WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Partisipasi Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan Jawa Barat

Oleh: Drs. Adeng, dkk

Abstrak
Dalam penelitian “Partisipasi Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jawa Barat” diungkapkan mengenai peran serta para seniman Jawa Barat dalam menggelorakan api revolusi. Dalam Peran sertanya itu para seniman tidak saja menciptakan karya-karya seni seperti lagu-lagu yang menggugah semangat dan slogan-slogan yang meneguhkan tekad, tetapi juga peran aktif para seniman yang turut terjun langsung berjuang di dalam kancah revolusi kemerdekaan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 24, Oktober 2001

Profil Pemimpin Informal pada Masyarakat Kampung Mahmud

Oleh: Drs. Tjetjep Rosmana, dkk.

Abstrak
Kampung Mahmud merupakan salah satu kampung adat di Jawa Barat. Masyarakatnya sangat patuh terhadap ketua adat. Oleh karena itu kedua adat sebagai pemimpin nonformal di masyarakat penting peranannya untuk mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakat serta mempertahankan tradisi sebagai nilai-nilai luhur budayanya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Perlawanan Santri Pesantren Sukamanah Terhadap Facisme Jepang dan Dampaknya terhadap Masyarakat Sekitarnya

Oleh: Dra. S. Dloyana Kusumah, dkk.

Abstrak
Penelitian ini menguraikan tentang perlawanan santri Pesantren Sukamanah Tasikmalaya yang dipimpin oleh K.H. Zaenal Mustaa terhadap penguasa Jepan. Pada hakekatnya perlawanan ini merupakan refleksi dari penderitaan dan kesengsaraan rakyat Indonesia (Singaparna Tasikmalaya) akibat tindakan tentara Jepang. Pada akhirnya, ketidakberdayaan rakyat itulah yang justru telah menumbuhkan keberanian untuk melakukan perlawanan santri Pesantren Sukamanah secara utuh, artinya mulai dari pendorong terjadinya perlawanan, proses perlawanan, sampai dampak yang ditimbulkan akibat perlawanan, baik bagi pesantren, rakyat, dan pemerintah setempat.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 23, Februari 2001

Peranan KPRM dalam mempertahankan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Daerah Ciniru Kabupaten Kuningan Jawa Barat (1947 – 1949)

Oleh: Dra. Euis Thresnawati S.

Abstrak
Penelitian ini sebagai upaya untuk mengungkapkan peranan masyarakat Ciniru, khususnya KPRM dalam mempertahankan wilayahnya dari gangguan pihak Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Dalam penelitian ini terungkap bahwa begitu besarnya rasa bakti dan cinta masyarakat Ciniru terhadap negaranya sehingga walaupun hanya dengan peralatan yang sederhana dan apa adanya, diantaranya dengan menggunakan ketapel, mereka mampu menghalau Belanda dari wilayahnya sehingga pihak Belanda tak pernah bisa atau gagal menancapkan benderanya di wilayah ini.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 23, Februari 2001

Busana Adat Pengantin Keraton Cirebon: Simbol, Makna, dan Fungsi yang dilakukan

Oleh: Drs. Heru Erwantoro, dkk.

Abstrak
Dalam penelitian ini dipakai model Burckhadt yang merupakan salah satu dari tradisi historiografi di bidang sejarah kebudayaan. Melalui model Burckhardt,, busana adat pengantin Cirebon sebagai detil yang kecil dan tunggal dipandang sebagai simbol dari keseluruhan dan satuan yang lebih besar dari kebudayaan Cirebon. Melalui model ini, fokus utama penelitian adalah mencari struktur dan pola dalam sejarah kebudayaan Cirebon, dengan cara melukiskan agama, kesenian, politik, busana, dan bentuk-bentuk eskpresi kejiwaan lainnya dari kebudayaan Cirebn ke dalam bagian yang berimbang dan menyeluruh.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 23, Februari 2001

