WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Upacara Ngalungsur Pusaka di Kabupaten Garut

Oleh: Dra. Ria Andayani S.

Abstrak
Upacara Ngalungsur Pusaka merupakan suatu tradisi yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh komunitas juru kunci di makam keramat godog. Upacara tersebut menggambarkan prosesi penurunan dan pencucian benda-benda pusaka tinggalan Sunan Rohmat Suci. Pusaka tersebut merupakan simbol sepak terjang dan perilaku dia semasa hidupnya dalam memperjuangkan agama Islam. Melalui upacara tersebut, diharapkan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanannya tersosialisasikan kepada masyarakat sehingga mereka dapat memaknainya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Perlawanan Ulama dan Santri Banten Terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda Tahun 1888

Oleh: Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Memasuki permulaan abad 19, gerakan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda banyak didominasi oleh kalangan santri dan ulama. Hal ini dapat dipahami, karena pada saat telah terjadi pertentangan antar bangsawan Kerajaan Banten yang bermotifkan perebutan kekuasaan. Dalam situasi krisis kepercayaan terhadap para bangsawan, ajakan para santri atau ulama untuk melawan kaum penjajah dengan cepat mendapat sambutan baik dari rakyat Banten. Perlawanan rakyat Banten dibawah pimpinan seorang ulama karismatik K.H. Wasyid yang terjadi para tahun 1888 di daerah Cilegon, walaupun bersifat sporadis mendapat dukungan sangat besar dari kalangan rakyat Banten.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Pengrajin Senapan Angin di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang

Oleh: Drs. Yudi Putu Satriadi

Abstrak
Desa Cipacing Kabupaten Sumedang sejak jaman Belanda terkenal sebagai daerah tempat perbaikan dan pembuatan senapan angin. Tidak mengherankan jika pada dekade tahun 180-an daerah ini mendapat predikat sebagai sntra industri senapan angin Cipacing. Intuisi yang tinggi dalam meniru kerajinan buatan dalam dan luar negeri menyebabkan pesanan aneka kerajinan mengalir cukup deras ke Cipacing. Dengan demikian kehidupan ekonomi para pengrajin relatif lebih baik dari sebelumnya dan Cipacing hingga kini terkenal sebagai desa/daerah penghasil aneka kerajinan dan Cipacing bukan hanya terkenal di dalam negeri bahkan ke mancanegara.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Peranan Perempuan di Kampung Nelayan (Studi Kasus Tentang Peranan dan Fungsi Istri Nelayan di Pangandaran Kabupaten Ciamis)

Oleh: Dra. Enden Irma Rachmawaty

Abstrak
Peranan perempuan dalam keluarga sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh latar belakang sosial budaya dan ekonomi keluarga yang bersangkutan, serta kondisi geografis dimana keluarga tersebut berada. Kondisi keluarga tidak mampu merupakan salah satu faktor yang relatif berperan serta mendorong terjadinya peran ganda ibu rumah tangga. Kebanyakan ibu rumah tangga yang bekerja disebabkan oleh karena faktor ekonomi, yaitu penghasilan suami relatif tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Sistem Pengobatan Tradisional Terhadap Penderita Ketergantungan Narkoba

Oleh: Drs. Aam Masduki

Abstrak
Di Pondok Pesantren Suryalaya, proses penyembuhan penderita ketergantungan narkoba dengan menggunakan metode inabah – mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang Allah kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah – menunjukkan hasil yang memuaskan. Sejak 1981-1989 masa uji coba ternyata 93,1 persen dari jumlah anak bina 5.845 berhasil dikembalikan kepada perilaku semula.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Ratusan Seni Tradisional Jabar Diambang Kepunahan

Bandung, Radar Online - Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPNST) Bandung Toto Sucipto kepada sejumlah media di Bandung kemarin mengatakan, 100 jenis kesenian yang ada di Jawa Barat kondisinya saat ini berada diambang kepunahan. Bahkan, 400 jenis kesenian sudah benar-benar punah. Punah di sini dalam arti pelaku seninya sudah tidak ada,” ujar Toto.

Toto mengungkapkan, di antara ratusan jenis kesenian tradisional yang telah punah tersebut yakni wayang garing yang terdapat di Provinsi Banten, lantaran tidak ada generasi penerus yang mewarisi kesenian tersebut.

“Saat kami melakukan pendokumentasian wayang garing pada tahun 2006, dalangnya masih ada. Setahun kemudian, kami melakukan pendokumentasian kembali ternyata dalangnya sudah meninggal dunia, tetapi anak cucunya tidak ada yang mewarisi.Jadi,kesenian khas Banten ini bisa dikatakan sudah punah,” ujarnya.

