WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Mensosialisasikan Tatakrama sebagai Alternatif Pilihan dalam Menyikapi Masalah Remaja

Oleh: Dra. S. Dloyana Kusumah

Abstrak
Tulisan ini mengulas tentang kiat-kiat menghadapi permasalahan remaja dengan menanamkan atau mensosialisasikan tatakrama kepada remaja. Dalam upaya itu, para remaja perlu memahami benar nilai budaya bangsa sendiri; orang tua atau pendidik hendaknya menganggap remaja sebagai mitra tanpa kehilangan wibawanya; serta kedudukan dan peranan keluarga sebagai lembaga sosial yang mampu membina kerjasama ekonomi dan memperbaharui komponen pendukung masyarakat perlu digiatkan kembali.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 17, Februari 1999

Peranan Masyarakat Kuningan dalam Mempertahankan Kedaulatan Republik Indonesia Periode 1945 – 1950

Oleh: Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Penelitian peristiwa sejarah ini mencakup ruang lingkup spasial dan ruang lingkup temporal. Ruang lingkup spasial penelitian adalah daerah Kuningan. Sedangkan ruang lingkup temporal adalah periode perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI dari serangan musuh sejak tahun 1945 sampai 1950.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 17, Februari 1999

Eksistensi Keraton di Tengah Peradaban Masa Kini

Oleh: Drs. Toto Sucipto

Abstrak
Akhir-akhir ini, keraton (beserta kebudayaannya) semakin menempati posisi marginal karena terdapatnya perubahan sikap dan pandangan masyarakat terhadap keraton akibat derasnya arus budaya dunia dan lingkungan global. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya secara perlahan – namun pasti – eksistensi keraton di tengah peradaban masyarakat akan memudar.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 21, Juli 2000

Perubahan Sikap Masyarakat (Dampak Pembangunan Pabrik Sandang terhadap Proses Sosialisasi dan Sikap dalam Pendidikan Anak di Desa Malakasari Kecamatan

Oleh: Dra. S. Dloyana Kusumah

Abstrak
Penelitian ini menggambarkan perubahan mata pencaharian di Desa Malakasari yang mempengaruhi proses sosialisasi dan sikap terhadap pendidikan anak. Adanya pabrik sandang Bajatex di desa tersebut, selain dapat meningkatkan ekonomi keluarga, juga menyebabkan berkurangnya intensitas interaksi antarindividu karena waktu untuk berkumpul/bertemu dengan keluarga dan tetangga sangat terbatas. Dampak lain, digantikannya cara mendidik anak seperti orang tua dahulu dengan cara yang lebih praktis.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 15, Agustus 1998

Peranan Kuncen dalam Kehidupan Masyarakat Kampung Pulo

Oleh: Dra. Ani Rostiati, dkk.

Abstrak
Dalam penelitian ini diungkapkan mengenai keberadaan kuncen sebagai ketua adat Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Kuncen mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat Kampung Pulo, terutama peranannya dalam aspek sosial, aspek pemerintahan, dan aspek hukum. Dengan demikian secara keseluruhan penelitian ini membahas peranan kuncen dalam mempertahankan adat dan sebagai media pemerintah dalam menyampaikan program pembangunan.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 15, Agustus 1998

Rona-rona Batik Dermayon

Oleh: Dra. Ria Intani T., dkk.

Abstrak
Hasil penelitian ini dapat menjawab kepenasaran orang akan apa itu Batik Dermayon. Batik Dermayon kebanyakan merupakan industri rumah tangga. Berdasarkan cara pembuatannya tergolong batik tradisional, dan dilihat dari bahan, peralatan, serta sistem teknologinya menunjukkan adanya hampir kesamaan antara Indramayu dengan daerah lainnya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 15, Agustus 1998

Sistem Religi Kampung Urug, di Desa Kiarapandak, Kecamatan Ciugudeg, Kabupaten Bogor

Oleh: Drs. Endang Supriatna, dkk.

