Sumedang pun kini mencanangkan program gerakan pembangunan Sumedang Nyun­da. “Implementasinya, bahwa setiap hari Rabu dan Jumat, maka pelaksana pemerintahan dan pendidikan di Pemkab Sume­dang wajib menggunakan bahasa Sunda,” kata Herman.

Sementara itu ujarnya, pada hari Kamis dan Jumat, mereka pun wajib mengenakan pakaian batik kasumedangan dan pakaian adat Sunda Salontreng.

“Tak itu saja, konsumsi (hidangan) yang disuguhkan pada setiap acara pemerintahan pun wajib menyuguhkan aneka penganan khas Sumedang,” ujar Kadisbudparpora.

Pantauan “KP, ribuan warga Sumedang turut menghadiri acara yang dipusatkan diseputaran Alun-alun Kota Sume­dang. Warga pun menilai kegia­tan tersebut positif, namun sebagian pengunjung menyesalkan lokasi penyelenggaraan yang dinilainya kurang representatif karena harus berdesakan. E-42***

Festival Prabu Geusan Ulun, Panggung Sumedang Nyunda

Bandung - Aksi para pelajar SMAN Situraja, Sumedang yang menampilkan adegan teatrikal pembuatan jalan raya pos di Cadas Pangeran menyedot perhatian saat Festival Prabu Geusan Ulun di Alun-alun Sumedang, Sabtu (23/11/2013). Para pelajar ini mengisahkan proses kerja rodi pembuatan jalan di kawasan Cadas Pangeran yang menelan korban sampai 5.000 orang.

Para pemain ini melumuri tubuhnya dengan tanah basah sehingga terlihat coreng moreng. Kemudian mereka menarik batu-batu besar dan terlihat pontang-panting serta ikut terseret batuan cadas dari bukit yang coba dibobok untuk dijadikan jalan dari Anyer-Panarukan.

Beratnya medan pembuatan jalan itu membuat warga Sumedang yang mengerjakan jalan itu bergelimpangan menjadi korban. Irama musik tarawangsa yang penuh magis membuat adegan teaterikal ini seakan mencekam.

Adegan ini diakhiri dengan datangnya Gubernur Jenderal Herman Willem Daendles dan bertemu dengan Bupati Sumedang Koesumadinata IX atau dikenal dengan Pangeran Kornel. Mereka naik ke bebatuan dan berjalan dengan mata yang saling menatap tajam dan di atas bebatuan cadas yang dibawahnya para pekerja yang menjulurkan tangan.

Adegan ditutup dengan saling bersalaman, ketika Daendles menyodorkan tangan dan disambut tangan kiri Pangeran Kornel sementara tangan kanan Bupati Sumedang memegang keris Nagasastra.

Saat adegan puncak ini, para pekerja pembuatan jalan memutarkan bebabuan sehingga aksi salaman ini terlihat berputar dan semua penonton bisa menikmatinya. Tepuk tangan riuh menggema.

"Saya melihat ini peserta yang paling baik dalam Festival Prabu Geusan Ulun. Mengemas peristiwa bersejarah secara teaterikal dan dilakukan anak-anak SMA," kata Agus Iskandar (43) asal Buahdua yang menonton Festival Prabu Geusan Ulun bersama keluarganya ini.

"Selebihnya, acara ini biasa saja seperti juga kegiatan pawai yang sering digelar di Sumedang," imbuhnya.

Hal yang sama juga dilontarkan beberapa siswa SD Sukaraja yang sengaja diminta para gurunya untuk menonton dan mencatat kegiatan festival itu.

"Yang menarik itu adu domba yang berasal dari Garut dan juga cerita pembuatan Cadas Pangeran," kata beberapa pelajar SD yang duduk di panggung.

Para fotografer yang datang dari berbagai daerah juga mengeluhkan soal lokasi gelaran di depan panggung yang tidak steril karena banyaknya penonton yang masuk.

"Seharusnya lebih ditata lagi sehingga ruang peserta festival untuk mengekspresikan seni bisa terlihat dengan jelas dan dipotret utuh. Lihat saja penonton bebas masuk dan berbaur dengan peserta," kata Iwan Kristiana salah seorang fotografer.

Kegiatan Festival Prabu Geusan Ulun ini digelar Pemkab Sumedang bekerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan biaya yang ditanggung kementerian mencapai Rp 390 juta, gelar budaya daerah sekaligus pencanangan gerakan pembangunan Sumedang Nyunda juga diikuti kontigen dari Kabupaten Purwakarta, Garut dan Subang.

