WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Hahiwang Seni Bertutur Lampung Yang Terancam Punah

Hahiwang, seni tutur tradisional Lampung menjadi salah satu dari 17 karya budaya yang baru ditetapkan sebagai sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) nasional. Tetapi, hal ini menjadi paradoks baru karena kesenian ini justru hampir punah di era milenial.

Sakik sikam ji nimbang / Sakit rasanya luar biasa

Kak kapan ago segai / Bila akan berakhir

Hiwang ni sanak malang / Syair anak malang

Sikal kilu mahap pai / Sebelumnya minta maaf bila ada silap

Hgatong mangedok sai di usung / Datang tak ada yang dibawa

Ya gila sanak aghuk / Inilah bocah tak berdaya

Apak ni saka lijung / Telah lama menghilang

Sisi di tinggal induk / Sedih ditinggal ibunda

Mangedok daya lagi / Tak punya kekuatan lagi

Sikam ghatong jak bungkuk / Aku datang dari ketiadaan

Nyeghahko jama kuti / Memberitahu kepada kalian

Tabikpun di puskam kaunyinna, kalau ya keteghima / Salam hormat kepada kalian semua, semoga diterima

(Ali Gufron, Jurnal Patanjala Vol. 9 No. 3 September 2017, halaman 406)

Demikian sepenggal hahiwang di atas, sebuah pengantar mengenai kisah seorang anak yang ditinggal ibunya yang meninggal dunia. Kesedihan yang tidak terperi, kehilangan sosok penguat, sosok yang dicintai sepenuh hati.

"Hahiwang itu ungkapan kesedihan. Misalnya tentang kematian, tentang putus pacara, tentang merantau jauh. Tetapi di balik kesedihan itu ada banyak pesan-pesan moral kepada pendengarnya," kata Budayawan Lampung, Zulkarnain Zubairi, Sabtu, (27/9)

Hahiwang adalah seni tutur Lampung menyerupai puisi yang menggunakan bahasa Lampung. Kondisinya sekarang dapat dikatakan hampir punah, hanya terbatas pada habitat aslinya, di komunitas-komunitas kecil.

Kesenian ini sendiri telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai satu dari 17 warisan budaya tak benda (WBTB) nasional dari daerah Lampung. 16 budaya lainnya yakni, tradisi Ngunduh Damakh, Ngejalang, Hadra Ugan, Tari Ittar Muli, Seni Ringget, Seni Panggeh, Adat Ngakuk Maju, dan Adat Blangiran. Kemudian, Pengangkonan Anak, Tari Selapanan, Bedikekh, Muwaghei, Tari Debingi, Tradisi Mukew Sahur, Adat Adok, dan Seni Pincak Khakot.

Tetapi, kabar menggembirakan itu menjadi paradoks baru. Meski telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional, keberadaan hahiwang justru semakin terancam punah.

Peraih Rancage Award 2008 itu mengakui, Hahiwang memang sudah termasuk langka. Penuturnya hanya seniman-seniman lama dan berada di wilayah-wilayah pelosok Lampung seperti Krui (Lampung Barat) ataupun pelosok lain.

Dibandingkan tradisi lain yang memiliki bentuk nyata seperti tarian ataupun ilmu bela diri, sehingga mampu bertransformasi menjadi seni pertunjukan, hahiwang yang adalah seni lisan sangat tergantung dari eksistensi penggunaan bahasa ibu oleh masyarakat.

"Hahiwang sejatinya memang bukan seni pertunjukan. Hahiwang ini adalah ungkapan kesedihan, misalnya ibunya meninggal dunia lalu ber-hahiwang, semua diungkapkan karena itu sebenarnya adalah pesan kepada yang hidup," sambung Zulkarnain.

Zulkarnain mengungkapkan, karena merupakan seni bertutur, maka berkaitan erat dengan pengunaan bahasa. Menurutnya, bagaimana bisa lestari jika penutur Bahasa Lampung sendiri makin berkurang. Zulkarnain memperkirakan jumlah penutur Bahasa Lampung saat ini hanya berkisar 20%.

“Jadi, untuk membangkitkan (hahiwang) itu tidak bisa hanya dengan pengakuan saja, seperti WBTB itu. Tetapi juga seharusnya melestarikan bahasa penuturnya. Seiring kebertahanan Bahasa Lampung, maka hahiwang dan seni lisan lain juga akan pasti lestari," kata dia.

Hal ini tidak lepas dari empat faktor bagaimana sebuah bahasa bisa bertahan. Keempat faktor itu, kata Zulkarnain, yaitu berbicara, mendengar, menulis, dan membaca. Keempat faktor ini saling berkaitan satu sama lain. "Ketika tulisan dibaca, maka ada yang mendengar," katanya.

Oleh karena itu, kata Zulkarnain, seharusnya khusus untuk tradisi seni lisan keempat faktor itu patut menjadi perhatian. Pelestarian bukan hanya terfokus pada kesenian itu, tetapi juga faktor-faktor pendukungnya.

"Ada pertanyaaan, jika saya melestarikan suatu tradisi, apakah itu untuk saya dan masyarakat saya, misalnya etnis Lampung atau untuk kebanggaan saja, sekadar ekspos saja? katanya.

Keterkaitan pelestarian bahasa ibu ini juga terjadi pada tradisi dan kesenian tutur lain yang juga mulai terancam punah yakni Gitar Tunggal Lampung. Ryan Bekri, seniman Gitar Tunggal Lampung asal Way Kanan mengatakan, kesenian ini mulai dilupakan seiring pelakunya yang juga berkurang.

Lagu Gitar Tunggal Lampung memiliki makna tak terpisahkan sejak intro sampai akhir lagu. Penciptaan lagu pun tidak bisa sembarangan dan dinyanyikan tanpa mengetahui lagamnya. Menurutnya, ada berpuluh-puluh lagam petikan pada gitar tunggal Lampung, diantaranya Petikan Serai Kasih, Kembang Kancang, Keroncong Pandan, Sekandu, Setimpal, atau Keris 1 sampai 3.

"Ilmu turun temurun. Selain harus menguasai alurnya, juga harus tahu petikannya. Dahulu ilmu ini turun melalui pergaulan. Tapi bagaimana bisa, jika berbahasa Lampung juga tidak bisa?" katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Sulpakar mengatakan, secara umum penetapan ke tujuh belas tradisi sebagai warisan budaya tak benda nasional adalah upaya pemerintah untuk pelestarian dan perlindungan karya budaya.

Dia menambahkan, pihaknya akan terus mencatat dan meregistrasi kekayaan kebudayaan Lampung agar bisa diakui baik di tingkat nasional maupun internasional. Karena, Lampung masih memiliki kekayaan budaya yang belum ditemukan.

"Agar generasi mendatang masih bisa menikmati karya budaya ini. Tahun depan ditargetkan sebanyak 28 (tradisi), dan data ini harus sudah masuk pada akhir tahun ini. Kita berharap, kita bisa mengajukan dengan kriteria yang dimaksud," kata Sulpakar.

