WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Lawatan Sejarah ke Bogor Bersama BPNB Jawa Barat

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat kembali menyelenggarakan Lawatan Sejarah Daerah. Tahun ini kegiatan dihelat di Bogor dengan melibatkan sebanyak 150 peserta yang terdiri dari siswa dan guru sejarah, Selasa-Kamis (21-23/3/2017).

Kepala BPNB Jawa Barat Jumhari SS mengatakan, kegiatan Lawatan Sejarah tersebut bertujuan untuk mengenalkan informasi sejarah yang baru kepada para siswa di luar text book atau buku pelajaran di sekolah.

“Belajar sejarah tak harus selalu di sekolah. Lawatan atau kunjungan lapangan ini agar siswa dapat mengapresiasi sejarah dengan lebih intensif. Lebih mengetahui, mengerti dan memahami tentang objek sejarah yang sebelumnya dipelajari di sekolah, kini memahaminya dalam konteks kenyataan di lapangan,” papar Jumhari, di sela kegiatan.

Menurut dia, Lawatan Sejarah Daerah BPNB Jawa Barat ini rutin diselenggarakan setiap tahun dan diikuti peserta dari empat provinsi yang menjadi wilayah kerja BPNB Jawa Barat. Selain Jawa Barat, wilayah kerja dimaksud mencakup DKI Jakarta, Banten dan Lampung dengan pengkajian dititikberatkan pada budaya akulturasi. Dalam waktu dekat, peserta terbaik dan terpilih akan diikutsertakan dalam kegiatan lawatan sejarah tingkat nasional.

“Di seluruh Indonesia ada 11 BPNB dengan pengkajian yang berbeda-beda. BPNB Jawa Barat yang meliputi empat wilayah kerja menitikberatkan pada pengkajian budaya akulturasi,” terang Jumhari.

Selama tiga hari melawat Bogor, ada beberapa objek wisata sejarah yang dikunjungi seluruh peserta. Pada hari pertama mereka melawat ke Kebun Raya Bogor. Di kebun botani yang dulu bernama Samida kemudian dikenal sebagai Lands Plantentuin te Buitenzorg itu, peserta menjelajah dari siang hingga menjelang petang. Mereka berjalan beriringan mengikuti langkah pemandu yang menyampaikan materi lawatan sejarah.

Ada dua objek sejarah yang dikunjungi pada hari kedua, yaitu Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti dan Museum Pembela Tanah Air (PETA). Di Balai Kirti—ruang menyimpan kemasyhuran, peserta dapat mengenal lebih dekat kiprah enam mantan Presiden Republik Indonesia mulai dari Soekarno hingga Soesilo Bambang Yudhoyono. Sementara Perkebunan Teh Gunung Mas menjadi objek yang dijelajahi pada hari ketiga sekaligus tempat acara penutupan Lawatan Sejarah ini.

Jumhari berharap, kegiatan edukatif yang digelar untuk siswa SMU dan sederajat ini mampu memotivasi dan membangun karakter pemuda dalam hal ini pelajar untuk mencintai sejarah daerah, bangsa dan negaranya. “Memang butuh waktu yang agak lama untuk membangun karakter pemuda untuk mencintai sejarah bangsanya. Tapi paling tidak, kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi para siswa untuk mencintai dan tidak melupakan sejarah daerah, bangsa dan negara,” pungkasnya. (IA)*

Tiga Siswa Smansa Ditunjuk Disdik Jabar, Wakili Kegiatan Lasenda Tahun 2017

SUKABUMI – Tiga siswa SMAN I Kota Sukabumi (Smansa) dipercaya oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat untuk mewakili Lawatan Sejarah Daerah (Lasenda) tahun 2017. Kegiatan yang diadakan setiap tahun oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) ini diadakan di Bogor dari Selasa hingga Kamis (21-23/3). Ketiga siswa yang terpilih dalam Laseda kali ini yaitu, Naufal, Shinta dan Sasmi dan didampingi oleh satu guru pembimbing yang sudah diseleksi sekolah.

“Setelah diadakan dialog kesejarahan dan mengumpulkan karya tulis kesejarahan, peserta akan mengunjungi beberapa lokasi yakni Kebun Raya Bogor, Museum Kepresidenan, Museum PETA, Katedral Santa Perawan Maria, Hotel Salak The Heritage, Jembatan Merah,” jelas Dudung yang merupakan salah satu guru pembimbing.

