WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Struktur Sosial, Politik, dan Pemilikan Tanah di Priangan Abad Ke-19

Oleh Mumuh Muhsin Z

Abstrak
Abad ke-19 bagi Priangan khususnya dan Pulau Jawa umumnya merupakan moment penetrasi kolonial yang sangat intens. Hal ini dilakukan melalui pelibatan hampir sebagian besar komponen masyarakat dalam mengusahakan tanaman komersial yang laku di pasar internasional, seperti nila, kopi, teh, dan kina. Guna mengoptimalkan pencapaian target-targetnya, pemerintah kolonial melakukan rekayasa tatanan sosial dan politik masyarakat pribumi. Pola rekayasa sosial politik yang dilakukannya tidak selalu tetap. Perubahan selalu dilakukan atas nama dan demi kepentingan pemerintah kolonial yakni mendapatkan keuntungan ekonomi sebesar-besarnya bagi kesejahteraan negeri induknya, Kerajaan Belanda.

Mobiltas sosial terjadi semakin dinamis, baik yang bersifat vertikal maupun yang horizontal. Hal itu terjadi terutama setelah dibuka peluang bagi pribumi untuk memasuki sekolah. Munculnya elit baru hasil dari sistem pendidikan ini berefek pada perubahan-perubahan sosial. Satu sisi ketidakmungkinan kelompok sosial menengah (priyai rendah) masuk birokrasi pemerintah berakhir sudah. Pola rekruitmen pegawai pemerintah bukan lagi didasarkan pada faktor “darah” (geneologis), tapi faktor kemampuan dan prestasi yang direpresentasikan dalam bentuk ijazah. Sisi lain, secara kuantitas muncul elit-elit baru di tengah-tengah masyarakat. Artinya juga, konsekuensi dari perubahan sosial seperti itu, kekuatan politik yang semula hanya terpusat pada elit tradisional mengalami pemudaran karena semakin terbagi dengan elit-elit baru. Tidak hanya terhadap aspek sosial dan politik penduduk pribumi, tetapi pengaturan-pengaturan mengenai tataguna tanah pun senantiasa dilakukan. Tanah sebagai faktor produksi yang cukup penting mesti direkayasa sedemikian rupa demi kepentingan pemerintah kolonial. Kombinasi dari politisasi aspek sosial, politik, dan pertanahan tak pelak lagi telah menguntungkan pemerintah kolonial.

Kata kunci: Priangan, sosial, politik, tanah.

Abstract
In 19th century, Priangan – and Java in general – faced an intensive colonial penetration. The Dutch colonial government forced people to cultivate some crash crops which were highly demanded in international market, such as nila (Indigofera L), quinine (Chincona spp.), tea (Camellia sinensis) and coffee (Coffea). The colonial government constructed social and political structue among native Indonesians in order to gain their goals and targets. Land, as an important factor of productions had to be reformed for the sake of the colonial government. Land reform was established, allowing new elites to emerge. These new elites had changed traditional social structure, making traditional elites less powerful among their society.

Keywords: Priangan, social, political, land.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Eksistensi Seni Penca Silat di Kabupaten Purwakarta

Oleh Irvan Setiawan

Abstrak
Pencak silat merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Perkembangan pencak silat belakangan ini dapat dikatakan masih berada pada taraf seadanya. Terlihat dari gaung pencak silat di Provinsi Jawa Barat yang masih kurang mampu menembus jenis-jenis olahraga ternama seperti sepak bola atau badminton. Sementara dilihat dari segi kesenian juga masih kurang menarik dibandingkan dengan jenis kesenian seperti wayang golek ataupun jaipongan. Walaupun demikian, tidak semua wilayah pasif terhadap upaya pelestarian pencak silat. Kabupaten Purwakarta sebagai contoh, merupakan kabupaten terkecil dari Provinsi Jawa Barat yang ternyata memiliki semangat cukup tinggi untuk melestarikan pencak silat baik dari segi olahraga ataupun sebagai kesenian tradisional.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi adaptasi pencak silat untuk tetap eksis dan berkembang sebagai bagian dari cabang olahraga maupun sebagai kesenian tradisional di Kabupaten Purwakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah deskripsi analisis. Data diperoleh dengan cara pencarian data primer dan sekunder.