Sumber: https://www.gatra.com/news-447724-milenial-hahiwang-seni-bertutur--lampung-yang-terancam-punah.html

Lawatan Sejarah Daerah - Cirebon 2014 (15)

Patanjala Vol. 13 NO. 2 Oktober 2021



DOI : 10.30959/patanjala.v13i2.800
Gregorius Andika Ariwibowo
PDF
141-158


MENYELISIK BUDAYA PASAR TRADISIONAL DI PASAR BARU BALIKPAPAN, KOTA BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR

DOI : 10.30959/patanjala.v13i2.795
Budiawati Supangkat, Rahman Latif Alfian, Johan Iskandar
PDF
159-173


NILAI BUDAYA PADA LANSKAP INDUSTRI PERKEBUNAN KINA CINYIRUAN BANDUNG PADA MASA KOLONIAL

DOI : 10.30959/patanjala.v13i2.848
Lia Nuralia, Iim Imadudin
PDF
175-192


THE CULTURAL VALUES OF THE BULANGAN LONDONG SEMBANGAN SUKE BARATA RITUAL OF THE INDIGENOUS PEOPLE OF TORAJA

DOI : 10.30959/patanjala.v13i2.798
Markus Deli Girik Allo, Nilma Taula’bi, Elim Trika Sudarsih, Eka Prabawati Rum
PDF
193-207


MENILIK PERTUNJUKAN ADU DOMBA DI PRIANGAN PADA MASA KOLONIAL

DOI : 10.30959/patanjala.v13i2.788
Budi Gustaman
PDF
209-223


KRISIS POLITIK DI KALIMANTAN BARAT 1950: SUATU PROSES MENUJU INTEGRASI KE DALAM REPUBLIK INDONESIA

DOI : 10.30959/patanjala.v13i2.796
Mohammad Rikaz Prabowo, Aman Aman

KRISIS POLITIK DI KALIMANTAN BARAT 1950: SUATU PROSES MENUJU INTEGRASI KE DALAM REPUBLIK INDONESIA

Mohammad Rikaz Prabowo, Aman Aman

ABSTRACT
This event was based on the background of competition between political groups after the recognition of Indonesian sovereignty on December 27, 1949, namely the pro-integration groups into the Republik of Indonesia through the West Kalimantan National Committee (KNKB), with those who wanted to maintain the status of the Special Region of West Kalimantan (DIKB) within the framework of a systemized Federal RIS. This competition resulted in a political crisis that affected the entire province. The republicans in the KNKB demanden the DIKB Government that West Kalimantan be part of the Republic of Indonesia. This desire was responded coldly, even though the DIKB figures rejected the entry of the TNI. This sparked demonstration that led to the arrest of republicans and a general strike which resulted in a political crisis. The political crisis subsided after the arrival of the RIS and DPR-RIS Commissioners. The arrest of Sultan Hamid II on April 5 1950 paralyzed DIKB and accelerated joining the Republic of Indonesia.

KEYWORDS
DIKB, Sultan Hamid II, RIS, RI

FULL TEXT:    PDF

REFERENCES
Abbas, I. (2014). Memahami Metodologi Sejarah Antara Teori dan Praktek *). In Jurnal ETNOHISTORI (Vol. 1, Issue 1). http://garuda.ristekdikti.go.id/documents/detail/848669

Abubakar, A., Krisdiana, R., Usman, S. D., Andi, U. F., Wibawa, M. A., & Akbar, A. (2019). Menegakkan Kedaulatan dan Ketahanan Ekonomi: Bank Indonesia Dalam Pusaran Sejarah Kalimantan Barat (Nawiyanto (ed.)). BI Institute.

Agung, I. A. A. G. (1994). Pernyataan Rum-Van Roijen 7 Mei 1949. Yayasan Pustaka Nusatama-Sebelas Maret University Press.

Ahok, P., Ismail, S., & Tjitrodarjono, W. (1992). Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945 - 1949) Daerah Kalimantan Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. https://pustaka.kebudayaan.kemdikbud.go.id/index.php?p=show_detail&id=1524&keywords=

Aju. (2017a). J.C. Oevaang Oeray: Dari Federasi ke NKRI. Derwati Press.

Aju. (2017b). Kalimantan Barat: Lintasan Sejarah dan Pembangunan dari Era Kolonial Belanda-Tahun 2013. Derwati Press.

Alqadrie, S. I., & Sastrowardoyo, P. (1984). Sejarah Sosial Daerah Kotamadya Pontianak. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. http://pustaka.kebudayaan.kemdikbud.go.id/index.php?p=show_detail&id=2384&keywords=sejarah+sosial+kotamadya+pontianak

Amir, M. (2010). Dari Federalis Ke Unitaris: Studi Kasus Sulawesi Selatan 1945-1950. Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 2(2), 341. https://doi.org/10.30959/patanjala.v2i2.222

Andi, T. N., & Rahman, R. (2010). Pemerintahan Kota Pontianak dari Sultan Sampai Walikota. Komunitas Lentera.

Anonim. (1947, Mei, 13). West-Borneo-Statuut Getekend. Het Dagblad, 4.

Anonim. (1949, Agustus, 24). Sultan Hamid II ter R.T.C: Indonesie iz Zwaar Ziek. Het Dagblad, 2.

Asfar, D. A. (2005). Citra Manusia Dalam Novel Sejarah Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat Karya M. Yanis. Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Bhakti, I. N., & Mengko, D. M. (2018). Intelejen dan Politik di Indonesia: Tinjauan Sekilas pada Era Soekarno. In I. N. Bhakti, D. M. Mengko, & S. N. Siregar (Eds.), Intelejen dan Politik Era Soekarno2 (pp. 1–22). LIPI Press.

Colijn, A. W. (1949, November, 29). Welkom voor S. Hamid. De Locomotief, 2.

Colijn, A. W. (1950, Januari, 18). TNI in Pontianak. De Locomotief, 4.

Darmadi, Y. (2017). 110 Tahun Dokter Mas Soedarso. Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat, 2. https://www.pustaka-bpnbkalbar.org/berita/110-tahun-dokter-mas-soedarso

Feith, H. (2007). The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Equinox.

Hasanudin. (2016). Poltik dan Perdagangan Kolonial Belanda di Pontianak. Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 8(2), 203–218. https://doi.org/10.30959/patanjala.v8i2.73

Hatta, M. (2018). Menuju Gerbang Kemerdekaan. Kompas Media.

Houbolt, J. (1950, Agustus, 18). Vervulling van Nationale aspiraties brengt politieke stabiliteit. Nieuwsblad Voor Indonesie, 2.

Houbolt, J. (1950, April 6). Commentare op Arrrestatie van Sultan Hamid II. Nieuwsblad Voor Indonesie, 1.

Huda, N. (2009). Otonomi Daerah: Filosofi, Sejarah Perkembangan, dan Problematika. Pustaka Pelajar.

Joel, H. (1949, November 26). Overdracht, concentratie en hulpverlening. Java Bode, 4.

Joel, H. (1950, Januari, 12). Daerah-hoofd West-Borneo. Java Bode, 2.

Joel, H. (1950, Maret, 10). Staking te Pontianak legt bedrijfsleven lam. Java Bode, 4.

Joel, H. (1950, Mei, 10). Tweehoeksconferentie begint 16 Mei. Java Bode, 1.

Kanumuyoso, B. (2020). Metode Sejarah. Direktorat PTLK, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kanumuyoso, B., Brahmantyo, K., & Irsyam. Tri Wahyuning M. (2020). Penulisan Sejarah (A. S. Rizal (ed.)). Direktorat PTLK, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Klooster, W. S. (1949, September 20). De vlag in Kalimantan. Het Nieuwsblad, 4.

Klooster, W. S. (1950, Januari, 14). Hatta Bezoek Aan Pontianak. 1Het Nieuwsblad, 4.

Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Tiara Wacana.

Leirissa, R. Z. (2006). Kekuatan Ketiga Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Pustaka Sejarah.

Listiana, D., Wijanarko, N. B., Prabowo, R. D., & Ratmanto, A. (2015). Melawan Arus: Membaca Narasi Baru Sejarah Indonesia (Ara (ed.)). Atap Buku. https://www.academia.edu/35991217/TROPE_BARU_SULTAN_HAMID_II_DI_RANAH_POLITIK_LOKAL

Mangunwijaya, Y. (1999). Menuju Republik Indonesia Serika. PT. Gramedia Pustaka.

Mierop, A. H. F. (1949, Desember, 24). Delegatie naar Nederland. Nieuwe Courant, 4.

