WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Majukan Budaya, Kab. Bogor Didorong Susun PPKD

Megamendung- Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mendorong Kabupaten Bogor menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).

Staf khusus PPKD Direktorat Jendral Kebudayaan Indra Eka mengatakan dari 514 kabupaten atau kota SeIndonesia baru 337 kabupaten atau kota yang sudah menyerah PPKD, namun Kabupaten Bogor belum menyerahkan PPKD ke Kementerian Parawisata.

"Karena Kabupaten Bogor belum menyerahkan atau menyusun PPKD kami hari ini mendorong Kabupaten Bogor membuat PPKD," kata Indra di Hotel Bahtera kepada wartawan, Kamis (18/7).

Pria alumni Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia ini menambahkan banyak keuntungan jika pemerintah daerah sudah menyerahkan PPKD salah satunya adalah mendapatkan bantuan dana.

"Prasyarat Dinas Kebudayaan dan Parawisata (Disbudpar) daerah mendapatkan dana alokasi khusus dari Kementerian Keuamgan dan dana abadi kebudayaan dari Kementerian Parawisata adalah sudah memiliki PPKD, oleh karena itu jika kebudayaan kabupaten Bogor ingin maju segeralah menyusun PPKD," tambahnya.

Indra menerangkan penyusunan PPKD tidak hanya tugas dari Disbudpar tetapi juga tugas budayawan setempat, Ia pun berharap Kabupaten Bogor membentuk tim penyusun.

"Tim penyusun yang baik itu ada unsur Disbudpar dan budayawan lokalnya, dengan adanya dokumen PKKD berikut bantuan anggaran kami yakin kesenian dan kebudayaan yang sudah atau hampir punah itu bisa direvitalisasi hingga 'hidup' lagj," terangnya.

Ayah satu orang anak ini melanjutkan agar tidak tumpang tindih, Pemerintah Kabupaten Bogor berkordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait PPKD masing-masing.

"Agar tidak tumpang tindih Pemerintah Kabupaten Bogor sebelum menyusun PPKD bisa melihat PPKD milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kalau bahan-bahan dokumennya masih kurang bisa belajar dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat," lanjutnya. (Reza Zurifwan)

Sumber: https://www.inilahkoran.com/berita/19780/majukan-budaya-kab-bogor-didorong-susun-ppkd

11 Museum Siap Ramaikan Festival Budaya Sunyaragi Cirebon

Cirebon - Sedikitnya 11 museum akan meramaikan Festival Budaya Sunyaragi di Kota Cirebon.

Gelaran itu akan dilaksanakan di Taman Air Goa Sunyaragi, Jl Birgjend Dharsono, Kota Cirebon, pada 26-30 Juni 2019.

Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, mengatakan, 11 museum itu bakal menggelar pameran bersama.

"Museum kan tempat untuk mengenal sejarah dan nilai-nilai budaya di Indonesia, FBS ini pameran bersama sejarah, seni, dan budaya," kata Arief Natadiningrat saat ditemui di Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Senin (24/6/2019).

Ia mengatakan, 11 museum itu di antaranya, museum Basoeki Abdullah, museum Pusaka Kasepuhan, museum Nasional Indonesia, museum Benteng Vredeburg, museum Kebangkitan Nasional, museum Perumusan Naskah Proklamasi, museum Seni Jakarta, Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, Kendi Pertula, dan Dewan Kesenian Kota Cirebon.

Selain itu, rangkain FBS juga akan digelar seminar dan diskusi tentang permuseuman.

Adanya pameran museum ini diharapkan bisa memberikan manfaat untuk pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan yang datang.

"Karena museum merupakan tempat serta pusat pewarisan sejarah seni dan nilai-nilai budaya,” ujar Arief Natadiningrat.

Sumber: https://jabar.tribunnews.com/2019/06/24/11-museum-siap-ramaikan-festival-budaya-sunyaragi-cirebon

Kue Satu

Namanya kue satu, nama ini diambil dari cara pembuatan kuenya yaitu dengan cara memasukkan adonan ke dalam lubang cetakan satu per satu. Kue satu merupakan makanan ringan yang berasal dari Cina. Dari orang-orang Cina yang tinggal di Betawi itulah dalam perkembangannya kemudian makanan ini menjadi hidangan ringan khas Lebaran di kalangan masyarakat Betawi. Kue satu mempunyai tekstur yang gampang hancur dan berwarna pucat, tidak coklat tidak pula kuning. Konon warna pucat itu ada yang mengartikan sebagai gambaran orang yang lemas karena sedang berpuasa.

