WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Kunjungan Dirjenbud Kemdikbud ke BPNB Bandung

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 17 Maret 2014 menyempatkan diri untuk mengunjungi BPNB Bandung sebelum membuka Workshop Pemetaan Sejarah dan Nilai Budaya di Garden Permata Hotel yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Ditjenbud Kemdikbud. Dalam kesempatan kunjungannya, Dirjenbud beramah tamah dengan seluruh pegawai BPNB Bandung. Acara tersebut diisi dengan penjelasan seputar gambaran umum tentang Direktorat Jenderal Kebudayaan yang saat ini menjadi bagian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kesempatan mendapat kunjungan Dirjenbud tidak disia-siakan oleh para pegawai BPNB Bandung untuk menanyakan beberapa hal, diantaranya mengenai status pegawai bagian Perpustaakaan dan Dokumentasi (Pusdok) yang idealnya dapat diangkat menjadi tenaga fungsional perpustakaan. Saat ini, pusdok memang masih seutuhnya di bawah Kasubbag TU (Permendikbud No. 53 Tahun 2012 tentang organisasi dan tata kerja BPNB), padahal sebelumnya telah dimasukan menjadi bagian tenaga fungsional. Ketidakjelasan mengenai pengangkatan tenaga pusdok untuk diangkat menjadi bagian dari tenaga fungsional membuat status mereka kini dikembalikan pada posisi semula, yaitu di bawah Kasubbag TU.

Gonjang-ganjing mengenai status BPNB yang hendak dijadikan sebagai bagian dari Puslitbang Kemdikbud telah diperjelas oleh Dirjenbud. Beliau mengatakan bahwa saat ini gonjang-ganjing tersebut tidak perlu lagi dipermasalahkan karena aspirasi dari BPNB untuk tidak menginduk pada Puslitbang Kemdikbud telah disetujui. Alasan kuat yang diberikan oleh Dirjenbud diungkapkan dalam sebuah pengibaratan, yakni bahwa BPNB bak sebuah universitas yang di dalamnya berisi tidak hanya penelitian semata tetapi juga diiringi dengan kegiatan pengembangan kebudayaan dalam bentuk sosialisasi tentang pelestarian kebudayaan kepada masyarakat. Melalui pengandaian tersebut, yang memang sudah menjadi tupoksi BPNB, maka BPNB tetap berada di bawah langsung Dirjenbud Kemdikbud.

Tupoksi yang saat ini telah, sedang, dan akan dilaksanakan turut menjadi sorotan Dirjenbud. Beliau menginginkan bahwa seluruh aset kebudayaan perlu diiventarisasi dan dibuat sebuah database online dengan mengikuti pilahan-pilahan yang telah ditentukan. Hal ini sangat perlu dilaksanakan karena masyarakat sudah saatnya mengetahui apa saja aset budaya di daerah mereka. Selain itu, salah satu tugas dirjenbud adalah mengetahui secara lengkap jumlah berikut rincian dari aset kebudayaan yang dimiliki tiap wilayah kerja BPNB. Dengan mendirikan sebuah database online, dirjenbud akan sangat mudah memantau dan menjawab pertanyaan seputar aset budaya di seluruh Indonesia. Perangkat untuk meng”online”kan data kebudayaan menurut beliau sudah ada sehingga tiap BPNB dapat mengupload data kebudayaan di website yang sudah disediakan. Menanggapi hal tersebut, Kepala BPNB Bandung mengharapkan bahwa tidak hanya website dari Kemdikbud saja yang disediakan tetapi juga diharapkan adanya anggaran untuk membuat website di tiap-tiap BPNB. Sebuah keinginan yang saat ini belum dapat dilaksanakan karena terkendala oleh peraturan yang tidak memperbolehkan instansi eselon 3 untuk membuat website sendiri. Keinginan untuk membuat website sendiri sebenarnya dilatarbelakangi oleh seringnya website database kebudayaan online dari Ditjenbud yang non aktif atau tidak berlanjut setelah kurun waktu yang tidak terlalu lama. Hal ini sangat mengecewakan para uploader yang dengan susah payah mengumpulkan, memilah dan mengkaji serta mengupload data kebudayaan namun pada akhirnya website Ditjenbud tersebut kemudian non aktif. Dengan demikian, apabila BPNB memiliki website sendiri sangat dimungkinkan data kebudayaan dapat terus online untuk kemudian dapat diketahui khususnya oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Acara ramah tamah Dirjenbud dengan seluruh pegawai BPNB Bandung yang tidak berlangsung lama sebenarnya sangat disayangkan karena masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Walaupun demikian, BPNB Bandung sangat berterima kasih atas kehadiran Dirjenbud yang secara khusus menyempatkan diri untuk berkunjung dan berkenalan dengan seluruh pegawai. (admin kebudayaan BPNB Bandung)


Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan di Kabupaten Cirebon

PENAYANGAN FILM DAN DISKUSI KEBUDAYAAN


Dasar Pemikiran
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, selain berdampak positif, ternyata juga membawa ancaman bagi kelangsungan dan kelestarian kebudayaan daerah. Antara lain bergesernya peranan dan fungsi kebudayaan itu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Tidak sedikit unsur-unsur kebudayaan daerah atau tradisi lama yang kini semakin jauh dari masyarakat pendukungnya. Bahkan banyak tradisi yang kini nyaris punah, padahal dalam kenyataannya tradisi tersebut telah mampu membentuk sikap, kepribadian dan karakterister bagi masyarakat pendukungnya. Lebih jauh lagi, tradisi tersebut telah memberikan ciri-ciri dan karakteristik bagi kebudayaan dan kepribadian bangsa. Dalam keadaan seperti itu, upaya penyebarluasan informasi kebudayaan sangat perlu terus dilakukan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam tradisi-tradisi tersebut tidak ikut musnah.
BPNB Bandung mempunyai empat wilayah kerja meliputi: Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. BPNB Bandung mempunyai fungsi dan tugas pokok melakukan penelitian, pengkajian, pendokumentasian, serta penyebarluasan nilai-nilai sejarah dan budaya yang terdapat di empat wilayah kerja yang dimaksud. Salah satu upaya untuk menyebarluaskan hasil penelitian dan pendokumentasian adalah melalui kegiatan penayangan film peristiwa sejarah dan budaya.
Sasaran kegiatan penayangan film dan diskusi kesejarahan dan kebudayaan terutama ditujukan kepada generasi muda, khususnya siswa-siswi SMA. Dalam kesempatan ini, kami akan menayangkan film hasil perekaman peristiwa sejarah dan budaya disertai diskusi mengenai nilai-nilai budayanya.
Tujuan
Kegiatan Penayangan Film dan Diskusi ini dilaksanakan dengan tujuan:
  • Menemukenali nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai pristiwa yang tercermin dalam pola kehidupan sehari-hari masyarakat, dan
  • Menumbuhkembangkan rasa cinta dan memiliki di kalangan generasi muda atas sejarah dan budaya bangsanya.
Tema
Sesuai dengan tujuan kegiatan Penayangan Film dan Diskusi ini yaitu untuk mengenalkan nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa sekaligus menumbuhkan rasa cinta, maka kegiatan penayangan pada kesempatan ini bertemakan “Mengenal Tradisi Mencintai Negeri”.

Materi
Dasar dari diskusi dalam kegiatan Penayangan Film dan Diskusi ini adalah tayangan film seni dan budaya. Narasumber berjumlah 2 orang, yaitu:
  1. Drs. Rafan Hasyim, M.Hum. membawakan makalah berjudul Sejarah Perkembangan Cirebon dari Masuknya Islam sampai Ke Zaman Kerajaan
  2. Drh. H. R. Bambang Irianto, BA membawakan makalah berjudul Tradisi Muludan di Cirebon.
Peserta
Peserta dalam kegiatan penayangan film dan diskusi ini adalah siswa dan siswi SMA/sederajat dengan guru pendamping, keseluruhannya berjumlah 100 orang.

Pelaksanaan
Kegiatan penayangan film dan diskusi kebudayaan yang dilaksanakan pada bulan Maret ini mengambil lokasi di SMK Negeri 1 Mundu Jl. Kalijaga Mundupesisir No. 1 Cirebon



Popular Posts