WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Pengadilan Brutal : Fenomena tindak Kekerasan dan Kerusuhan Massal


Akhir-akhir ini, masyarakat cenderung memiliki persep¬si bahwa tindakan membalas kejahatan dengan kejahatan (kekerasan) merupakan sesuatu yang benar. Tampaknya, secara perlahan namun pasti, tindakan melakukan kekerasan terhadap para pelaku kejahatan tersebut mengalami proses ke arah legalitas.

Kebiadaban kolektif, relatif menjadi 'trend' di tengah masyarakat. Sangat sulit untuk melacak : di mana awal gejala kebrutalan massa ini. Yang pasti, apabila dicermati, berita-berita mengenai 'pengadilan brutal' di tengah masyarakat yang dilansir surat kabar atau media massa lain, mulai terlihat sejak dua tahun terakhir.

Ketika seorang pelaku kejahatan tertangkap basah oleh masyarakat, hampir bisa dipastikan ia akan babak belur. Masyarakat seolah tidak perduli betapa pun kecilnya kejaha¬tan yang dilakukan tersangka. Mereka juga tidak berusaha bertanya telah berapa kali seseorang mencuri, dan untuk apa melakukan tindak kriminal seperti itu. Massa juga seolah tidak pernah menyesal ketika korban yang 'diadili secara brutal' tersebut ternyata bukan pencuri.

Mencermati 'korban' kebrutalan massa, tampaknya tidak ada klasifikasi yang jelas mengenai status penjahat bagi masyarakat. Semuanya dianggap sama, baik pengutil, pencuri, maupun pelaku tindak kriminal kelas kakap. Masyarakat tidak memerlukan pembuktian atau bahkan saksi mata. Ketika terdengar teriakan 'maling' dan seseorang menunjuk pelaku, massa dengan cepat mengejar, menangkap, dan memukulinya. Telinga massa seolah tertutup untuk mendengar erang kesakitan, rintih minta ampun, atau penyangkalan tersangka.

Republika (21 Mei 2000) mengungkapkan sebuah berita mengenaskan. Di Desa Kalinowo, Kecamatan Badang, Kebumen, Jawa Tengah, Dasimun (53) dihakimi massa hingga tewas sete¬lah kedapatan mencuri seekor ayam. Prosesinya cukup menarik. Ia sempat dibawa ke balai desa dan diinterogasi.

Kepada petugas kepolisian dan aparat desa, Dasimun mengatakan ia terpaksa mencuri karena anak satu-satunya merengek terus ingin makan daging ayam di malam lebaran. Masyarakat tidak mau percaya. Dasimun diseret keluar balai desa dan dipukuli beramai-ramai. Ritus pembataian baru berhenti setelah Dasimun roboh, dan tidak bisa lagi mengerang kesakitan. Seluruh tubuhnya, termasuk muka dan kepala, penuh luka memar. Ia tewas dalam perjalanan ke RSU Kebumen. Masyarakat bersorak.

Kisah tragis di atas adalah satu dari sekian puluh tindak kriminal kolektif masyarakat terhadap pelaku pencurian. Beberapa peristiwa memilukan yang sempat penulis himpun dari berbagai media massa menyebutkan bahwa selama tahun 2000 tercatat sekitar 30 kasus tindak kriminal kolektif warga terhadap pelaku kejahatan. Mungkin bisa lebih banyak lagi apabila ditambah dengan peristiwa-peristiwa yang luput dari perhatian penulis.

Tidak hanya masyarakat, pelajar pun mulai kejangkitan virus kebiadaban ini. Satu dari beberapa peristiwa sepanjang tahun 2000, tepatnya pada bulan Maret, dilakukan pelajar. Mereka mengeroyok Khairul Sagita, sopir Metromini B-92, di Jalan Panjang Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Khairul, menurut sejumlah pelajar, bersalah karena menabrak hingga tewas seorang rekan mereka. Namun, cerita lengkap dari sejumlah saksi matayang dihimpun aparat kepolisian mengatakan Khairul tidak sepenuhnya bersalah. Siang itu, mobil yang dikemudikan Khairul dihentikan sejumlah pelajar. Khairul memperlambat mobilnya, dan puluhan pelajar naik serabutan. Sebagian bergelantungan. Seorang pelajar terjatuh dan tergilas ban belakang mobil Metromini itu.

Aksi pelajar lainnya, terjadi tanggal 1 Mei 2000. Metromini T-506 trayek Kampung Melayu - Pondok Kopi dirampok di Jalan I Gusti Ngurah Rai. Pelakunya 6 orang menggunakan seragam sekolah menengah umum (SMU). Mereka menguras habis isi kantong penumpang senilai Rp. 4,7 juta. Para pelajar itu seperti mengetahui kalau di awal bulan tersebut, pengguna jasa angkutan sedang berduit. “Saya tidak menyangka ada pelajar senekad itu. Semua gaji yang saya terima (Rp. 700 ribu) diminta. Saya mau bilang apa kalau mereka memaksa dengan golok,“ tutur Aprianto, salah seorang karyawan swasta yang menjadi korban.

Untungnya, polisi bertindak cepat dan berhasil menangkap mereka. Hanya sebagian dari barang bukti yang dapat diselamatkan, sebagian lainnya sudah dihabiskan pelajar. Alasannya macam-macam. Membeli minuman, mentraktir teman dan diduga ada pula yang menggunakannya untuk membeli narkoba.

Aksi anak-anak yang menjelang dewasa itu tidak hanya dilakukan dalam kelompok kecil. Seperti kejadian 23 Mei 2000, sekitar 30 orang yang kumisnya belum tumbuh menyetop Mayasari Bakti 904 di Jalan Hasyim Ashari Jakarta Pusat. Mereka memerintahkan supir bus berhenti dengan cara menghadang di tengah jalan. Seperti semut yang sudah mengetahui tempat gula, secara serempak puluhan orang bergerak. Ada yang mengacungkan golok, clurit, pisau lipat, dan mengayun-ayunkan tongkat penggebuk.

Sebagian lainnya beraksi merampas perhiasan yang dikenakan penumpang. “Ayo keluarkan uangnya kalau tidak ingin mati!” ancam mereka. Ibu-ibu dan kebanyakan karyawati, hanya bisa menangis sewaktu dompetnya diambil (Media Indonesi, 29 Mei 2000).

Tabiat pelajar yang semakin brutal tersebut merupakan satu di antara berbagai contoh maraknya kekerasan massa. Kebrutalan massa seolah mencapai puncaknya ketika 4 tersangka pencuri sepeda motor tewas dibakar massa. Namun, itu bukan satu-satunya kasus dipertengahan tahun 2000. Masih ada beberapa kasus lainnya yang terjadi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Tidak tersedia angka pasti berapa persen peningkatan angka kejahatan sepanjang krisis ekonomi. Yang jelas, masyarakat kehilangan rasa aman, karena tidak satu pun dari sekian banyak sudut kota-kota besar, terbebas dari kejahatan.

Apabila dicermati, trend kebiadan kolektif di tengah masyarakat, mulai terlihat antara lain ketika budaya kekerasan aparat mendapat perlawanan di hampir semua lapisan masyarakat. Menurut beberapa warga masyarakat, ketidakpercayaan terhadap aparat keamanan telah terakumulasi sekian lama. Buktinya, tidak satu pun korban pencurian sepeda motor misalnya, yang berharap miliknya kembali setelah melapor ke polisi. Begitu banyak kasus pencurian sepeda motor, tetapi terlalu sedikit pelaku yang dibekuk aparat. Oleh karena itu, apabila salah seorang pencuri tertangkap basah, siapa pun – apalagi dalam bentuk kerumunan massa – akan melampiaskan kejengkelannya dengan berbagai cara : sekadar ikut memukul dengan benda keras, sampai mencari ban-ban bekas untuk membakar si pelaku.

Salah seorang pelaku pembakaran mengungkapkan bahwa dirinya dan mungkin individu-individu lainnya -- sebetulnya -- tidak menginginkan pembunuhan. Namun persoalannya akan menjadi lain ketika yang bersangkutan berada di tengah massa yang sedang dibakar emosi Setiap orang akan larut ke dalam kehendak massa, dan pembunuhan sesadis apa pun bisa terjadi.

Senada dengan pernyataan di atas, salah seorang pakar kriminologi FISIP-UI mengatakan emosi massa membuat setiap individu tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya merupakan tindak kriminal. Dengan demikian, sebuah tindakan kriminal yang dilakukan secara kolektif (dengan cara pengeroyokan), bisa saja terjadi tanpa mereka sadari.

Terdapat kesan, seolah aparat membiarkan setiap aksi kebrutalan massa terhadap pelaku kejahatan. Sepertinya, hukum tidak menjangkau massa yang melakukan tindak kriminal terhadap penjahat, sesadis apapun. Seharusnya, tidakan itu terkena sanksi hukum. Namum, ketidakmampuan aparat untuk menangkap sedemikian banyak massa menyebabkan masyarakat seolah memperoleh legitimasi untuk melanggar hukum secara kolektif.

Tampaknya, tokoh-tokoh masyarakat di lokasi terjadinya pengeroyokan, tidak berupaya mengadakan pencegahan secara dini. Ulama, Ketua RT, Ketua RW, atau siapapun yang dijadikan tokoh/sesepuh, nyaris tidak berfungsi. Kalaupun ada upaya itu, tokoh masyarakat biasanya menyerah kepada tekanan massa. Atau, si tokoh pun ikut larut dalam kehendak biadab orang sekitarnya. Sering pula, pelaku pengeroyokan bukan dari masyarakat sekitar sehingga mereka mengabaikan himbauan tokoh setempat dan bertindak sekehendaknya.

Di sisi lain, sasaran keberingasan massa bisa menimpa siapa saja. Tidak hanya penjahat yang tertangkap basah, tetapi juga aparat kepolisian yang membuat kesalahan kecil. Inilah yang dialami Sersan Kepala Sofyan dan Sersan Satu Muchyarudin, awal Mei 2000 lalu di Desa Rawaselapan, Lampung Selatan.

Awalnya kedua polisi hendak pulang dari menyaksikan pertunjukkan wayang kulit di Desa Rawaselapan. Di perjalanan keduanya bertemu Junainah (16), yang juga hendak pulang ke Dusun V Rawaselapan. Junainah bersedia berboncengan bertiga.

Di tengah perjalanan, ban sepeda motor kempes. Ketiganya duduk-duduk di gardu ronda. Tiba-tiba warga dikejutkan teriakan minta tolong dari arah gardu. Warga keluar dan mendapatkan Junainah dalam keadaan mengenaskan dengan darah mengalir dari kedua pangkal pahanya. Ia mengaku diperkosa. Warga melakukan pengejaran, dan mendapatkan kedua polisi sedang menuntun sepeda motor. Junainah menunjuk salah satunya. Terjadilah penghakiman massa.

Mulyadi, Kepala desa Rawaselapan, berusaha mencegah dengan mengontak Polsek Sidomulyo. Ia meminta Polsek mengirim polisi militer untuk menangani kasus ini. Namun yang datang empat anggota Polsek Sidomulyo. Warga, menurut Forum, berjumlah hampir 1.000 orang kecewa, dan segera menyeret keduanya dari rumah Mulyadi. Keduanya dihajar hingga tewas, dan sepeda motornya dibakar.

Belakangan, Junainah mengubah pengakuannya. Menurutnya, ia tidak diperkosa, tetapi sedang menstruasi. Visum dokter membuktikan tidak ada luka apa pun di vagina Junainah. Masyarakat tidak mau tahu. Junainah juga tidak merasa berdosa telah membuat tewas kedua polisi itu.

Lalu, siapa lagi esok yang akan menjadi korban kebrutalan massa ?

***

Sosiolog, Dr Imam B. Prasodjo, melihat maraknya kekerasan akhir-akhir ini dipengaruhi oleh banyaknya orang yang mengalami ketertindasan akibat krisis berkepanjangan. Aksi itu juga dipicu oleh lemahnya kontrol sosial yang tidak diikuti dengan langkah penegakkan hukum. Ini, kata Imam, ditanggapi secara keliru oleh para pelaku tindak kejahatan. Kesan tersebut seolah message (tanda) yang diterjemahkan bahwa hal yang terjadi akhir-akhir ini, lebih membolehkan untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut.

Sementara itu pada saat kontrol sosial melemah, juga terjadi demoralisasi pihak petugas yang mestinya menjaga keamanan. Aparat yang harusnya menjaga keamanan, justru melakukan tindak pelanggaran. Masyarakat pun kemudian melihat bahwa hukum telah jatuh. Pada saat yang sama masyarakat belum atau tidak melihat adanya upaya yang berarti dari aparat keamanan sendiri untuk mengembalikan citra yang telah jatuh tersebut.

Sosiolog lain, Sardjono Djatiman memperkirakan masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada hukum, sistem, dan aparatnya. Ketidakpercayaan itu sudah terakumulasi sedemikian lama, karena ketidakadilan telah menjadi tontonan masyarakat sehari-hari. Mereka yang selama ini diam, tiba-tiba memberontak.