Menurutnya, kegiatan Laseda ini menjadi ajang positif yang bermanfaat bagi guru dan siswa. Guru dan siswa dapat bekerja sama, bersilaturahmi antar sesama guru dan siswa dari empat provinsi, diskusi kesejarahan dan mengembangkan kemampuan menulis. Manfaat lainnya terutama bagi para siswa, yaitu mendapatkan pengalaman lapangan. Pengalaman lapangan ini akan menguatkan pemahaman siswa yang biasa mendapatkan teori kesejarahan di ruang kelas.

Ke depan, Dudung berharap, siswa Smansa mampu menjadi yang terbaik dalam Laseda 2017 ini.

“Walaupun peserta lainnya sangat kompetitif dan sama-sama berasal dari sekolah-sekolah terbaik yang berjumlah 150 siswa. Begitupun guru-gurunya, adalah guru-guru pilihan dari masing-masing sekolah.

Nama baik Kota Sukabumi dalam Laseda ini menjadi taruhan, maka keseriusan Dudung dalam membimbing siswanya perlu lebih maksimal,” paparnya. (cr14/d)

Kemlu Gelar Pekan Literasi Asia Afrika 2017

Museum Konferensi Asia Afrika Bandung (MKAA) kembali menggelar acara Pekan Literasi Asia Afrika di Museum MKAA, Jl. Asia Afrika Bandung, 17-19 Maret 2017 kemarin. Pekan Literasi diisi dengan berbagai kegiatan seperti pameran literasi, bazaar buku, bedah buku dan diskusi film. Perugas pelaksana harian (Plh) Kepala Museum KAA, Meinarti Fauzie menuturkan kegiatan yang diadakan untuk ke-4 kalinya tersebut bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa.

“Acara juga sekaligus untuk mempromosikan Perpustakaan MKAA kepada masyarakat luas,” tambahnya.

Membuka Pekan Literasi, Direktur Diplomasi Publik, Kemlu, Al Busyra Basnur meminta agar kegiatan seperti ini dapat ditingkatkan frekuensinya. Kementerian Luar Negeri melalui MKAA siap bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung atau instansi terkait lain untuk mengadakan kegiatan seperti Pekan Literasi ini hingga ke tingkat kecamatan atau kelurahan.

“Kegiatan Pekan Literasi ini merupakan prakarsa untuk turut berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya generasi muda, agar menjadi penerus bangsa yang berwawasan luas,” imbuh Al Busyra.

Pekan Literasi diikuti oleh Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Ali Alatas, Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, Pusat Kebudayaan Korea, IKAPI Jawa Barat, Museum Naskah Proklamasi, Pusat Bahasa Mandarin Universitas Kristen Maranatha, Penerbit Braille Yayasan Abiyoso, dan Klab Bahasa Esperanto (Sahabat Museum KAA).

Hadir pada acara pembukaan Ketua IKAPI Jawa Barat, Konsul Jenderal Korea Selatan, wakil Pemprov Jawa Barat dan Pemkot Bandung, Sahabat Museum KAA, pelajar dan mahasiswa serta masyarakat luas. Dalam pantauan Direktorat Diplomasi Publik, hari pertama Pekan Literasi ini mendapatkan sambutan luas dari masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa. Hal ini tampak dari ramainya pengunjung booth-booth pameran yang antusias menanyakan berbagai produk/jasa yang dipamerkan. (Direktorat Diplomasi Publik)

Peran Kebudayaan Terhadap Pembangunan Daerah Lampung

Oleh : Drs. Hafiji Hasan

1.      Pengertian  Kebudayaan
Pengertian secara luas, Kebudayaan merupakan perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan  yang di hadapi dalam proses penyesuaian diri secara aktif terhadap lingkungannya.
Perwujudan tanggapan itu tercermin dalam nilai-nilai budaya, norma-norma sosial dan pandangan hidup yang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan kebudayaan itu berfungsi sebagai kerangka acuan yang menguasai sikap dan tingkah lakupara pendukungnya dalam menanggapi tantangan  dan penyesuaian diri secara aktif terhadap lingkungannya.

