WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Kosmologi Sunda Dalam Cerita Pantun

Jurnal Penelitian Edisi 40, No 1/April 2008

Agus Heryana

Abstrak

Kosmologi yang berarti tentang kesemestaalaman, berkaitan erat dengan mite atau mitologi. Kedua hal tersebut sangat kental mewarnai cerita panrun, bahkan merupakan unsur cerita pantun, termasuk cerita pantun Sunda. Oleh karena itu, untuk memahami kosmologi harus berawal dari pemahaman tentang mitologi. Dalam cerita pantun, kosmologi Sunda tidak terurai secara khusus dan sistematis, melainkan tercecer pada bagian-bagian cerita (parsial).

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji, bagaimana sesungguhnya bentuk kosmologi Sunda dalam cerita pantun. Bagaimana menyusun kosmologi yang berceceran, sehingga diperoleh informasi yang utuh dan menyeluruh mengenai kosmologi Sunda. Hasil penelitian diharapkan paling tidak memberikan informasi dasar mengenai kosmologi Sunda, untuk penelitian lebih lanjut.

Kata Kunci: Kosmologi Sunda. Mitologi. Pantun.

Kerajinan Tradisional Dari Bahan Logam Di Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya

Jurnal Penelitian Edisi 40, No 1/April 2008

Enden Irma R.

Abstrak

Kerajinan tradisional dari bahan logam produk Rajapolah, baik jenis maupun bentuknya cukup beragam. Kerajinan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Dalam penelitian ini, masalah yang diteliti adalah, pertama, bagaimana eksistensi kerajinan tersebut. Kedua, bagaimana arti penting potensi pengrajin dan kerajinannya bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya. Ketiga, bagaimana dampak produksi kerajinan tersebut bagi peningkatan pendapatan pengrajin. Keempat, persaingan antara produk kerajinan tradisonal dengan barang-barang produk pabrik, dalam kehidupan perdagangan atau perekonomian. Kelima, bagaimana dampak kerajinan itu terhadap perubahan sistem nilai budaya dalam kehidupan masyarakat.

Kata Kunci: Kerajinan Tradisional. Rajapolah

“Gantang Wangi” Carita Pantun dari Subang Analisis Struktur dan Nilai

Jurnal Penelitian Edisi 40, No 1/April 2008

Drs. Yuzar Purnama

Abstrak

Carita Pantun Gantangan Wangi merupakan salah satu bentuk katya sastra asli milik Pasundan. Struktur cerita pantun itu pada dasarnya sama dengan carita pantun yang masih eksis di masyarakat Sunda, khususnya di daerah-daerah pedesaan.

Struktur Carita Pantun Gantangan Wangi yang dianalisis meliputi alur, tokoh dan penokohan, serta tema cerita. Hasil analisis sampai pada kesimpulan, bahwa cerita pantun tersebut mengandung nilai etika, nilai kearifan, nilai solidaritas, dan nilai keadilan. Nilai-nilai itu merupakan nilai luhur yang perlu dijadikan cermin oleh generasi penerus bangsa.

Kata Kunci: Pantun, sastra, nilai budaya

Selengkapnya download pdf dari http://isjd.pdii.lipi.go.id/

Rumah bagi Tiga Peradaban

Wilayah Jawa bagian barat menjadi bagian yang terlupakan dalam catatan prasejarah dan sejarah Indonesia. Keberadaannya terbenam di antara kemasyhuran peninggalan di Jawa Tengah dan Jawa Timur tanpa melewati Jawa Barat. Namun, keyakinan itu kini mendapat tantangan dari situs Cikapundung.

Pernyataan para ahli tersebut didukung data berupa tengkorak manusia purba di Sangiran yang berusia jutaan tahun dan temuan lain manusia prasejarah, seperti di Song Gentong di Tulungagung, Jawa Timur (8.760 tahun lalu); Song Terus di Pacitan, Jawa Timur (9.200 tahun lalu); dan Goa Braholo di Gunung Kidul, Yogyakarta (9.780 tahun lalu).

