WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label Patanjala. Show all posts
Showing posts with label Patanjala. Show all posts

Patanjala Vol. 10 NO. 1 Maret 2018

PENCAK SILAT AMENG TIMBANGAN DI JAWA BARAT: HUBUNGAN ANTARA AJARAN DAN GERAK AMENG TIMBANGAN

Agus Heryana

ABSTRACT
Pencak silat Ameng Timbangan diciptakan R. Moezni Anggakoesoemah bersumber pada ajaran Timbangan. Ajaran Timbangan bukanlah petunjuk teknis untuk melakukan jurus tertentu, melainkan ajaran kerohanian Islam. Di dalamnya dibahas mengenai trilogi Islam, yaitu Iman-Islam-Ihsan. Ajaran ini menjadi jiwa dalam gerak lahiriah Ameng Timbangan. Masalahnya bagaimana teks ajaran itu menjelma menjadi gerak Ameng Timbangan. Tujuan penelitian adalah menjelaskan teks ajaran Timbangan menjadi gerak Ameng Timbangan. Adapun metodenya digunakan metode deskripsi,yang menggambarkan data apa adanya. Bentuk Ajaran Timbangan disusun dalam bentuk puisi dan prosa yang disebut teks Naskah Timbangan, karena itu digunakan pula metode analisis isi.Teknik penelitiannya wawancara mendalam dan partisipasi (ikut serta latihan Ameng Timbangan). Simpulannya Ajaran Timbangan berisi pelajaran rohani, sedangkan Ameng Timbangan menitikberatkan pada pelajaran lahiriah. Pengolahan lahiriah dalam bentuk olah raga dan olah rasa memberikan ruang untuk membangkitkan kemampuan dan kekuatan naluri beladiri. Hubungan keduanya merupakan hubungan kesatuan yang saling melengkapi.

Pencak Silat Ameng Timbangan created by R. Moezni Anggakoesoemah derived from the teachings called Timbangan. The Sci-op Teachings are not technical guidelines for performing a specific moment, but rather the spiritual teaching of Islam, discussed about the Islamic trilogy, namely Iman-Islam-Ikhsan. It is this doctrine which then becomes the soul or spirit in the outward motion called Ameng Timbangan. The main problem is how the text containing the teachings is transformed into a motion called Ameng Timbangan. The main purpose of the study is to explain the text of the Timbangan teaching to the motion of Ameng Timbangan. In order to achieve these objectives the writer used description method, which describes the data. Forms of AjaranTimbangan are arranged in the form of poetry and prose called script of Naskah Timbangan, then used the method of content analysis. The research technique are in-depth interview, and participation (participate in Ameng Timbangan training). The conclusion are the Doctrine and Ameng Timbangan is a unity. The Timbangan Teachings contain spiritual lessons while Ameng Timbangan focuses on outer lessons. External processing in the form of sports and taste provide space to awaken the ability and strength of martial instinct. Their relationship is a complementary relationship.

KEYWORDS
penca, ajaran Timbangan, Ameng Timbangan, ngaji diri, ngaji rasa, tanaga indung

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, Tesis, dan Jurnal

Adiwimarta, Sri Sukaesih. 1993.

Unsur-unsur Ajaran Dalam Kakawin Pārthayajňa.Disertasi. Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Darmana, Nana; Yudibrata, Karna; Saini,K.M . 1977 – 1978.

Aliran-aliran Pokok Pencak Silat Jawa Barat. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Fadilakusumah, A. Adil. 1996.

Pencak Silat sebagai Media Peningkatan Sumber Daya Manusia dalam Menyikapi Abad XXI. Makalah. Bandung: Balai Kajian Jarahnitra.

_____. 2016.

Penca Aliran Cimande. Disertasi. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Heryana, Agus. 1995.

Pencak Silat Aliran Cimande di Jawa Barat. Laporan Penelitian. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

____.

“Naskah Ajaran Islam dalam Pencak silat Ameng Timbangan dalam Patanjala Volume 5 No. 2 Juni 2013. Hlm1-21.

____. 2016.

Naskah Timbangan: Analisis Ajaran Timbangan Sebagai Dasar Perwujudan Pencak Silat (Ameng) Timbangan.Disertasi. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Iskandar, Taudin. 1962.

Unsur-unsur Kebatinan dalam Olahraga. Suatu Case Study mengenai Pembelaan Diri Timbangan. Thesis. Bandung: Fakultas Pendidikan Jasmani Unpad.

IPSI.Tanpa tahun.

Sejarah dan Pengembangan Pencak Silat dengan Segala Aspeknya. Makalah. Bandung: Ikatan Pencak Silat Indonesia Jawa Barat.

Mardotillah, Mila; Dian Mochammad Zein. Silat: Identitas Budaya, Pendidikan, Seni Bela Diri, dan Pemeliharaan KesehatandalamJurnal Antropologi.Vol. 18 (2) Desember 2016. Hlm 121-133.

Rauf, Abdur dan Rusman, Tabrizy M. 1990. Cikalong. Makalah. Cianjur: Paguron Pusaka Cikalong Pusat Pasar Baru.

Saleh,M. 1990.

Penelitian Aliran Pokok Pencak Silat di Jawa Barat. Bandung: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Sufianto, Agustinus; Sugiato Lim; Andyni Khosasih. Akulturasi Unsur Kungfu Tiongkok Dalam Pencak Silat Betawidalam Lingua Cultura Vol.9 No.1 May 2015. Hlm 1-6.

Buku

Abdullah, Edwin Hidayat. 2013.

Keajaiban Silat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Asy’arie, Azis,R.H. 2010.

Maenpo Cikalong R.H.O. Soleh. Malang: Buih Leba.

____. 2013.

Maenpo Cikalong Gan Uweh. Bandung: Mizan.

Danadibrata,R.A. 2006.

Kamus Basa Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Diréktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.2010.

Ensiklopedi: Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Hardjawinata, Sadeli. 1941.

Pĕntja Soenda. Batavia: Bale Poestaka.

Ikram, Achadiati. 1997.

Filologia Nusantara. Jakarta: Pustaka Jaya.

Moleong, Lexy J. 2012.

Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution. 2003.

Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Nourduyn, J dan Teeuw, A. 2009.

Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Ratna,Nyoman Kutha. 2007.

Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Satjadibrata. 1950.

Kamoes Soenda & Indonesia. Djakarta: Balai Poestaka.

Subroto, Joko, Moh. Rohadi. 1996.

Kaidah-Kaidah Pencak Silat Seni yang Tergabung dalam IPSI. Solo: Aneka.

Sudjana, Nana. 2004.

Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensido Offset.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006.

Metode Penelitian Pendidikan Bandung: Remaja Rosda Karya

Surakhmad, Winarno. 1982.

Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.

Tim Redaksi JABAL, 2008.

Shahih Bukhari Muslim. Bandung: Jabal.

Zoetmulder,P.J.2004.

Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Surat Kabar dan Majalah

Pikiran Rakyat.4/1/1995. Silat Cimande Hasil Istikharah dan Tahajud.

Bratakoesoemah, Ema.

“Penca” KudjangTaun V No. 254 Jumaah 25 Nopember 1960

Internet

Haditsarbain.” Iman-Islam-dan-Ihsan”. Diakses dari https://haditsarbain.wordpress.com /2007/06/09/hadits-2-iman-islam-dan-ihsan/tanggal 27-5-2015, Pukul 10:06 WIB.

albayyinatulilmiyyah . “Syarah Hadits Jibril” diakses dari https://albayyinatulilmiyyah. files.wordpress.com/2014/06/86-syarah-hadits-jibril-pdf.pdf tanggal 27-5-2015: 10:20.

Sumber Lisan/Informan

Kang Aom (Ahmad Derajat). Putra Raden Muchyidin Cucu Rd. Moezni Anggakoesoemah. Bandung 12 Januari 2012.

Fadilakusumah, Adil. 2014. Praktisi dan ketua Padepokan Penca Daya Sunda Pueur. Wawancara, Bandung 4 April 2014.

Catatan Pribadi

Aming. 1986. Catatan Harian: Kumpulan kalimat yang bermanfaat. Bandung

REPRESENTASI TENTARA DAN RELASI SIPIL-MILITER DALAM SERIAL PATRIOT

Hary Ganjar Budiman

ABSTRACT
Penelitian ini mencoba membedah muatan ideologis yang terdapat dalam serial televise Patriot. Selain itu, penelitian ini juga membaca representasi tentara dan hubungan sipil-militer yang terlihat dalam serial tersebut. Serial Patriot dinilai penting karena menjadi serial televisi pertama yang mengangkat kisah militer sejak jatuhnya Orde Baru pada 1998. Serial Patriot dalam penelitian ini dilihat sebagai media massa yang merefleksikan nilai atau norma dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatatan kualitatif dengan memakai konsep codes of television yang dikemukakan oleh John Fiske. Ia menyatakan bahwa kode dalam televisi memiliki tiga tingkatan: reality, representation, dan ideology. Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa serial Patriot memiliki pesan ideologis yang tersirat, antara lain: nasionalisme, patriotisme, didaktisme, dan menempatkan tentara sebagai penjaga nilai moral. Hubungan sipil-militer dalam Patriot terlihat lebih didominasi oleh pihak militer. Peran pemimpin sipil tidak nampak dalam Patriot. Pihak sipil digambarkan bergantung kepada pemimpin yang memiliki latar belakang tentara.

This research tries to analyze the ideological contents that exist in the television series Patriot. In addition, this study also review the representation of soldiers and civil-military relations in the series. The Patriot series is important because it became the first television series to raise the military stories since the fall of the New Order Regime in 1998. The Patriot series in this study is seen as a mass media that reflects the value or norm in the society. This study uses a qualitative approach using the concept of codes of television proposed by John Fiske. He stated that is the code in television has three levels: reality, representation, and ideology. From this research, it can be seen that the Patriot series has an implied ideological message, among others: nationalism, patriotism, didactism, and placing the army as a guardian of moral values. The civil-military relationship in the patriot appears to be more dominated by the military. The role of civilian leaders is not seen in the Patriot. The civilian side is depicted depending on the leader who has a military background.

KEYWORDS
media, televisi, representasi, ideologi

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal dan Makalah

Piliang, Yasraf Amir. “Semiotika Teks: Sebuah Pendekatan Analisis Teks” dalam Jurnal Mediator Volume 5 Nomor 2, 2004: hlm. 189-198.

Setiawan, Ikwan. “Film dan Televisi dalam Paradigma Kajian Budaya”. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema Televisi dan Film dalam Paradigma Cultural Studies. Fakultas Sastra Universitas Jember, 22 Oktober 2015.

Buku

Althusser, Louis. 2015.

Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara; Catatan Investigasi. Terjemahan. Indonesia: Indoprogress.

Fiske, John. 1987.

Television Culture; Popular Pleasures and Politics. London: Routledge.

Herlambang, Wijaya. 2011.

Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Yogyakarta: Marjin Kiri.

Heryanto, Ariel. 2015.

Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: KPG.

Irawanto, Budi. 2017.

Film, Hegemoni, dan Militer; Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia. Yogyakarta: Warning Book.

Nugroho, Garin dan Dyna Herlina S. 2015.

Krisis dan Paradoks Film Indonesia. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Sen, Krishna dan David T. Hill. 2007.

Media, Culture, and Politics in Indonesia. Jakarta: Equinox.

Sen, Krishna. 2009.

Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat, dan Sinema Orde Baru. Yogyakarta: Ombak.

Internet

Haryanto, Alexander. 2015.

“Panglima TNI Wacanakan TNI Punya Hak Politik” dalam https://tirto.id/panglima-tni-wacanakan-tni-punya-hak-politik-bRb8, diakses 4 Desember 2017.

Hussein, Mohamad Zaki. 2017.

“Ideologi dan Reproduksi Masyarakat Kapitalis dalam https://indoprogress.com/2012/01/ideologi-dan-reproduksi-masyarakat-kapitalis/, 1 Desember 2012, diakses 20 Oktober 2017.

Jusuf, Windu. 2016.

“ABRI Masuk Bioskop: Catatan tentang Film-film Tentara Pasca 1998” dalam https://cinemapoetica.com/abri-masuk-bioskop-catatan-tentang-film-film-tentara-pasca-1998/, diakses 5 Desember.

Kresna, Mawa., Aditya Widya Putri dan Reja Hidayat, 2016.

