WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

NILAI BUDAYA PADA LANSKAP INDUSTRI PERKEBUNAN KINA CINYIRUAN BANDUNG PADA MASA KOLONIAL

Lia Nuralia, Iim Imadudin

ABSTRACT
Perkebunan Kina Cinyiruan di Bandung telah berdiri sejak tahun 1855. Sekarang ini telah menjadi kebun afdeeling dari Perkebunan Kertamanah PTPN VIII, sejak digabungkan secara manajerial di masa kemerdekaan. Jejaknya dapat ditelusuri sebagai lanskap budaya industri perkebunan berupa area bekas kebun kina dan permukiman emplasemen, yang mengandung nilai budaya. Apa dan bagaimana nilai budaya tersebut menjadi permasalahan pokok dalam tulisan ini. Metode penelitian adalah desk research dengan pendekatan arkeologi industri serta konsep nilai budaya dan lanskap budaya. Hasil yang diperoleh adalah lanskap budaya industri Perkebunan Kina Cinyiruan memiliki tata guna lahan beragam dengan tinggalan budaya benda beraneka fungsi. Nilai budaya yang terkandung di dalamnya merupakan nilai budaya tradisional Sunda dan nilai budaya kolonial, terkait kearifan lokal dan teknologi modern barat. Kedua nilai budaya tersebut tampak pada tata letak dan arsitektur bangunan permukiman, serta tata guna lahan area kebun sebagai sistem ekonomi subsistensi dan perkebunan sebagai sistem ekonomi modern Barat yang komersial.

The Cinyiruan quinine plantation in Bandung has been established since 1855. After the managerial merger during the independence of Indonesia, it is now the government-owned plantation of PTPN VIII Kertamanah. The existence of the plantation can be traced as a cultural landscape of the plantation industry. It includes the area of the former quinine plantation and the emplacement settlement. Both contain cultural values. The main problem in this paper comprise what and how the values are. The research method used is the desk research with an industrial archeology approach and the concept of cultural values and cultural landscapes. The results obtained indicate that the cultural landscape of the Cinyiruan quinine plantation industry has a variety of land uses with cultural relics of various functions. The cultural values contained are the Sundanese traditional cultural values and colonial cultural values which relate to the local wisdom and western modern technology. These two cultural values are traceable in the layout and architecture of residential buildings as well as the land use of the garden area as a subsistence economic system and the plantations as a modern commercial Western economic system.

KEYWORDS
Nilai budaya, lanskap budaya industri, perkebunan kina Cinyiruan

FULL TEXT:      PDF

REFERENCES
Archief Indish Instituut dalam Van Gall en C. Van De Koppel, Deel 1, 1946.

Album foto “Pictures From The Archives of The Royal Tropical Museum Amsterdam” di Rumah Manajer / ADM Perkebunan Kertamanah.

Boeke, J. H. (1983). Prakapitalisme Di Asia. Terjemahan D. Projosiswoyo. Jakarta: Yayasan Sinar Harapan bekerja sama dengan Yayasan Tani Atsiri Wangi.

Casella, E. C. (2005). “Social Workers: New Diretions in Industrial Archaeology”. Dalam Eleanor Conlin Casella and James Symonds (Edited), Industrial Archaeology: Future Directions. USA: Springer Science and Business Media Inc. p. 3-32.

Danasasmita, S., Ayatrohaedi., Wartini, T., Darsa, U. A. (1987). Sewakadarma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Ditjen Kebudayaan Depdikbud.

Daniel, M. (2004). Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara.

Foster, G. M. (1975). Traditional Society and Technical Change, Harper & Row Publisher, New York-Evanston-San Fransisco-London.

Foth, H. D. (2010). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan Soenartomo Adisoemarto.

Hartono, S. dan Handinoto. (2006). Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad ke-19 Ke Awal abad Ke-20 (Studi Kasus Komplek Bangunan Militer di Jawa Pada Perlaihan Abad 19 Ke 20). Dalam Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 34 No. 2, Desember 2006. Halaman 81-92.

Harvey, R. R. and S. Buggey. (1988). Historic Landscape section 630. C. W. Harris and N. T. Dines, editor. Time Saver Standards For Landscape Architecture. New York: Mc Graw-Hill Book Co.

Heryana, A. (2010). Tri Tangtu Di Bumi di Kampung Naga: Melacak Sistem Pemerintahan (Sunda). Patanjala Vol. 2, No. 3, September 2010: 359 – 376.