“Ketika negara yang mewakili masyarakat sudah tidak dipercaya lagi, maka masyarakatlah yang akan mengambil alih kendali hukum. Tentunya dengan cara mereka sendiri,“ ungkap Sardjono kepada Republika (17 Mei 2000). Saat ini, menurut Sardjono, seluruh sistem hukum di Indonesia sudah tidak jelas lagi. Banyak yang tidak jalan sebagaimana mestinya. Misalnya, orang besar seringkali tidak tersentuh hukum. Namun orang kecil mendapat perlakuan berlebihan.

Kalaupun si besar dihukum, di penjara selalu mendapat hak dan perlakuan istimewa. “Kalau orang kecil yang di penjara, mendapat makan saja sudah merasa bersyukur,“ lanjutnya lagi. Hal tersebut memang tidak berkaitan secara langsung dengan kekerasan massa. Tetapi, menurutnya, lambat laun ‘pendidikan’ hukum seperti itu menumbuhkan rasa ketidakpercayaan masyarakat. Begitu pula terhadap aparat hukumnya.

Berbicara mengenai ‘pendidikan hukum’, Imam B. Prasodjo mengungkapkan bahwa fenomena kerusuhan massal atau berbagai tindak kekerasan yang melanda Indonesia sekarang ini, harus difahami memiliki (kemungkinan) kaitan erat dengan proses sosialisasi tindak kekerasan yang sebenarnya telah lama tumbuh dalam keluarga. Hasil sosialisasi tersebut kemudian dilanjutkan individu dalam berbagai kelompok-kelompok sosial, yang kemudian dilanjutkan lagi dalam lingkup yang lebih luas, negara.

Lebih lanjut, Imam dalam Media Indonesia (Mei 2000), mengatakan bahwa pelajaran pertama tentang hubungan manusia (human relation), termasuk di dalamnya tentang hak-hak asasi manusia maupun pelanggarannya, diperoleh bukan pada ruang publik (public sphere), melainkan pada ruang private (private sphere). Ruang private seperti hubungan yang terjalin dalam keluarga adalah tempat awal manusia belajar menghormati hak-hak orang lain, seperti hak untuk bebas dari violence (tindak kekerasan), cruelty (kekejaman), oppression (penindasan), dan diskriminasi atau sebaliknya, menjadikan ruang private adalah tempat awal mereka belajar hal sebaliknya.

Melalui aksi-aksi teror (rule of terror) yang tumbuh dalam keluarga, anak manusia belajar menerima tindak teror sebagai hal normal (Riane Eisler, 1997). Lingkungan sosialisasi brutal yang terjadi dalam institusi berpola dominasi yang dialami anak-anak saat masa pertumbuhan, sebagaimana terjadi pada Adolf Hitler (Alice Miller, 1983), cenderung menumbuhkan institusi berpola dominasi yang didukung berbagai tindak kekerasan dalam kelompok maupun negara. Proses sosialisasi yang sangat menekankan pada sanksi-sanksi tindakan kekerasan fisik maupun verbal dalam lingkungan keluarga, pada gilirannya akan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya budaya kekerasan, baik dicontohkan media (film-film kekerasan), organisasi ‘preman’, maupun institusi militer, yang secara rutin diperlihatkan.

Terdapat sebuah proposisi, bila dalam masyarakat terjadi peningkatan kesadaran politik, maka akan terjadi peningkatan kohesi sosial dalam masyarakat yang berkomposisi penduduk homogen. Sebaliknya masyarakat yang memiliki penduduk heterogen, bila terjadi peningkatan kesadaran politik, kohesi sosial akan melemah, atau bahkan hancur (Karl W. Deutsch dalam Donald L. Horowitz, 1985).

Apa yang kini terjadi dalam masyarakat kita ? Sulit untuk mengatakan bahwa saat ini telah terjadi peningkatan kesadaran politik dalam arti sebenarnya. Namun., tidak dapat disangkal bahwa saat ini dirasakan terjadi ledakan partisipasi politik akibat bobolnya pembatasan dan penekanan ofresif rezim Orde Baru selama 32 tahun dengan kekuatan paksa mengintegrasikan masyarakat (imposed integration).

Saat ini terbuka kesempatan bagi seluruh elemen masyarakat -- yang marah pada struktur lama -- untuk ikut terlibat/berpartisipasi mengubah berbagai kebijakan publik yang selama ini dirasakan penuh ketidakadilan. Konflik-konflik sosial yang sebelumnya bersifat latent, kemudian tampak secara sporadis manifest (muncul), akibat adanya dan luasnya warisan kesenjangan, ketimpangan, serta berbagai ketidakadilan yang selama ini dirasakan masyarakat. Konflik-konflik sosial seringkali berubah menjadi brutal karena kelompok-kelompok yang bertikai adalah communal groups yang dasarnya ikatan-ikatan tradisional, seperti kesamaan kultur, ras, atau agama.

Intensitas konflik antarkelompok cenderung semakin tinggi karena ternyata pembangunan yang terjadi selama Orde Baru telah menciptakan semakin tegasnya garis-garis batas antarkelompok sosial. Saat ini, misalnya, telah tumbuh permukiman yang tidak saja membelah kelompok kaya dan miskin, tetapi juga membelah masyarakat berdasarkan etnis (kultur), ras (ciri-ciri fisik), dan juga agamanya.

Energi yang menggugat ketidakadilan menjadi besar tatkala kelompok yang sebelumnya dominan semakin terfragmentasi dan kekuatan kontrolnya melemah. Memudarnya gurita kekuasaan yang mencengkeram melalui birokrasi, baik sipil maupun militer, diikuti dengan menguatnya perlawanan yang seringkali berbentuk emosional aggresion.

Dalam keadaan seperti ini, situasi menjadi sangat kritis. Sebagaimana zaman reformasi sekarang ini, secara fungsional peran kepemimpinan birokratis digugat. Bila terjadi konflik, mekanisme kontrol untuk meredamnya sulit dilakukan karena tidak tersedia struktur kepemimpinan (baik institusi formal maupun tradisional) yang dapat mengendalikannya secara efektif.

Berbagai faktor sosial sebagaimana disebutkan sebelumnya mudah mendorong individu-individu dalam suatu kelompok untuk bergabung melakukan aksi-aksi kolektif (collective behavior). Baik dalam bentuk expressive control (kerumunan untuk menyatakan ketidakpuasan) maupun acting crowd (kerumunan yang aktif bertindak bersama-sama melakukan berbagai aksi).

Menurut Erlangga Masdiana, Staf Pengajar Jurusan Kriminologi FISIP-UI, keroyokan massa yang membuncah sekarang ini adalah cerminan masyarakat yang sedang stress. Yang penting, menurutnya, ‘pengadilan brutal’ atau ‘pengadilan jalanan’ atau apa pun namanya, tidak bisa dibiarkan terus menerus. Ia menandaskan sangat berbahaya bagi perjalanan bangsa ini karena kekerasan akan melembaga dalam masyarakat.

Apabila masyarakat sudah menganggap wajar dan tidak memiliki perasaan bersalah tatkala melakukan tindakan penghukuman meski tanpa proses pengadilan, maka nilai-nilai budaya yang bisa membangkitkan suatu kebersamaan dan antisipasi terhadap berbagai gangguan sosial, akan luntur. Akibatnya, perasaan kasih sayang akan hilang, dan setiap penyimpangan disamaratakan dengan memberikan suatu reaksi (tindakan balasan). Lebih jauh lagi, akan menimbulkan kekacauan (chaos) karena pihak yang menjadi korban pengadilan massa melakukan balasan. Saling serang antarkelompok meletus.

***

Pola pencegahan dan penanggulangan terhadap aksi kekerasan massa ini. menurut Erlangga (Media Indonesia, Mei 2000), berkaitan dengan beberapa faktor signifikan. Pertama, mengefektifkan dan menumbuhkan kembali peran lembaga-lembaga sosial tradisional yang bisa menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hukum.

Kedua, pihak aparat penegak hukum (polisi, jaksa, hakim) meningkatkan kinerjanya yang bisa meyakinkan masyarakat bahwa hukum itu harus tegak demi keadilan, bukan tegak untuk kepentingan suatu kelompok. Selama ini masyarakat merasakan lembaga-lembaga peradilan bercitra negatif. Masyarakat terkesan tidak mau berurusan dengan setiap unsur sistem peradilan pidana (SPP).

Ketiga, pemerintah harus melakukan proses transparansi penegakan hukum, agar berbagai kasus kejahatan besar di masa lalu yang diharapkan selesai oleh masyarakat dapat terwujud.

Keempat, pemerintah harus memiliki keinginan politik (polityical will) untuk memberdayakan lembaga-lembaga penegakan hukum agar lebih berdaya. Selama ini, lembaga-lembaga penegakan hukum dibiarkan mengurus dirinya yang tidak berdaya, karena keterbatasan menghadapi berbagai masalah.

Berbicara solusi, kriminolog UI lainnya, Dr. Tubagus Ronny Nitibaskara melihat perlunya pemberdayaan kontrol sosial masyarakat. Di samping itu juga, penegakan hukum harus ditingkatkan diiringi partisipasi aktif masyarakat dalam menetralisasi adanya kejahatan. Secara khusus, sistem organisasi kepolisian yang baik juga harus ditingkatkan dan sistem peradilan pidana harus disempurnakan.

Untuk menanggulangi kejahatan, menurut salah seorang pakar kriminologi FISIP-UI dalam Republika (5 Maret 2000), semua pihak harus melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan ekonomi. “Terutama dengan masyarakat kelas bawah,” ungkapnya. Harus diingat bahwa kemerosotan ekonomi mengakibatkan tingkat kejahatan meningkat.

Selain itu, perlu juga mempolisikan masyarakat. Artinya, ada fungsi pengamanan dan pencegahan kejahatan yang dijalankan oleh masyarakat. Kondisi sekarang sangat memprihatinkan; masyarakat seolah tidak peduli apabila terjadi kejahatan di sekelilingnya, bahkan di depan matanya. Menurut pakar tersebut di atas, sikap tak acuh masyarakat itu dalam kerangka psikologi sosial dapat dipahami. “Dalam masyarakat modern telah ada semacam share of responsibility. Tugas keamanan telah diambil alih oleh agen-agen formal, yakni polisi itu sendiri.” Dalam kerangka itu juga dapat difahami jika kita tidak lagi bisa berharap pada lembaga informal – seperti tokoh masyarakat – untuk mengendalikan keamanan karena peran-peran institusi informal telah diruntuhkan oleh pemerintah.

Solusi untuk menekan bahkan mungkin menghilangkan terjadinya ‘pengadilan brutal’ seperti terurai di muka, pada intinya mengharapkan adanya peningkatan kesadaran politik masyarakat dan kepastian hukum. Kedua hal tersebut merupakan prasyarat majunya ekonomi (tingkat kesejahteraan) masyarakat yang seringkali menjadi pemicu terjadinya tindak kekerasan/kriminal. Faktor ekonomi memang menjadi ujung tombak yang kita percayai tidak mungkin maju sendiri apabila tidak ada kesadaran politik dan kepastian hukum. Intinya, semua berjalan bersama-sama.

Sumber Bacaan
Harian Umum Republika, 5 Maret 2000
Harian Umum Republika, 21 Mei 2000
Harian Umum Media Indonesia, 29 Mei 2000

Subang, Februari 2001*****

Buddhiracana ◙ Vol. 2\No. 12\ Maret 2001 BKSNT Bandung

Busana Tradisional Ternate dan Tidore

Oleh Ria Andayani Somantri

Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore, memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal, berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara, merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. Sudah tentu, keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial, berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego, upacara injak tanah atau joko kaha, dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo.

Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara- upacara adat. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah, baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . Sementara itu, leher jas, ujung tangan, dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. Selain itu, penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia, yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas, serta kain panjang. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung, bros, dan peniti yang terbuat dari intan, berlian, atau emas. Di samping itu, mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar, sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri.

Selain busana adat yang disebutkan tadi, ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja, yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam, berikut toala polulu di kepalanya. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning, oranye, atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. Tidak lupa, mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma, yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran; anting dua susun, sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka; serta alas kaki yang disebut tarupa.

Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut, celana panjang, dan ikat kepala. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya, yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka, baik sebagai permasuri, pembantu permaisuri, atau diselaraskan dengan usia mereka, remaja contohnya.

Sementara itu, busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat, pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Baju tersebut umumnya berwarna polos. Busana kerja dalam keadaan bersih, biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. Adakalanya, mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh, yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang; dan celana popoh, yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. Sama halnya dengan busana wanita, busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah.

Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat, busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang, sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa; celana dino, yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning; lengkap dengan lengso duhu, yakni tutup kepala berwarna kuning muda.

