WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Penelitian dan Pengkajian Serat Hidayat Jati

JudulPenelitian dan Pengkajian Serat Hidayat Jati
PengarangJumeiri Siti Rumijah, Tashadi, Suloso, Sri Djoko Rahardjo, Sri Sulansih, E. Tri Winarni
PenerbitProyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1989
Tebalvi + 196 halaman
Desain SampulLestari

Sinrilikna I Manakkuk

JudulSinrilikna I Manakkuk
(Lontarak Makassar)
PenulisAmbo Gani, Husnah G, Nurbiyah Saini, Daco Dg Basse
PenerbitProyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1990
Tebaliii + 81 halaman
Desain SampulLestari

Sri Dangdayang Tresna (Pohaci)

JudulSri Dangdayang Tresna (Pohaci)
PengarangNinein Karlina, Yetti Herayati, Ahmad Yunus, Tatiek Kartikasari, Rosyadi
PenerbitProyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantaram Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
CetakanPertama, 1990
Tebalv + 80 halaman
Desain SampulLestari

Telkom Adakan Pelatihan Digitalisasi Buku Budaya Nusantara

Dalam rangka melestarikan budaya bangsa, PT Telkom Indonesia, Tbk berupaya mengumpulkan berbagai naskah atau buku yang berkaitan dengan ciri khas suatu daerah melalui sebuah kegiatan yang diberi nama "Gerakan 1001 Naskah Nusantara". Naskah atau buku-buku yang telah terkumpul rencananya akan digitalisasi ke dalam platform buku digital agar mudah diakses publik baik dari dalam maupun luar negeri.

Untuk lebih memantapkan gerakan ini, PT Telkom Indonesia juga mengadakan sebuah pelatihan bertajuk "Digitalisasi Buku Budaya Nusantara" bagi instansi-instansi pemerintah di seluruh Indonesia (termasuk BPNB Bandung) yang dianggap dapat berkontribusi dalam penyediaan naskah atau buku yang berkaitan dengan kebudayaan. Pelatihan diadakan selama tiga hari dari tanggal 11-13 Juni 2014 bertempat di Diklat Telom, Jalan S. Parman Kav 8 Slipi, Jakarta Barat.

Adapun agenda pelatihannya adalah: (1) pengenalan materi "Digitalisasi Konten Budaya dan Wisata Daerah" oleh Kepala Bidang Kerjasama dan Otomatisasi Perpustakaan Nasional, Dr. Joko Santoso, M.Hum; (2) pengenalan konsep buku digital oleh Mgr. Marketing and Support PT Telkom Indonesia, Wawan Iskandar; dan (3) penginstalan dan penjelasan aplikasi Sigil serta praktek konversi ePub menjadi konten digital agar dapat dibaca dalam aplikasi Qbaca milik telkom melalui smartphone berbasis android.

Qbaca adalah aplikasi khusus smartphone dan tablet berbasis android yang dapat diunduh pada Google Play Store. Aplikasi ini menyediakan berbagai macam e-book yang dapat diunduh dan dibaca oleh penginstalnya, baik secara gratis maupun berbayar. E-book gratis umumnya berasal dari instansi pemerintah pusat dan daerah, sementara e-book berbayar berasal dari para penerbit yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi). Bagi penerbit, Qbaca memberikan kemudahan untuk menjangkau pembaca dalam sekala global. Dan agar prosesnya lebih transparan, penerbit juga dapat memonitor jumlah transaksi harian e-book yang ditempatkannya di Qbaca.

Wawacan Asep Ogin

JudulWawacan Asep Ogin
(Kajian dan Analisis)
PenulisRosyadi, H.A. Yunus, Tatiek Kartikasari
PenerbitProyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusanatara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1992
Tebalvii + 146 halaman
Desain SampulLestari

Serat Mitro Musibat

JudulSerat Mitro Musibat
Transliterasi, Terjemahan, dan Analisis
PenulisRenggo Astuti, Dwi Ratna Nurhajarini, Wahjudi Pantja Sunjata
PenerbitProyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1997
Tebalix + 127 halaman
Desain SampulLestari

Bicaranna Mula Timpaengngi Sidenreng Najaji Engka Wanua Ri Sidenreng

JudulBicaranna Mula Timpaengngi Sidenreng Najaji Engka Wanua Ri Sidenreng
(Asal Usul "Kerajaan" Sidenreng dan sistem Pemerintahannya
PenulisM. Yasin Sani, Taufik, Kurniah, Malik Jumali, Jamaluddin
PenerbitProyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1990
Tebalvi + 149 halaman
Desain SampulLestari