Mierop, A. H. F. (1950, Mei, 20). Essentialia RI-grondwet en het goede van de RIS. Nieuwe Courant, 4.

Mierop, A. H. F. (1950, Maret, 15). Pontianak geisoleerd. Nieuwe Courant, 4.

Mierop, A. H. F. (1950, Mei, 10). West-Borneo. Nieuwe Courant, 4.

Nugraha, D. P. (2012). Partai Politik Lokal di Indonesia (Analisis Kedudukan Dan Fungsi Partai Politik Lokal 1955-2011). Universitas Indonesia.

Persatuan Djaksa-Djaksa Seluruh Indonesia (Persadja). (1955). Process Peristiwa Sultan Hamid II. Penerbit Djakarta.

Putro, W. S. (2018). Konferensi Inter-Indonesia Tahun 1949: Wujud Konsensus Nasional antara Republik Indonesia dengan Bijeenkomst voor Federaal Overleg. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 3(1), 34. https://doi.org/10.14710/jscl.v3i1.17341

Rahmayani, A. (2013). Industri Keramik Tradisional Cina Di Sakkok, Singkawang 1933-2000. Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 5(2), 217. https://doi.org/10.30959/patanjala.v5i2.133

Rinardi, H. (2012). Dari RIS Menjadi Negara RI: Perubahan Bentuk Negara Indonesia Pada Tahun 1950. MOZAIK: Jurnal Ilmu Humaniora, Vol. 12(2), 92–209.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. (1985). 30 Tahun Indonesia Merdeka: 1950-1964. PT. Citra Lamtoro Agung Persada.

Soedarto. (1989). Naskah Sejarah Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat 1908-1950. Pemerintah Daerah Tk.II Kalimantan Barat.

Soedarto., Adhisidharto, W., & Sugeng. (1978). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Kalimantan Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Staf Semdam XII. (1970). Tandjungpura Berjuang: Sejarah Kodam XII/Tandjungpura. Pontianak. Yayasan Tanjungpura.

Tanasaldy, T. (2014). Regime Change and Ethnic Politics in Indonesia Dayak Politics of West Kalimantan. KITLV.

Teunis, A. (1950, Maret, 9). Staking in West-Borneo. De Locomotief, 4.

Teunis, A. (1950, April 18). West-Borneo is Opgeheven. De Locomotief, 1.

Turiman. (2013). Analisis Semiotika Hukum Terhadap Lambangan Negara Republik Indonesia. Jurnal Hukum Dan Pembangunan, 43(3). https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21143/jhp.vol43.no3.1495

Usman, S. D. (2018). Di Bawah Lambaian Sang Merah Putih: Kisah Revolusi Kalimantan Barat 1945-1950. Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kalimantan Barat.

Utami, D. (2004). Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) 20 Desember 1949-6 September 1950 [Universitas Sanata Dharma]. https://repository.usd.ac.id/25949/

Utami, S. R. (2018). Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945-1949. Derwati Press.

Vinsensius. (2015). Sultan Hamid II Berwajah Ganda Dalam Karier Politiknya di Indonesia [Universitas Sanata Dharma]. https://repository.usd.ac.id/2748/

Wajidi, W. (2015). Eksistensi Partai Indonesia Raya (Parindra) Di Kalimantan Selatan, 1935-1942. Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 7(1), 17. https://doi.org/10.30959/patanjala.v7i1.80

Widayati, W. (2015). Sistem Parlemen Berdasarkan Konstitusi Indonesia. Masalah-Masalah Hukum, 44(4), 415. https://doi.org/10.14710/mmh.44.4.2015.415-424

Yanis, M. (1998). Djampea: Novel Sejarah Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat. Dewan Kesenian Kalimantan Barat dan Badan Penerbit Universitas Tanjungpura.

Zamzam, Z. (1950, Maret, 31). Residen buat Kalimantan Barat. Kalimantan Berdjuang, 1.

Sumber: Patanjala Vol. 13 NO. 2 Oktober 2021

MENILIK PERTUNJUKAN ADU DOMBA DI PRIANGAN PADA MASA KOLONIAL

Budi Gustaman

ABSTRACT
Adu domba sangat populer di Priangan, khususnya di wilayah Garut. Popularitas adu domba (Garut) tidak bisa dilepaskan dari historisitasnya. Penelitian ini ditujukan untuk mempertanyakan kemunculan domba Garut serta pertunjukan adu domba pada awal perkembangannya. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, dengan memanfaatkan sumber berupa buku dan koran yang diproduksi pada masa kolonial. Temuan utama penelitian ini ialah kemunculan jenis domba Garut dilatarbelakangi impor domba yang diinisiasi oleh K.F. Holle untuk tujuan budidaya wol. Kawin silang domba impor dan domba lokal menghasilkan jenis domba petarung yang lazim disebut domba Garut. Pertunjukan adu domba muncul dari kebiasaan masyarakat pribumi dalam mengadu binatang, hingga berkembang menjadi hiburan yang sering diselenggarakan pada setiap event besar. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai domba petarung, domba Garut muncul dari ‘ketidaksengajaan’ hingga menjadi populer sejak akhir abad ke-19, dengan diiringi berbagai kecaman dari perspektif orang Eropa perihal esensi permainannya.

Fighting sheep is very popular in Priangan, especially in the Garut region. The popularity of fighting sheep can't be separated from the history that lies behind it. This research is intended to answer the questions about the emergence of Garut sheep and sheep fighting show at the beginning of its development. The method used in this research is the historical method by utilizing sources of books and newspapers produced during the colonial period. The main finding of this study is that the emergence of the Garut sheep breed was motivated by the import of sheep initiated by K.F. Holle for wool cultivation purposes. The crossbreeding of imported sheep and local sheep has resulted in the type of fighting sheep which is now commonly referred to as Garut sheep. The fighting sheep show itself emerged from the indigenous people's habit of fighting animals which later developed into an entertainment that was often held at every major event. The conclusion of this study is that Garut sheep as fighting sheep emerged from an 'accidental habits' and then became popular since the late 19th century. On the other hand, it has also drawn criticism from the perspective of Europeans who are concerned about the essence of the fighting sheep.

KEYWORDS
Adu Domba, Domba Garut, Garut, Priangan

FULL TEXT:        PDF

REFERENCES
Veeteelt overdruk uit Mededeelingen der Regeering Omtrent (1926).

Advertentie. Bataviaasch Nieuwsblad, 9 September 1938.

Barwegen, M. (2005). Gouden Hoorns; De geschiedenis van de veehouderij op Java, 1850-2000. Proefschrift Landbouwuniversiteit Wagenigen.

Binnenland. Tegal. De Indische Courant, 9 Agustus 1928.

Bokkengevechten. Kaoem Moeda, 25/29 April 1921. Overzicht van de Inlandshe en Maleisch-Chineesche Pers No.18/1921.

Bokkengevechten en Wedrennen. Kaoem Moeda, 18/23 Juli 1921. Overzicht van de Inlandshe en Maleisch-Chineesche Pers No. 30a/1921.

Buys, M. 1900. In Het Hart der Preanger. Leiden: S.C. van Doesburgh.

Crawfurd, J. (1820). History of The Indian Archipelago. Edinburgh: Archibald Constable and Co.

De Aanstaande Pasar Gambir. Bataviaasch Nieuwsblad, 25 Juni 1926.

Deenik, A.C. dan Rd. Djajadiredja. (1913). Roesdi djeung Misnem; Bokoe batjaan pikeun moerid2 di Sakola Soenda. ‘s-Gravenhage: Blankwaardt & Schoonhoven.

De Omdooping der Desa Tjimareme. De Preanger-Bode, 29 November 1922.

De Omdooping der Desa Tjimareme. De Sumatra Post, 9 Desember 1922.

