WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Upacara Mapag Sri di Kabupaten Majalengka

Oleh: Dra. Ria Intani T, dkk.

Abstrak
Upacara Mapag Sri adalah upacara yang bertalian dengan pertanian yang pelaksanaannya dilakukan seusai panen. Upacara ini ada di Desa Sinarjati, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka. Tujuan dari pelaksanaan upacara tidak lain sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh sekaligus sebagai upaya memelihara hubungan dan mendekatkan diri pada Allah SWT.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 38, September 2007

Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Formal di Desa Cieurih Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka

Oleh: Dra. Nina Merlina

Abstrak
Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari masalah kebudayaan, karena pendidikan merupakan wahana untuk menyampaikan kebudayaan, di samping itu juga pendidikan merupakan wahana untuk melestarikan kebudayaan. Pendidikan juga digunakan untuk membawa perubahan pada kebudayaan. Oleh karena itu kebudayaan menentukan pola bagaimana pendidikan itu harus dilakukan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Pekan Budaya Seni dan Film Digelar

Kuningan – Wakil Bupati Kuningan, Drs. H Momon Rohmana MM membuka secara resmi Pekan budaya, seni dan film yang digelar Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jendral Nilai Budaya, Seni dan Film kerja sama dengan Pemkab Kuningan, di Pandapa Paramarta, Kamis (22/9).

Pekan budaya seni dan film yang digelar selama 3 hari, mulai dari tanggal 22-24 September ini dihadiri Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung Drs. Toto Sucipto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs Tedi Suminar M.Si, Kepala Inspektorat Ajat Jatnika, M.H, serta Asisten Pembangunan dan Kesra Drs H Yayan Sofyan MM.

Menurut Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung Drs. Toto Sucipto, yang merangkap ketua penyelenggara mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan sinergi yang dapat dijadikan sebagai acuan kegiatan yang dapat menghimpun beragam potensi karya budaya Indonesia. Sehingga, nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya pengembangan industri kreatif di tanah air.

“Lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan ini secara garis besar meliputi empat bidang substansi yaitu pameran, lomba, pagelaran dan dialog,”terangnya.

Dari hasil inventarisasi BPSNT Bandung, kata Toto, terkait kesenian tradisional telah tercatat sebanyak 88 jenis kesenian tradisional, 30 diantaranya dalam kategori sangat berkembang, 25 berkembang, 27 tidak berkembangn dan hanya 6 yang punah.

“Keenam kesenian tradisional yang pernah ada, tetapi pendukungnya sudah tidak ada diantaranya, Elet Empet, Sarawalet, mamanukan, wayang pancasil dan ngorek,”jelasnya

Dengan demikian lanjut Toto, dalam upaya pelestarian kebudayaan, DITJEN NBSF seringkali dan selalu berupaya menggelar serangkaian kegiatan penting dibidang kebudayaan yang melibatkan partisipasi dari seluruh daerah di Indonesia. Hal ini, didorong oleh keyakinan untuk menunjukkan dan menegaskan kepada masyarakat, bahwa aktivitas kebudayaan mampu mempertautkan simpul-simpul kebhinekaan menjadi kekuatan yang harmonis.

“Selain itu, aktivitas kebudayaan dapat memberikan rasa damai, tentram dan nyaman bagi seluruh masyarakat, sekaligus sebagai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,”terangnya.

Sementara, Wakil Bupati Kuningan, Drs Momon Rochmana MM dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dirjen nilai budaya seni dan film yang telah memberikan kepercayaan kepada Kabupaten Kuningan sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan pekan budaya seni dan film.

”Semoga kegiatan ini dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar dapat mengembangkan pariwisata dan kebudayaan di daerah,”ujarnya.

Untuk menuju tujuan tersebut kata Momon, pasti penuh tantangan, rintangan dan hambatan, termasuk upaya mengembangkan kebudayaan. Oleh karena itu melalui upaya bersama, akan menghasilkan sesuatu yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Dengan adanya pekan budaya seni dan film ini, akan semakin memotivasi bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk sekuat tenaga memanfaatkan kekayaan pariwisata dan budaya yang dimilki secara maksimal dalam memacu pembangunan daerah,”paparnya.(leh)

Lestarikan Seni Tradisi Kuningan Melalui Pekan Budaya

Kuningan - Ratusan ciri khas kesenian dan kebudayaan kota Kuningan, Jawa Barat, terancam punah. Hal itu dikarenakan kurangnya pemerintah setempat dalam mempromosikan pariwisata daerah tersebut.

Maka dalam memperingati hari jadi Kota Kuningan, Jawa Barat, yang ke-513, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) mendukung langkah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, menggelar Pekan Budaya, Seni dan Film di Kuningan mulai 22-24 September 2011.

Lingkup kegiatan ini secara garis besar meliputi empat bidang substansi yaitu pameran, lomba, pagelaran dan dialog. Menurut Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film (NBSF) Kemenbudpar Ukus Kuswara, rangkaian acara ini bertujuan mengenalkan kembali kekayaan budaya Kuningan pada masyarakat.

“Saat ini ada 150 kesenian, yang sebagian terancam punah. Kalau dibiarkan begitu saja. Maka Kuningan akan kehilangan jati dirinya,” ujar Ukus saat dialog Pekan Budaya, Seni dan Film di pendopo Kabupaten Kuningan, akhir pekan lalu.

Menurutnya, ada 3 faktor kunci melestarikan seni tradisi yakni inventarisasi, dokumentasi dan publikasi. Inventarisasi dan dokumentasi, bisa dikerjakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadis Budpar) atau Badan Pelestarian Seni dan Nilai Tradisional (BPSNT) setempat.

Sementara publikasi, pemerintah bisa menjalin hubungan baik dengan media massa. Dan yang tak kalah penting untuk regenerasi, kurikulum pendidikan harus memperbanyak ruang berekspresi dan berkesenian. Dikatakan, jika masyarakat Kuningan aktif mengembangkan kesenian daerah, efek positifnya akan dirasakan dengan terciptanya industri pariwisata.

