WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Pasanggiri Gotong Singa Sedot Perhatian Ribuan Warga Subang

Pasanggiri Gotong Singa yang terselenggara berkat kerjasama Lembaga Adat Karatwan Galuh Pakuan dengan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud berhasil menyedot perhatian ribuan warga Subang. Pasanggiri itu diikuti delapan grup sisingaan unggulan di kabupaten Subang dan bertempat di halaman Wisma Karya, Sabtu (12/08/2017).

Kasubdit Program, Evaluasi dan Dokumentasi, Kemdikbud, Kuat Prihatin, mewakili Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, sangat bangga terhadap antusias para seniman.

“Terima kasih kepada LAK Galuh Pakuan, saya fikir dengan melihat acara ini, pelestarian budaya di Subang tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” ujar Kuat.

Dirinya mengaku baru pertama kali naik di atas Sisingaan.

“Saya mengenal sisingaan, tapi saya yakin Subang sebagai pionir. Jujur, saya pengalaman pertama naik sisingaan. Deg deg degan juga, tapi pengalaman yang luar biasa.

Ini kesenian rakyat yang sangat digemari dan Memiliki falsafah yang kuat, bagaimana singa yang kuat bisa dinaiki,” imbuhnya.

Jumhari SS, selaku Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat, mengpresiasi setinggi-tingginya kepada LAK Galuh Pakuan. “semoga kegiatan ini bisa terus menerus dilaksanakan,” tuturnya.

Kadisdik Kabupaten Subang Suwarna Murdiaz, mengatakan kegiatan ini diharapkan menjadi rutin, sebagai upaya melestarikan, seni budaya Subang. “kita akan patenkan, supaya tidak ditiru daerah lain. Di daerah lain sudah terakumulasi dengan mamanukan,” ucapnya.

Budi Setiadi, yang hadir selaku Resi Agung LAK Galuh Pakuan menyatakan melalui kegiatan ini upaya pelestarian budaya dan menjaga keindonesiaan kita.

Dalam Pasanggiri Gotong Singa tersebut, tampil sebagai juara 1 grup sisingaan Tresnawangi 1 disusul Setiawargi 8 sebagai juara 2 dan Tresnawangi 2 juara 3. Penyerahan hadiah secara simbolis dilakukan olah Rahyang Mandalajati Galuh Pakuan Evi Silviadi, Ketua MPC Pemuda Pancasila Endang Kosasih, dan Ketua DPD KNPI Subang Jaka Arizona.

Emma Poeradiredja, Anggota DPR (1971-1976) yang Tidak Pernah Bolos

Banyak tokoh Sumpah Pemuda 1928 yang pastinya belum banyak dikenal oleh generasi muda kita. Salah satunya bernama Emma Poeradiredja. Ia merupakan perempuan pejuang dari Jawa Barat. Adiknya, Adil Poeradiredja, pernah menjadi Perdana Menteri Negara Pasundan.

Untuk mengenal lebih jauh tentang tokoh ini, Museum Sumpah Pemuda menyelenggarakan diskusi pada Senin, 20 Maret 2017. Dua pembicara yang dihadirkan adalah Lasmiyati, dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat dan Amarawati Poeradiredja Soesmono, anak angkat Emma Poeradiredja.

Berbagai organisasi

Emma, dengan nama asli Raden Rachmat’ulhadiah Poeradiredja, lahir pada 13 Agustus 1902. Ia mengenyam pendidikan di HIS (1910-1917). Setelah tamat ia melanjutkan ke MULO. Selepas MULO, Emma mengikuti ujian dinas di SSVS (Staatsspoor Wegen Vereenigde Spoorwegen). Lulusan SSVS ini sejajar dengan HBS atau AMS. Pada 1921 Emma diterima menjadi pegawai di Staatsspoor atau Djawatan Kereta Api. Ia pensiun pada 1958.