Kata kunci: Pencak Silat, Strategi Adaptasi.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Anak Ucing Cai


Sejarah Singkat Karya Budaya
Permainan ini sudah dikenal sejak dahulu dan selalu dilakukan oleh anak-nak. Jika diteliti, dalam permainan ini terdapat latihan-latihan kecekatan, keterampilan dalam berenang dan menyelam. Mungkin saja permainan tercipta karena keadaan lingkungan, maka permainan ini perlu adanya latihan-latihan tidak langsung bagi anak-anak menjelang dewasa.

Permainan ini banyak dimainkan oleh anak-anak yang berdiam di dataran rendah. Namun bias juga anak-anak yang berdiam di dataran tinggi yang tempat tinggalnya berdekatan dengan sungai.

Pada zaman dahulu permainan ini merupakan hiburan yang sangat menyenangkan bagi anak-anak gembala bila ternak gembalanya sudah kenyang merumput dan sudah berteduh menunggu digiring untuk pulang.
Lokasi Karya Budaya
JAWA BARAT
KARAWANG

Uraian atau Diskripsi Singkat
Permainan ini disebut ucing cai karena tempat bermainnya di sungai yang ada lubuknya atau di kolam yang dalamnya kira-kira 1-1½ meter.  Tetapi karna permainan ini banyak dilakukan oleh anak-anak desa, maka sungai yang ada lubuknya itulah yang dijadikan tempat bermain.

Permainan ini sebagai hiburan dan pengisi waktu yang dilaksanakan pada pagi hari, siang hari maupun sore hari. Permainannya pada umumnya hanya dilakukan oleh anak laki-laki yang berumur sekitar 6 sampai 12 tahun. Jumlah pemainnya sekitar 5 sampai 10 orang. Untuk bermain ucing cai mereka membuka pakaiannya dan berkumpul untuk mengadakan undian. Hasil undian itu untuk menentukan siapa yang harus menjadi kucing terlebih dahulu.

Permainan ucing cai disamping sebagai media hiburan ringan juga dapat mendidik anak-anak agar senang berenang serta melatih kerja sama di dalam air.
Kondisi Karya saat ini
2. Masih bertahan
Foto

Uga Bandung Pengetahuan Orang Sunda dalam Ramalan dan Antipasi Terhadap Perubahan Fenomena Alam

Oleh Nandang Rusnandar

Abstrak
Penelitian mengenai Uga Bandung Pengetahuan Orang Sunda dalam “Ramalan” dan ”Antipasi” terhadap Perubahan Fenomena Alam, bertujuan untuk mendeskripsikan Uga Bandung yang beredar di masyarakat Bandung. Metode yang dipergunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan penggunaan dokumen. Uga Bandung mendeskripsikan perjalanan dan perkembangan sebuah kota yaitu Kota Bandung sebagai pusat orientasinya yang pada akhirnya menjadi Bandung heurin ku tangtung. Uga Bandung pun di dalamnya mengungkapkan nilai-nilai dalam bentuk simbol sebagai antisipasi terhadap fenomena perubahan alam, sehingga perubahan itu dapat dikendalikan sesuai dengan situasinya.

Kata kunci : Uga Bandung, ramalan, antisipasi.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Perkembangan Sosial Di Kabupaten Majalengka (Berdasarkan Data Statistik 2004 – 2006)

Oleh H. Iwan Roswandi

Abstrak
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana perkembangan pemerintahan Kabupaten Majalengka tahun 2006. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah, melalui empat tahapan, yaitu heuristik (menemukan), kritik, interpretasi, dan historiografi. Perkembangan Kabupaten Majalengka (2004-2006) dapat diilustrasikan dari segi pemerintahan yang sebagian wilayahnya berada di daerah perbukitan. Hal ini memperlihatkan semakin beragamnya karakteristik yang ada, sehingga merupakan suatu modal untuk kemajuan daerahnya. Pengaruh pembangunan dan modernisasi berdampak jelas terhadap perubahan kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan.

