WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Arti dan Fungsi Upacara Tradisional Pada Masyarakat Cina Benteng

Oleh : Ani Rostiyati

Pendahuluan
Pelaksanaan upacara tradisional suatu masyarakat umumnya sangat menarik untuk diteliti, karena memiliki keunikan, kesakralan, dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalam-nya. Demikian pula masyarakat Tionghoa yang saat sekarang sudah tidak dianggap orang asing karena merupakan bagian integral masyarakat Indo-nesia, memiliki budaya atau adat istiadat yang menarik untuk di-kaji. Ada satu komunitas warga Tionghoa yang disebut dengan Cina Benteng, memiliki budaya khas tersendiri yang berbeda dengan warga Tionghoa umum-nya. Mereka tinggal di sebuah kampung bernama Kampung Cukanggalih, Desa Ciakar, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Sebagian besar warga Cina Benteng bekerja sebagai petani dan peter-nak, suatu profesi pe-kerjaan yang jarang dilakukan oleh orang Tionghoa yang yakni sebagai pedagang. Selain itu, Cina Benteng merupakan komu-nitas masyarakat Tionghoa yang memiliki keunikan tersendiri yak-ni kesetiaannya pada tradisi lelu-hur yang masih kuat dilakukan seperti melakukan upacara per-kawinan ciatou, upacara kema-tian yang unik dan upacara peh cun, dimana upacara tersebut tidak lagi dilakukan oleh masya-rakat Tionghoa lainnya. Keuni-kan dan kekhasan pada masya-rakat Cina Benteng inilah yang perlu dikaji lebih lanjut tentang bagaimana fungsi dan arti upa-cara tersebut pada masyarakat pendukungnya (Cina Benteng).

Pembahasan
Masyarakat Cina Benteng masih memegang teguh adat kebiasaan atau tradisi yang telah diwarisi turun temurun dari lelu-hurnya. Kepercayaan terhadap para leluhur dan Tuhannya (The-in) merupakan manifestasi kete-guhan hati yang berakar kuat di sanubari masyarakat Cina Ben-teng. Hal ini terwujud dalam pe-laksanaan upacara sekitar daur hidup (perkawinan Ciatou, keha-milam, dan kematian) dan hari-hari besar agama (tahun baru Imlek, peh cun, sin beng, cengbeng, perayaan kue onde, cap gomeh dan lain sebagainya).

Pelaksanaan upacara terse-but memang ada sedikit peruba-han yakni dilakukan secara se-derhana atau diringkas, tapi hal ini bisa dimaklumi karena ada-nya perubahan jaman sehingga orang berpikir lebih ekonomis, rasional dan praktis. Selain itu perubahan disebabkan juga ka-rena pengaruh pendidikan, so-sial politik, dan modernisasi. Tingkat pendidikan yang tinggi menyebabkan orang mulai ber-pikir secara rasional, sistematis, dan praktis termasuk perhitung-an ekonomi. Ini berarti pelaksa-naan upacara tradisional mulai memperhitungkan masalah bi-aya, waktu, dan tenaga. Masalah sosial politik lebih ditekankan adanya peraturan dari pemerin-tah RI yang melarang warga et-nis Tionghoa melakukan upa-cara tradisional secara terbuka seperti adanya larangan pada kesenian barong sai pada pera-yaan tahun baru Imlek dan peng-gunaan simbol-simbol upacara secara terbuka. Meskipun seka-rang sejak masa pemerintahan Gus Dur larangan tersebut di-cabut, artinya warga Tionghoa diberi kebebasan dalam melak-sanakan ritual atau perayaan aga-manya. Demikian pula ada-nya proses modernisasi dalam pembangunan, yakni terdapat inovasi, teknologi dan urbanisasi yang menyebabkan makin me-lemahnya tradisi atau aturan adat akibat pengaruh kebuda-yaan luar, gaya hidup kota, dan kemajuan teknologi.

Ketiga faktor di atas memang mempengaruhi perubahan da-lam pelaksanaan upacara tradi-sional pada masa sekarang. Na-mun perlu diingat, bahwa peru-bahan tersebut sebenarnya terbatas pada bentuk permu-kaan (empiris) dan bukan pada struktur upacara itu sendiri. Se-bab struktur, tujuan, dan nilai kesakrakalan dari suatu upacara tradisional tetap akan dimiliki manusia, meski manusia terjerat oleh kemajuan jaman. Struktur dalam upacara adalah konsep pemosisian supra yakni pemu-jaan pada leluhur atau Tuhan-nya, termasuk di sini roh-roh halus. Struktur inilah yang paling esensial pada setiap pelaksana-an upacara tradisional meski bentuk luarnya telah mengalami perubahan(disederhanakan atau diringkas). Dengan demikian meski bentuk luarnya mengalami perubahan, tidak menjadi soal asal tetap terjaga kesakralan, struktur, nilai, dan tujuan dari pe-laksanaan upacara tersebut.

Demikian pula pada masya-rakat Cina Benteng, meskipun tetap memegang teguh tradisi leluhur tapi dalam pelaksanaan-nya mengalami sedikit peruba-han, yakni tidak semua upacara adat dilakukan dan lebih diseder-hanakan mengingat perhitungan ekonomi, waktu, dan tenaga. Namun jika di bandingkan de-ngan masyararakat Tionghoa lainnyaCina Benteng termasuk warga Tionghoa yang masih me-laksanakan tradisi leluhurnya secara kuat, sementara warga Tionghoa lainnya sudah mulai meninggalkan bahkan tidak me-laksanakan upacara yang sudah menjadi tradisi leluhurnya.

Menyimak pelaksanaan upa-cara tradisional yang dilakukan masyarakat Cina Benteng, maka perlu diuraikan tentang fungsi upacara tersebut. Sebab dengan mengetahui fungsi tersebut akan diketahui pula peranan dan ke-dudukan upacara tradisional pa-da masyarakat pendukungnya masa kini. Fungsi dalam pelak-sanaan upacara tradisional akan dilihat dalam 2 hal yakni ber-fungsi spiritual dan sosial. Fung-si spiritual berkaitan dengan pelaksanaannya yang selalu ber-hubungan dengan permohonan manusia untuk minta keselama-tan kepada leluhur dan Tuhan-nya. Dengan kata lain upacara tersebut berfungsi spiritual kare-na dapat membangkitkan emosi keagamaan, menimbulkan rasa aman, tenang, tentram, dan se-lamat. Berfungsi sosial, karena upacara tersebut bisa dipakai sebagai sarana kontrol sosial (pengendalian sosial), kontak sosial, interaksi, integrasi, dan komunikasi. Seperti diketahui dalam upacara terdapat sesaji (sam seng) dan sesaji ini meru-pakan simbol yang memuat arti atau pesan bagi warga pendu-kungnya. Nilai-nilai yang terda-pat dalam simbol sesaji tersebut bisa dipakai sebagai pedoman berperilaku dan kontrol sosial bagi warganya. Selain itu dalam upacara tersebut juga terdapat kegiatan sembahyang bersama, sambatan (gotong royong) dan sumbangan (uang atau barang) yang bisa mewujudkan keber-samaan, kontak sosial dan inte-raksi sosial antarwarga Cina Benteng.

1. Fungsi Spriritual
Dalam berbagai masyarakat pada umumnya, ada konsep bahwa hidup tiap individu itu ter-bagi dalam tingkat-tingkat. Ting-kat demi tingkat akan dilalui dan dialami oleh individu yang ber-sangkutan di sepanjang hidup-nya, dalam antropologi disebut sebagai stages along the life cicle. Pada tiap tingkat individu dianggap berada dalam kondisi dan lingkungan sosial tertentu, karena itu dapat dikatakan seba-gai peralihan dari satu lingku-ngan sosial ke lingkungan sosial yang lain.

Di kalangan masyarakat Ti-onghoa, khususnya Cina Ben-teng, lingkungan sosial seorang individu mulai terbentuk sejak ia masih dalam kandungan ibunya (kehamilan). Setelah kehamilan, dilanjutkan kelahiran dan ini akan melewati masa bayi, anak-anak, remaja, dewasa, menikah, tua, dan mati. Saat meninggal dunia menurut orang Tionghoa bukan yang terakhir, sebab orang itu akan melanjutkan per-jalanan hidupnya menuju ke alam gaib (alam abadi). Karena itu saat kelahiran disebut juga sebagai peralihan dari alam gaib ke alam nyata dan kematian di-sebut peralihan dari alam nyata ke alam gaib. Pada saat pera-lihan tersebut, sering dianggap sebagai saat gawat dan penuh bahaya. Untuk menolak bahaya, maka mereka memohon kesela-matan dengan cara melakukan upacara atau sembahyang Tuhan Allah.

Adanya ritus atau upacara itu merupakan suatu upaya manu-sia untuk menjaga keselamatan dan sekaligus menjaga keles-tarian kosmos. Pada dasarnya konsep berpikir mayarakat Ti-onghoa, termasuk juga Cina Benteng selalu mengembalikan kepada hakekat kehar-monisan antara kehidupan langit (alam gaib), kehidupan di bumi, dan manusia (alam dunia nyata). Me-reka percaya bahwa alam se-mesta ini sebagai akibat dari inkarnasi kekuatan alam. Alam dikuasai spirit-spirit yang kekua-tannya luar biasa. Alam semesta semata-mata hanyalah ekspresi dari kekuatan alam yang di-pengaruhi oleh spirit yang men-diami alam. Berbagai spirit ini berada dan hidup dalam feno-mena alam seperti langit, mata-hari, tanah, air, tumbuh-tumbu-han, gunung dan fenomena lain-nya. Di antara spirit alam terda-pat spirit yang berasal dari arwah nenek moyang yang kekuatan hidupnya demikian kuat, sehing-ga dapat melanjutkan kekekalan hidupnya setelah jasmaninya mati. Mereka percaya jika mela-kukan penyembahan atau doa pada leluhur atau nenek mo-yang, maka akan terhindar dari kutukan nenek moyang. Spirit-spirit alam seperti bumi, langit, matahari, tumbuh-tumbuhan, air ini kemudian diakui sebagai de-wa-dewi yang merupakan cikal bakal leluhurnya.