Di antara beragam jenis kue di atas, tampaknya kue satu termasuk kue yang jenis bahannya hanya sedikit. Sebut saja hanya kacang hijau, gula pasir, dan tepung beras. Selain itu, cara pembuatannyapun relatif gampang. Pertama, kacang hijau digoreng sampai matang, ditumbuk agar terkelupas kulitnya, lalu diayak sampai bersih. Tahap kedua, gula pasir ditumbuk halus lalu diayak. Tahap ketiga, adonan dimasukkan ke lubang cetakan lalu ditekan. Agar tidak lengket, lubang cetakan ditaburi tepung beras yang telah digoreng. Adonan dijemur sampai kering.

Sederhana cara pembuatannya, sederhana pula dalam alatnya. Membuat kue satu hanya memerlukan wadah adonan, ayakan kawat, lumpang batu, dan alat penumbuk. Bilamana hendak dihidangkan, kue satu ditempatkan dalam sebuah piring. Kue ini bisa disantap di setiap waktu.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Nastar

Kue nastar bisa dikatakan masih serumpun dengan kue keju. Istilah nastar berasal dari kata ’Ananastaart’ yang merupakan bahasa warga Negeri Kincir Angin. Nama tersebut diambil dari nama bahan untuk isi kue berupa buah nanas. Dalam sejarahnya kue ini hanya dibuat oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia. Lama kelamaan kue ini keluar dari komunitasnya lalu menyebar di kalangan masyarakat Betawi dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner Betawi. Kue nastar dan kue keju bagaikan lem dan perangko. Ada kue nastar ada pula kue keju, demikian kira-kira rangkaiannya. Keduanya biasa disajikan di hari Lebaran.

Kue nastar terbuat dari bahan: tepung terigu, susu bubuk, mentega, kuning dan putih telur, dan selai nanas. Kue nastar dibuat dengan cara berikut: pertama adalah mengocok mentega dengan telur. Kedua, memasukkan susu bubuk dan terigu ke dalam kocokan pertama lalu diaduk hingga rata. Ketiga, adonan diambil sedikit lalu diisi dengan selai nanas, kemudian dibentuk bulat. Demikian seterusnya sampai adonan habis. Keempat, adonan disusun dalam loyang yang sudah diolesi mentega dan ditaburi terigu lalu dipanggang dalam oven hingga berwarna kuning kecoklatan.

Alat-alat yang diperlukan untuk membuat kue nastar di antaranya: wadah kocokan, alat kocokan, sinduk untuk mengaduk, loyang, dan oven. Sama halnya dengan kue keju, kue nastar akan tetap renyah bila disimpan dalam toples. Penyajiannya disertakan piring kue seperti halnya penyajian untuk kue keju.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

ASN Garut Diimbau Turut Meriahkan Peringatan 1 Muharram

Garut - Bupati Garut Rudy Gunawan meminta aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut meramaikan Tahun Baru Islam 1441 Hijriyah.

Dia mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan perayaan tahun baru Islam dengan tema “Mari Berhijrah Menuju Pribadi Yang Bertaqwa’’ yang akan digelar pada 31 Agustus 2019.

“Saya minta seluruh ASN, Dinas Pendidikan dan suluruhnya menyemarakkan tahun baru Islam,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/8).

Dia menjelaskan, peringatan tahun baru Islam di Kabupaten Garut umumnya hanya diperingati di pondok pesantren dengan melakukan pagelaran seni Islam, juga yang berkeliling Kota Garut sambil membaca shalawat yang diiringi rebana atau bedug. Tradisi tersebut memang sudah biasa dilakukan umat Islam di Kabupaten Garut.

Namun, kali ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut akan mengemas perayaan tahun baru Islam ini dengan lebih semarak, dalam bentuk Festival Tahun Baru Islam 1 Muharam 1441 H. Festival itu, kata dia, selain meningkatkan ukhuwah Islamiyah di Kabupaten Garut, juga bertujuan untuk pemajuan kebudayaan untuk kekuatan ekonomi nasional.