Sumber: http://www.tamanmini.com

Kesenian Gembyung Masyarakat Banceuy Kabupaten Subang: Sebuah Ekspresi Seni dan Aktualisasi Kepercayaan Masyarakat

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007



Dra. Lina Herlinawati


Abstrak


Seni pertunjukan tradisi, selain merupakan tontonan yang menarik sebagai hiburan, kadang juga terangkai dengan upacara adat. Contohnya Gembyung, yang merupakan perkembangan dari Seni Terebang Buhun (di Cirebon sebagai tempat kelahirannya dikenal dengan sebutan Terebang Brai/Berahi). Kesenian Gembyung yang digunakan masyarakat adat Banceuy tidak sekadar sebagai ekspresi seni, namun juga aktualisasi dari kepercayaan mereka kepada Tuhan dan para leluhurnya yang pergelarannya dirangkaikan dalam upacara adat. Bagi mereka, Kesenian Gembyung adalah media untuk mengungkapkan rasa bersyukur mereka kepada Tuhan dengan melantunkan syair-syair yang mengagungkan kebesaran-Nya. Selain itu, Gembyung pun digunakan sebagai media untuk menghormati para leluhur mereka yang telah mewariskan adat istiadat. Aturan dan norma-norma dalam adat istiadat tersebut telah mengatur keharmonisan dan keteraturan kehidupan mereka selama ini.


Kata Kunci: Masyarakat adat, seni pertunjukan tradisi, seni pertunjukan upacara, ekspresi seni, aktualisasi kepercayaan, Banceuy, Subang.


Sejarah Perkembangan Kota Cimahi

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007



Dra. Lasmiyati


Abstrak


Cimahi dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2000, sebagai realisasi UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah.

Setelah Cimahi menjadi kota, Cimahi mengalami perkembangan baik di sektor perdagangan, pembangunan jalan, dan perumahan


Kata Kunci: Sejarah Kota.

Kesenian Celempungan Di Kabupaten Purwakarta

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007


Irvan Setiawan, S.Sos.



Abstrak


Musik adalah salah satu alat dengan berbagai fungsi. Telah sejak lama peranan musik tradisional mendapat tempat yang cukup penting dalam masyarakat. Saat ini peranan musik tradisional telah bergeser searah dengan perkembangan musik modern. Padahal ada nilai luhur di dalamnya.

Celempungan, salah satu musik tradisional Purwakarta saat ini sama nasibnya dengan jenis musik tradisional lainnya. Penelitian ini mencoba mengungkap peralatan, nayaga, dan prospek celempungan di masa yang akan datang.


Kata Kunci: Celempungan. Purwakarta. Kesenian tradisional.

Sistem Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat Banceuy Kabupaten Subang

Jurnal Penelitian Edisi 27/Juni 2007


Dra. Ria Intani T.


Abstrak:


Kampung Banceuy sejak dulu kaya akan tanaman yang dapat digunakan sebagai obat berbagai penyakit. Faktor itu menyebabkan masyarakat Banceuy memahami sistem pengobatan tradisional secara turun-temurun. Sistem pengobatan itu ditunjang oleh unsur kepercayaan masyarakat setempat.

Kata Kunci: Pengobatan Tradisional. Kepercayaan Masyarakat.

Bencana Krakatau 1883: Suatu Kajian Sejarah

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007



Iim Imadudin, S.S

Abstrak:


Penelitian ini mengkaji sejarah letusan Krakatau 1883. Hipotesis ahli menyebutkan bahwa Krakatau pernah meletus di masa lalu beberapa kali. Namun, erupsi Krakatau tahun 1883 yang paling mendapat perhatian masyarakat dunia.

Letusan tersebut telah menimbulkan serangkaian perubahan, tidak saja melalui efek geologis yang ditimbulkannya; tetapi juga perubahan yang menyangkut sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Secara sosial, bencana telah mengganggu kehidupan sosial hingga kemudian tumbuh masyarakat pascabencana. Solidaritas masyarakat dunia terhadap korban bencana sangat besar. Selain itu, secara ekonomi, kerugian material yang diakibatkannya amat besar. Pemerintah kolonial mengalokasikan dana cukup besar untuk rekonstruksi dan rehabilitasi. Secara politik, penghayatan keagamaan masyarakat makin menguat yang kemudian mengalami radikalisasi menentang kolonialisme. Dalam perspektif kebudayaan, tumbuh mitos-mitos yang menaungi bencana tersebut.

Kata Kunci: Geografi Sejarah; Letusan Krakatau dan Dampaknya.

Puncak Peradaban Priyayi di Kabupaten Sumedang

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007


Drs. Heru Erwantoro


Abstrak:

Kaum priyayi sebagai penguasa politik di Kabupaten Sumedang telah berhasil melakukan strategi adaptasi di dalam menghadapi berbagai kekuatan politik asing yang mengancam sumedang. Meskipun Sumedang berkali-kali jatuh ke dalam genggaman kekuatan asing seperti Mataram, VOC, dan Pemerintah Hindia Belanda, para priyayi itu tetap dapat mempertahankan eksistensi kekuasaannya.
Kaum priyayi Sumedang yang merupakan keturunan aristokrasi Kerajaan Sumedanglarang berhasil memainkan peran sebagai middle man dengan baik. Dengan perannya itu, para priyayi Sumedang mampu memenuhi kebutuhan penguasa yang berada di atasnya sekaligus juga mampu mengayomi rakyatnya.
Strategi adaptasi yang diterapkan oleh para priyayi Sumedang itu berhasil membuat Kabupaten Sumedang dalam kondisi yang aman. Dengan kondisi yang aman itu, para priyayi Sumedang berhasil melaksanakan pembangunan di berbagai bidang sehingga Sumedang pada masa itu berhasil mencapai puncak peradabannya.

Kata Kunci: Priyayi. Peradaban

Syekh Siti Jenar: Tokoh Kontroversial Penyebar Agama Islam

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007


Drs. Hermana


Abstrak:

Giri Amparan Jati sebagai cikal bakal berdirinya pusat penyebaran agama Islam di Nusantara dan khususnya di daerah Cirebon. Syekh Siti Jenar merupakan salah satu murid dari pendiri Padepokan Giri Amparan Jati. Di daerah Cirebon Syekh Siti Jenar, terkenal dengan nama Syekh Lemah Abang. Ajaran Syekh Siti Jenar yang terkenal adalah yang disebut Manunggaling Kawula Gusti yang terdapat dalam ajaran Sasahidan. Dalam ajaran ini tercetus adanya Ana – Al - Hak atau dengan kata lain Aku ini Allah, atau Ingsun ini Allah, itulah yang dikemudian hari dipahami oleh masyarakat umum bahwa Syekh Siti Jenar adalah murtad dan metode yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar berbeda dengan pola pengajaran yang disampaikan kepada masyarakat umum oleh Dewan Wali Sanga. Ajaran Syekh Siti Jenar mengedepankan olah batin (makrifat) sedangkan ajaran Dewa Wali mengedepankan syariat.

Kata Kunci: Syekh Siti Jenar. Islamisasi. Sejarah Islam.

Fungsi Puisi Sisindiran (Pantun) Bahasa Sunda di Kabupaten Bandung

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007


Drs. Aam Masduki


Abstrak:

Sindiran adalah salah satu bentuk pusi Sunda lama yang terdiri atas sampiran dan isi. Namun demikian kepuisiannya terbatas pada rima dan irama, bukan pada diksi dan imajinasi seperti halnya puisi modern (sajak). Bahasanya mudah dipahami seperti bahasa sehari-hari. Dalam sastra Indonesia bisa disebut pantun. Sisindiran “pantun” merupakan puisi rakyat yang sangat digemari masyarakat. Sisindiran dapat mengungkapkan atau mencerminkan perasaan, keadaan lingkungan, dan situasi masyarakat desa, petani, dan lain sebagainya. Biasanya dituturkan dalam suasana santai, berkelakar, berbincang-bincang, dan suasana formal, misalnya dalam upacara adat perkawinan, melamar, dan sebagainya. Dalam perkembangannya, sangat luwes, mudah memasuki berbagai gendre sastra lainnya, seperti cerita pantun, wawacan,, novel, cerven, novelet bahkan kadang-kadang muncul juga pada puisi modern. Dilihat dari pembentukannya, kata sisindiran berasal dari bentuk dasar sindir “sindir”. Dengan demikian sisindiran merupakan bentuk kata jadian yang diperoleh dengan cara dwipurwa (pengulangan awal) disertai akhiran-an.

Kata Kunci: Sisindiran. Pantun.

Kehidupan dan Sistem Pengetahuan Tradisional Masyarakat Nelayan Karangantu, Banten

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2007


Dra. Nina Merlina

Abstrak:

Karangantu, salah satu kawasan pesisir di wilayah Banten, adalah wilayah para nelayan. Sebagai nelayan, mereka berusaha untuk menyelaraskan hidupnya dengan lingkungan alam, yakni laut. Bagi mereka, laut merupakan tumpuan kehidupan ekonomi. Dalam menjalani kehidupan dan aktivitas yang berkaitan dengan laut, mereka mempertahankan sistem pengetahuan tradisional yang diwarisi secara turun-temurun. Meskipun aktivitas di laut mengandung risiko bahaya, namun mereka tetap mempertahankan sistem pengetahuan tersebut, karena sampai sekarang pun mereka tetap sebagai nelayan tradisional.

Kata Kunci: Pengetahuan Tradisional, Ekonomi Nelayan, Karangantu Banten

Kepercayaan terhadap Dewi Sri dan Perwujudannya dalam Kehidupan Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Subang

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2007



Drs. Rosyadi


Abstrak:

Pandangan-pandangan yang bersifat religio magis terhadap asal-usul dan keberadaan padi, telah melahirkan sikap dan perilaku yang mensakralkan tanaman padi. Padi dipandang sebagai penjelmaan dari seorang tokoh mitologi Dewi Sri. Sikap dan pandangan sakral ini terwujud dalam berbagai bentuk perilaku ritual yang mengagungkan dan memuliakan padi, bahan kebutuhan utama bagi kelangsungan hidup masyarakat di lokasi penelitian.

Kata kunci: Mitos padi, ritual.

Hubungan Antaretnik: Model Penyesuaian Orang Sunda Di Tengah-Tengah Etnik Lain Di Lampung

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 1007


Drs. Yudi Putu Satriadi


Abstrak:

Orang Sunda pada prinsinya memiliki sikap yang sama dengan etnik lain dalam hal penyesuaian atau adaptasi. Namun sikap orang Sunda memegang falsafah hidup yang menitikberatkan pada sikap mengalah untuk menang, membuat orang/etnik Sunda sangat jarang terlibat konflik dengan etnik lain di mana pun di wilayah Indonesia. Sikap ngawayahnakeun atau sikap bersabar sampai batas tertentu, dipakai oleh orang Sunda bila mendapat perlakuan tidak mengenakkan selama tidak menyinggung martabat dan harga diri, apalagi jika perlakuan tersebut saat orang Sunda memerlukan sesuatu.
Faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan orang Sunda mampu beradaptasi dengan etnik lain di daerah mana pun adalah sikap terbuka untuk memperkenalkan diri kepada etnik lain dan terbuka pula untuk menerima budaya etnik lain, bahkan memadukannya dengan budaya Sunda, sehingga menjadi budaya baru tanpa menghilangkan ciri khas budaya asal. Dengan demikian, orang Sunda dikenal sebagai suku bangsa yang ramah, mengalah, sabar, tetapi gigih, teguh pada pendirian dan mudah diterima menjadi sahabat oleh etnik lain.

Kata kunci: Multietnik, konflik, adaptasi, keterbukaan.

Sejarah Pemerintahan dan Perkembangan Kabupaten Sukabumi

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2007


Oleh: Drs. Herry Wiryono



Abstrak:


Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang mempunyai sejarah yang panjang, yaitu hampir sama dengan perjalanan sejarah daerah Jawa Barat. Di samping itu, Kabupaten Sukabumi mempunyai kondisi alam yang baik untuk dikembangkan menjadi daerah perkebunan sehingga tidak heran apabila pada masa pemerintahan kolonial Belanda Kabupaten Sukabumi menjadi penghasil devisa yang sangat besar di bidang perkebunan. Pada masa pembangunan, Kabupaten Sukabumi tidak mau ketinggalan dari daerah lain di Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Sukabumi berupaya melakukan pembangunan baik fisik maupun masyarakatnya, sehingga dapat mensejajarkan diri dengan daerah lainnya di Jawa Barat.

Sejarah dan Perkembangan Transmigrasi di Indonesia: Gedongtataan di Propinsi Lampung

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2007



Oleh: Drs. M. Halwi Dahlan


Abstrak:


Transmigrasi penduduk Pulau Jawa ke Sumatera tahun 1905 dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan penduduk Pulau Jawa, sekaligus pengerahan tenaga untuk mengolah perkebunan-perkebunan milik pemerintah Hindia Belanda di Gedongtataan Lampung dan di Deli, Sumatera Utara. Emigrasi penduduk ke Deli disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah cukup besar untuk kawasan perkebunan. Sebaliknya, emigran di Gedongtataan diharuskan untuk menetap.