Tinjauan demografis menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Majalengka mulai tahun 2004 sampai dengan 2006 berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) terus mengalami peningkatan. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki. Untuk tahun 2004, kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Kadipaten dan terendah di Kecamatan Kertajati. Seperti halnya dengan pertumbuhan penduduk, jumlah rumah tangga mengalami peningkatan dari 392.544 rumah tangga pada tahun 2005 menjadi 395.834 rumah tangga pada tahun 2006 atau meningkat menjadi 0,84 %. Dikondisikan dengan luas wilayah administratif 1.204,24 km2, maka rata-rata kepadatan penduduk di wilayah Kabupaten Majalengka pada tahun 2006 adalah sebesar 979 jiwa per km2. Kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2.049 jiwa/ km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengan kepadatan 325 jiwa per km2.

Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu daerah adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk melalui berbagai program. Seperti halnya program wajib belajar 9 tahun, Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) dan berbagai program pendukung. Berdasarkan fakta jumlah penduduk yang cukup besar dari tahun ke tahun cukup sulit menyatukan komponen yang ada sehingga berdampak pada pelaksanaan pemerintahan yang kurang optimal.

Kata kunci: Kabupaten Majalengka, perkembangan sosial.


Abstract
This research aims to analyse the development of Kabupaten Majalengka in 2006. The author conducted history method in four steps: heuristics, critique, interpretasition, and historiography. The conclusion is that the impacts of development and modernization can be clearly seen on the changes in socio-cultural, political and economical life of a society as well as on defense and security. Human resource is an important thing for the success of development, and education is very crucial in making it possible.

Keywords: District Majalengka, social development.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Budaya Spritual pada Masyarakat Indramayu (Kajian Sosial Budaya)

Oleh Nina Merlina

Abstrak
Fenomena ziarah ke tempat-tempat keramat, masih banyak dilakukan di lingkungan masyarakat. Ziarah ke tempat-tempat keramat merupakan suatu fakta sosial yang tidak bisa diabaikan, terlepas dari pro dan kontra. Ziarah ke tempat-tempat keramat sepertinya sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi suatu kelompok masyarakat tertentu, baik itu di lingkungan pedesaan maupun perkotaan. Ziarah ke tempat-tempat keramat bisa diartikan sebagai kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, misalnya; makam, tempat lahirnya seorang tokoh besar, tempat peninggalan atau patilasan, dan tempat–tempat yang memiliki nilai sejarah spiritual yang tinggi. Suatu makam dianggap keramat apabila di makam tersebut dimakamkan seseorang yang dianggap sangat berpengaruh sewaktu masih hidup. Bagi sebagian masyarakat, makam dan tempat keramat adalah tempat yang baik untuk mencari berkah. Begitu pula yang terjadi di Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu, menziarahi makam atau tempat keramat, sepertinya sudah menjadi suatu kebutuhan masyarakatnya. Wilayah Lelea yang dipagari oleh tempat keramat, memungkinkan sekali bagi masyarakat Lelea untuk selalu menziarahi tempat-tempat keramat yang ada di lingkungannya. Masyarakat Lelea merasa diawasi kehidupannya oleh para keramat tersebut. Hal ini disebabkan oleh anggapan di kalangan masyarakat Lelea, bahwa, di tempat-tempat keramat tersebut bersemayam roh-roh halus para leluhur atau tokoh yang mempunyai kekuatan-kekuatan di atas kemampuan manusia biasa. Para leluhur tersebut adalah orang yang sangat berjasa, mempunyai kharisma dan dimitoskan oleh penduduknya dan dijadikan sebagai panutan. Pada saat-saat tertentu, di tempat-tempat keramat tersebut, dijadikan sebagai tempat kegiatan ritual misalnya upacara-upacara persembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk meminta dan memohon segala petunjuk yang harus dilakukan untuk maksud-maksud tertentu.

