WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Jejak Tradisi Daerah, Tasikmalaya, Juni 2012

Era globalisasi yang serba cangggih selain berdampak positif, juga membawa ancaman bagi kelangsungan dan kelestarian kebudayaan, antara lain dengan bergesernya nilai, peran, dan fungsi kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Banyak tradisi yang kini nyaris punah, padahal dalam kenyataannya tradisi tersebut telah mampu membentuk sikap, kepribadian, dan karakteristik tertentu bagi masyarakat pendukungnya. Lebih jauh lagi tradisi tersebut telah memberikan ciri-ciri/karakteristik bagi kepribadian bangsa.

Inilah yang menjadi masalah, generasi muda cenderung kurang memahami budaya sendiri maupun budaya etnik lain. Mereka mudah terbawa arus globalisasi dengan meninggalkan budaya sendiri, yang belum tentu memberi dampak positif (Sd. Jati kasilih ku junti). Perhatian khusus pada generasi muda merupakan hal yang menarik, karena mereka adalah penerus dan pendukung kebudayaan yang ada sekarang ini. Perubahan pandangan, pengetahuan, sikap, dan tingkah laku pada diri mereka akan berdampak besar terhadap corak dan nuansa kebudayaan di masa depan. Sebagai upaya agar memiliki keinginan dan bisa memahami perbedaan budaya, mereka harus diperkenalkan pada aspek-aspek kebudayaan dari luar lingkup kebudayaannya sendiri. Upaya tersebut diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit dan meningkatkan pemahaman bahwa budaya yang ditumbuhkembangkan masing-masing etnik merupakan jati diri etnik yang bersangkutan.

Sehubungan dengan itu, pada tahun anggaran 2012, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung menyelenggarakan kegiatan Jejak Tradisi Dearah, yakni suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman generasi muda tentang kebudayaan. Tujuan kegiatan ini adalah: (1) meningkatkan pengetahuan dan pemahanan generasi muda tentang arti penting nilai budaya yang tercermin dalam kreativitas budaya masyarakat Tasikmalaya; (2) meningkatkan pemahaman generasi muda tentang keanekaragaman budaya; dan (3) memberikan wawasan kegiatan lapangan sebagai pelengkap pelajaran di sekolah. Adapun tema kegiatan ini adalah “Kreativitas Unik dan Menarik di Tasikmalaya”. Tempat yang akan dikunjungi dalam kegiatan ini adalah Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Kegiatan Jejak Tradisi Daerah di Tasikmalaya dilaksanakan pada 20 s.d. 21 Juni 2012. Kegiatan ini diikuti diikuti oleh 150 peserta, yang terdiri atas siswa/siswi SMA/sederajat yang ada di wilayah kerja Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, yakni Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Selain itu, ikut serta peninjau dari Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ditkeptrad) dan Antropologi Unpad; guru pembimbing, dan peliput (media massa).

Pendaftaran Peserta di Kantor BPNB Bandung
Pembukaan Kegiatan Jejak Tradisi Daerah
Pengalungan Tanda Peserta Secara Simbolis
Pengalungan Tanda Peserta Secara Simbolis
Penyambutan Peserta Jejak Tradisi Daerah di Tasikmalaya
Kunjungan Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Sentra Kelom Geulis Tasikmalaya
Kunjungan Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Sentra Batik Tasikmalaya
Penyuluhan Narkoba kepada Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Tasikmalaya
Pembekalan Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Tasikmalaya
Lomba Melukis Payung Geulis Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Tasikmalaya
Kunjungan Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Kampung Naga Tasikmalaya
Pembagan Sertifikat kepada Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Kampung Naga Tasikmalaya

Budaya Prasejarah pada Bukit Kerang Pangkalan, Akar Pluralisme dan Multikulturalisme di Pesisir Timur Pulau Sumatera

Oleh Ketut Wiradnyana

Abstrak
Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan Pluralisme dan multikulturalisme di pesisir timur Pulau Sumatera dapat dilakukan dengan penyebarluasan hasil penelitian arkeologis. Metode penelitian arkeologis yang holistik dalam satu kawasan yang disertai pemanfaatan hasil penelitian arkeologis di kawasan lainnya melalui perbandingan data di antaranya akan memberikan informasi proses plural dan multikultural yang telah terjadi pada suatu masyarakat. Akar pluralisme dan multikulturalisme dari sejak masa prasejarah terungkap melalui hasil penelitian di Situs Bukit Kerang Pangkalan yang menunjukkan adanya migrasi yang disertai tiga budaya besar yang berlangsung di daerah tersebut yakni budaya prahoabinh, hoabinh dan pasca hoabinh. Data arkeologis pada situs-situs di sekitar bukit kerang Pangkalan menunjukkan adanya migrasi kelompok manusia beserta budayanya dari budaya besar lainnya seperti budaya Neolitik dengan kapak persegi dan gerabahnya serta budaya Dongson dengan artefak perunggunya.