Menurut dasar berpikir orang Tionghoa termasuk juga warga Cina Benteng, seluruh fenomena alam ini dibagi dalam dua klasi-fikasi, yaitu Yang dan Yin. Yang merupakan prinsip dasar untuk laki-laki, matahari, arah selatan, panas, cahaya, siang, dan sega-la yang termasuk keaktifan. Ada-pun Yin adalah suatu prinsip se-perti wanita, bulan, utara, dingin, gelap, malam, dan se-gala yang bersifat pasif. Manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan ritme alam semesta. Kehidupan harus harmonis dengan 3 dasar yaitu kehidupan langit, bumi, dan manusia itu sendiri. Selain itu harus disesuaikan pula dengan feng shui (angin dan air). Hidup manusia harus disesuaikan de-ngan arah angin dan keadaan air, dimana manusia bertempat tinggal. Tiap bangunan yang di-gunakan baik itu rumah, pabrik, tempat usaha, bahkan makam harus disesuaikan dengan feng shui, sehingga akan terhindar dari malapetaka. Demikian pula orang harus menyatakan hormat kepada dewa-dewi dan para leluhur.

Mereka juga percaya yang mula-mula diciptakan oleh Tu-han (Thein) adalah 2 macam, yakni nafas dan kekuatan. Ke-dua prinsip ini disebut dengan Yang dan Yin yang dibentuk da-lam lingkaran terbagi dua bagian dengan garis melingkar yang memisahkan Yang dan Yin. Se-perti terlihat dalam gambar di bawah ini :

Bulatan tersebut melambang-kan prinsip alam semesta, di mana alam semesta terwujud oleh kedua prinsip Yang dan Yin. Yang merupakan daya cipta su-atu sifat Tuhan yang memberi gerakan dan kehidupan pada se-suatu atau Yin. Yin bersifat ba-han atau zat yang diberi kemam-puan menerima Yang, sehingga terjadilah hidup dan bergerak. Dengan kata lain yang bersifat memberi dan memperbanyak, sedangkan prinsip Yin bersifat menerima dan menyimpan. Ada-nya kesatuan hidup ini terjadilah fenomena alam semesta seperti air, kayu, bumi dan mahluk hi-dup di dalamnya. Penciptaan ke-satuan Yang dan Ying tunduk mengikuti hukum tata kehidupan alam semesta, sehingga dapat bergerak secara teratur dan be-rirama. Ritme ini mengisi dan mengatur setiap ruangan di alam semesta seperti jalannya mata-hari, bintang, bulan, musim, dan lain-lain di alam semesta ini. Rit-me tersebut disebut dengan 'tao' yakni bagaimana sesuatu di du-nia itu dijadikan jalan seseorang dalam menjalani hidup.

Tao adalah jalan Tuhan, ini menjadi dasar pikiran dan acuan masyarakat Tionghoa termasuk juga Cina Benteng. Ajaran Tao menjaga keharmonisan hubu-ngan antara manusia dan alam. dimana manusia dianggapnya sebagai bagian dari alam se-mesta. Taoisme adalah ajaran ke jalan yang benar dan harus dijalankan oleh manusia agar terhindar dari segala keadaan yang bertentangan dengan ritme atau irama semesta. Menurut ajaran Tao manusia pada hake-katnya dilahirkan dalam keadaan suci dan baik. Cara yang ditem-puh untuk berjalan ke arah yang benar adalah berbudi baik yaitu hormat, ramah, sopan santun, cerdas, jujur, dan adil. Selain itu juga harus memelihara hubung-an baik dengan sesuatu yang berada di dunia lain di langit seperti Tuhan, leluhur, dan dewa-dewi. Sikap hormat sangat dite-kankan untuk membina hubung-an dengan keluarga, orang tua atau orang yang usianya lebih tua. Sikap penghormatan pada orang tua, sejak dari kecil su-dah ditanamkan misalnya bila bertemu harus membungkuk dan menanyakan kesehatan. Apalagi jika sudah meninggal, mereka selalu mengadakan upa-cara untuk arwah leluhur seba-gai bentuk penghormatan dan bakti kepada orang tua atau keluarga.

Bagi masyarakat Tionghoa seperti halnya Cina Benteng, tempat seorang individu tidak begitu penting dibandingkan de-ngan keluarga atau clannya. Ke-luarga merupakan struktur dasar sosial, kewajiban seseorang bu-kan langsung untuk dirinya sen-diri, bangsa dan negara, akan tetapi hanya ditujukan kepada keluarga. Dalam prakteknya bisa dilihat dalam pemujaan terhadap leluhur dan lebih mengutamakan anak laki-laki untuk melanjutkan keturunan keluarga dan nama nenek moyangnya. Keluarga merupakan tempat keamanan sosial individu, tempat berlin-dung dari pengaruh luar. Hubu-ngan kekeluargaan sangat erat sekali, sehingga tatanan nilai da-ri luar sedikit sekali pengaruh-nya. Menjaga hubungan dengan arwah leluhur sekaligus menjaga kelestarian kosmos. Manusia di-anggap sebagai replika dari ma-krokosmos, oleh sebab itu tiap individu dianggap sebagai mikro kosmos. Sebagai mikro kosmos, manusia adalah bagian dari alam semesta makro kosmos, maka tugas manusia adalah menjaga kehidupan dan kese-imbangan makro kosmos. Me-nentang atau menyimpang dari tata kosmos berarti merusak atau menggoncangkan keseimbangan kosmos. Agar seimbang dan selaras, maka manusia mengadakan upacara.

Dalam pandangan masyarakat Tionghoa termasuk Cina Benteng mikrokosmos atau alam semesta ini terdiri atas langit, manusia dan bumi Manusia yang berada di tengah harus menjaga keselarasan antara langit, bumi, spirit-spirit alam dan fenomena alam serta keseimbangan alam (Yang dan Yin). Dalam alam ma-kro kosmos juga terdiri atas komponen yang bersifat materi dan non materi. Komponen yang bersifat materi adalah alam nya-ta dan non materi adalah alam gaib. Komponen yang bersifat materi terdiri atas lingkungan so-sial dan lingkungan fisik (tanah, gunung, sungai, laut dll). Ada-pun komponen yang bersifat non materi terdiri atas alam gaip po-sitif yakni tempat Tuhan, leluhur dan roh-roh leluhur yang baik serta alam gaib negatif tempat roh-roh jahat berada. Manusia yang berada di tengah harus menjaga dua komponen terse-but. Salah satu cara adalah mengadakan sembahyang, pe-mujaan atau upacara untuk menjaga hubungan manusia de-ngan semua komponen makro kosmos tersebut. jika dibuat ba-gan akan tampak sebagai berikut

Konsep keseimbangan inilah yang menjadi dasar perilaku ma-syarakat Tionghoa termasuk ju-ga Cina Benteng dalam melak-sanakan upacara atau pemujaan leluhur. Secara vertikal masya-rakat Cina Benteng melakukan upacara untuk memohon kesela-matan pada Thein (Tuhan), ar-wah leluhur, dewa dan roh-roh halus yang berada di lingkungan positif, dan menghindarkan ba-haya dari roh-roh jahat yang be-rada di lingkungan negatif. Sela-in itu juga menjaga lingkungan sosial (masyarakat) dan ling-kungan fisik seperti gunung, air, laut, sungai dll. Secara horizontal manusia harus menjaga kese-imbangan alam yang terwujud oleh kedua prinsip Yang dan Yin.

Tampak bahwa upacara atau pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat Cina Benteng meru-pakan tindakan spiritual yang mengharapkan sesuatu 'kesela-matan' dari Tuhan, leluhur atau ro-roh halus. Upacara yang ber-fungsi spritual ini adalah media penghubung antara manusia de-ngan kekuatan lain yang ada di luar diri manusia. Upacara ter-sebut merupakan jembatan an-tara dunia sana (dunia kekal) dengan dunia sini (dunia fana). Dengan kata lain upacara meru-pakan jembatan antara dirinya dengan kekuatan di luar dirinya, yang dapat memberikan “sesua-tu” berupa keselamatan dan ke-bahagiaan hidup manusia. Upa-cara sebenarnya berkaitan erat dengan dorongan keagamaan pada masyarakat. Dorongan emosi keagamaan ini muncul dari rasa ketakutan, kegelisa-han, ketidaktenangan di dalam hatinya pada sesuatu yang ber-sifat supernatural, seperti rasa takut mendapat gangguan dari roh-roh halus, takut tidak diberi keselamatan oleh Tuhan dan lain sebagainya. Adanya perasa-an takut, gelisah dan ketidak-tenangan inilah menyebabkan mereka melakukan upacara agar mendapat keselamatan dari Tuhan atau arwah leluhur. De-ngan kata lain melakukan upa-cara akan memberikan rasa aman, tidak takut, tenang, ten-tram, dan tidak gelisah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa upacara berfungsi spiritual da-lam kehidupan masyarakatnya, karena berhubungan dengan pe-mujaan atau penghormatan ke-pada Tuhan, leluhur, roh-roh ha-lus yang dapat memberikan rasa aman, tenang, tentram, tidak ta-kut, tidak gelisah, dan selamat.

Memahami pemikiran masya-rakat Cina Benteng mengenai peristiwa penting dan alam adi-kodrati, bahwa mereka harus mengadakan pemujaan atau sembahyang pada Tuhan dan para leluhur terutama orang tua agar terhindar dari mala petaka. Untuk menyenangkan roh-roh halus mereka memberikan sesa-ji dalam perayaan-perayaan ter-tentu berupa makanan yang enak-enak seperti ikan bandeng, babi, ayam, dan menyalakan lilin atau hio. Sikap hormat selalu di-tekankan warga Cina Benteng pada arwah leluhur atau orang tua yang sudah meninggal, ka-rena mereka mempunyai prinsip atau kepercayaan bahwa kita ti-dak boleh lupa pada asal-usul-nya seperti air asalnya dari su-ngai. Oleh sebab itu kita harus ingat dan menghormati arwah le-luhur dengan cara bersembah-yang atau melakukan upacara. Tidak heran di setiap rumah orang Tionghoa selalu terdapat meja abu leluhur yang diguna-kan untuk bersoja. Meja abu ter-sebut biasanya terletak di ruang tengah, di atasnya terdapat foto leluhur, dan bermacam sesaji (sam seng) seperti buah mani-san, rokok, lilin merah, hio, rebu-san ayam, babi atau ikan bandeng.

Demikianlah upacara atau pemujaan yang dilakukan ma-syarakat Cina Benteng yang ber-fungsi spiritual, karena berhubungan dengan pemujaan/peng- hormatan pada Tuhan atau lelu-hurnya untuk minta keselamatan dan kebahagiaan.