Kata kunci : Masyarakat Lelea, tempat keramat, ziarah.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Makna Sejarah Dan Budaya Dalam Situs Jatigede Sumedang

Oleh Dade Mahzuni

Abstrak
Rencana pemerintah untuk membangun bendungan atau waduk Jatigede tentunya akan membawa manfaat bagi masyarakat Sumedang khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Akan tetapi di balik manfaat dan keuntungan yang akan didapatkan dari pembangunan Waduk Jatigede tersebut, terdapat pula dampak negatifnya, yaitu berkaitan dengan keberadaan situs-situs sejarah yang terdapat di daerah setempat. Secara historis, situs-situs yang berada di daerah Jatigede dan sekitarnya, yang berjumlah sekitar 25 situs, merupakan peninggalan masa prasejarah (megalitikum) dan masa Kerajaan Tembong Agung atau Sumedang Larang. Oleh karena itu, keberadaan situs-situs tersebut memiliki arti dan nilai yang penting untuk pendalaman pengkajian sejarah kuno Jawa Barat.

Informasi arkeologis dan kesejarahan yang dikandung dalam situs-situs tersebut, baik secara tersurat mapun tersirat, mengandung makna bahwa masyarakat Jatigede dan sekitarnya, sejak awal keberadaannya sudah memiliki budaya yang mapan: masyarakat sudah hidup dengan pola menetap, memiliki pengetahuan dan pengalaman bercocok tanam dan membuat barang-barang keperluan rumah tangga dan keperluan hidup lainnya, mereka juga sudah memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Di samping itu, melihat arah dan posisi makam-makam pada sejumlah situs, menunjukkan makam Islam, tetapi dengan struktur makam berupa punden berundak. Hal ini menunjukkan telah terjadinya akulturasi budaya. Makna budaya pada situs juga tercermin dari cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan situs, yang di dalamnya mengandung nilai-nilai budaya dan sastra.

Apabila seluruh atau sebagian situs-situs yang berada di daerah Jatigede dan sekitarnya ditenggelamkan atau direlokasi ke tempat lain sejalan dengan pembangunan waduk Jatigede, maka makna dan nilai sejarah dan budayanya akan turut hilang atau berkurang. Hal ini disebabkan karena kesejarahan dan kebudayaan selalu berkaitan dengan tempat (site) dan benda-benda.

Kata kunci: situs jatigede, makna sejarah dan budaya

Abstract
The government plans to build a dam in Jatigede. This dam will be beneficial to the people of West Java, especially Sumedangians. On the other hand, the dam will have negative impacts on historical sites in the area. Jatigede has approximately 25 historical sites than spans from prehistoric period (megalithicum) to the time of Tembong Agung Kingdom or Sumedang Larang. These sites are very important to the study of ancient history of West Java.

From the historical and archaeological point of view, those sites inform us that the people of Jatigede developed a quite complex culture at that time: they lived sedentarily, and already had techniques and knowledge for cultivating lands. They also made household apparatus and any other equipments as well as developing beliefs in animism and dynamism. Their cemeteries show that there was acculturation between Islam (the orientation) and local beliefs (pyramidal structure). The folktales of the sites contain cultural and literary values.

If all the sites have to be drowned due to the construction of the dam, the historical meaning and values of them will be vanished forever.

Keywords: Jatigede site, cultural and historical meanings

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Kajian Nilai Budaya Dalam Upacara Mapag Sri Di Desa Lelea

Oleh Yanti Nisfiyanti

Abstrak
Dewasa ini upacara tradisional mengalami banyak pergeseran yang disebabkan oleh pengaruh modernisasi di segala bidang kehidupan, antara lain masyarakat modern cenderung memilih kepraktisan untuk mencapai keefektikan waktu dalam melaksanakan sesuatu hal termasuk dalam penyelenggaran upacara. Namun demikian, tidak seluruhnya masyarakat Jawa Barat terpengaruh arus modernisasi, diantaranya masyarakat petani di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu yang hingga kini masih menjalankan adat-istiadat leluhurnya. Setiap tahun para petani bersama tokoh masyarakat setempat menyelenggarakan upacara pertanian di antaranya Mapag Sri. Tujuan utama dari penelitian ini untuk mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Mapag Sri dengan metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam upacara Mapag Sri terkandung nilai-nilai kearifan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia diantaranya memelihara tradisi bertani yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pendahulunya. Penyelenggaraan upacara tradisional pada masyarakat Desa Lelea tampaknya masih dapat dipertahankan hingga kini dan masa yang akan datang mengingat kegiatan gotong-royong dan kepercayaan masyarakat masih kuat berakar dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Selain itu, nilai-nilai kearifan tidak hanya bermanfaat bagi para petani, juga bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, untuk melestarikan nilai-nilai kearifan, maka upacara tradisional sebagai media sosialisasi nilai-nilai patut dipertahankan keberadaannya.