Jika masyarakat Kuningan aktif mengembangkan kesenian daerah, efek positifnya akan dirasakan dengan terciptanya industri pariwisata. Satu daerah tak akan maju jika budaya setempat tidak berkembang. Karena itu, seni tradisinya harus diperkuat sebagai daya tarik.

Selain juga daya tarik alam yang sudah dimiliki Kuningan. Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda, mennuturkan Kuningan memiliki harta karun kebudayaan angklung diatonis yang dikembangkan Daeng Soetigna. Pada saat perjanjian Linggarjati, tahun 1946, Daeng Soetigna mengembangkan angklung pentatonis (do, re, mi, so, la) menjadi diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do).

“Cikal bakal angklung diatonis dikembangkan di Kuningan. Secara historis, Kuningan punya semangat berkesenian. Saya punya misi menjadikan Kuningan menjadi Kabupaten Angklung, dengan mendirikan museum angklung. Saya memiliki keoptimisan yang tinggi bahwa Kuningan akan besar. Selain potensi alamnya, dari segi sumber daya manusianya dengan cepat bisa beradaptasi,” ucap dia. [H-15] 

Kesenian Gembyung Masyarakat Banceuy Kabupaten Subang (Sebuah Ekspresi Seni dan Aktualisasi Kepercayaan Masyarakat)

Oleh: Dra. Lina Herlinawati

Abstrak
Seni pertunjukan tradisi, selain merupakan tontonan yang menarik sebagai hiburan, kadang juga terangkai dengan upacara adat. Contohnya Gembyung, yang merupakan perkembangan dari Seni Terebang Buhun (di Cirebon sebagai tempat kelahirannya dikenal dengan sebutan Terebang Brai/Berahi). Kesenian Gembyung yang digunakan masyarakat adat Banceuy tidak sekadar sebagai ekspresi seni, namun juga aktualisasi dari kepercayaan mereka kepada Tuhan dan para leluhurnya yang pergelarannya dirangkaian dalam upacara adat. Bagi mereka, Kesenian Gembyung adalah media untuk mengungkapkan rasa bersyukur mereka kepada Tuhan dengan melantunkan syair-syair yang mengagungkan kebesaran-Nya. Selain itu, Gembyung pun digunakan sebagai media untuk menghormati para leluhur mereka yang telah mewariskan adat istiadat. Aturan dan norma-norma dalam adat istiadat tersebut telah mengatur keharmonisan dan keteraturan kehidupan mereka selama ini.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 37, Juni 2007

Menelusuri Kejayaan Tenun Majalaya

Oleh: Dra. Ria Intani T.

Abstrak
Selain batik, Indonesia memiliki keanekaragaman kain tenun. Dengan kembalinya selera masyarakat ke nuansa yang berbau alam, kain menjadi terperhatikan.

Salah satu daerah penghasil tenun yang terkenal di Jawa Barat adalah Majalaya. Pada zamannya daerah tersebut pernah mengalami masa kejayaan melalui produksi tenun sarungnya.

Kini dengan masuknya mesin yang mampu memenuhi target secara kuantitas, zaman kejayaan itu tinggalah kenangan. Harapan yang tersisa adalah adanya kebijakan yang memberi proteksi pada perajin tradisional.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Wayang Ajen Hibur Masyarakat Kuningan

Kuningan – Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Kuningan , tumpah ruah memadati lapangan Pandapa Paramarta untuk menyaksikan pagelaran wayang Ajen, Sabtu malam (24/9). Bahkan, para penonton, baik dari kaula muda maupun tua, rela duduk dengan beralaskan tikar hingga akhir pertunjukan.

Kegiatan yang bertajuk membangun karakter dan jati diri bangsa melalui pertunjukan wayang ajen dihadiri oleh beberapa pejabat dan tokoh kesenian dan budaya. Diantaranya, Unsur Muspida, Kepala SKPD, angota DPR RI, Tubagus Dedi Gumelar dan Jendral Pol. H. Nurdin, perwakilan dari Disparbud Prov. Jabar dan Kamenbudpar dan juga unit kerja lingkungan Ditjen NBSF.

Dalam pertunjukan wayang Ajen ini, ada sesuatu yang lain dari biasanya, dimana dihadirkan properti pentas, setting dekorasi, lighting dan ornamen lainnya, menjadi menu khas dalam penggarapan wayang ajen ini. Untuk menambah daya tarik estetika, rupa dan gerak dihadirkan juga tarian dengan koreografi khusus yang menyatu dalam pertunjukan yang utuh.

Dalam pertunjukan wayang Ajen ini selalu didasari pada naskah lakon yang terbagi menjadi beberapa bedrip dan adegan. Begitu pula dengan iringan gendingnya, digarap apik yang berfungsi tidak hanya sekedar mengiringi, tetapi iringan gending ini memberikan aksentuasi ilustrasi, dan kesan-kesan estetika lainnya.

Menurut Pengantar cerita wayang ajen Dr. H. Cahya Hedy, S.Sen. M. Hum, mengatakan, pertunjukan kali ini mengambil tema Gatot Kaca Jumeneng Raja. Sebuah cerita yang sarat dengan nilai-nilai kepahlawanan, kejujuran keteladanan yang dimiliki oleh seorang Kesatria pinuju Gatotkaca. Perjalanan akbar gatot kaca menuju kepada proses jumenengan penombatan sebagai panglima perang negara Amarta tidaklah mudah, melainkan penuh dengan rintangan, hambatan dan dodoja hirup.

“Gatotkaca akhirnya berhasil membuktikan kepada publik, bahwa tahta dan jabatan harus diraih dengan semangat perjuangan dan rela pengrbanan, tanpa menghalalkan segala cara yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa yang berkarakter luhur dan berjati diri tinggi,”terangnya.