2. Fungsi Sosial
Fungsi sosial upacara bisa di-lihat pada kehidupan sosial ma-syarakat pendukungnya yakni adanya norma sosial dan seba-gai media sosial. Dalam pelak-sanaan upacara tradisional ter-dapat simbol atau lambang ber-makna positif, yakni mengan-dung norma atau aturan yang mencerminkan nilai atau asumsi apa yang baik dan apa yang tidak baik. Norma atau nilai ter-sebut bisa dipakai sebagai kon-trol sosial dan pedoman berperi-laku bagi masyarakat pendu-kungnya. Demikian pula pada masyarakat Cina Benteng, nilai-nilai yang terkandung dalam sesaji (sam seng) bukan saja berfungsi sebagai pengatur peri-laku antarindividu dalam masya-rakat, tetapi juga menata hubu-ngan manusia dengan alam lingkungannya terutama pada Tuhan (thein), Shein (para de-wa). Beng (para leluhur) dan fenomena alam gunung, air dan laut. Demikian pula nilai atau makna yang terdapat dalam sim-bol sesaji upacara atau pera-yaan agama adalah salah satu mekanisme pengendalian sosial. Mekanisme ini sifatnya tidak for-mal yakni tidak dibakukan seca-ra tertulis, tapi hidup dalam alam pikiran manusia, diakui dan di-patuhi oleh sebagian besar ma-syarakat Cina Benteng. Pengen-dalian ini juga bersifat positip karena berisi anjuran, pendidi-kan dan arahan sebagai pedo-man perilaku warganya sesuai dengan kehendak sosial atau masyarakat.

Selanjutnya akan dikemuka-kan di sini nilai-nilai yang terkan-dung dalam pelaksanaan upa-cara yang berkaitan dengan daur hidup dan hari-hari besar agama pada masyarakat Cina Benteng, antara lain:

1. Dalam upacara perkawinan Ciotau pengantin duduk di sebuah tampah besar yang di tengahnya diberi bendera berwarna merah mirip ben-dera Jepang. Tampah besar melambangkan dunia yang berbentuk bulat dengan sega-la isinya dan berbagai macam godaan. Pesan yang ingin disampaikan adalah agar ma-nusia berhati-hati dalam men-jalani hidup ini. Dalam mela-kukan soja atau cium tanah 3 kali juga dimaksudkan agar manusia senantiasa hormat kepada Tuhan dan orang tua.

2. Pada masyarakat Tionghoa termasuk juga Cina Benteng, warna merah dinilai mengan- dung arti keberuntungan dan kebahagiaan. Oleh sebab itu setiap ornamen, warna kuil, baju, lilin dan lain sebagainya selalu berwarna merah. War-na merah juga simbol kebera-nian dan kesucian, ini meng- andung arti bahwa pada da-sarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan memiliki jiwa keberanian.

3. Sesaji dalam upacara perkawinan terdiri atas kue mangkok, onde-onde, dan serabi yang merupakan simbol pe-rempuan. Kue-kue tersebut berbentuk bulat dan merekah seperti simbol perempuan. Adapun simbol laki-laki biasa-nya digambarkan seperti bu-ah pisang.

4. Sesaji sam seng terdiri atas ikan bandeng, babi dan ayam Ini melambangkan keadaan alam yang ditempati oleh ma-nusia yakni udara (ayam), air (ikan bandeng) dan tanah (babi). Ayam meskipun he-wan yang hidup di darat, tapi mempunyai sayap untuk ter-bang, sedangkan ikan ban-deng hidup di air, dan babi hidup di darat. Makna yang terkandung dalam sesaji ter-sebut agar manusia tidak me-niru perilaku ketiga binatang tersebut. Ayam suka berke-lahi dengan sesamanya bere-but makanan, babi merupa-kan binatang pemalas yang kerjanya hanya tidur dan ma-kan serta ikan bandeng di-gambarkan seperti ular ber-sisik yang jahat.

5. Makanan yang tersaji biasa-nya terdiri atas mie dan mani-san. Mie karena berbentuk panjang maka merupakan simbol panjang umur dan ma-nisan buah merupakan sim-bol manisnya penghidupan. Pesan yang ingin disampai-kan adalah agar pengantin panjang umur dan menge-nyam manisnya penghidupan, dijauhkan dari segala bahaya dan mala petaka.

6. Jenis manisan buah terdiri atas buah beligo yang artinya ketulusan hati, kolang kaling memiliki makna harus ingat pada leluhur, belimbing ber-makna ketajaman berpikir dan buah mantep bermakna harus mantap hatinya dalam mengarungi hidup baru.

7. Beberapa bunga yang selalu tersedia dalam sesaji adalah bunga ros dan bunga seruni. Bunga ros adalah bunga ma-war yang memiliki banyak warna dan sangat disukai pa-ra dewi kahyangan, sebagai simbol kejayaan yang meng-harumkan nama kerajaan. Pesan yang ingin disampai-kan adalah agar pengantin kelak hidupnya bahagia, jaya dan harum namanya. Adapun bunga seruni adalah bunga yang tidak begitu indah tapi tahan lama (awet). Bunga ini sebagai simbol kesederhaan dan memiliki daya tahan atau kekuatan dalam menghadapi segala cobaan atau badai kehidupan.

8. Selain sesaji ada beberapa pantangan seperti orang ha-mil tidak boleh membunuh binatang, takut anaknya ca-cat. Jika keluar rumah ibu hamil harus membawa peniti, gunting kecil atau pisau lipat agar terhindar dari gangguan mahluk jahat. Pesan yang ingin disampaikan agar ibu hamil berhati-hati dalam men-jaga kehamilannya. Juga adanya pantangan pada hari raya Imlek untuk tidak me-nyapu rumah, lantai, dan halaman, agar rejekinya tidak terusir dan hilang. Selain itu juga tidak boleh membuat makanan berkuah agar tidak mengalami kehujanan di jalan.

9. Masyarakat Cina Benteng seperti halnya masyarakat Tionghoa selalu melaksanakan doa dengan hio dan lilin, de-ngan maksud agar doa yang dipanjatkan diterima oleh Tu-han. Asap hio yang dinyala-kan membumbung ke atas, hal ini menyiratkan bahwa doa yang dipanjatkan terbawa sampai ke atas dan diterima oleh-Nya.

10.Sesaji lain adalah air. Air me-rupakan simbol kehidupan. Masyarakat Cina Benteng sa-ngat percaya bahwa kita ha-rus minum air agar tetap hidup, oleh sebab itu harus ti-dak boleh lupa pada sum-bernya yakni sungai dan laut. Pesan yang ingin disampai-kan adalah kita harus tidak lupa pada para leluhur atau orang tua pendahulu .

Demikianlah sesaji dan lara-ngan (tabu) yang terdapat pada upacara atau perayaan keaga-maan yang dilakukan masyara-kat Cina Benteng. Jika dikaji lebih dalam maka terdapat nilai-nilai luhur untuk menanamkan budi pekerti serta pengendalian sosial bagi warga masyarakat-nya. Nili-nilai ini misalnya mengi-ngatkan manusia akan kebesa-ran Tuhan, menghormati para leluhur dan selalu ingat tentang asal usulnya. Hal ini baik untuk menanamkan budi pekerti/ pen-didikan dan sekaligus sebagai pedoman perilaku dan kontrol sosial bagi masyarakat pendu-kungnya, dalam hal ini Cina Benteng.

Sebagaimana umumnya, se-tiap komuniti atau masyarakat dapat terpelihara karena adanya pengendalian sosial yang meng-atur ketertiban pola ting-kah laku atau interaksi sosial warga ma-syarakatnya.Pengendalian sosial ini dapat terwujud dari sistem kepercayaan, nilai, dan tata cara yang mengatur dan mengarah-kan perilaku masyarakatnya secara tertib. Sistem pengendalian sosial ini tercakup pengetahuan secara empiris dan non empiris. Pengetahuan non empiris dikaitkan dengan dunia gaib, keper-cayaan, dan mitologi.

Penutup
Apa yang dikemukakan ten-tang upacara yang berkaitan de-ngan daur hidup dan perayaan agama pada masyarakat Cina Benteng, dikatakan bahwa ma-syarakat tersebut masih meme-gang teguh adat kebiasaan mereka tentang naluri atau tradisi yang telah diwariskan turun te-murun dari generasi sebelum-nya. Prosesi upacara yang dilak-sanakan memang tidak terlalu besar, tapi tetap dilakukan dengan khidmat tanpa meninggal-kan esensi dari tujuan upacara tersebut. Kepercayaannya terhadap leluhur, roh-roh halus, ter-masuk di sini Tuhan YME, merupakan manifestasi keteguhan hati yang berakar kuat di sanubari masyarakat Cina Benteng, Sebagai etnik minoritas yang tinggal di Indonesia, mereka tetap melakukan tradisi atau adat istiadat bangsanya. Memang dalam suatu masyarakat memiliki kebudayaan atau tradisi tertentu dan cara berpikir yang tidak bisa dipisahkan dari ling-kungan alam. Irama alam merupa-kan irama hidup masyarakat, mereka terikat secara akrab de-ngan alam semesta dan kekuatan-kekuatannya. Orang selalu ber-partisipasi dengan irama alam dan secara mental mereka tidak lepas dari kekuatannya (Mulder, 1973:66).

Menyimak upacara yang dila-kukan oleh masyarakat Cina Benteng, maka akan dikemu-kakan 2 hal penting, yakni arti dan fungsi upacara pada kehi-dupan mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa upacara memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat Cina Benteng karena :

1. Merupakan tradisi yang turun temurun dari generasi sebe-lumnya yang diwariskan pada generasi berikutnya.

2. Merupakan kepercayaan masyarakat Tionghoa yang memiliki prinsip ha-rus ingat asal-usul seperti "kalau minum air jangan lupa sumbernya", hal tersebut dimaknai juga bahwa kita harus ingat pada asal usulnya yakni pada orang tua, para leluhur, dan Tuhan YME.

3. Upacara sebagai katarsis artinya mereka selalu melaksanakan tradisi leluhur, karena jika tidak melakukan takut terkena ku-tukan, mala petaka dan hati menjadi tidak tenang.

4. Keterkaitan pada alam semesta yang dipercaya memiliki ke-kuatan-kekuatan atau spirit di luar kemampuan manusia (ke-kuatan gaib), sehingga manu-sia perlu menjaga keseim-bangan dan keharmonisan antara dunia sana dengan dunia sini.