Nanjomba Ilik

JudulNanjomba Ilik
PengkajiZuraida Tanjung, Argenes Silitonga, Suruhen Purba, P.A. Simanjuntak
PenerbitProyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1995
Tebalx + 75 halaman
Desain SampulLestari

Syair Putri Akal

JudulSyair Putri Akal
PenulisTitik Pudjiastuti
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Banda Aceh
CetakanPertama, 1995
Tebalvii + 96 halaman
Desain SampulA.M. Djoko Subandono

Chaqiqatu 'Sh-Shufi Karya Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani

JudulChaqiqatu 'Sh-Shufi Karya Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani
PenulisNasruddin Sulaiman dan Nurdin AR
PenerbitDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan Museum Negeri Provinsi Daerah Istimewa Aceh
CetakanPertama, 1998
Tebalvi + 44 halaman
Desain SampulLestari

Hikayat Maklumat Allah Transkripsi dan Terjemahan

JudulHikayat Maklumat Allah Transkripsi dan Terjemahan
PenulisNasruddin Sulaiman dan Nurdin AR
PenerbitBagian Proyek Pembinaan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1999
Tebalv + 56 halaman
Desain SampulLestari

Kajian Nilai Budaya Naskah Kuna Kakawin Aji Palayon

JudulKajian Nilai Budaya Naskah Kuna Kakawin Aji Palayon
PenulisRenggo Astuti, Elizabeth T. Gurning, I Made Purna, I Wayan Rupa
PenerbitProyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1998
Tebalix + 106 halaman
Desain SampulLestari

“Nyangku” Akan Masuk Agenda Pariwisata Nasional

Alun-alun Kecamatan Panjalu, Kab. Ciamis, terlihat semarak. Mereka bukan sedang kampanye Pilgub Jabar 2008, karena para perwakilan dari Keraton Cirebon dan Solo, ikut larut dalam acara tersebut.

Ternyata, kehadiran ribuan warga yang datang dari berbagai wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur itu, untuk mengikuti upacara adat Nyangku atau Nyaangan laku (menerangi laku) di Kecamatan Panjalu, Kab Ciamis. Kegiatan yang digelar secara turun-temurun pada setiap minggu ke-4 bulan Islam Maulud tersebut, diwujudkan dengan pencucian benda-benda pusaka leluhur warga Panjalu.

Benda pusaka utama tersebut merupakan warisan Prabu Sanghyang Borosngora Sanghyang Jampang Manggung, raja Islam pertama di Kerajaan Galuh. Menurut sesepuh warga Panjalu, Atong Tjakradinata, pedang panjang yang dicuci bukan senjata sembarangan. Senjata pusaka itu diyakini pemberian Sayyidina Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 setelah Nabi Muhammad saw wafat.

Benda pusaka lainnya yang ikut dicuci, di antaranya cis (senjata tajam) dan bareng (gong kecil). Semua benda pusaka itu dicuci dengan air khusus yang diambil dari sembilan mata air, jeruk nipis, serta berbagai ramuan lain.

Sebelum pencucian, dilakukan ritual pengambilan benda-benda pusaka yang disimpan di Bumi Alit. Dari tempat tersebut, pusaka diarak menuju Nusa Gede, sebuah pulau yang berada di tengah Danau (Situ) Panjalu.

Dari Nusa Gede, tempat Prabu Borosngora dimakamkan, benda pusaka yang dibungkus dengan kain putih itu kemudian kembali dibawa ke Alun-alun Panjalu. Di tempat tersebut sudah menanti masyarakat yang ingin melihat proses pencucian benda-benda pusaka tersebut.

Seperti di Yogyakarta dan Solo, air bekas mencuci benda keramat itu langsung menjadi rebutan masyarakat. Tidak hanya orang tua yang ikut berebut, para remaja pun ikut rebutan air bekas cucian. Air itu langsung digunakan untuk mencuci muka. Tidak sedikit pula yang menyimpannya dalam botol.

Setelah selesai dicuci dan dikeringkan, benda-benda pusaka tersebut kemudian disimpan kembali di Bumi Alit.