II.     Kebudayaan Daerah Lampung
Kebijaksanaan kebudayaan di daerah Lampung di sesuaikan dengan kondisi daerah sejalan dengan UU 14 tahun 1964, tentang pembentukan Daerah Tingkat I Lampung dengan lambing “Sang Bumi Ruwa Jurai” yang disahkan berdasarkan peraturan daerah No. 01.Perda/I/DPRD/71-72 di mana pada salah satu bagian lambing terdapat bunga skala berdaun lima, yang berarti bahwa palsafah Pi-il Pesenggiri itu bertema lima alam pikiran yaitu :
                      
                 
1.
2.

3.

4.

5.

Pi-il Pesenggir
Juluk adeg

Nemui Nyimah

Nengah Nyappur

Sakai Sambaiyan
:
:

:

:
Pi-il berarti berjiwa besar, Pesenggiri berarti harga  diri
Juluk artinya gelar sebelum kawin, dan adeg gelar setelah kawin
Nemui artinya terbuka hati untuk menerima tamu, nyimah artinya
Nengah artinya suka berkenalan, dan Nyappur artinya pandai bergaul.
Sakai artinya suka tolong menolong, Sambaiyan artinya bergotong royong

Dalam melaksanakan kebijaksanaan telah banyak dampak positif yang mengalami peningkatan dan perubahan nilai budaya yang memasyarakat. Hal itu merupakan motifasi pendukung kebudayaannya untuk bangga terhadap budaya sendiri dan memacu rasa persaudaraan dan persatuan bangsa sebagai pencerminan pembangunan yang berbudaya, dalam upaya menuju kehidupan yang bahagia dan sejahtera.

III.    Azas Pembangunan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah Lampung
Dalam upaya pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah Lampung mengacu pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai satu-satunya azas rujukan seiring dengan peraturan daerah dan kebijaksanaan lembaga serta instansi yang terkait dengan pokok-pokok sebagai berikut :        

a.  Warisan budaya yang luhur, yang timbul dan berkembang tetap dilestarikan sebagai etos kebudayaan yang membentuk kepribadian bangsa.
b. Keberadaan dan kelestarian budaya daerah Lampung harus dihargai dan di jamin perkembangannya
c.  Menghindari perasaan kedaerahan, kesukuan (subkesukuan) dan dominasi atas kebudayaan –kebudayaan daerah lain
d.  Tidak menutup diri terhadap pengaruh kebudayaan daerah lain (kebudayaan asing) sepanjang tidak bertentangan tatanan kehidupan orang Lampung serta tuntutan pembangunan
e.    Pertumbuhan, perkembangan dan keberadaan kebudayaan daerah Lampung tidak menjadi monopoli suatu lapisan sosial ataupun suku bangsa
f.   Segenap warga daerah Lampung mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai pendukung pembangunan  dan pengembangan kebudayaan daerah Lampung.
IV.    Langkah-Langkah Pokok Pengembangan Kebudayaan Daerah Lampung
1.Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Daerah
Pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah harus dilaksanakan secara terus-menerus dan terarah berlandaskan pada UUD 45 dan Pancasila, agar dapat berfungsi sebagai kerangka acuan yang sejalan dengan pesatnya perkembangan masyarakat serta kemajuan teknologi yang dapat memperkembangkan perangkat nilai yang bukan sekadar memperkuat kepribadian, melainkan juga dapat di pergunakan sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan yang timbul karena perubahan lingkungan, kemajuan teknologi yang dapat memperkembangkan perangkat nilai yang bukan sekedar memperkuat kepribadian, melainkan juga dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan yang timbul karena perubahan lengkungan. Kemajuan teknologi yang terbawa  serta dalam upaya peningkatan kesejahteraan penduduk telah menimbulkan berbagai kebutuhan dan merangsang pertumbuhan kebudayaan masyarakat . Oleh karena itu, upaya pelestarian kebudayaan daerah Lampung harus ditingkatkan sejalan pesatnya kemajuan teknologi yang membawa dampak besar terhadap kehidupan  budaya.
Untuk mendukung  keperluan tersebut, maka diperlukan kegiatan khusus untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, meningkatkan kegiatan pendidikan budaya (eculturasi) di lingkungan masyarakat luas, mempersiapkan substansi pendidikan, bagi masyarakat serta mengadakan perekaman (inventarisasi) dan analisis nilai-nilai budaya daerah Lampung
2. Kebahasaan dan Kesastraan
    Bahasa merupakan perangkat yang amat penting artinya sebagai alat komunikasi dan media pendidikan dalam masyarakat. Oleh karena itu, pembinaan dan pengembangan bahasa daerah senantiasa mendapatkan perhatian demi ketertiban pergaulan social dan kemajuan pendidikan dalam arti luas.
   Pembinaan dan pengembangan bahasa daerah Lampung di arahkan pada usaha untuk meningkatkan wawasan kedaerahan  dan dapat berkembang serta dapat dimanfaatkan oleh masyarakat daerah Lampung baik dalam pergaulan maupun dalam pendidikan.
3. Pembinaan dan Pengembangan Kesenian
    Sesungguhnya kesenian itu bukan semata-mata sebagai wahana untuk mengungkapkan dan menyatakan perasaan secara indah, tetapi juga merupakan media sosial yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan budaya secara indah dan terselubung. Demikian juga kesenian merupakan sarana sosial yang bersifat integrative, karena dari adanya rasa ikut memiliki akan menumbuhkan nilai kebanggaan bersama.. Disamping itu, kesenian juga merupakan media pendidikan yang tidak kecil artinya dalam membina perasaan, dan pekerti yang halus bagi masyarakat pendukungnya.
Pembinaan dan pengembangan kesenian diarahkan menumbuhkan kreatifitas dan daya cipta para seniman yang dapat mendorong terwujudnya kebudayaan daerah memperkuat integritas, kebanggaan dan identitas 