"Ada 25 kelompok yang memeriahkan seni gelaran tradisional itu. Kegiatan ini untuk mewujudkan Sumedang Nyunda," kata Herman Suryatman, Kepala Dinas Kebudayaan Parawisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora).

Kegiatan festival Prabu Geusan Ulun ini bukan hanya gelaran saja tapi berbagai kegiatan budaya Sumedang, kuliner sampai diskusi kebudayaan juga digelar selama empat hari empat malam. Digelar juga seni tradisional, pameran budaya daerah, festival komunitas adat, kuliner, permainan rakyat, lomba lukis serta kongres Dewan Kebudayaan Sumedang.

"Kegiatan ini sempat tidak akan dilaksanakan karena masih ada suasan kebatina dan duka setelah Bupati Endang Sukandar wafat," katanya.

Namun, dengan berbagai pertimbangan dan konsultasi, gelar budaya ini tetap dilakukan.

"Nama Festival Prabu Geusan Ulun ini usulan mendiang Pak Endang dan acara ini juga didedikasikan untuk Pak Endang yang juga merupakan tokoh budaya di Sumedang," katanya. (deddi rustandi)

Menghibur dan Melestarikan Budaya Sunda

FESTIVAL Prabu Geusan Ulun yang digelar di Alun-alun Kabupaten Sumedang Sabtu (23/11) - Selasa (26/11), cukup menarik perhatian warga. Ribuan pengunjung tampak berjubel mengikuti festival tahunan tersebut.

Apalagi kegiatan yang dilaksanakan atas kerja sama Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang, Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudyaaan (Kemendikbud) itu, mempertontonkan berbagai permainan rakyat. Ada juag pameran seni budaya serta hasil kreativitas masyarakat Sumedang.

"Festival Prabu Geusan Ulun yang bertema Gilig Ngawujudkeun Sumedang Nyunda ini upaya pemerintah untuk melestarikan seni dan budaya yang ada di te­ngah masyarakat Sumedang, juga untuk menghibur warga," kata Drs. H. Herman Suryatman, M.Si., Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang, Minggu (24/11).

Lebih dari itu, Festival Geusan Ulun ditujukan sebagai ajang peningkatan wawasan tentang berbagai seni dan budaya lokal kepada generasi muda serta anak sekolah. Oleh sebab itu, dalam kegiatan tersebut, pihaknya juga memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk unjuk kemampuan dalam bidang seni drama, kongres kebudayaan daerah, lomba melukis kesejarahan serta puisi.

"Seni drama yang dipentas­kan oleh pelajar adalah tentang Prabu Geusan Ulun," ung­kap­nya.

Yang membanggakan dari Festival Geusan Ulun, lanjut Herman, ada beberapa karya seni dari luar daerah di Jawa Barat yang turut ditampilkan. Pementasan seni dari luar itu, bagus bagi pengunjung dan pelajar untuk menambah wawasan.

"Di tengah pengaruh budaya dari negara asing yang tidak bisa terbendung lagi, kiranya dengan sering digelar acara seperti ini, diharapkan mampu membangkitkan kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap budaya lokal," ujarnya.

Pengunjung senang

Sementara itu, beberapa pengunjung yang ditemui "GM", umumnya mengaku senang menyaksikan acara tersebut. Hanya saja, mereka berharap acara tersebut lebih ditingkatkan lagi termasuk materi yang disajikan. "Secara keseluruhan, kami merasa senang menyaksikan acara ini," kata Ny. Herlina (34).

Menurutnya, akan lebih ba­gus lagi jika sejumlah kesenian unggulan yang ada di Sume­dang dipentaskan. Sehingga selain bisa menghibur masya­rakat, juga dijadikan ajang promosi kesenian daerah.

Terlebih, kesenian tradisional yang ada saat ini sudah sangat sedikit sekali. Untuk itu tidak mengherankan jika anak-anak muda, termasuk yang seumuran dengan dirinya, tidak tahu banyak soal kesenian yang ada di Sumedang. "Misalnya anak-anak sekarang hampir semua tahu kalau ditanya soal organ tunggal. Tetapi sebaliknya mereka bingung ketika ditanya soal tari jaipong," katanya.

Gelaran Festival Prabu Geusan Ulun Berlangsung Meriah

Sumedang, Jabar - Penyelenggaraan Gelar Budaya Daerah tahun 2013 (Festival Prabu Geusan Ulun) di Alun-alun Sumedang, Jln. Prabu Geusan Ulun, berlangsung meriah.