Wayang ajen kata Dr Cahya, memiliki makna filosofi wayang lumbung yang maha berharga. Selaras dengan peradaban bahasa sunda yang sering terdengar dengan ucapan kudu ngajen diri, sislih ajenan, ajen inajen dan lainnya yang semuanya memiliki arti menghargai.

“Saat ini, wayang Ajen sudah mulai merambah dalam berbagai event internasional di manca negara, seperti Amerika, Eropa, Asia, Australia dan Afrika. Sebagai misi pelestarian budaya indonesia di mata dunia internsional,”jelasnya.

Sementara, Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF), Drs. Ukus Kuswara, MM mengatakan, pelestarian seni dan budaya ini diharapkan dapat mempertautkan simpul-simpul kebhinekaan menjadi kekuatan yang harmonis. Selain itu, juga sebagai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Wayang merupakan warisan leluhur kita berupa karya budaya agung tak benda milik Indonesia yang sudah di akui UNESCO pada tahun 2003, keris tahun 2005, Batik tahun 2009. Bahkan, Angklung ciptaan Pak Kucit yang berasal dari Kuningan, tepatnya Desa Citangcu mendapatkan pengakuan juga dari UNESCO pada tahun 2006,”terangnya.(leh)

Sumber: http://kuningannews.com

Angklung Harus Dilestarikan

Kuningan - Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Nilai Seni dan Film yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan, menggelar dialog budaya dengan tema “Pelestarian Warisan Budaya Sebagai Langkah Strategis Penyelamatan Aset Bangsa” di pendopo Kabupaten Kuningan, Sabtu (24/9).

Nampak hadir Bupati Kuningan, H. Aang H Suganda, Anggota DPR RI Komisi X, Dedi Suwandi Gumelar alias Miing dan Dirjen Seni dan Budaya serta budayawan maupun pemerhati budaya.

Salah satu materi dialog budaya, diantaranya alat musik tradisional, angklung, yang dikembangkan dan dibesarkan oleh seorang seniman bernama Daeng Sutisna dari Kuningan.

Budayawan Kuningan, Sambas Suryadi, meminta pemerintah khususnya guru-guru sekolah agar ada kurikulum atau pelajaran kesenian khusus tentang angklung. “Orang yang telah mendapatkan ilmu tentang kesenian angklung diharapkan dapat menurunkan ilmu angklungnya kepada generasi sekarang, terutama anak sekolah,” paparnya.

Menurut Dirjen Kementrian Seni, perlu melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kebudayaan. Bahkan UNESCO telah mengakui jenis kesenian karya budaya, diantaranya batik, angklung, keris, wayang. “Kita ingin bagaimana yang telah diakui itu betul-betul terlindungi, betul-betul dapat bermanfaat untuk masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Bupati Kuningan menyambut acara ini. “Pemkab tidak keberatan untuk dibuatkan perda untuk angklung. Karena Kuningan dalam mempertahankan budaya terus melakukan penetrasi, apa-apa yang dulu sudah hilang sekarang mulai ditimbulkan,” ujarnya. (L.Hakim)

Sumber: http://www.ciremaipost.com

Kemenbudpar RI Gelar Pekan Budaya Indonesia

Kuningan.- Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI menggelar Pekan Budaya, Seni dan Film Tahun 2011, bertempat di Pandapa Paramarta Kabupaten Kuningan, Kamis (22/9).

Kegiatan yang dilaksanakan mulai tanggal 22 hingga 25 September 2011 bekerjasama dengan Pemkab Kuningan, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kuningan sebagai leading sektornya.

Pantuan CIREMAIPOST, peserta pameran berasal dari Badan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Banda Aceh, Pontianak dan Tanjung Pinang serta Manado. Kemudian, Bandung, Yogyakarta dan dari daerah lainnya.

Setiap peserta saling memamerkan budaya, adat istiadat dan makanan khas daerah. Misalnya, dari Makasar, Sulawesi Selatan, menampilkan foto dan buku-buku tentang sejarah, budaya dan seni tari. Selain itu terdapat upacara adat perkawinan, mumah adat, dan perahu pinisi yang sangat terkenal.

Simon Sarapeng, peneliti dari BPSNT Makasar kepada CIREMAIPOST mengatakan, dengan adanya pagelaran seni budaya ini dirinya merasa senang, bisa bekerjasama dan bertukar budaya dengan daerah lain. “Meski sejarah dan kebudayaan di setiap daerah berbeda namun ada beberapa persamaan yang tidak jauh berbeda,” katanya.

BPSNT Manado memamerkan kain tenun kain bantenan dan rumah adat minahasa. Sedangkan BPSNT Banda Aceh menampilkan makanan khas daerahnya, seperti Dodol Sabang, Gula U, Badarete dan Karah serta Boi.

Kemudian, BPSNT Yogya memamerkan buku kuno yang bernama Centini yang ditulis dalam bahasa jawa kuno dan tari tengger sebagai tari khas Yogyakarta. Selanjutnya BPSNT Bali, NTB dan NTT menyuguhkan Tenun Sunda Kecil, Kain Bali yang bernama wastra poleng, songket Lombok dan lain-lain.

“Diadakannya pagelaran ini diharapkan kesenian, sejarah dan budaya jangan sampai punah dan harus tetap dilestarikan,” kata Madi dari BPSNT Bali, NTB dan NTT.