De Koning van Siam te Garoet. De Locomotief, 22 Juni 1896.

Digital Collections Leiden University Libraries. Rammengevecht op de aloen-aloen te Garoet voor het huis van de assitent-resident, diakses pada tanggal 5 April 2021, dari https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/

Dieren-Bescherming. De Preanger-Bode, 30 Januari 1923.

Digital Collections Leiden University Libraries. Rammengevecht te Bandoeng, diakses pada tanggal 5 April 2021, dari https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/

Enkele Onderwerpen van Algemeen Belang. Weltevreden: Landsdrukkerij.

Feesten te Bandoeng. Bataviaasch Nieuwsblad, 2 September 1908.

Garoet Bestaat 125 jaar. Bataviaasch Nieuwsblad, 1 September 1938.

Gustaman, B. (2015). Animal Welfare di Hindia Belanda; Perkembangan Wacana Tentang Kesejahteraan Satwa 1896-1942. Tesis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Holle, K.F. (1868). “Merinos-Schapen”. Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch Indie uitgegeven door de Nederlandsch-Indische Maatschappij van Nijverheid en Landbouw Deel XIII. Batavia: Ogilvie & Co.

Jaarmarkt. De Preanger-Bode, 15 Maret 1907.

Lebaran te Garoet. Bataviaasch Nieuwsblad, 29 September 1888.

Lubis, N. H. (1998). Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.

Mut. Een vacantiereisje op Java. De Locomotief, 18 Juli 1902.

Nederlandsch-Indie Bandoeng, 17 Februari 1989. De Preanger-Bode, 17 Februari 1898.

Nederlandsch-Indie Bandoeng, 31 Agustus 1898. De Preanger-Bode, 31 Agustus 1898.

Pasar Malem te Rangkas. Bataviaasch Nieuwsblad, 5 Juni 1929.

Preanger Kroniek – Raadsoverzicht. Bataviaasch Nieuwsblad, 27 Juli 1923.

Raap, O. J. 2013. Soeka-Doeka Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: KPG.

Raffles, T. S. (1830). The History of Java Vol. I. London: John Murray.

Rammengevechten. De Preanger-Bode, 17 Januari 1923.

Rammengevechten. De Sumatra Post, 29 Januari 1923.

Rammengevechten. Matahari, 14, 24, 30 Januari 1923.

Overzicht van de Inlandshe en Maleisch-Chineesche Pers No. 6/1923.

Stroomberg, J. (2018). Hindia Belanda 1930. Yogyakarta: IRCiSoD.

Uit Bandoeng. Het nieuws van den dag, 20 Agustus 1908.

Uit Tasikmalaja. De Preanger-Bode, 5 Agustus 1922.

Van die ren daar – uit Garoet schrijft men ons. De Preanger-Bode, 1 September 1904.

Van die ren daar – uit Oedjoengbroeng. De Preanger-Bode, 1 Desember 1913.

Van Dyck, J.Z. (1922). Garoet en Omstreken. Batavia: G. Kolff & Co.

Volksfeesten. De Preanger-Bode, 8 Januari 1923.

Vooruitgang?. Matahari. 4/30 September 1922. Overzicht van de Inlandshe en Maleisch-Chineesche Pers No. 41/1922.

Wanaradja’s Polikliniek – Feestelijke Openning. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 2 Januari 1940.

Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie (1921).

Zaterdagavondcadetjes. De Preanger- Bode, 27 Agustus 1900.

Sumber: http://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php/patanjala/article/view/788

THE CULTURAL VALUES OF THE BULANGAN LONDONG SEMBANGAN SUKE BARATA RITUAL OF THE INDIGENOUS PEOPLE OF TORAJA

Markus Deli Girik Allo, Nilma Taula’bi, Elim Trika Sudarsih, Eka Prabawati Rum

ABSTRACT
The purpose of this study was to investigate the cultural values in the ritual of Bulangan Londong Sembangan Suke Barata as part of the Toraja indigenous people life. The research method used in this study is a qualitative method. Meanwhile, the respondents involved in this study include culturist, linguists, and the Toraja community. The research instruments used in this study were document files, interviews with the subjects, and observations using a video recorder that recorded the ritual process of Bulangan Londong Sembangan Suke Barata. The data analysis technique in this study includes three main steps, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that the cultural values contained in the rituals of the Bulang Londong Sembangan Suke Barata were 'Manuk' which symbolized the value of the work ethic, 'Ussembang Suke Barata' which represented the religious value of bamboo slashed by 'Mina', and 'Kayunan Londong' which personifies the leader's patriotic value.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki nilai-nilai budaya dari ritual bulangan londong sembangan suke barata dari masyarakat adat Toraja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Responden penelitian ini adalah budayawan, ahli bahasa, dan komunitas Toraja. Instrumen penelitian yang digunakan adalah file dokumen, wawancara dengan subjek, dan pengamatan dengan menggunakan perekam video pada ritual bulangan londong sembangan suke barata. Teknik analisis data mencakup tiga langkah utama, pengurangan data, presentasi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya yang terkandung dalam ritual bulangan londong sembangan suke barata adalah manuk yang melambangkan nilai etos kerja, ussembang suke barata yang mewakili nilai religius bambu yang ditebas oleh mina, dan kayunan londong sebagai personifikasi nilai patriotik pemimpin.

KEYWORDS
Cultural values, Bulangan Londong Sembangan Suke Barata Ritual, Indigenous People of Toraja

FULL TEXT:      PDF

REFERENCES
A'ban, R. (2019). Nilai Sosial dalam Cerita Rakyat Toraja Seredukung (Suatu Tinjauan Sosiologi Sastra). (Skripsi), Universitas Muhammadiyah Makassar, Makassar.

Alfiah, A., & Supriyani, E. (2016). Perubahan Bentuk Rumah Adat Tongkonan Tana Toraja Berdasarkan Pendapat Teori Lesesau. Teknosains: Media Informasi Sains dan Teknologi, 10(2), 183–196. https://doi.org/10.24252/TEKNOSAINS.V10I2.1899

Baan, A., & Suyitno, I. (2020). Cultural Representation of Toraja Ethnic on The Use of Vocabulary In Singgi’ Speech. Litera, 19(2), 228–246. https://doi.org/10.21831/ltr.v19i2.32074

Bahfiarti, T. (2015). Cultivation Cultural Values Toraja Parents and Children Through Family Communication In Makassar City. KRITIS : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 1(2), 209–218.

Creswell, J. W. (2012). Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Boston: Pearson Education, Inc.

Guntara, F., Fatchan, A., & Ruja, I. N. (2016). Kajian Sosial-Budaya Rambu Solo’ dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 1(2), 154–158.

Handayani, R., Ahimsa-Putra, H. S., & Budiman, C. (2020). Out of Crisis: Maintaining Hegemony through Rambu Solo Ritual in Toraja. International Journal of Indonesian Society and Culture, 12(2), 246–258. https://doi.org/10.15294/komunitas.v12i2.23014

Indratno, I. (2016). Silau’na Tongkonan Sebagai Sebuah Realitas Tondok. Ethos Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 4(1), 75–84.

Ismail, R. (2019). Ritual Kematian dalam Agama Asli Toraja “Aluk To dolo” (Studi atas Upacara Kematian Rambu Solok). Religi, 15(1), 87–106.

Lestari, W., Soleha, M., Ibrahim, I., Ruwaedah, & Roosihermiatie, B. (2012). Etnik Toraja Sa’dan Desa Sa’dan Malimbong, Kecamatan Sa’dan Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. In Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak. Surabaya: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.

Mackey, Alison, and Gass, M., S. (2005). Second Language Research : Methodology and Design. London: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Manggau, A., & Jayadi, K. (2019). Karume Tradition in Toraja Tribe, South Sulawesi. Paper presented at the The 1st International Conference on Education Social Sciences and Humanities (ICESSHum 2019).