Adapun untuk fungsi upacara tradisional pada masyarakat Cina Benteng bisa dilihat pada fungsi spiritual dan sosial. Ber-fungsi spiritual karena dalam pelaksanaan upacara selalu berhubungan dengan permohonan manusia untuk minta keselamatan pada leluhur atau Tuhannya. Dengan kata lain upacara ter-sebut membangkitkan emosi keagamaan, menimbulkan rasa aman, tenang, tentram dan sela-mat. Berfungsi sosial karena dalam pelaksanaan upacara bisa di-gunakan sebagai sarana kontrol sosial, kontak sosial, integrasi dan komunikasi antar warganya, sehingga bisa mewujudkan rasa kebersamaan, gotong royong, persatuan dan solidaritas. Terlihat jika ada upacara perkawinan hampir semua keluarga dan sanak saudara berdatangan untuk mem-berikan sumbangan. Ada keunikan pada masyarakat Cina Benteng, baik suami maupun istri masing-masing memberi sumbangan. Sebagai gambaran saat sekarang besarnya sumbangan kurang lebih Rp 50.000,00 (tahun 2003). Sumbangan ini akan dikembalikan lagi jika yang memberi sumbangan mempunyai hajat. Hubungan antar keluarga Cina Benteng sangat kuat sekali, mereka saling membantu. Terlebih jika masih ada hubungan keluarga maka sumbangan yang diberikan dalam bentuk barang misalnya sem-bako, telur 1 peti, kambing 1 ekor dan lain sebagainya. Keber-samaan ini mereka wujudkan dalam pelaksanaan berbagai pe-rayaan atau upacara.

Daftar Pustaka

Budhi Santoso, Analisis Kebudayaan. Penerbit Departemen Pendidi-kan dan Kebudayaan tahun lv no 2 Jakarta, 1984.

Budi Puspo Priyadi, ”Upacara Pemujaan Leluhur, Craddha dan Nya-dran", Bullrtin Antropologi no 15 tahun V Yogyakarta.1989.

Irwan Arti Simbolis Gunungan Kakung pada Upacara Garebeg. Penerbit Fakultas Sastra UGM Yogyakarta, 1986.

Mulder, The Forest of Symbolis. Cornel University Press 1973.

Dra. Ani Rostiyati adalah Tenaga Peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni, dan Film. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

Sumber :
Budhiracana Vol. 10/No.1 2005 Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

http://wisatadanbudaya.blogspot.com

Asal Usul Nama Subang

Oleh Drs. T. Dibyo Harsono, M. Hum.

A. PENDAHULUAN
Sumber-sumber yang dapat dijadikan acuan tentang asal usul nama Subang adalah dari ceritera rakyat (folklor) serta tulisan-tulisan sejarah atau ingatan kolektif masyarakat Subang. Ada beberapa versi tentang asal usul nama Subang, namun sampai saat ini belum ada yang bisa dijadikan sebagai data toponimi daerah Subang.

Berdasarkan pada ceritera rakyat yang ada dan berkembang di tengah masyarakat, kata Subang berasal dari nama seorang wanita seperti tersebut dalam Babad Siliwangi, yakni Subanglarang atau Subangkarancang. Hal tersebut dikuatkan dengan adanya ceritera atau kisah yang terdapat dalam Babad Pajajaran. Babad Pajajaran mengisahkan bahwa di daerah Karawang terdapat sebuah pesantren yang diasuh oleh Syeh Datuk Quro, pada waktu itu salah satu santri perempuan yang belajar di pesantren tersebut bernama Subanglarang atau Subangkarancang, yang merupakan putri dari Ki Jamajan Jati. Dengan berjalannya waktu putri Subanglarang dipersunting oleh Raden Pamanahrasa yang bergelar Prabu Siliwangi sebagai raja Pajajaran, dari hasil perkawinan tersebut lahir dua orang anak yang diberi nama Raden Walangsungsang dan Ratu Rarasantang.

Kata Subang juga berasal dari kata Subang yang merupakan nama daerah yang ada di Kuningan. Pada masa beroperasinya perusahaan yang mengelola perkebunan yakni P & T Land yang dipimpin oleh PW. Hofland, yang merupakan orang Belanda penguasa perkebunan karet, kopi, teh, tebu di daerah tersebut. Untuk mengelola perkebunan tersebut diperlukan tenaga kerja yang sangat banyak, maka didatangkan para pekerja dari berbagai daerah antara lain dari daerah Subang Kuningan. Penduduk Subang pada saat itu belum sebanyak saat ini, para pendatang tadi selanjutnya mendirikan sebuah perkampungan atau pemukiman di sekitar pabrik yang kemudian dikenal dengan nama Babakan atau Kampung Subang, sesuai dengan nama asal tempat tinggal mereka.

Versi lain dari ceritera rakyat mengatakan bahwa kata Subang berasal dari kata Suweng. Suweng merupakan istilah untuk menyebut perhiasan yang dipakai wanita di daun telinganya, atau biasa disebut juga dengan kata anting. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa kata Subang berasal dari kata Kubang, berdasarkan pada ceritera rakyat dikisahkan bahwa di daerah Subang tepatnya di daerah Rawabadak terdapat kubangan atau rawa tempat mandi badak. Kemungkinan adanya hewan badak di daerah Subang secara ilmiah belum ada bukti artefak yang ditemukan, namun di masa Subang purba hal tersebut mungkin saja terjadi. Sementara itu pendapat tentang kata Suweng dan Kubang mungkin hanyalah kekurangjelasan dalam melafalkan atau mengucapkan kata tersebut.

Subang sebagai nama suatu daerah atau nama tempat dan juga nama sebuah gunung, baru dikenal antara abad ke-17 dan abad ke-18, sebagaimana ditulis oleh De Haan (1912: 296) seperti tersebut berikut ini: Pada tanggal 6 Oktober 1692, Couper (komandan tentara kompeni) berhasil memukul mundur pasukan Surapati, sebanyak 160 orang prajurit pengikut Surapati melarikan diri ke Madura, 50 orang melarikan diri ke Banyumas dan Bagelen, sedangkan pasukan Van Happel dari Imbanegara menuju Dayeuhluhur melintasi Cijolang terus melewati Subang kembali ke Cirebon. Pada bagian lain di halaman 336 De Haan pun menulis: Pada perjanjian tanggal 5 Oktober 1705 antara Mataram dengan Kompeni Belanda, Sunan Kartasura menyerahkan kepada Gubernur Jenderal De Jonge daerah-daerah pesisir pulau Jawa dari barat ke timur pegunungan Dayiloer (Dayeuhluhur) sampai gunung Sumana atau Subang.

B. GEOGRAFIS
Terbentuknya Kabupaten Subang serta batas-batas daerah berdasarkan pada Undang Undang Nomor 4 tahun 1968, yakni Undang Undang tentang pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang, dengan mengubah Undang Undang Nomor 14 tahun 1950 tentang pembentukan daerah kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat. Undang Undang Nomor 4 tahun 1968 diundangkan tanggal 29 Juni 1968 dan dimasukkan ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1968 Nomor 31.

Kabupaten Subang secara geografis terletak di bagian utara dari Propinsi Jawa Barat yaitu pada posisi 107°31¹ - 107º54¹ Bujur Timur dan 6º11¹ - 6º49¹ Lintang Selatan. Berdasarkan Undang Undang Nomor 4 tahun 1968 daerah Kabupaten Subang berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, dengan Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang di sebelah timur, dengan Kabupaten Bandung di sebelah selatan, dengan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang di sebelah barat. Sementara itu luas wilayah Kabupaten Subang adalah 205.166,95 hektar atau 1.888,79 kilometer persegi. Wilayah Subang 4,64% dari luas Propinsi Jawa Barat, yang bisa dipilah menjadi tiga bagian atau tiga kategori:

1.Daerah pantai di bagian utara meliputi Kecamatan Pamanukan, yang memiliki luas wilayah 81,71 kilometer persegi. Kecamatan Pusakanagara dengan luas wilayah 103,52 kilometer persegi. Kecamatan Ciasem dengan luas wilayah 117,19 kilometer persegi. Kecamatan Blanakan dengan luas wilayah 97,15 kilometer persegi. Kecamatan Legonkulon dengan luas wilayah 85,22 kilometer persegi.

2.Daerah dataran di bagian tengah meliputi wilayah Kecamatan Subang dengan luas 54,67 kilometer persegi. Kecamatan Kalijati dengan luas wilayah 129,14 kilometer persegi. Kecamatan Cikaum dengan luas wilayah 92, 80 kilometer persegi. Kecamatan Cipeundeuy dengan luas wilayah 111,14 kilometer persegi. Kecamatan Purwadadi dengan luas wilayah 87,89 kilometer persegi. Kecamatan Pabuaran dengan luas wilayah 99,51 kilometer persegi. Kecamatan Patokbeusi dengan luas wilayah 80,62 kilometer persegi. Kecamatan Pagaden dengan luas wilayah 82,94 kilometer persegi. Kecamatan Cipunagara dengan luas wilayah 100,73 kilometer persegi. Kecamatan Compreng dengan luas wilayah 68,66 kilometer persegi. Kecamatan Binong dengan luas wilayah 105,56 kilometer persegi. Kecamatan Cibogo dengan luas wilayah 54,27 kilometer persegi.

3.Daerah dataran tinggi atau pegunungan di bagian selatan meliputi wilayah Kecamatan Cijambe, dengan luas wilayah 108,25 kilometer persegi. Kecamatan Jalancagak dengan luas wilayah 103,05 kilometer persegi. Kecamatan Sagalaherang dengan luas wilayah 102,24 kilometer persegi. Kecamatan Cisalak dengan luas wilayah 102,81 kilometer persegi. Kecamatan tanjungsiang dengan luas wilayah 82,69 kilometer persegi.

Ketinggian daerah Kabupaten Subang terdiri dari beberapa kategori antara lain: daerah pantai dengan ketinggian antara 0 meter sampai dengan 50 meter dpl (di atas permukaan laut), dengan luas wilayah 92.939,7 hektar atau 45,15% dari seluruh wilayah Kabupaten Subang. Daerah dataran dengan ketinggian antara 50 meter sampai dengan 500 meter dpl, dengan luas wilayah 71.502,16 hektar atau 38,85% dari seluruh wilayah Kabupaten Subang. Daerah pegunungan dengan ketinggian antara 500 meter sampai dengan 1500 meter dpl, dengan luas wilayah 41.035,09 hektar atau 20% dari wilayah Kabupaten Subang.

Kemiringan daerah di Kabupaten Subang 80,80% memiliki tingkat kemiringan 0º sampai dengan 17º, sedangkan sisanya mempunyai tingkat kemiringan 18º.

Secara umum daerah Kabupaten Subang memiliki iklim tropis dengan curah hujan 1.593 milimeter rata-rata per tahun, dengan rata-rata hujan selama 91 hari. Iklim seperti ini dengan ditunjang adanya lahan yang subur dan banyaknya aliran sungai, menjadikan sebagian besar daerah Subang bertumpu pada sektor agraris atau pertanian. Daerah Kabupaten Subang dibatasi oleh batas alam yang berupa dua sungai yakni Sungai Cilamaya di sebelah barat dan Sungai Cipunagara di sebelah timur, kedua sungai tadi bermuara di laut Jawa.