Tim Mawar, sekarag Jenderal dalam https://tirto.id/dulu-tim-mawar-kopassus-kini-jenderal-bEYP, diakses 10 Desember 2017

Kresna, Mawa. 2017.

“Jendral Gatot dan Reformasi TNI” dalam https://tirto.id/jendral-gatot-dan-reformasi-tni-cBfA, diakses 10 Desember 2017.

Prahadi, Yeffrie Yundiarto. 2017

“Net TV Bidik Kelas Menengah-Atas” dalam https://swa.co.id/swa/trends/management/net-tv-bidik-kelas-menengah-atas diakses 20 November 2017.

Raditya, Iswara N. 2018.

“Dwi Fungsi ABRI dan Jalan Terbuka Politik Tentara” dalam https://tirto.id/dwifungsi-abri-dan-jalan-terbuka-politik-tentara-cC1R, diakses 16 Februari 2018.

Riandy,Erliana. 2017.

“Soal Nobar Film G30S/PKI, Panglima TNI: Itu Perintah Saya, Mau Apa?” dalam https://news.detik.com/berita/d-3647737/soal-nobar-film-g30spki-panglima-tni-itu-perintah-saya-mau-apa, diakses 10 Desember 2017.

Zen, RS. 2016.

“Tentara Tak Pernah Salah” dalam https://tirto.id/tentara-tak-pernah-salah-bRcK diakses 10 Desember 2017.

“Pengamat menilai militer Indonesia lebarkan pengaruh” dalam http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160310_indonesia_militer_ipac, diakses 11 Desember 2017.

“Sesko TNI Dukung Pendidikan Karakter Bandung Masagi” dalam https://portal.bandung.go.id/posts/2016/10/03/Z1mp/sesko-tni-dukung-pendidikan-karakter-bandung-masagi, diakses 10 Desember 2017.

“Tigapuluh lima Jenderal Pendukung Jokowi-JK, Lima Jenderal Diduga Bermasalah” dalam https://www.bantuanhukum.or.id/web/35-jenderal-pendukung-jokowi-jk-5-jenderal-diduga-bermasalah/ diakses 10 Desember 2017.

Video

Patriot (Net tv) episode 1-7, Tahun 2015 dalam Channel Patriot Net TV (youtube.com)

Video kuliah umum Ariel Heryanto di UI Depok. 2017. “Historiografi Indonesia yang Rasis” dalam channel Jakrtanicus (youtube.com).

Video peluncuran buku Identitas dan Kenikmatan di Universitas Brawijaya. 2015 dalam channel UBTV Brawijaya (youtube.com)

BAU NYALE: TRADISI BERNILAI MULTIKULTURALISME DAN PLURALISME

I made purna

ABSTRACT
Budaya spiritual etnis Sasak dalam perjalanannya telah mengalami perkembangan yang cepat. Diawali dengan masuknya agama Islam dari Jawadan Makasar, serta agama Hindu dari Bali. Kehadiran kedua agama tersebut kemudian diolah masyarakat Sasak dalam konsep sinkretisme, dan wadah puncaknya berupa ajaran Islam Wetu Telu. Pengejahwantahan dari sinkretisme menghasilkan tradisi-tradisi sebagai penguat identitas etnis Sasak. Satu di antara tradisi yang ada, yaitu Bau Nyale. Sebagai pokok sandaran analasis penulisan membatasi tiga pokok rumusan, yaitu 1) apa fungsi tradisi Bau Nyale bagi masyarakat pendukungnya; 2) nilai-nilai budaya apa saja yang dimuat dalam tradisi Bau Nyale; 3) Kenapa diberi pengakuan, penghargaan dan kesetaraan tradisi Bau Nyale dengan tradisi yang lain yang hidup di Lombok oleh komunitas lain. Pisau analisis untuk mengindentifikasi yaitu teori semiotika dan neo-fungsionalisme. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik deskriptif interpretatif. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi dan nilai budaya yang dimuat pada tradisi Bau Nyale. Dari hasil mengidentifikasi, maka karya budaya intangible Bau Nyale layak sebagai tradisi yang memiliki nilai multikulturalisme dan pluralisme.

Sasak ethnic spiritual culture in its journey has experienced rapid development. It starts with the entry of Islam from Java and Makasar, as well as Hinduism from Bali. The presence of the two religions is then processed by the Sasak community in the concept of syncretism, and the top place is the teachings of Islam Wetu Telu. The implication of syncretism resulted traditions as a reinforcement of Sasak ethnic identity. One of the existing traditions, is the Bau Nyale. There are three main issues in this research, which are 1) what is the function of Nyale Bau tradition for the support community; 2) what cultural values are contained in the Bau Nyale tradition; 3) why is Bau Nyale tradition given the recognition, appreciation and equivalence with other traditions that live in Lombok by other communities. Theories used to identify are the Semiotics Theory and Neo-functionalism. This research is a qualitative research with descriptive interpretative technique. The purpose of this study is to identify the functions and cultural values contained in the Bau Nyale tradition. From the results of identifying, the Bau Nyale cultural work deserves a tradition that has value multiculturalism and pluralism.

KEYWORDS
Bau Nyale, Sincritism, Multiculturalism and Pluralism

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal/Makalah/Skripsi/Tesis

Adibrata, I Dw. Kt. Anom. 1990.

‘Upacara Bau Nyale dan Fungsinya bagi Masyarakat Suku Sasak di Desa Rembitan Kecamatan Pujut Lombok Tengah’. Skripsi. Denpasar: Jurusan Antropologi, Faksas Unud.

Leeman, M. “Internal and External Factors of Sosio-Cultural and Sosio Economic Dyanamics in Lombok NTB” dalam Anthropogeographie University Zuerich Jerman Vol 8. 1989.

Ma’moen, Hilman.2001.

Nilai Pendidikan Religi pada Sinkretisasi Islam-Hindu di Lombok, Studi di Desa Lingsar Lombok Barat. Mataram IKIP Unram.

Purna, I Made. “Sinkretisme Agama Hindu dan Islam pada Masyarakat Sasak di Lombok” dalam Jurnal Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Edisi Kesebelas Nomor 11/III/2003.

Suarsana, I Made. “Kajian Nilai-nilai Budaya Pada Tradisi Bau Nyale di Lombok Dalam Rangka Sosialisasi dan Intergrasi” dalam Jurnal Jnana Budaya Media Informasi Sejarah, Sosial, dan Budaya Edisi Kelima No. 05/V/2001.

Sumertha, I Wayan. 2016.

Simbol-simbol Hindhu dan Islam Wetu Dalam Interaksi Sosial Religius Umat Beragama di Desa Lingsar Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Disertasi. Denpasar: Program Sarjana IHDN.

Trisnawati, Ida Ayu. 2001.

Seni Drama Putri Mandalika Dalam Tradisi Ritus Bau Nyale di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Tesis. Denpasar: Program Pasca Sarjana Unud.

Wacana, Lalu. 1983.

Bau Nyale di Lombok. Proyek Media Kebudayaan Depdikbud. Jakarta.

Wirata, I Wayan. “Perempuan Dalam Cerita Naskah Islam Lokal (Suku Sasak) di Lombok (Pendekatan Sosiologi)” dalam Jurnal Mudra Pusat Penerbitan LPPM ISI Denpasar Vol. 31 No. 2. Mei 2016.

Yakum, H.Moh. 2009. “Kisah Putri Mandalike Nyale, Cerita Rakyat Nusantara Suku Sasak”. Makalah.

Buku

Abdullah, Natsir. 2007.

Penyimpangan Ajaran Agama pada Berbagai Ritual Perayaan di Lombok Serta Dampaknya Terhadap Kehidupan Bermasyarakat. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa dan Seni. Mataram: Unram.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2006.

Strukturlaisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Kepel Press.

Baal, J. Van. 1976.

Pesta Alip di Bayan Lombok. Belanda.

Blum, A Lawrence. 2001.

Antirarisme, Multikulturalisme, dan Komunitas Antar Ras, Tiga Nilai yang Bersifat Mendidik bagi Sebuah Masyarakat Multikultural, dalam Larry May, dan Shari Colinn-Chobanian, Etika Terapan; Sebuah Pendekatan Multilkultura, Terjemahan; Sinta Carolina dan Dadang Rusbiantoro, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Budiwanti, Erni. 2000.

Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima. Yogyakarta: LKiS.

Qodir, Zuly. 2015.

“Pemikiran Islam Multikulturalisme dan Kewargaan” dalam buku: Fikih Kebhinekaan. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Ritzer, George dan Douglas J. Gooman. 2005. Teori Sosiologi Modern.Terjemahan. Jakarta: Prenada Media.

Sabri AR, Mohd. 2015.

“Agama Mainstream, Nalar Negara dan Fikih Kebinekaan: Menimbang Philosophia Perennis” dalam Fikih Kebinekaan, Pandangan Islam Indonesia tentang Umat, Kewargaan, dan Kepemimpinan Non-Muslim. Bandung: Mizan.

Zoest, Aart Van. 1993.

Semiotika: tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.

PENGOBATAN TRADISIONAL DI DESA LEMAHABANG KULON, KEC. LEMAHABANG, KAB. CIREBON

Irvan Setiawan

ABSTRACT
Pengobatan Modern dan pengobatan tradisional merupakan dua jenis pengobatan yang kerap dipakai untuk mengatasi sakit yang diderita. Masing-masing jenis pengobatan memiliki keampuhan dan peminatnya. Indonesia sudah mensahkan obat tradisional sebagai media alternatif untuk mengobati masyarakat. Obat tradisional merupakan sebuah kearifan lokal dari generasi terdahulu yang didapat melalui berbagai proses untuk membuktikan keampuhannya. Penelitian yang menggunakan metode deskripsi kualitatif ini bertujuan untuk menggali sumber pengetahuan dan jenis pengobatan tradisional di lokasi penelitian. Diperoleh hasil bahwa garis keturunan dan keingintahuan menjadi latar belakang penyembuh dalam memeroleh pengetahuan pengobatan tradisional. Rasa percaya terhadap cara pengobatan, ikhlas, dan memasrahkan diri pada Sang Pencipta menjadi unsur utama yang harus dimiliki pasien dan penyembuh untuk mengobati penyakit yang sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat.

Modern and traditional medicine are two types of treatment that are often used to overcome illness. Each type of treatment has the power and also the followers. Indonesia has legalized traditional medicine as an alternative media. Traditional medicine is a local wisdom of previous generations that gained through various processes to prove its ability. The research uses qualitative description method to explore and find the type of traditional medicine in the research location. The result is obtained that the lineage and curiosity become the background of the healer in obtaining knowledge of traditional medicine. Belief in the way of treatment, sincerity, and surrender to the Creator becomes the main element that must be possessed by the patient and the healer to treat the disease according to local socio-cultural conditions.

KEYWORDS
traditional medicine, local wisdom

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, Tesis, dan Jurnal

Arianto, Nurcahyo Tri. “Lokakarya Antropologi Kesehatan, Kelompok Perawatan Paliatif dan Bebas Nyeri”, Makalah, Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, tanggal 3 dan 10 Februari 2001.

Dewoto, Hedi R.. “Pengembangan Obat Tradisional Indonesia Menjadi Fitofarmaka”, dalam Majalah Kedokteran Indonesia, Volume: 57, Nomor: 7, Juli 2007.

Musadad, Asep N. “Persinggungan Islam dan Tradisi Mistik Lokal: Studi Kasus Pananyaan Dan Ahli Hikmah di Masyarakat Tasikmalaya”, dalam Indonesia Journal of Islamic Literature and Moslem Society Vol. 1, NO. 1, January – June 2016

Soejoeti, Sunanti Z., “Konsep Sehat, Sakit dan Penyakit dalam Konteks Sosial Budaya”, makalah, Jakarta: Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.

Somantri, Gumilar Rusliwa, “Memahami Metode Kualitatif”, dalam Makara, Sosial Humaniora, Vol. 9, No. 2, Desember 2005: 57-65

Sudardi, Bani, “Deskripsi Antropologi Medis; Manfaat Binatang dalam Tradisi Pengobatan Jawa”, dalam Jumantara Vol. 2 No. 2 (2012) hlm. 56 – 75

Trubus dan Jimmy Lumanau, “Interaksi Masyarakat terhadap Kesehatan, Sakit, dan Kematian (Suatu Tinjauan Aspek Medis – Antropologis)”, dalam Meditek, Vol. 7 No. 20, Juli - Oktober 1999.