Emma juga mengikuti berbagai organisasi. Ia aktif di Kepanduan Putri. Juga di Jong Islamietend Bond cabang Bandung (1925-1940). Pada 1926, ia aktif dalam Kongres Pemuda I di Jakarta. Setahun kemudian ia aktif di organisasi kewanitaan dengan mendirikan Dameskring. Namanya semakin dikenal ketika pada 1928 ia aktif pada Kongres Pemuda II, bahkan ikut menghadiri Kongres Perempuan Indonesia I. Pada 1929 ia mengikuti lagi Kongres Perempuan II di Jakarta.

Mulai 1930 ia aktif di organisasi Pasundan Bagian Istri. Selanjutnya karena masih berada dalam naungan Paguyuban Pasundan, Emma mengusulkan agar Pasundan Bagian Istri terpisah dari Paguyuban Pasundan. Akhirnya berdasarkan konferensi pada 27 Juni 1931 Paguyuban Bagian Istri diubah menjadi Pasundan Istri (PASI). Emma Poeradiredja ditetapkan sebagai ketua.

Namun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), PASI dibubarkan. Kemudian Emma masuk dalam barisan Fujinkai, bentukan Jepang. Anggota Fujinkaidipandang merupakan barisan istimewa yang disebut Barisan Srikandi.

Karena itu setelah Proklamasi 1945 Emma ikut mendaftarkan diri menjadi BKR (Badan Keamanan Rakyat). Bahkan ia juga tergabung ke dalam BPKKP (Badan Penolong Keluarga Korban Perang).

Selanjutnya Emma menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (1959-1965), Sekber Golkar (1965), dan anggota DPR-RI mewakili Fraksi Karya Pembangunan (1971-1976).

Jujur

Menurut Amarawati, Emma pernah menjadi anggota palang merah. Ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, Emma turun membantu para korban. “Ibu Emma adalah orang yang tulus. Apa yang dia kerjakan, akan dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak pernah mengeluh. Jika ada kesulitan, ia hadapi dengan penyelesaian yang baik dengan cara-cara sederhana. Ia tidak pernah meminta tolong, apalagi soal keuangan,” begitu cerita Amarawati.

Masalah kedisiplinan Emma Poeradiredja juga diungkapkan Amarawati. Ketika itu, 1976, Emma sudah menjadi anggota DPR. Suatu hari Emma menderita sakit cukup berat. Karena mempunyai Askes DPR di RS Hasan Sadikin, Emma tidak mau dibawa ke RS Boromeus. Padahal obat-obatan yang dibutuhkan hanya ada di RS Boromeus.

Menjelang meninggal pada 19 April 1976, Emma memanggil Amarawati untuk membayar utang di Bank Wanita, yaitu utang untuk bekal perjalanan ke Singapura. “Ibu Emma menunjukkan uangnya yang disimpan di lemari,” kata Amarawati. Begitu juga, lanjut Amarawati, utang kepada Ibu Adam Malik untuk pembelian gelang dan utang kepada Ibu Ibnu Saleh untuk pembelian kain batik.

Kata Amarawati banyak pelajaran yang bisa dipetik dari didikan beliau, yaitu jujur, disiplin, amanah, menolong orang dengan ikhlas, mandiri, bertanggung jawab, dan santun.

Sebagai anggota DPR, Amarawati menambahkan, Emma tidak pernah bolos. “Saya harus kerja sungguh-sungguh sebagai wakil rakyat karena gaji saya dibayar oleh uang rakyat,” begitu kata Amarawati menirukan ucapan Emma.***

206 Pramuka Ikuti Kemah Budaya 2017

BANDAR LAMPUNG – Kemendikbud RI melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) menyelenggarakan Kemah Budaya Daerah, pada 25-27 Agustus 2017 di komplek Kwartir Daerah Pramuka Lampung.

Kemah Budaya ini mengambil tema “Mewujudkan Generasi Muda Yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkarakter.” Adapaun peserta kegiatan berjumlah 206 Pramuka Penegak Se-Daerah Lampung.

Kepala BPNB, Kak Jumhari membuka secara resmi kemah budaya. Dalam sambutannya, dia mengatakan saka Widya Budaya Bakti adalah Satuan Karya Pramuka terbaru dalam Gerakan Pramuka, sehingganya perlu dibina dan dikembangkan.

