WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Penanaman Nilai Budaya Melalui Permainan Anak di Kabupaten Garut

Oleh Enden Irma Rachmawaty

Abstrak
Penelitian yang berjudul Penanaman Nilai Budaya melalui Permainan anak di Kabupaten Garut ini, bertujuan mengkaji nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan. Pengakajian nilai-nilai budaya ini menggunakan metode deskriptif analisis. Apabila kita amati tentang jenis-jenis permainan anak dewasa ini, keberadaannya sudah kurang diminati bahkan kurang mendapat perhatian dari masyarakat pemiliknya, namun bila kita mendalami unsur-unsur yang terkandung dalam permainan anak-anak tersebut, banyak sekali nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal yang tertanam dalam permainan anak, nilai budaya tersebut salah satunya adalah bentuk ketahanan budaya. Selain itu dalam permainan anak-anak itu banyak sekali nilai-nilai pembelajaraan yang bersifat demokratis (keadilan dan penerapan sanksi bagi yang melanggar) dan untuk belajar memulai kehidupan sosial anak (nilai untuk kerjasama dan menumbuhkan hasrat untuk berpikir dan berstrategi) dan belajar menjadi seorang pemimpin.

Kata kunci: budaya, nilai, permainan anak.

Abstract
This research entitled The Cultivation of Cultural Values through Childs Games in Garut District, aims to to examine the culture values contained that contained in child and. This culture values research is using an deskriftif analysis method. If we watch about the recent child games, its existance is alreadylossing the interst from its onner, but if we explore deeper the contained element on these chil games, there lot of philosphical values and the local wisdom embendded on it. And one of them is culture resilience. Aside from these child games have a lot of democratically learning values (justice and purishmaeat for the the ones who discovery) and to start the social living (cooperative values and growing ambition’s to think and to from strategies) and also to learn to be a team leader.

Keywords: cultural, values, children games.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 2, No 1, Maret 2010

Sistem Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Giri Jaya

Oleh Ani Rostiyati

Abstrak
Pada hakekatnya pengobatan tradisional merupakan bagian kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya secara lisan atau tulisan. Oleh sebab itu kepercayaan terhadap pengobatan tradisional dapat terus bertahan, walaupun praktik biomedik kedokteran mengalami perkembangan. Untuk penyembuhan penyakit, dalam sistem pengobatan tradisional dicari lebih dahulu penyebab sakit atau etiologinya. Konsep etiologi ini perlu diketahui sebagai dasar untuk mendiagnosa penyakit yang kemudian diperlukan untuk menentukan cara-cara pengobatannya. Demikian pula pada masyarakat di Desa Giri Jaya Kabupaten Sukabumi yang menjadi lokasi penelitian, sebagian besar masyarakatnya masih melakukan pengobatan tradisional meskipun pengobatan modern telah dikenal. Untuk itu tulisan ini akan mengupas bagaimana persepsi masyarakat tentang sehat dan sakit, etiologi (sebab sakit), ciri penyakit, dan cara pengobatannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan tipe penelitian deskriptif.
Kata kunci: pengobatan tradisional, etiologi, Giri Jaya.

Abstract
In essence, traditional medicine is part of culture passed from generation to generation orally or in writing. Therefore, trust to the traditional treatment can continue to survive, although the practice of biomedicine medical growth. To cure disease, the traditional treatment system first sought the cause of illness or etiology. The concept of etiology is necessary to know as a basis for diagnosing a disease that then needed to determine the ways of treatment. Similarly in Desa Giri Jaya the regency of Sukabumi who became the location of research, most people still make traditional medicine even though modern medicine has known. Therefore this writing will discuss how the public perception of healthy and sick, etiology (cause pain), characteristic of the disease and how to treat it. This research uses qualitative approach and descriptive research type.