Yuningsih, Rahmi, “Pengobatan Tradisional di Unit Pelayanan Kesehatan”, dalam Info Singkat Kesejahteraan Sosial, Vol. IV, No. 05/I/P3DI/Maret/2012.

Buku

Biro Pusat Statistik. 1994.

Profil Statistik Wanita, Ibu dan Anak di Indonesia. Jakarta: Biro Pusat Statistik.

Koord. Statistik Kec. 2016.

Lemahabang. Statistik Daerah Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon 2016, Cirebon: Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon.

Kartono, Kartini. 1992.

Patologi Sosial, Jakarta: Rajawali Press.

Kusumanto, dkk. 1981.

Beberapa Pandangan Teori dan Implikasi Praktek di Bidang Kesehatan Jiwa. Jakarta: Yayasan Dharma Graha.

Taufiq. 2006.

Panduan Lengkap & Praktis Psikologi Islam. Jakarta: Gema Insani.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008.

Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa.

Internet

“Mesir beralih ke bahan herbal saat persediaan obat menipis”, dalam http://www. antaranews.com/berita/606543/mesir-beralih-ke-bahan-herbal-saat-persediaan-obat-menipis, Jumat, 13 Januari 2017 17:42 WIB.

TRADISI MENDONGENG SEBAGAI UPAYA PEMBUDAYAAN NILAI-NILAI DALAM KELUARGA DI KELURAHAN CISARANTEN WETAN KECAMATAN CINAMBO KOTA BANDUNG

Ria Intani Tresnasih

ABSTRACT
Dongeng adalah cerita rakyat yang secara lisan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, pengarangnya anonim, ada dalam dunia khayal atau tidak benar-benar terjadi, dan tidak diketahui secara jelas mengenai tempat dan waktunya. Dongeng merupakan salah satu media yang sangat efektif dalam membentuk karakter anak sejak dini. Namun demikian nilai-nilai dalam dongeng tidak akan tersampaikan apabila dari dongeng-dongeng yang ada tidak pernah didongengkan. Padahal banyak sekali pula manfaat yang didapat dari aktivitas mendongeng. Permasalahannya adalah akankah tradisi mendongeng di rumah-rumah itu sekarang ini masih berlangsung. Sehubungan dengan permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana keberlangsungan dari kegiatan mendongeng di rumah-rumah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paparannya bersifat deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara tradisi “orang tua” yang gemar mendongeng dengan tradisi mendongeng pada zaman sekarang.

The tale is a folktale that is orally inherited from one generation to the next, its author is anonymous, exists in an imaginary or unreal world, and is not known clearly about the place and the time. Tale is one of the media that is very effective in shaping the character of children from an early age. However, the values in the fairy tales will not be conveyed if the tales that have never been told. Though, a lot of benefits also obtained from the activity of storytelling. The problem that still exist, will the tradition of storytelling in these homes be still going on? In connection with these problems, this study aims to see how the continuity of storytelling activities in homes. This study uses a qualitative approach with descriptive arrangemen. The results of the study indicates that there was a correlation between the tradition of "parents" who love storytelling with the tradition of storytelling today.

KEYWORDS
nilai-nilai, dongeng, tradisi mendongeng

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal

Asis, Abdul. “Eksistensi Tula-Tula bagi Masyarakat Wakatobi: Salah Satu Sumber Pendidikan Karakter” dalam Jantra Vol. 10 No. 2. Desember 2015. Hlm. 133, 134, 135, 154, 155.

Intani T., Ria. “Kiat Penjual Makanan dalam Menembus Pasar” dalam Jurnal Patanjala Vol. 6 No. 2. Juni 2014. Hlm 316.

Judhita, Christiany. “Dongeng dan Radio (Pendidikan Karakter dalam Dongeng Nusantara di Radio SPFM Makassar)” dalam Jantra Vol. 10 No. 2. Desember 2015. Hlm. 178.

Kusumah, Siti Dloyana. “Studi tentang Model Pendidikan Karakter di Pesantren Modern Dinniyah Puteri “Perguruan Diniyah Puteri” Padang Panjang, Sumatera Barat” dalam Jurnal Patanjala Vol. 5 No. 1. Maret 2013. Hlm. 59-60.

Rahmawati. “Cerita Rakyat Makassar sebagai Media Pembentukan Karakter” dalam Jantra Vol. 10 No. 2. Desember 2015. Hlm. 154-155, dan 160.

Rosmana, Tjetjep. “Mitos dan Nilai dalam Cerita Rakyat Masyarakat Lampung” dalam Jurnal Patanjala Vol. 2 No. 2, Juni 2010. Hlm. 191.

Rusnandar, Nandang. “ Tradisi Mendirikan Imah Gede dan Rumah Warga di Kasepuhan Sinar Resmi Kabupaten Sukabumi dalam Jurnal Patanjala Vol. 7 No. 1. Maret 2015. Hlm. 114.

Buku

Anonim. 2017.

Laporan Program Kerja Kelurahan Cisaranten Wetan Kecamatan Cinambo.

Bungin, Burhan. 2009.

Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group.

Danandjaja, James. 1991.

Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Garna, Yudistira K. 2009.

Metoda Penelitian Kualitatif. Bandung: The Judistira Foundation dan Primaco Akademika.

Koentjaraningrat. 1990.

Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Koentjaraningrat. 1996.

Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.

Saebani, Beni Ahmad. 2012.

Pengantar Antropologi. Bandung: Pustaka Setia.

Setiadi, Elly M. dan Usman Kolip. 2011.

Pengantar Sosiologi.Jakarta: Pranada Media Group.

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, ed. 2009.

Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Surat Kabar/Majalah

Aminah, Neneng.

“Resep Dongeng, Daek Maca”. Pikirang Rakyat. 16 Oktober 2017, hlm. 24.

Ginting & Heni.

“Keluarga Pendongeng dari Ciganjur”. Nyata. 11 April 2014, hlm. 31.

Seftiawan, Dhita.

“PPK Serentak Semester Depan: Kemendikbud siapkan rapor karakter selain rapor akademis”. Pikiran Rakyat. 17 Oktober 2017, hlm. 13.

Sjamsuri, Elin.

“Ngadongengkeun Dongeng”. Pikiran Rakyat. 16 Oktober 2017, hlm. 24.

Tesar.

“Dongeng Tingkatkan Minat Baca, Kreativitas dan Imajinasi Anak”. MOM & KIDS Femina Edisi 19. Th IV. 05-18 April 2013, hlm. 8.

PERANG BUBAT, REPRESENTASI SEJARAH ABAD 14 DAN RESEPSI SASTRANYA

yeni mulyani supriatin

ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan mengungkap peristiwa Perang Bubat yang terjadi pada abad ke-14 atau tahun 1357 M dan resepsi sastranya. Masalah yang dibahas adalah bagaimana latar belakang terjadinya Perang Bubat, reaksi, dan tanggapannya. Teori yang digunakan adalah resepsi sastra. Metode untuk pengumpulan data adalah kualitatif dengan menerapkan prinsip resepsi sastra. Hasil penelitian menggambarkan bahwa terjadinya Perang Bubat adalah Raja Sunda tidak tunduk pada kehendak Gajah Mada dan Gajah Mada ingin menyatukan Nusantara. Resepsi sastra terhadap Perang Bubat dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu resepsi dari aspek kesejarahannya, resepsi pengaruhnya terhadap penciptaan karya baru, dan resepsi terhadap struktur sastra. Simpulan penelitian ini adalah peristiwa Bubat diresepsi setelah dua abad berlalu, yaitu pada abad ke-16 dan peristiwa tersebut diresepsi ulang pada abad ke-20-an. Hasil resepsi sastra dari abad ke-18 sampai dengan abad ke-20 cukup beragam. Keberagaman resepsi itu menunjukkan bahwa terdapat perbedaan horizon harapan pembaca.

This study aims to reveal the events of the Bubat War that occurred in the 14th century or the year 1357 AD and literary receptions that emerged after the incident occurred. The issue discussed is how the background of the Bubat War and the reactions and responses to the event through literary receptions. The theory used in analyzing data is literary receptions. The method used for data collection is qualitative by applying the principle of literary receptions. The results of this study illustrate that the background of the Bubat War have two versions and both controversial, the first version because the King of Sunda entourage do not obey to the will of Gajah Mada, on the other hand, the second version is that Gajah Mada tactics in unifying the archipelago while the Kingdom of Sunda is a state that has not been submitted. Literary receptions to the War of Bubat can be grouped into three, they are the reception of its historical aspect, the reception of its influence on the creation of new works, and the reception of the literary structure. The conclusion of this research is Bubat event was perceived after two centuries passed, in the 16th century and the event was redrawn in the 20th century. Results of literary receptions in the 18th century until the 20th century quite diverse. The diversity of the receptions shows the difference in the horizon of readers' expectations.

KEYWORDS
perang bubat; resepsi sastra; dan horizon harapan

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal

Abdullah, Imran T. 1991.

“Resepsi Sastra Teori dan Pe Nerapannya.” Humaniora No. 2(199 1): 71--76.

Asmalasari, Devyanti. 2010.

“Peristiwa Bubat dalam Novel Perang Bubat Karya Yoseph Iskandar dan Novel Gajah Mada, Perang Bubat Karya Langit Kresna Hariadi (Kajian Sastra Bandingan).” Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra 3(Nomor 2, Desember 2010): 93--105.

Hidayat, Sarip. 2015.

“Pandangan Dunia Orang Sunda dalam Tiga Novel Indonesia tentang Perang Bubat.” Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra: 105–20. http://ejurnalbalaibahasa.id/index.php/metasastra.

Ramadhan, Mochamad Sigit & Aminuddin T.H. Siregar. 201

“Bhayangkara (Tafsir Visual Peristiwa Sejarah Perang Bubat” J. Vis. Art & Design, Vol. 9. No. 1 , 2017, 14—27, ITB, Bandung

Sastriyani, Siti Hariti. 2001.

“Karya Sastra Perancis Abad ke-19 Madame Bovary Dan Resepsinya Di Indonesia.” Humaniora XII, No. 3: 252--29.

Wati, Noor Rahmi. 2013.

“Analisis Resepsi Pembaca Cerpen Koroshiya Desunoyo Karya Hoshi Shin ‘Ichi ( Studi Kasus terhadap 15 Orang Jepang ).” Japanese Literature 2(Nomor 3, Tahun 2013): 1--13.

Laporan Penelitian

Pradipta, Inggar. 2009.

“Resensi dan Resepsi Sastra.” Universitas Indonesia.

Buku

Mahayana.Maman S. 2009.

“Perang Bubat : Tragedi di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.” In Qanita, 339.

Surat Kabar/Majalah

Anugrah, Yudi. 2015.

“Perang Bubat Dalam Memori Orang Sunda.” : Historia, 22 Mei 2015, h. 1–4.

Firdaus, Yulian. 2006.

Diskusi Perang Bubat, Unpar. Bandung. Nusantara, 23 Desember 2006.

Imran, Ahda. 2009.

“Perang Bubat Yang Lain.” : 1–5.

Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 31 Mei 2009.

Sulwesi, Endah. 2006.

DYAH PITALOKA : Senja Di Langit Majapahit. Bandung. Klub Sastra Bandung

Internet

Raksa, Aji. 2012.

ttp://ajiraksa.blogspot.com/2012/05/teori-perang-bubat-analisa-kitab-kid. (diakses tanggal 17 Mei 2017.

Sumarjo, Jakob. 2013.

“Sekitar Perang Bubat” .

http://borobudurwriter.com

(diakses pada tanggal 17 Mei 2017)

“REVOLUSI DALAM REVOLUSI”: TENTARA, LASKAR, DAN JAGO DI WILAYAH KARAWANG 1945-1947

IIm Imadudin

ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan mengungkap konflik tentara dengan laskar dan jago di wilayah Karawang. Penelitian ini mempergunakan metode sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sama seperti halnya di daerah lain, revolusi kemerdekaan di wilayah Karawang berlangsung dengan sengit. Dinamika perjuangan kemerdekaan di Karawang terasa lebih keras lagi setelah proklamasi kemerdekaan. Pada masa perjuangan Karawang merupakan “rumah” bagi tentara dan laskar perjuangan. Banyaknya kelompok laskar dan kelompok jago yang sering menghadirkan kerusuhan menimbulkan permasalahan tersendiri sebagaimana digambarkan pada artikel ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik antara tentara, laskar, dan jago terjadi disebabkan adanya keyakinan yang besar terhadap janji-janji revolusi, perbedaan ideologis mengenai bagaimana perjuangan harus dimenangkan, faktor ketidakpercayaan yang mengakibatkan hubungan-hubungan yang tidak harmonis antarfaksi perjuangan di Karawang.