Kata kunci: upacara tradisional, nilai-nilai, kearifan, adat-istiadat.

Abstract
Traditional ceremony plays an important role in Desa (village of) Lelea, Kabupaten (Regency of) Indramayu even in today’s changing world. Modernization makes traditional ceremonies shift to a more simple one following a more practical and effective way of doing everything in modern world. But the peasant society of Desa Lelea do not seem to be influenced by the changing world around them. They have been performing their customs which were inherited from their ancestors. One of them is a ceremony called Mapag Sri (celebration of Sri, the rice goddess). The main goal of this research is to reveal wisdom values in Mapag Sri by using descriptive analytical method. The conclusion is that this ceremony is still important in human life as well as in preserving peasant traditions which were passed on for generations.

Keywords: traditional ceremonies, values, wisdoms, customs

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Eksistensi dan Strategi Adaptasi Komunitas Adat di Jawa Barat

Oleh: Toto Sucipto

Abstrak
Di Jawa Barat terdapat komunitas adat yang konsentrasi warganya tersebar di beberapa pemukiman yang disebut kampung atau kampung gede (kampung induk). Secara umum dapat diungkapkan bahwa warga komunitas adat yang ada di Jawa Barat tersebut mendukung kebudayaan Sunda, yaitu yang sehari-harinya mempergunakan bahasa Sunda dan merupakan masyarakat terbuka yang mudah sekali menerima pengaruh dari luar, tetapi juga kemudian menyerap pengaruh itu sedemikian rupa sehingga menjadi miliknya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah warga komunitas adat di Jawa Barat yang termasuk pendukung kebudayaan Sunda ini mudah menerima pengaruh luar seperti masyarakat Sunda umumnya? Kajian menarik tentang komunitas adat antara lain mencuatkan kenyataan bahwa warga komunitas adat selalu berupaya patuh terhadap kasauran karuhun (perkataan/wasiat para leluhur) sehingga dinamika kebudayaan mereka agak sulit terdeteksi dengan mudah. Komunitas adat berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan berupaya mempertahankan kondisi lingkungan alamnya dengan tetap mentaati aturan adat warisan para leluhur sehingga setiap komunitas adat memiliki ciri khas yang membedakannya dengan masyarakat lain. Para pendahulu mereka (leluhur) mengembangkan aturan-aturan adat yang direalisasikan pada beberapa tabu/pamali/larangan/buyut. Aturan-aturan adat tersebut mempunyai makna atau fungsi yang sangat luas. Aturan tersebut juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol dalam kebudayaan yang menahan dilakukannya eksploitasi alam secara semena-mena, membuat masyarakat tetap sederhana, tidak hidup berlebihan, dan tetap memegang prinsip kebersamaan sehingga keseimbangan lingkungan, baik fisik maupun sosial, dapat dipertahankan. Mekanisme itu diselimuti dengan sanksi moral, sehingga keadaan lingkungan relatif stabil dalam jangka waktu relatif lama.

Kata kunci : komunitas adat, tabu, mekanisme kontrol, eksistensi, strategi adaptasi

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Perkembangan Etnopreneurship Di Garut 1945-2010

Oleh: Iim Imadudin

Abstrak
Semangat kewirausahaan dalam konteks kesukubangsaan masih sedikit mendapat perhatian. Minimnya perhatian tersebut terbatas pada etnis-etnis tertentu saja yang dikenal memiliki jiwa etnopreneurship. Penelitian ini berupaya memberikan gambaran bahwa dinamika internal sukubangsa Sunda yang tinggal di Garut memperlihatkan wataknya yang entrepreneurship. Selama ini Garut lebih banyak dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan alam yang potensial sehingga menjadi daerah tujuan wisata yang penting. Selain itu, kekayaan kuliner juga sudah menjadi pengetahuan bersama masyarakat Jawa Barat pada khususnya. Sementara itu, pengembangan sumber daya manusia dalam konteks kultural jarang diungkap. Kekhasan ekonomi kreatif di daerah ini terletak pada spesialisasi profesi masing-masing desa. Meski masih terlalu dini, agaknya konsep one village, one product (satu kampung, satu produk) cukup tepat ditempatkan dalam konteks kewirausahaan di Garut. Tradisi merantau secara terbatas menunjukkan karakter khas masyarakat di wilayah Garut. Ada yang menetap dalam waktu yang cukup lama di wilayah lain. Akan tetapi, sebagian terbesar kembali pada waktu-waktu tertentu, bahkan menjadi comutter secara intensif.