“Kemah Budaya di Lampung ini adalah kegiatan pertama dan percontohan yang dilaksanakan dari 4 wilayah kerja BPNB yang berkantor di Kota Bandung Jawa Barat,” ujarnya

Kak Zainuri Agung, ketua harian kwarda Lampung, menyambut baik kegiatan ini dan berharap agar peserta kegiatan dapat menjadi generasi emas.

“Peserta kegiatan ini adalah generasi yang kelak menjadi pemimpin dimasa yang akan datang, sehingga perlu dibangun pribadi yang berkarakter dan berbudi pekerti melalui kecintaan terhadap nilai-nilai keragaman budaya,” ujar kak Zainuri ( Maman Pusinfoda/RAP)

Isi Dan Kelengkapan Rumah Tangga Tradisional Daerah Riau

JudulIsi Dan Kelengkapan Rumah Tangga Tradisional Daerah Riau
Pengarang/EditorAmrin Sabrun, O.K. Nizami Jamil, Tenas Effendi, Seniman, Ediruslan Pe Amanriza
PenerbitProyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1986
Tebal        ix + 146  halaman
Desain Sampul

Dapur Dan Alat-Alat Memasak Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta

JudulDapur Dan Alat-Alat Memasak Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengarang/EditorSumintarsih, H.J. Wibowo, Isni Herawati, Ilmi Albiladiyah
PenerbitProyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1990 - 1991
Tebal        xxi + 205 halaman
Desain Sampul

Peralatan Produksi Tradisional Dan Perkembangannya Di Daerah Jawa Timur

JudulPeralatan Produksi Tradisional Dan Perkembangannya Di  DaerahJawa Timur
Pengarang/EditorSoetjipto, Bandi, Soeharto, Sri Saadah Herutomo
PenerbitProyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1989 - 1990
Tebal        xii+ 147 halaman
Desain SampulLestari

Isi Dan Kelengkapan Rumah Tangga Tradisional Daerah Nusa Tenggara Timur

JudulIsi Dan Kelengkapan Rumah Tangga Tradisional Daerah Nusa Tenggara Timur
Pengarang/EditorB.K Kotten, Beny Tukan, Frans Latif, Yoseph Hayon, Domi D. Kotten
PenerbitProyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1986
Tebal      ix + 253 halaman
Desain SampulLestari

Isi Dan Kelengkapan Rumah Tangga Tradisional Menurut Tujuan, Fungsi Dan Kegunaaan Daerah Jambi

JudulIsi Dan Kelengkapan Rumah Tangga Tradisional Menurut Tujuan, Fungsi Dan Kegunaan Daerah Jambi
Pengarang/EditorIzarwisma Mardanas, Hilderia Sitanggang
PenerbitProyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1990
Tebal      x + 204 halaman
Desain SampulLestari

Dinamika Usaha Kerajinan Kain Besurek Di Bengkulu Tahun 1980-2000

JudulDinamika Usaha Kerajinan Kain Besurek Di Bengkulu Tahun 1980-2000
PengarangSiti Rohanah, Ajisman
PenerbitBalai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Padang
Cetakan2005
Tebal                           ix + 85 halaman

     ri

Sejarah Seni Rupa Sumatera Utara "Kajian Kehidupan Seni Rupa Di Medan Tahun 1945 - 2005"

JudulSejarah Seni Rupa Sumatera Utara "Kajian Kehidupan Seni Rupa Di Medan Tahun 1945 - 2005"
PengarangAmran Eko Prawoto, Sri Hartini, Mulyono
PenerbitBalai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Cetakan2007
Tebalvi+ 104 halaman
Desain SampulLizar Andrian

Workshop dan Festival Komunitas Adat, Bandung 2009












Ajang Seni Laga Gotong Sisingaan Sebagai Pelestarian Seni Tradisi Subang

Untuk melestarikan kesenian tradisional sisingaan LAK Galuh Pakuan menggelar seni laga Gotong Sisingaan, yang di ikuti sejumlah grup sisingaan unggulan di Wisma Karya Subang. Sabtu (12/8).