This study aims to reveal the conflict of soldiers with paramilitary troops and warior in the area of Karawang. This study uses historical methods consisting of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Just as in other areas, the revolution of independence in the Karawang was fierce. The dynamics of the struggle for independence in Karawang was even harder after the proclamation of independence. Karawang is a "home" for the army and the paramilitary-troops struggle. The large number of paramilitary troops groups and groups of warior often caused riots that raise their own problems as illustrated in this article. The results show that the conflict between the army, the paramilitary troops and the warior occurred due to the great conviction of the promises of the revolution, the ideological differences about how the struggle should be won. The unbelieving factor resulted an unharmonious relationships between-fraction struggle in Karawang.

KEYWORDS
revolusi, kemerdekaan, konflik, Karawang

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal, Tesis, dan Makalah

Adisusilo, Sutarjo J.R.

“Revolusi Bolsheviks”, dalam Historia Vitae Seri Pengetahuan dan Pengajaran Sejarah, Vol. 28, No. 1, April 201, hlm. 1-25.

Fauzi, Muhammad. 2010.

Jagoan Jakarta dan Penguasaan di Perkotaan, 1950-1966. Tesis. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Ilmu Sejarah.

Hardjasaputra, Sobana.

“Metode Penulisan Sejarah”, Makalah Seminar “Penanaman Nilai-Nilai Kesejarahan di Jawa Barat” tanggal 26-27 Maret 2013 di Hotel Savoy Homann, Bandung.

Idris, HM. 2001.

“Peristiwa Karawang Kota dan Sekitarnya pada Masa Revolusi”, Makalah disampaikan pada acara Temu Tokoh dan Seminar Sejarah “Refleksi Nilai-nilai Juang ‘45” di Karawang.

Simandjuntak, Peninna.

“Gerakan Sosial sebagai Peristiwa Sejarah”, dalam Historisme, Edisi No. 21 Agustus 2005, hlm. 46-55.

Yulifar, Leli.

“Purwakarta: Dari Ibukota Kabupaten Karawang Menjadi Kabupaten Mandiri”, dalam Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, 9 (2) November 2016, hlm. 213-220.

Buku

Cribb, Robert. 2010.

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949. Jakarta: Masup.

____. 1986.

Revolusi dan Transformasi Masyarakat. Terj. Candra Johan. Jakarta: Rajawali.

Ekadjati, Edi, Sobana Hardjasaputra, Ian Tiansah, Emon S. 1980/1981.

Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Barat. Jakarta: Ditjarahnitra Depdikbud.

Garraghan, Gilbert J. 1957.

A Guide To Historical Method. New York: Fordham University Press.

Gie, Soe Hok. 1999.

Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta: Bentang.

Gottschalk, Louis. 1985.

Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Hardjasaputra, A. Sobana. 2008.

Sejarah Purwakarta. Purwakarta: Pemerintah Kabupaten Purwakarta Badan Pariwisata.

Hobsbawm, E.J., “Bandit Sosial”, dalam Sartono Kartodirdjo, (1990), Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, Jakarta : LP3ES, hlm: 74-94.

Ibrahim, Julianto. 2002.

Bandit dan Pejuang di Persimpangan Bengawan: Kriminalisasi dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta 1945-1950. Yogyakarta: Bina Citra Pustaka.

Kahin, Audrey. 1979.

Perjuangan Kemerdekaan: Sumatera Barat dalam Revolusi Nasional Indonesia. Terj. Tim MSI Sumbar. Padang: MSI Sumbar-ex Tentara Pelajar Sumatera Tengah.

Kosim, E. 1984.

Metode Sejarah: Asas dan Proses. Bandung: Universitas Padjadjaran Fakultas Sastra.

Kosoh S., Suwarno K, Syafei. 1994.

Sejarah Jawa Barat. Jakarta: Depdikbud.

Kuntowijoyo, 2013.

Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lasmiyati, Adeng, Iim Imadudin, M. Halwi Dahlan, Euis Thresnawaty. 2012.

Tokoh-tokoh Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Bandung: Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional.

Lubis, Nina Herlina et al. 2011.

Sejarah Kabupaten Karawang. Karawang: Disbudpar Kabupaten Karawang.

Lubis, Herlina. 2015.

Metode Sejarah. Jawa Barat: Yayasan Sejarawan Masyarakat Indonesia.

Lucas, Anton E. 1989.

Peristiwa Tiga Daerah. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Majid, Dien dan Darmiati. 1999.

Jakarta-Karawang-Bekasi Dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min. Jakarta: Keluarga Moefreni Moe’min.

Matanasi, Petrik. 2012.

Prajurit-prajurit di Kiri Jalan. Yogyakarta: Trompet Book.

Nasution, A.H. 1968. Tentara Nasional Indonesia II. Jakarta: seruling Masa.

_____. 1973.

Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia 2: Diplomasi atau Bertempur. Bandung: Disjarah AD-Angkasa.

Pranoto, Suhartono W. 2010.

JAWA (Bandit-bandit Pedesaan); Studi Historis 1805-1942. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Renier, G. J. 1997.

Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sudaryat, Y. 2009.

Toponimi Jawa Barat (Berdasarkan Cerita Rakyat). Bandung: Disbudpar Provinsi Jawa Barat.

Suganda, Her. 2009.

Rengasdengklok, Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945. Jakarta: Kompas.

Sukarman HD, U. Warliyah, Ii Wahyudin. 2006.

Sejarah Perjuangan Suroto Kunto bersama Rakyat Karawang. Karawang: Dinas Penerangan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Karawang.

Warliyah, Uwar, Ii Wahyudin, Udju Sudjono, Sudirman, Fadly. 2003.

Sejarah Perjuangan Masyarakat Karawang dan Sekitarnya 1945-1950. Karawang: Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang.

Internet

“Konflik Pelik Tentara Republik vs laskar-di Pinggir Jakarta”, dalam https:// news.okezone.com/read/2017/03/03/338/1633102/news-story, diakses 5 Januari 2018 Pukul 10: 23 WIB.

“Laskar-rakyat-dalam-sejarah-perang-nasional”, dalam https://cenya95. wordpress.com/2009/07/07/ , diakses 3 Januari 2018 Pukul 15: 08 WIB.

“Mayor Surotokunto”, diakses dari http://sundakarawang.blogspot.com/2009/10/ mayor-surotokunto.html, diakses 11 Desember 2017, pukul 9.41WIB.

“Sejarah Singkat Kota Karawang”, dalam http://www.potretkarawang.com, diakses 11 Januari 2018 Pukul 10: 01 WIB.

STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT TERDAMPAK PEMBANGUNAN WADUK JATIGEDE DI DUSUN CIPONDOH DESA PAWENANG KECAMATAN JATINUNGGAL KABUPATEN SUMEDANG

Risa Nopianti, Triesya Melinda, Junardi Harahap

ABSTRACT
Pasca penggenangan Waduk Jatigede pada tahun 2015, sejumlah permasalahan muncul pada masyarakat terdampak, seperti kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan baru, antisipasi pengetahuan yang minim, perubahan kondisi, dan mata pencaharian yang terbatas. Keterbatasan juga terjadi pada kondisi sanitasi di lingkungan tempat tinggal mereka. Adaptasi dilakukan untuk menyiasati keadaan alam dan lingkungan yang berimbas pada pemenuhan sarana sanitasi. Maka, penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana kondisi lingkungan dan sanitasi masyarakat Dusun Cipondoh Desa Pawenang Kecamatan Jatinunggal sebagai akibat pemukiman kembali pembangunan Waduk Jatigede, dengan menggunakan metode etnografi dan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pengelolaan lingkungan dan sanitasi warga Dusun Cipondoh merupakan bagian dari proses adaptasi mereka di lingkungan barunya. Proses adaptasi ini merupakan sebuah tindakan yang diawali oleh adanya pengetahuan mengenai keterbatasan yang dihadapi, kemudian disusunlah strategi untuk memunculkan tindakan yang nyata dalam menyikapi keterbatasan tersebut yang dioperasionalkan dengan pengelolaan lingkungan dan sanitasi warga terdampak.

After the flooding of Jatigede dam in 2015, a number of problems arise in impacted communities in their daily activities, such as difficulties in adapting to a new environments, minimizing knowledge anticipation, changing conditions, and limited livelihoods. This limitation also occurs in sanitary conditions in their neighborhoods. Adaptation is done to deal with the natural and environmental conditions that impact on the fulfillment of sanitation facilities. So, this research is done to see how the environmental condition and sanitation of Cipondoh Village Pawenang Village Jatinunggal Subdistrict as a result of resettlement of Jatigede dam development by using ethnography approach to capture the point of view of indigenous people, their relationship with life, and to realize their vision and world. The results of this study is that environmental management and sanitation of Dusun Cipondoh residents is part of their adaptation process in their new environment. This adaptation process is an action initiated by the knowledge of the constraints faced, and then devised a strategy to bring tangible action in addressing the limitations that are operated with environmental management and sanitation of affected people.

KEYWORDS
Strategy, adpatation, sanitation, and environment.

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal, Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, dan Tesis

Amaliah, Siti. “Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Faktor Budaya Dengan Kejadian Diare Pada Anak Balita di Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo” Makalah dalam Prosiding Seminar Nasional Universitas Muhammadiyah, Semarang, 2010.

Bartolome, Leopoldo Jose., Chris de Wet, Harsh Mander, Bijay Kumar Nagraj. 2000. “Displacement, Resettlement,Rehabilitation, Reparation, and Development”. Makalah dalam WCD Thematic Review Social Issues I.3. Cape Town : World Commission on Dams (WCD).

Kasnodiharjo dan Musadad, Anwar “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang Terkait dengan Hygien Perorangan, Gaya Hidup dan Kondisi Sanitasi Lingkungan di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta” dalam Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 8 No.1. Maret 2009. Hlm. 886-894.

Kasnodihardjo dan Elsi, Elsa. “Deskripsi Sanitasi Lingkungan, Perilaku Ibu, dan Kesehatan Anak” dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 9. April 2013. Hlm. 415-420

Keman, Soedjadji. “Kesehatan Perumahan dan Lingkungan Pemukiman” dalam Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 2 No.1. Juli 2005. Hlm. 29-42

Mulyani, Tri. 2016

Kebijakan Pemerintah Terhadap Masyarakat yang Terkena Dampak Pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang. Skripsi. Yogyakarta : FIS UNY.

Nureni, Lela. 2011.

Dampak Pembangunan Bendungan Jatigede terhadap Reorientasi Mata Pencaharian Masyarakat di Daerah Calon Genangan Bendungan Jatigede Kabupaten Sumedang. Skripsi. Bandung : FPIPS UPI.

Nurlela, Ela. 2012.

Dampak Pembangunan Waduk Jatigede Terhadap Masyarakat Calon Genangan (Studi Sosiologi Pembangunan Desa Leuwihideung, Sumedang). Bandung. Sripsi. FPIPS UIN Sunan Gunung Jati.

Puspitawati, Natalia. “Sanitasi Lingkungan yang Biak Mempengaruhi Status Gizi Buruk pada Balita” dalam Jurnal Stikes. Vol.6 No.1 Juli 2013.Hlm. 74-83.

Sajiada, Agsa., Santi, Devi Nuraini Santi., dan Naria, Evi. “Hubungan Personal Hygien dan Sanitasi Lingkungan dengan Keluhan Penyakit Kulit di Kelurahan Denai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan Tahun 2012” dalam Jurnal Usu. Vol.2 No.2. Maret 2013. Hlm. 1-8.

Setiawan, Irvan. “Mengenang Upacara Ngalokat Walungan Cimanuk di Wilayah Genangan Waduk Jatigede Kabupaten Sumedang” dalam Patanjala. Vol.8 No.1 Maret 2016. Hlm. 101-116.