Perpindahan penduduk ke Gedongtataan dianggap sebagai pilot proyek transmigrasi. Beberapa puluh tahun kemudian, proyek itu dilanjutkan oleh pemerintah RI dengan alasan yang sama, yaitu pengurangan kepadatan penduduk. Pada masa Orde Baru hal itu di sebut “pemerataan jumlah penduduk”.


Sejarah Perkebunan Teh Malabar

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2009


Oleh: Dra. Euis Thresnawaty


Abstrak:

Perkebunan teh Malabar di daerah Pangalengan Kabupaten Bandung berdiri bulan Agustus 1896. Didirikan oleh K.A.R. Boscha berkat dukungan S.J.W van Bu’uren dan bantuan dana dari firma John Peet & Co. Perkebunan ini termasuk perkebunan teh yang paling awal dibuka di daerah Jawa Barat, dan merupakan salah satu dari enam perkebunan di Pangalengan yang memiliki areal paling luas.

Dalam perjalanan sejarahnya, Perkebunan Teh Malabar mendatangkan laba besar bagi pemiliknya. Sekarang pun perkebunan itu menjadi salah satu sumber penghasilan besar untuk negara.

Fungsi dan Makna Kesenian Samrah di Kampung Ciharuman Desa Jelegong Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2007


Oleh: Dra. Enden Irma Rachmawati


Abstrak:

Apresiasi masyarakat terhadap seni budaya tradisional menjadi makin rendah. Hal ini disebabkan langkanya kesempatan untuk menampilkan seni tersebut. Oleh karena itu, tidaklah heran apabila para remaja, terutama yang berada di kota-kota, tidak lagi mewarisi nilai-nilai seni budaya tradisional. Hal ini merupakan salah satu masalah atau kendala dalam pengembangan seni budaya kita.

Pendidikan Seks dalam Keluarga

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2009


Dra. Ria Andayani S.

Abstrak:

Perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan betapa mudahnya generasi muda mengakses informasi seputar seks. Produk media cetak, audio visual, bahkan teknologi informatika merupakan sarana untuk menyampaikan informasi tersebut. Jenisnya beragam, dari informasi yang ringan hingga yang vulgar. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak. Apalagi sejumlah kasus tentang perilaku seks bebas, hamil di luar nikah, perkosaan, mulai mengemuka, baik di media cetak maupun televisi.

Wacana pendidikan seks pada anak pun muncul dan mendapat perhatian yang cukup serius dari berbagai kalangan. Perlu dan tidaknya hal itu dilakukan masih menjadi polemik hingga saat ini. Padahal, pendidikan seks pada dasarnya merupakan bagian integral dari proses sosialisasi dan enkulturasi dalam sebuah keluarga. Lebih tepatnya lagi tersimpul dalam pola pengasuhan anak yang memberi pedoman kepada mereka agar menjadi seorang perempuan atau pria yang diterima oleh masyarakat dan lingkungan budayanya.

Indung: Konsep dan Aktulitas Perempuan Sunda

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2007


Oleh: Drs. Agus Heryana


Abstrak:

Indung, sebutan untuk ibu dalam bahasa Sunda terdiri dari satu kata yang singkat namun sarat makna. Pembahasan mengenai ibu terus menarik dan tidak pernah selesai. Peran indung mengalami perubahan pasang surut sesuai dengan sudut pandang dan tingkat kebutuhan yang bersangkutan. Posisi indung dapat melambung setinggi langit dan terkadang di bawah melebihi bawahnya kaki.

Diakui atau tidak, tersirat atau tersurat, peran indung terpolakan secara alami dan kodrati. Di manapun, katakanlah di negara yang telah mengalami kemajuan peradaban, peran indung yang paling mendasar tidak akan hilang dan akan tetap melekat, bahkan menunjukkan fenomena indung kembali ke peran awal. Mengapa demikian? Indung bukan robot bergerak yang hidup tanpa nurani. Indung adalah manusia yang berjenis kelamin perempuan yang secara teori didominasi oleh emosional yang dikendalikan oleh rasio.

Perpaduan antara emosional dan rasio membuat sosok indung merupakan manusia yang nyaris sempurna menurut ukuran duniawi. Kalkulasi pengabdian indung tidak akan pernah sama dengan pengabdian laki-laki, karena Allah SWT telah melebihkan derajat indung satu tingkat di atas laki-laki.

Jurnal Penelitian


Edisi 1/1993
  1. Analisis Naskah Nabi Paras (Drs. Agus Heryana, dkk)
  2. Sistem Religi dan Pertabuan di Kampung Mahmud Kabupaten Bandung (Drs. Aam Masduki, dkk)
  3. Toponimi di Kotamadya dan Kabupaten Sukabumi (Drs. Herry Wiryono, dkk)
  4. Kehidupan Masyarakat Desa Cimacan Kabupaten Cianjur (Drs. Bambang M.W, dkk)

Edisi 2/1993
  1. Permainan Rakyat Ngadu Domba (Drs. Suwardi A.P)
  2. Sistem Teknologi Tradisional Pembuatan Gamelan di Ciomas (Drs. Nandang R.)
  3. Biografi Emma Poerwadireja (Drs. Adeng)
  4. Pengaruh Dibangunnya Perguruan Tinggi terhadap Pola Kehidupan Masyarakat Jatinangor (Drs. Toto Sucipto)

Edisi 3/Mei 1994
  1. Kajian Naskah Syekh Abdulqodir Jaelani (Drs. Tjetjep Rosmana, dkk)
  2. Tokoh dan Peristiwa Bandung Lautan Api (Drs. Aam Masduki, dkk)
  3. Sistem Perekonomian Pengrajin Tradisional di Kecamatan Pasir Jambu Kabupaten Bandung (Dra. Enden Irma R. Dkk)
  4. Pola Pemukiman Masyarakat Nelayan di Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu (Drs. Hermana, dkk)

Edisi 4/September 1994
  1. Sejarah Kabupaten Sumedang (Dedi S.A., dkk)
  2. Ungkapan Tradisional yang Mengandung Nilai Moral Magis dan Tabu di Masyarakat Adat Kampung Naga dan Kampung Kuta Jawa Barat (Drs. Nandang Rusnandar, dkk)
  3. Dampak Pemanfaatan Tanah Surutan terhadap Perkembangan Sosial ekonomi Masyarakat Desa Tanjungjaya Kecamatan Cililin (Drs. Toto Sucipto, dkk.)
  4. Cerita Rakyat Kabupaten Majalengka (Drs. Tjetjep Rosmana, dkk)
  5. Upacara Tradisional Pertanian di Kecamatan Darangdan Kabupaten Purwakarta (Dra. Yanti Nisfiyanti)

Edisi 5/Januari 1995
  1. Dampak Pendudukan Jepang Terhadap Kehidupan Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kota Bandung (Drs. Heru Erwantoro, dkk)
  2. Pengungkapan Mantra di Kampung Adat Urug Desa Kiara Pandak Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor (Drs. Nandang Rusnandar, dkk)
  3. Tata Kehidupan Kampung Dukuh di Desa Cijambe Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut (Drs. Toto Sucipto, dkk)
  4. Sistem Teknologi Tradisional Kerajinan Batik Trusmi (Dra. Ria Intani T, dkk)
  5. Sistem Kemasyarakatan Masyarakat Nelayan Pantai Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi (Dra. Lina Herlinawati, dkk)

Edisi 7/September 1995
  1. Perjuangan Pegawai Kereta Api dalam Menuntut dan Mempertahankan Kemerdekaan (Drs. Herry Wiryono)
  2. Budaya Kerja Pengrajian Keramik di Kecamatan Kiaracondong (Dra. Ria Intani T.)
  3. Pengungkapan Nilai Budaya Wawacan Amungsari-Lembusari (Drs. Suwardi A.P.)
  4. Pemukiman Sebagai Ekosistem, Studi Tentang Lingkungan Toponimi di Kabupaten Cianjur (Drs. Tito Setiato)
  5. Carita Pantun Lutung Kasarung, analisis struktur dan nilai (Drs. Yuzar Purnama)
  6. Transkripsi dan Analisis Wawacan Dongeng-dongeng karya R. H. Mohammad Musa tahun 1862 (Drs. Nandang Rusnandar)

Edisi 8/Desember 1995
  1. Peristiwa Anti Cina di Sukabumi (Drs. H. Iwan Roswandi)
  2. Sejarah Keraton Kasepuhan di Kotamadya Cirebon (Dra. Lasmiyati)
  3. Sistem Ekonomi Perajin Rangginang di Desa Cikoneng Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung (Dra. Ani Rostiati)
  4. Pola Kehidupan Santri di Pesantren Jagasatru (Drs. Hermana)
  5. Pemukiman Sebagai Ekosistem, Studi Tentang Lingkungan Budaya Pedesaan di Kabupaten Subang (Drs. Toto Sucipto)

Edisi 10/April 1996
  1. Dari Corak Hingga Makna dalam Batik Keraton Cirebonan (Dra. Ria Intani T.)
  2. Carita Pantun Dadap Malang Ci Mandiri: Kajian Isi dan Peranannya dalam Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional (Drs. Suwardi A.P. dan Dra. Yanti Nisfiyanti)
  3. Sistem Pertanian Tradisional Jawa Barat (Drs. Nandang Rusnandar)
  4. Kajian Babad Talaga (Drs. Tjetjep Rosmana dan Drs. Endang Nurhuda)
  5. Babad Dermayu: Sebuah Bentuk Sastra Sejarah (Drs. Yuzar Purnama)
  6. Biografi R. Natakusumah (Drs. Herry Wiryono)

Edisi 11/1997
  1. Adaptasi Masyarakat Bugis di Palabuhan Ratu Kab Sukabumi (Drs. Bambang M.W)
  2. Dampak Sosial Budaya Akibat Pengalihan Lahan Pertanian (Dra. Ani Rostiati)
  3. Sistem Ekonomi Perajin Batu Bata merah di Desa Sumbersari Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung (Dra. Ria Andayani S.)
  4. Sistem Ekonomi Perajin Tape di Desa Mandalamekar Kabupaten Bandung (Drs. Endang Supriatna)
  5. Sistem Penyapihan Pada Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional di Desa Camara Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung (Dra. Lina Herlinawati)
  6. Perseteruan Politik Perfilman Nasional (Drs. Heru Erwantoro)
  7. Analisis Wawacan Panganten Tujuh Jumaah (Drs. Yudi Putu Satriadi)

Edisi 12/Maret 1997
  1. Pola Kehidupan Buruh Pelabuhan di Pelabuhan Cirebon (Drs. Hermana)
  2. Latar Belakang Berdirinya Sekolah Staf dan Pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Sespim Polri) di Kabupaten Bandung (Drs. H. Iwan Roswandi)
  3. Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan sebagai Objek Wisata di Kabupaten Ciamis (Drs. Adeng)
  4. Sistem Teknologi Tradisional Pembuatan Meja Unyil di Desa Mekar Rahayu Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung (Dra. Enden Irma R.)
  5. Pelestarian Peninggalan Sejarah di Kabupaten Majalengka (Drs. Endang Nurhuda)
  6. Udjo, Seniman Angklung dan Aktifitasnya (Dra. Lasmiyati)

Edisi 13/Juni 1997
  1. Kajian Isi Naskah Wawacan Rawi Mulud (Dra. Yanti Nisfiyanti, dkk)
  2. Pengkajian Kekuatan Tenaga Dalam pada Pencak Silat (Drs. Agus Heryana)
  3. Program Peningkatan Kinerja Kemampuan Staf Peneliti dan Pengkajian Naskah Kebudayaan Daerah Pada Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Dra. S. Dloyana Kusumah)
  4. Struktur dan Isi Puisi Sisindiran Bahasa Sunda di Kabupaten Bandung (Drs. Aam Masduki)
  5. Tingkat Kesejahteraan Keluarga Nelayan: Studi tentang Upaya Penanggulangan Kemiskinan Keluarga Nelayan (Drs. Toto Sucipto)

Edisi 14/Juli 1998
  1. Sistem Religi Kampung Urug, di Desa Kiarapandak, Kecamatan Ciugudeg, Kabupaten Bogor (Drs. Endang Supriatna, dkk)
  2. Peninggalan Sejarah sebagai Obyek Wisata di Kabupaten Kuningan (Dra. Euis Thresnawati, dkk)
  3. Pola Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Situ, Kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut (Drs. Yudi Putu Satriadi, dkk)
  4. Paraji, Sosok Pesalin Tradisional pada Masayarakat Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur (Drs. Suwardi Alamsyah P., dkk)

Edisi 15/Agustus 1998
  1. Perubahan Sikap Masyarakat (Dampak Pembangunan Pabrik Sandang terhadap Proses Sosialisasi dan Sikap dalam Pendidikan Anak di Desa Malakasari Kecamatan (Dra. S. Dloyana Kusumah)
  2. Peranan Kuncen dalam Kehidupan Masyarakat Kampung Pulo (Dra. Ani Rostiati, dkk)
  3. Rona-rona Batik Dermayon (Dra. Ria Intani T., dkk)
  4. Sistem Pengetahuan Lokal Nelayan di Desa Mancagahar Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut (Dra. Ria Andayani S., dkk)
  5. Mengungkap Peristiwa Rawa Gede di Desa Rawamerta Kecamatan Rawasari Kabupaten Karawang (Dra. Lasmiyati, dkk)

Edisi 16/Desember 1998
  1. Sistem Budaya Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya (Drs. Nandang Rusnandar, dkk)
  2. Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Kuta (Drs. Endang Nurhuda, dkk)
  3. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Sukabumi (1945-1950) (Drs. Herry Wiryono, dkk)
  4. Kesenian Daerah di Jawa Barat (Drs. Yuzar Purnama, dkk)

Edisi 17/Februari 1999
  1. Lengser, Sebuah Kajian Unsur Humor (Drs. Yuzar Purnama)
  2. Mensosialisasikan Tatakrama sebagai Alternatif Pilihan dalam Menyikapi Masalah Remaja (Dra. S. Dloyana Kusumah)
  3. Peranan Masyarakat Kuningan dalam Mempertahankan Kedaulatan Republik Indonesia Periode 1945 – 1950 (Drs. Herry Wiryono)
  4. Eksistensi Permainan Tradisional Anak-anak Jawa Barat di Abad Modernisasi (Dra. Ria Intani T.)
  5. Sastra Lisan (Jampe), Suatu Kajian Struktur dan Fungsi (Drs. Suwardi Alamsyah P.)