Keywords: traditional medication, etiology, Giri Jaya.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 2, No 1, Maret 2010

Lawatan Sejarah 2016; Bangun Kesadaran Sejarah Atasi Disintegrasi Bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Kehidupan berbangsa dan bernegara, kerap dibayangi masalah disintegrasi bangsa. Untuk mengatasinya, maka perlu dibangun kesadarab sejarah untuk seluruh rakyat Indonesia.

Demikian 'benang merah' yang diperoleh dari diskusi dan Lawatan Sejarah 2016 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudyaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Senin-Rabu (28-30/3) di Provinsi Lampung. Sebanyak 150 peserta yang merupakan siswa SMA dan guru pembimbing dari Provinsi Jabar, Banten, dan Lampung ikut dalam lawatan sejarah ini.

Kepala BPNB Jabar, Toto Sucipto mengatakan, dengan kesadaran sejarah, bangsa Indonesia akan memiliki pondasi yang kuat sebagai landasan berdiri bagi eksistensinya. Menurutnya, ada tiga alasan utama bahwa kesadaran sejarah itu memberikan ikatan yang kokoh bagi semua komponen bangsa.

Ketiga alasan itu adalah pertama kesadaranan sejarah menyadarkan bahwa sebagai bangsa Indonesia masyarakat memiliki masa lalu yang sama. Yakni masa patih getirnya dijajah oleh bangsa asing.

Kedua, dengan kesadaran sejarah, maka rakyat memiliki masa kini yang sama. Yaitu masa sekarang yang penuh dengan tantangan untuk tetap setia memegang tegus semangat dan jiwa 'Sumpah Pemuda'. "Dan ketiga, dengan kesadaran sejarah, kita juga memiliki masa depan yang sama," ujarnya.

Dikatakan Toto, kondisi masa kini yang masih jauh dari harapan dan cita-cita kemerdekaan bahkan melenceng, telah menimbulkan keraguan tentang eksistensi NKRI. Namun, ucap dia, dengan rasa hayat historis yang dimiliki, bangsa ini yakni bahwa cita-cita kemerdekaan akan mampu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

"Karena itu, salah satu kegiatan yang mencoba menanamkan kesadaran historis adalah lawatan sejarah," kata Toto.

Kegiatan yang edutainment ini, mengajak peserta untuk menjelajahi jejak peradaban masa lampau. Menurut penggagasnya Susanto Zuhdi, lawatan sejarah akan membantu masyarkat memahami sebuah perjalanan ke-Indonesiaan melalui rajutan simpul-simpul perjuangan bangsa.

Dikatakan Arief, guru pembimbing SMA 8 Cirebon yang turut dalam lawatan itu, selama ini pembelajaran sejarah di sekolah cenderung mengutamakan sisi kognitif saja. Siswa, diakuinya, diajari untuk memperkuat ingatan tentang angka-angka tahun dari suatu peristiwa.

"Akibatnya, pembelajaran menjadi kering dan minim daya kritis. Tapi coba lihat dengan lawatan sejarah yang diadakan BPNB ini, siswa menjadi lebih kreartif. Karenanya, saya sangat mengapresiasi kegiatan ini," katanya.

Jabar Hanya Daftarkan 13 Warisan Budaya tak Benda Tahun Ini

BANDUNG, (PR).- Hingga batas waktu pendaftaran ke Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin (21/3/2016), Jawa Barat hanya mengusulkan 13 warisan budaya tak benda.Pendaftaran dan pengakuan warisan budaya tak benda masih dirasakan belum mendatangkan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat pemiliknya.

“Memang ironis, di satu sisi ada pengakuan Jawa Barat kaya akan karya budaya. Namun, dalam hal pencatatan dan pendokumentasian Jawa Barat masih kalah dengan daerah lainnya,” kata Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, Toto Sucipto, akhir pekan lalu, di ruang kerjanya Kantor BPNB Jabar, Jalan Cinambo, Kota Bandung.