Wiryawan. Bangkit A. “Social Impact of Jatigede Dam Construction”. Makalah dalam IAIA Symposium, Manila, 20-22 February 2017.

Yuliati, Rafael Djajakusli, Burhanudin Bahar. “Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Hygien Perorangan dengan Kejadian Infestasi Kecacingan pada Murid SD di Kelurahan Pannampu, Kota Makasar” dalam Jurnal Media Kesehatan Masyarakat Indonesia. Vol.6 No.1 Januari 2010 Hal. 22-27.

Buku

Bennett, John W. 1976.

The Ecological Transition : Cultural Anthropology And Human Action. New York : Pergamaon Press Inc.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003.

Ilmu kesehatan masyarakat (prinsip-prinsip dasar). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Saharuddin. 2007. Antropologi Ekologi dalam Adiwibowo, Soeryo (Ed). Ekologi Manusia. Bogor : Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Semiawan, Conny R. 2010

Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta : Grasindo.

Surahman, dan Supardi, Sudibyo. 2016.

Ilmu Kesehatan Masyarakat PKM. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Internet

Pitoko, Ridwan Aji. “Waduk Jatigede Beroperasi Penuh “ diakses dari http://properti.kompas.com/read/2017/04/07/220000521/waduk.jatigede.beroperasi.penuh. Tanggal 6 November 2017, Pukul 10.25 WIB

“Bedol Desa” diakses dari https://www.kamusbesar.com/bedol-desa . Tanggal 7 November 2017, Pukul 09.45 WIB.

KONSTRUKSI NILAI MULTIKULTURALISME PADA MASYARAKAT HAURGEULIS KABUPATEN INDRAMAYU

Suciyadi Ramdhani

ABSTRACT
Tulisan ini menjelaskan proses pembentukan nilai multikulturalisme pada masyarakat Haurgeulis, Indramayu yang dikaji melalui metode kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan terlibat, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasilnya menunjukkan bahwa kehidupan multikultural di Haurgeulis dibentuk oleh empat kelompok etnik pendatang: Jawa, Sunda, Arab, dan Tionghoa di awal abad ke-20. Setiap kelompok etnik memiliki keahliannya masing-masing, seperti pertanian yang didominasi keturunan Jawa dan Sunda, sebagaimana keturunan Arab dan Tionghoa di bidang perdagangan. Adanya keahlian pekerjaan membentuk hubungan antaretnik menjadi saling ketergantungan dalam kehidupan ekonomi. Dengan saling ketergantungan, masyarakat di Haurgeulis menunjukkan sikap penerimaan dan tidak diskriminatif kepada liyannya. Pengalaman hidup bersama tersebut semakin membentuk nilai-nilai multikulturalisme pada masyarakat Haurgeulis.

This paper describes the process of value creation of multiculturalism in Haurgeulis Indramayu society which is studied through qualitative method. The Data is collected through observational techniques, in-depth interviews, and literature studies. The results show that multicultural life in Haurgeulis was formed by four ethnic groups of immigrants: Java, Sunda, Arabian and Chinese in the early 20th century. Each ethnic group has its own expertise, such as agriculture that dominated by Javanese and Sundanese descent, while the Arab and Chinese descendants of trade. The existence of job skills forms inter-ethnic relations into interdependence in economic life. With interdependence, people in Haurgeulis shows acceptance and non-discriminatory attitude to the others. Life experience in living together increasingly shapes the values of multiculturalism in Haurgeulis society.

KEYWORDS
nilai budaya, multikultural, etnisitas, haurgeulis

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal dan Skripsi

Crouch, Melissa. 2006. “The Proselytisation Case: Law, the Rise of Islamic Conservatism and Religious Discrimination in West Java”. Australian Journal of Asian Law, Vol. 8 No.3.

Hadi, Syofyan. 2013. “Negara Islam Indonesia: Konsepsi Shajarah Tayyibah dalam Konstruk Negara Islam”. Journal of Qur’an and Hadith Studies, Vol. 2, No. 1.

Humardhani, Fiali. 2015. Tradisi Luruh Duit: Studi Kasus Tentang Ayla (Anak Yang di Lacurkan) di Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu. Skripsi. Purwokerto: Universitas Jendral Soedirman.

Mubarok, Husni. 2014. “Babak Baru Ketegangan Islam dan Kristen di Indonesia”. Studia Islamika, Vol. 21 No. 3.

Nopy Yanti, Eny. 2011. Pendudukan Jepang di Jawa Barat Tahun 1942-1945. Skripsi. Jember: Universitas Jember.

Seo, Myengkyo. 2013. “Falling in Love and Changing God: Inter-Religious Marriage and Religious Conversion in Java, Indonesia”. Routledge Vol. 41, No. 119.

Buku

Berger, L. Peter dan Luckmann, Thomas. 2013 (Cetakan kesepuluh). Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan. Terjemahan Hasan Basari. Jakarta: LP3ES.

Bruner, Edward. 2000. “Kerabat dan Bukan Kerabat”. Dalam T.O. Ihromi (Penyunting). Pokok-pokok Antropologi Budaya, hlm 159-179. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Cormack D. 2010. The Practice and Politics of Counting: Ethnicity Data in Official Statistics in Aotearoa/New Zealand. Wellington: Te Rōpū Rangahau Hauora a Eru Pōmare.

Creswell, W. John. 2013 (edisi ketiga). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Terjemahan Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

De Jonge, Huub dan Kaptein, Nico. 2002. Transcending Borders: Arabs, Politics, Trade and Islam in Southeast Asia. Leiden: KITLX Press.

Hoon, Chang Yau. 2012. Identitas Tionghoa Pasca Suharto: Budaya, Politik dan Media. Terjemahan Budiawan. Jakarta: LP3ES.

Klinken, Van. G. 2007. Perang Kota Kecil: Kekerasan Komunal dan Demokratisasi di Indonesia. Terjemahan Bernard Hidayat. Jakarta: Yayasan Obor.

Kymlicka, Will. 2002. Kewargaan Multikultural. Terjemahan Edlina Hafmini Eddin. Jakarta: LP3ES.

Lewellen, Ted. C. 2003 (edisi etiga). Political Anthropology : An Introduction. London: Praeger Publisher.

Parekh, Bikhu. 2008. Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan Teori. Terjemahan Bambang Kukuh Adi. Yogyakarta: Kanisius.

Salim, Agus. 2006. Stratifikasi Etnik: Kajian Mikro Sosiologi Interaksi Etnis Jawa dan Cina. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Samovar, L.A, Richard E.P, & Edwin R.M. 2014 (edisi ketujuh). Komunikasi Lintas Budaya. Terjemahan Indri Margaretha. Jakarta: Salemba Humanika.

Santoso, Budi M.H. 2013. Darul Islam: Pemberontakan Di Jawa Barat. Bandung: Pustaka Jaya.

Suparlan, Parsudi. 2005 (Edisi kedua). Sukubangsa dan Hubungan Antar-Sukubangsa. Jakarta: YPKIK Press

Patanjala Vol. 10 NO. 2 Juni 2018


NASKAH BETAWI: SKRIPTORIUM DAN DEKORASI NASKAH
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.365
Mu'jizah Mu'jizah


PEMBAURAN ETNIS CINA DAN KAUM BUMIPUTRA DI KOTA GARUT (TINJAUAN HISTORIS)
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.359
Kunto Sofianto, Widyo Nugrahanto, Agusmanon Yuniadi, Miftahul Falah


PERAN GANDA PEREMPUAN NELAYAN DI DESA MUARA GADING MAS LAMPUNG TIMUR
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.373
Ani Rostiyati


Respons Masyarakat Kampung Naga terhadap Pembangunan Pariwisata
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.380
Awaludin Nugraha, M. Baiquni, Heddy Shri Ahimsa-Putra, Tri Kuntoro Priyambodo


TARI DIBINGI: SEBUAH UPAYA PENGGALIAN DATA AWAL TARIAN TRADISIONAL YANG TERANCAM PUNAH DI KABUPATEN PESISIR BARAT, LAMPUNG
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.374
Irvan Setiawan


DINAMIKA TATA NIAGA KOPRA DI MINAHASA (1946-1958)
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.381
Hasanuddin Anwar


PENDIDIKAN AHLAK SEBAGAI DASAR PEMBENTUKAN KARAKTER DI PONDOK PESANTREN SUKAMANAH TASIKMALAYA
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.362
Risa Nopianti


Perjuangan M.A.Sentot dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan di Indramayu (1945-1949)
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.396
Wahyu Iryana, Nina Herlina Lubis, Kunto Sofianto


MITOS SILAT BEKSI BETAWI
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.371
Yuzar Purnama


Bioskop di Mal: Konsumsi dan Komodifikasi dalam Budaya Urban
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.385
Gorivana Ageza, Aquarini Priyatna, R. M. Mulyadi


FALSAFAH PENCA CIKALONG DALAM “GERAK SESER”
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.387
Agus Heryana


AKTIVITAS EKONOMI DAN PERDAGANGAN DI KARESIDENAN LAMPUNG PADA PERIODE 1856 HINGGA 1930
DOI : 10.30959/patanjala.v10i2.361
Gregorius Andika Ariwibowo

AKTIVITAS EKONOMI DAN PERDAGANGAN DI KARESIDENAN LAMPUNG PADA PERIODE 1856 HINGGA 1930

Gregorius Andika Ariwibowo

ABSTRACT
Letaknya yang berada di ujung selatan Pulau Sumatera menjadikan wilayah Lampung sebagai titik penting dalam arus perdagangan Jawa-Sumatera. Pada masa kolonial wilayah merupakan salah satu daerah penghasil utama komoditas ekspor Hindia Belanda. Kajian ini ingin melihat bagaimana bentuk dan gambaran dari aktivitas ekonomi dan perdagangan di wilayah Lampung pada periode 1856 hingga 1930?. Di samping itu kajian ini juga ingin melihat pembangunan sarana fisik apa sajakah yang dilakukan oleh pemerintah kolonial untuk menunjang kegiatan ekonomi di Lampung?. Kajian ini bertujuan untuk menambah khasanah kajian sejarah ekonomi di wilayah Lampung yang selam ini masih sedikit mendapatkan perhatian. Memiliki wilayah yang subur dan luas telah menjadikan Lampung sebagai salah satu pusat komoditas sumber daya alam di Hindia Belanda. Komoditas alam seperti lada, kopi, tembakau, dan karet menjadi penunjang bagi berkembangnya ekonomi dan perdagangan. Pemebenahan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah kolonial memberikan pengaruh baik bagi pengembangan ekonomi di wilayah ini.

The location on the southern tip of Sumatra Island makes the Lampung region as an important point in the Java-Sumatra trade flow. In the colonial period the region was one of the main producing areas of the Dutch East Indies export commodities. This study would like to see how the shape and picture of economic and trading activity in the area of Lampung in the period 1856 to 1930. In addition, this study also wants to see the type of physical development done by the colonial government to support economic activities in Lampung . This study aims to increase the repertoire of the study of economic history in the Lampung region which has received a little attention. Having a fertile and extensive area, has made Lampung as one of the centers of natural resource commodities in the Dutch East Indies. Natural commodities such as pepper, coffee, tobacco, and rubber are supporting the development of economy and trade. The improvement of infrastructure carried out by the colonial government had a good influence on economic development in this region.

KEYWORDS
Karesidenan Lampung, aktivitas ekonomi, perkembangan infrastruktur

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Arsip

Koloniaal Verslag, 1858.

Koloniaal Verslag, 1859.

Koloniaal Verslag, 1866.

Koloniaal Verslag, 1920.

Staat der Bevolking tan de bezzittingenbuiten Java en Madoera, 1860.

Tesis

Rijal, Andi Syamsu. 2011.

Dua Pelabuhan Satu Selat: Sejarah Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni di Selat Sunda 1912-2009. Tesis. Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Ilmu Sejarah, Univeritas Indonesia.

Jurnal

Ariwibowo, Gregorius Andika. 2017

“Sungai Tulang Bawang Dalam Perdagangan Lada Di Lampung Pada Periode 1684 Hingga 1914”. Jurnal Masyarakat dan Budaya, Vol. 19, No. 2 Tahun 2017, hlm. 253-267.

Ota, Atsushi. 2005.