Edisi 18/April 1999
  1. Upacara Ngarot di Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu (Dra. Enden Irma R., dkk)
  2. Struktur Informal di Kota Bandung (Studi tentang Pedagang Pakaian Kaki Lima di Sekitar Pasar Cicadas Bandung) (Drs. Yudi Putu Satriadi)
  3. Pemukiman Sebagai Ekosistem, Studi Tentang Lingkungan Budaya Pedesaan di Kabupaten Subang (Drs. Toto Sucipto)
  4. Sekilas Mengenal Peninggalan Sejarah di Kabupaten Garut (Dra. Lasmiyati)
  5. Pengetahuan, Sikap, Keyakinan dan Perilaku Generasi Muda Berkenaan Dengan Perkawinan Tradisional di Bandar Lampung (Drs. Aam Masduki)
  6. Studi Sejarah Sosial dan Budaya Kawasan Saguling (Padalarang dan Sekitarnya) (Drs. Nandang Rusnandar, dkk)
  7. Kajian Unsur Didaktis Dongeng Anak-anak (Drs. Tjetjep Rosmana)

Edisi 19/Juli 1999
  1. Sisindiran: kemahiran Orang Sunda Berbahasa (Agus heryana, dkk)
  2. Pelapisan Sosial pada ”Masyarakat Sampah” di Kota Bandung (Dra. Lina Herlinawati, dkk)
  3. Pengungkapan Nilai Moral dan Budi Pekerti dalam Cerita Rakyat Jawa Barat: Tinjauan analisis tentang ”Dipati Ukur” sebuah legenda masyarakat Sunda (Dra. S. Dloyana Kusumah)
  4. Kelahiran dan Perkembangan Kesenian Sisingaan di Kabupaten Subang (Drs. Rosyadi)
  5. Kearifan Tradisional Masyarakat Kampung Kuta (Drs. Yudi Putu Satriadi, dkk)
  6. Mengungkap Tokoh Sunan Gunung Jati (Drs. Heru Erwantoro, dkk.)

Edisi 20/2000
  1. Ramadhan di Bandung (Dra. Ria Andayani)
  2. Sejarah Perjuangan Laskar Rakyat Priangan Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (Drs. Adeng)
  3. Sistem Pengobatan Tradisional di Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung (Drs. Suwardi A.P.)
  4. Cirebon Dalam Intervensi Politik Mataram, Banten dan Belanda (Dra. Lasmiyati)
  5. Peninggalan Sejarah sebagai Obyek Wisata di Kabupaten Sumedang (Drs. Herry Wiryono)
  6. Analisis Wawacan Isim Ayat Lima Belas (Drs. Yuzar Purnama)

Edisi 21/Juli 2000
  1. Nyanyian Anak-anak Sunda Masa Kini: Analisis Bentuk dan Isi Kakawihan Barudak Kiwari (Drs. Agus Heryana)
  2. Prinsip Resiprositas dalam Aktivitas Gotong-royong (Drs. Yudi Putu S, dkk)
  3. Pewarisan Keterampilan Perajin Tradisional di Kabupaten Tasikmalaya (Drs. Aam Masduki)
  4. Analisis Struktur Sejarah Carita Lampahing Para Wali Kabeh (Drs. Suwardi Alamsyah P.)
  5. Profil Kehidupan Lima Pengamen Anak, Kasus di Perempatan Jalan Seokarno hatta – Kiaracondong, Kota Bandung (Dra. Ani Rostiyati)
  6. Arsitektur Rumah Adat Tradisional Kampung Mahmud (Drs. Nandang Rusnandar)
  7. Eksistensi Keraton di Tengah Peradaban Masa Kini (Drs. Toto Sucipto)

Edisi 22/Oktober 2000
  1. Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda: Makna Pendidikan di Balik Permainan Anak (Drs. Nandang Rusnandar)
  2. Profil Pemimpin Informal pada Masyarakat Kampung Mahmud (Drs. Tjetjep Rosmana, dkk)
  3. Wawacan Bin Entam (Kajian Nilai Budaya) (Dra. Lina Herlinawati, dkk)
  4. Perjuangan Batalyon II Tarumanagara Sumedang dalam Mempertahankan Kedaulatan RI (1945 – 1950) (Drs. Herry Wiryono, dkk)
  5. Pandangan Anak Sunda terhadap Orang Tua (Dra. S. Dloyana Kusumah)
  6. Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nelayan di Kabupaten Cirebon (Drs. Endang Nurhuda, dkk)
  7. Persepsi Masyarakat Jabong terhadap Upacara Mapag Sri (Drs. Rosyadi, dkk)
  8. Fungsi Keluarga Dalam Penanaman Nilai-nilai Budaya Pada Masyarakat Betawi di DKI Jakarta (Drs. Suwardi Alamsyah P.)

Edisi 23/Februari 2001
  1. Perlawanan Santri Pesantren Sukamanah Terhadap Facisme Jepang dan Dampaknya terhadap Masyarakat Sekitarnya (Dra. S. Dloyana Kusumah, dkk)
  2. Peranan KPRM dalam mempertahankan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Daerah Ciniru Kabupaten Kuningan Jawa Barat (1947 – 1949) (Dra. Euis Thresnawati S.)
  3. Busana Adat Pengantin Keraton Cirebon: Simbol, Makna, dan Fungsi yang dilakukan (Drs. Heru Erwantoro, dkk)
  4. Kembali ke Alam (Penelusuran Penggunaan Obat-obatan Tradisional di Lingkungan Perkotaan) (Dra. Ria Intani T.)
  5. Iket Sunda, Kamari, Kawari Jeung Bihari (Drs. Suwardi Alamsyah P.)
  6. Pengaruh Religi terhadap Sistem Kepemimpinan Masyarakat Kampung Cireundeu Kotip Cimahi Kabupaten Bandung (Drs. Endang Supriatna, dkk)

Edisi 24/Oktober 2001
  1. Pembentukan Norma dan Nilai Baru dalam Pranata Keluarga (Studi tentang Peran Ganda Perempuan di Kelurahan Cibaduyut) (Dra. S. Dloyana K)
  2. Budaya Masyarakat Perbatasan (Studi tentang Corak dan Pola Interaksi Sosial pada Masyarakat Kecamatan Langensari Propinsi Jawa Barat) (Drs. Toto Sucipto)
  3. Sajian dalam Upacara Adat (Studi Kasus tentang Makanan Tradisional dalam Sajian Upacara Siklus Hidup di Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung) ( Dra. Yanti Nisfiyanti, dkk)
  4. Sistem Resiprositas pada Masyarakat Desa Tajur Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka (Dra. Nina Merlina, dkk)
  5. Tradisi Perlindungan Sosial dalam Rangka Pemberdayaan Ekonomi (Studi Kasus pada Komunitas Pendaurulang sampah di Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kuon, Kota Bandung) (Drs. Rosyadi)
  6. Partisipasi Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan Jawa Barat (Drs. Adeng, dkk)

Edisi 25/Desember 2001
  1. Pembangunan Lima Tahun DKI Jakarta: Studi tentang Pembangunan Perumahan Rakyat Periode Pelita I-IV (1969-1989) (Drs. Heru Erwantoro, dkk)
  2. Wawacan Nabi Muhammad, Satu Kajian Tema dan Fungsi (Drs. Suwardi Alamsyah P., dkk)
  3. Adat Pindah Rumah pada Orang Sunda di Masa Kini (Dra. Ria Intani T.)
  4. Corak dan Pola Hubungan Sosial Budaya Masyarakat Pulomerak Kabupaten Serang (Drs. Toto Sucipto, dkk)
  5. Seleh Taun Mapag Taun, Tinjauan Nilai Budaya di Kampung Cikondang Desa Lamajang Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung (Drs. Yuzar Purnama, dkk)

Edisi 26/Okeober 2002
  1. Peranan Buruh Pemetik Teh di Dalam Keluarga di Perkebunan Teh Gunung Cempaka Kabupaten Cianjur (Dra. Yanti Nisfiyanti, dkk)
  2. Wawacan Lokayanti, Satu Kajian Tema dan Fungsi (Drs. Suwardi A.P, dkk)
  3. Penumpasan DI/TII di Kabupaten Garut (1950 – 1962) (Drs. Herry Wiryono)
  4. Pergolakan Revolusi di Karesidenan Banten (1945 – 1949) (Drs. Heru Erwantoro)
  5. Peranan Saung Angklung Udjo dalam Proses Transformasi Budaya Sunda pada Generasi Muda di Kelurahan Pasir Layung Kecamatan Cibeunying Kidul Kota Bandung (Dra. Ria Andayani S.)
  6. Pengelolaan Wisata Berbasis Kebudayaan antara Peluang dan Tantangan (Studi Kasus Obyek Wisata Pangandaran dan Sekitarnya) (Dra. S. Dloyana K.)

Edisi 27/Desember 2002
  1. Cerita Rakyat di Kabupaten Pandeglang (Dra. Lina Herlinawati, dkk)
  2. Sejarah Kota Cianjur (1800 – 1945) (Dra. Lasmiyati, dkk)
  3. Mobilitas Tenaga Kerja Antarsektor Pekerjaan di Kabupaten Karawang (Dra. Ani Rostiyati, dkk)
  4. Nagara Pasundan (Suatu Tinjauan Berdirinya Dua Negara Pasundan di Jawa Barat) (Drs. Adeng, dkk)
  5. Sistem Pengetahuan Masyarakat Ciptarasa Mengenai Tumbuhan Obat Tradisional Kabupaten Sukabumi – Jawa Barat (Drs. Nandang Rusnandar, dkk)
  6. Pola Hubungan Sosial Antaretnik (Studi Kasus tentang Pembauran Masyarakat Multietnik di Perumnas Cijerah II Kota Administratif Cimahi) (Drs. Yudi Putu S.)