Kepala Disparbud Kabupaten Garut, Budi Gan Gan, mengatakan festival itu dapat mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Kabupaten Garut di tingkat nasional maupun internasional. Di samping melestarikan seni budaya tradisional, festival ini diharapkan dapat mendorong kreativitas seniman dan budayawan.

"Para pelaku usaha ekonomi kreatif juga didorong untuk melakukan inovasi sebuah karya yang mempunyai daya saing yang tinggi,” kata dia.

Menurut dia, Festival Tahun Baru Islam merupakan bentuk kolaborasi antara Pemkab Garut dengan dengan MUI, DKM Mesjid Agung, organisasi Islam, dan pondok pesantren di wilayah Kabupaten Garut, serta Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat.

Kegiatan akan diramaikan dengan beberapa event, seperti lomba marawis, lomba pidato dan tahfiz Alquran, pameran, bazar, lomba pawai obor, pergelaran seni, dan pemutaraan film.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/pwueyh320/asn-garut-diimbau-turut-meriahkan-peringatan-1-muharram

Staf BPNB Jawa Barat (10)












Staf BPNB Jawa Barat (9)












Kue Keju

Kue keju lebih populer dengan sebutan kastengesl. Istilah tersebut berasal dari bahasa Belanda kaas stengels. Dalam sejarahnya, kue ini disajikan pada saat perayaan Natal dan Tahun Baru orang-orang Belanda di Batavia. Orang-orang Betawi menjadikan kue ini menjadi bagian dari makanan mereka sendiri. Dalam perkembangannya kue ini menjadi populer tidak hanya pada saat Natal dan Tahun Baru, tapi juga pada hari Lebaran dan bahkan Imlek.

Kue keju dibuat dari bahan: mentega, kuning telur, keju parut, garam, merica, dan tepung terigu. Membuatnya bisa dikatakan cukup mudah yaitu: pertama, mentega dikocok sampai lembut lalu dimasukkan kuning telur satu per satu. Kedua, keju parut, garam, merica, dan tepung terigu dimasukkan ke dalamnya lalu diaduk dengan tangan sampai rata. Ketiga, adonan digilas sampai mempunyai ketebalan ½ cm lalu dibentuk sesuai selera. Biasanya bentuknya menyerupai dan sebesar setengah jari telunjuk. Kemudian adonan disusun di atas loyang yang terlebih dahulu diolesi mentega dan ditaburi terigu supaya adonan tidak lengket di loyang. Selanjutnya loyang dimasukkan ke dalam oven dengan panas sedang. Kue dibakar sampai matang dan kuning lalu diangkat.

Beberapa alat yang digunakan dalam pembuatan kue keju di antaranya: wadah adonan, kocokan, parutan keju, penggilas adonan, pisau, loyang , dan oven. Manakala kue keju sudah masak, penyimpanannya harus pada wadah yang kedap udara agar kue tetap renyah. Olehkarenanya wadahnya berupa toples. Sebagai suguhan tamu, biasanya disertakan piring kue di sebelah toples. Maksudnya agar tamu bisa mengambil lebih dari satu potong kue sekaligus. Maklum saja karena satu kue tidak cukup mengenyangkan. Biasanya ketika tamu menyantap kue, ia akan meletakkan piring kue di bawah mulutnya agar serbuk kue tidak berhamburan di baju atau lantai.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Festival Seni Multatuli Ke- 2 Tahun 2019 Akan Kembali Digelar

Lebak - Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya menghadiri rapat persiapan Festival Seni Multatuli (FSM) 2019 bertempat di Setda Lebak, Senin (20/5/2019)

Turut hadir Kordinator kurator Indonesiana, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, Insan seni budaya dan juga pihak akademisi.

Dalam rapat tersebut Bupati Lebak menyampaikan dukungan dan apresiasinya dengan event FSM dimana menurutnya event ini merupakan salah satu upaya keseriusan pemerintah daerah dalam mewujudkan visinya yaitu menjadikan Kabupaten Lebak sebagai destinasi unggulan nasional berbasis potensi lokal.