Penelitian ini mencakup tiga bidang usaha yang berbeda, yaitu usaha batik garutan, industri kulit Sukaregang, dan tukang cukur Banyuresmi. Ketiga objek telitian tersebut dipetakan menurut dua kategori: kota-desa, surplus-minus. Sumber primer berasal dari wawancara lisan dengan para informan yang terlibat dengan aktivitas kewirausahaan. Sementara itu, sumber sekunder dari literatur. Kajian mengenai semangat kewirausahaan dalam konteks kesukubangsaan menjadi penting di tengah usaha untuk mengembangkan local genious di bidang ekonomi kreatif.

Kata kunci: etnopreneurship, sukubangsa, Garut

Abstract
The paper was based on the fact that exposing cultural context of human resources is not common in our country. This research tries to describe the great entrepreneurship of the Sundanese of Garut. They used to wander about (merantau) and commute very intensively to trade to other cities or regions. The uniqueness of the city is that every village has its own specialty. This research covers three kinds of business: batik garutan (a kind of batik with spesific motifs of Garut), leather industry in Sukaregang and barbers of Banyuresmi. Data were collected through interviews and bibliographic studies. The author came into conclusion that the study of entrepreneurship (in ethnical context) is very important in developing local genius in creative economy.

Keywords: entrepreneurship, ethnic, Garut

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Melacak Sejarah Kesenian dan Tradisi Lokal di Jawa Barat

                                     
Judul Buku


Penulis
Penerbit
Cetakan
Tebal
ISBN
Peresensi
:
:
:
:
:
:
:

:
Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal; Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia
Fandy Hutari
Ombak
Ke-1
164
602-8384-44-5
Iim Imadudin

Historiografi kesenian di Indonesia belum menjadi tema penelitian sejarah yang banyak diminati para sejarawan khususnya, dan para peminat sejarah umumnya. Terlebih untuk periode kolonial yang selalu menjadikan arsip-arsip sebagai sumber utamanya. Alasan teknis tentu saja terkait dengan kemampuan bahasa sumber (Belanda) yang tidak memadai. Kemungkinan lain disebabkan oleh belum tumbuhnya kesadaran bahwa kajian-kajian kebudayaan memerlukan landasan historisitas untuk meneguhkan eksistensi dirinya. Terdapat kecenderungan ahistoris dalam ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Peter Burke dalam buku Sejarah dan Teori Sosial (2003) menyebutnya sebagai a dialogue of the deaf ‘dialog si tuli’. Masing-masing bidang ilmu masih berkutat dengan disiplinnya sendiri dan tidak mencoba melakukan re-approachment ‘saling mendekat’ dengan disiplin yang lain. Tentu saja hal ini seyogyanya menjadi keprihatinan bersama untuk mencari jalan demi berlangsungnya dialog kreatif yang saling memperkaya disiplin ilmu masing-masing.

Salah satu buku yang dianggap “babon” tentang sejarah seni di Indonesia adalah karya Claire Holt Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia (2000). Buku tersebut merangkum perjalanan seni di Indonesia sejak masa prasejarah hingga datangnya aras modern. Masih ada beberapa literatur lain yang sayangnya menempatkan sejarah kesenian dalam topik-topik yang terbatas.