C. DEMOGRAFI DAN PEMERINTAHAN
Pada tahun 1970 jumlah penduduk Kabupaten Subang mencapai 898.448 jiwa, sedangkan tahun 1980 jumlah penduduk meningkat menjadi 1.065.251 jiwa, dan tahun 1990 jumlah penduduk naik lagi menjadi 1.206.664 jiwa. Pemerintah daerah Kabupaten Subang telah berupaya menggalakkan program keluarga berencana (KB) untuk menekan laju pertumbuhan penduduk tadi. Sebagian besar penduduk berdomisili atau bertempat tinggal di Kecamatan Subang, dengan tingkat kepadatan1.780 jiwa per kilometer persegi. Sementara itu kepadatan penduduk yang terendah ada di Kecamatan Cipeundeuy, dengan tingkat kepadatan 320 jiwa per kilometer persegi. Hal ini menandakan bahwa persebaran penduduk di Kabupaten Subang belum merata, untuk itu perlu adanya penyebaran pembangunan yang merata.

Secara administratif pemerintah daerah Kabupaten Subang membagi wilayahnya menjadi 20 kecamatan, 2 perwakilan kecamatan, 242 desa, dan 8 kelurahan yang termasuk ke dalam 4 wilayah kerja pembantu bupati. Pada masa orde baru pembinaan wilayah Pemerintah Daerah Kabupaten Subang mengelompokkan kecamatan dalam empat Wilayah Pembantu Penghubung Bupati yaitu:

1.Wilayah I Subang, yang membawahi Kecamatan Subang, Kecamatan Pagaden, dan Kecamatan Kalijati.

2.Wilayah II Pamanukan, yang membawahi Kecamatan Pamanukan, Kecamatan Binong, dan Kecamatan Pusakanagara.

3.Wilayah III Ciasem, yang membawahi Kecamatan Ciasem, Kecamatan Pabuaran, dan Kecamatan Purwadadi.

4.Wilayah IV Sagalaherang, yang membawahi Kecamatan Sagalaherang dan Kecamatan Cisalak.

Program pembangunan terus dipacu dengan mengarahkan daerah untuk mengembangkan potensi daerah masing-masing, seperti yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Subang yakni:

1.Daerah Pembangunan A, meliputi Kecamatan Cisalak, Sagalaherang, Subang, dan Kalijati. Pembangunan di daerah ini diarahkan pada usaha-usaha perkebunan dan perikanan darat, dan mengarah pada perkembangan industri yang menunjang pada usaha-usaha perkebunan dan perikanan.

2.Daerah Pembangunan B, meliputi Kecamatan Purwadadi, Pagaden, Binong, dan Pabuaran. Program pembangunan diarahkan pada usaha peningkatan produksi pangan, khususnya beras, palawija, dan hasil ternak melalui intensifikasi areal pertanian.

3.Daerah Pembangunan C, meliputi wilayah Kecamatan Pusakanagara, Pamanukan, dan Ciasem. Program pembangunan diarahkan pada kegiatan-kegiatan industri, perdagangan, dan perikanan laut, dengan pusat kegiatan di Pamanukan.

D. KESENIAN TRADISIONAL

1. Kesenian Sisingaan
a. Asal-usul dan perkembangan

Kesenian Sisingaan adalah jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang, kesenian ini mempunyai ciri khas atau identitas sepasang patung sisingaan atau binatang yang menyerupai singa.

Sisingaan mulai muncul pada saat kaum penjajah menguasai Subang, yakni pada masa pemerintahan Belanda tahun 1812. Subang pada saat itu dikenal dengan Doble Bestuur, dan dijadikan kawasan perkebunan di bawah perusahaan P & T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden). Pada saat Subang di bawah kekuasaan Belanda, masyarakat setempat mulai diperkenalkan dengan lambang negara Belanda yakni crown atau mahkota kerajaan. Dalam waktu yang bersamaan daerah Subang juga di bawah kekuasaan Inggris, yang memperkenalkan lambang negaranya yakni singa. Sehingga secara administratif daerah Subang terbagi dalam dua bagian, yakni secara politis dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris.

Masyarakat Subang saat itu mendapatkan tekanan secara politis, ekonomis, sosial, dan budaya dari pihak Belanda maupun Inggris. Namun masyarakat tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan, perlawanan tersebut tidak hanya berupa perlawanan fisik, namun juga perlawanan yang diwujudkan dalam bentuk kesenian. Bentuk kesenian tersebut mengandung silib (yakni pembicaraan yang tidak langsung pada maksud dan tujuan), sindir (ironi atau sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan), siloka (kiasan atau melambangkan), sasmita (contoh cerita yang mengandung arti atau makna). Dengan demikian masyarakat Subang bisa mengekspresikan atau mewujudkan perasaan mereka secara terselubung, melalui sindiran, perumpamaan yang terjadi atau yang menjadi kenyataan pada saat itu. Salah satu perwujudan atau bentuk ekspresi masyarakat Subang, dengan menciptakan salah satu bentuk kesenian yang kemudian dikenal dengan nama sisingaan.

Kesenian sisingaan merupakan bentuk ungkapan rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan, atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada pihak penjajah. Perwujudan dari rasa ketidaksenangan tersebut digambarkan dalam bentuk sepasang sisingaan, yaitu melambangkan kaum penjajah Belanda dan Inggris. Kedua Negara penjajah tersebut menindas masyarakat Subang, yang dianggap bodoh dan dalam kondisi miskin, sehingga para seniman berharap suatu saat nanti generasi muda harus bisa bangkit, mengusir penjajah dari tanah air dan masyarakat bisa menikmati kehidupan yang sejahtera.

Kesenian sisingaan secara garis besarnya terdiri dari 4 orang pengusung sisingaan sepasang patung sisingaan, penunggang sisingaan, waditra nayaga, dan sinden atau juru kawih. Secara filosofis 4 orang pengusung sisingaan melambangkan masyarakat pribumi/terjajah/tertindas, sepasang patung sisingaan melambangkan kedua penjajah yakni Belanda dan Inggris, sedangkan penunggang sisingaan melambangkan generasi muda yang nantinya harus mampu mengusir penjajah, nayaga melambangkan masyarakat yang bergembira atau masyarakat yang berjuang dan memberi motivasi/semangat kepada generasi muda untuk dapat mengalahkan serta mengusir penjajah dari daerah mereka.

Kesenian sisingaan yang diciptakan oleh para seniman pada saat itu, sangat tepat dan jitu menggunakan sisingaan sebagai sarana/perwujudan/alat perjuangan, dalam melepaskan diri dari tekanan kaum penjajah. Sementara itu pihak kaum penjajah tidak merasa disindir, tidak terusik, akan tetapi malah merasa bangga melihat kesenian sisingaan, karena lambang negara mereka (singa) dijadikan sebagai bentuk kesenian rakyat. Pihak penjajah hanya memahami bahwa kesenian sisingaan merupakan karya seni hasil kreativitas masyarakat secara spontan, sangat sederhana untuk sarana hiburan pada saat ada hajatan khitanan anak. Padahal maksud masyarakat Subang tidaklah demikian, dengan menggunakan lambang kebesaran Negara mereka, kemudian ada seorang anak yang naik di atasnya dengan menjambak rambut sisingaan, merupakan salah bentuk ekspresi kebencian kepada kaum penjajah.

Pada awal terbentuknya sisingaan tidak seperti sisingaan pada saat sekarang ini, cikal bakal sisingaan sekarang yakni singa abrug. Disebut dengan singa abrug karena patung singa ini dimainkan dengan cara diusung, dan pengusungnya aktif menari, sedangkan singa abrug tersebut digerakkan ke sana kemari seperti hendak diadu. Singa abrug untuk pertama kalinya berkembang di daerah Tambakan, Kecamatan Jalancagak.

Pada zaman dahulu sisingaan atau singa abrug dibuat dengan sangat sederhana, bagian muka atau kepala sisingaan terbuat dari kayu yang ringan seperti kayu randu atau albasia, rambut terbuat dari bunga atau daun kaso dan daun pinus. Sedangkan badan sisingaan terbuat dari carangka (keranjang atau anyaman bambu) yang besar dan ditutupi dengan karung kadut (karung goni) atau terbuat dari kayu yang masih utuh atau kayu gelondongan. Untuk usungan sisingaan terbuat dari bambu untuk bisa dipikul oleh 4 orang. Proses pembuatan sisingaan biasanya dilakuakan secara bersama-sama, secara gotong royong oleh masyarakat.

Waditra pada masa itu sangat sederhana, hanya memakai beberapa alat musik saja (seperti beberapa angklung pentatonis berlaras salendro), namun kemudian berkembang seperti saat ini. Adapun peralatan musik tersebut antara lain:

- 2 buah angklung galimer

- 2 buah angklung indung

- 2 buah angklung pancer

- 2 buah angklung rael

- 2 buah angklung ambrug

- 1 buah angklung engklok

- 1 buah terompet

- 2 buah dogdog lonjor

- 1 buah bedug

- 3 buah terbang

Sementara itu lagu-lagu yang dinyanyikan pada masa itu antara lain lagu badud samping butut, manuk hideung, sireum beureum, dan lain-lain. Sedangkan untuk lagu pembuka biasanya menampilkan lagu tunggul kawung. Apabila yang mempunyai adalah tokoh agama/ulama, maka lagu yang disajikan biasanya lagu yang bernuansa Islami atau shalawat nabi.

Pengusung sisingaan biasanya dari warga masyarakat, karena pada saat itu belum terbentuk kelompok atau grup kesenian sisingaan, diantara mereka masih saling meminjam sisingaan. Gerakannya pun masih sangat sederhana dan dilakukan secara spontan, namun tidak menghilangkan gerakan yang mengandung makna heroik, atau gerak yang melambangkan keberanian dalam menghadapi musuh. Gerakan yang ditampilkan saat pertunjukan pada saat itu adalah tendangan, lompatan, mincid, dan dorong sapi. Sedangkan busana atau pakaian yang dikenakan oleh pengusung sisingaan pada saat itu hanya mengenakan kampret, pangsi, iket seperti masyarakat umumnya. Sedangkan kalau yang hajatan dari masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, busana yang dikenakan antara lain baju takwa, sinjang lancar, iket. Kemudian pada sekitar tahun 1960 an, busana pengusung sisingaan mulai mengalami perkembangan dan penyesuaian, seperti perubahan warna yang mencolok dan bahan pakaian yang cukup baik.