Upacara Nyangku dihadiri sejumlah tamu khusus dari Keraton Kanoman Cirebon (Pangeran Raja Moch. Qodiran), Keraton Kasepuhan Cirebon (Pangeran Arif Natadiningrat), dan Bupati Ciamis Engkon Komara. Hadir pula Kepala Disbudpar Jabar H.I. Budhyana, Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Toto Sucipto, Direktur Utama “PR” Syafik Umar, serta sejumlah tokoh Jabar seperti R.H. Atong Tjakradinata, dan Uce K. Suganda.

Ketua Panitia Nyangku dan Festival Budaya Panjalu, Enang Supena mengungkapkan, kegiatan kali ini tidak hanya mencuci benda pusaka tetapi juga dimeriahkan seni calung, gembyung, pencak silat, wayang golek, dan debus. Selain itu, juga digelar bazar pemberdayaan ekonomi rakyat.

Menurut Enang, upacara Nyangku tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga harus menjadi tuntunan.

“Keteladanan dan perjuangan sungguh-sungguh Sanghyang Prabu Borosngora dalam mencari ilmu harus dijadikan contoh oleh kita semua,” tuturnya.

Sementara itu, Budhyana mengatakan, saat ini Nyangku bukan hanya milik warga Panjalu, tetapi sudah menjadi aset bangsa Indonesia. Oleh karena itu, perlu berbagai upaya untuk tetap melestarikannya.

Pada tahun 2009, Nyangku akan dimasukkan ke dalam 10 agenda besar pariwisata Jabar, dan diajukan untuk menjadi agenda pariwisata tingkat nasional. “Tidak hanya Nyangku, di Panjalu banyak objek wisata alam yang menarik,” kata Budhyana. (Nurhandoko/”PR”)***

Jejak Tradisi Daerah Mengajak Wisatawan Memahami Keragaman Budaya

Para peserta Jejak Tradisi Daerah Pangandaran, sedang melihat Batu Kalde di Taman Wisata Alam (TWA) dan Cagar Alam Pangandaran, di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Senin (26/5/2014). Kedatangan mereka yakni untuk mengetahui panorama dan berbagai jenis habitat yang ada di dalamnya.
PARIGI, (PRLM).- Sebanyak 150 peserta Jejak Tradisi Daerah Pangandaran, berkunjung ke Taman Wisata Alam (TWA) dan Cagar Alam Pangandaran, di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Senin (26/5/2014). Kedatangan mereka yakni untuk mengetahui panorama dan berbagai jenis habitat yang ada di dalamnya.

Dikatakan Toto Sucipto selaku Kepala Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung wilayah kerja Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung, kegiatan itu merupakan rangkaian terakhir dari Jejak Tradisi Daerah yang bertemakan "Mengenal Budaya Maritim Untuk Memahami Keragaman Budaya".

“Para peserta yang merupakan guru dan siswa diajak untuk mengenal negerinya dan mencintai negerinya. Setelah kemarin kita ke kampung nelayan Babakan, dan membuat layang-layang serta menerbangkannya, kini ke cagar alam,” ujarnya.

Para peserta pun berkesempatan melihat beragam jenis tanaman, pohon, hewan seperti rusa, monyet. Juga melihat Batu Kalde, dan Gua Jepang. (Mohamad Ilham Pratama/A-147)***

Indonesia Belum Punya UU Kebudayaan

BANDUNG, (PRLM).- Sebagai negara yang kaya dengan karya seni budaya tradisi sampai saat ini Indonesia belum memiliki Undang-undang Kebudayaan. Keberadaan UU kebudayaan dibutuhkan sebagai alat maupun sarana pengendalian dan aturan hukumnya.

Padahal menurut Kabudit Direktorat Internalisasi dan Diplomasi Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Dyah Chitraria Liestyati, turunannya seperti undang-undang cagar budaya dan undang-undang perfilman sudah lebih dulu ada.

"Undang-undang kebudayaan sudah sangat mendesak dibutuhkan, karenan kebudayaan sudah lama dilaksanakan oleh masyarakat, namun belum ada dasar hukum atau aturannya dari pemerintah," ujar Dyah Chitraria Liestyati, pada acara Workshop Menejemen Seni Pertunjukan bertempat di Hotel Horison, Jl. Pelajar Pejuang Bandung, Selasa (25/9).