Edisi 29/November 2003
  1. Babad Sumedang sebagai Karya Sastra Sejarah (Drs. Nandang Rusnandar)
  2. Arsitektur Tradisional Cina Pada Hunian Masyarakat Cina Benteng di Kabupaten Tangerang (Dra. Lina Herlinawati)
  3. Interaksi Sosial pada Masyarakat di Daerah Pinggiran (Drs. T. Dibyo Harsono)
  4. Tjimande Tarikolot Kebon Jeruk Hilir Kabupaten Lebak (Riwayat dan Perkembangannya) (Drs. M. Halwi Dahlan)
  5. Struktur Sosial Masyarakat Nelayan (Studi kasus mengenai nelayan miskin di Kabupaten Subang) (Drs. Toto Sucipto)
  6. Kajian Mitos dan Nilai Dalam Cerita Rakyat di Kabupaten Subang (Drs. Tjetjep Rosmana)
  7. Transformasi Nilai Budaya pada Masyarakat di Kabupaten Subang (Drs. Rosyadi)
  8. Buyut Orenyeng Carita Pantun dari Lebak Propinsi Banten (Drs. Yuzar Purnama)
  9. Sejarah Koperasi di Kabupaten Tasikmalaya (Studi tentang Perkembangan Pusat Koperasi Pegawai Negeri di Tasikmalaya) (Drs. H. Iwan Roswandi)

Edisi 30/April 2005
  1. Visi Misi Tembang Cianjuran yang Terwujud pada Wanda Pepantunan (Drs. Agus Heryana)
  2. Sistem Pengobatan Tradisional Terhadap Penderita Ketergantungan Narkoba (Drs. Aam Masduki)
  3. Peranan Sektor Informal dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Desa Cipanas Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur (Dra. S. Dloyana Kusumah)
  4. Budaya Spiritual di Makam Syeh Sunan Rohmat Kampung Godog Karangpawitan Kabupaten Garut (Drs. Endang Supriatna)
  5. Peranan Perempuan di Kampung Nelayan (Studi Kasus Tentang Peranan dan Fungsi Istri Nelayan di Pangandaran Kabupaten Ciamis) (Dra. Enden Irma Rachmawaty)
  6. Pengrajin Senapan Angin di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang (Drs. Yudi Putu Satriadi)
  7. Perlawanan Ulama dan Santri Banten Terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda Tahun 1888 (Drs. Herry Wiryono)
  8. Sejarah Pesantren Darussalam Ciamis (Drs. Adeng)
  9. Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Formal di Desa Cieurih Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka (Dra. Nina Merlina)

Edisi 31/Juli 2005
  1. Wisata Sejarah di Kabupaten Kuningan (Studi tentang Perkembangan Wisata Sejarah di Kabupaten Kuningan) (Dra. Euis Thresnawati)
  2. Menelusuri Kejayaan Tenun Majalaya (Dra. Ria Intani T.)
  3. Upacara Ngalungsur Pusaka di Kab. Garut (Dra. Ria Andayani S.)
  4. Nilai Budaya dalam Permainan Rakyat di Kabupaten Indramayu (Drs. Suwardi A.P.)
  5. Masa Pendudukan Jepang d Kabupaten Garut 1942 – 1945 (Drs. Heru Erwantoro)
  6. Gerakan Perlawanan Rakyat Indramayu (Dra. Lasmiyati)
  7. Kedamaian itu Datang dari Susuru (Studi Awal tentang Tipologi Budaya Spiritual Masyarakat Dusun Susuru) (Dra. S. Dloyana K.)
  8. Pola Pengasuhan Anak pada Masyarakat Kampung Adat Mahmud Desa Mekarrahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung (Dra. Yanti Nisfiyanti)
  9. Wacana Perempuan dalam Teks Naskah Purnama Alam (Sebuah Kajian Naskah Kuno di Kabupaten Sukabumi) (Dra. Lina Herlinawati)

Edisi 32 tahun 2005
  1. Inventarisasi dan Analisis Ungkapan Tradisional di Kabupaten Tasikmalaya (Drs. Yuzar Purnama)
  2. Perlindungan Sosial Tradisional Pada Komunitas Adat Kasepuhan Ciptarasa (Drs. Toto Sucipto)
  3. Nilai Budaya Masyarakat di Lingkungan Kawasan Industri (Dra. Ani Rostiati)
  4. Keserasian Sosial dan Partisipasi Suku Bangsa Lampung Dalam Pembangunan di Pedesaan (Drs. T. Dibyo Harsono)
  5. Bambu Dalam Kehidupan Masyarakat Sunda (Drs. Nandang Rusnandar)
  6. Bis Kota PPD (Pengangkutan Penumpang Djakarta) (Drs. M. Halwi Dahlan)
  7. Sejarah Kota Tasikmalaya (Drs. H. Iwan Roswandi)
  8. Kajian Nilai Budaya (Drs. Tjetjep Rosmana)
  9. Pengaruh Juragan Terhadap Pola Kehidupan Nelayan di Kabupaten Indramayu (Drs. Hermana)
  10. Potensi Kebudayaan Bagi Pengembangan Desa Wisata di Kampung Cikondang Kabupaten Bandung (Drs. Rosyadi)

Edisi 33 tahun 2005
  1. Pelabuhan Penyeberangan Merak – Bakauheni (1912-2004) (Drs. M. Halwi Dahlan)
  2. Fungsi Leuit Bagi Masyarakat Desa Cidikit, Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak (Dra. Nina Merlina)
  3. Tapis Lampung (Dra. Ria Intani T)
  4. Wawacan Suriaadimulya (Drs. Suwardi Alamsyah P.)
  5. Sejarah Perkebunan Tebu dan Pabrik Gula di Daerah Cirebon pada Masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda (Drs. Herry Wiryono)
  6. Sejarah Kota Depok (Drs. H. Iwan Roswandi)

Edisi 36/Maret 2007
  1. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Agama Islam Di Banten (Drs. Adeng)
  2. Hubungan Antaretnik: Model Penyesuaian Orang Sunda Di Tengah-Tengah Etnik Lain Di Lampung (Drs. Yudi Putu Satriadi)
  3. Fungsi dan Makna Kesenian Samrah Di Kampung Ciharuman Desa Jelegong Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung (Dra. Enden Irma R)
  4. Pendidikan Seks dalam Keluarga (Dra. Ria Andayani S.)
  5. Kepercayaan Terhadap Dewi Sri dan Perwujudannya Dalam Kehidupan Masyarakat Pedesaan Di Kabupaten Subang (Drs. Rosyadi)
  6. Sejarah Perkebunan Teh Malabar (Dra. Euis Thresnawaty)
  7. Indung; Konsep dan Aktualitas Perempuan Sunda (Drs. Agus Heryana)
  8. Sejarah dan Perkembangan Transmigrasi Di Indonesia: Gedongtataan Di Propinsi Lampung (Drs. M. Halwi Dahlan)
  9. Sejarah Pemerintahan Kabupaten Sukabumi: Studi Tentang Perkembangan Pemerintahan Di Kabupaten Sukabumi (Drs. Herry Wiryono)
  10. Sistem Pengetahuan Tradisional pada Masyarakat Nelayan Karangantu, Banten (Dra. Nina Merlina)

Edisi 37/Juni 2007
  1. Sistem Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Garut (Drs. Suwardi Alamsyah P.)
  2. Kajian Nilai Budaya dalam Ungkapan Tradisional Masyarakat Cirebon (Drs. Tjetjep Rosmana)
  3. Bencana Krakatau 1883: Suatu Kajian Sejarah (Iim Imadudin, S.S)
  4. Syekh Siti Jenar: Tokoh Kontroversial Penyebar Agama Islam (Drs. Hermana)
  5. Kesenian Gembyung pada Masyarakat Banceuy di Kabupaten Subang: Sebuah Ekspresi Seni Dan Aktualisasi Kepercayaan Masyarakat (Dra. Lina Herlinawati)
  6. Fungsi Puisi Sisindiran (Pantun) Bahasa Sunda di Kabupaten Bandung (Drs. Aam Masduki)
  7. Kepercayaan Masyarakat Kelurahan Andir Kecamatan Baleendah (Drs. Nandang Rusnandar)
  8. Sistem Gotong Royong pada Masyarakat Sumedang (Dra. Yanti Nisfiyanti)
  9. Sejarah Perkembangan Kota Cimahi (Dra. Lasmiyati)
  10. Puncak Peradaban Priyayi di Kabupaten Sumedang (Drs. Heru Erwantoro)
  11. Kesenian Sisingaan di Kabupaten Subang (Drs. Toto Sucipto)
  12. Kesenian Celempungan Di Kabupaten Purwakarta (Irvan Setiawan, S.Sos.)
  13. Sistem Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Banceuy di Kabupaten Subang (Dra. Ria Intani T.)

Edisi 38/September 2007
  1. Sejarah Kabupaten Pandeglang (Drs. M. Halwi Dahlan, Dkk)
  2. Upacara Mapag Sri di Kabupaten Majalengka (Dra. Ria Intani T., Dkk)
  3. Sejarah Kabupaten Ciamis (Drs. Adeng, Dkk)
  4. Upacara Tradisional Pineng Ngarebung Sangggar pada Masyarakat Adat Pepadun Lampung (Drs. Aam Masduki, Dkk)
  5. Fungsi dan Peranan Museum: Studi Kasus Museum di DKI Jakarta (Dra. Euis Thresnawaty, Dkk)
  6. Luqmanulhakim (Drs. Agus Heryana, Dkk)
  7. Sejarah Perkembangan Kota Cirebon (1900-2005) (Dra. Lasmiyati, Dkk)
  8. Cerita Rakyat di Kabupaten Majalengka (Drs. Nandang Rusnandar, Dkk)
  9. Sejarah Industri di Cikampek, Kabupaten Karawang 1975-2005 (Iim Imadudin, S.S., Dkk)
  10. Kepercayaan Masyarakat Kasepuhan Cicarucub dalam Aktivitas Pertanian (Dra. Nina Merlina, Dkk)
  11. Arsitektur Tradisional Bangunan Masyarakat Baduy Panamping (Drs. Suwardi Alamsyah P., Dkk)

Edisi 39/Desember 2007
  1. Sejarah Kabupaten Purwakarta (Drs. H. Iwan Roswandi, Dkk)
  2. Arsitektur Tradisional Lampung (Drs. Tjetjep Rosmana, Dkk)
  3. Tradisi Pesantren Turus Desa Kabayan Pandeglang (Drs. Yudi Putu Satriadi, Dkk)
  4. Bangunan Peninggalan Sejarah Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Drs. Heru Erwantoro, Dkk)
  5. Kitab Tauhid (Drs. Hermana, Dkk)
  6. Budaya Tradisional Pada Masyarakat Betawi (Drs. Yuzar Purnama, Dkk)
  7. Peninggalan Sejarah Sebagai Obyek Wisata di Pandeglang (Drs. Herry Wiryono, Dkk)
  8. Tempat-Tempat Keramat di Kabupaten Serang Banten (Dra. Enden Irma R., Dkk)
  9. Keramik Plered (Irvan Setiawan, Dkk)
  10. Penanaman Nilai Budaya di Pesantren Salafiyah di Serang Propinsi Banten (Drs. Endang Supriatna, Dkk)
  11. Peranan Pemimpin Adat pada Masyarakat Banceuy (Dra. Ani Rostiyati, Dkk)

Edisi 40, No. 1/April 2008
  1. Sawen Penolak Bala pada Masyarakat Kampung Banceuy (Dra. Ria Andayani S., Dkk)
  2. Kosmologi Sunda Dalam Cerita Pantun (Drs. Agus Heryana)
  3. Kerajinan Tradisional Dari Bahan Logam Di Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya (Dra. Enden Irma R.)
  4. “Gantang Wangi” Carita Pantun dari Subang Analisis Struktur dan Nilai (Drs. Yuzar Purnama)
  5. Kepercayaan Tradisional dan Ketakwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dalam Sistem Sosial Budaya Masyarakat Betawi di DKI Jakarta (Drs. Endang Supriatna)
  6. Amalgamasi: Etnik Cina dengan Sunda di Dileungsi Kabupaten Bogor (Drs. Yudi Putu Satriadi)
  7. Makam Keramat Syekh Magelung Sakti (Drs. Hermana)
  8. Tradisi Ngahiras sebagai Modal Sosial Kegotongroyongan pada Masyarakat Pedesaan Di Kabupaten Subang (Drs. Rosyadi)
  9. Folkor ‘Tradisi Lisan Dalam Peribahasa’ di Desa Rancakalong Kabupaten Sumedang sebagai Informasi Kebudayaan (Drs. Nandang Rusnandar)
  10. Silat Betawi Tempo Dulu dan Sekarang (Irvan Setiawan, S.Sos)

Edisi 40, No. 2/Agustus 2008
  1. Sistem Kepemimpinan pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub (Dra. Nina Merlina)
  2. Konservasi Tradisional pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub (Drs. Suwardi Alamsyah P.)
  3. Arsitektur Tradisional di Daerah Kasepuhan Cicarucub (Dra. Lina Herlinawati)
  4. Konsep Tata Ruang Rumah pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub (Dra. Ria Intani T.)
  5. Adat Perkawinan pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub (Dra. Yanti Nisfiyanti)
  6. Sistem Ekonomi Tradisional pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub (Dra. Ani Rostiyati)
  7. Budaya Spiritual di Lingkungan Makam Sultan Maulana Yusuf (Drs. Yuzar Purnama)
  8. Kajian Cerita Rakyat Lampung (Drs. Tjetjep Rosmana)

Volume 40, No. 3/Desember 2008
  1. Kerajaan Tradisional Banten (Drs. Adeng)
  2. Upaya Perlindungan Sosial Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi (Drs. Toto Sucipto)
  3. Sejarah Kota Sukabumi dari Zaman ke Zaman (Drs. Herry Wiryono)
  4. Toponimi di Kota Cirebon (Dra. Lasmiyati)
  5. Hubungan Lampung-Banten dalam Perspektif Sejarah (Iim Imadudin, S.S.)
  6. Lampung Selatan dalam Tinjauan Sejarah Daerah (Drs. M. Halwi Dahlan)
  7. Sejarah Kota Metro Bandar Lampung (Drs. H. Iwan Roswandi)
  8. Berdiri dan Berkembangnya Kabupaten Bandung (Dra. Euis Thresnawaty)
  9. Kabupaten Karawang Masa Pelita I (Drs. Heru Erwantoro)

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Banten

Edisi 36/Maret 2007


Oleh: Drs. Adeng


Abstrak

Masuknya agama Islam ke Jawa Barat, khususnya ke Banten, masih sulit untuk menentukan dengan tepat tentang waktu dan siapa yang pertamakali membawanya. Hal ini disebabkan kurangnya sumber primer untuk mengungkapkan masalah tersebut. Walaupun belum dapat dipastikan kapan waktunya, namun mengenai penyebaran dan pengembangan agama Islam di Banten dimulai sekitar tahun 1470 dan makin meningkat mulai tahun 1526.