Fungsi Seni Gembyung dalam Kehidupan Masyarakat Panjalu Kabupaten Ciamis

Oleh Endang Supriatna

Abstrak
Gembyung sebagai kesenian buhun yang menjadi sebuah seni pertunjukan di Panjalu, hingga kini tetap bertahan dengan cirri ketradisionalannya. Bersama dengan pelaksanaan Upacara Nyangku maupun peringatan Maulid Nabi Saw. atau pada acara hiburan pada saat khitanan anak, gembyung tampil bersahaja. Namun demikian penampilannya tetap menyampaikan makna baik melalui gerak, lagu, gending musik, maupun sesajennya bahwa hidup akan terus bergerak seiring berlangsungnya sang waktu. Bagi masyarakat Panjalu, seni gembyung tidak hanya sebuah ungkapan ekspresi keindahan, namun lebih dari itu, gembyung memiliki makna kecintaan serta penghormatan kepada asal-usul leluhur mereka. Tulisan ini berupaya mengupas fungsi seni gembyung pada masyarakat Panjalu. Ada dua bagian yang dibahas, pertama menjelaskan seni gembyung, mulai dari perkembangannya, lagu dan teknik pementasan, fungsi dan peranan kesenian ini pada masyarakat pendukungnya. Serta, upaya masyarakat Panjalu memelihara seni gembyung agar tidak tergerus oleh seni modern yang semakin deras berupaya menggeser seni local. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Kata kunci: seni gembyung, tradisi masyarakat, Panjalu.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Kembali ke Alam (Penelusuran Penggunaan Obat-obatan Tradisional di Lingkungan Perkotaan)

Oleh: Dra. Ria Intani T.

Abstrak
Zaman telah memasuki era globalisasi yang ditandai dengan perubahan dari hal-hal yang sfatnya tradisional menjadi modern. Kalaupun harus demikian, kenyataan menunjukkan lain. Adat tinggalan karuhun pada kenyataannya tidak atau belum sepenuhnya ditanggalkan oleh generasi penerus. Apalagi ini terjadi di lingkungan perkotaan. Penelitian ini menggambarkan bahwa kalaupun fasilitas kesehatan di kota sudah demikian memadai, namun demikian penggunaan obat-obatan tradisional masih juga diperlukan. Di sini menunjukkan bahwa masih ada ruang dan waktu bagi hal-hal yang berbau tradisional, dalam hal ini adalah penggunaan obat-obatan tradisional.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 23, Februari 2001

Wawacan Bin Entam (Kajian Nilai Budaya)

Oleh: Dra. Lina Herlinawati, dkk

Abstrak
Perumpamaan naskah sebagai dacing timbangan yang berguna bagi keseimbangan kepribadian manusia terwakili oleh naskah Wawacan Bin Entam. Naskah dengan waktu perubahan tercatat 1324 H ini, di dalamnya terkandung berbagai nilai budaya, seperti nilai agama, nilai sosial, nilai ilmu, dan nilai filsafat yang kesemuanya bermanfaat bagi pembentukan kepribadian serta pemupukan keimanan dan ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Pun dari kandungan nilainya tersebut dapat kita jadikan ajang wawasan dari dalam kehidupan bermasyarakat dengan bercermin pada kehidupan tokoh ceritanya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Upacara Perkawinan Adat Sunda di Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung

Oleh Aam Masduki

Abstrak
Upacara perkawinan adapt Sunda lazimnya disebut Upacara Nikahkeun (dalam bahasa Sunda halus) atau Ngawinkeun (dalam bahasa Sunda kasar), yang artinya menikahkan atau mengawinkan. Nikah atau kawin mengandung arti bersatunya dua insane (laki-laki dan perempuan) yang disahkan secar aagama dan oleh Negara untuk hidup sebagai suami-isteri. Atau dengan kata lain, nikah adalah kesepakatan dua insane yang berlainan jenis untuk mengadakan ikatan guna membentuk keluarga atau rumah tangga untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendokumentasikan salah satu jenis upacara tradisional yang ada di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat agar orang Sunda, terutama generasi mudanya dapat mengetahui, memahami, dan menyayangi budaya sendiri. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa upacara-upacara baik yang dilakukan sebelum acara pernikahan (ngalamar, ngeuyeuk seureuh, seserahan) maupun setelah pernikahan (sawer, ninjak endog, buka pintu, ngunduh mantu) masih tetap dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Bandung.

Kata kunci: upacara tradisional, perkawinan, Sunda.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Perjuangan Batalyon II Tarumanagara Sumedang dalam Mempertahankan Kedaulatan RI (1945 – 1950)

Oleh: Drs. Herry Wiryono, dkk.

Abstrak
Pada masa revolusi fisik (1945 – 1950_ daerah Jawa Barat merupakan salah satu kancah perjuangan perlawanan rakyat semesta, baik perjuangan di bidang politik, maupun perjuangan di bidang militer, oleh karena tu, tidak menjadi heran apabila Divisi Siliwangi sebagai salah satu kesatuan dari TNI ikut berjuang melawan phak Belanda.