Sumber: Makalah disampaikan pada Diskusi Kebudayaan dalam Workshop Dan Festival Seni Tradisional 2007

Pemkab Tangerang Siap Gelar Mahadaya Nusantara

Mahadaya Nusantara akan dilaksanakan di Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang, dan akan melibatkan Komunitas.

Mahadaya Nusantara yang berganti nama, sebelumnya dilaksanakan di Kantor Kecamatan Sukamulya dengan Tema (Mahadaya kata), sekarang berubah nama menjadi Mahadaya Nusantara.

Ketua Pelaksana Mahadaya Nusantara Kabupaten Tangerang Alifullah mengatakan, Mahadaya Nusantara ini, akan dilaksanakan dengan melibatkan beberapa SKPD Terkait di Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang, untuk mensukseskan acara Perdana yang digelar ke 2 kalinya di Tahun 2017 ini.

“Selain melibatkan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang, ada juga bantuan yang diberikan dari BPNB (Balai Pelestarian Nilai Budaya) Provinsi Jawa Barat, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Banten, yang akan mendukung kesuksesan acara,” ucapnya.

Kepala Seksi Budaya dan Pariwisata Ahmad Syafei mengatakan, Tentu acara ini adalah Hajat Pemerintah Kabupate Tangerang melalui Dinas Pemuda Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Tangerang, bekerjasama dengan melibatkan Komunitas yang ada di wilayah Kabupaten Tangerang khusunya, untuk melestarikan kesenian, budaya dan pariwisata Kabupaten Tangerang ke Nusantara, serta lebih mencintai tanah air dan bangsa.

“Untuk pelaksanaan Mahadaya Nusantara tadinya akan dilaksanakan di Danau dekat Gedung Usaha Daerah (GUD) Kabupaten Tangerang, namun, perlu banyak pertimbangan karena di GUD sendiri banyak kegiatan dan aktivitas yang setiap harinya akan dilaksanakan oleh masing-masing SKPD, karena kebanyakan Dinas yang ada di GUD adalah untuk Pelayanan Masyarakat, maka dari itu untuk Pelaksanaan Mahadaya Nusantara nantinya akan dilaksanakan di Lingkungan Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang,” ungkapnya.

Untuk Diketahui, Sebelumnya Panggung Mahadaya Nusantara akan di gelar di Danau Gedung Usaha Daerah (GUD), Namun, banyak pertimbangan maka akan dilaksanakan di Lingkungan Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang.