Menurut dia, saat diungkapkan pada kegiatan sosialisasi penetapan warisan budaya tak benda dan hak kekayaan intelektual yang diselenggarakan Disparbud Jabar 17-18 Maret 2016) lalu, banyak peserta dari dinas atau instansi kebudayaan merasa bingung karena tidak tahu. Hingga batas akhir pendaftaran, menurut Toto, warisan budaya tak benda yang didaftarkan baru 13. Warisan budaya itu adalah angklung badeng, lais, tarawangsa, surak ibra, tarling, penca, ronggeng bugis, topeng randegan, mapag tamba, ngalungsur geni, raengan, kelom geulis, dan lukis kaca Cirebon.

“Dari 13 warisan budaya tak benda Jabar yang sudah didaftarkan baru penca dan kelom geulis saja yang sudah memenuhi kelengkapan. Itupun penca dan kelom geulis tahun sebelumnya sudah didaftarkan tapi ditangguhkan karena kekurangan kelengkapan data. Sisanya sebatas mendaftarkan dengan mengisi formulir,” ujar Toto.

Hal itu menurut Toto, selain tidak adanya kepahaman instansi terkait yang mengurus di pemerintah daerah, juga tidak mendapat dukungan komunitas. Mereka merasa tidak perlu mendaftarkan karena tidak akan mendapat keuntungan (materi) apa pun. Padahal, pencatatan dan pendaftaran WBTB sangat diperlukan agar generasi yang akan datang minimal mengetahui nama, bahwa di wilayahnya pernah ada budaya yang merupakan warisan budaya tak benda.

Selain masih minimnya warisan budaya tak benda Jabar yang didaftarakan, ia juga menyoroti jumlah warisan budaya tak benda Jabar yang sudah terdaftar di Kemendikbud. Berdasarkan catatan, dari 947 jenis yang terdaftar di BPNB Jabar, baru 447 yang terdaftar di Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Sejumlah ***

Jejak Tradisi Daerah Kasepuhan Cipta Mulya dan Sinaresmi Bersama BPNB Jawa Barat (2)

Dalam suasana pagi yang dingin berselimut kabut, udara pun terasa sejuk dengan keindahan panorama alam Cipta Mulya, terlihat para peserta berkelompok sedang bersiap-siap mengikuti kegiatan di hari kedua dari rangkaian Jejak Tradisi Daerah (Jetrada) 2016, Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat (BPNB).

Di hari kedua, peserta diajak berjalan menuju Kasepuhan Sinaresmi. Dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dengan kondisi jalan yang turun – naik, membuat banyak peserta terlihat kelelahan. Namun sesampai di Kasepuhan Sinaresmi, peserta kembali bersemangat karena terbawa suasana kampung yang asri, sejuk, dan warga yang ramah. Rombongan diterima Sesepuh Sinaresmi, Abah Asep (50) dengan prosesi secara simbolis pemasangan iket kepada Kepala BPNB Jabar, Toto Sucipto, diiringi alunan angklung dogdog lojor. Dilanjut dengan menyantap hidangan makan pagi.

jetrada B2Di sana, peserta secara kelompok melakukan penelitian tentang Kasepuhan adat Sinaresmi yang meliputi hal sistem organisasi sosial, sistem kepemimpinan, sistem religi dan kepercayaan, sistem teknologi tradisional, kesenian, pengobatan tradisional, sistem pengetahuan dan pendidikan, sistem ekonomi dan pertanian.

Salah satu keunggulan yang dimiliki Kasepuhan Sinaresmi, yakni bidang pertanian. Mereka memiliki varietas padi endemik sebanyak kurang lebih sebanyak 65 jenis. “Ya sekarang ada sekitar 65 jenis padi atau pare asli dari sini, dulu sebenarnya sampai 80 jenis namun karena faktor alam mulai berkurang jenisnya. Sekarang kami sedang mengupayakan untuk menghakpatenkan semua jenis padi tersebut,” papar Abah Asep.