Salah satu batalyon kesatuan Divisi/Siliwangi yang cukup besar peranannya dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan RI adalah Batalyon II Tarumanagara. Perjuangan Batalyon II Tarumanagara dalam memperjuangkan kedaulatan RI tidak saja dilakukan di wilayah Jawa Barat, tetapi juga ke daerah lain yaitu Jawa Tengah.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Pandangan Anak Sunda terhadap Orang Tua

Oleh: Dra. S. Dloyana Kusumah

Abstrak
Mempersiapkan masa depan anak, tidak semata-mata mengandalkan pendidikan formal atau nilai-nilai budaya yang selama ini diandakan adalah masyarakat. ”Komunikasi” atau hubungan antara orang tua dan anak, ternyata menjadi kata kunci untuk menentukan sikap dalam menghadapi anak-anak dewasa ini. Melalui penelitian awal ini, terungkap apa yang diinginkan dan tidak diinginkan yang disukai dan tidak disukai anak dari orang tuanya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Iket Sunda, Kamari, Kawari Jeung Bihari

Oleh: Drs. Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Masyarakat Jawa Barat ’Sunda’ saat ini sedang menghadapi proses perubahan yang mengarah kepada perubahan dalam segala bidang termasuk di dalamnya tata cara berpakaian. Oleh karena itu, ’iket’ sebutan orang Sunda tidak bisa dilepaskan dari aspek-aspek lain yang berhubungan dengan ’iket’ tersebut.

Selain itu, ’iket’ sebagai pelengkap berpakaian orang Sunda juga mengalami perubahan fungsi sesuai dengan kemajuan kelompok masyarakatnya yang hidup di daerah berbeda-beda. Acapkali pengaruh ini mengubah tradisi yang sudah turun temurun sebagai manifestasi dari rasa keindahan dan pencerminan dari sistem nilai dan keyakinan yang berlaku.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 23, Februari 2001

Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nelayan di Kabupaten Cirebon

Oleh: Drs. Endang Nurhuda, dkk.

Abstrak
Penelitian mengenai faktor sisial, ekonomi, dan budaya penyebab kemiskinan masyarakat nelayan di Desa Gebang Mekar, mendapat gambaran beberapa indikasi kemiskinan. Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, dapat dikatakan bahwa kemiskinan nelayan merupakan masalah kronis dan kompleks. Permasalahan yang dihadapi untuk menanggulangi kemiskinan tersebut, bukan hanya terbatas pada hal-hal yang menyangkut pemahaman hubungan sebab akibat timbulnya kemiskinan, melainkan juga melibatkan preferensi nilai, budaya, dan politik. Oleh karena itu, upaya penanggulangan kemiskinan nelayan harus dilakukan secara terencana, terarah dan terpadu dengan melihat permasalahan kemiskinan dari berbagai faktor, baik faktor sosial, ekonomi, dan budaya maupun politik.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Nyanyian Anak-anak Sunda Masa Kini: Analisis Bentuk dan Isi Kakawihan Barudak Kiwari

Oleh: Drs. Agus Heryana

Abstrak
Kakawihan Barudak sering diidentifikasikan kepada nyanyian anak-anak desa. Dalam gambaran keseluruhan istilah tersebut, di dalamnya terdapat aktivitas anak-anak yang sedang melakukan berbagai permainan sambil disertai nyanyian. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika tataran kehidupan manusia terus berkembang dan mencapai titik nadir teratas, perubahan terus berlangsung. Masalahnya adalah bagaimanakah bentuk nyanyian anak-anak di perkotaan. Bagaimanakah bentuk dan isi Kakawih Barudak di perkotaan sedikit banyaknya dapat terjawab pada penelitian ini.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 21, Juli 2000

Prinsip Resiprositas dalam Aktivitas Gotong-royong

Oleh: Drs. Yudi Putu S, dkk.

Abstrak
Perkawinan bagi masyarakat Sunda merupakan hal yang sangat penting dalam perjalanan hidup. Perkawinan bukan hanya persoalan individual melainkan melibatkan kesatuan sosial mulai dari keluarga, kerabat, tetangga dan kesatuan sosial lainnya. Pada saat itulah pola-pola hubungan sosial dan aktivitas kegotong royongan akan terlihat sejak awal persiapan hingga pelaksanaan upacaranya. Konsep kegotong royongan sudah menjadi ciri khas masyarakat Sunda.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 21, Juli 2000

Popular Posts