“Ada beberapa penampilan yang akan dipersembahkan untuk memeriahkan acara Mahadaya Nusantara, dari berbagai bidang seni budaya, seni musik dan penampilan permainan alat tradisional, serta Tarian khas Kabupaten Tangerang yaitu Tari Cukin,” ujarnya.

Lokasi Mahadaya Nusantara akan berlangsung di Lapangan Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang, yang akan dilaksanakan Tanggal 19 April 2017 sampai dengan 23 April 2017.
(Mad sutisna/KK).

Penayangan Film dan Diskusi Nilai Budaya, Kuningan 2017












Pemujaan Leluhur di Kepulauan Maluku Tenggara: Jejak Budaya Materi dan Perannya Bagi Studi Arkeologi Kawasan

Oleh Marlon NR Ririmasse

Abstrak
Pemujaan leluhur adalah salah satu aspek penting dalam konstruksi sosial masyarakat masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Model kepercayaan tradisional ini berlangsung setidaknya hingga pergantian abad ke-20 menyusul introduksi agama modern di wilayah ini. Praktek pemujaan leluhur juga dimanifestasi secara materi dalam ragam produk budaya masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Tulisan ini mencoba untuk meninjau kembali aktivitas pemujaan leluhur masa lalu dalam kawasan dan secara khusus berusaha mengamati bentuk-bentuk representasi material atas aktivitas khas ini. Diskusi atas peran tema spesifik ini dalam studi arkeologi akan dihadirkan untuk melengkapi opsi tema penelitian yang sejalan dengan karakter kepulauan Maluku Tenggara. Observasi lapangan dan studi pustaka dipilih sebagai pendekatan dalam kajian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa pemujaan leluhur dipraktekan secara luas pada masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Wahana pemujaan umumnya ditampilkan dalam bentuk patung dengan ciri beragam antar satu komunitas dengan komunitas lainnya serta berasosiasi dengan rencana ruang tradisional. Akhirnya,pengetahuan spesifik terkait religi masa lalu ini dapat menjadi wahana untuk memperkaya kedalaman kajian arkeologi dan sejarah budaya dalam kawasan.

Kata Kunci: Pemujaan Leluhur, Budaya Materi, Kepulauan Maluku Tenggara

Abstract
Ancestor worship is one of the important aspects in social construction of past society in Southeast Maluku Islands. This traditional model of beliefs lasted, at least, up to the change of 20th century following the introduction of modern religions in the region. It is manifested materially in various products of past culture. The purpose of this research is to review past ancestor-worship activities in the region and, specifically, try to observe forms of material representations of this unique activity. The author presents discussion on the role of this specific theme in archaeological study in line with characteristics of the Southeast Maluku Islands. Field observation and bibliographical study are chosen for this study. The author finds that ancestor worship was practiced vastly in Southeast Maluku Islands in the form of statues that had various characteristics from one community to another, and it was associated with the traditional space design. It is hoped that this research would become a way to enrich the depth of archaeological study and culture history in a region.

Keywords: ancestor worship, material culture, Southeast Maluku Islands

Diterbitkan dalam Patanjala Volume 4 Nomor 3, September 2012

Pembekalan Teknis Perekaman 2017












Lamban Pesagi Arsitektur Rumah Tradisional Masyarakat Lampung Barat

Oleh Herry Wiryono

Pendahuluan
Rumah Adat Lampung umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou; Bangunan ibadah yang disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei; Bangunan musyawarah yang disebut sesat atau bantaian, dan Bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan.

Rumah adat orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan berjajar sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut bilik, yaitu tempat berdiam buway . Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan teritorial-genealogis yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga.

Arsitektur Rumah Tradisional ”lamban Pesagi”
Rumah adat lampung yang terdapat di Lampung Barat disebut dengan nama lamban pesagi. Arti kata lamban adalah rumah dan pesagi adalah persegi, karena denahnya berbentuk segi empat. Lamban pesagi merupakan rumah panggung dengan atap perisai yang memiliki teritis panjang berbentuk pelana. Teritis yang berupa kanopi pada pintu masuk utama disangga konsol miring yang panjangnya sampai ke lantai rumah. Terdapat tangga dari papan yang dilengkapi dengan railing sederhana. Struktur panggung terputus dengan struktur dinding rumah. Posisi dinding lebih menjorok keluar sedikit dan ditopang oleh balok-balok atas struktur panggung. Dinding rumah cenderung tertutup dan hanya memiliki sedikit bukaan berupa jendela. Tiang-tiang panggung diletakkan pada pondasi umpak yang berbentuk segi empat. Kolong rumah panggung digunakan untuk kandang atau gudang.