Kata kunci: Pluralisme, multikulturalisme, migrasi, budaya bukit kerang.

Abstract
Disseminating the result of archaeological research in the east coast of Sumatera would make a better understanding of pluralism and multiculturalism. A holistic archaeological approach and a comparative study were conducted in this research. We came into conclusion that the root of pluralism and multiculturalism traced back to prehistoric times was revealed through our research in the bukit kerang (kitchen midden) of Pangkalan. From this site we know that there was a human migration that brought three great cultures to the site: the pre-hoabinhian, the hoabinhian, and the post-hoabinhian cultures. Archaeological records from the vicinity has shown us that there were migrations of another human group who brought neolithic culture as well as bronze artifacts of Dongson culture.

Keywords: Pluralism, multiculturalism, migration, bukit kerang culture.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Dari Federalis ke Unitaris: Studi Kasus Sulawesi Selatan 1945-1950

Oleh Muhammad Amir

Abstrak
Kajian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan latar belakang dan proses perubahan sistem ketatanegaraan dari federalis ke unitaris di Sulawesi Selatan 1945-1950. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yang menjelaskan persoalan penelitian berdasarkan perspektif sejarah. Prosedurnya meliputi empat tahapan, yaitu pencarian dan pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber (seleksi data), interpretasi (penafsiran), dan penyajian atau penulisan sejarah (historiografi). Hasil kajian menunjukkan bahwa pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) bukan semata-mata kehendak Belanda, melainkan juga keinginan sebagian masyarakat yang menghendaki negara Indonesia berbentuk federal. Negara federal diyakini tidak hanya sesuai dengan kondisi Indonesia yang terdiri atas beberapa pulau, etnis, dan budaya, tetapi juga akan memberikan kesempatan luas kepada pemerintah tiap-tiap negara bagian untuk mengelolah potensi wilayahnya masing-masing. Namun upaya untuk mempertahankan eksistensi NIT, kalah bersaing dengan semangat unitaris, sehingga melapangkan terwujudnya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kata kunci: federalis, unitaris, dan otonomi.

Abstract
This study is intended to uncover and find out background and change process of governance system from federalism to unitarian in South Sulawesi 1945-1950. Method used in this research is historical method, which explainsresearch problem based on historical perspective. Its procedure includes four steps, finding and collecting data (heuristic), source critique (data selecting ), interpretation, and historiography. Result of analysis shows that the establishment of East Indonesian Nation is not merely Netherlands desire, but also the desire of certain community that intends to form federal nation of Indonesia. Federal nation is considered not only appropriate with Indonesian’s state consisting of many island, ethnics, and cultures, but also will give widely opportunity to the government of each state to manage their own potential area. Yet, the effort to preserve the existence of East Indonesian Nation is more dominitaed by unitarian spirit, then it makes esay the establishment of Republic of Indonesian Nation.

Keywords: federalism, unitarian, and autonomy.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Indramayu Masa Penjajahan Belanda (Abad Ke - 19)

Oleh Lasmiyati

Abstrak
Sejarah Indramayu sangat menarik untuk diteliti karena Indramayu telah menorehkan sejarah masa lalu terutama masa penjajahan Belanda. Tujuan dari tulisan ini untuk mengetahui mengenai keberadaan Indramayu masa penjajahan Belanda. Metode yang digunakan adalah metode sejarah. Indramayu di masa penjajahan Belanda diwarnai berbagai konflik, baik perlawanan para pejuang terhadap Belanda maupun antara petani melawan tuan tanah. Konflik tersebut sebenarnya didasarkan atas ketidakadilan dan adanya jurang pemisah antara petani yang harus menanggung beban pungutan cukai dan pajak yang tinggi dengan tuan tanah yang menikmati keuntungan. Perlawanan pun tidak dapat dihindari, terutama perlawanan kepada tuan tanah. Dari perlawanan itulah rakyat maupun petani di Indramayu menginginkan hadirnya Imam Mahdi, yaitu seseorang yang dapat membawa perubahan.

