WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Pola Pengasuhan Anak pada Komunitas Adat Giri Jaya (Suatu Tinjauan Sosial Budaya)

Oleh Nina Merlina

Abstrak
Pada prinsipnya, pola pengasuhan anak merupakan proses sosialisasi. Pola pengasuhan anak pada komunitas adat Giri Jaya Padepokan, menjadi bagian dari budaya masyarakat tersebut. Keluarga sebagai unit sosial terkecil, merupakan tempat seorang anak tumbuh dan berinteraksi. Keluarga juga memegang peran yang sangat penting dalam proses sosialisasi bagi anak-anak ketika ia beranjak dewasa dan bergaul dengan individu lainnya di dalam maupun di luar lingkungan masyarakat. Pola pengasuhan ini, pada gilirannya akan berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan berikutnya.

Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mengetahui salah satu aspek kebudayaan mengenai kehidupan sosial budaya, terutama mengenai sistem dan pola pengasuhan anak pada komunitas adat Giri Jaya Padepokan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan penelaahan data yang bersifat kualitatif.

Kata kunci: interaksi sosial, pola pengasuhan anak, komunitas adat.

Abstract
Nurturing is basically a process of socialization. As the smallest social unit, family plays the main role in nurturing their children. Family is the place where children are grown up and interact with other members of the family. They also learn how to build character and face another environment in their future life.

The purpose of this research is to reveal social life in a traditional community of Padepokan Giri Jaya, focusing on their nurturing pattern. A desctiptive method was conducted along with qualitative data review.
Keywords: social interaction, pattern of parenting, local cumunnity.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Arsitektur Rumah Adat Kampung Keputihan

Oleh Yuzar Purnama

Abstrak
Kampung Keputihan merupakan kampung adat yang berlokasi di wilayah Sumber, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Sebagai masyarakat adat dalam kehidupan sehari-harinya masih menjaga dan memelihara adat istiadat leluhurnya termasuk arsitektur rumah. Sementara itu, di masyarakat khususnya generasi muda banyak yang tidak mengetahui produk budaya daerah termasuk di dalamnya arsitektur rumah tradisional. Penelitian arsitektur rumah tradisional di Kampung Keputihan meliputi struktur, teknik membangun, persiapan dan pelaksana, serta upacara tradisional yang menyertainya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskripsi analisis. Arsitektur rumah tradisional di Kampung Keputihan masih mengikuti kaidah-kaidah yang diwariskan dari leluhurnya, namun sebagian sudah mengalami pergeseran-pergeseran misalnya lantai yang sudah ditembok dan genting sudah menggunakan asbes dan seng, serta sudah tidak memiliki lagi lumbung padi dan bale musyawarah.

Kata kunci: arsitektur, kampung adat.

Abstract
Kampung (village) Keputihan is a traditional village located in the region of Sumber, Kecamatan (district) Weru, Kabupaten (regency) Cirebon, West Java Province. The people of Kampung Keputihan preserve their traditional way of life, including traditional architecture. But this knowledge is not common in young generation. In building their houses the community of Kampung Keputihan follow principles that were passed on for generations. Of course, there are some modifications. Some elements such as lumbung padi (rice storage) and bale musyawarah (a place where the community meeting take place) are no longer available in the kampung. Techniques in building the houses, the building structure, as well as traditional ceremony following it, are the foci of this research. The methods of analysis are qualitative and descriptive.

Keywords: Architecture, Indigenous Village.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Nilai Budaya Arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon Provinsi Jawa Barat

Oleh Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun atas prakarsa Sunan Gunung Jati, sekira tahun 1498-1500 Masehi yang pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan seorang arsitek bernama Pangeran Sepat dari Majapahit bersama pembantunya dari Demak dan Cirebon. Pembangunan masjid ini terlahir dari rasa dan kepercayaan untuk mengagungkan Sang Khalik dan untuk membangun rasa keagungan. Arsitektur bangunan masjid ini, dibangun dengan memadukan unsur-unsur budaya pra Islam, baik bentuk, struktur dan ragam hiasnya, walau tidak secara langsung, tetapi tetap mempertahankan tata nilai yang ada sepanjang perjalanan sejarahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami peranan masyarakat di dalam mempertahankan arsitektur masjid serta fungsi simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat serta hubungannya dengan arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa. Metode penelitian ini didasarkan pendapat yang dikemukakan Winarno Surakhmad (1985:139), bahwa: suatu cara yang digunakan untuk menyelidiki dan memecahkan masalah yang tidak terbatas pada pengumpulan data, melainkan meliputi analisis dan interpretasi sampai pada kesimpulan yang didasarkan atas penelitian tersebut.

Kata kunci: Nilai Budaya, Arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa.

Abstract
Between 1498-1500 Sunan Gunung Jati had a mosque built in Cirebon and he named it Masjid Agung (Great Mosque) Sang Cipta Rasa. The construction was led by Sunan Kalijaga, and the architect was Pangeran (Prince) Sepat of Majapahit with the help of his assistants from Demak and Cirebon. The architecture of the mosque is a mixture of pre-Islamic elements in terms of structure, form, and motifs of decoration. The research tried to dig a depth understanding about the role of the society in preserving the mosque archtecture and to study the function of symbols used in the society in accordance with the mosque architecture.

Keywords: Cultural Values, Masjid Sang Cipta Rasa Architecture.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Kearifan Lokal Berdasarkan Tinggalan Budaya di Situs Parumasan Ciamis

Oleh Lia Nuralia

Abstrak
Penelitian ini bertujuan menginventarisasi tinggalan budaya di Situs Parumasan Ciamis yang berhubungan dengan aspek kearifan lokal pada masyarakat tradisional yang tinggal di sekitar situs. Fokus kajian ditujukan pada tinggalan budaya materi dan non materi dalam konsepsi budaya masa lalu, termasuk pengelolaan lahan yang disakralkan dan yang lebih bersifat profan bagi masyarakat sekitar, yang diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian budaya, dengan pendekatan arkeologis secara deskriptif dan penalaran induktif. Cara pengumpulan data dilakukan dengan survei atau pengamatan langsung terhadap Situs Parumasan. Untuk memahami lebih jauh pandangan masyarakat terhadap keberadaan Situs Parumasan, dilakukan pula wawancara dengan Juru Kunci Parumasan dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan adanya kearifan lokal berdasarkan tinggalan arkeologis, makna ritual keagamaan, dan upacara adat di antaranya terjaganya kelestarian alam dan keberlangsungan hidup yang nyaman dan aman.

Kata kunci: tinggalan budaya, arkeologis, kearifan lokal, Situs Parumasan.

Abstract
The purpose of this research is to make an inventory of cultural heritages in the site of Parumasan in Ciamis that has a relationship to the local wisdom of traditional community that lives around the site. The foci are material and non-material cultural heritage that lived in old times, including sacred-land management and a more profane ones that applied to their daily life. The author has conducted a cultural research method with archaeological approach, either desciptively or inductively. Data were obtained by surveying or observing Parumasan site. Interview with juru kunci (key person) of Parumasan was also perfomed in order to get data about the perspective of the site from the community’s point of view. The result is that there is local wisdom based on archaeological heritage, religious rites and adat ceeremony resulting in conservation of the nature as well as a peaceful life.

Keywords: cultural heritage, archaeology, local wisdom, Parumasan site.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 1 Maret 2011

Popular Posts