Busana-busana yang mengalami perkembangan dan bervariasi dapat dilihat dari yang dikenakan oleh para penari yang ikut dalam meramaikan pertunjukan, bahkan penonton yang tertarik dapat ikut menari di depan sisingaan secara spontan. Baik yang yang ikut dari awal atau saat sisingaan melewati tempat mereka atau kampong mereka. Sehingga kesenian sisingaan bisa dikatakan sebagai kesenian tradisional, kesenian rakyat yang bersifat terbuka, umum, dan spontan.

Pada bulan Juli tahun 1968 kesenian sisingaan mulai dimasukkan unsure ketuk tilu dan silat. Hal ini dapat dilihat dari penggabungan atau kerjasama waditra yakni adanya tambahan dua buah gendang besar (gendang indung), terompet, tiga buah ketuk, dan sebuah kulanter (gendang kecil), bende (gong kecil), serta kecrek. Patung sisingaan pun mulai ada perubahan yang cukup besar dan mendasar.

Untuk mengetahui perkembangan sisingaan ada beberapa bukti pergelaran pada masa lalu antara lain, pada awal terbentuknya sisingaan sering ditampilkan pada saat upacara peringatan hari ulang tahun P & T Lands. Sehingga kesenian ini semakin dikenal luas, meskipun belum terbentuk kelompok resmi kesenian sisingaan.

Pada masa setelah kemerdekaan, pada masa orde baru, seniman sisingaan mulai mengangkat atau menggali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kesenian sisingaan, seiring dengan kreativitas seniman dalam menuangkan inspirasinya. Kemudian mulai bermunculan kelompok-kelompok kesenian sisingaan baru dengan kreasi-kreasi baru, namun demikian tetap masih ada koreografer-koreografer tradisional yang masih mendasarkan pada naluri atau tradisi dalam menggarap kesenian sisingaan.

Penyebutan sisingaan kadang-kadang berbeda di setiap daerah/wilayah, hal ini disesuaikan dengan yang mereka lihat dan mereka dengar. Kawasan Subang utara menyebut sisingaan dengan istilah pergosi atau Persatuan Gotong Sisingaan. Kemudian daerah lain menyebut sisingaan dengan istilah odong-odong, citot, kuda depok, kuda ungkleuk, kukudaan, kuda singa, singa depok.

Atas prakarsa para seniman sisingaan maka pada tanggal 5 Januari tahun 1988, diselenggarakan seminar kesenian sisingaan. Hasil seminar tersebut memutuskan untuk pembakuan dan penyeragaman dalam penyebutan sisingaan. Juga adanya keputusan bahwa sepasang sisingaan adalah melambangkan dua penjajah, dan melambangkan kekuatan, kekuasaan, kebodohan, serta kemiskinan.

Kesenian sisingaan mulai diperkenalkan ke tingkat nasional pada saat penyambutan kedatangan Presiden Soeharto, pada saat hari Krida Tani tahun 1968 di Balanakan. Semenjak saat itu sisingaan mulai ditetapkan, difungsikan sebagai kesenian untuk menyambut tamu terhormat/tamu kehormatan. Untuk mengangkat kesenian sisingaan Subang, para seniman mengubah sisingaan dari bentuk helaran ke bentuk pergelaran arena.

Even lain yang semakin memunculkan sisingaan yakni saat tahun 1971 saat penyelenggaraan Jakarta Fair, kesenian ini dipentaskan di panggung kesenian acara tersebut. Kemudian pada tahun 1972 dipentaskan di Istana Bogor, pada tahun 1973 dipentaskan di Istana Negara, tahun 1981 menjadi duta seni Indonesia di Hongkong dan menjadi juara pertama. Pada tahun 1991 sisingaan diminta oleh panitia terjun paying internasional untuk mengadakan pergelaran di Jakarta. Kemudian pemerintah daerah secara rutin menyelenggarakan festivial sisingaan setiap tahun, sehingga saat ini kesenian sisingaan tidak hanya menjadi milik masyarakat Subang, namun sudah menjadi milik nasional.

b. Fungsi Sisingaan
Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini juga mengalami perkembangan secara keseluruhan, baik dari bentuk patung sisingaan, waditra, busana, dan fungsi sisingaan. Sehingga bisa dikatakan bahwa kesenian ini juga bersifat dinamis, mengikuti perkembangan zaman, dan menyesuaikan dengan perubahan zaman.

Pada awal terbentuknya kesenian sisingaan terbatas hanya untuk sarana hiburan pada saat anak dikhitan, dengan cara melakukan helaran keliling kampung. Namun pada saat ini kesenian sisingaan mempunyai fungsi yang beragam antara lain untuk prosesi penyambutan tamu terhormat, dengan jalan naik di atas sisingaan. Fungsi lain yakni untuk menyambut atlit yang berhasil memenangkan suatu pertandingan, bisa ditampilkan secara eksklusif berdasarkan permintaan.

c. Pertunjukan atau Penyajian Sisingaan
Secara geografis Kabupaten terbagi menjadi tiga kondisi wilayah yakni wilayah pegunungan (tonggoh), wilayah dataran rendah (tengah), dan wilayah pantai (hilir). Secara mendasar letak geografis tersebut berpengaruh terhadap perkembangan kesenian sisingaan. Hal ini dapat dilihat pada penampilan sisingaan dari tiga daerah tersebut, sisingaan dari daerah pegunungan (tonggoh) dan wilayah dataran (tengah) banyak memiliki kesamaan baik unsur tari, unsur waditra, maupun patung sisingaannya. Namun kalau memperhatikan sisingaan hilir, ketiga unsur tersebut sudah banyak mengalami perubahan. Hal tersebut karena adanya pengaruh masyarakat yang sudah majemuk, sehingga pola pikir masyarakat pesisir lebih terbuka dalam menerima masuknya kebudayaan luar.

Kesenian sisingaan merupakan bentuk ekspresi jiwa masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis alam, hasrat, dan emosi. Hal tersebut berkaitan erat dengan unsur sisingaan yang terdiri dari unsur tari (koreografi), unsur waditra (karawitan), dan sinden (juru kawih), serta unsur seni rupa dan busana pengusung.

d. Unsur Tari
Pengusung sisingaan harus memiliki kekompakan, keseragaman gerak, dan keluwesan dalam menari untuk memberikan tampilan keindahan yang menarik. Unsur tari sisingaan terdiri dari tiga bagian yakni:

1. Naekeun, yakni gerak tari yang pertama kali dilakukan untuk mengangkat anak yang dikhitan ke atas sisingaan. Gerak tari naekeun terdiri dari beberapa gerakan antara lain, pasang yaitu bersiap dan memasang kuda-kuda pada saat sisingaan berada di pundak. Gobyog, yakni gerakan naik turun sisingaan kemudian berlari. Najong, yaitu melakukan tendangan kaki dan meletakkan sisingaan. Silat tepak tilu, yaitu melakukan gerakan silat menangkis, menendang, memukul, dan mengunci. Depok tungkul, yakni menaikkan anak yang dikhitan ke atas sisingaan. Kidung yakni melagukan kidung yang diikuti dengan tarian, menendang, dan memiringkan badan ke kanan dan ke kiri. Ewag, yakni menyanyikan lagu kidung yang diikuti dengan gerak tarian. Mincid, yakni gerakan memindahkan usungan sisingaan dari pundak sambil memutarkan kepala. Solor, yakni melakukan gerakan maju mundur, yang diakhiri dengan gerakan tendangan. Mincid badag, yakni gerakan atau tarian dengan diikuti suara gendang yang lebih keras dan sambil melakukan tendangan.

2. Helaran, yaitu pergelaran/pagelaran yang dilakukan dengan cara berkeliling, atau sesuai dengan rute jalan yang telah ditentukan. Dalam kesenian sisingaan, helaran merupakan salah satu unsur yang harus dilaksanakan, karena hal ini telah menjadi ketentuan. Pada saat helaran para pengusung melakukan gerakan tari dengan menjaga kekompakan, saling memperhatikan gerakan satu pengusung dengan pengusung lainnya. Gerak tari yang dilakukan dalam helaran antara lain: mincid yaitu melakukan gerakan seperti berlari kecil dan diiringi dengan musik. Mincid terbagi dua yakni mincid badag (mengangkat kaki lebih tinggi dengan irama musik keras), mincid sedeng (gerakan kaki ringan dan irama musik bertempo sedang). Najong, yakni gerakan menendangkan kaki ke depan, ke samping sesuai dengan irama gendang. Gopar/bangkaret, yakni gerakan menendang tapi ditarik kembali sebatas lutut. Meresan, yakni berjalan kecil-kecil sesuai dengan irama musik. Mars/incek, yakni berjalan kecil-kecil seiring irama yang cepat tapi halus. Ewag, yakni gerak tari yang diikuti oleh lagu kangsreng. Gerak jaipong, yakni gerakan yang divariasikan dengan tarian jaipong di awal. Solor, yakni gerakan yang dilakukan dengan lari, lalu menghentakkan kaki ke tanah (nenjrag). Mincid badag/mincid ngabrag, gerakan untuk lebih mempercepat helaran dengan menghentakkan kaki ke tanah.

3. Atraksi/demonstrasi, merupakan variasi gerak dan tari pada sisingaan yang dilakukan untuk lebih menyemarakkan dan mempunyai daya tarik. Dengan demikian penonton semakin takjub, terpukau melihat penampilan ini. Gerak dan tari yang ditampilkan dalam atraksi/demonstrasi antara lain: bubuka gebrag, yakni membuka gerakan dengan cara meloncat dan menggebrak sambil mengangkat sisingaan. Gobyog, yakni gerak naik turun sisingaan, kemudian berlari. Najong, yakni menendangkan kaki ke depan dan ke samping, sesuai dengan irama gendang. Silat tepak tilu, yakni melakukan gerakan silat menangkis, menendang, memukul, dan mengunci. Kidung depok, yakni gerak tari yang diakhiri dengan berlutut, dengan irama yang lambat. Cisanggean, yakni gerakan penghubung antar atraksi. Ewag/ewag depok, yakni menyanyikan lagu kidung yang diikuti dengan gerak tari. Ewag luhur, yakni menyanyikan lagu kangsreng yang diikuti dengan gerak tari dan sisingaan diangkat. Mincid sedeng, yakni gerakan kaki ringan dan irama musik bertempo sedang. Mincid variasi, yakni gerakan memindahkan sisingaan untuk berpindah pundak. Mincid solor, yakni gerakan yang dilakukan setelah ewag dalam lagu kangsreng dan lagu polos. Gondang, yakni gerakan mundur perlahan-lahan lalu menggebrak dan menyerang sambil meloncat, kemudian telungkup. Bukaan jaipong, yakni memadukan tari jaipong dengan gerak tari sisingaan, sehingga terlihat lebih variatif dan atraktif. Geblag/gendut, yakni gerakan terakhir dari mincid tari jaipong sebelum masuk ke atraksi. Atraksi, beberapa atraksi yang sering ditampilkan dalam sisingaan antara lain oray-orayan, gugunungan, melak cau, dan sebagainya.

e. Unsur Waditra (karawitan) dan Sinden (Juru Kawih)
Unsur waditra atau karawitan yang digunakan dalam sisingaan semakin berkembang, hal ini karena adanya pengaruh serta kreativitas seniman dalam memainkan alat musik. Waditra sangat berpengaruh dan menjadi unsur yang sangat penting pada saat helaran/pagelaran/pementasan, sehingga menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Pengembangan waditra tidak mengubah ciri khas dalam karawitan sisingaan, karena para seniman masih berpegang pada tradisi dan aturan-aturan (tetekon) sisingaan.