Kata kunci: Indramayu, penjajahan Belanda, perlawanan petani.

Abstract
It is very interesting to study the history of Indramayu, particularly because this city has made its own unique history during the Dutch colonial era. Historical records have given us data that there were many conflicts in Indramayu triggered by high taxes and customs. People power, especially peasants, fought for justice and Imam Mahdi was considered the saviour in gaining their peaceful life. To study the existence of Indramayu during that era would be the main purpose of this paper, and a historical approach was conducted.

Keywords: Indramayu, Dutch colonialism, the resistance of farmers.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Pesantren Riyadlul Awamil Kabupaten Serang-Banten

Oleh Euis Thresnawaty S.

Abstrak
Tantangan dunia pesantren semakin besar dan berat di masa kini dan masa mendatang. Paradigma “mempertahankan warisan lama yang masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik”, benar-benar penting untuk direnungkan kembali. Permasalahannya adalah karena dunia pesantren tidak hanya mempertahankan tradisi lama saja, tradisi lama itu tidak harus relevan untuk masa kini. Tidak bisa disangkal bahwa modernitas telah menawarkan banyak hal untuk direnungkan, terutama oleh kalangan pesantren. Karena hal tersebut maka dilakukan penelitian mengenai Sejarah Pesantren Riyadlul Awamil dengan tujuan untuk mengungkap latar belakang sejarah serta perkembangannya. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah. Pada kenyataannya tidak semua pesantren melakukan perubahan. Bahkan sebagian besar tetap bartahan dengan sistem salafiyah atau tradisional. Salah satunya adalah Pesantren Riyadlul Awamil Kabupaten Serang yang telah berdiri sejak tahun 1908, dan tetap konsisten dengan tradisi salafiyahnya.

Kata kunci: Sejarah Pesantren, pendidikan.

Abstract
There are many challenges for pesantren. The challenges are getting bigger and heavier now as well as for the future. It would be important to reconsider the paradigm stated “preserving relevantly old heritage and taking a better new one”. The problem is that pesantren does not merely preserving old traditions but they also have to take modernization into consideration. By conducting methods used in history, this research has main goal to reveal historical background dan development of Pesantren Riyadlul Awamil. The result is that making changes is not an easy way for pesantrens. Many pesantrens are still preserving their traditional system of education (salafiya), one of them is Pesantren Riyadlul Awamil in Serang which was founded in 1908.

Keywords: History of Pesantren, education.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Festival Kesenian Tradisional, Cianjur 17-18 Juli 2012

Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang bersifat universal, artinya kesenian ada dalam masyarakat manapun. Kesenian yang merupakan refleksi dari cara hidup sehari-hari biasanya bersumber pada mitos, sejarah, adalah kesenian tradisional. Jenis kesenian ini biasanya diwariskan secara turun menurun dengan menggunakan alat atau cara-cara sederhana, berfungsi spiritual dan sosial, serta sarat dengan makna simbolis.

Pada masanya dulu, kesenian tradisional sempat “berjaya”, dalam arti menjadi satu-satunya sarana hiburan masyarakat yang menyebabkan berbagai jenis kesenian tradisional sering dipertunjukkan dan sangat digemari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Fungsi lainnya seperti sosial, kultural, dan spiritual juga berjalan secara harmonis. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, eksistensi kesenian tradisional pun mengalami perubahan. Keberadaannya kini tidaklah sehebat dan setegar dulu. Beberapa jenis kesenian tradisional kini mulai ditinggalkan para pendukungnya, bahkan tidak sedikit yang mulai menghilang dan tidak dikenal lagi oleh masyarakatnya. Keadaan ini juga diperparah dengan kurang adanya regenerasi sehingga keberadaan kesenian tradisional semakin terpuruk. Sejalan dengan itu, generasi muda pun tampak kurang memiliki minat untuk melanjutkan atau bahkan mengembangkannya. Dengan kata lain, keberadaan kesenian tradisional saat ini dalam keadaan kritis. Jangankan untuk berkembang, bertahanpun sangatlah sulit.