Abstrak
Penelitian ini menguraikan berbagai sistem religi masyarakat Kampung Urug di antaranya tentang dunia karuhun, mitos, kepercayaan terhadap hidup dan mati, tempat dan benda yang dianggap keramat. selain itu, diuraikan pula sistem keagamaan, seperti bersaji di tempat keramat, baik itu di patengahan maupun di pararingan.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 14, Juli 1998

Sistem Pengetahuan Lokal Nelayan di Desa Mancagahar Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut

Oleh: Dra. Ria Andayani S., dkk.

Abstrak
Penelitian ini memang cukup menarik, di dalamnya memuat berbagai pengetahuan yang dimiliki para nelayan di Desa Mancagahar. Di antaranya, pengetahuan tentang dunia mereka khususnya mengenai lautan, pengetahuan tentang lingkungan alam dan cuaca, pengetahuan mengenai cara menangkap ikan, serta pengetahuan tentang pembuatan perahu dan jaring. Dari keseluruhan pengetahuan lokal tersebut ada yang merupakan adopsi dari kelompok nelayan yang berasal dari daerah lainnya, dan tak sedikit pula yang merupakan milik nelayan Desa Mancagahar sendiri.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 15, Agustus 1998

Peninggalan Sejarah sebagai Obyek Wisata di Kabupaten Kuningan

Oleh: Dra. Euis Thresnawati, dkk.

Abstrak
Penelitian ini menyoroti berbagai peninggalan sejarah yang berupa situs, monumen, makam-makam, dan bangunan-bangunan sejarah yang terdapat di Kabupaten Kuningan.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 14, Juli 1998

Eksistensi Permainan Tradisional Anak-anak Jawa Barat di Abad Modernisasi

Oleh: Dra. Ria Intani T.

Abstrak
Dari penelitian ini terungkap bahwa Desa Cibodasasih kaya dalam permainan tradisional anak-anaknya. Namun demikian pada abad modernisasi ini, permainan tradisional anak-anak tersebut berlangsung dengan saingan yang cukup ketat. Artinya, banyak permainan baru masuk bersama-sama berlangsung di desa ini. Permainan baru tersebut bukan merupakan faktor satu-satunya penyebab perubahan. Berbagai dimensi mempengaruhi hingga permainan tersebut berubah pada beberapa aspeknya, seperti peralatan, waktu, tempat dan jenis kelamin pemainnya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 17, Februari 1999

Sistem Budaya Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya

Oleh: Drs. Nandang Rusnandar, dkk

Abstrak
Penelitian ini mengungkapkan sistem budaya yang ada di Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya. Di antaranya, sistem teknologi yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Naga. Demikian pula sistem pengetahuan tentang pertanian, perbintangan dan bahkan teknologi arsitektur tradisional yang menjadi ciri Kampung Naga. Keseluruhan sistem budaya ini dapat memberikan gambaran bahwa kelestarian budaya Kampung Naga masih dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 16, Desember 1998

Bandung Pada Abad Ke 19 - 20 Masehi (Bandung sebagai Tempat Migrasi Para Pemudik)

Oleh: Dra. Lasmiyati

Abstraksi.
Pada tahun 1864 terjadi pemindahan kantor karesidenan dart Cianjur ke Bandung. Rombongan pejabat karesidenan yang pindah adalah (tahun 1864), atas kepala kantor yaitu Residen Van der Moore sendiri, seorang sekeretaris, seorang komis, seorang mantri kesehatan, seorang guru, dan seorang notaris. Menurut para sesepuh Sunda perpindahan tersebut sesuai dengan cacandran atau tanda-tanda jaman, seperti yang tertulis dalam ramalan Bandung (uga Bandung) yang berbunyi: Bandung heurin ku tangtung, Cianjur katalan¬juran, Sukabumi tinggal resmi, Sumedang ngarangrangan, Sukapura ngadaun ngora, Galunggung ngadeg Tumenggung. Artinya: Bandung padat penduduknya, Cianjur cuma kelewatan, Sukabumi cuma nama resmi, Sumedang tinggal meranggas, Sukapura akan maju ekonominya, Galung¬gung mengambil penman (Haryoto Kunto: 1984: 19).