Event seni laga singa ini mengundang ribuan warga Subang yang hadir ke lokasi. Dimana banyak warga yang membawa purta-putrinya untuk melihat unjuk kebolehan dari peserta lomba.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kasubdit Program, Evaluasi dan Dokumentasi Kemendikbud Kuat prihatin, Kadis pendidikan dan kebudayaan Subang Suwarna, Ketua MPC Pemuda Pancasila Endang Kosasih, BPNB Provinsi Jawa Barat Jumhari dan ketua KNPI Subang Jaka Arizona.

Kuat prihatin yang mewakili Dirjen Kebudayaan mengatakan dalam sambutannya, sangat bangga terhadap Seniman di Subang yang begitu antusias untuk melestarikan tradisi yang sudah menjadi ciri khas Subang yaitu Sisingaan.

Beliau juga mengucapkan banyak terima kasih pada LAK Galuh Pakuan yang turut mesuport para Seniman Subang untuk berinovasi dalam Seni Tradisinya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang Suwarna mengatakan “akan kita patenkan Seni Gotong Sisingaan ini, supaya tidak di tiru oleh daerah lain. dimana daerah lain sudah terakumulasi dengan seni mamanukan.” tegasnya.

Peserta begitu antusias dan semangat dalam berkreasi di hadapan para juri. dimana setelah para peserta tampil sembari pulang, mereka pun unjuk kebolehan dengan mengitari jalan Protokol arah Alun-alun menuju Jl. Otista.

Dalam seni laga Gotong Sisingaan tersebut, tampil sebagai juara 1 grup sisingaan Tresnawangi 1, juara ke 2 grup setiawargi 8, dan juara 3 grup Tresnawangi 2. para pemenang lomba selain membawa piagam dan mendapatkan uang pembinaan dari panitia lomba. (rama)

Peralatan Produksi Tradisional Dan Perkembangannya Daerah Lampung

Judul
Peralatan Produksi Tradisional Dan Perkembangannya Daerah Lampung
PengarangMuhidin Sirat, Miraya Z, Budiono, Budhiono
PenerbitProyek Penenlitian Pengkajian Dan Pembinaa Nilai-nilai Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1993
Tebalxii+ 172 halaman
Desain SampulLestari

Apresiasi Generasi Muda Terhadap Lagu-Lagu Perjuangan

JudulApresiasi Generasi Muda Terhadap Lagu-Lagu Perjuangan
PengarangSri Retna Astuti, Yustina HN, Tugas Tri W, Suwarno
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta
Cetakan2013
TebalVIII +129 halaman
Desain Sampul

Kerajinan Tenun Daerah Riau

JudulKerajinan Tenun Daerah Riau
PengarangNurhamidahwati, Nourma Dewi, Nefi Triyenti, Elendazeri, Sri Murni SY, Kamini.
PenerbitDepartemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Riau.
CetakanPertama, 1998
TebalVI + 25 halaman
Desain Sampul

Lestarikan Kesenian Khas Subang, LAK Galuh Pakuan Gelar Pasanggiri Gotong Singa

SUBANG – LAK Galuh Pakuan menggelar sebuah event kebudayaan yaitu Pasanggiri Gotong Singa dengan menghadirkan delapan grup sisingaan unggulan kabupaten Subang di Wisama Karya, Sabtu (12/8/2017).

Grup sisingaan yang ikut dalam kegiatan tersebut unjuk kebolehan dihadapan ribuan masyarakat Subang yang hadir, serta dihadapan tim penilai.

Terlihat hadir dalam kegiatan tersebut Kasubdit Program, Evaluasi dan Dokumentasi Kemdikbud Kuat Prihatin, yang mewakili Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat Jumhari SS, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Suwarna, Rahyang Mandalajati Galuh Pakuan Evi Silviadi, Ketua MPC Pemuda Pancasila Endang Kosasih, dan Ketua DPD KNPI Subang Jaka Arizona.

Dalam sambutannya Kasubdit Program, Evaluasi dan Dokumentasi Kemdikbud Kuat Prihatin mengatakan, sangat bangga terhadap antusias para seniman di Kabupaten Subang dalam melestarikan tradisi yang menjadi ciri khas Subang yaitu gotong singa.