“From ‘piracy’ to inter-regional trade: the Sunda Straits zone, c. 1750-1800” IIASS Newsletter, #36, hlm. 9.

________. 2013.

“Tropical Products Out, British Cotton In: Trade in the Dutch Outer Islands Ports, 1846–69”. Southeast Asian Studies, Vol. 2, No. 3, December 2013, hlm. 499–526.

Buku

Anonim. 1918.

De Pepercultuur in de Buitenbezittingen. Batavia: Landsdrukkerij.

Asnan, Gusti. 2016.

Sungai dan Sejarah Sumatera. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Badan Pusat Statistik Lampung, 2015.

Statistik Daerah Provinsi Lampung 2015. BPS: Bandar Lampung.

Blink, H. 1926.

Opkomst En Ontwikkeling Van Sumatra Als Economisch Geographisch Gebied. ‘s-Gravenhage: Mouton & Co.

Braudel, Fernand. 1983.

Civilisation & Capitalis 15th-18th Century: The Wheels of Commerce, Vol. 2. London: Williams Collins Sons & Co.

De Graaf, S., dan D. G. Stibbe. 1918. Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, Tweede Deel. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Departement van Binnenlandsch Bestuur. 1915.

De Buitenbezittingen 1904 tot 1914, Deel I. Weltevreden: Fillal Albrecht & Co.

Department of Public Works, 1920.

Harbourworks: Netherland Indies Harbour. Batavia Department of Public Works.

Department van Kolonien, 1904.

Spoorwegverkenning in Zuid Sumatra. Batavia: Javasche Boekhandel & Drukkerij.

Dick, Horward. dan Peter J. Rimmer. 2003.

Cities, Transports, and Communication: Integraion of Southeast Asia since 1850. London: Palgrave McMillan.

Direktur Jenderal Perkebunan, 2014.

Statistik Perkebunan Indonesia: Kopi. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan.

Kielstra, E.B. 1915.

“De Lampongs” dalam Onze Eeuw. Jaargang 15. hlm. 244-267. Haarlem: Erven F. Bohn.

Kok, J.A. 1931.

De Scheepvaartbescherming in Nederland en in Nederlandsch-Indië. Leiden: N.V. Leidsche Uitgeversmaatschappij.

Levang, P. dan Sevin G. 1990.

Years of Transmigration in Indonesia. Jakarta: Departemen Transmigrasi Biro Perencanaan.

Ota, Atsushi. 2015. “Toward a Transborder, Market-Oriented Society: Changing Hinterlands of Banten, c. 1760–1800” dalam Mizushima, Tsukasa., Souza, George Bryan., Flynn, Dennis O. Hinterlands and Commodities: Place, Space, Time and the Political Economic Development of Asia over the Long Eighteenth Century. Leiden, Boston: Brill.

Pelabuhan Indonesia II (Persero), 2012.

Energizing Trade Energizing Indonesia: Laporan Tahunan 2012. Jakarta: Pelabuhan Indonesia II (Persero).

Steck, F.G. 1862.

“Topographische en Geograpische Beschrijvingder Lampongsche Distrikten”. BKI, Volume 8, Issue 1.

Stibbe, D.G. 1921.

Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, Vierde Deel. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Tagliocozzo, Eric. 2010.

The Indies and The World: State Building, Promise, and Decay at Transnational Moment. BKI, Volume 166, Issue 2-3.

Wellan, J.W.J. 1932.

Zuid-Sumatra: Economisch Overzicht. Wagenigen: H.Veenan & Zonen.

Internet

Kwan, Jenny dan Cervone, Carl. 2014.

“Indonesia: A business case for sustainable coffee production”. www.sustainablecoffeeprogram.com/site/getfile.php?id=230. Diakses pada 12 Desember 2017 pukul 10.32.

FALSAFAH PENCA CIKALONG DALAM “GERAK SESER”

Agus Heryana

ABSTRACT
Gerakan seser dalam Maenpo Cikalong bukanlah sebuah rangkaian gerakan dasar yang digunakan sebagai panduan dalam teknik silat, melainkan upaya dari pesilat untuk mendekati lawan tanpa mengangkat kaki. Gerak seser sering diabaikan dan dianggap tak bermakna. Padahal di dalamnya terkandung fungsi praktis dan falsafah yang melatarbelakangi munculnya gerak tersebut. Karena itulah tujuan penelitiannya adalah mengetahui bentuk gerak seser dan falsafahnya. Metode yang digunakan untuk mendata dan menganalisanya adalah metode kualitatif-deskriptif analisis yakni pendeskripsian obyek sedetail mungkin kemudian dianalisis. Hasilnya adalah ditemukannya konsep falsafah pohon, yang bermakna ajeg tangtungan (kokoh pendirian). Simpulannya falsafah pohon merupakan pelengkap falsafah sebelumnya, yaitu: (1) Lamun deleka sok cilaka (orang jahat akan celaka),(2) Laer aisan (adil); (3) Wijaksana (bijaksana); (4) Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan (tidak membeda-bedakan perlakuaan kepada siapa pun); (5) Sauyunan (rukun); (6) Gelut jeung diri sorangan (melawan diri sendiri); (7) Hirup tawakal (tawakal); (8) Depe-depe handap asor (rendah hati).

Gerak Seser in the Maenpo Cikalong is not a basic movement series used as a guide in silat techniques, but a quest to approach the opponent without lifting a foot. This simple movement is often ignored and considered meaningless. Whereas in the Gerak Seser contained practical functions and philosophy behind the emergence of the movement. That is why the purpose of this research is to find out the form of movement and philosophy. The method used to achieve that goal is a qualitative-descriptive method of analysis that is the description of the object and then analyzed. The result is the discovery of the philosophy concept called tree philosophy. The conclusions obtained are the philosophy of the tree into the soul of the Penca Cikalong rules and reduce the derivative of philosophy such as: (1) Lamun deleka sok cilaka (bad people will be harmed), (2) Laer aisan (fair); (3) Wijaksana (wise); (4) Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan (not discriminating anyone); (5) Sauyunan (rukun); (6) Gelut jeung diri sorangan (self-fighting); (7) Hirup tawakal (tawakal); (8) honest; (9) Depe-depe handap asor (humble).

KEYWORDS
penca, maenpo, Cikalong , seser

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal, Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, dan Tesis

Darmana, Nana; Karna Yudibrata, Saini K.M. 1978.

Aliran-aliran Pokok Pencak Silat Jawa Barat. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Fadilakusumah, A. Adil. 1996.

Pencak Silat sebagai Media Peningkatan Sumber Daya Manusia dalam Menyikapi Abad XXI. Makalah. Bandung: Balai Kajian Jarahnitra.

________. 2016.

Penca Aliran Cimande. Disertasi. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Heryadi, Yedi. 2004.

Tesis: Pencak Silat gaya Cianjur : Studi tentang perubahan dalam konteks seni pertunjukan Ibing Penca. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Heryana, Agus , Aam Masduki, Adeng, M. Halwi Dahlan, Lina Herlinawati, Nina Merlina. 2014.

Falsafah Pencak Silat dan Perannya dalam Pembangunan Karakter di Kabupaten Cianjur. Bandung: Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung.

Mardotillah, Mila; Dian Mochammad Zein. Silat: Identitas Budaya, Pendidikan, Seni Bela Diri, dan Pemeliharaan Kesehatan dalam Jurnal Antropologi.Vol. 18 (2) Desember 2016. Hlm 121-133.

Ramadhan, Feby Febria. 2016.

Skripsi: Pengaruh Silat Maenpo Cikalong Terhadap Peningkatan Koordinasi Gerak Dan Kepercayaan Diri Di Smk Pemuda Sumedang. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Rauf, Abdur, dan Rusman Tabrizy M. 1990.

Cikalong. Cianjur: Paguron Pusaka Cikalong Pusat Pasar Baru.

Romansah, Eden. 2015.

Disertasi. Olahraga Bela Diri Maenpo Cikalong Dalam Perspektif Self-Responsibility Masyarakat (Studi Etnografi Terhadap Maenpo di Cianjur). Bandung: Program Studi Pendidikan Olahraga Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Rudito, Bambang. 2014.

Mitos sebagai Jatidiri (Makalah). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung.

Saleh, M. 1990.

Penelitian Aliran Pokok Pencak Silat di Jawa Barat. Bandung: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Tohir Abdurahman, Memet Mohamad. 2012.

Eksitensi dan Regenerasi Maenpo di Cianjur (Makalah). Bandung: Balai Pelestarian Nilai Budaya.

Buku

Abdullah, Edwin Hidayat. 2013

Keajaiban Silat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Asy’arie, Azis, R.H.,2010.

Maenpo Cikalong. Malang: Buih Leba.

________ 2013.

Maenpo Cikalong Gan Uweh. Bandung: Kaifa.

Bagus, Lorens. 1996.

Kamus Filsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Hardjawinata, Sadeli. 1941.

Pĕntja Soenda. Batavia: Bale Poestaka

Maryaeni, 2005.

Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara.

Raspuzi, Gending, Hawe Setiawan, Mody Afandi. 2016.

Penca: Pangkal, Alur, Dialektika. Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Rusyana, Yus. 1996

Tuturan tentang Pencak Silat dalam Tradisi Lisan Sunda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Subroto, Joko, Moh. Rohadi. 1996.

Kaidah-Kaidah Pencak Silat Seni yang Tergabung dalam IPSI. Solo: Aneka.

Tabrizy, M. Rusman. 2002.

Permainan Rasa: Cikalong. Cianjur: Paguron Pusaka Cikalong.

Turner, Victor. 1967.

BIOSKOP DI MAL: KONSUMSI DAN KOMODIFIKASI DALAM BUDAYA URBAN

Gorivana Ageza, Aquarini Priyatna, R. M. Mulyadi

ABSTRACT
Di kota Bandung, hampir semua mal memiliki bioskop, dan sebaliknya, tidak ada bioskop di luar mal. Artikel ini akan memaparkan konsekuensi dari keberadaan bioskop di mal. Artikel ini disusun berdasarkan observasi lapangan dan studi pustaka, yang kemudian ditafsirkan secara hermeneutika dengan pendekatan teori kritis. Observasi lapangan dilakukan di dua bioskop terbesar di Kota Bandung yakni CGV Cinemas mal Paris van Java dan Ciwalk XXI mal Cihampelas Walk. Fenomena bioskop di mal menunjukkan bahwa kehidupan urban menyebabkan komodifikasi ruang dan pengalaman. Berbelanja di mal dan menonton film di bioskop mal mengarahkan warga urban untuk melakukan konsumsi, serta memaksimalkan keuntungan yang didapat oleh mal dan bioskop.

In Bandung city, virtually all shopping malls list movie theaters among their venue. Conversely, there is no movie theater located out of shopping mall. This article explains consequences of movie theater in shopping malls. This article is written based on field observation and literature study, which then was interpreted hermeneutically, using critical theory approach. Field observations were conducted at two biggest movie theaters in Bandung’s shopping malls, which are CGV Cinemas in Paris van Java Mall and Ciwalk XXI in Cihampelas Walk Mall. This phenomenon indicates that urban life causes commodification on space and experience. Both the act of shopping and watching movies in shopping malls lead urban people to a consumptive lifestyle while maximizing the revenues of both shopping malls and movie theaters.

KEYWORDS
mal, bioskop, ruang, pengalaman, penonton

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal

Corbett, K. J. 2001.

The Big Picture: Theatrical Moviegoing, Digital Television, and Beyond the Substitution Effect. Cinema Journal, 40(2), 17–34. Retrieved from www.jstor.org/stable/ 1225841

Friedberg, A. 1991.

Les Flaneurs du Mal(l): Cinema and the Postmodern Condition. PMLA, 106(No. 3), 419–431. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/462776

Paul, W. 1994.

The K-Mart Audience at the Mall Movies. Film History, 6(4), 487–501.

Buku

Barker, C. 2014.

Kamus Kajian Budaya. Yogyakarta: Kanisius.

Basundoro, P. 2012.

Pengantar Sejarah Kota. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Buck-morss, S. 1989.

The Dialectics of Seeing: Walter Benjamin and the Arcades Project. Cambridge: The MIT Press.

Debord, G. 1970.

The Society of the Spectacle. Detroit: Black & Red.

Friedberg, A. 1993.

Window Shopping: Cinema and the Postmodern. California: University of California Press.

Gilloch, G. 1996.