Buku ini terdiri atas lima bagian: Panggung Sandiwara (bagian pertama), Budaya Lokal (bagian kedua), Di Sekitar Kita (bagian ketiga), Jangan Dilupakan (bagian keempat), dan Pancaran Layar Putih (bagian kelima). Bagian pertama menceritakan pelakon sandiwara Sunda legendaris asal Sumedang, Miss Tjitjih. Hingga sekarang kiprahnya di bidang seni masih dikenangkan orang. Adapula cerita mengenai keadaan panggung sandiwara pada masa Jepang yang dipenuhi nafas fasisme. Kebanyakan lakon-lakon sandiwara ketika itu penuh dengan aroma kekejaman Belanda, kepahlawanan Jepang, dan pesan-pesan propaganda untuk mengajak rakyat terlibat dengan program Pemerintah Pendudukan. Sendenbu Seksi Propaganda memegang peranan yang penting dalam hal ini. Bagian kedua mencatat perkembangan beberapa seni tradisi mulai dari seni rengkong, kuda renggong, obrog, sintren, hingga tari cekeruhan yang terus terlibat dalam pergulatan antara tradisionalitas dan modernitas. Bagian ketiga, menginformasikan pelbagai fenomena yang ada di masyarakat mulai dari panjat pinang, balada topeng monyet sampai batik Jawa hokokai yang dipengaruhi Jepang. Bagian keempat membahas potret seniman dan sastrawan Sunda, yaitu komikus Tatang S.; tokoh perempuan asal Garut R.A. Lasminingrat; dan aktris layar putih kelahiran Cirebon, Miss Roekiah, yang dapat dikatakan perempuan selebriti pertama di Indonesia. Bagian kelima mendeskripsikan perkembangan perfilman di Indonesia sejak tahun 1929 dan terus menyebar di tahun 1930 ke berbagai penjuru tanah air dengan hadirnya film-bitjara (talking picture). Selain itu ditulis pula kesuksesan perusahaan film Java Industrial Film Company dalam memproduksi film di Nusantara. Peranan elit pribumi dalam mengembangkan industri film patut dicatat. Bupati Bandung Wiranatakusumah V yang dikenal sebagai pecinta budaya Sunda mensponsori produksi film pribumi pertama tahun 1926, yakni Loetoeng Kasaroeng.

Buku yang ditulis sejarawan muda Fandy Hutari merupakan kumpulan artikelnya di berbagai surat kabar lokal Jawa Barat dan nasional. Dengan sifatnya yang fragmentaris itu sudah barang tentu kita tidak dapat mengharapkan adanya kedalaman dari tulisan-tulisannya. Masing-masing topik ditulis dalam waktu yang berbeda. Dengan bahasa yang populer, penulis mencoba menginformasikan pada khalayak pembaca yang lebih luas. Membaca buku ini, pembaca akan mengenangkan perjalanan seni dan tradisi di Jawa Barat. Tentu saja tidak hanya sebatas menjejaki masa lalu, tetapi juga menangkap inspirasi untuk menulis tema serupa yang masih terbuka untuk meneliti dan menuliskannya. Dengan demikian kita akan memiliki informasi mengenai sejarah seni di Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya, yang lebih lengkap

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tari Topeng Cirebon Abad XV - XX

Oleh: Lasmiyati

Abstrak
Sunan Gunung Jati selain sebagai kepala nagari Cirebon, ia juga salah satu wali sanga yang mempunyai tugas menyebarkan agama Islam. Tantangan dan hambatan sebagai wali ia temui, diantaranya menghadapi Pangeran Welang. Pangeran Welang memiliki kesaktian, karena mempunyai pusaka Curug Sewu. Ia ingin mengalahkan Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati menanggapinya tidak dengan kekerasan, melainkan membentuk kelompok kesenian dan mengadakan pertunjukan keliling kampung. Dalam kelompok kesenian tersebut menampilkan Nyi Mas Gandasari sebagai penari yang memakai penutup muka (kedok). Pangeran Welang terpikat dengan penampilan Nyi Mas Gandasari, ia pun meminangnya untuk dijadikan isteri. Nyi Mas Gandasari menerima pinangan tersebut dengan syarat dipinang dengan pusaka Curug Sewu. Pangeran Welang menyanggupi syarat tersebut yang akhirnya kesaktian Pangeran Welang pun hilang. Ia menyerah kepada Sunan Gunung Jati dan masuk Islam. Selanjutnya tari topeng di samping digunakan untuk menyebarkan agama Islam juga merupakan kesenian khas istana, dan menjadi sarana hiburan yang disukai masyarakat. Setelah Belanda menduduki Cirebon, seniman topeng merasa tidak nyaman tinggal di lingkungan keraton, karena Belanda telah ikut mencampuri urusan keraton. Mereka keluar dari istana dan menyebar ke Kabupaten Cirebon, diantaranya Gegesik, Palimanan, Losari. Penelitian ini untuk mengetahui sejarah pertumbuhan dan perkembangan tari topeng. Metode yang digunakan metode sejarah. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tari topeng sudah ada sejak Sunan Gunung Jati sebagai kepala nagari Cirebon. Tari topeng dijadikan sebagai media dakwah dan persebaran ke Gegesik, Palimanan, dan Losari mempunyai karakter yang berbeda dengan pakem yang sama.