“Terima kasih kepada LAK Galuh Pakuan, saya fikir dengan melihat acara ini, pelestarian budaya di Subang tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” kata Kuat Prihatin.

Menurut Kuat Prihatin, sisingaan adalah kesenian rakyat yang sangat digemari dan memiliki falsafah yang kuat, bagaimana singa yang kuat bisa dinaiki.

“Saya yakin Subang sebagai pionir dari kesenian ini. Jujur, saya pengalaman pertama naik sisingaan. Deg deg degan juga, tapi pengalaman yang luar biasa,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang Suwarna mengatakan kegiatan ini diharapkan menjadi rutin, sebagai upaya melestarikan, seni budaya Subang.

“Kita akan patenkan, supaya tidak ditiru daerah lain. Di daerah lain sudah terakumulasi dengan mamanukan,” katanya.

Dalam Pasanggiri Gotong Singa tersebut, tampil sebagai juara 1 grup sisingaan Tresnawangi 1 disusul Setiawargi 8 sebagai juara 2 dan Tresnawangi 2 juara 3.

Pejabat Kemendikbud Terkesima dengan Seni Khas Subang, Sisingaan

Ratusan warga Subang tumplek di pelataran Gedung Sejarah Wisma Karya, Subang. Mereka menikmati aksi dan atraksi puluhan seniman khas Subang, Sisingaan.

Tidak hanya warga setempat yang datang. Pejabat Kemendikbu dan Balai Pelestarian Nilai Budaya Jabarpun ikut menyaksikan event yang bertajuk Festival Pasanggiri Gotong Sisisingaan yang digelar LAK Galuh Pakuan.

Kasubdit program, evaluasi dan dokumentasi, Kuat Prihatin yang hadir mewakili dirjen kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, dirinya sering sekali melihat Sisingaan semacam itu. Namun naik di Sisingaan, baru kali ini dia merasakan kesan terdalam.

"Saya sangat bangga terhadap antusias para seniman, terima kasih kepada Galuh Pakuan, pelestarian budaya di Subang tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Saya mengenal Sisingaan, tapi saya yakin Subang sebagai pionir, saya pengalaman pertama naik sisingaan, deg deg degan juga, tapi pengalaman yang luar biasa," papar Kuat Prihatin.

Geliat seniman Sisingaan, dia optimistis, keseniaan Sisingaan di Subang akan tetap eksis di masyarakat. "Ini kesenian rakyat yang sangat digemari, memiliki falsafah yang kuat, bagaimana singa yang kuat bisa dinaiki," imbuhnya

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa barat, Jumhari as mengaku kagum dengan event yang digelar sehari ini. Dia berharap, event seni tradisi terus didorong dan difestivalkan sebagai bentuk menjaga dan pelestarian. "Apresiasi setinggi-tingginya kepada Galuh Pakuan, semoga kegiatan ini bisa terus menerus dilaksanakan," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudyaan Suwarna Murdiaz kesenian Sisingaan ini harus dipatenkan. Dengan begitu, kesenian khas Subang itu tidak ditiru atau diklaim daerah lain. "Kegiatan ini diharapkan menjadi rutin, sebagai upaya melestarikan, seni budaya Subang, kita akan patenkan, supaya tidak ditiru daerah lain," katanya

Festival Pasanggiri Gotong Sisisingaan kali pertama digelar di Kabupaten Subang. LAK Galuh Pakuan mempelopori kegiatan ini. Delapan group Sisingaan yang melibatkan belasan seniman itu menunjukan aksi terbaiknya di depan Dewan Juri. Yang menarik, sebelum penjurian dilakukan, diisi dengan aksi seni tari tradisi dari anak-anak asuhan Padepokan Nay Subang.

Bi Raspi, Harapan Terakhir Ronggeng Gunung

Di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat terdapat kesenian yang terancam ditinggalkan. Kesenian khas itu ialah ronggeng gunung. Kesenian ini hanya terdapat di daerah Ciamis dan berkembang di daerah pegunungan. Kepunahan semakin ditakutkan ketika tidak ada penerus yang mau dan mampu menekuni ronggeng gunung.