Teori itu sebenarnya membingungkan karena Pulau Jawa terbentuk dari barat ke timur. Dari teori ini seharusnya kawasan Jawa bagian barat dihuni terlebih dahulu pada saat migrasi pertama sebab Jawa Barat adalah yang terdekat dengan Asia.

Baru pada awal 1990-an tabir ini mulai terbuka, antara lain ditandai penemuan beberapa situs purba Jawa Barat, seperti di kawasan Tambaksari, Ciamis, serta sejumlah situs purba di perbatasan antara kawasan Kuningan, Cirebon, dan Brebes (Jawa Tengah).

Untuk kehidupan manusia prasejarah, pada 2003 teori itu juga mulai terbantahkan lewat penemuan tengkorak manusia prasejarah di Goa Pawon, Bandung Barat. Temuan itu setahun kemudian disusul temuan rangka manusia dalam posisi terlipat (flexed) di tempat yang sama di kedalaman 143 sentimeter.

Dari era Hindu-Buddha, dikenal sebagai masa klasik dalam arkeologi Indonesia, Jateng dan Jatim selangkah di depan terkait adanya candi. Penemuan Candi Borobudur di Jateng, Prambanan di Yogyakarta, atau Singasari di Jatim gambarannya. Arkeolog Belanda, Bernert Kempers, sempat membagi masa klasik Jawa hanya ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Jawa Barat ternyata juga memiliki tinggalan percandian. Pada 1984, ditemukan sejumlah candi di Jabar, seperti Batujaya dan Cibuaya di Karawang. Bojongmenje dan Bojongemas di Kabupaten Bandung menyusul pada 2002. Batujaya dikatakan sebagai yang tertua di Jawa dan Candi Bojongmenje dan Bojongemas diyakini berasal dari zaman yang sama dengan candi tua di kompleks Dieng.

Jarang terjadi

Jabar kini boleh berbesar hati. Di sepanjang tepi Sungai Cikapundung ditemukan fenomena arkeologi yang sangat mengagumkan dan jarang ditemui di daerah lain. Aliran Sungai Cikapundung yang melewati Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat ternyata menjadi rumah tiga generasi peradaban berbeda.

Arkeolog Balai Purbakala (Balar) Bandung, Lutfi Yondri, mengatakan, tiga peradaban itu adalah prasejarah, Sunda klasik, dan kolonial. Fenomena alam surutnya Danau Bandung Purba turut memengaruhi. Danau itu terbentuk karena terbendungnya Sungai Citarum Purba oleh erupsi kataklismik yang menghasilkan banjir abu vulkanik.

Lutfi menjelaskan, di daerah hulu Sungai Cikapundung atau kini dikenal dengan Dagopakar, Kota Bandung diperkirakan telah dihuni manusia pendukung budaya dari era paleolitik hingga paleometalik. Di daerah yang diduga tepian Danau Bandung Purba ditemukan alat-alat paleolitik berupa kapak perimbas dan kapak penetak—di daerah lain dipakai manusia purba.

Dari era mesolitik, di lokasi itu juga ditemukan peralatan batu obsidian buatan manusia. Peralatan dari batu yang bahan dasarnya berasal dari Kendan, Nagreg, dan Garut itu diyakini digunakan manusia prasejarah yang tengkoraknya ditemukan di Goa Pawon, Rajamandala, Bandung Barat.

Lapisan kedua adalah masa Sunda klasik, abad ke-4 M hingga ke-16 M, yang secara geografis ada di bawah generasi prasejarah. Lutfi mengatakan, besar kemungkinan dipengaruhi perubahan kondisi lingkungan sekitar Danau Bandung Purba.

Buktinya adalah penemuan Candi Bojongmenje di Cicalengka dan Bojongemas di Solokanjeruk, Kabupaten Bandung. Candi ini sebagian ahli memperkirakan dari abad ke-7 M. Ada juga penemuan arca di sekitar Kebun Binatang Bandung, diduga dari era yang sama.