Toto mengaku hingga kini belum didapatkan data terbaru mengenai jumlah kesenian yang benar-benar sudah punah, di ambang kepunahan,dan kesenian yang masih hidup.Banyak pihak yang menanyakan hal ini kepada kami.

“Ini menjadi satu dorongan positif bagi BPNST Bandung untuk melakukan update data. Pihaknya melakukan pendokumentasian termasuk perekaman produk budaya sebanyak lima kali dalam satu tahun,” kata Toto.

Upaya tersebut, tandas Toto, juga dilakukan pula untuk jenis produk budaya lainnya seperti nilai sejarah dan perfilman, termasuk budaya kontemporer juga akan melakukan pendokumentasian untuk kesenian kuda renggong,” ujarnya. ( Iwan Permana)

Sumber: http://www.radaronline.co.id

Sejarah Perjuangan Kuningan Terancam Terlupakan

KUNINGAN, (PRLM).- Sejarah mengenai peran penting perjuangan rakyat Kuningan, bisa terancam terlupakan apabila tidak tercatat dalam memori, jiwa dan semangat generasi penerus Kuningan sehingga akibatnya hilang kebanggaan dan roh heroisme perjuangan para leluhur Kuningan.

Sejarah menjadi faktor yang penting dalam menggelorakan setiap potensi masyarakat di daerah-daerah sebagai modal sosial pembangunan. Kesadaran yang diikat oleh rasa sosio-kultural yang sama, memunculkan solidaritas sosial yang mendorong partisipasi intensif segenap komponen masyarakat menjadi salah satu penentu seksesnya pembangunan di daerah. Fenomena putra daerah yang muncul di ranah politik merupakan bagian dari tumbuhnya sentimen sosial dengan latar kultural.

Demikian, salah satu hal yang mengemuka pada seminar sejarah “Menggali Nilai-nilai Kepahlawanan Tokoh-tokoh Kuningan” yang diselenggarakan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, yang diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan tokoh masyarakat, generasi muda, LSM, guru sejarah, mahasiswa, siswa SMTP/A serta sejarahwan se Kab.Kuningan, berlangsung di Aula Bappeda Kuningan, Selasa (26/7).

Bupati Kuningan H.Aang Hamid Suganda saat membuka secara resmi seminar yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya, Uus Rusnandar, menegaskan, dalam buku perjuangan rakyat Kuningan masa revolusi kemerdekaan (2006) yang disusun DHC Angkatan 45, tergambar bahwa perjuangan masyarakat Kuningan begitu gigih dalam merebut dan mempertahankan serta mengisi kemerdekaan yang ditunjukkan putra-putra terbaik Kuningan.

Namun, seiring perkembangan zaman, ada rasa khawatir apabila bukti sejarah mengenai peran penting perjuangan rakyat Kuningan itu tidak tercatat dalam memori, jiwa dan semangat generasi penerus bahkan bisa berakibat hilangnya kebanggaan dan ruh heroisme perjuangan leluhur Kuningan.

“Oleh karena itu, saya menaruh apresiasi yang mendalam dilaksanakannya seminar sejarah untuk membangun watak dan sikap bangsa dengan menggali nilai-nilai kepahlawanan tokoh-tokoh Kuningan sehingga tertanam jiwa patriotisme generasi penerus,” paparnya.

Dalam seminar tersebut, menampilkan nara sumber Prof.Dr.Hj. Nina Herlina Lubis, MS dengan topik mencari tokoh pahlawan nasional, topik peranan tokoh Kuningan dari masa pergerakan hingga revolusi kemerdekaan oleh DR.H.Mumuh Muhsin, Kepemimpinan tokoh Kuningan sebagai teladan oleh Dodo Suwondo serta kesaksian dan pengalaman masa revolusi disampaikan Letkol (Purn) Soepardi.

Kuningan pun, pernah mengajukan tokoh pejuangnya bernama Kiyai Hasan Maolani yang telah melakukan gerakan sosial dari Desa Lengkong Kec.Garawangi (1779-1874) untuk menjadi pahlawan nasional. Namun, ketokohan KH Hasan Maolani yang lebih dikenal dengan sebutan “Eyang Menado” karena diasingkan dan meninggal di Menado (Sulawesi Utara), sudah diusulkan sebanyak dua kali tahun 2007 dan 2008, tapi ditolak karena bukti-bukti historis tentang perjuangannya dianggap kurang memadai. “Padahal masyarakat Kuningan sangat mengharapkan agar KH Hasan Maolani sebagai pahlawan nasional,” tutur seorang peserta seminar. (A-164/A-88)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com

Popular Posts