Sulitnya menekuni ronggeng gunung menjadi salah satu alasan sedikitnya generasi muda yang tertarik. Tidak seperti ronggeng yang lain, ronggeng gunung hanya menampilkan seorang ronggeng. Ronggeng ini pun yang berperan sebagai penari sekaligus juru kawih (penyanyi).

Ronggeng sendiri berasal dari kata renggana yang berarti perempuan pujaan dalam bahasa Sanskerta. Dalam Ensiklopedi Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya, sebutan ronggeng hanya diberikan kepada perempuan yang bukan hanya menyanyi, tetapi juga melayani para penonton yang berminat untuk menari dengan imbalan uang.

Seni ronggeng terbagi menjadi tiga jenis jika dilihat dari asal penarinya: Ronggeng Kaler berarti penarinya berasal dari wilayah utara, Ronggeng Kidul penarinya berasal dari wilayah selatan, dan Ronggeng Gunung yang berarti penarinya berasal dari kawasan pegunungan.

Saat ini, hanya ada satu orang yang benar-benar khatam menekuni ronggeng gunung. Ialah yang disebut banyak orang sebagai sang maestro, Bi Raspi. Di usianya yang kini menginjak 65 tahun, ia masih aktif meronggeng di daerahnya untuk acara hajatan dan ritual.

Euis Thresnawaty, peneliti dari Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, mengunjungi Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, untuk menelusuri Bi Raspi dan kiprahnya sebagai ronggeng gunung. Ia pun membagi perjalanan ronggeng Bi Raspi dalam 4 fase; masa awal karir (1972-1980), masa keemasan (1980-1989), masa vakum (1990-1999), dan masa bangkit (2000-2009). Hasil penelusuran Euis ini pun ditulisnya dalam penelitian yang berjudul “Raspi, Sang Maestro Ronggeng Gunung”.

Euis menceritakan, “Bi Raspi menekuni dunia ronggeng secara tidak sengaja.” Saat itu, Bi Raspi lari dari rumahnya ketika ia masih berumur 13 tahun, baru lulus SD. Pelariannya ini merupakan wujud pemberontakannya karena dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah dengan lelaki bukan pilihannya. Ditambah, saat itu ia masih belum siap menikah muda.

Dalam pelariannya, ia bertemu dengan dua pelatih ronggeng, mbah Maja Kabun dan Indung Darwis. “Bi Raspi menganggap Indung Darwis sebagai gegedug atau ahlinya ronggeng di (Kecamatan) Padaherang,” sebut Euis. Di sini pula ia bertemu dengan teman seangkatannya dalam ronggeng, Bi Pejoh dan Bi Atih dari Pagergunung Pangandaran.

Dalam skripsi berjudul Perjalanan Ronggeng Gunung di Ciamis oleh Yayu Yuniawati, pada tahun 1970-an tersebut keberadaan ronggeng gunung memang sangat dipuja dan dihormati di kalangan masyarakat. Ronggeng gunung diadakan di banyak acara ritual, seperti ruwatan lembur, sedekah bumi, parasan bayi, syukuran sehabis panen, mau menanam padi, dan lain-lain.

Setelah tamat berguru dari Maja Kabun dan Indung Darwis, Raspi pun “dilamar” atau istilahnya ngala ronggeng untuk tampil pertama kalinya sebagai ronggeng gunung. Sebelum tampil untuk pertama kalinya ia dimandikan di mata air keramat yang berada di Kabuyutan Kawasen. Ini merupakan titik awal bagi seorang ronggeng gunung untuk menunjukkan kemampuannya.

Tidak hanya kemampuan lahir seperti menghafal semua lagu ronggeng gunung yang rumit yang diuji. Namun juga kemampuan batin seorang ronggeng gunung yang dianggap sakral. Bagaimanapun, ronggeng gunung tidak hanya berfungsi sebagai penghibur tetapi juga merangkap sebagai sosok yang mampu meruwat. Sosok yang dianggap memiliki kemampuan supranatural.