Penemuan terbaru yaitu pada 5 Oktober 2010, yakni prasasti yang ditulis dengan aksara dan bahasa Sunda kuno di tepi aliran Sungai Cikapundung yang termasuk wilayah Kampung Cimaung, Bandung Wetan, Kota Bandung. Nandang Rusnandar, ahli aksara Sunda dari Balai Pelestari Nilai Sejarah dan Tradisi Jabar, Jakarta, dan Banten, memperkirakan, prasasti itu berasal dari abad ke-11 M hingga ke-14 M.

Di atas prasasti batu andesit itu terukir dua baris tulisan Sunda kuno, ”Unggal Jagat Jalma Hedap”, yang terjemahan bebasnya, setiap manusia di muka bumi akan menghadapi sesuatu. Di sisi kiri tulisan ada pahatan telapak tangan dan di kanan pahatan telapak kaki. Tepat di tengah tulisan ada ukiran seperti muka atau bunga.

Nandang mengatakan, ada beberapa kemungkinan tahun pembuatan prasasti itu. Yang pertama, dari abad ke-14 M hingga ke-15 M. Bentuk tulisan serupa ditemukan juga dalam ”Naskah Syang Hyang Siksakandang Kersian” dan ”Amanat Galunggung”.

Teori lain, yaitu abad ke-11 saat Kerajaan Kendan berjaya, terlihat dari kemiripan tulisan dan situs yang ditemukan di aliran sungai lainnya, seperti Candi Bojongmenje dan Bojongemas di Kabupaten Bandung. Kendan adalah salah satu kerajaan tua di Jabar yang berjaya di bawah Raja Manikmaya.

Akan tetapi, arkeolog Universitas Indonesia, Hasan Djafar, mengatakan masih ragu terkait soal asal dan kapan prasasti itu dibuat. Alasannya, bentuk tulisannya berbeda dengan tulisan di prasasti lain yang pernah ditemukan di Jabar. Perkiraan dari abad ke-14 M hingga ke-15 M belum bisa dipercaya sepenuhnya karena aksara Sunda kunonya berbeda dengan prasasti di Kawali, Ciamis, dan Kebanten di Bekasi. Namun, apabila ditarik abad ke-11, sebenarnya di Jabar belum ditemukan aksara Sunda kuno. Hingga kini baru ditemukan akasara Palawa Akhir dari Zaman Sriwijaya yang ada di Prasasti Kebon Kopi, Bogor.

”Kami masih akan melakukan penelitian lebih lanjut. Untuk memastikan dari zaman apa prasasti itu berasal,” ujar Hasan.

Sedangkan lapisan ketiga adalah peradaban Kolonial Belanda hingga kini. Nandang mengatakan, peradaban ini dipengaruhi perpindahan ibu kota Bandung dari Dayeuhkolot ke Kota Bandung pada awal 1809.

Ada dua versi tentang itu. Versi Bupati Bandung saat itu, Wiranatakusumah II, perpindahan dipengaruhi alasan Dayeuhkolot, dasar Danau Bandung Purba, kerap terendam banjir. Versi Kolonial Belanda mengatakan, perpindahan itu atas perintah Gubernur Jenderal Daendels untuk mendekati Jalan Pos Anyer-Panarukan.

Bukti sejarah zaman ini adalah prasasti pembangunan kota, gedung bergaya kolonial, serta munculnya kampung pertama di Bandung. Setidaknya ada lima kampung awal di Bandung, yaitu Kampung Bandung (sekarang Dago), Kampung Bogor (Kebon Kawung), Kampung Balubur Kolot, Alun-alun Bandung, dan Kampung Cipaganti Kolot.

Simpan kekhawatiran

Dengan adanya fenomena tiga generasi peradaban yang berbeda ini, baik Lutfi maupun Nandang meyakini artinya sangat besar bagi sejarah arkeologi nasional, bahkan dunia. Fenomena ini jarang ditemukan di daerah lain. Sungai Cikapundung sejak dahulu memberikan harapan hidup bagi berbagai peradaban berbeda.

”Para peneliti arkeologi kini semakin tertarik menyusuri jejak peradaban manusia yang mungkin dibuat di aliran Sungai Cikapundung,” kata Lutfi yang juga berstatus sebagai Peneliti Utama Balar Bandung ini.