Masitha Dewi, A., Gesrianto, J., & Daeng Tata Raya, J. (2020). Ethnosemantics Study Of Lexicon “Kuburan” In The Toraja People. Retorika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 13(2). https://doi.org/10.26858/retorika.v13i2.13804

Mustafa. (2018). Mitos Sangbidang: Rasionalisasi dalam Sastra Lisan Toraja. Jurnal Al-Qalam, 24(2), 307-318.

Palayukan, M. (2015). Peran Pemerintah Daerah Tana Toraja Dalam Menanggulangi Perjudian Bulangan Londong (Sabungayam) pada Upacara Kematian di Tana Toraja. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Pasande, S. (2013). Budaya Longko’ Toraja dalam Perspektif Etika Lawrence Kohlberg. Jurnal Filsafat, 23(2), 117–133.

Patiung, D. (2017). Budaya Toraja dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Idaarah, 1(1), 121–132.

Prayogi, R., & Danial , E. (2016). Pergeseran Nilai-Nilai Budaya Pada Suku Bonai Sebagai Civic Culture di Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Humanika, 23(1), 61-79.

Rahmita, A. (2018). Analsis pola Interaksi Edukatf Bernuansa Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Ekonomi Kelas X di SMA Negeri 6 Toraja Utara. Skripsi, Universitas Negeri Makassar, Makassar.

Ranteallo, I. C. (2007). Pemakaman Ritual Mantunu Dalam Upacara Pemakaman Rambu Solo’ (Studi Kasus Tentang Pemakaman Ritual Mantunu Dalam Upacara Pemakaman Rambu Solo’ Tingkat Rapasan Sapu Randanan di Tongkonan Buntu Kalambe’. Universitas Gadjah Mada.

Rantetana, M. (2017). OPINI: Falsafah Tallu Lolona Kekuatan Budaya Toraja; Masa Lalu, Sekarang dan Masa Datang – Kareba Toraja. Retrieved November 23, 2019, from Kareba Toraja website: https://www.karebatoraja.com/opini-falsafah-tallu-lolona-kekuatan-budaya-toraja-masa-lalu-sekarang-dan-masa-datang/

Ratnawati. (2009). Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat Toraja. Mabasan, 3(2), 48–65.

Sandarupa, S. (2014). Kebudayaan Toraja Modal Bangsa, Milik Dunia. Sosiohumaniora, 16(1), 1–9.

Sandarupa, S. (2015). Glokalisasi Spasio-Temporal dalam Agama Aluk To Dolo Oleh Agama Kristen di Toraja. Sosiohumaniora, 17(1), 86. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v17i1.5677

Sandarupa, S. (2017). “The Voice of a Child”: Constructing a Moral Community through Retteng Poetic Argumentation. Toraja. Archipel, (91), 231–258. https://doi.org/10.4000/archipel.316

Santosa, A. B., Basuki, Y., & Puspita, A. M. I. (2019). The effectiveness of Local Wisdom-Based Teaching Materials in Enhancing Creative Writing Skills of Elementary School Students. JELTL Journal of English Language Teaching and Linguistics, 4(3), 349-359.

Sudarsi, E. T., Taula’bi’, N., & Girik Allo, M. D. (2019). Filosofi Tallu Lolona dalam Himne Passomba Tedong (Etnografi Kearifan Lokal Toraja) [The Philosophy of Tallu Lolona in the Hymns of Passomba Tedong (Ethnography of Torajan Local Wisdom)]. Sawerigading, 25(2), 61. https://doi.org/10.26499/sawer.v25i2.666

Suriamihardja, D. A. (2006). Reaping Wisdom From The Teaching of Aluk Todolo for Environmental Management. The International Symposium: Crossing Disciplinary Boundaries and Re-Visioning Area Studies: Perspective from Asia and Africa, from 9th to 13th November.

Surya, W., Rahman, F., & Makka, M. (2017). Folktale from England to Toraja. Imperial Journal of Interdisciplinary Research (IJIR), 3(7), 1–5.

Syarif, E., Hasriyanti, Fatchan, A., Astina, K., & Sumarmi. (2016). Conservation Values of Local Wisdom Traditional Ceremony Rambu Solo Toraja’s Tribe South Sulawesi as Efforts The Establishment of Character Education. EFL Journal, 1(1), 17–23.

Tappi, S., R. (2006). Bulangan Londong Sembangan Suke Barata: Sebuah Tinjauan Teologis-Sosiologis Tentang Bulangan Londong Sembangan Suke Barata. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja.

Wahyuningsih, D. (2018). Representasi Ritual Upacara Kematian Adat Suku Toraja dalam Program Dokumenter Indonesia Bagus Net TV Episode Toraja. Ejournal Ilmu Komunikasi, 6(1), 68–82.

Waterson, R. (1993). Taking The Place of Sorrow: The Dynamics of Mortuary Rites Among The Sa’dan Toraja. JSTOR, 21(2), 73–96.

Sumber: http://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php/patanjala/article/view/798

NILAI BUDAYA PADA LANSKAP INDUSTRI PERKEBUNAN KINA CINYIRUAN BANDUNG PADA MASA KOLONIAL

Lia Nuralia, Iim Imadudin

ABSTRACT
Perkebunan Kina Cinyiruan di Bandung telah berdiri sejak tahun 1855. Sekarang ini telah menjadi kebun afdeeling dari Perkebunan Kertamanah PTPN VIII, sejak digabungkan secara manajerial di masa kemerdekaan. Jejaknya dapat ditelusuri sebagai lanskap budaya industri perkebunan berupa area bekas kebun kina dan permukiman emplasemen, yang mengandung nilai budaya. Apa dan bagaimana nilai budaya tersebut menjadi permasalahan pokok dalam tulisan ini. Metode penelitian adalah desk research dengan pendekatan arkeologi industri serta konsep nilai budaya dan lanskap budaya. Hasil yang diperoleh adalah lanskap budaya industri Perkebunan Kina Cinyiruan memiliki tata guna lahan beragam dengan tinggalan budaya benda beraneka fungsi. Nilai budaya yang terkandung di dalamnya merupakan nilai budaya tradisional Sunda dan nilai budaya kolonial, terkait kearifan lokal dan teknologi modern barat. Kedua nilai budaya tersebut tampak pada tata letak dan arsitektur bangunan permukiman, serta tata guna lahan area kebun sebagai sistem ekonomi subsistensi dan perkebunan sebagai sistem ekonomi modern Barat yang komersial.

The Cinyiruan quinine plantation in Bandung has been established since 1855. After the managerial merger during the independence of Indonesia, it is now the government-owned plantation of PTPN VIII Kertamanah. The existence of the plantation can be traced as a cultural landscape of the plantation industry. It includes the area of the former quinine plantation and the emplacement settlement. Both contain cultural values. The main problem in this paper comprise what and how the values are. The research method used is the desk research with an industrial archeology approach and the concept of cultural values and cultural landscapes. The results obtained indicate that the cultural landscape of the Cinyiruan quinine plantation industry has a variety of land uses with cultural relics of various functions. The cultural values contained are the Sundanese traditional cultural values and colonial cultural values which relate to the local wisdom and western modern technology. These two cultural values are traceable in the layout and architecture of residential buildings as well as the land use of the garden area as a subsistence economic system and the plantations as a modern commercial Western economic system.

KEYWORDS
Nilai budaya, lanskap budaya industri, perkebunan kina Cinyiruan

FULL TEXT:      PDF

REFERENCES
Archief Indish Instituut dalam Van Gall en C. Van De Koppel, Deel 1, 1946.