Dikatakan Dyah, pemerintah tidak mau menyetir pelaksanaan kebudayaan di masyarakat. Karenanya, keberadaan UU kebudayaan ini lebih untuk pengendalian dan aturan hukumnya dan masyarakat tetap bisa terus melaksanakan kegiatan kebudayaannya masing-masing,

Saat ini menurut Dyah, penyusunan rancangan Undang-undang (RUU) kebudayaan masih terus disusun, bahkan RUU kebudayaan ini sudah dibahas beberapa kali di DPR RI. "Saya kurang tahu persisnya, karena pembahasan RUU kebudayaan ini sudah lama dilakukan, ketika kebudayaan masih bergabung dengan pariwisata," ujar Dyah.

Sementara itu Kepala Balai Purbakala, Sejarah, dan Nilai Tradisi (BPSNT), Drs. Toto Sucipto, mengatakan bahwa keberadaan UU Kebudayaan sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan karya seni budaya warisan bangsa dan agar kejadian klaim karya seni budaya oleh negara lain kembali terulang. “Misalnya di Jawa Barat saja sudah diakui secara nasional baru 73 karya, sementara 40 jenis karya budaya lainnya sudah punah,” ujar Toto

Dikatakan Toto, saat ini dari empat provinsi di bawah naungan BPSNT, baru 173 karya budaya yang diakui dari 550 yang diajukan. Sementara berdasarkan catatan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan hingga semester tiga sudah 2.300 seni budaya yang terdaftar, sedangkan berdasarkan target yang ditetapkan pada tahun 2012, sebanyak 8.000 seni budaya tradisi di seluruh Indonesia harus sudah terdaftar. (A-87/A-26).***

Pemerintah tak Serius Mencatat Warisan Budaya

BANDUNG, (PRLM).- Pemerintah di tingkat pusat maupun daerah belum optimal melakukan pencatatan terhadap warisan budaya akibat masih banyak muatan kepentingan dan politik. Hingga kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mencatat lebih dari 67.273 warisan budaya yang ada di Indonesia.

Dikatakan Dosen Antropolgi dari Universitas Indonesia Dr Ir Yophie Septiady, belum optimalnya sistem pencatatan warisan budaya tersebut sangat ironis, karena Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan warisan.

“Belum optimalnya pencatatan warisan budaya tersebut meliputi warisan budaya benda tak bergerak, benda bergerak dan budaya takbenda,” ujar Yophie dalam paparannya pada Sosialisasi Pencatatan Warisan Budaya Indonesia yang diselenggarakan Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertempat di Garden Permata Hotel, Jl. Lemahneundeut, Kota Bandung, Selasa (6/11/12).

Menurut Yophie, pihaknya sangat memprihatinkan masih kurangnya keseriusan pemerintah pusat maupun daerah dalam melakukan pencatatan warisan budaya. Semisal warisan budaya tak benda yang meliputi tradisi lisan, kesenian, adat istiadat, ritus, cerita rakyat, praktek keagamaan serta budaya dan sebagainya yang hingga kini masih belum banyak dimasukan dalam data.

Menurut Yophie, ada banyak kekayaan warisan budaya di Indonesia yang hingga saat ini belum bisa dicatat karena berbagai penyebab. Selain orang Indonesia sendiri menganggap hal-hal seperti itu sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, juga banyak orang Indonesia yang tidak mengetahui akar budaya dari warisan budaya tak benda tersebut.

"Mengetahui akar budaya itu sangat penting karena bisa menjadi landasan bagi Indonesia soal kepemilikan, dan bisa dijelaskan bila terjadi pengklaiman dari pihak-pihal yang tidak bertanggungjawab. Kelemahan yang paling mendasar adalah dimana orang Indonesia menganggap semua warisan budaya tak benda tersebut sebagai satu hal yang biasa-biasa saja, tanpa makna berarti, apalagi mau dipelajari dan diteliti,” ujar Yophie.

Sementara Kasubdit Kekayaan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dra. Lien Dwiari Ratnawati, mengatakan bahwa sejak tahun 1976 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan berbagai upaya perlindungan terhadap warisan budaya, salah satunya melalui pencatatan. Hingga kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya sudah mencatat lebih dari 67.273 warisan budaya yang ada di Indonesia.