Di tengah kebahagiaan ini, mereka menyimpan kekhawatiran. Alasannya, mayoritas situs vital terkendala pembebasan tanah warga sekitarnya. Nandang mengatakan, beberapa situs itu, antara lain Candi Bojongmenje dan Bojongemas, terhalang tembok pabrik dan permukiman warga serta tergusur karena pembangunan saluran air.

Habitat asli Arca Durga di sekitar areal Kebun Binatang Bandung dan situs prasejarah di Dago terbenam permukiman warga serta Prasasti Cikapundung menjadi fondasi rumah warga. ”Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, pemerintah perlu menyelesaikan pembebasan tanah agar lebih lestari,” ujar Nandang.

Amalgamasi: Etnik Cina dengan Sunda di Dileungsi Kabupaten Bogor

Jurnal Penelitian Edisi 40, No 1/April 2008

Drs. Yudi Putu Satriadi

Abstrak

Amalgamasi atau perkawinan campuran antaretnik di Indonesia dan perkawinan antara bangsa, bukanlah hal yang aneh. Namun, amalgamasi yang terjadi di Cileungsi Kabupaten Bogor antara etnik Cina dengan Sunda cukup menarik untuk di teliti. Masalahnya, predikat “pribumi” dan “nonpribumi” yang umumnya menjadi jarak pemisah antara orang Indonesia dengan Cina, terkesan tidak menjadi hambatan bagi terjadinya amalgamasi di daerah tersebut.

Masalah lain yang menarik untuk diteliti dalam amalgamasi etnik Cina dan Sunda adalah dampak positif dan negatif dari akulturasi dua budaya yang berbeda. Akulturasi dua budaya dengan porsi seimbang, akan berdampak positif, yaitu memperkaya khazanah kebudayaan keduabelah pihak. Sebaliknya, bila akulturasi budaya itu didominasi oleh budaya Cina, maka unsur budaya tradisional pribumi akan tergeser, bahkan mungkin hilang. Padahal dalam setiap budaya tradisional terkandung nilai-nilai budaya yang luhur dan agung.

Kata Kunci : Amalgamasi. Cina-Sunda. Akulturasi.

Makam Keramat Syekh Magelung Sakti

Jurnal Penelitian Edisi 40, No 1/April 2008

Drs. Hermana

Abstrak

Syekh Magelung Sakti adalah salah seorang murid Sunan Gunungjati. Ia termasuk tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di daerah Cirebon bagian utara. Setelah tokoh tersebut meninggal, makamnya diyakini oleh banyak orang memiliki keramat, sehingga menjadi tempat ziarah. Keyakinan itu menyebar luas di kalangan masyarakat berkat peranan kuncen (juru kunci).

Penelitian mengenai topik tersebut dimaksudkan untuk membahas motivasi orang berziarah ke makam Syekh Magelung Sakti, peranan kuncen, dan pengaruh makam keramat terhadap kehidupan peziarah serta masyarakat di sekitar makam. Hasil penelitian diharapkan beerguna sebagai bahan acuan dalam membuat kebijakan di bidang kebudayaan dan kemasyarakatan.

Kata Kunci: Syekh Magelung Sakti. Makam keramat. Ziarah.

Selengkapnya download pdf dari http://isjd.pdii.lipi.go.id/

Tradisi Ngahiras sebagai Modal Sosial Kegotongroyongan pada Masyarakat Pedesaan Di Kabupaten Subang

Jurnal Penelitian Edisi 40, No 1/April 2008

Drs. Rosyadi

Abstrak

Ngahiras adalah salah satu bentuk kegotongroyongan yang masih hidup pada beberapa kelompok masyarakat di daerah pedesaan Jawa Barat. Di kalangan masyarakat pedesaan di Kabupaten Subang, ngahiras telah menjadi tradisi yang berlangsung secara turun-temurun. Tradisi itu seolah-olah menjadi kewajiban sosial bagi warga masyarakat. Dengan kata lain, tradisi ngahiras merupakan modal sosial bagi terwujudnya ke-gotongroyongan, sehingga terjadi harmonisasi sosial di kalangan masyarakat setempat.

Kata kunci: Ngahiras. Gotongroyong.

Popular Posts