Gelar budaya yang dibuka secara resmi oleh Sekda Kab. Sumedang, Drs. H. Zaenal Alimin M.M., mewakili Wakil Bupati Sumedang H. Ade Irawan, Sabtu (23/11/2013) itu, ditonton ribuan masyarakat dan wisatawan lokal.

Mereka sejak pagi sudah menyemut bahkan berjubel di Alun-alun Sumedang, untuk menyaksikan langsung berbagai pertunjukan seni dan budaya dalam festival tersebut.

Masyarakat begitu antusias saat menonton pertunjukan kesenian tari tradisional Sumedang yang menggambarkan Prabu Geusan Ulun sebagai Raja Sumedang Larang mengenakan Mahkota Binokasih peninggalan Raja Pajajaran.

Dengan menggunakan mahkota tersebut, Prabu Geusan Ulun secara resmi dinobatkan sebagai penerus kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Kesenian tari tradisional Sumedang itu, menyedot perhatian masyarakat, para pejabat Pemkab Sumedang serta tamu undangan penting lainnya.

Setelah itu, acara dilanjutkan pada Helaran Seni Budaya Daerah. Helaran tersebut, dimeriahkan dengan arak-arakan Kereta Naga Paksi yang dikawal pasukan Kerajaan Sumedang Larang.

Puluhan praja IPDN Jatinangor, ikut ambil bagian dalam helaran tersebut dengan menampilkan kesenian rampak kendang dan antraksin lainnya. Tepuk tangan mewarnai pertunjukan itu hingga membuat suasana helaran begitu meriah.

Helaran makin semarak dengan penampilan kesenian dari beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Purwakarta, Subang dan Garut. Masyarakat sangat terhibur dengan pertunjukan kesenian ketangkasan adu domba dari Garut.

Dua boneka domba ukuran besar yang di dalamnya dimainkan beberapa orang (seperti kesenian barongsai), begitu lucu ketika beradu. Tak pelak, kesenian khas dari kota dodol itu mengundang gelak tawa dari penonton.

Tak kalah menarik dengan pertunjukan kesenian Kuda Renggong yang merupakan salah satu kesenian khas Sumedang. Tarian kuda renggong dengan atraksinya, tak luput dari perhatian ribuan penonton hingga mereka sangat terhibur.

Hari pertama pembukaan Festival Prabu Geusan Ulun itu, berlangsung meriah dan semarak. Dalam festival itu pun, diisi dengan kegiatan pameran hasil kerajinan ekonomi kreatif khas Sumedang, seperti produk batik tradisional kasumedangan, kerajinan dan alat musik tradisional dari bambu, wayang golek dan berbagai makanan kuliner khas Sumedang.

“Acara helaran dan karnaval yang eksotik ini, sebagai upaya untuk melestarikan seni dan budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional. Dalam festival ini, ada 9 varian pertujukan kesenian daerah yang ditampilkan setiap malamnya. Acara gelar budaya daerah ini, akan berlangsung empat hari empat malam,” kata Ketua Panitia Penyelenggara “Gelar Budaya Daerah tahun 2013 (Festival Prabu Geusan Ulun)” yang juga Kepala Disbudparpora Kab. Sumedang, Drs. Herman Suryatman, M.Si., di Alun-alun Sumedang, Sabtu (23/11/2013).

Dalam sambutannya, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung (BPNBB), Kemendikbud, Drs. Toto Sucipto mengatakan, penyelenggaraan acara tersebut sebagai wujud komitmen BPNBB yang didukung Pemkab Sumedang dan pihak lainnya dalam melestarikan seni dan budaya daerah di Jawa Barat, khususnya di Sumedang sebagai bagian dari budaya Indonesia.

“Gelaran seni dan budaya daerah ini tak hanya dipertujukan pada acara seremonial saja, melainkan harus digali, diangkat dan dilestarikan oleh semua masyarakat. Sebab, seni dan budaya daerah ini dapat menjaga persatuan dan kesatuan sekaligus membangun karakter bangsa. Oleh karena itu, berbagai potensi kesenian dan kebudayaan daerah termasuk di Sumedang, harus terus dipupuk dan dilestarikan,” ujarnya.