"Ini merupakan kawahcandra dimuka nya temen-temen para penggiat budaya, literasi, seni dan komunitas dan kita sangat mengapresiasi dan akan support kegiatan ini" Ungkap Bupati Lebak

Iti mengatakan bahwa pada SFM pertama yang digelar pada tahun 2018, kunjungan wisatan yang hadir melampaui target yang telah ditentukan pemerintah daerah dan di tahun ini Iti berharap akan lebih besar lagi animo dan pengunjung untuk menyaksikan rangkain kegiatan FSM 2019 tersebut.

"Ini festival yang ditunggu-tunggu oleh komunitas-komunitas seni budaya dan alhamdulillah semoga kita dapat memberikan ruang kepada para penggiat seni dan budaya" Pungkas Iti

Koordinator Kurator Festival Indonesiana, Heru Hikayat mengatakan FSM yang menjadi event tahunan ini dapat membekas tidak hanya seremoninya akan tetapi lebih ke literasi transfer knwoledge atau keilmuan terkait budaya yang dan seni yang akan di angkat dan ditampilkan.

"saya kira FSM ini bisa menjadi role model untuk kabupaten lain"Pungkasnya

Untuk diketahui kegiatan atau event FSM Tahun 2019 merupakan tindak lanjut surat dari Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayan Kemdikbud RI Nomor: 1155/E5.1/TU/2019 tentang Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Platform Kebudayaan: Indonesiana Tahun 2019. Dimana di dalam Platform tersebut Kabupaten Lebak melaksanakan kegiatan yaitu Festival Seni Multatuli (FSM) 2019 yang direncanakan di gelar pada tanggal 9-15 September 2019 dengan menampilkan beberapa pertunjukan seni budaya seperti peata patok, festival kerbau, kreasi film pendek, teater dan kreasi seni musik dari komunitas-komunitas di Kabupaten Lebak. (Her)

Sumber: http://www.suaraaktual.co/read-2-739-2019-05-21-festival-seni-multatuli-ke-2-tahun-2019-akan-kembali-digelar.html

Kabupaten Bogor Didorong Susun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah

Bogor - Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mendorong Kabupaten Bogor menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).

Staf khusus PPKD Direktorat Jendral Kebudayaan Indra Eka mengatakan dari 514 kabupaten atau kota SeIndonesia baru 337 kabupaten atau kota yang sudah menyerah PPKD, namun Kabupaten Bogor belum menyerahkan PPKD ke Kementerian Parawisata.

“Karena Kabupaten Bogor belum menyerahkan atau menyusun PPKD kami hari ini mendorong Kabupaten Bogor membuat PPKD,” kata Indra di Hotel Bahtera kepada wartawan, Kamis (18/7).

Pria alumni Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia ini menambahkan banyak keuntungan jika pemerintah daerah sudah menyerahkan PPKD salah satunya adalah mendapatkan bantuan dana.

“Prasyarat Dinas Kebudayaan dan Parawisata (Disbudpar) daerah mendapatkan dana alokasi khusus dari Kementerian Keuamgan dan dana abadi kebudayaan dari Kementerian Parawisata adalah sudah memiliki PPKD, oleh karena itu jika kebudayaan kabupaten Bogor ingin maju segeralah menyusun PPKD,” tambahnya.

Indra menerangkan penyusunan PPKD tidak hanya tugas dari Disbudpar tetapi juga tugas budayawan setempat, Ia pun berharap Kabupaten Bogor membentuk tim penyusun.

“Tim penyusun yang baik itu ada unsur Disbudpar dan budayawan lokalnya, dengan adanya dokumen PKKD berikut bantuan anggaran kami yakin kesenian dan kebudayaan yang sudah atau hampir punah itu bisa direvitalisasi hingga ‘hidup’ lagj,” terangnya.

Ayah satu orang anak ini melanjutkan agar tidak tumpang tindih, Pemerintah Kabupaten Bogor berkordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait PPKD masing-masing.