Menurut peneliti BPSNT Bandung yang mencakup wilayah Jawa Barat, Banten dan Lampung, T. Dibyo Harsono, mengatakan, kegiatan ini kami sangat mendukung untuk lebih memperkenalkan budaya terutama mengenali budaya Barat, Banten dan Lampung. (L.Hakim)
Last Updated ( Thursday, 22 September 2011 16:13 )

Sumber: http://www.ciremaipost.com

Pengalaman Meneliti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan

Oleh : Iim Imadudin
(Diskusi “Peristiwa Rengas Dengklok” di Gedung Indonesia Menggugat, 25 Agustus 2009)

Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan “fakta keras” (hardfact) yang tidak terbantahkan lagi. Sumber tertulis berupa dokumen, naskah otentik, dan catatan lainnya masih terarsipkan dengan rapi. Demikian pula, sumber-sumber lisan yang berkenaan dengan peristiwa itu masih dapat dijumpai. Orang-orang sezaman baik dalam kapasitasnya sebagai pelaku atau saksi sejarah dapat memberikan kesaksian, baik yang sifatnya kolektif maupun personal. Perayaan HUT RI setiap tahunnya diperingati untuk memperkokoh kesadaran berbangsa.

Masalahnya, tentu saja, revolusi nasional bagi anak bangsa merupakan otobiografi bersama. Bagi mereka yang mengalaminya selalu ada kenangan sentimentil yang tersimpan dalam ingatan. Pengalaman revolusi tertancap dengan kuat dalam memorinya. Demikian pula, bagi mereka yang terkena akibatnya. Ayah saya suatu ketika pernah berkata, “Dulu bapak (kakek saya) adalah ulama pejuang yang paling ditakuti Belanda”. “Berkali-kali ia hendak ditangkap, namun selalu berhasil meloloskan diri”. Saya mewariskan kenangan yang dialami kakek. Terdapat nilai-nilai sejarah yang tersambungkan melampaui beberapa generasi. Pernyataan itu suatu saat nanti akan saya sampaikan pula pada anak saya. Demikian seterusnya. Jadi, agak sulit juga memahami revolusi nasional sebagai “something out there” (sesuatu yang terjadi di luar sana), tanpa melibatkan perasaan.

Dalam kondisi demikian, terjadi pencampuradukkan antara sejarah sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi dengan mitos yang tumbuh sebagai hasrat kultural. Sejarah itu sesuatu yang ada di luar sana, bersifat objektif, dan beroperasi dalam jiwa zamannya. Mitos menempatkan peristiwa sebagai “Sesuatu yang ada di sini”, hangat, timeless, dan bagian dari kehidupan sosial. Mitos mendapat peneguhan secara hegemonik oleh kekuasaan. Misalnya, bagaimana peranan militer yang begitu menonjol dalam Sejarah Nasional VI yang sekarang (kabarnya) telah direvisi. Seolah-olah kelompok yang lain tidak turut pula memperjuangkan kemerdekaan.

Itulah sebabnya dalam penulisan sejarah perjuangan, keterlibatan emosional merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi. Sejarah memang harus ditulis secara objektif. Sejarah sejujur mungkin hendak merekam dan merekonstruksi pengalaman kolektif dan pribadi, namun juga berupaya “menemukan kembali” peristiwa (apa, siapa, dimana, dan bila) yang terkubur dalam impitan zaman (Abdullah, 2001: 98).

Ada “orang sumber” (resource person) yang mau menuturkan pengalamannya. Akan tetapi sebenarnya ia tidak cukup kredibel (mampu) untuk berbicara. Ia bercerita tentang sesuatu yang dialaminya, namun muskil benar-benar terlibat, karena ia belum lama lahir ketika peristiwa terjadi. Jadi, ia dapat dikategorikan sebagai “orang sumber” yang tidak cukup kredibel. Adapula seseorang yang dengan jabatannya sekarang merasa berkewajiban untuk bersaksi tentang pengalaman orang lain di masa lampau. Padahal ia tidak terlibat dalam suatu peristiwa. Kadang-kadang, tidak sedikit pula “orang sumber” yang berbicara dengan panjang lebar, namun ia tidak berjuang di ranah yang kita harapkan. Si A berjuang di daerah X, tetapi yang diceritakannya pengalaman di daerah Y. Dengan begitu, ia mencampuradukkan antara pemahaman yang dihayatinya dengan realitas objektif. Inilah salah satu kesulitan di lapangan apabila hendak merekam kesaksian “orang sumber” yang rata-rata sudah berusia uzur. Tidak sedikit karena merasa peristiwa ini harus disampaikan, tanpa terasa ia menambah-nambahkan keterangan melebihi apa yang sebenarnya ia perbuat. Oleh karena itu, kritik sumber amat diperlukan untuk menyeleksi mana informasi yang sahih, dan mana yang tidak akurat. Caranya, mencermati kelogisan alur cerita, konteks zaman, dan membandingkannya dengan sumber sezaman, yang sifatnya lisan maupun tulisan. Selain itu, seorang penulis harus membuat kriteria mana yang termasuk sumber primer dan mana yang sekunder. Hal ini dimaksudkan agar penulis memiliki skala prioritas dalam memberlakukan sumber.

Sebaliknya, ada “orang sumber” yang memiliki kredibilitas historis, namun tidak mau berbicara. Entah itu karena kepentingan untuk menjaga nilai-nilai sakral dalam perjuangannya atau kebungkaman yang terjadi karena tekanan politik yang memaksa. Pendeknya, ia tidak mau menyampaikan apa yang dialaminya. Ia merasa berharga jika kenangan itu hanya menjadi miliknya, selamanya.

Di atas segalanya, dalam kesaksian harus ada kejujuran sejarah. Kesediaan untuk berkisah tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bukan apa yang seharusnya terjadi. Kehendak untuk menyampaikan kebenaran secara objektif sebagaimana adanya.