Setelah istirahat dan makan siang, peserta dihibur dengan kesenian tradisional khas Sinaresmi yaitu Debus dan Lais. Atraksi yang diiringi alunan musik angklung dogdog lojor tersebut, membuat para peserta perempuan menjerit histeris karena merasa ngeri. Ada adegan Debus yang menyayat lidah, tangan dengan golok. Dan atraksi Lais, dimana seorang pemuda bergelantung dengan tali di atas tiang bambu yang tinggi tanpa pengaman. Lepas hiburan tradisional tersebut, rombongan pun kembali ke Cipta Mulya.

Malam harinya, kegiatan dilanjutkan pementasan aksi peserta secara kelompok. Ada yang berpentas tari, silat, sampai drama. Kegiatan juga turut dimeriahkan dengan penampilan kesenian tradisional Cipta Mulya, yakni Jipeng dan Angklung Buhun. Seni Jipeng yang cukup menarik perhatian karena memakai alat musik modern seperti terompet yang dikolaborasikan dengan gamelan Sunda.har

Kegiatan di hari ketiga yang merupakan kegiatan terakhir dari rangkaian Jetrada diisi dengan presentasi peserta secara kelompok. Persentasinya hasil dari penelitian dan pengamatan mereka di lapangan seputar kehidupan masyarakat adat Kasepuhan Cipta Mulya dan Sinaresmi.

jetrada B3Sekitar pukul 10 siang kegiatan pun beres dan ditutup secara resmi Kepala BPNB Jabar, Toto Sucipto. “Hasil dari kegiatan Jetrada ini, kami sudah mengantongi 9 peserta yang akan kami bawa ke Jejak Tradisi Nasional. Peserta yang terpilih ini kami nilai dari awal hingga akhir rangkaian kegiatan dan akan kami hubungi nanti secara langsung, jadi tidak diumumkan sekarang,” ujar Toto dalam sambutannya.

Ke depannya, Toto pun berharap kegiatan Jetrada ini akan terus berlanjut. “Jetrada dan Laseda merupakan dua program unggulan kami, ke depannya ada keinginan menambah jumlah peserta. Kemudian kegiatan ini semoga bermanfaat untuk para peserta sebagai generasi penerus untuk melestarikan warisan budaya Indonesia. Mengenal tradisi untuk mencintai negeri!” harapnya menutup rangkaian Jetrada 2016. (IWN)

Jejak Tradisi Daerah Kasepuhan Cipta Mulya dan Sinaresmi Bersama BPNB Jawa Barat (1)

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat kembali menggelar kegiatan Jejak Tradisi Daerah (Jetrada) ke Kasepuhan Cipta Mulya dan Sinaresmi. Diikuti sekitar 150 peserta dari pelajar dan guru pembimbing tingkat SMA/SMK yang berada di wilayah kerja BPNB Jabar meliputi Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 2 – 4 Mei 2016.

JETRADA 3“Jetrada 2016 kita adakan di Kasepuhan Cipta Mulya dan Sinaresmi yang berlokasi di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Pesertanya sekitar 150 peserta dan kalau dijumlah dengan panitia berjumlah 173 orang. Karena kunjungannya ke kampung adat, jadi kami mengusung tema ‘Mengenal Kearifan Lokal, Memahami Keragaman Budaya’,” papar Ketua Pelaksana Yudi Putu Satriadi di sela-sela kegiatan.

Bertepatan dengan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) yang jatuh tanggal 2 Mei, kegiatan pun diawali dengan upacara peringatan Hardiknas yang dipimpin Kepala BPNB Jabar, Toto Sucipto, bertempat di Kantor BPNB Jabar, Jalan Cinambo No. 136, Bandung, Senin (02/05/16). Kemudian rombongan dilepas secara resmi sekitar pukul 8 pagi.JETRADA 2

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan selama kurang lebih 10 jam, akhirnya rombongan pun tiba di Kasepuhan Cipta Mulya. Mereka disambut alunan musik Angklung Buhun dan langsung diterima Sesepuh Cipta Mulya, Abah Hendri (46). Dilaksanakan juga prosesi pengenaan iket untuk peserta laki-laki dan sinjang untuk perempuan. Selanjutnya para peserta diterima di Imah Gede dan menyantap makan malam yang sudah disediakan. Peserta pun bermalam di rumah-rumah warga sekitar.