Waditra yang dipergunakan antara lain:

1. Satu buah gendang indung yang berfungsi untuk memberikan tekanan irama musik.

2. Satu buah gendang kemprang yang berfungsi untuk mengatur irama musik.

3. Dua buah kulanter yang berfungsi untuk mengatur tempo dan satu lagi dipukul diakhir kenongan.

4. Satu buah goong yang berfungsi untuk mengakhiri wiletan.

5. Satu buah kempul yang berfungsi untuk mengisi irama.

6. Tiga buah bonang atau ketuk yang berfungsi untuk mengisi ketukan.

7. Satu buah terompet yang berfungsi sebagai melodi dan mewakili lagu.

8. Satu buah kecrek berfungsi untuk mempertegas tekanan irama.

Dengan waditra atau karawitan tersebut, maka sisingaan bisa memainkan musik penca dan jaipong. Sehingga kedua jenis musik tadi dijadikan standar kesenian sisingaan. Juru kawih atau sinden merupakan penyanyi yang membawakan lagu dalam sisingaan. Juru kawih biasanya seorang perempuan yang memiliki suara merdu. Sedangkan lagu-lagu yang dibawakan antara lain: kesenian sisingaan,awi ngarambat, kembang beureum, buah kawung, arang-arang, siuh, senggot, sinur, tumbila diadu boksen, kulu-kulu sadunya, gondang.

f. Unsur Seni Rupa dan Busana Pengusung

Unsur seni rupa yang terdapat pada sisingaan semakin hari semakin berkembang, ke arah yang lebih baik, baik dari ukuran maupun bentuknya. Misalnya dalam hal bentuk muka sisingaan, sudah semakin mirip dengan bentuk singa asli, karena bagian muka tersebut dibalut atau ditempel dengan bahan berbulu. Mimik muka juga dibikin semirip mungkin, dengan mulut terbuka seperti singa hendak menerkam mangsa, dengan memperlihatkan taringnya yang tajam. Pewarnaan menggunakan cat juga semakin cemerlang dan menarik.

Sedangkan rambut sisingaan terbuat dari bahan yang mirip dengan bulu singa, baik warna maupun jenis bahannya. Begitu juga dengan badan sisingaan yang sudah menggunakan bahan yang ringan dan kuat serta berbulu seperti singa. Posisi kaki juga sangat bervariasi ada yang seperti berjalan, berdiri biasa, dan ada yang seperti mau menerjang.

Selain itu perubahan juga pada pakaian pengusung dan penabuh alat karawitan. Pada masa lalu busana pemain sangat sederhana, dan tidak seragam. sementara saat ini pakaian sudah diperhitungkan nilai estetisnya, seperti pada baju kampret, celana pangsi, iket, ikat pinggang, sepatu, kaos kaki.

2. Toleat

a. Asal usul dan perkembangannya, toleat adalah jenis kesenian atau alat musik yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang. Alat musik ini terbuat dari tamiang, dan dimainkan dengan cara ditiup. Toleat pada awalnya muncul dan berkembang di daerah pantai utara/pesisir, yang merupakan daerah pertanian.

Terbentuknya toleat diilhami oleh empet-empetan, yakni alat musik tiup yang dimainkan oleh anak gembala, dan alat tersebut terbuat dari jerami padi sisa hasil panen. Empet-empetan sangat tergantung pada musim panen padi, sehingga hal ini berpengaruh terhadap perubahan kreativitas anak gembala. Seperti kreativitas dengan membuat alat music yang terbuat dari pelepah daun papaya, dan lidahnya terbuat dari daun kelapa. Alat musik ini disebut ole-olean/aerophone single reed. Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat kedua alat tersebut tidak bisa permanen, hanya dapat dipergunakan satu hari saja, karena mudah rusak atau busuk.

Setelah mengalami beberapa tahapan perubahan dan perkembangan, mulai dari empet-empetan dan ole-olean, maka terjadi perubahan yang sangat mendasar antara lain dari segi bentuk, bahan, dan suara. Pada tahapan ini terbentuk alat musik yang dinamakan toleat, berasal dari kata torotot ole-olean.

Toleat pertama kali diciptakan oleh seorang penggembala ternak yang bernama Parman. Ia mempunyai keahlian dalam memainkan alat musik terompet. Parman terinspirasi dari bunyi empet-empetan dan ole-olean, yang didukung dengan kemampuannya dalam membuat dan memainkan alat tersebut. Lahirnya toleat didasari rasa ketidakpuasan dengan alat musik yang telah ada (empet-empetan, ole-olean), kedua alat musik tadi tidak mempunyai lubang nada bunyi, sehingga kurang dapat menghasilkan variasi nada. Toleat pada masa perkembangannya terbuat dari bahan congo awi atau ujung bamboo, dan lidahnya terbuat dari kayu pohon berenuk, dan dililit dengan rotan sebagai pamaes, pemanis/hiasan/aksesori. Pada perkembangan selanjutnya bahan yang dipergunakan adalah awi tamiang (bambu untuk suling). Toleat terdiri dari delapan lubang bunyi, satu lubang di bagian bawah dan tujuh lubang di bagian depan (atas). Dengan tangga nada dasar berlaras salendro, nada-nada yang dihasilkan toleat merupakan adaptasi dari alat musik terompet.

b. Fungsi dan Penyajian Toleat. Alat musik ini mempunyai fungsi sebagai kalangenan atau hiburan pribadi, pada saat sedang ngangon atau menggembala ternak di pesawahan, huma, dan tempat lainnya. Toleat biasa dimainkan oleh gembala yang sedang menunggu ternak. Sebagai alat kelangenan, toleat dalam penyajiannya tidak terdapat lagu khusus, namun hanya mengandalkan keunikan bunyi yang dihasilkan dari alat ini. Pintonan, toleat sebelumnya atau pada mulanya hanya dipertunjukkan kepada teman-teman, pada kegiatan di sekitar lingkungannya. Kemudian toleat dikreasikan dengan alat musik lain seperti bumbung, lodong, celempung. Selanjutnya dalam perkembangannya toleat disajikan pada acara-acara hiburan untuk umum, dan acara khitanan, perkawinan, dan acara adat lainnya. Sedangkan lagu-lagu yang dibawakan antara lain lagu-lagu ketuk tilu, sulanjana, peuyeum gaplek, awi ngarambat, dan lain-lain. Pada masa perkembangannya, toleat hanya berkembang di Subang, namun sekarang berkembang ke daerah lain.

Kreasi/kontemporer, toleat dapat dikreasikan/dikolaborasikan dengan alat musik tradisional lain seperti kecapi, gendang, gamelan. Bisa juga dengan alat musik modern seperti keyboard/organ, alat music gesek, tiup, dan lain-lain. Toleat sebagai sarana hiburan dan penghayatan nilai seni pantas diapresiasi, agar tetap berkembang dan lestari.

3. Genjring Bonyok

a. Asal usul dan Perkembangannya. Genjring bonyok adalah jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang. Alat musik utama yang dipergunakan adalah bedug dan genjring. Jenis kesenian ini mulai lahir dan berkembang di Kampung Bonyok, Desa Pangsor, Kecamatan Pagaden. Kesenian ini muncul karena terinspirasi dari kesenian Genjring Rudat.

Genjring bonyok lahir sebelum kemerdekaan, yakni pada masa keberadaan perkebunan P & T Lands. Pada waktu itu Kampung Bonyok atau wilayah Desa Pangsor dikenal dengan daerah kontrak. Selain itu ada beberapa jenis kesenian yang berkembang antara lain kendang penca, ketuk tilu, wayang golek. Alat musik atau waditra yang dipergunakan pada awalnya hanya menggunakan sebuah bedug, tiga buah genjring. Kemudian genjring bonyok mengalami perkembangan dengan menambahkan, memadukan alat musik lain seperti terompet, gendang, goong, kulanter.

Seniman yang berperanan penting dalam mendirikan dan mengembangkan genjring bonyok adalah Talam dan Sutarja. Mereka membuat kreasi dalam setiap pertunjukan, sehingga kesenian ini semakin dikenal masyarakat. Beberapa periode perkembangan genjring bonyok antara lain: tahun 1967 kesenian ini baru mempunyai lima orang personil (nayaga) yakni seorang penabuh bedug, empat orang penabuh genjring. Tahun 1969, penambahan alat music terompet dan nayaga bertambah menjadi enam orang. Tahun 1982, memasukkan alat music lain seperti gendang, kulanter, goong besar, goong kecil, dua buah kenong, dan kecrek. Tahun 1987, kesenian ini mulai menggunakan sinden (juru kawih) dan lagu yang ditembangkan yaitu lagu ketuk tilu.

