WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Mengapa di Kampung Naga tidak ada listrik

Oleh : Adhitya Ramadhan

Listrik memang tidak diperbolehkan di sini. Walaupun ada radio dan televisi, semuanya pakai aki. Televisinya juga hitam putih, tidak ada yang berwarna. Kalau ada listrik orang-orang pasti akan membeli alat-alat elektronik. Yang mampu bisa membeli macam-macam, sementara yang miskin tidak bisa. Ini bisa menimbulkan kecemburuan sosial. Oleh karena itu, biar semuanya sama ya listrik tidak boleh."
Demikian tanya jawab antara Meyrisa Amelia, siswi kelas III SMA 26 Bandung dan Risman, Ketua RT 01 RW 01, Kampung Adat Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Merasa belum cukup, Risman memberikan alasan tambahan bahwa rumah di kampung itu terbuat dari bambu, kayu, dan beratap ijuk yang mudah terbakar. Kalau ada listrik dikhawatirkan nantinya korsleting jadi berisiko kebakaran.

Mendengar jawaban itu, Meyrisa mengangguk-angguk sambil menuliskan jawaban warga adat Naga itu di buku tugasnya.

Dengan bahasa Indonesia yang campur dengan bahasa Sunda, Risman menceritakan tentang kesenian khas, pengobatan tradisional, upacara adat, dan kelembagaan adat di Kampung Naga. "Tapi maaf kalau hari Selasa, Rabu, dan Sabtu, khususnya kuncen, tidak boleh menceritakan silsilah warga Naga. Kalau saya, selaku warga, juga tak berani, pamali," katanya.

Meyrisa adalah satu dari 150 siswa peserta Lawatan Budaya dari Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan Lampung ke Kampung Naga pada awal September lalu.

Acara rutin tahunan itu diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung.

Siswa SMA yang berangkat dari Bandung menggunakan dua bus itu terbagi dalam beberapa kelompok, masing-masing dengan guru pembimbing. Siswa diberi tugas menggali semua yang terkait dengan unsur-unsur budaya dengan metode observasi dan wawancara langsung. Hasil studi lapangan setiap kelompok itu harus dibuat laporan dan dipresentasikan di hadapan siswa yang lain.

Ada yang mempelajari sistem teknologi tradisional, upacara adat, sistem mata pencarian, pengobatan tradisional, kesenian, sampai sistem organisasi sosial.

"Bangunan seperti ini tahan gempa lho. Bahan-bahannya ringan, cuma kayu, bambu, dan atapnya ijuk. Bagian yang berat disimpan di bawah. Semakin ke atas bahan penyusunnya semakin ringan," kata Alnida Zahra, siswi SMA 2 Bandung, mengomentari bale patemon atau balai pertemuan yang sedang diperbaiki.

Bersama Meyrisa, ia mendapat tugas mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang sistem teknologi tradisional. Dengan antusias mereka menyusuri lorong di antara deretan rumah adat yang ada. Ketika ada yang mereka pandang unik, mereka pun berhenti dan bertanya kepada warga yang kebetulan ada di sana.

"Data yang didapat sudah banyak. Ada tentang boboko, nyiru (tampah), lisung (lesung), termasuk kerajinan anyaman bambu yang dijadikan penghasilan tambahan ibu-ibu di sini," kata Meyrisa, yang mengaku sangat kagum melihat langsung bagaimana masyarakat adat Kampung Naga mempertahankan nilai-nilainya, seperti gotong royong, menjaga lingkungan, dan kesederhanaan hidup.

Dina Berliana dari SMAN 1 Subang mengatakan, pada masyarakat kota stratifikasi sosial sangat terasa. Orang miskin diremehkan dan yang kaya dihormati seolah sudah menjadi sebuah nilai standar. "Di Kampung Naga tidak ada stratifikasi. Hak dan kewajiban warga sama sehingga tidak ada persaingan sosial yang mengarah ke konflik. Sifat gotong royong masyarakatnya juga patut dicontoh," kata siswi kelas III IPS itu.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan, tambahnya, ialah sikap masyarakat adat menjaga lingkungannya. Alam sudah menjadi bagian dari mereka. Alam yang lestari ini menghidupi mereka.

Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung Toto Sucipto mengatakan, pembelajaran masyarakat adat melalui Lawatan Budaya ini lebih memberikan kesan kepada generasi muda dibandingkan dengan belajar di sekolah. Upaya tersebut merupakan bagian dari memperkenalkan kemajemukan masyarakat kepada generasi muda.

Dengan demikian, etnosentrisme yang sempit bisa dikikis, sementara pemahaman bahwa budaya yang tumbuh dan berkembang di masing-masing etnis merupakan jati diri etnis yang bersangkutan bisa ditingkatkan.

"Dengan melihat secara langsung lokasi yang bernilai budaya seperti kampung adat, generasi muda akan terkesan. Inilah yang nantinya diharapkan bisa mewarnai perilaku mereka di tengah-tengah masyarakat," tutur Toto.

Itulah sebabnya pula sasaran kegiatan ini adalah anak-anak SMA.

Popular Posts