lamban Pesagi yang merupakan rumah tradisional berbentuk panggung yang sebagian besar terdiri dari bahan kayu dan atap ijuk. Rumah ini berasal dari desa Kenali Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat.. Ada dua jenis rumah adat Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal bagi para Kepala Adat (penyimbang adat), yang dalam bahasa Lampung juga disebut Balai Keratun. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor) dan Ijan Geladak (tangga "naik" ke rumah); Anjung-anjung (serambi depan tempat menerima tamu), Serambi Tengah (tempat duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat kerabat wanita berkumpul), Kebik Temen atau kebik kerumpu (kamar tidur bagi anak penyimbang bumi atau anak tertua), kebik rangek (kamar tidur bagi anak penyimbang ratu atau anak kedua), kebik tengah (yaitu kamar tidur untuk anak penyimbang batin atau anak ketiga).

Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah). Karena itu balai ini juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap). Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan (serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang Gajah Merem ( tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang khas di rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya (rurung agung), yang berwarna putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.

Bagian-bagian dari ’lamban pesagi’ secara lengkap adalah tangga masuk yang dinamakan ’jan/geladak’, beranda tamu yang dinamakan ’ajung-anjung’, ruang bersama untuk pertemuan keluarga laki-laki dinamakan ’serambi tengah’, runag bersama untuk pertemuan keluarga perempuan dinamakan ’lapan agung’, ruang tidur untuk anak tertua yang dinamakan ’kebik temen’ atau ’kebik kerumpu’, ruang tidur untuk anak kedua yang dinamakan ’kebik rangek’, dan ruang tidur untuk anak ketiga yang dinamakan ’kebik tengah’. Untuk rumah bangsawan, di halaman ada gapura masuk yang dinamakan ’lawang kuri’, dan pos jaga yang dinamakan ’pusiban’.

Lumbung penyimpanan adalah bangunan yang dibuat untuk menyimpan padi, khususnya padi giding atau padi gabah (renai) sebagai simpanan selama persediaan beras masih ada. Bagi masyarakat Lampung pesisir (Kalianda), lumbung ini memang dikhususkan untuk menyimpan padi. Namun bagi masyarakat Lampung di daerah lainnya (Lampung Barat, Lampung Utara, dan sekitarnya), lumbung biasanya juga dipergunakan untuk menyimpan damar, kopi, lada, dan hasil bumi lainnya.

Letak lumbung penyimpanan biasanya di sekitar juyu (belakang) rumah tempat tinggal, yang kira-kira berjarak antara 5 meter sampai dengan 10 meter. Namun ada juga masyarakat di daerah (tiyuh) lain, yang membangun lumbung terpisah jauh dari tiyuh. Di tempat tersebut biasanya terdapat beberapa lumbung penyimpanan (lumbung lamon), milik anggota masyarakat yang mirip dengan perkampungan khusus, hal ini agar kotoran gabah (huwok) tidak mengotori/mencemari perkampungan. Disamping itu agar saat atau waktu menjemur padi tidak diganggu oleh ayam peliharaan masyarakat.

Bentuk bangunan lumbung terdiri dari dua ruangan yakni bagian luwah dan bagian lom. Bagian luwah berfungsi untuk meletakkan padi sebelum dimasukkan ke dalam lumbung, atau sebaliknya sebelum padi diturunkan ke tanah. Tempat ini memudahkan bergotong-royong mengeluarkan atau memasukkan padi, sehingga tempat ini merupakan tempat tunda pengangkatan padi pada waktu penyusunan padi ke bagian dalam lumbung. Bisa juga dipergunakan untuk ngilik pakhi (menginjak-injak padi) agar lepas dari tangkainya. Lumbung menyerupai bangunan panggung, sedangkan dindingnya dipasang pada bagian dalam, maksudnya agar dinding lumbung tidak mudah beka (jebol) disamping agar tidak mudah dicongkel pencuri.