Malam harinya, kegiatan diisi pemaparan tentang Kasepuhan Cipta Mulya oleh Abah Hendri, pemaparan materi dari Kepala BPNB Toto Sucipto, dan penyuluhan bahaya narkoba yang disampaikan Kapolsek Cisolok, Hotman Situmorang. Meskipun ditemani dinginnya malam dan rintikan air hujan, namun para peserta tetap bersemangat mengikuti kegiatan. (IWN)

BPNB Jabar Gelar Lawatan Sejarah Daerah Lampung Bersama Ratusan Pelajar

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB ) Jawa Barat kembali menggelar kegiatan Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) 2016 ke Provinsi Lampung. Provinsi Lampung menjadi pilihan kunjungan karena memang masuk wilayah kerja BPNB Jabar yang meliputi Lampung, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari mulai 28 sampai 30 Maret 2016 tersebut, diikuti sebanyak kurang lebih 150 peserta pelajar tingkat SMA dan guru-guru pembimbing yang mewakili ke empat wilayah kerja BPNB Jabar.

“Lawatan sejarah tahun ini dipilih Lampung karena sudah lama kita tidak melaksanakannya di sana. Kali ini diikuti sebanyak 150 siswa, mayoritas siswa dari Provinsi Lampung. Dari Bandung kami hanya membawa setengahnya,” papar Toto Sucipto, Kepala BPNB Jabar saat pelepasan rombongan (27/03/16) di Kantor BPNB Jabar, Jalan Cinambo No. 136 Bandung.

lampung 2Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dan menyeberang Selat Sunda selama dua jam, akhirnya rombongan pun tiba Senin pagi (28/03/16) dan langsung disambut jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Prov. Lampung di Masjid Kubah Intan, Kalianda, Lampung. Kemudian diteruskan menuju lokasi lawatan pertama ke Makam Radin Intan II yang merupakan salah satu pejuang Lampung.

Di hari pertama, kegiatan pun diisi pula dengan penyuluhan anti narkoba dari BNN Lampung dan pemaparan objek-objek sejarah di Lampung dari Disdikbud Prov. Lampung. Selanjutnya pada hari kedua dan ketiga, peserta diajak melawat ke situs-situs bersejarah dan kegiatan lainnya yang ada di wilayah Lampung, diantaranya Situs Purbakala Pugung Raharjo di Lampung Timur, Museum Negeri Lampung “Ruwa Jurai”, praktik membatik dari UKM Sentra Batik Lampung, dan Sentra oleh-oleh keripik pisang khas Lampung.

Selama kegiatan para peserta terlihat begitu semangat dan antusias mengikutinya, seperti yang diungkapkan M. Ghyfari perwakilan dari SMAN 1 Cilegon, Banten, “Saya senang mengikuti kegiatan ini, selain menambah pengetahuan tentang kesejarahan di Lampung, saya juga bisa bertukar budaya, seperti bahasa dari daerah lain dengan teman sebaya. Ini juga sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa”.

Kegembiraan yang sama juga dirasakan, Ambar Dewati, dari SMAN 1 Pekalongan, Lampung Timur. “Saya merasa sangat gembira bertemu duta-duta pilihan dari sekolah masing-masing, banyak unsur candaan jadi lebih erat silaturahmi,” paparnya.

Saat penutupan kegiatan, BPNB Jabar yang diwakili Agus Setiabudi, Kasubbag TU BPNB Jabar mengatakan, “Alhamdulillah kegiatan lawatan sejarah di Lampung yang berlangsung selama tiga hari berjalan lancer. Terima kasih kepada para peserta yang tetap semangat belajar sejarah meskipun medan cukup berat. Mudah-mudahan ke depannya kita dapat menambah kuota peserta hingga 200 peserta”. (IWN)

Popular Posts