Disela acara itu, Sekda Kab. Sumedang Drs. Zaenal Alimin, M.M., mengatakan, semangat dari gelaran festival tersebut, sekaligus dicanangkan “Gerakan Pembangunan Sumedang Nyunda” sebagai bagian dari visi Kab. Sumedang “Senyum Manis” (Sejahtera, Nyunda, Maju, Mandiri, Agamis).

“Pencanangan ini, kami tindaklanjuti dengan beberapa kebijakan, seperti penggunaan Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di lingkungan Pemkab Sumedang, penggunaan pakaian adat sunda dan batik kasumedangan pada hari-hari tertentu serta pemanfaatan makanan tradisional sunda sebagai menu konsumsi dalam setiap rapat kedinasan,” kata Zaenal Alimin.

Persepsi Masyarakat terhadap Petilasan Sunan Kalijaga dan Taman Kera di Kota Cirebon

Oleh Hermana

Abstrak
Sunan Kalijaga merupakan salah seorang wali penyebar Agama Islam di Pulau Jawa. Dia adalah seorang wali yang sangat konsern terhadap budaya asli Nusantara. Keberadaan petilasan Sunan Kalijaga dan Taman Kera di daerah Cirebon mempunyai persepsi bagi masyarakat pendukungnya, baik dilihat dari segi sosial maupun dari segi ekonominya. Peziarah yang datang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda satu sama lainnya, mulai dari hanya sekedar mengiirim do’a kepada para arwah orang yang meninggal, sampai pada keinginan untuk mengubah taraf hidup secara ekonomis. Para Pejiarah mempunyai pandangan bahwa mengunjungi Petilasan akan mendapatkan barokah para wali. Hal ini menjadi suatu kenyataan bahwa dari waktu ke waktu pejiarah terus bertambah. Masyarakat dapat mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sifat, tingkah laku dan kegigihan Sunan Kalijaga dalam memperjuangkan keyakinannya, dalam menyebarkan Ajaran Islam di Nusantara.

Kata kunci: Petilasan Sunan Kalijaga, Cirebon.

Abstract
Sunan Kalijaga was one of Islam spreader in the island of Java. He was interested in the aboriginal cultures of Indonesian archipelago and made them his own concern. Petilasan (feature) of Sunan Kalijaga and Taman Kera (the garden of apes) are socially and economically important for followers of Sunan Kalijaga. There are many pilgrims coming to these sites, hoping to get blessings from the wali (holy person) either by praying for the deads or asking a better life. These pilgrims are increasing over times. They think that by visiting these sites they will have something to learn from Sunan Kalijaga especially in the way he did in disseminating Islam di Java.

Keywords: Petilasan Sunan Kalijaga, Cirebon.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Perkembangan Pemerintahan Kabupaten Cirebon

Oleh H. Iwan Roswandi

Abstrak
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa bagaimana perkembangan pemerintahan Kabupaten Cirebon tahun 2008. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah, melalui empat tahapan, yaitu heuristik (menemukan), kritik, interpretasi, dan historiografi. Perkembangan Kabupaten Cirebon (2005-2006) dapat diilustrasikan dari segi pemerintahan yang sebagian wilayahnya terletak di sepanjang pantai laut Jawa dan sebagian lagi wilayah Kabupaten Cirebon berada di daerah perbukitan. Hal ini memperlihatkan semakin beragamnya karakteristik yang ada, sehingga merupakan suatu modal untuk kemajuan daerahnya. Pengaruh pembangunan dan modernisasi berdampak jelas terhadap perubahan kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan, apalagi Kabupaten Cirebon merupakan pintu gerbang memasuki wilayah Jawa Tengah. Berdasarkan fakta jumlah penduduk yang cukup besar dari tahun ke tahun cukup sulit menyatukan komponen yang ada sehingga berdampak pada pelaksanaan pemerintahan yang kurang optimal. Demikian pula pada tahun 2008 masih tetap sama mempunyai jumlah penduduk yang besar dan tidak merata.

Kata kunci: Kabupaten Cirebon, perkembangan pemerintahan.

Abstract
The purpose of this research is to analyse the development of the government of Kabupaten Cirebon in 2008. The author conducted methods used in history in four stages: heuristic, critique, interpretation, and historiography. Kabupaten Cirebon has various characteristics due to its unique landscapes that consits of coastal and hilly areas, and this would be a good capital for developing the region. Kabupaten Cirebon is also the main gate to the province of Central Java. The research came into conclusion that the development and modernization had influenced the political, economical and socio-cultural life of the people.

Keywords: Cirebon Regency, development administration

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Popular Posts