Album foto “Pictures From The Archives of The Royal Tropical Museum Amsterdam” di Rumah Manajer / ADM Perkebunan Kertamanah.

Boeke, J. H. (1983). Prakapitalisme Di Asia. Terjemahan D. Projosiswoyo. Jakarta: Yayasan Sinar Harapan bekerja sama dengan Yayasan Tani Atsiri Wangi.

Casella, E. C. (2005). “Social Workers: New Diretions in Industrial Archaeology”. Dalam Eleanor Conlin Casella and James Symonds (Edited), Industrial Archaeology: Future Directions. USA: Springer Science and Business Media Inc. p. 3-32.

Danasasmita, S., Ayatrohaedi., Wartini, T., Darsa, U. A. (1987). Sewakadarma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Ditjen Kebudayaan Depdikbud.

Daniel, M. (2004). Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara.

Foster, G. M. (1975). Traditional Society and Technical Change, Harper & Row Publisher, New York-Evanston-San Fransisco-London.

Foth, H. D. (2010). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan Soenartomo Adisoemarto.

Hartono, S. dan Handinoto. (2006). Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad ke-19 Ke Awal abad Ke-20 (Studi Kasus Komplek Bangunan Militer di Jawa Pada Perlaihan Abad 19 Ke 20). Dalam Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 34 No. 2, Desember 2006. Halaman 81-92.

Harvey, R. R. and S. Buggey. (1988). Historic Landscape section 630. C. W. Harris and N. T. Dines, editor. Time Saver Standards For Landscape Architecture. New York: Mc Graw-Hill Book Co.

Heryana, A. (2010). Tri Tangtu Di Bumi di Kampung Naga: Melacak Sistem Pemerintahan (Sunda). Patanjala Vol. 2, No. 3, September 2010: 359 – 376.

Hidayat, T. (Juni, 2018). Wawancara.

Hidayat, T. (Juli, 2019). Wawancara.

Imadudin, I. (2021). Laporan Survei Kanal Budaya “Cerita Kina dari Bumi Pasundan”. Bandung: BPNB Provinsi Jawa Barat.

Jajang. (Juni, 2019). Wawancara.

Kartodirdjo, S. & Surjo, D. (1991). Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.

Lanskap Budaya. (2018, 13 November).

http://borobudurpedia.id/lanskap-budaya/.

Mayer, B. 1992. The Complete Book of Interior Design. Australia: Simon and Schuster Ltfd

Nuralia, L. (2020). Model Rumah dan Kearifan Lokal Rumah Karyawan Perkebunan Zaman Belanda di Bandung Jawa Barat. Prosiding Seminar Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (EHPA) Tahun 2019. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Cetakan Pertama, November 2020.

Nuralia, L. & Imadudin, I. (2020). Simbol Kuasa dan Nilai Budaya dalam Tinggalan Arkeologi Kolonial di Perkebunan Teh Sedep Kabupaten Bandung. Patanjala Vol. 12 No. 2 Oktober 2020: 177-193.

Nuralia, L. & Imadudin, I. (2019). Kebudayaan Hibrid Masa Kolonial di Perkebunan Batulawang Banjar. Patanjala Vol.11 No.1, Maret 2019.

Nuralia, L., Saptono, N., Hermawan, I., Wulandari, R., Pamumpuni, A., Widarwanta, Hidayat, D., Saripudin, D., Montana, F. (2019). Laporan Penelitian Arkeologi. Bangunan Industri dan Produksi Perkebunan Kina Kabupaten Bandung Barat dan Sekitarnya, Provinsi Jawa Barat, Abad XIX – XX Masehi. Bandung: Balai Arkeologi Jawa Barat.

Nuralia, L. (2016). Situs Perkebunan Cisaga 1908-1972: Kajian Arkeologi Industri tentang Kode Budaya Kolonial. Tesis Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Magister Arkeologi, UI.

Nurisjah, S. dan Pramukanto, Q. (2001). Perencanaan Kawasan untuk Pelestarian Lanskap dan Taman Sejarah. Program Studi Arsitektur Lanskap, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian. Bogor: IPB. 49p (tidak dipublikasikan).

Nuryanto & Ahdiat, (2014). Kajian Hubungan Makna Kosmologi Rumah Tinggal Antara Arsitektur Tradisional Masyarakat Sunda dengan Arsitektur Tradisional Masyarakat Bali (Penggalian Kearifan Lokal menuju Pembangunan Berbasis Konsep Bangunan Hijau). Seminar Nasional Arsitektur Hijau. Denpasar: Universitas Warmadewa.

Palmer, M. & Neaverson, P. (2000). Industrial Archaeology, Principles and Practice. London and New York: Routledge.

Permana, Ervi. (Juni 2018). Wawancara.

Peta Topografi Blad 32 B (Alg. No. XL 38-B) Java. Res. Preanger Regentschappen. Topografischen Dienst in 1919 - 1923. Dutch Colonial Maps – Leiden University Libraries.

Peta Topografi Blad 32 B/Alg. No. XL 38-B, 1919 - 1923., n.d. Jakarta: ANRI.

Peta Topografi sheet. (1944). No. 39/XL-C., A.M.S.

Publicatie Zonder Vermelding LUCHTOPNAME K.N.I.L.M. VERBODEN 938

Ramadhan. (Maret, 2021). Wawancara.

Regerings Almanak Voor Nederlandsch-Indie, 1880, 1892, 1893,1900, 1901, 1902, 1906. Jakarta: ANRI

Suharjanto, G. (2014). Konsep Arsitektur Tradisional Sunda Masa Lalu dan Masa Kini. Jurnal Comtech, Vol. 5 (1), 505-521.

Sajogyo (Ed). (1982). Bunga Rampai Perekonomian Desa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Agro Ekonomika.

Scott, J. C. (1998). Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed. New Haven (Amerika Serikat) dan London (Inggris): Yale University Press.

Sukiman, D. (2011). Kebudayaan Indis, Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi. Depok: Komunitas Bambu.

van Hall, C.J.J en C.Van De Koppel. (1946). De Landbouw In Den Indischen Archipel Deel 1, In drie deelen. Algemeen Gedelte, MCMXLV.

Sumber: http://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php/patanjala/article/view/848

MENYELISIK BUDAYA PASAR TRADISIONAL DI PASAR BARU BALIKPAPAN, KOTA BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR

Budiawati Supangkat, Rahman Latif Alfian, Johan Iskandar

ABSTRACT
Artikel ini membahas mengenai budaya pasar yang berlangsung di Pasar Baru Kota Balikpapan. Budaya pasar sendiri merupakan keseluruhan norma dan nilai yang melingkupi kegiatan pemangku pasar tradisional dalam berkegiatan di pasar. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dalam menggali data dari para pemangku Pasar Baru yang menjadi lokus penelitian. Etnografi dipilih karena penelitian ini berusaha menjaring data baik itu data lisan, visual maupun tertulis dari sudut pandang pengampu Pasar Baru Balikpapan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para pedagang yang berdagang di Pasar Baru Balikpapan berasal dari latar budaya yang beragam. Mengingat Balikpapan merupakan salah satu wilayah strategis juga pintu masuk dan jalur perniagaan khususnya di Kalimantan Timur. Dalam melakukan aktivitas perdagangan, pedagang membawa nilai budaya masing-masing. Meskipun demikian secara perlahan tercipta pola tindakan dari para pedagang. Meskipun berasal dari latar budaya yang berbeda, secara tidak tertulis para pedagang seperti telah mencapai kesepakatan dalam berkegiatan di pasar.