Jumlah tersebut menurut Lien Dwiari meliputi, 11.627 warisan budaya benda tak bergerak, 53.538 benda bergerak dan 2.108 warisan budaya takbenda. "Masih ada ribuan warisan budaya benda lainnya yang belum dicatat karena berbagai faktor, semisal warisan budaya takbenda banyak yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam konsep ilmiah karena terputusnya informasi dan sejarah yang minim," ujar Lien Dwiari yang hadir mewakili Direktur Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Prof Dr Etty Indriati Ellis PhD.

Kegiatan dihadiri Kepala Disparbud Jabar, Drs. Nunung Sobari, M.M., beserta jajarannya, Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Toto Sucipto beserta jajarannya. dosen serta praktisi seni budaya. Selain menghadirkan Dr Ir Yophie Septiady, selaku nara sumber, Sosialisasi Pencatatan Warisan Budaya Indonesia, juga Kasubdit Kekayaan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dra. Lien Dwiari Ratnawati dan Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Toto Sucipto. (A-87/A-88)***

Kajian Naskah Kuno Nazhan Nasehat

JudulKajian Naskah Kuno Nazhan Nasehat
PenulisErnayanti, Sigit Widiyanto, Nurdin A.R.
PenerbitDirektorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1997
Tebalx + 78 halaman
Desain SampulLestari

Wasiat-wasiat dalam Lontarak Bugis

JudulWasiat-wasiat dalam Lontarak Bugis
PenulisAmbo Gani, Husnag G.S., Baco B., Ahmad Yunus
PenerbitProyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1990
Tebalv + 97 halaman
Desain SampulLestari

Kajian Naskah Pemimpin ke Surga dan Syair Perang Kamang Yang Kejadian Dalam Tahun 1908

JudulKajian Naskah Pemimpin ke Surga dan Syair Perang Kamang Yang Kejadian Dalam Tahun 1908
PenulisDjurip, Zaiful Anwar, Getri A.R.
PenerbitProyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1996
Tebalx + 144 halaman
Desain SampulLestari

Lontarak Pannessaengngi Bettuwanna Nippie

JudulLontarak Pannessaengngi Bettuwanna Nippie
PenulisH. Ahmad Yunus, Pananrangi Hamid, Tatiek Kartikasari, Fausiah
PenerbitDirektorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
CetakanPertama, 1993
Tebalviii + 149 halaman
Desain SampulLestari

Wawacan Perbu Kean Santang

JudulWawacan Perbu Kean Santang
PenulisSurlina Marzuki, H.R. Suryana, Siti Maria
PenerbitDirektorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1993
Tebalviii + 218 halaman
Desain SampulLestari

Hikayat Raja Handaq

JudulHikayat Raja Handaq
PenulisSindu Galba, Mustari
PenerbitDirektorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1995
Tebalviii + 71 halaman
Desain SampulA.M. Djoko Subandono

Nilai-nilai Budaya dalam Naskah Babad Selaparang Jilid II

JudulNilai-nilai Budaya dalam Naskah Babad Selaparang Jilid II
PenulisSri Yaningsih, Umar Sirat, L.G. Suparman
PenerbitDirektorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1995
Tebalviii + 148 halaman
Desain SampulA.M. Djoko Subandono

Serat Siksa Kanda Karesian

JudulSerat Siksa Kanda Karesian
PenulisNinien Karlina, Ahmad Yunus, Rosyadi, Yahya Ganda
PenerbitDirektorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1993
Tebalvii + 78 halaman
Desain SampulLestari

Lontarak Luwu Daerah Sulawesi Selatan

JudulLontarak Luwu Daerah Sulawesi Selatan
PenulisH. Ahmad Yunus, Pananrangi Hamid, Tatiek Kartikasari, Soeloso, Rosyadi
PenerbitDirektorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1992
Tebalix + 153 halaman
Desain SampulLestari

Lawatan Sejarah Pancing Minat Siswa

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung hari ini menyelenggarakan Lawatan Sejarah di Kota Cirebon. Rencananya kegiatan ini akan diselenggarakan selama tiga hari sampai tanggal 12 Mei.

Kegiatan ini diikuti oleh 150 peserta, yang terdiri dari siswa SMA/sederajat dan para guru, yang sebagian besar mengampu mata pelajaran sejarah. Siswa siswi itu merupakan gabungan dari empat wilayah kerja BPNB Bandung, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.