Keinginan untuk menyampaikan kebenaran peristiwa sebagai suatu panggilan luhur, tentulah akan sangat dihargai. Banyak tokoh-tokoh yang telah menuliskan pengalamannya pada masa kemerdekaan. Cobalah cermati, bagaimana ia berkisah tentang perbenturan ideologinya dengan rival politiknya. Meski demikian, otobiografi semacam ini merupakan sumber penulisan sejarah yang penting. Penulis sejarah harus keluar terlebih dahulu dari bias-bias kepentingan individual (personal bias), kelompok (group prejudice), dan konflik ideologi agar menghasilkan interpretasi yang objektif. Objektivitas dalam penulisan sejarah mungkin tidak akan benar-benar tercapai. Minimal seorang penulis mendekati objektivitas sedekat-dekatnya. Leopold von Ranke boleh saja berkata, “Wie est eigentlich gewesen” (sejarah harus ditulis sebagaimana adanya). Namun, sejarah sebagai post eventum (kejadian masa lampau) hanya terjadi sekali, dan berada pada masa yang jauh dari kekinian. Berpikir objektif diiringi dengan kepekaan terhadap zeitgeist (jiwa zaman) kultuurgebundenheit (ikatan budaya) bukan saja akan menghasilkan tulisan yang baik, tetapi juga karya yang menarik.

Pada sisi tertentu, sumber lisan (kesaksian lisan) memiliki kelebihan dibandingkan dokumen. Sumber lisan mampu melestarikan kejadian secara detil dan psikologi pelaku dibandingkan dokumen yang sarat dengan kepentingan. Karenanya, ingatan bersifat sangat pribadi, subjektif, bebas (tidak ada yang memaksa untuk mengingat ini atau melupakan itu), dan otentik (Abdullah, 2001: 105).

Sejak metode sejarah lisan diperkenalkan dan digencarkan di tahun 1980-an, penulisan sejarah menjadi amat beragam. Kisah-kisah masa revolusi tidak lagi cerita tentang pertempuran-pertempuran. Kehidupan keseharian, interaksi sosial, perkembangan seni, adaptasi kreatif, dan seterusnya mendapatkan tempat yang memadai. Ibaratnya, sejarah lisan menjadi pendorong terjadinya egaliterisme dalam sejarah. Karena ternyata, sejarah bukan hanya miliknya para elit (greatman theory). Orang-orang biasa pun ternyata memiliki tempatnya sendiri dalam sejarah.

Perkembangan metode sejarah lisan tidak dapat dilepaskan dari genre sejarah yang lain, yakni sejarah lokal. Bahkan trend sejarah lokal sudah terjadi sejak tahun 1970-an. Saya ingin menyebut salah satu problem dalam sejarah lokal adalah perjuangan kemerdekaan di daerah. Selama ini ada anggapan bahwa sejarah perjuangan kemerdekaan di daerah tidak lebih dari replika dari sejarah nasional. Seolah-olah hanya elit di Jakarta saja yang berjuang. Daerah-daerah dan lokalitas bersikap pasif, hanya menunggu perintah dari pusat. Suara-suara lokal tidak dipentingkan. Padahal dengan caranya sendiri local voice telah bergerak menyambut kemerdekaan. Sejak tahun 1980-an, pengkajian sejarah lokal, khususnya masa perjuangan, intens dilakukan. Ratusan wawancara dilakukan secara Spartan. Hasilnya terkumpul data-data baru yang menerangkan peran orang-orang lokal dalam sejarah kemerdekaan. Kegiatan inventarisasi sumber-sumber lisan yang dilakukan banyak lembaga kesejarahan menambah pengayaan sejarah nasional dari perspektif lokal.

Suatu perjalanan tentulah harus sampai di terminalnya. Hasil yang diharapkan dari pekerjaan penulis sejarah adalah tumbuhnya kesadaran sejarah. Kesadaran bahwa kekinian hadir di hadapan kita sebagai akibat adanya kelampauan yang mendahuluinya. Kesadaran bahwa bangsa ini telah menjalani pergumulan dalam pencarian identitasnya pada fase yang amat panjang. Di tengah-tengah keprihatinan terhadap kondisi kesekarangan kita, berpikir historis (thinking in time) menjadi penting artinya. Keinsyafan bahwa bangsa kita telah melalui banyak fase sejarah dapat dipelajari untuk merancang masa depan yang lebih baik. Ketika berbagai ideologi dan kepentingan global hilir-mudik dalam memori kolektif kita, identitas atau jati diri bangsa harus ditegaskan. Jangan sampai seperti kata pepatah, “bernafas di luar badan”. Inilah sebagian dari pengalaman pribadi menulis sejarah perjuangan kemerdekaan di beberapa daerah di Indonesia hampir sepuluh tahun lamanya. Terima kasih.****

Cibiru, 25 Agustus 2009


Sejarah Pesantren Darussalam Ciamis

Oleh: Drs. Adeng

Abstrak
Perkembangan Pondok Pesantren Darussalam dari tahun ke tahun makin pesat dan sistem pendidikan pun berubah dari sistem tradisional menjadi modern. Sejak dasa warsa enam puluhan, Pondok Pesantren Darussalam telah memiliki dua sistem pendidikan yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pesantren Darussalam memiliki lima buah lembaga pendidikan (sistem pendidikan formal), yaitu Raudlatut Atfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsnawiyah Darussalam, Madrasah Aliyah, dan Institut Agama Islam Darussalam. Sedangkan sistem pendidikan non formal, yaitu mengadakan pengajian kitab untuk santri, Majlis Ta’lim untuk masyarakat, dan lembaga penunjang lainnya seperti pusat informasi pesantren, ikatan alumni Darussalam, dan lain-lain.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Wabup Momon Buka Pekan Budaya, Seni Dan Film 2011

Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jendral Nilai Budaya, Seni dan Film kerja bareng Pemkab Kuningan gelar pekan budaya, seni dan film sekaligus sebagai rangkaian memperingati hari jadi Kuningan ke-513 Kuningan. Kamis (22/9).

Acara yang dihelat selama 3 hari tersebut secara langsung dibuka oleh Wakil Bupati Kuningan H Momon Rochmana, ikut menghadiri Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung Drs. Toto Sucipto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs Tedi Suminar,M.Si, Kepala Inspektorat Ajat Jatnika,M.H, serta Asisten Pembangunan dan Kesra Drs H Yayan Sofyan MM.

“Lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan ini secara garis besar meliputi empat bidang substansi yaitu pameran, lomba, pagelaran dan dialog,” jelas Drs. Toto Sucipto selaku ketua penyelenggara.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan kegiatan sinergi yang diharapkan dapat dijadikan salah satu acuan kegiatan yang dapat menghimpun beragam potensi karya budaya Indonesia yang dapat memberikan kontribusi bagi upaya pengembangan industri kreatif di tanah air.

Dengan demikian dalam upaya pelestarian kebudayaan, DITJEN NBSF seringkali dan selalu berupaya menggelar serangkaian kegiatan penting dibidang kebudayaan yang melibatkan partisipasi dari seluruh daerah di Indonesia.

Hal ini, lanjut Ia, didorong oleh keyakinan untuk menunjukkan dan menegaskan kepada kita semua bahwa aktivitas kebudayaan mampu mempertautkan simpul-simpul kebhinekaan menjadi kekuatan yang harmonis, serta memberikan rasa damai, tentram dan nyaman bagi seluruh masyarakat sekaligus sebgai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Sementara itu Wabup Momon menyampaikan terima kasih kepada Dirjen nilai budaya seni dan film yang telah memberikan kepercayaan kepada Kabupaten Kuningan sebagai tempat penyelenggaraan untuk kegiatan pekan budaya seni dan film, ”Semoga kegiatan ini dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar dapat mengembangkan pariwisata dan kebudayaan di daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, untuk menuju tujuan tersebut disadari penuh tantangan, rintangan dan hambatan termasuk upaya mengembangkan kebudayaan, oleh karena itu melalui upaya kita bersama InsyaAllah akan menghasilkan sesuatu yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Masih menurutnya, dengan adanya pekan budaya seni dan film ini akan semakin memotivasi bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk sekuat tenaga memanfaatkan kekayaan pariwisata dan budaya yang dimilki secara maksimal dalam memacu pembangunan daerah.

Wabup Momon berpesan agar kegiatan dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata ini terus dilaksanakan secara berkesinambungan, ”Kegiatan ini penting untuk menjaga serta melestarikan nilai-nilai budaya yang ada ditanah air sebagai warisan leluhur budaya bangsa,” pungkasnya.(Bn)

Dodo Himbau Gali ‘Pencipta’ Kesenian Kuningan

Kuningan News - Hasil Inventarisasi Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPNST), yang menyatakan 6 kesenian khas Kabupaten Kuningan telah punah, mendapat tanggapan serius dari berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya dari pemerhati Sejarah Kuningan, Syarif Juanda.

Agar terjaga kelestariannya, serta ada antisipasi terhadap punahnya kembali Kesenian khas Kuningan, Dodo menghimbau kepada Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk menggali siapa yang dulu menciptakan berbagai kesenian tersebut. “Saya sebagai warga Kuningan, merasa prihatin sekali melihat sebagian kesenian khas Kuningan telah punah. Saya kira, hal ini jangan sampai terulang lagi, sehingga kita kehilangan nilai-nilai kesenian yang mestinya harus dilestarikan oleh kita semua,”terangnya kepada Kuningan News, Jum’at (23/9).

Untuk melestarikan seluruh kesenian yang masih ada kata Dodo, sapaan akrabnya, diharapkan pemkab Kuningan dapat menggali ‘Pencipta’ atau pemrakarsa kesenian Kuningan. Seni dan budaya itu terlahir dari suatu peradaban. Kurang baik ketika hasil karyanya didengung-dengungkan, sementara yang melahirkannya tidak dilirik.

“Untuk iru, seyogyanya Pemkab Kuningan konsen dalam menggali sejarah Kuningan, sehingga para pemrakarsa kesenian pun pasti akan diketahui,”himbaunya.

Dalam sejarah Kuningan yang dipahaminya lanjut Dodo, naskah cerita Parahyangan sangat jelas sekali menerangkan bahwa Sang Pandawa, Sang Wulan dan Sang Tumanggal adalah Raja Penguasa di Kuningan, yang kemudian diteruskan oleh Sang Seuweukarma.

“Jika hal itu benar-benar digali secara utuh, kemungkinan beberapa kesenian khas Kuningan tadi tidak mungkin punah. Kebangetan sekali jika seseorang tidak mengakui Bapak dan Ibunya, kenapa jasa orang tua itu dengan entengnya tidak diakui,”tuturnya.

Kedepan, Dodo mengharapkan agar Pemkab Kuningan menggali kembali sejarah Kuningan dengan baik dan benar. Sempurnakan dan luruskan sejarah Kuningan, dengan niatan yang tulus tanpa motif politik dan komersil. “Niatan itu sebagai wujud rasa hormat dan bakti terhadap orang tua. Insya Allah, jika begitu, nilkai-nilai budaya kebanggaan Kuningan akan dapat dipertahankan,”pungkasnya. (muh)

Permainan Tradisional Bermanfaat untuk Kepribadian

Tawa lebar itu terlihat saat mereka memainkan sejumlah permainan anak tradisional khas Kuningan seperti ”perepet jengkol”,”momobilan”, dan ”sorodot gaplok”. Sejumlah permainan tradisional yang mulai dilupakan kalangan anak-anak massa kini hadir dalam kegiatan festival permainan anak-anak yang menjadi rangkaian acara Pekan Budaya, Seni dan Film 2011di Kabupaten Kuningan. Acara itu mendapatkan sambutan meriah dari para penonton yang sebagian besar anak-anak sekolah. Seluruh permainan dimainkan para siswa yang hadir. Meski mulai terlupakan, namun tampaknya anak-anak ini tetap mahir ketika memainkannya.