This article discusses the market culture at Pasar Baru in Balikpapan City. The market culture in this study can be defined as the overall norms and values adopted by traditional market stakeholders in their daily activities in the market. This study uses ethnographic methods to collect data from the stakeholders of Pasar Baru as the research locus. Ethnography was chosen based on the consideration that this research seeks to collect data, both oral, visual and written data from the point of view of the Pasar Baru supervisor in Balikpapan. The results show that the traders who trade at Pasar Baru in Balikpapan originate from the diverse cultural backgrounds. It is a consequence of the City of Balikpapan as one of the strategic areas as well as the entrance and route of commerce, especially in East Kalimantan. In their trading activities, the traders bring their respective cultural values. It slowly encourages the creation of new patterns in the behavior of traders. They seem to have reached an agreement in their activities in the market.

KEYWORDS
Nilai Budaya

FULL TEXT:      PDF

REFERENCES
Abdullah, I. (2015). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Alfian, R. L., Iskandar, J., & Iskandar, B. S. (2020). Fish species , traders , and trade in traditional market : Case study in Pasar Baru , Balikpapan City , East Kalimantan , Indonesia. Biodiversitas, 21(1), 393–406. https://doi.org/10.13057/biodiv/d210146

Belshaw, C. S. (1965). Traditional Exchange and Modern Markets. United State of America: Prentice-Hall, Inc.

Damsar & Indrayani. (2018). Pengantar Sosiologi Pasar. Jakarta: Prenadamedia Group.

Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplimasi Budaya. (2013). Menguak Pasar Tradisional Indonesia. Jakarta: PT. Mardi Mulyo.

Effendi, N. (1997). Pasar dan Fungsi Kebudayaan. In E. K. . Masinambo (Ed.), Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Effendi, N. (2016). Studi Budaya Pasar Tradisional dan Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Pedesaan: Kasus Pasar Nagari dan Masyarakat Nagari di Propinsi Sumatera Barat 1. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 18 (2), 105–120.

Endres, K. W., & Leshkowich, A. M. (Ed.). (2018). Trader in Motion: Identities and Contestations in the Vietnamese Marketplace. United State of America: Cornell University Press.

Fatterman, D. (2010). Ethnography: Step-by-Step. United State of America: Sage Publications.

Geertz, C. (1973). Thick Description: Toward an Interpretive Theory of Culture. In The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Granovetter, M. (2017). Society and Economy: Framework and Priciples. Cambridge, Massachusetts: The Belknap Press of Harvard University Press.

Gudeman, S. (2001). The Anthropology of Economy: Cummunity, Market, and Culture. United Kingdom: Blackwell Publisher.

Hefner, R. W. (Ed.). (2000). Budaya Pasar Masyarakat dan Moralitas dalam Kapitalisme Asia Baru. Jakarta: LP3ES.

Hermawan, F., Kristiani, F. & Ismiyati. (2018). Model of Indonesian Traditional Market Revitalisation: Case Study of Five Metropolitan Cities in Java Island. Advanced Science Letter, 24, 3146–3151.

Koentjaraningrat. (1991). Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kroeber, A. ., & Kluckhohn, C. (1952). Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions. New York: Vintage Books.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1992). Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: UI Press.

Mulyanto, D. (2008). Orang Kalang, Cina, dan Budaya Pasar di Pedesaan Jawa. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 10 (2), 23–40.

Polanyi, K. (1985). The Economy as Instituted Process. In M. Granovetter & R. Swedberg (Ed.), The Sociology of Economy Life. San Francisco: Westview Press.

Powdermaker, H. (1966). Stranger and Friend: The Way of an Anthropologist. New York: W.W. Northon & Company.

Sadilah, E., Arianti, C., Herawati, I., Moertjipto, & Sukari. (2011). Eksistensi Pasar Tradisional: Relasi dan Jaringan Pasar Tradisional di Kota Semarang Jawa Tengah. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Seligmann, L. (2018). Space, Place and Contentious Politics of Market Redevelopment. In Traders in Motion: Identities and Contestation in the Vietnamese Marketplace. New York: Cornel University Press.

Soulsby, A. (2004). Who is Observing Whom? Fieldwork Roles and Ambiguities in Organisational Case Study Research. In Fieldwork in Transforming Society: Understanding Methodology from Experience. New York: Palgrave Macmillan.

Spradley, J. P. (2007). Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Supangkat, B. (2012). Pasar dan Perempuan Pedagang di Pasar Ujung Berung Bandung. Universitas Indonesia.

Supangkat, B., Alfian, R. L., & Iskandar, J. (2021). Traditional Market and Women’s Work In The Beringharjo Market, of Yogyakarta. Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan humaniora, 23(1), 1–11. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v23i1.29807.

Valdelin, J. (2000). Produktutveckling och marknadsföring. In Qualitative Methods in Management Research. Thousand Oaks: Sage.

Sumber: http://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php/patanjala/article/view/795

KOTA KOSMOPOLITAN BANTEN PADA MASA KEJAYAAN JALUR REMPAH NUSANTARA ABAD XVI HINGGA ABAD XVII

Gregorius Andika Ariwibowo


ABSTRACT

Abstrak
Kota kosmopolitan merupakan bagian atau simpul dari jaringan-jaringan transnasional yang terbentuk dari aktivitas ekonomi dan perdagangan, dimana kemudian terciptalah berbagai interaksi dan pertukaran budaya, ide, dan beragam aktivitas manusia. Kehidupan kosmopolis yang tercipta di Banten telah memberikan warna dalam sejarah Jalur Rempah Nusantara. Toleransi dalam keberagaman dan kemajemukan yang tercipta di kota-kota pelabuhan di sepanjang garis pantai Nusantara selama masa kejayaan Jalur Rempah merupakan nilai penting dalam melihat Indonesia pada masa kini. Kajian ini secara lebih dalam akan melihat seperti apakah rupa dari keberagaman yang tercipta di Banten? serta bagaimanakah mereka dapat saling menjaga keberagaman ini sehingga mampu menjadikan Banten sebagai pelabuhan kosmopolitan yang kaya pada masa tersebut?. Banten menurut Anthony Reid merupakan salah satu contoh dari kota yang berhasil memadukan kemajemukan-kemajemukan yang hidup dan tinggal di dalamnya. Kondisi ini menurut Reid disebabkan oleh keberhasilan kota-kota tersebut dalam menarik para pedagang asing dan orang-orang kaya untuk bergantung kepada mereka. Keduanya dalam beberapa hal terintegrasi menjadi elit yang dominan dan menciptakan kemajemukan budaya yang memungkinkan terselenggaranya perdagangan. Kota pelabuhan Banten telah menjadi kota perdagangan terbuka yang disinggahi oleh berbagai pedagang dari berbagai negeri di Nusantara dan Asia. Banten dalam pandangan Emily Erikson ketika itu merupakan kota yang memang dibangun dan dikelola untuk menjadi sebuah kota dagang yang terbuka bagi berbagai bangsa.

Kata Kunci: Kesultanan Banten, Perdagangan Lada, Kosmopolitan, Jalur Rempah, Keberagaman

Abstract
A cosmopolitan city is a part or node of transnational networks that form by economic and trade activities, which then creates various interactions and exchanges of culture, ideas, and various human activities. The cosmopolitan life in Banten has given a unique color to the history of the Nusantara Spice Route. Tolerance in diversity and plurality that was creating in port cities along the coastline in the Indonesia archipelago during the heyday of the Spice Route era is a high-and-mighty value in seeing Indonesia today. This study will see what kind of diversity that was creating in Banten?, and how they could mutually maintain this diversity to make Banten became a fortune cosmopolitan port at that time? Anthony Reid said that Banten was an example of a city that has succeeded in combining the diversity that lives and lives in it. This condition, according to Reid, was caused by the success of these cities in attracting foreign traders and fortune people to depend on them. In some ways, both are integrated into a dominant elite and create cultural pluralism that makes trade possible. The port city of Banten has become an open trading city visited by various traders from various countries in the archipelago and Asia. Banten, in Emily Erikson's view, was a city that was built and managed to become an open trading city to various nations.