Berdasarkan pemikiran dan kenyataan di atas, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung merasa perlu untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan untuk memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat, utamanya kepada generasi muda dan memberdayakan jenis-jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di wilayah kerjanya, yaitu Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung dalam bentuk kegiatan “Festival Kesenian Tradisional” di Kabupaten Cianjur pada tanggal 17-18 Juli 2012
Kegiatan Festival Kesenian Tradisional ini bertujuan untuk : (1) Memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat, utamanya kepada generasi muda agar mereka lebih memahami dan mencintai budaya milik sendiri dalam upaya memperkokoh jati diri, (2) Mengindentifikasi berbagai permasalahan berkenaan dengan keberadaan kesenian tradisional pada saat ini; (3) Menampung aspirasi dari para pendukung kesenian tradisional (seniman/praktisi, penikmat seni, dan pemerhati) bagi kelangsungan dan pengembangan kesenian tradisional; (4) Mencari alternatif pemecahan bagi permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh kesenian-kesenian tradisional di tengah upaya pengembangannya.

Tema kegiatan ini adalah “Eksistensi dan Regenerasi Kesenian Tradisional”. Tema ini dipilih berdasar pada salah satu misi BPSNT Bandung, yaitu berupaya memperkenalkan dan mentransformasikan kembali kesenian tradisional kepada generasi muda. Sementara bentuk kegiatannya terdiri dari: (1) pergelaran/peragaan yang menampilkan 6 (enam) jenis kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Cianjur, yaitu Mamaos, Maenpo, Bedor, Tutunggulan, Rampak Kohkol dan Reog, serta (2) diskusi Panel yang akan menampilkan pembicara dari Praktisi/Akademis dan budayawan.










Atraktif, Pergelaran Cultural Evening Pukau Penonton

Cirebon, Jabar – Cultural evening mempertontonkan seni budaya Cirebon unik dan berbeda di Keraton Kanoman, Sabtu (27/4) malam. Selain penataan panggung dan cahaya yang atraktif, tata suara yang klasik, secara keseluruhan pentas seni budaya ini sangat memukau para tamu undangan yang hadir.

Tampak hadir para sultan di Cirebon, wali kota dan wakil wali kota, tokoh seni dan para tamu undangan lainnya. Pertunjukan sendiri terbatas dan tertutup untuk masyarakat umum. Sesuai yang dijanjikan Show Director, Dedy Kampleng, acara menyuguhkan tontonan seni yang berbeda dan sangat menghibur. Di tengah minimnya krativitas dan pertunjukan, pihaknya berhasil menampilkan aneka ragam pagelaran. Sanggar Kanoman menampilkan tari batik, Sanggar Kasepuhan menampilkan tari topeng, ada juga dari Kacirebonan. Puncaknya sanggar Puser Langit Cirebon menampilkan seni drama tari Rama dan Sinta.

Dalam drama tari itu diceritakan tentang Rahwana yang menculik Dewi Sinta, yang merupakan kekasih dari Sri Rama. Untuk memata-matai gerak-gerik Rahwana, ia mengutus Kanoman, yang merupakan seekor kera putih. Namun Kanoman tertangkap Indrajit, di sanalah pertarungan seru dihelat.

Sri Rama dan pasukan Kanoman bertarung dengan pasukan Rahwana. Rahwana tak pernah bisa mati karena memiliki ajian pancasona, meski beberapa kali ditusuk oleh keris pusaka Sri Rama. Rahwana pun akhirnya takluk oleh panah Sri Rama.

Ketua Panitia Pelaksana, Erry Kadir berharap kegiatan ini bisa terus menjadi agenda tahunan, yang penyelenggaraannya bergantian di keraton-keraton. Sementara, Wali kota Ano Sutrisno tampak menikmati pagelaran demi pagelaran. Ano mengatakan, ia sangat mengapresiasi para seniman yang menampilkan karya seni budaya tradisional. “Acara seperti ini minimal harus diadakan tiap tahun sekali. Pagelarannya bisa di tempat yang berbeda, apakah di balai kota atau di Gua Sunyaragi,” ungkapnya.

Cirebon, kata Ano, memiliki potensi budaya yang banyak. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya sanggar seni yang berdiri. Ini tentunya bisa menarik wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengunjungi Cirebon. Sebagai bentuk kepedulian, pemkot siap menyeponsori acara kesenian serupa bekerja sama dengan para pengusaha.

Sementara itu, Kepala BPNB Bandung, Toto Sucipto menjelaskan, seni budaya di Cirebon penting untuk direvitaslisai. Hal ini ia wujudkan dengan terus menginventarisasi kekayaan seni budaya di daerah Jawa Barat, terutama di Cirebon. “Kota Cirebon memiliki banyak seni budaya,” katanya. (jml)

Popular Posts