Seperti permainan ”sorodot gaplok”misalnya.Permainan ini memerlukan ketangkasan dan keseimbangan untuk bisa mengayunkan batu yang diletakkan di atas punggung kakinya.Dalam keadaan tertentu batu itu ditendangkan pada bata yang berdiri di depannya hingga roboh. Bagi yang tidak biasa, permainan itu dinilai sulit.Hal itu diakui Asep,seorang pelajar dari SMP Negeri 3 Kuningan. ”Susah menahan batu di atas punggung kaki,apalagi harus diayunkan kemudian dilemparkan ke sasaran.Tapi, permainan ini sangat seru dan mengasyikkan,”kata dia.

Begitu pun permainan ”perepet jengkol”.Dalam permainan ini para peserta yang terbagi dalam tiga kelompok harus bisa menahan keseimbangan dan keutuhan kelompoknya masing-masing sambil menahan kaki teman-temannya yang saling terkait. Mereka berlomba-lomba berjalan hingga ke garis finis dengan menggunakan satu kaki,sedangkan kaki satunya saling terkait dengan teman yang lain. Trya,siswa SMP Negeri 7 Kuningan,mengatakan,butuh kekompakan untuk bisa memainkan permainan ini.”Ketika kaki saling terkait,sangat sulit menahan keseimbangan. Namun jika seluruh anggota kelompok bisa seirama berjalan, maka permainan ini sangat mudah,”kata Trya.

Sementara itu,Toto Sucipto, Ketua Balai Pelestarian Seni dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung,selaku penyelenggara mengatakan,kegiatan festival permainan anak ini sengaja dilakukan untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap permainan tradisional yang sebenarnya sangat bermanfaat dalam membentuk kepribadian mereka. ”Anak-anak sekarang lebih suka main game onlinedan playstasionyang lebih banyak mengajarkan kekerasan dan menjadi seorang yang individualis.

Berbeda dengan permainan tradisional jaman dulu seperti ‘perepet jengkol’,‘gatrik’, dan ‘sorodot gaplok’ yang membutuhkan kekompakan dan kebersamaan untuk memainkannya,” kata Toto. Menurut Toto,permainan tradisional tersebut sangat baik dalam membentuk perilaku dan pribadi anak dalam kehidupan sehari-hari sehingga berpengaruh dalam membentuk karakter bangsa.

Permainan-permainan tersebut tidak hanya mengajarkan kompetisi,namun juga mengajarkan anak bagaimana caranya menghargai teman,sportivitas,toleransi, dan kerja sama.

Wabup Sambut Positip Pekan Budaya, Seni dan Film

KUNINGAN (CP).- WAKIL Bupati Kuningan, Drs. H. Momon Rochmana, MM, menyambut positip dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan Pekan Budaya, Seni dan Film yang diselenggarakan Kementerian Kebudayan dan Pariwisata RI, bertempat di Pandapa Paramarta, (22/9).

Disebutkan, atas nama Pemerintah Kabupaten Kuningan, ia mengucapkan terima kasih kepada Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film yang telah memberikan kepercayaan kepada Kabupaten Kuningan sebagai tempat kegiatan Pekan Budaya, Seni dan Film.

“Semoga kegiatan ini dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar mengembangkan kebudayaan di Kabupaten Kuningan,” katanya.

Dijelaskan, Kabupaten Kuningan memiliki potensi budaya yang luar biasa, terutama kesenian tradisional banyak tumbuh dan tersebar di semua wilayah. Misalnya, tari buyung, sintren dan cingcowong serta pesta dadung dan lain sebagainya. Sayangnya potensi tersebut belum sepenuhnya menjadi kekuatan rill, yang tentunya memberi kontribusi untuk membangun kemakmuran bangsa.

Menurut Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, Drs. Toto Sucipto yang merangkap ketua penyelenggara, mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan sinergi yang dapat dijadikan sebagai acuan kegiatan yang dapat menghimpun beragam potensi karya budaya Indonesia.

Sehingga, nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya pengembangan industri kreatif di tanah air. “Kegiatan ini juga sekaligus untuk memberikan gambaran kepada masyarakat luas atas berbagai aktifitas dan peran kebudayaan dalam mengii pembangunan nasional, terutama yang dilakukan oleh jajaran unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Ditjen NBSF Depbudpar) dan berbagai pihak yang terkait,” jelasnya.

Pantauan CIREMAIPOST, pembukaan kegiatan yang dilaksanakan dari tanggal 22 hingga 25 September 2011, selain dihadiri oleh Wakil Bupati Kabupaten Kuningan juga nampak Kepala BPSNT Provinsi Jawa Barat, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Kuningan serta unsur Muspida Kuningan maupun SKPD/OPD di lingkungan Pemkab Kuningan. (faruq