Keywords: Banten Sultanate, Pepper Trade, Cosmopolitan, Spice Route, Diversity

FULL TEXT:    PDF

REFERENCES

Andaya, B. W. dan Andaya, L. Y. (2015).

A History of Early Modern Southeast Asia, 1400-1830. Cambridge: Cambridge University Press.

Beaujard, P. (2019).

The Worlds of the Indian Ocean: A Global History, Volume II: From the Seventh Century to the Fifteenth Century CE. Cambridge: Cambridge University Press.

Berg, M., Gottmann, F., Hodacs, H., dan Nierstrasz, C. (2015). Goods from the East, 1600–1800: Trading Eurasia. London: Palgrave McMillan.

Bertrand, R. (2015).

Spirited Transactions. The Morals and Materialities of Trade Contacts between The Dutch, the British and The Malays (1596–1619). Dalam Berg, Maxine, Felicia Gottmann, Hanna Hodacs, dan Chris Nierstrasz. (Ed.), Goods from the East, 1600–1800: Trading Eurasia. London: Palgrave McMillan.

Braudel, F. (1981).

Civilization and Capitalism. Vol. I: The Structures of Everyday Life. London: William Collins Sons & Co Ltd.

Bruinessen, M. v. (1995).

"Shari`a Court, Tarekat and Pesantren: Religious Institutions in the Sultanate of Banten", Archipel 50 (1995), hlm. 165-200.

Chaudhuri, K.N. (1985).

Trade and Civilisation in Indian Ocean: an Economic History from Rise of Islam to 1750. Cambridge: Cambridge University Press.

Colombijn, F. (1989).

“Foreign Influence on The State of Banten 1596-1682”. Indonesia Circle. School of Oriental & African Studies. Newsletter, 18: 50, hlm. 19-30.

Cortesao, A. (1944).

The Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Fransisco Rodrigues (Vol. I and II). London: Hakluyt Society.

Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan. (2020). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Jalur Rempah Oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahun 2020. Jakarta: Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan.

Guillot, C. (2008).

Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Gungwu, W. (1958).

“The Nanhai Trade: A Study of The Early History of Chinese Trade in The South China Sea”. Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, Vol. 31, No. 2 (182), hlm. 1, 3-135.

Hall, K. R. (2011).

A History of Early Southeast Asia: Maritime Trade and Societal Development, 100–1500. Maryland: Rowman & Littlefield Publishers, Inc.

Hall, K. R. (2014).

“European Southeast Asia Encounters with Islamic Expansionism, circa 1500–1700: Comparative Case Studies of Banten, Ayutthaya, and Banjarmasin in the Wider Indian Ocean Context”. Journal of World History, Volume 25, Numbers 2-3, June/September 2014, hlm. 229-262.

Henley, D. (2014).

“Ages of Commerce in Southeast Asian History” dalam Henley. David. dan Henk Schulte Nordholt (eds.). (2015). Environment, Trade And Society In Southeast Asia: A Longue Durée Perspective. Leiden: Brill, hlm. 120-132.

Ijzerman, J. W. (1923).

Cornelis Buijsero te Bantam 1616-1618 Zijn Brieven en Journaal. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Laffan, M. (2015).

Sejarah Islam di Nusantara. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Mills, J.V. (1979).

“Chinese Navigators in Insulinde about A.D. 1500”. Archipel, volume 18, 1979. Commerces et navires dans les mers du Sud, hlm. 69-93.

Mills, J.V.G dan Feng Chen Chun. (1979).

Ma Huan: Ying-Yai Sheng-Lan ‘The Overall Survey of The Ocean’s Shores’. Cambridge: Cambridge University Press/ The Hakluyt Society.

Moreland, W. H. (1934).

Peter Floris: His Voyage To The East Indies in The Globe 1611-1615. London: Hakluyt Society.

Lombard, D. & Salmon, C. (1985).

“Islam and Chineseness. Archipel (volume 30, 1985), hlm. 73-94.

Perret, D. (2011).

“From Slave to King: The Role of South Asians in Maritime Southeast Asia (From The Late 13th to The Late 17th Century)”. Archipel (volume 82, 2011), hlm. 159-199.

Pigeaud, T. G. Th., dan H. J. De Graaf. (1976).

Islamic States in Java 1500-1700. Amsterdam: Springer Netherlands.

Prakash, O. (1998).

“The Trading World of India and Southeast Asia in The Early Modern Period”. Archipel (volume 56, 1998), hlm. 31-42.

Reid, A. (1999).

Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jaringan Perdagangan Global (Jil. 2). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.

Ricci, R. (2011).

Islam Translated: literature, conversion, and the Arabic cosmopolis of South and Southeast Asia. Chicago: University of Chicago.

Rouffaer, G., dan Ijzerman, J.W. (1915).

De Eerste Schipvaart der Nedelanders Naar Osst Indie onder Cornelis de Houtman 1595-1597 (De Eerste Boek van Willem Lodewycksz). S’Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Sen, T. (2014).

“Maritime Southeast Asia between South Asia and China to The Sixteenth Century”. TRaNS: Trans -Regional and -National Studies of Southeast Asia / Volume 2 / Issue 01 / January 2014, hlm. 31 – 59.

Sen, T. (2018).

Yijing and the Buddhist Cosmopolis of the Seventh Century. Dalam Saussy, Haun (Ed.), In Texts and Transformations: Essays in Honor of the 75th Birthday of Victor H. Mair. Amherst: Cambria.

Shaffer, M. (2013).

Pepper: A History of World Most Influential Spice. New York: St. Martin Press.

Subrahmanyam, S. (1996).

Introduction. Dalam Subrahmanyam, Sanjay (Ed.), Merchant Network in Early Modern World. London and New York: Routledge.

Ueda, K. (2015).

“An Archaeological Investigation of Hybridization in Bantenese and Dutch Colonial Encounters: Food and Foodways in The Sultanate Of Banten, Java, 17th - Early 19th Century”. Dissertation. Boston University Graduate School of Arts and Sciences.

Yeoh, B. & Lin, W. (2012). Cosmopolitanism in Cities and Beyond. Dalam Delanty, G. (Ed.), Routledge Hand Book of Cosmopolitanism Studies. London dan New York: Routledge Taylor and Francis Book.

Sumber: Patanjala Vol. 13 NO. 2 Oktober 2021

Lawatan Sejarah Daerah - Cirebon 2014 (16)

Satkes Denma Mako Kopasgat Lanjutkan Terus Serbuan Vaksinasi


Dengan semakin melonjaknya masyarakat yang terjangkit Virus Covid-19 dan Omicron, Satkes Denma Mako Kopasgat memberikan Vaksinasi dosis ketiga (Booster) dengan menggunakan Vaksin AstraZeneca di berbagai Wilayah di Jawa Barat. Khusus pada hari ini, dilaksanakan di tiga tempat yang berbeda yaitu, di Pasar Segar Taman Kopo Indah, BPNB (Badan Pelestarian Nilai Budaya) dan Sekolah Bindo (Binar Indonesia). Minggu, (27/02/2022).

Pada serbuan Vaksinasi hari ini sudah terlaksana sebanyak 250 (Dua Ratus Lima Puluh) orang. Tidak lupa juga demi lancarnya dan kenyamanan pelaksanaan Vaksinasi ini, petugas kesehatan mengingatkan kepada masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin agar tetap mematuhi protokol kesehatan, terutama menjaga jarak dan menggunakan masker yang telah dianjurkan dan ditegaskan pemerintah. Pelaksanaan kegiatan Vaksinasi hari ini berjalan lancar dan aman

Sumber: https://tni-au.mil.id/satkes-denma-mako-kopasgat-lanjutkan-terus-serbuan-vaksinasi/

Popular Posts