“Agar tidak tumpang tindih Pemerintah Kabupaten Bogor sebelum menyusun PPKD bisa melihat PPKD milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kalau bahan-bahan dokumennya masih kurang bisa belajar dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat,” lanjutnya

Sumber: https://adeyasin.net/2019/07/kabupaten-bogor-didorong-susun-pokok-pikiran-kebudayaan-daerah/

Kue Semprit

Nama semprit diambil dari cara mencetak kuenya. Kue ini biasa disajikan menjelang dan pada saat hari Lebaran. Kue semprit merupakan salah satu jenis kue kering yang banyak dibuat oleh masyarakat. Beberapa faktor kemungkinannya adalah karena biaya untuk pembelian bahannya relatif murah, cara membuatnya mudah, serta rasanya lumayan enak. Berasa gurih dan manis. Meskipun kue ini tersebar merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi dan menjadikan seperti makanan khas, namun sebenarnya kue ini juga dikenal luas di luar kalangan masyarakat Betawi.

Kue semprit terbuat dari: margarin, mentega, kuning telur, vanili, tepung terigu, gula halus, maizena, dan kismis untuk hiasan. Cara membuatnya adalah: margarin, mentega, gula halus, dan telur dikocok sampai adonan lembut. Selanjutnya ke dalam adonan ditambahkan vanili, tepung terigu, dan maizena lalu diaduk rata. Tinggalah kue dicetak memakai cetakan bunga atau yang sejenisnya. Cara mencetaknya pertama-tama adalah memasukkan secukupnya adonan ke dalam cetakan berbahan seng. Sementara tangan kiri memegang cetakan, ibu jari tangan kanan menekan adonan di dalam cetakan hingga adonan keluar dari lubang cetakan. Lubangnya yang kecil, yang hanya bisa mengeluarkan adonan sedikit demi sedikit itulah yang kemudian diistilahkan dengan semprit dari kata sa’emprit yang artinya sedikit. Di atas kue selanjutnya dihias dengan potongan kismis. Kue lalu dipanggang sampai matang berwarna kecoklatan. Kue semprit disajikan dalam wadah toples atau wadah tertutup sejenisnya agar tidak mudah lembek.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Jahe

Dinamai kue jahe oleh karena kue ini memang berasa jahe. Jahe yang berasa pedas membuat anak-anak kurang menggemarinya. Sedangkan bagi kalangan orang tua justru membantu menghangatkan tubuh. Meskipun dalam keseharian kue ini bisa kita temui, namun demikian kue ini biasa disajikan pada saat hari Lebaran dan kenduri sederhana. Bahan untuk membuat kue jahe terbagi dalam dua bagian yaitu bahan dasar (A) dan bahan untuk glazur (B). Bahan A meliputi: mentega, tepung gula, kopi, putih telur, kuning telur, tepung terigu (protein sedang), tepung maizena, baking powder, jahe bubuk, dan kacang mede. Bahan B meliputi: putih telur, gula palem, dan jahe bubuk.

Membuat kue jahe meskipun terlihat gampang namun banyak tahapan pengerjaannya. Beberapa tahapannya seperti berikut ini: pertama-tama terlebih dahulu kopi dilarutkan dalam air panas dan kacang mede dicincang kasar. Kedua, margarin, mentega, dan tepung gula dikocok lalu dimasukkan telur sambil dikocok rata, ditambahkan air kopi sedikit dan dikocok lagi. Ketiga, tepung terigu, maizena, baking powder, dan jahe bubuk dimasukkan ke dalam adonan yang sudah dikocok sambil diayak dan diaduk rata. Keempat, adonan dibentuk bola-bola agak besar. Kelima, tiap bulatan ditekan-tekan di atas cincangan kacang mede sampai kacang melekat di atas kue dan kue menjadi pipih. Keenam, adonan dipanggang selama lebih kurang 35 menit. Ketujuh, kue jahe dibiarkan sampai dingin. Kedelapan, membuat glazur caranya cukup dengan mengocok putih telur sampai mengembang lalu menambahkan jahe bubuk dan gula palem sedikit demi sedikit lalu diaduk sampai adonan rata. Kesembilan, glazur disemprotkan di atas kue. Kesepuluh, kue dimasukkan ke oven dan dipanggang sampai matang. Cara pembuatan di atas sekaligus menunjukkan sejumlah alat yang harus tersedia, di antaranya: wadah untuk melarutkan kopi, pisau atau sejenisnya untuk mencincang, wadah adonan, kocokan adonan, ayakan, oven, dan semprotan glazur. Manakala kue jahe sudah jadi selanjutnya disajikan dalam toples agar kue tetap kering dan tahan lama.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Biji Ketapang

Sebutan biji ketapang bukan memaksudkan pada biji ketapang dalam arti yang sebenarnya. Hanya saja karena secara fisik bentuknya menyerupai biji ketapang maka makanan ini dinamai biji ketapang. Makanan ini merupakan makanan ringan yang wajib tersedia pada saat hari Lebaran maupun Idul Adha. Biasanya makanan ini tersedia pada hari kedua Lebaran sebagai hidangan ringan khas untuk suguhan tamu. Persebaran kue ini cukup merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi.