Makna dan Simbol pada Rumah Tradisional Lamban Pesagi
Rumah tradisional lamban pesagi dibangun berdasarkan perhitungan yang matang untuk menyikapi lingkungan di sekitarnya, dibangun berdasarkan kearifan setempat yang menyesuaikan dengan kondisi geografis daerah tersebut. Rumah panggung ini terdiri dari banyak unsur, antara lain:

Tihang duduk: merupakan tiang penyangga rumah dengan ketinggian antara satu meter sampai dengan satu setengah meter. Tiang ini selalu berjumlah ganjil (apabila dibagi dua selalu menyisakan satu) yang bermakna kita harus selalu ingat kepada yang satu, yakni Yang Maha Kuasa. Tihang duduk disangga oleh tiga batu gepeng, yang berfungsi sebagai penahan apabila terjadi gempa bumi sehingga rumah tidak terpengaruh oleh goncangan gempa. Tiga buah batu dengan ukuran 30 cm x 20 cm, kemudian di atasnya ada umpak (tiang penyangga) kayu dengan tinggi 45 cm dan lingkaran 130 cm, tinggi 90 cm, lebar bawah 23 cm, lebar atas 30 cm.

Bah lamban: kolong rumah, saat ini dipergunakan untuk menyimpan kayu, batu bata. Kalau dahulu kolong ini dikosongkan karena tujuan rumah panggung adalah untuk menghindari dari serangan binatang buas. Namun saat ini banyak kolong rumah yang dijadikan sebagai ruangan, kamar, bahkan untuk toko tempat berjualan.

Atung: merupakan kayu panjang ke samping yang disangga oleh tihang duduk. Merupakan kayu penyangga lantai rumah dengan panjang 2 meter 65 cm, lingkaran kayu 45 cm dan berjumlah 4 buah kayu.

Uwongan: sama dengan atung namun kayu ini yang posisinya ke depan dan ke belakang. Kayu penyangga yang rapat dengan lantai rumah, dengan panjang 9 meter 4 cm, dengan lingkaran kayu 87 cm, terdapat 5 buah kayu. Kayu atau balok penyangga dinding samping dengan lebar 24 cm dan 17 cm, panjang 11 meter 20 cm, ada 2 buah kayu.

Kakakh: merupakan bambu bulat sebagai penyangga lantai rumah di bagian belakang.
Bujokh: kayu yang membujur ke samping sebagai pembatas ruangan di dalam rumah. Terdapat tiga kayu pembatas lantai rumah, di bagian paling depan disekat untuk 2 kamar yakni kamar di bagian kiri depan (kebik) dan kamar di bagian kanan depan (tebelah). Kamar di sebelah kiri diperuntukkan bagi anak laki-laki tertua, dan kamar

Penutup
Rumah tradisional Lampung khususnya yang ada di Desa Kenali, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat dinamakan Lamban Pesagi. Lamban berarti rumah dan pesagi berbentuk persegi atau hampir berbentuk persegi (kotak), panjang dan lebarnya hampir sama ukurannya. Rumah tradisonal ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh BPCB Serang, namun kondisinya saat ini sangat merana, hal ini salah satunya karena kurang perhatiannya pihak pemerintah daerah Lampung Barat, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Untuk itu perlu upaya yang serius dari semua pihak untuk menyelamatkan warisan budaya yang tidak ternilai ini. Sebab tanpa adanya perhatian yang serius warisan budaya ini lambat tapi pasti akan hilang dari bumi Lampung.

Pustaka
Hadikusuma, Hilman. 1989. Masyarakat dan adat-Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.

Kadir, Azhari,. 2003, Seni Bidaya Daerah Lampung, Bandar Lampung

Warganegara, Marwansyah,. 1997 Rumah Adat Daerah Lampung, Anjungan Daerah Lampung “Taman Mini Indonesia Indah”, Jakarta

Internet
http://budayalampung.blogspot.com/2009/11/rumah-adat-lampung.html
http://archnewsnusantara.wordpress.com/2009/08/09/lamban-pesagi-rumah-adat-lampung/

Sumber: Makalah disampaikan pada Kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan, Purwakarta 2013.

Rapat Teknis Pelestarian Nilai Budaya 2017













Popular Posts