Orang-orang yang berjasa dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam di daerah Banten, antara lain Sayid Rakhmat (Sunan Ampel), Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), Pangeran Sabakingkin (Pangeran Hasanuddin/Sultan Hasanudin), dan Faletehan (Fadhillah Khan).

Buddhiracana

Buddhiracana ◙ Vol. 1\No. 1\ September 1996 BKSNT Bandung
Nilai Budaya yang Terkandung dalam Arsitektur Tradisional Rumah Masyarakat Jawa Barat
(Drs. Toto Sucipto)

Drs. Herry Wiryono
Bandung Selatan:Basis Perjuangan Rakyat Mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia

Drs. Yuzar Purnama
Lengser,Sosok Seorang Abdi
Drs. Heru Erwantoro
Perfilman di Zaman perang: suatu Tinjauan Historis tentang kondisi perfilman nasional pada masa perang kemerdakaan
Drs.Agus Heryana
Orang Sunda itu peladang,Penyadap,dan Pemburu
Drs.Adeng
Masuknya Agama Islam ke Cirebon
Drs. Nandang Rusnandar
Sistem Pengetahuan Tradisional Kampung Naga 'Suatu Eksistensi Dinamika Berkehidupan di Tengah Arus Modernisasi'
Dra.Lasmiyati
Wisata Alam dan Sejarah di Bandung
Drs.Tjetjep Rosmana
Tari Tayub
Dra.Euis Thresnawaty
Sekilas Kesultanan Banten: Suatu Tinjauan Sejarah
Drs. Yudi Putu Satriadi
Sektor Informal di Kota Bandung Studi tentang Pedagang Pakaian Kaki Lima di sekitar Cicadas Bandung

Edisi 2
Drs. Muhamad Basri
Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Penyusunan Makalah atau Laporan Penelitian
Drs.TotoSucipto
Nelayan dan Kemiskinan Tinjauan Mengenai Tingkat Kesejahtraan Keluarga Nelayan
Drs.Heru Erwantoro
Perfilman Pada Masa Demokrasi Liberal Suatu Tinjauan Historis tentang Upaya Meletakan Dasar-dasar Pembangunan Perfilman Nasional
Drs.Herry Wiryono
Penumpasan Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat
Dra. Yanti Nisfianti.
Kesenian Tradisional Sebagai Aset Budaya
Dra. Dloyana Kusumah
Respect For Word Of Mouth Literary Art
Drs. Suwardi Alamsyah P.
Sawer dalam Perkawinan Adat Sunda
Drs.Yudi Putu Satriadi
Kebaya Sunda serta Dinamikanya
Drs.Yuzar Purnama
Ema Beurang dalam Percaturan Waktu
Dra.Lasmiyati
Wayang Golek:Sejarah dan Cara Pembuatannya
Drs.Tjetjep Rosmana
Wayang Cirebon Sebagai Media Komunikasi
Dra. Ani Rostiyanti
Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Pulo
Dra.Euis Thresnawaty
Paseban TRI Panca Tunggal Peninggalan Cagar Budaya Nasional Cigugur Kuningan
Drs.Adeng
Geger Cilegon 1888 Studi Kasus Keterlibatan Alim Ulama Banten melawan Kolonial Belanda
Drs.Endang Nurhuda
Majalengka dalam Lintasan Sejarah

Edisi 3
Dra. Ani Rostiyati
Perempuan Desa dalam Perspektif Sosiologis
Dra.Enden Irma Rachmawati
Drama Sunda di Jawa Barat
Dra.Euis Thresnawaty
Panjalu Tanah Penuh Magis di Kabupaten Ciamis
Dra.Lasmiyati
Rentetan Parjuangan Rakyat Bekasi
Dra.Lina Herlinawati
Makanan Khas,Khazanah Budaya yang Unik dan Menarik
Dra.S.Dloyana Kusumah
Mendidik Lewat Seni (Suara)
Drs. Adeng
Sekilas Lintas Perjuangan Pasundan Istri (PASI) 1930-1970
Drs.Agus Heryana
Masih Adakah Nyanyian Anak-anak Sunda
Drs.Nandang Rusnandar
Sumbangan Pensisikan Terhadap Perubahan Nilai Lama Pada Tingkatan Gelar Status Sosial Masyarakat Tradisional Jawa Barat
Drs.Suwadi A.P.
Upacara Pertanian
Drs.Tjetjep Rosmana
Motif Hias Gunungan Wayang
Drs.Toto Sucipto
Fungsi Tabu Pada Masyarakat Kampung Dukuh
Drs.Yuzar Purnama
Menyimak Aksara Caraka
Herry Wiryono
Perjuangan Kaum Buruh Menuntut Indonesia Merdeka 1900-1942

Edisi 4
Dra. Ani Rostiyati
Tabu:Konservasi Tradisional Pada Masyarakat Lokal
Dra.Euis Thresnawaty
Potensi Pariwisata Bangunan Bersejarah di Banten Lama
Dra.Lasmiyati
Sekilas Mengenal Peninggalan Sejarah dan Budaya di kabupaten Bekasi
Dra.S.Dloyana Kusumah
Plangon:Wisata Alternatif di Jawa Barat
Drs. Heru Erwantoro
Pola-Pola dalam Penulisan Sejarah Sosial
Drs.Aam Masduki
Kesenian Rengkong dalam Upacara Adat Panenan
Drs.Adeng
Ancaman dan Rongrongan Terhadap Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia: Sumbangan Sejarah dalam Memperkokoh jatidiri bangsa
Drs.Endang Nurhuda
Bagus rangin:Mitos dan Realita Historis
Drs.Herry Wiryono
Menelusuri Panorama Budaya Tamansari Sunyaragi Cirebon
Drs.Nandang Rusnandar
Bambu dalam Kesenian Orang Sunda
Drs.Suwardi Alamsyah.P.
Generasi Muda:Harapan dan Kenyataan
Drs.Tjetjep Rosmana
Upacara Adat Ngbeungkat
Drs.Toto Sucipto
Peranan Media Massa dalam Memperkuat Jatidiri Bangsa
Drs.Yudi Putu Satriadi
Persepsi Masyarakat Desa Trusmi Terhadap Upacara Memayu

Edisi 5
Dra.Ani Rostiyanti
Hubungan Patron Klien: Pemulung dan Lapak
Dra.Endang Nurhuda
Cirebon:Kota Sejarah dan Budaya
Dra.Euis Thresnawaty S.
Pers Indonesia sebagai Alat Pergerakan Nasional
Dra.Lasmiyati
Seputar Kontroversi PRP Negara Pasundan: Kasus Berdirinya dan dan Bubarnya Negara Pasundan Suria Kartelagawa
Dra.Nina Merlina
Tradisi Gotong Royong Pada Masyarakat Tajur Kabupaten Majalengka
Dra.Riya Andayani S.
Dinamika Pola Pengasuhan Anak
Dra.S.Dloyana Kusumah
Menyelamatkan Seni Tradisi untuk Memperkuat Jatidiri
Drs.Adeng
Museum Prabu Geusan Ulun:Jejak Leluhur "Menak Priangan"
Drs.Agus Heryana
Krisis Ekonomi, Krisis Pemimpin, Krisis Alternatif Penanggulangannya dalam Kerangka Budaya
Drs.H.Iwan Roswandi
Tujuan Kedatangan Sekutu Ke kota Bandung
Drs.Herry Wiryono
Angkatan Perang Ratu Adil:Pelaku Utama Teror di Bandung
Drs.Heru Erwantoro
Potensi Kabupaten Garut Sebagai Wisata Sejarah dan Budaya
Drs.Nandang Rusnandar
Kalangider/Kalender Sunda Sebuah Penggalian Spektakuler Karuhun Sunda
Drs.Suwardi Alamsyah
Wawacan
Drs.Tjetjep Rosmana
Dongeng Sunda Sebagai Media Penanaman Nilai Budaya
Drs.Toto Sucipto
Eksistensi Keraton di Tengah Peradaban Masa Kini
Drs.Yuzar Purnama
Seni Pantun

Edisi 6
Dra. Ani Rostianti
Cerita Rakyat Ratu Rara Sumedang: Kajian Nilai Budaya Dan Pengaruhnya Pada Masyarakat Cirebon
Dra. Ria Andayani S.
Tradisi Lidan Dalam Dimensi Dunia Anak
Dra. Yanti Nisfiyanti
Makanan Tradisional Sebagai Potensi Budaya Daerah
Dra.S.Dloyana Kusumah
"Jaringan" Arena Mencari Pasangan: (Fenomena budaya Masyarakat Parean Kec.Kadang Haur Kab Indramayu)
Drs. Nandang Rusnandar
Makna Simbolik Sesajen dan Kesenian Jentreng di Daerah Ranca Kalong Sumedang Jawa Barat
Drs. Suwardi Alamsyah P.
Konsistensi dan Dinamika Kehidupan Masyarakat Sunda Tercermin dalam Ungkapan Tradisional
Drs. Yuzar Purnama
Babad Darmayu
Drs.Aam Masduki
Pengalihan Aksara dan Pengalihan Bahasa
Drs.Agus Budi Wibowo
Teknik Pembuatan Tulisan Ilmiah Populer
Drs.Agus Heryana
WAWACAN: Tradisi Tulis Yang Dilisankan
Drs.Herry Wiryono
Perkembangan Pabrik Gula di Daerah Cirebon Pada Abad 19 M
Drs.Heru Erwantoro
Sejarah Kebudayaan Sebagai Suatu Pendekatan
Drs.Rosyadi
Potensi Kebudayaan dalam Pengembangan Kepariwisataan di Jawa Barat
Drs.Tjetjep Romana
Pemanfaatan Pekarangan dalam Kehidupan keluarga Pada Masyarakat Desa Cibodas Kecamatan Lembang Kabupeten Bandung
Drs.Toto Sucipto
Sektor Informal dan Masalah Ketenagakerjaan (Tinjaun Sisi Sosial,Ekonomi dan Budaya)

Edisi 7
Dra. Ani Rostianti
Cerita Rakyat Ratu Rara Sumedang: Kajian Nilai Budaya Dan Pengaruhnya Pada Masyarakat Cirebon
Dra. Ria Andayani S.
Tradisi Lidan Dalam Dimensi Dunia Anak
Dra. Yanti Nisfiyanti
Makanan Tradisional Sebagai Potensi Budaya Daerah
Dra.S.Dloyana Kusumah
"Jaringan" Arena Mencari Pasangan: (Fenomena budaya Masyarakat Parean Kec.Kadang Haur Kab Indramayu)
Drs. Nandang Rusnandar
Makna Simbolik Sesajen dan Kesenian Jentreng di Daerah Ranca Kalong Sumedang Jawa Barat
Drs. Suwardi Alamsyah P.
Konsistensi dan Dinamika Kehidupan Masyarakat Sunda Tercermin dalam Ungkapan Tradisional
Drs. Yuzar Purnama
Babad Darmayu
Drs.Aam Masduki
Pengalihan Aksara dan Pengalihan Bahasa
Drs.Agus Budi Wibowo
Teknik Pembuatan Tulisan Ilmiah Populer
Drs.Agus Heryana
WAWACAN: Tradisi Tulis Yang Dilisankan
Drs.Herry Wiryono
Perkembangan Pabrik Gula di Daerah Cirebon Pada Abad 19 M
Drs.Heru Erwantoro
Sejarah Kebudayaan Sebagai Suatu Pendekatan
Drs.Rosyadi
Potensi Kebudayaan dalam Pengembangan Kepariwisataan di Jawa Barat
Drs.Tjetjep Romana
Pemanfaatan Pekarangan dalam Kehidupan keluarga Pada Masyarakat Desa Cibodas Kecamatan Lembang Kabupeten Bandung
Drs.Toto Sucipto
Sektor Informal dan Masalah Ketenagakerjaan (Tinjaun Sisi Sosial,Ekonomi dan Budaya)

Edisi 8
Dra. Ani Rostiyati
Cerita Rakyat Si Kabayan Simbolisme dalam Tradisi Lisan
Dra. Enden Irma R
Masyarakat Pandaurulang Sampah Cigondewah
Dra. Euis Thresnawaty
Kiai Tapa: Pemimpin Perlawanan Rakyat Banten Terhadap VOC Belanda
Dra. Lasmiyati
Peranan Tentara Pelajar Batalyon 400 Cirebon dalam Menghadapi - Agresi Militer 1
Dra.S.Dloyana Kusumah
Kembali ke keluarga
Drs. Herry Wiryono
Balai Besar Djawatan Kreta Api Bandung Studi Sejarah Perjuangan Mempertahankan Balai Besar DKA - Bandung 1945 - 1950
Drs. Heru Erwantoro
Mengkaji Ulang Teori Masuknya Islam Ke Indonesia
Drs. Rosyadi
Sekilas Mengenai Adat Istiadat Masyarakat Baduy
Drs. Tjetjep Rosmana
Perkawinan Adat Sunda
Drs. Yuzar Purnama
JIN:Tinjauan Ilmu Supranatural
Drs.Adeng
Pangeran Geusan Ulun Pendiri Kerajaan SumedangLarang (1580 - 1608)
Drs.Agus Heryana
Aksara Sunda: Apa dan Bagaimana