Hidayat, T. (Juni, 2018). Wawancara.

Hidayat, T. (Juli, 2019). Wawancara.

Imadudin, I. (2021). Laporan Survei Kanal Budaya “Cerita Kina dari Bumi Pasundan”. Bandung: BPNB Provinsi Jawa Barat.

Jajang. (Juni, 2019). Wawancara.

Kartodirdjo, S. & Surjo, D. (1991). Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.

Lanskap Budaya. (2018, 13 November).

http://borobudurpedia.id/lanskap-budaya/.

Mayer, B. 1992. The Complete Book of Interior Design. Australia: Simon and Schuster Ltfd

Nuralia, L. (2020). Model Rumah dan Kearifan Lokal Rumah Karyawan Perkebunan Zaman Belanda di Bandung Jawa Barat. Prosiding Seminar Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (EHPA) Tahun 2019. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Cetakan Pertama, November 2020.

Nuralia, L. & Imadudin, I. (2020). Simbol Kuasa dan Nilai Budaya dalam Tinggalan Arkeologi Kolonial di Perkebunan Teh Sedep Kabupaten Bandung. Patanjala Vol. 12 No. 2 Oktober 2020: 177-193.

Nuralia, L. & Imadudin, I. (2019). Kebudayaan Hibrid Masa Kolonial di Perkebunan Batulawang Banjar. Patanjala Vol.11 No.1, Maret 2019.

Nuralia, L., Saptono, N., Hermawan, I., Wulandari, R., Pamumpuni, A., Widarwanta, Hidayat, D., Saripudin, D., Montana, F. (2019). Laporan Penelitian Arkeologi. Bangunan Industri dan Produksi Perkebunan Kina Kabupaten Bandung Barat dan Sekitarnya, Provinsi Jawa Barat, Abad XIX – XX Masehi. Bandung: Balai Arkeologi Jawa Barat.

Nuralia, L. (2016). Situs Perkebunan Cisaga 1908-1972: Kajian Arkeologi Industri tentang Kode Budaya Kolonial. Tesis Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Magister Arkeologi, UI.

Nurisjah, S. dan Pramukanto, Q. (2001). Perencanaan Kawasan untuk Pelestarian Lanskap dan Taman Sejarah. Program Studi Arsitektur Lanskap, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian. Bogor: IPB. 49p (tidak dipublikasikan).

Nuryanto & Ahdiat, (2014). Kajian Hubungan Makna Kosmologi Rumah Tinggal Antara Arsitektur Tradisional Masyarakat Sunda dengan Arsitektur Tradisional Masyarakat Bali (Penggalian Kearifan Lokal menuju Pembangunan Berbasis Konsep Bangunan Hijau). Seminar Nasional Arsitektur Hijau. Denpasar: Universitas Warmadewa.

Palmer, M. & Neaverson, P. (2000). Industrial Archaeology, Principles and Practice. London and New York: Routledge.

Permana, Ervi. (Juni 2018). Wawancara.

Peta Topografi Blad 32 B (Alg. No. XL 38-B) Java. Res. Preanger Regentschappen. Topografischen Dienst in 1919 - 1923. Dutch Colonial Maps – Leiden University Libraries.

Peta Topografi Blad 32 B/Alg. No. XL 38-B, 1919 - 1923., n.d. Jakarta: ANRI.

Peta Topografi sheet. (1944). No. 39/XL-C., A.M.S.

Publicatie Zonder Vermelding LUCHTOPNAME K.N.I.L.M. VERBODEN 938

Ramadhan. (Maret, 2021). Wawancara.

Regerings Almanak Voor Nederlandsch-Indie, 1880, 1892, 1893,1900, 1901, 1902, 1906. Jakarta: ANRI

Suharjanto, G. (2014). Konsep Arsitektur Tradisional Sunda Masa Lalu dan Masa Kini. Jurnal Comtech, Vol. 5 (1), 505-521.

Sajogyo (Ed). (1982). Bunga Rampai Perekonomian Desa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Agro Ekonomika.

Scott, J. C. (1998). Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed. New Haven (Amerika Serikat) dan London (Inggris): Yale University Press.

Sukiman, D. (2011). Kebudayaan Indis, Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi. Depok: Komunitas Bambu.

van Hall, C.J.J en C.Van De Koppel. (1946). De Landbouw In Den Indischen Archipel Deel 1, In drie deelen. Algemeen Gedelte, MCMXLV.

Sumber: http://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php/patanjala/article/view/848

Popular Posts