Sejak itulah Bi Raspi menjadi ronggeng gunung yang eksis sampai sekarang. Hingga saat ini ia sudah menjalani kehidupan sebagai ronggeng gunung selama sekitar 46 tahun. Pada tahun 1970-1980-an ronggeng gunung begitu populer hingga Bi Raspi selalu merasa kewalahan memenuhi panggilan pentas. Ia hanya punya waktu istirahat 3 sampai 7 hari dalam sebulan.

Namun, popularitas itu tidak bertahan lama. Memasuki era 90-an, ronggeng gunung mulai tenggelam di tengah kehidupan modern. Dibanding mengundang kesenian tradisi, banyak orang lebih memilih mengundang pemain organ tunggal untuk bermain di satu acara.

Keadaan ini pun membuat Bi Raspi mencoba melakukan regenerasi ronggeng gunung. Namun, yang terjadi malah tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kurangnya minat generasi muda untuk mempelajari seni ronggeng gunung menjadi hambatan. “Jangankan mengajar orang lain, anaknya sendiri pun belajarnya kurang serius,” jelas Euis ketika memaparkan keadaan regenerasi ronggeng gunung saat ini.

Neni Nurhayati, putrinya sendiri, memang belum mampu maksimal seperti dirinya yang berperan sebagai penari dan juru tembang. Nani baru berani tampil sebagai ronggeng gunung apabila didampingi oleh ibunya.

Upaya regenerasi ini pun tidak didukung pemerintah sepenuhnya. “Masih ada perlakuan diskriminatif, mengistimewakan kesenian tradisional yang satu dan menganaktirikan kesenian tradisional lainnya,” keluh Euis. Hal seperti ini pun tidak hanya dilakukan pemerintah tetapi juga masyarakat secara individu.

Apa yang terjadi malah ironis. Pemerintah Kabupaten Ciamis dan Pemerintah Kabupaten Pangandaran malah saling berebut klaim atas kepemilikan seni ronggeng gunung ini. Bi Raspi sendiri prihatin melihat ini. Menurutnya, pihak pemerintah tidak perlu terjebak oleh asal muasal ronggeng gunung. Seharusnya yang dilakukan adalah kedua belah pihak sepakat untuk melestarikan seni budaya warisan Kerajaan Galuh ini.

Memang, pihak pemerintah sudah memberi ruang agar kesenian tersebut tetap hidup dan berkembang. Misalnya, dengan melibatkannya pada acara sosialisasi suatu program pemerintah atau tampil pada acara syukuran. Namun, langkah tersebut belum terbukti efektif menyentuh akar permasalahan dari terancam punahnya kesenian ronggeng gunung.

Euis beranggapan, “Yang lebih penting lagi, perlu adanya pendokumentasian tentang gending dari tari ronggeng yaitu dengan cara dinotasikan secara lengkap kemudian dibukukan sebelum benar-benar punah.” (ded/ded)

Kabupaten Karawang Masa Pelita I

Oleh Heru Erwantoro

Abstrak
Program Pembangunan Jangka Panjang (25 tahun) dicanangkan oleh Pemerintah Orde Baru secara bertahap. Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama (PJPT I) berlangsung tahun 1969 - 1994. Pelaksanaan program itu dibagi secara bertahap, masing-masing mencakup waktu lima tahun, sehingga tahap pembangunan itu disebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun).

Tulisan ini membicarakan, bagaimana pelaksanaan PJPT I di Kabupaten Karawang, dengan penekanan pada pelaksanaan Pelita I (1969-1974). Masalah yang dibicarakan mencakup strategi pembangunan, bidang-bidang sasaran pembangunan, dan hasil pembangunan serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Uraian kesejarahan dalam tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran, bagaimana latar belakang atau asal-usul Kabupaten Karawang, agar masyarakat daerah itu memahami jati dirinya, sekalipun pembangunan berlangsung di daerah mereka.

Kata Kunci: Kabupaten Karawang. Pembangunan. Sejarah.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008: 1359 - 1432

Bioskop Keliling BPNB Jawa Barat, Cilengkrang 2016












Popular Posts