Toto Sucipto, Kepala BPNB Bandung, mengatakan tujuan dari acara ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan sejarah dan apresiasi siswa siswi terhadap kekayaan sejarah. Selain itu, kegiatan ini juga untuk mengenalkan peninggalan sejarah yang ada di Kota Cirebon. Sekaligus memberikan wawasan lapangan sebagai pelengkap pelajaran sejarah di kelas.

Ia menambahkan dengan lawatan sejarah ini, diharapkan dapat juga berbagi pengetahuan baik kepada siswa maupun pada guru. Jangan anak muda sampai benci sejarah karena yang terlihat hanya menghapalkan tanggal dan tahun. Menurutnya justru cerita di belakang itu yang menarik. "Lawatan ini untuk menjadikan sejarah menarik, tantangan juga bagi bapak dan ibu guru," ujar Toto disela acara pelepasan, Sabtu (10/5).

Acara ini terdiri dari pemaparan objek sejarah di Kota Cirebon dan diskusi. Nantinya rombongan para siswa dan guru itu akan dibawa ke situs-situs bersejarah di wilayah Cirebon. Hari pertama mereka akan mengunjungi Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Keraton Kasepuhan.

Hari kedua rombongan akan diajak melihat Keraton Kanoman dan Kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Hari terakhirnya, mereka akan mengunjungi Taman Sari Gua Sunyaragi.

Langit Pangandaran Semarak dengan Layang-layang

PARIGI - Sebanyak 150 layang-layang diterbangkan di Lapangan Katapang Doyong, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Minggu (25/5/2014). Langit Pangandaran pun berubah seketika menjadi berwarna oleh beragam layang-layang.

Mereka yang menerbangkan layang-layang itu adalah para peserta Jejak Tradisi Daerah. Kegiatan itu diikuti 150 siswa dan guru SMA sederajat yang ada di Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta dan Lampung.

Sebelum diterbangkan, para peserta terlebih dahulu melukis layang-layangnya. Lukisannya pun beragam. Ada yang bergambar pemandangan laut, ikan, hingga lukisan abstrak.

Dikatakan Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung Toto Sucipto, melukis dan menerbangkan layang-layang itu merupakan rangkaian dari Jejak Tradisi Daerah.

"Setelah kemarin kita ke Kampung Nelayan Babakan, kini peserta mempelajari cara membuat layang-layang, melukis, hingga menerbangkannya," jelasnya.

Ketika para siswa menerbangkan layang-layang, warga juga wisatawan yang ada di dekat lapangan tampak asyik menyaksikan langit Pangandaran yang dihiasi layang-layang. (Mohamad Ilham Pratama/A-147)***

Pelajar SMA/SMK Empat Provinsi Pelajari Budaya Maritim di Pangandaran

PARA siswa SMA/sederajat mendengarkan penjelasan dari warga dan narasumber di Kampung Nelayan Babakan, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (24/5/2014). Sebanyak 150 siswa SMA/SMK/sederajat dari empat provinsi mendatangi Kampung Nelayan Babakan, pada kegiatan yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung (BPNB) Bandung, wilayah kerja Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung, dengan tajuk Jejak Tradisi Daerah, ke Kabupaten Pangandaran
PARIGI, (PRLM).- Sebanyak 150 siswa SMA/SMK/sederajat dari empat provinsi mendatangi Kampung Nelayan Babakan, di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (24/5/2014). Kedatangan mereka untuk mempelajari budaya maritim di Pangandaran.

Kegiatan tersebut digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung (BPNB) Bandung, wilayah kerja Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung, menggelar Jejak Tradisi Daerah, ke Kabupaten Pangandaran.

Pada kegiatan yang mengambil tema, Mengenal Budaya Maritim untuk memahami Keragaman Budaya itu, peserta berasal dari empat provinsi, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Seluruhnya siswa kelas satu dan dua.

Dikatakan Yuzar Purnama selaku Ketua Pelaksana kegiatan, para siswa tersebut adalah wakil dari setiap sekolah yang menjadi duta daerahnya.

"Peserta selain siswa juga ada guru dari masing-masing daerah sebagai pendamping," ujarnya.

Tujuan jejak budaya tersebut adalah untuk mengenalkan budaya maritim khususnya di Pangandaran kepada siswa.

Yuzar menjelaskan, para peserta harus mengenal dan mempelajari kehidupan masyarakat nelayan. Serta kebudayaan yang ada di daerah maritim. (Mohamad Ilham Pratama/"PR"/A-88)***

Popular Posts