Myth and Metropolis: Walter Benjamin and the City. Oxford: Polity Press in association with Blackweel Publishers.

Lefebvre, H. 1991.

The Production of Space. Oxford: Basil Blackwell.

Maulana, S. 2002.

Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates hingga Buddhisme Zen. Bandung: Publika Edu Media.

Neumann, J. von, & Morgenstern, O. 2004.

Theory of Games and Economic Behaviour (60th ed.). Princeton: Princeton University Press.

Parker, S. 2004.

Urban Theory and the Urban Experience: Encountering the City. London: Routledge.

Ritzer, G. 2004.

The Globalization of Nothing. California: Sage Publications.

Sen, K. 2009.

Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat, dan Sinema Orde Baru. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Singer, B. 2001.

Melodrama and Modernity. New York: Columbia University Press.

Internet

Adi. 2013. Inilah 5 Bioskop Kenangan di Bandung. Diakses dari http://bandung.bisnis.com/read/ 20130822/34242/418379/inilah-5-bioskop-kenangan-di-bandung, Tanggal 7 Januari 2018 pukul 12.38 WIB.

Bookmyshow. 2017a.

History of Cinema: CGV Cinemas. Diakses dari https://.id.bookmyshow.com/ cinemas-list/cgv-blitz/all-regions/cbof, Tanggal 5 Februari 2018 pukul 20.00 WIB.

Bookmyshow. 2017b.

History of Cinema: Cinema XXI. Diakses dari https://id.bookmyshow.com/cinemas-list/cinema21/all-regions/21c, Tanggal 5 Februari 2018 pukul 20.13 WIB.

CGVCinemas. 2018a.

CGV Cinemas. Diakses dari https://www.cgv.id, Tanggal 10 April 2018 pukul 22.15 WIB.

CGVCinemas. 2018b.

Schedule CGV Cinemas Paris van Java. Diakses dari https://www.cgv.id/en/schedule/cinema/001, Tanggal 5 Februari 2018 pukul 21.30 WIB.

Cineplex21. 2018a.

Cineplex 21. Diakses dari https://21cineplex.com, Tanggal 10 April 2018 pukul 22.20 WIB.

Cineplex21. 2018.

Cineplex 21: About Us. Diakses dari https://21cineplex.com/ gui.about.php, Tanggal 7 Mei 2018 pukul 20.23 WIB.

Halim, A. 2017.

Ini Alasan Harga Pop Corn

dan Minuman Jauh Lebih Mahal Ketimbang Harga Tiket di Bioskop. Diakses dari http://tipstren.pojoksatu.id/hiburan/18/11/2017/ini-alasan-harga-pop-corn-dan-minuman-jauh-lebih-mahal-ketimbang-harga-tiket-di-bioskop/, Tanggal 5 April 2018 pukul 19.07 WIB.

Kompas. 2016.

Singapura Jadi Pemegang Sebagian Saham Cinema XXI. Diakses dari https://ekonomi. kompas.com/read/2016/12/06/075545626/singapura.jadi.pemegang.sebagian.saham.cinema.xxi, Tanggal 5 Februari 2018 pukul 18.45 WIB.

Librianty, A. 2018.

Jaket Dilan Bertebaran di Toko Online. Diakses dari https://liputan6.com/tekno/read/3263108/jaket-dilan-bertebaran-di-toko-online, Tanggal 10 April 2018 pukul 23.37 WIB.

Maradona, S. 2011.

Regent, Salah Satu Bioskop Tertua di Bandung “Tutup Usia.” Diakses dari https://republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/09/08/lr7lb7-regent-salah-satu-bioskop-tertua-di-bandung-tutup-usia, Tanggal 7 Januari 2018 pukul 00.47 WIB.

Nova, R. 2014. Keberpihakan Penonton Indonesia. Diakses dari https://cinemapoetica.com/ keberpihakan-penonton-indonesia/, Tanggal 28 Februari 2018 pukul 01.26 WIB.

Wattimena, R. A. A. 2009. Hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Diakses dari https://rumahfilsafat.com/ 2009/09/21/hermeneutika-hans-georg-gadamer/, Tanggal 6 Mei 2018 pukul 21.45 WIB.

Surat Kabar

Redana, B. (2016). “Welcome You All”. Kompas, 10 Januari 2016.

MITOS SILAT BEKSI BETAWI

Yuzar Purnama

ABSTRACT
Silat beksi adalah penamaan dunia persilatan pada masyarakat Betawi. Silat beksi merupakan ilmu bela diri maen pukulan dengan empat pertahanan tubuh dari serangan lawan. Ilmu bela diri ini merupakan percampuran antara jurus silat Betawi dengan jurus-jurus bela diri dari Negeri Cina. Silat beksi sampai sekarang masih tumbuh dan berkembang pada masyarakat Betawi dibuktikan dengan adanya 120 sanggar silat beksi di Jakarta, hal inilah yang menarik bagi penulis untuk mengkaji apa yang menyebabkan produk budaya ini dapat bertahan bahkan berkembang. Ruang lingkup penulisan mencakup, Apakah yang dimaksud masyarakat Betawi? Apakah silat beksi itu? Adakah mitos silat beksi? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskripsi. Kesimpulan penelitian, silat beksi bagi masyarakat Betawi memiliki nilai keagungan dan keluhuran, sehingga untuk mengungkapkannya munculah mitos-mitos misalnya ilmu ini diajarkan oleh makhluk jelmaan macan putih atau harimau.

Beksi silat is the name of the martial world in the Betawi community. Beksi silat is a martial arts style with four body defenses against opponents. This martial art is a mixture of Betawi and China martial arts. Beksi silat is still growing and developing in the Betawi community as evidenced by the existence of 120 Beksi silat studios in Jakarta. This becomes the writer’s interest to examine the reason of this martial art to survive and even develop. The scope of writing includes how the Betawi people are, what Silat Beksi Is, and the myths in Silat Beksi. This study uses a qualitative approach with description research methods. The conclusion of this study is that the Silat Beksi for the Betawi people has the value of majesty and nobility, so that some myths revealed. For example, this art was taught by white tiger or tiger incarnation.

KEYWORDS
Mitos, silat beksi, dan masyarakat Betawi

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal

Biopsi, Heksa. 2014.

“Mitos Oheo dan Asas Hubungan dalam Konsep O rapu, Menguak Posisi Perempuan dalam Keluarga suku Tolaki” dalam Patanjala Volume 6 Nomor 1 Maret 2014. Hlm. 381-398.

Erwantoro, Heru. 2014.

“Etnis Betawi; Kajian Historis” dalam Patanjala Volume 6 Nomor 1. Maret 2014. Hlm. 1-16.

Buku

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2006.

Strukturalisme Levi-Strauss, Mitos, dan Karya sastra. Yogyakarta: Kepel Press.

Bachtiar, DR. Wardi. 1997.

Metode Penelitian Ilmu Dakwah. Pamulang Timur Ciputat: Logos Wacana Ilmu.

Barthes, Roland. 2010.

Imaji, Musik, Teks: Analisis Semiologi atas Fotografi, Iklan, Film, Musik, Alkitab, Penulisan dan Pembacaan serta Kritik sastra. Agustinus Hartono (penerjemah).Yogjakarta: Jalasutra.

Bogdan, Robert C. 1972.

Participant Oberservation in Organizational Settings, Syracuse, N.Y. : Syracuse Univercity Press.

Moleong, DR. Lexy J. 1989.

Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Karya.

Nawi, GJ. 1983.

Maen Pukulan; Pencakkk Silat Khas Betawi. Jakarta : Yayasan pustaka Obor Indonesia.

Ratna, Nyoman Kutha. 2006.

Teori, Metode, dan Teknik Penelitian sastra: dari Strukturalisme hingga Pastrukturalisme, Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Puataka Pelajar.

Saputra, Yahya dll. 2002.

Beksi; Maen Pukulan Khas Betawi. Jakarta : Gunung Jati.

Surakhmad, Winarno. 1982.

Penelitian DasarMetode Teknis. Bandung: Tarsito.

Internet

http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2015/ 04/sejarah-asal-usul-suku-betawi-dan.html, diakses tanggal 20-3-2018 pukul 09.47 WIB.

http://ujungabad.blogspot.co.id/2012/05/sejarah-silat-beksi-betawi.html, diakses tanggal 25 Januari 2018 pukul 09.17 WIB.

https://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Beksi, diakses tanggal 25 Januari 2018 pukul 09.07 WIB.

PERJUANGAN M.A.SENTOT DALAM PERANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI INDRAMAYU (1945-1949)

Wahyu Iryana, Nina Herlina Lubis, Kunto Sofianto

ABSTRACT
Perang mempertahankan negara Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan terjadi di beberapa daerah, termasuk perjuangan pasukan setan Muhammad Asmat Sentot di daerah Indramayu, Jawa Barat. Perlu ditekankan bahwa proses diplomasi tidak bisa dilepaskan dengan aktivitas militer. Adapun permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah mengenai bagaimana biografi Sentot sebagai pemimpin perjuangan perang fisik di Indramayu (1945-1949)? Bagaimana perjuangan pasukan setan merah yang dipimpin oleh Sentot dalam mempertahankan kemerdekaan di daerah Indramayu Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biografi Sentot dan untuk memahami nilai-nilai heroik perjuangan Muhammad As’ad Sentot melawan Agresi Militer Belanda dalam mempertahankan wilayah Indramayu. Tulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah (heuristik, kritik, interpretasi, historiografi). Sedangkan teori yang digunakan adalah teori kausalitas. Hasil penelitian menunjukkan Sentot merupakan tokoh sentral dalam peristiwa perang fisik untuk mempertahankan kemerdekaan di wilayah Indramayu, Jawa Barat. Ia mempunyai peranan penting untuk membangkitkan serta mengobarkan keberanian rakyat Indramayu melawan Belanda pada masa perang fisik (1945-1949).

The war defended the post-independence Indonesian State of Independence in several areas, including the struggle of the red-blooded forces of Muhammad Asmat Sentot in the Indramayu area of West Java. It should be emphasized that the diplomacy process can not be separated by military activity. The problem raised in the research is about how the biography of Sentot as the leader of the physical war struggle in Indramayu (1945-1949)? How is the struggle of red demon troops led by Sentot in maintaining independence in Indramayu area of West Java Province? This study aims to determine the biography of Sentot and to understand the heroic values of Muhammad As'ad Sentot struggle against Dutch Military Aggression in defending the Indramayu region. This paper uses historical research methods (heuristics, criticism, interpretation, historiography). While the theory used is the theory of causality. The result of this research is that Sentot is a central figure in the event of physical war to defend the independence in Indramayu, West Java. He has an important role to raise and brave the people of Indramayu against the Dutch during the period of the physical war (1945-1949).

KEYWORDS
Perjuangan, Sentot, Indramayu.

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Data Dokumen

Dokumen Piagam penghargaan dan Lencana Kemiliteran.

Foto-foto Koleksi keluarga.

Jurnal

Jurnal sejarah vol. 6 No. 1 Agustus 2004 , Pemikiran, Rekontruksi, Persepsi, Tilly “Collective Action” Revolusi Kisah Tawanan Boven Digul. Diterbitkan oleh Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia.

Buku

Badan Koordinasi Pembangunan Daerah Jawa Barat, 1965.

Sejarah Perkembangan Pembangunan Daerah Jawa Barat Tahun 1945-1965. Bandung: Koordinasi Pembangunan Tingkat I Jawa Barat.

Idris, Wawan, 2008.

M.A. Sentot dalam Arus Sejarah Nasional Indonesia. Bandung: Satuangit.

Dinas Sejarah Militer TNI-AD. 1977.

Album Perjuangan TNI AD Periode 1945-1950. Bandung: Dinas Sejarah TNI AD.

Ekajati, Edi S. 1992.

Kebudayaan Sunda Jilid I: Kebudayaan Desa. Bandung: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Pajajaran.

Kartodirdjo, Sartono. 1946.

Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Louis Gottschalk, 1995.

Mengerti Sejarah, terjemah Nugroho Notosusano, penerbit: UI Press, Jakarta.

Nasution, A.H. 1964.

Pokok Gerilja dan Pertahanan Republik Indonesia Dimasa Jang Lalu dan Jang Akan Datang. Jakarta: Angkasa.

Peter Burke, 2003.