Babad Sumedang Sebagai Karya Sastra Sejarah
(Drs.Nandang Rusnandar)

Drs.Toto Sucipto
Dinamika dan Filsafat Wayang
Drs.Yudi Putu Setriyadi
Progresifkah Atau Regresifkah ? Kasus Pergeseran Nlai Budaya Pada Komplek Perumahan Dikbud di Kelurahan Cijagra Bandung

Edisi 9
Dra. Lasmiyati
Negara Kesatuan Republik Indonesia Digoncang Perpecahan
Dra. S.Dloyana Kusumah
Bingkai Kerukunan Yang Terusik (Studi tentang peristiwa tawuran dan amuk massa di beberapa daerah Jawa Barat
Drs. Aam Masduki
Tasikmalaya:Alternatif Tujuan Wisata di Jawa Barat
Drs. Adeng
Imperialisme Dan Kolonialisme Belanda Mengakibatkan Penderitaan Rakyat Tatar Sunda
Drs. Agus Heryana
Pembinaan Karakter Anak Didik Melalui Sapta Watek
Drs. Anhar Gonggong
Memahami Keanekaragaman Budaya Untuk Kesatuan dan Persatuan Bangsa
Drs. Endang Nurhuda
Da' wah Wali Sanga
Drs. Herry Wiryono
Upaya Mempertahankan Negara Kesatuan RI Studi Kasus: Perjuangan Divisi Siliwangi menumpas pemberontakan PKI Muso di Madiun Tahun 1948
Drs. Heru Erwantoro
Memformat Kembali Konsep Kesatuan Dan Persatuan Republik Indonesia
Drs. Nandang Rusnandar
Persepsi Masyarakat Pantai Parangtritis Jogjakarta Terhadap Mitos Kanjeng Ratu Kidul
Drs.Tjetjep Rosmana
Konsep Nilai Persatuan Dan Kesatuan Dalam Ungkapan Tradisional Masyarakat Sunda

Edisi 10
Dra. Fauziah Nugrahaeni
Mudik Lebaran: Fenomena Sosial di Masyarakat (Suatu Kajian Sosiologi)
Dra. Euis Thresnawaty S.
Lebaran Tahun 70 -an di Bandung Daro Marcon Sampai Piknik Naik Truk
Dra. Enden Irma Rachmawati
Perkembangan Tari Serimpi Di Jawa Barat

Bandung Pada Abad Ke 19 - 20 Masehi Bandung Sebagai Tempat Migrasi Para Pemudik
(Dra. Lasmiyati)

Dra. Ria Intani .T
SurabiI Warung Imut Versus Surabi Emperan Upaya Merevitalisasi Penganan Tradisional
Dra. S.Dloyana Kusumah
Peran Perempuan Dalam Keluarga Sebuah Catatan Untuk Kaum Perempuan di Era Kesejagatan
Dra.Ani Rostiyati
Potret Buram Anak Jalanan
Drs. Adeng
Sejarah Perjuangan Partai Kebangsaan Indonesia (1949 - 1959)
Drs. H. Iwan Roswandi
Peristiwa 11 April Cibubuan Sumedang Studi Kasus Batalyon II Terumanaga Menjadi Batalyon 11 April
Drs. Heru Erwantoro
Tari Topeng:Media Dakwah Warisan Wali Sanga Studi Tentang Transformasi Budaya Islam Dalam Tari Topeng Cirebon
Drs. Nandang Rusnandar
Budaya Sunda Terkaya, Tertua,dan kesederhanaan Adalah Keasliannya

Merumuskan Format Kebudayaan Nasional Dengan Memahami Keanekaragaman Budaya Lokal
(Drs. Toto Sucipto)

Drs. Yudu Putu Satriyadi
Lebaran Di Desa dan Kota: Studi Komparatif Suasana Hari Idul Fitri di Desa dan di Kota
Drs.Herry Wiryono
Perjuangan Rakyat Jawa Barat Mempertahankan dan Menegakkan Kedaulatan Republik Indonesia Dari Rongrongan Sekutu (1945-1946)

Edisi 11
Drs.Heru Erwantoro
Lukisan Sebagai Sumber Sejarah
Dra.Ani Rostiyanti
Kehidupan Penjual Mie Bakso: Imigran Musiman di Bandung
Dra.Lasmiyati
Mencermati Gerakan Pemuda Dan Mahasiswa Dari Proklamasi Hingga Reformasi
Dra.Lina Herlinawati
Mengenal Masa Lalu Untuk Bersatu
Dra.Ria Intani T.
Seni Barong Alias BaronganI Upaya Pemberdayaan Akulturasi Budaya
Dra.S.Dloyana Kusumah
Future Of Children's Books
Dra.Yanti Nisfiyanti
Kesenian Ketuk Tilu Dalam Upacara Hajat Bumi di desa Cihanjuang Rahayu,Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung
Drs.Adeng
Babad Panjalu Dalam Tinjauan Sejarah
Drs.H.Yudi Putu Satriadi
Iklan Bercorak Etnik: Teknik Pemasangan iklan dalam Memenuhi Target Penjualan
Drs.Herry Wiryono
Pemindahan Pusat Pemerintahan RI Ke Yogyakarta 4 Januari 1946.
Drs.Nandang Rusnandar
Kampung Mahmudah dan Arsitekturnya
Drs.Tjetjep Rosmana
Nilai budaya Pada Upacara Babarit desa di Kabupaten Kuningan
Drs.Yuzar Purnama
Kampung Cikondang Sebuah Tinjauan Religin

Perlawanan Kultural Perempuan Pejuang (R.A. Lasminingrat dan Syaikhah Rahmah el Yunusiah)
(Iim Imaduddin)

Edisi 12
Pengadilan Brutal: Fenomena tindak Kekerasan dan Kerusuhan Massal
(Drs. Toto Sucipto)

Dra Ani Rostiyanti
Potensi Budaya Daerah Dalam Pengembangan Pariwisata
Dra. Euis Thresnawati S.
Pertempuran Dayeuh Kolot Momentun Kepahlawanan Rakyat Bandung Selatan
Dra. Fauziah Nugraheni
Memandang Upacara Tradisional Dengan Kacamata Sosiologi
Dra. Lasmiyati
Banten: Perjalanan Sejarah Menuju Sebuah Propinsi
Dra. Lina Herlina Wati
Pasar Tradisional di Kota Bandung (Sebuah Dilema di Masa krisis Ekonomi)
Dra. Ria Intani Tresnasih
Jalukan dan Mamajang Sebagai Tali Pengikat Perkawinan
Dra. S. Dloyana Kusumah
Potret Buram di Sudut Alun-Alun Bandung (Studi Tentang Anak-anak Perempuan di Dunia Industri Seksual)
Drs. Herry Wiryono
Palangan Bojongkokosan 9 Desember 1945
Drs. Yudi Putu Satriadi
Pembantu Rumah Tangga (Gambaran Tentang Fenomena dan Problematika Pembantu di Rumah Tangga)
Drs.Adeng
Rd. Dewi Sartika: Tinjauan Mengenai Peran Serta Dewi Sartika dalam Memberantas Kebodohan Pada Zaman Kolonial Belanda
Drs.Heru Erwantoro
Upaya Raffles Mengikis Kebudayaan Indis di Jawa 1811-1816
Drs.Rosyadi
Mitologi Penajdian Alam Semesta dan Manusia Dalam Religi Beberapa Suku Bangsa di Indonesia

Edisi 13
M. Halwi Dahlan
Pengaruh Penjajahan Belanda
Dra. Agus Heryana
Papantunan: Telusuran Laras Arti dan makna
Dra. Ani Rostiani
Pengetahuan Generasi Muda Tentang Upacara Perkawinan Adat
Dra. Enden Irma Racmawati
Aktivitas Relegius Dan Ritualitas Masyarakat Kampung Pamijen Kabupaten Cirebon
Dra. Euis Thresnawati

Dra. Lasmiati
Peranan Perempuan Dalam Pemerintahan
Dra. Ria Intani
Tradisi si bulan Maulud
Dra. S.Dloyana Kusumah
Indonesia Childrens Traditional Songs, Dances, Games And Story Telling
Dra.Lina Herlinawati
(Sirih dalam Kehidupan Sosial Masyarakat)
Drs. Adeng
Cultur Stellsel
Drs. H. Iwan Roswandi
Perjuangan Pemuda Indonesia Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Drs. H. Yudi Putu Satriadi
Penyewaaan Lampu Patromaks
Drs. Herry Wiryono
Subang: Basis Gerilya Badan Perjuangan Melawan Belanda1946-1949
Drs. Heru Erwantoro
Ilmu Sejarah dan Tantangan Jaman
Drs. Tjetjep Rosmana, Drs. Yuzar Purnama
Dewi Sri, Sebuah Kajian

Mobilitas Tenaga Kerja dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Tentara Pelajar Kuningan
(Drs. Toto Sucipto)

Drs.Yuzar Purnama
Ande-ande Lumut: Cerita Rakyat Dari Indramayu

Edisi 14
Drs. M.Halwi Dahlan
Fenomena Kompromi Dalam Sejarah Indonesia
Dra. Lasmiati
Mengenal Prabu Geusan Ulun, Raja di Sumedang Larang
Dra. S. Dloyana Kusumah
Ngerumpi Wujud Tradisi lisan di Kalangan Perempuan Modern
Drs. Adeng
Pelabuhan Cirebon Dalam Sejarah Indonesia
Drs. Agus Heryana
Seni Ibing Penca Sebuah Upaya Menemukenali Jatidiri Generasi Muda di Jawa Barat
Drs. Herry Wiryono
Peranan Masyarakat Leles Dalam Penumpasan Gerombolan DI/TII
Drs. Toto Sucipto
Budaya Masyarakat Perbatasan Kasus Masy Langgen Kab Ciamis
Drs. Yudi Putu Satriadi
Prinsip Resiprositas dan Implikasinya Terhadap Interaksi Sosial
Dra. Ani Rostiati
Cina Muslim Proses Adaptasi dan perubahan Kebudayaan
Dra. Enden Irma Racmawati
Sistem Kekerabatan Masyarakat kampung Urug di Bogor
Dra. Euis Thresnawati
Punggung Raharjo Obyek Wisata Objek Wisata Sejarah di Propinsi Lampung.
Dra. Lina Herlina
Rambut Mahkota Sepanjang Jaman
Dra. Yanti Nisfianti
Nuansa Islam Dalam Tradisi Masyarakat Cirebon
Drs. Dibyo Harsono
Sekilas Mengenal Masyarakat Suku Anak Dalam (Masyarakat Kubu) di Jambi
Drs. Nandang Rusnandar
Pelestarian Rumah-rumah yang Berarsitektur Kuno Merupakan Peninggalan Sejarah dan Budaya Daerah Setempat
Drs. Aam Masduki
Upacara Nyangku
Dra. Ani Rostiyanti
Upacara Hajat Sasih Di Kampung Naga:(Kjian Tentang Struktur Dan Fungsi Upacara Adat)
Dra. Enden Irma Racmawaty
Kearifan Tradisional Masyarakat Kampung Kuta Di Ciamis
Dra. Euis Thresnawaty
Inggit Garnasih (Catatan Kecil Bersama Soekarno)
Dra. Lasmiyati
Fungsi Alun-Alun Dalam Tinjauan Sejarah (Kasus Alun-Alun Cirebon Dan Bandung)
Dra. Lina Herlinawati
Trotoar " Peruntukan Yang Terantuk-Antuk Untuk Pejalan Kaki "
Dra. Ria Andayani & Dra. Ria Intani
Candi Bojong Menje Dalam Kenyataan Dan Foklor
Dra. S.Dloyana Kusumah
Prospek Penelitian Sejarah Dan Naskah-Naskah Di Jawa Barat
Drs. Adeng
Sistem Pemerintahan Kabupaten Bandung Di Daerah Pengungsian Bandung Selatan Masa Perang Kemerdekaan
Drs. Agus Heryana
Pengkajian Naskah Sunda (Studi Naskah Di Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Bandung)
Drs. Dibyo Harsono
Sekilas Mengenal Joged Dangdut Pada Masyarakat Melayu
Drs. Herry Wiryono
Budaya Islam Pada Arsitektur Kota Pelabuhan Cirebon
Drs. Heru Erwanto
Film Sebagai Media Penyampai Sejarah
Drs. Nandang Rusnandar
Bahasa Dalam Dinamika Budaya Wujud Tradisi Lisan Di Kalangan Perempuan Modern
Drs. Rosyadi
Perintisan Desa Wisata Di Pagerageng Ciawi Tasikmalaya
Drs. Tjetjep Rosmana
Sistem Pengetahuan Alam Pada Masyarakat Desa Cibodas,Kecamatan Kadupundak Kabupaten Cianjur

Popular Posts