Membedah Budaya di Pandapa Paramarta

KOTA : Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Kementerian Kebudayaan Pariwisata, bekerja sama Pemerintah Kabupaten Kuningan menggelar Pekan Budaya
Seni dan Film, di Pandapa Paramarta Kuningan, Kamis (22/9/2011). Acara yang berlangsung selama tiga hari kedepan itu, merupakan rangkaian agenda peringatan Hari Jadi ke-513 Kuningan.
Ketua panitia penyelenggara Toto Sucipto mengatakan, kegiatan meliputi pameran, lomba, pergelaran seni dan dialog. Diharapkan kegiatan ini menjadi salah satu acuan kegiatan yang dapat menghimpun beragam potensi karya budaya Indonesia yang dapat memberikan kontribusi bagi upaya pengembangan industri kreatif di tanah air.
Menurut dia, hal itu dilakukan dalam upaya pelestarian kebudayaan, yang sering digelar dalam serangkaian kegiatan kebudayaan yang melibatkan partisipasi dari seluruh daerah di Indonesia.
“Hal ini didorong keyakinan untuk menunjukkan dan menegaskan kepada kita semua bahwa aktivitas kebudayaan mampu mempertautkan simpul-simpul kebhinekaan menjadi kekuatan yang harmonis, serta memberikan rasa damai, tentram dan nyaman bagi seluruh masyarakat sekaligus sebgai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. kata Toto Sucipto.
Sementara, Wakil Bupati Kuningan H. Momon Rochmana, dalam sambutannya berharap Pekan Budaya Seni dan Film mampu mendorong masyarakat dan pemerintah daerah untuk memanfaatkan kekayaan pariwisata dan budaya yang dimilki secara maksimal guna memacu pembangunan daerah.
Wabup Momon berpesan agar kegiatan dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata ini terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Sebab kegiatan ini penting untuk menjaga serta melestarikan nilai-nilai budaya yang ada ditanah air sebagai warisan leluhur budaya bangsa.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Dirjen Nilai Budaya Seni dan fFilm yang telah memberikan kepercayaan kepada Kabupaten Kuninganuntuk menjadi penyelenggaraan kegitan ini, semoga kegiatan ini dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar dmampu mengembangkan pariwisata dan kebudayaan di daerah,” papr Momon Rochmana.
(jun/kuninganmedia.com)*

Sumber: http://kuninganmedia.com

Cigugur Dijadikan Kampung Sunda

KUNINGAN (CP),- CIGUGUR akan dijadikan Kampung Sunda. Demikan diungkapkan Kadis Parbud Kab. Kuningan, Drs. Tedi Suminar, MSi melalui Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Suyono, kepada CIREMAIPOST di Pendopo Kuningan, (24/9).

Rencana itu terkuak ketika acara Dialog Budaya yang termasuk dalam rangkaian acara Pekan Budaya, Seni dan Film yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Budaya Seni dan Film bekerjasama dengan Pemkab Kuningan.

“Pak Kadis Parbud Kuningan menyebutnya Kuningan The Truly Sundanese bermaksud ingin membuat kuningan benar-benar sunda, baik dari aspek budaya, seni dan adat istiadatnya,” katanya.

Pemahaman ini, lanjut Suyono, tidaklah mudah karena tidak semua masyarakat akan mudah menerimanya. Untuk usai dewasa akan cepat memahami berbeda dengan anak ABG perlu proses lama agar mengerti apa arti budaya, terutama tanah kelahirannya yaitu tanah sunda.

Program The Truly Sundanese dimulai pada 2012. Pemkab Kuningan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan mengajukan raperda termasuk alokasi dana. “Mekanisme program ini, minimalnya bupati mengajukan raperda dan tentunya alokasi dana tidak ketinggalan,” candanya. (faruq)

Sumber: http://www.ciremaipost.com

Pekan Budaya, Seni dan Film Sepi Pengunjung

KUNINGAN (CP),- KEGIATAN Pekan Budaya, Seni dan Film yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jendral Budaya Seni dan Film bekerjasama dengan Pemkab Kuningan, di Pandapa Paramarta, ternyata sepi pengunjung, (22/9).

Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Budaya Kab. Kuningan, Suyono, kepada CIREMAIPOST mengatakan, rangkaian acara ini berlangsung tiga hari dan saat ini sedang berlangsung lomba melukis tingkat SLTP, yang diikuti 10 sekolah. Tiap sekolah tiga orang, namun sayangnya sepi pengunjung.

“Nanti sore ada workshop film dan pada malam harinya ada pemutaran film documenter. Semoga acara tersebut sukses dan diharapkan banyak pengunjung yang datang,” katanya.

Dijelaskan, tujuan kegiatan ini mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kalangan generasi muda, supaya lebih mengenal lebih jauh budaya lokal sendiri dan budaya Indonesia. Kendala yang dihadapi terutama sedikitnya jumlah pengunjung, padahal pihaknya sudah mengririm surat ke sekolah-sekolah.

“Kemungkinan kami akan mengirim surat lagi supaya sekolah yang ada di Kabupaten Kuningan supaya mereka bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini,” katanya. (faruq)

Sumber: http://www.ciremaipost.com

Wisata Sejarah di Kabupaten Kuningan (Studi tentang Perkembangan Wisata Sejarah di Kabupaten Kuningan)

Oleh: Dra. Euis Thresnawati

Abstrak
Wisata sejarah merupakan sebuah perjalanan menelusuri jejak-jejak masa silam. Kegiatan ini cenderung menyerupai kegiatan napak tilas terhadap jejak-jejak peninggalan sejarah yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang. Tujuan dari perjalanan ini beraneka ragam, misalnya untuk rekreasi, ziarah, dan pengembangan keilmuan. Perjalanan wisata sejarah sering dilakukan terhadap peninggalan sejarah yang umumnya berupa makam-makam tokoh yang dikeramatkan atau tempat-tempat peninggalan yang dikeramatkan.

Kabupaten Kuningan, salah satu wilayah yang ada di bagian timur Jawa Barat memiiki potensi wisata sejarah yang menarik dan dapat dijual kepada wisatawan. Sejak lama Kabupaten Kuningan telah mengembangkan potensi wisata sejarah yang ada di daerahnya, hal ini merupakan satu andalan bagi peningkatan pendapatan asli daerah. Objek wisata sejarah tersebut adalah objek wisata sejarah Linggar Jati, objek wisata sejarah Taman Purbakala Cipari, objek wisata sejarah Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, dan lain-lain

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Budaya Spiritual di Makam Syeh Sunan Rohmat Kampung Godog Karangpawitan Kabupaten Garut

Oleh: Drs. Endang Supriatna

Abstrak
Upaya manusia dalam memenuhi kebutuhannya tidak hanya berupa pengendalian lahir tetapi ditunjang dengan upaya batiniah dengan cara berziarah. Dengan berziarah, manusia pada hakekatnya menonjolkan ketidakmampuan, sekaligus mencari keseimbangan dengan bahasa Tuhan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Popular Posts