Biji ketapang terbuat dari: tepung terigu, kacang tanah, tepung gula, garam dan vanili secukupnya, telur, dan mentega. Sebelum membuat adonan, terlebih dahulu kacang tanah disangrai dan dihaluskan. Begitu kacang siap pakai, semua bahan lalu dicampur jadi satu dan diaduk hingga rata. Selanjutnya adonan digulung sebesar pensil yang panjang lalu dipotong menyerong. Setiap potongan ditaburi dengan sedikit tepung supaya tidak melekat satu sama lain. Kue kemudian digoreng hingga kecoklatan. Biji ketapang dibuat dengan alat yang relatif sederhana seperti: katel lengkap dengan susruk dan serok untuk menyangrai dan menggoreng, pisau untuk mencincang, dan baskom sebagai wadah adonan. Wadah sajian untuk biji ketapang berupa toples atau wadah sejenisnya, yang penting kedap udara.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Cincin

Kue cincin sering disebut juga dengan kue donat. Kue ini merupakan makanan ringan yang disajikan sebagai hidangan sehari-hari, maupun untuk hajatan atau kenduri sederhana. Kue cincin terbuat dari bahan dasar gula merah yang dicampur sagu, tepung beras, dan air. Membuatnya dengan cara: gula merah yang sudah dimasak dengan air diberi tepung beras, dimasak lagi, dan diaduk rata. Setelah adonan dingin lalu dimasukkan sagu dan diaduk. Selanjutnya adonan disimpan selama satu hari. Dengan menggunakan daun pisang batu atau plastik, adonan dibuat pipih, kemudian pada bagian tengahnya ditusuk dengan telunjuk sehingga berlubang dan berbentuk menyerupai cincin. Selanjutnya adonan digoreng hingga masak.

Alat yang digunakan adalah: panci untuk memasak adonan, sinduk untuk mengaduk, dan baskom. Penyajiannya dalam sebuah piring dan dapat dinikmati setiap saat.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Telor Gabus

Dinamai telor gabus bukan karena bentuknya yang menyerupai telur melainkan karena kue ini dibuat dengan menggunakan telur sebagai bahan dasarnya. Telor gabus merupakan penganan sehari-hari yang biasa disajikan untuk tamu. Penganan ini juga terdapat di daerah lain dengan sebutan yang sama. Telor gabus ada dua macam yaitu dengan atau tanpa wijen. Bila tanpa wijen hanya berasa manis sedangkan yang berwijen berasa manis campur gurih.

Telor gabus menggunakan bahan dari: sagu, telur, garam, gula merah, vanili, dan minyak goreng. Bahan-bahan tersebut diolah dengan cara: telur dikocok lalu ditambahkan garam, sagu, dan vanili. Adonan tadi diaduk sampai rata lalu diremas-remas dengan tangan kemudian dibentuk menyerupai bentuk cabe. Begitu adonan selesai dibentuk, adonan dimasukkan ke dalam minyak yang dingin dan digoreng sampai kuning. Pengolahannya tidak berhenti sampai di situ, masih harus membuat larutan gula. Caranya, gula merah dimasak dengan air sampai kental dan setelah itu baru dimasukkan telor gabus yang sudah digoreng tadi. Beberapa alat yang digunakan untuk membuat yaitu: wadah untuk tempat kocokan, kocokan telur, baskom untuk wadah adonan, panci untuk memasak gula, dan sinduk kayu untuk mengaduk. Musuh telor gabus adalah udara maka penganan ini akan bertahan lama bila disimpan dalam toples. Makanan ini tidak bersifat mengenyangkan dan karenanya bisa dinikmati kapan saja.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Popular Posts