Genjring bonyok sudah banyak dipentaskan di berbagai even antara lain tahun 1971 mengadakan pertunjukan di gedung Rumentang Siang Bandung, tahun 1977 mengikuti festival Genjring Bonyok se Jawa Barat yang diikuti oleh 24 kelompok kesenian genjring bonyok. Tahun 1978 mengadakan pagelaran di GOR Saparua Bandung, tahun 1979 pagelaran di gedung gubernur Jawa Barat (Gedung Sate), diikuti oleh 3 kelompok kesenian dari 3 kabupaten. Tahun 1980 pagelaran pada acara HUT Kabupaten Subang, tahun 1985 mengadakan pagelaran di TMII anjungan Jawa Barat, dan kesenian ini mulai ditampilkan di TVRI Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1989 mengadakan pagelaran di lapangan Gasibu Bandung, pada acara gelar senja dengan memasukkan penari dari siswa sekolah. Pada tanggal 1 Oktober 1989 mengisi Pembukaan Pameran Kabupaten Subang. Dengan demikian pagelaran genjring bonyok tidak hanya tampil pada acara hajatan saja, namun bisa pentas pada acara-acara resmi baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah.

b. Pertunjukan dan Penyajian Genjring Bonyok. Beberapa unsur yang penting dan menunjang pergelaran kesenian ini yakni waditra (alat musik), nayaga (penabuh alat musik), dan juru kawih (sinden), penari serta busana. Waditra atau alat musik seperti sebuah bedug berfungsi mengatur ketukan, dipukul dengan cara tertentu untuk membuat bunyi yang enak. Tiga buah genjring berfungsi membuat irama yang bersahutan dan mengimbangi alat musik lainnya. Sebuah gendang berfungsi mengatur irama dan memberi tekanan musik. Sebuah kulanter berfungsi mengikuti irama. sebuah goong besar berfungsi untuk menutup akhir irama. Sebuah goong kecil berfungsi untuk mengisi irama. Sebuah terompet berfungsi untuk membawakan melodi. Dua buah kenong berfungsi untuk mengimbangi irama. Sebuah kecrek berfungsi untuk mempertegas dan mengatur irama.

Nayaga (penabuh alat musik). Pada saat pertunjukan di atas panggung, nayaga mengambil posisi duduk, sinden duduk paling depan, dan diikuti oleh peniup terompet yang sejajar dengan penabuh gendang, dan penabuh kecrek. Baris selanjutnya penabuh genjring dan penabuh ketuk. dan di belakangnya penabuh bedug dan penabuh goong. Kalau memakai penari biasanya posisi berada di depan sinden. Biasanya kesenian ini dipentaskan bersamaan dengan kesenian lain seperti sisingaan. Genjring bonyok berada di posisi belakang, setelah kesenian sisingaan.

Juru kawih (sinden). Lagu-lagu yang biasa dinyanyikan dalam pergelaran adalah lagu-lagu ketuk tilu seperti gotrok, kangsreng, awi ngarambat, buah kawung, dan torondol.

Penari. Penari pada saat tertentu memakai para penari khusus, yang sesuai dengan koreografi. Sedangkan pada saat mengadakan helaran para penari terdiri dari masyarakat yang ikut menari secara spontan, untuk ikut memeriahkan helaran.

Busana. Busan yang dipakai oleh personil genjring bonyok yakni nayaga memakai baju kampret, celana pangsi, iket (barangbang semplak, parekos nangka), selendang (sarung). Juru kawih (sinden) mengenakan kebaya, selendang, sanggul, dan hiasan dari bunga melati. Penari laki-laki mengenakan baju kampret, celana pangsi, iket dan selendang. Sedangkan penari perempuan mengenakan kebaya, selendang dan sanggul.

4. Gembyung

Gembyung berasal dari dua suku kata yakni gem dan yung. Gem berasal dari kata ageman yang artinya ajaran, pedoman, atau paham yang dianut oleh manusia. Suku kata byung berasal dari kata kabiruyungan yang artinya kepastian untuk dilaksanakan. Gembyung memiliki nilai-nilai keteladanan untuk dijadikan pedoman hidup. Kesenian ini pertama kali berkembang pada masa penyebaran agama Islam, pada saat itu gembyung dimainkan oleh para santri pesantren dengan bimbingan sesepuh pesantren.

Gembyung merupakan kesenian tradisional yang menggunakan genjring sebagai alat musik utama. Pada saat pementasan kesenian ini selalu menampilkan alunan musik tradisional, mengandung unsur yang dianggap sakral. Hal ini tetap dipegang teguh oleh para seniman gembyung, untuk menjaga keaslian seni tradisi warisan leluhur ini.

Gembyung terdiri dari beberapa unsur yaitu waditra, pangrawit atau pemain alat musik, juru kawih, penari, dan busana. Waditra yang dipakai adalah genjring kemprang, genjring kempring, genjring gembrung, gendang, dan kecrek.

Nayaga atau pemain alat musik, terdiri dari lima orang. pada saat pementasan biasanya nayaga mengambil posisi duduk atau bersila.

Juru kawih gembyung biasanya laki-laki atau seorang dari yang memainkan genjring. Sehingga selain menggunakan genjring, juru kawih juga melantunkan lagu. Lagu yang dilantunkan juru kawih biasanya lagu berbahasa Sunda buhun, hal tersebut dapat didengar dari syair lagu yang kurang dipahami. Beberapa buah lagu buhun yang dinyanyikan oleh juru kawih antara lain ya bismillah, raja sirai, siuh, rincik manic, engko, dan geboy.

Penari. Penari gembyung biasanya seorang anak laki-laki atau bisa juga dari penonton yang sangat menyukai seni gembyung. Sehingga antara penari dengan penonton bisa melakukan tarian bersama-sama. Tarian gembyung mempunyai kekhasan antara lain gerakan atri dilakukan secara pelan, sesuai irama gembyung, dan penari biasanya sangat menikmati irama tarian ini. Ada juga penari yang seperti kerasukan dengan mata terpejam, pada saat alunan musik berhenti, penari seperti baru tersadar.

Busana, yang dipakai oleh pemain biasanya mengenakan pakaian tradisional Sunda seperti iket, kampret, dan celana pangsi. Sedangkan busana penari selain mengenakan pakaian tersebut juga memakai selendang.

5. Topeng Jati/Topeng Menor

Topeng jati atau topeng menor adalah seni topeng yang muncul dan berkembang di Desa Jati. Alasan pemberian nama terhadap kesenian ini berdasarkan pada tempat berkembangnya kesenian ini (Desa Jati, Kecamatan Cipunagara). Sedangkan dinamakan Topeng Menor karena seni ini pada saat itu memiliki penari topeng yang sangat cantik, bersuara merdu, dan pandai menari. Sehingga orang memanggilnya menor. Keahlian penari tersebut bisa menari berbagai karakter topeng dengan luwes, baik karakter satria (bergaya lemah lembut), maupun gaya rahwana atau buta dengan gaya menari yang gagah dan menakutkan.

Kesenian topeng jati merupakan hasil peleburan dari suatu individu atau masyarakat, karena kesenian aslinya berasal dari luar Subang, tepatnya dari daerah Cirebon. Beberapa unsur seni melekat pada topeng jati antara lain dari unsur waditra, nayaga, juru kawih, penari, dan busana.

Topeng, merupakan unsur utama dan menjadi ikon dalam kesenian ini. Topeng dipakai biasanya terbuat dari kayu kembang, yang mempunyai keistimewaan bahannya ringan, awet. Topeng jati mempunyai beberapa buah topeng dengan karakter masing-masing yang berbeda, antara lain:

Topeng Panji, diibaratkan seorang satria, lemah lembut, lungguh, alim, dengan warna topeng merah muda atau putih.

Topeng Samba, diibaratkan seorang satria yang mempunyai karakter gandang. Warna topeng biasanya merah muda atau putih dan berambut.

Topeng Rumyang, diibaratkan seorang satria yang mempunyai karakter pemberani, dan gandang.

Topeng Tumenggung atau Punggawa, berkarakter pemberani sebagaimana seorang prajurit kerajaan, siap berperang. Warna topeng biasanya merah muda dan berkumis.

Topeng Kelana atau rahwana, topeng berkarakter garang, serakah, dan suka membuat onar. Warna topeng biasanya merah dan berkumis tebal.

Topeng Buta, mempunyai karakter garang, menakutkan dan berperilaku jahat. Warna topeng biasanya merah dan berkumis tebal.

Waditra (alat musik) yang dipergunakan dalam topeng jati antara lain gendang, kulanter, goong, suling, ketuk, saron, gambang, dan kecrek. Nayaga (penabuh alat musik) berjumlah 12 orang. Dalang, mempunyai kemampuan dalam menirukan berbagai karakter suara topeng yang diperankan oleh penari. Sinden (juru kawih) berperan menyanyikan lagu pada saat penari topeng sedang istirahat atau berganti peran. Lagu yang ditembangkan sangat beragam antara lain ketuk tiluan, dermayonan, dan kises saidah. Penari topeng, terdiri dari dua orang perempuan dan laki-laki. Penari perempuan berperan menarikan gaya topeng panji, samba, rumyang, temenggung, dan kelana atau rahwana. Sedangkan penari laki-laki hanya memerankan tarian topeng buta. Busana yang dipakai oleh para penari Topeng Jati antara lain sobrah dipakai di kepala seperti mahkota, baju dan celana yang dihias dengan mute, dan kain batik atau sinjang lancar. Sedangkan nayaga hanya atasannya saja yang seragam dengan mengenakan baju takwa dan iket Sunda.

Beberapa kreativitas dalam pementasan Topeng Jati:

Pembukaan, memulai pagelaran dengan memainkan waditra sekitar dua atau tiga babak lagu atau disebut juga tatalu.

Ibing, memulai pagelaran dengan menampilkan berbagai tarian dari tokoh topeng dari mulai Panji, Rumyang, Samba, Temenggung, Kelana, dan Rahwana.

Penutupan atau jiro, pagelaran Topeng Jati biasanya ditutup dengan lagu Bale Bandung.

6. Ajeng

Kesenian ajeng adalah kesenian tradisional yang dipentaskan dengan cara helaran dan alat utamanya menggunakan bende. Alat musik ajeng disebut juga dengan bende atau gong kecil, yang ditabuh dengan menggunakan pemukul terbuat dari kayu. Kesenian ini dapat dipentaskan pada acara-acara hajatan, penonton bisa ikut menari.

Kesenian ajeng pada dasarnya kesenian yang sangat sederhana, hal tersebut dapat dilihat dari unsur waditra, nayaga, juru kawih atau sinden, dan busananya.

Waditra, yang dipakai terdiri dari: sebuah ajeng atau bende, sebuah gendang besar, sebuah gendang kecil, sebuah gong besar, sebuah gong kecil, sebuah terompet, sebuah ketuk, dan sepasang kecrek bulat.

Nayaga atau penabuh alat musik terdiri dari dua belas orang. Juru kawih atau sinden kesenian ajeng menggunakan seorang penyanyi. Sedangkan lagu yang dibawakan biasanya lagu-lagu jaipongan atau lagu-lagu Sunda.

Busana, pakaian yang dikenakan oleh para nayaga hanya baju saja yang diseragamkan. Sedangkan busana yang lain seperti celana, meskipun tidak seragam namun disesuaikan dengan warna pakaian.

Popular Posts