Sejarah dan Teori Sosial Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Wawancara Narasumber

Thohir Veteran Indramayu (83) pejuang jaman Jepang hingga Agresi Militer Belanda II.

Alamsyah, (66 tahun), anak kandung M.A Sentot

Kasmadi, (89 tahun) prajurit seperjuangan Sentot. Patrol, 5 November 2017.

PENDIDIKAN AHLAK SEBAGAI DASAR PEMBENTUKAN KARAKTER DI PONDOK PESANTREN SUKAMANAH TASIKMALAYA

Risa Nopianti

ABSTRACT
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan memiliki visi yang cukup sentral dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain mengemban tugas mencerdaskan kognisi peserta didiknya, pesantren juga bertujuan untuk memberikan kecerdasan spiritual dan sosial. Kecerdasan spiritual tersebut salah satunya dibentuk oleh pendidikan akhlakul karimah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pendidikan ahlak dengan pembentukan karakter santri di pesanten Sukamanah, Tasikmalaya. Penelitian kualititaif dengan prespektif etnografi digunakan untuk memaparkan dan menganalisa data. Pendidikan ahlak memberikan bekal konsep spiritual pada diri seorang santri dalam bersikap dan berperilaku. Adapun salah satu implementasi praktis dari pendidikan akhlak adalah tata tertib dan tatakrama yang merupakan perwujudan dari tata kelakuan dan menjadi bagian dari norma sosial. Tata tertib dan tatakrama berperan penting untuk penanaman nilai-nilai sprititualitas dalam membentuk karakter para santri

Pesantren as a religious education institution has a central vision in the intellectual life of the nation. In addition to carrying out the task of educating students cognition, pesantren also aims to provide spiritual and social intelligence. Spiritual intelligence can be formed by akhlakul karimah education. This study aims to determine the relationship of moral education with the formation of santri (students) characters in Sukamanah pesantren, Tasikmalaya. Qualitative research with an ethnographic perspective is used to describe and analyze data. Moral education has provided a spiritual concept for a santri in behaving and act. As for one of the practical implementations of moral education is the rules and manners which are the embodiment of behavior and become part of social norms. Rules and manners play an important role in the cultivation of spiritual values in shaping the character of the santri.

KEYWORDS
norma, tatakrama, tata kelakuan, pendidikan ahlak, pendidikan karakter, pesantren

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, Tesis, dan Jurnal

Kumalasari, Dyah. “Pendidikan Karakter Berbasis Agama” dalam Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 14 No. 2 Tahun 2012. Hlm. 716-728.

Munawar, Risaman. 2013.

Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Negeri Godean. Skripsi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Novitasari, Desi. 2016.

Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an di SD IT Luqman Al-Hakim Internasional. Tesis. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Rahmadi, Mamat. “Pengelolaan Pendidikan Berbasis Islam” dalam Jurnal Adminisrasi Pendidikan Vol. 21 No.1 Tahun 2014. Hlm. 1-16.

Rahman, Amri dan Dulsukam Kasim. “Pendidikan Karakter Berbasis Al-Quran : Upaya Menciptakan Bangsa yang Berkarakter” dalam Jurnal Al-Ulum Vol. 14 No.1. Juni 2014. Hlm. 247-268.

Shodiq. M. “Pesantren dan perubahan Sosial” dalam Jurnal Falasifa Vol. 2 No. 2. September 2011. Hlm. 107-118.

Triwulandar, Desi. 2015.

Penerapan Pendidikan Karakter dalam Meningkatkan Akhlak di Homeschooling Grup SD Khoiu Ummah 20 Malang. Skripsi. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.

Buku

Dhofier, Zamakhsyari. 1982.

Tradisi Pesantren : Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Yogyakarta: LP3ES.

Gunawan, Heri. 2012.

Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi. Bandung : Alfabeta.

Samani, Muchlas dan Hariyanto. 2013.

Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Schaefer, Richard T. 2012.

Sosiologi. Jakarta: Salemba Humanika.

Setiadi, Elly M. dan Usman Kolip. 2011.

Pengantar Sosiologi. Pemahaman Fakta dan gejala Permasalaha Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana.

Simatupang, Lono Lastoro., Mudjijono, Nurdiyanto, Naely Himami, Carolina Retmawati, Bagus Suharjo, Bahari. 2012.

Pendidikan Karakter Berbasis Pendidika Seni Budaya di Kota Surakarta. Jogjakarta: BPNB Jogjakarta dan FIB UGM.

Soekanto, Soerjono. 2013.

Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

Speadley, James P. 1997.

Metode Etnografi. Yogyakarta: Tirta Wacana Yogya.

Qomar, Mujamil. 2005.

Pesantren. Jakarta: Erlangga.

Ziemek, Manfred. 1986. Burche B. Soenjojo (Translator).

Pesantren dalam Perubahan Sosial. Jakarta: P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat)

Internet

Al Musawa, Sayid Musa. 2016. Darut Taqrib Jepara. Pentingnya Pendidikan Akhlak dalam Kehidupan dalam http://www.darut-taqrib.org/berita/2016/10/05/pendidikan-akhlak-adalah-solusi-menyelamatkan-bangsa-dan-dunia/. Diakses tanggal 11 Juli 2018.

Utama, Arya. 2010. Hubungan Antara SQ, EQ, dan IQ. dalam https://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/02/18/hubungan-antar-sq-eq-dan-iq/. Diakses tanggal 16 November 2017.

DINAMIKA TATA NIAGA KOPRA DI MINAHASA (1946-1958)

Hasanuddin Anwar

ABSTRACT
Telah menjadi ingatan kolektif masyarakat Minahasa bahwa tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi. Dalam konteks ini, pengolahan kelapa menjadikan kopra merupakan produk penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan pembangunan di daerah Minahasa. Setelah Indonesia merdeka, terjadi perebutan monopoli tata niaga kopra baik melalui Pemerintah Pusat (Jakarta), Pemerintah Daerah (Minahasa), maupun militer (Teritorium VII Wirabuana). Hal ini menyebabkan tata niaga kopra semakin tidak terkendali. Ekspor kopra yang diharapkan dapat memberikan kontribusi ekonomi berubah menjadi masalah politik setelah munculnya peristiwa Permesta. Mengacu pada masalah tersebut, artikel ini bertujuan mendeskripsikan kondisi historis tata niaga kopra di Minahasa tahun 1946-1958. Secara metodologis, artikel ini merupakan studi yang bertumpu pada penelitian pustaka dan arsip. Akhirnya artikel ini menghasilkan kesimpulan bahwa kebijakan Pemerintah Pusat dalam mengatur tata niaga kopra menimbulkan kekecewaan dan diskriminasi bagi masyarakat Minahasa. Timbulnya kekecewaan masyarakat Minahasa menyebabkan tata niaga kopra sebagai kekuatan ekonomi berubah menjadi gerakan politik anti Pemerintah Pusat.

It has become a collective memory of the Minahasa community that coconut plants (Cocos nucifera L.) are strategic commodities that have a social, cultural, and economic role in their lives. In this context, coconut processing makes copra an important product in improving the welfare of farmers and regional development. After Indonesian independence, the copra trading system being monopolized by Copra Foundation, which controlled by central government (Jakarta), local government (Minahasa), and military (Teritorium VII Wirabuana. This causes the copra trade system to become increasingly out of control and dissatisfaction of the Minahasa community. Copra as an economic power turns into an anti-Central Government political movement. There was a takeover of a number of CopraFoundation assets in Manado, and established the Minahasa Coconut Foundation. Then came the demands of regional autonomy by forming the Province of North Sulawesi. The Port of Bitung as an in-out gateway for goods, was only used for barter trade and smuggling of copra abroad, especially Singapore which involved a number of Minahasa civilian officials and military officers. Copra exports are expected to contribute economically has turned into a political problem.

KEYWORDS
Kopra, Tata Niaga, Yayasan Kopra, Minahasa, Pelabuhan Bitung.

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Arsip

Arsip Propinsi Sulawesi (Rhs). No. Reg. 641.

Arsip pribadi M Saleh Lahade. No Reg. 325.

Surat Kabar dan Majalah

“Demonstraties in Manado en Bitung. Schip dat klappermeel zou laden vertrok onverrichter zake”. De nieuwsgier, 16 Juni 1956, hlm. 2.

“De koprasmokkel in Indonesië. Demonstratie tegen Duits schip”. Nieuwsblad van het Noorden, 18 Juni 1956, hlm. 2.

“Kopra-kwestie: Overste Worang bij Chef-staf”. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23 Juni 1956, hlm. 2.

“Het leger en de illegale uitvoer: PG en chefstad zullen nog overleggen”. De nieuwsgier, 21 Juli 1956, hlm. 2.

“Problemen van een verafgelegen daerah. Ook in de Minahasa meent men door Djakarta stiefmoederlijk te worden behandeld. Ontevredenheid bracht nieuwe Opbouwpartij groot verkiezingssucces door PIA’s korrespondent te Manado”. De nieuwsgier, 6 Agustus 1956, hlm. 2.

“Bitung Zeehaven”. De nieuwsgier, 11 Agustus 1956, hlm. 1.

“Onderzoek koprafonds in Minahassa”. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 8 Oktober 1956, hlm. 2.

“Nd.-Celebes neemt heft in eigen hand, Manado breekt met hoofdstad Makassar”. Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 08 Januari 1958, hlm. 2.

Jurnal, Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, dan Tesis

Nadjamuddin. “Analisis Historis Terhadap Potensi Ekonomi di Sulawesi Selatan Indonesia Bagian Timur 1945-1949” dalam Socia Vol. 11 No. 1. Mei 2012. Hlm. 93-104.

Wahyono, Effendi. 1996.

Pembudidayaan dan Perdagangan Kopra di Minahasa (1870-1942). Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.

Buku

Asba, Rasyid. 2007.

Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah: Kajian Sejarah Ekonomi Politik Regional di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Bemmelen, Sita van dan Remco Raben. 2011. “Sejarah Daerah Tahun 1950-an dan Dekonstruksi Narasi besar Integrasi Nasional”, dalam Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an. Pembongkaran Narasi Besar Integrasi Bangsa. Sita van Bemmelen dan Remco Raben (peny.). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, hlm. 1-17.

Djenaan, Lily. 2005.

“Kami Bukan Pencuri: Perempuan Sangihe di Kebun Kelapa Lalow”, dalam Ingat(!)an: Hikmat Indonesia Masa Kini, Hikmah Masa Lalu Rakyat. Budi Susanto (ed.). Yogyakarta: Kanisius dan Lembaga Studi Realino, hlm. 21-74.

Dick, Howard. 2011.

“Ekonomi Indonesia Pada Tahun 1950-an: Kasus Beraneka Jaringan Serta Hubungan Pusat-Daerah”, dalam Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an. Pembongkaran Narasi Besar Integrasi Bangsa. Sita van Bemmelen dan Remco Raben (peny.). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia; KITLV-Jakarta, hlm. 37-63.

Frederick, William. H & Soeri Soeroto, (peny.). 1984.

Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi. Jakarta: LP3ES.

Gde Agung, Anak Agung. 1985.

Dari Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Gottshalk, Louis. 1986.

Mengerti Sejarah, dalam Nugroho Notosusanto (terj.). Jakarta: UI Press.

Harvey, Barbara S. 1984.

Permesta: Pemberontakan Setengah Hati. Jakarta: Grafiti Pers.

Henley, David. 2005.

Fertility, Food And Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600-1930. Leiden: KITLV Press.

Kartodirdjo. Sartono. 2014.

Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Kementerian Penerangan. 1953.

Republik Indonesia: Propinsi Sulawesi. Jakarta: Kementerian Penerangan.

Kuntowijoyo. 1995.

Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Benteng.

Leirissa, R.Z. 1991.

PRRI-PERMESTA: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Ricklefs, M.C. 2009.

Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Sutiono, Benny G. 2000.

Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Jakarta: TransMedia.

Sumber Lisan/Informan

Lengkong, Lona (65 tahun). 2017.

Pensiunan Kepala Dinas Infokom Prop. Sulut, Tokoh Masyarakat Tonsea. Wawancara, Manado, 15-16 Agustus 2017.

Pettananai Besse, Abubakar (75 tahun). 2017.

Tokoh Masyarakat Kema. Wawancara, Kema, Minahasa Utara, 3 Agustus 2017.

Popular Posts