Kata kunci : Tari topeng, Cirebon.

Abstract
Tari Topeng (mask dance) is a kind of folk performing art vastly known in Cirebon. The dance was a court art during the rule of Sunan Gunung Jati, functioning as a means to spread Islam. It spread outside the court when the artists left the court following the Dutch arrival in Cirebon who made the court split into three: Kasepuhan, Kanoman, and Kacirebonan. The Dutch interference in almost everything in the court made them unpleasant. They eventually left the court and spread to Kabupaten Cirebon. The aims of this research is to get knowledge of the history and development of tari topeng using history method. The result is that this dance has been existing since the time of Sunan Gunung Jati and served as a means to spread Islam. Then it spread to Gegesik, Palimanan and Losari following the arrival of the Dutch.

Keywords: tari topeng, Cirebon

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011 

Toponimi di Kabupaten Cirebon

Oleh: Hermana

Abstrak
Datangnya Ajaran Islam ke daerah Cirebon yang dibawa oleh para ulama yang berpusat di daerah Muara Jati. Raden Walang sungsang yang diperintahkan oleh Syekh Dathul Kafhi untuk membuka lahan di sekitar Lemah Wungkuk sekarang dikenal sebagai daerah Tegal Alang-alang, untuk menyebarkan Ajaran Islam ke daerah selatan Cirebon, pada saat itu masih termasuk ke dalam kekuasan Galuh Pajajaran. Penamaan Tegal Alang-Alang tidak terlepas dari kondisi tempat pada saat itu, yang banyak ditumbuhi sejenis rumput alang-alang. Perkembangan agama Islam sangat pesat setelah Syekh Syarif Hidayatullah memegang tampuk kekuasan di Kerajaan Cirebon. Perkembangan ini bukan hanya kekuasaan secara politik, tetapi juga secara sosial budaya. Untuk menunjang ekspansi kekuasaan perlu adanya daerah-daerah yang dikuasai. Pembukaan lahan untuk pemukiman penduduk perlu adanya nama tempat untuk daerah tersebut. Penamaan suatu daerah tidak terlepas dari sejarah budaya daerah tersebut. Asal-usul nama tempat di Kabupaten Cirebon tidak terlepas dari peran Pangeran Cakrabuana dan Syekh Syarif Hidayatullah. Panamaan satu tempat banyak yang berasal dari petatah petitih yang diucapkan oleh Pangeran Cakrabuana dan Syekh Syarif Hidayatulllah. Nama-nama tempat tersebut bisa terjadi hasil pekerjaan orang, perasaan orang, keadaan alam, sejenis nama pohon atau pun nama-nama benda yang ada pada saat daerah tersebut ditemukan.

Kata kunci: Asal-usul nama tempat, Cirebon.

Abstract
When Syekh Syarif Hidayatullah came into throne the spread of Islam in Cirebon was developing very rapidly, either politically or socio-culturally. Politically, the sultanate expanded its power to other regions and conquered them, resulting the need to open many lands for habitation. The new conquered lands needed new names and the names which were applied to them were closely related to the cultural history of the lands themselves. It was Pangeran (Prince) Cakrabuana and Syekh Syarif Hidayatullah who named the lands, based on their sayings as well as topograhic or morphological condition of each lands.

Keywords: Toponimy, Cirebon.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Popular Posts