Ungkapan sesepuh Sunda tersebut pada kenyataan sekarang mengandung makna bahwa, Kota Bandung dewasa ini yang heurin ku tcmgtung artinya dengan segala aktivitas, penuh sesak, jalan macet oleh kendaraan dan penduduknya padat Dengan demikinan, Bandung yang semula sepi telah berubah menjadi Bandung dengan penduduk yang padat. Hal ini mungkin disebabkan adanya migrasi, baik migrasi dart desa ke kota (kota kecil seperti Garut, Ciamis, ke Bandung) atau migrasi dart luar provinsi seperti Jawa Tengah dan Jawa Tirnur. Para migran itulah yang akhirnya menempati beberapa daerah di Kota Bandung ini.

Pendahuluan.
pada hulan Januari tahun 2000 ini, masyarakat Islam merayakan hari kemenangan ldul Fitri,. sebagian masyara¬kat Indonesia, khususnya yang ada di Pulau Jawa dan sebagian Sumatra, dalam menyambut hari Idul Fitri tidak lepas (tali tradisi, "Pulang Mudik". Sebagian kala¬ngan mengatakan mudik sudah menjadi budaya mereka. Tradisi mudik merupakan akibat dari me¬reka yang melakukan migrasi. Migrasi yang bagi para migran sering diartikan sebagai meran¬tau, sebagai mudik lebih diang gap sebagai keharusan Dari tahun ke tahun pelaku tradisi mudik selalu mengalami peningkatan Berkaitan dengan mudik ini. Gubernur DK1 Jakarta bebetapa waktu lalu, pernah menghimbau para pemudik dari Jakarta agar melakukan balik ke daerah rantau (Jakarta khususnya) tidak membawa sanak keluarga atau teman kerabatnya, yang tidak mempu¬nyai KTP DKI atau keahlian khu¬sus. Sebab pendatang yang tidak mempunyai dua ketentuan tersebut, akan merepotkan pihak pe¬merintah daerah setempat, selain tidak mempunyai tempat tinggal, mereka pun tidak mempunyai pekerjaan.

Perilaku budaya mudik tidak hanya dominan warga Jakarta, tetapi juga Bandung. Para pemudik dari Bandung dapat dilihat pada, saat menjelang lebaran, di dua terminal bus, baik Cicaheum maupun Leuwipanjang. Belum lagi mereka yang menggunakan jasa kereta api dan kendaraan pribadi baik roda empat maupun dua, jalur jalan Rancaekek-Para¬kan Muncang (jurusan Tasik¬malaya / Garut menuju Jawa Tengah /Jawa Timur).

Situasi dan kondisi para perantau (migran) di Bandung yang mudik ke kota-kota di Jawa, ba¬nyak diliput Barat atau luar pro¬vinsi Jawa. media massa, cetak dan elektronik sedangkan mere¬ka merantau (migrasi), apa Tatar belakang dan sebab-sebab me¬rantau (migrasi) masih sangat ter¬batas pada kenyataan ini.

Akan dibahas tentang Bandung pada abad ke 19 - 20, Bandung sebagaitempat Migrasi Para Pemudik”.

Bandung Sebagai Tujuan Kaum Migran
Kepadatan dan distribusi penduduk di Indonesia, antara sa¬tu daerah dengan daerah lainnya tidak seimbang, Ada daerah yang luas, dan kurang penduduknya ada daerah yang sempit tapi padat penduduknya. Adanya per-bedaan kepadatan penduduk ter¬sebut menyebabkan ada kecen¬derungan penduduk di daerah padat untuk pindah kedaerah yang tingkat kepadatan pen¬duduknya relatif rendah. Pada kenyataannya, malah sebaliknya justru penduduk daerah kosong beramai-ramai pindah ke daerah padat dengan alasan untuk mencari pekerjaan. Pada dasarnya perpindahan penduduk mempunyai sifat, yaitu perseorangan, dan kelompok. Sifat perseorangan dapat disebabkan faktor ekonomi, pekerjaan dan pendidikan, sedangkan perpindahan secara ke¬lompok dapat disebabkan adanya bencana alam, kondisi alam yang tandus, dan lain-lain.

Migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain untuk menetap (BBI : 582). Orang yang melakukan migrasi disebut migran. Usman Pelly dengan mengambil contoh suku Minangkabau menyebabkan satu model migrasi rakyat dari Minangkabau yang sering di sebut merantau adalah perpindahan tradisional. Perpindahan ini tidak berarti ada komitmen untuk berdiam seterusnya di da¬erah rantau . Para perantau yang kembali biasanya membawa ke¬kayaan, kekuasaan, serta prestise barn (Usman Pelly, 1994: 8-9).

Proses migrasi sebenarnya berkaitan erat dengan daya tarik daerah tujuan dan sarana tranfortasi. Pembukaan jalur kereta api yang menghubungkan Kali¬saat dan Banyuwangi pada (tahun 1901), menjadi salah satu pen¬dorong migrasi dari Jawa Tengah ke Ujung Jawa sebelah Timur yang masih kosong. Sejak awal abad itulah maka daerah Kedu, Yogyakarta, Madura, Kediri, dan Madiun adalah daerah yang melepaskan migran-migran ke daerah lain. (Marwati Djoened, 1990: 115).

Daerah tujuan para migran umumnya kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung. Beberapa faktor atau alasan para migran incmilih migrasi ke Bandung, adalah karena Beberapa faktor yang menjadikan Bandung sebagai salah satu tujuan kaum migran adalah :

a. kondisi Alam
Kedatangan datangnya tiga orang Eropa yaitu Pieter Engelhard, Dr An dries de Wilde, dan Fanz Wilhelm Junghuhn. Pada awalnya ada seorang bangsa Ero¬pa yang bernama Piter Engelhard menanam kopi di lereng gunung, tangkuban (sekitar Jalan Setiabudi Bandung sekarang). Ternyata hasil penanaman kopi tersebut sangat memuaskan. Oleh karena bibit kopi Piter Engelhard dianggap sangat bagus, akhirnya menyebar ke Gunung Patuha, Mandalawangi, Galunggung, dan Gunung Malabar. Sejak saat itu penduduk pribumi Priangan ba¬nyak yang berpindah pekerjaan dari bidang pertanian menjadi pekerja perkebunan, sebab bekerja di perkebunan hasilnya lebih memuaskan daripada bekerja di sektor pertanian. Orang Eropa lainnya yang menempati Kota Bandung adalah Andries de Wilde, seorang tuan tanah per-tama di Priangan. Ia yang pernah menjalin hubungan dengan Raffles, diangkat oleh Daendels sebagai asisten Residen di Ban¬dung. Jabatan ini tidak lama dipegangnya sebab kemudian ia ditugaskan sebagai pengawas kebon kopi di Tarogong Garut. Semula Andries mempunyai tanah di Bogor, tetapi ia berkeinginan untuk menukarkan tanah¬nya dengan tanah di daerah Ban¬dung. Keinginannya terkabul, ia mendapat tanah ganti di daerah Kabupaten Bandung (sekarang), yang meliputi Cimahi di barat sampai Cibeusi di timur (sebelah utara dibatasi Gunung Tangkuban Perahu dan di sebelah selatan jalan raya pos). Andries de Wilde kemudian menikah dengan wanita Priangan dan menempati daerah Banong (Dago Atas), mungkinkah nama Banong itu adalah Bandung? Orang ketiga adalah Franz Wilhelm Junghuhn yang dikenal sebagai penebar biji kina di daerah Bandung.

Seiring dengan adanya daerah-daerah perkebunan di kota Bandung mulailah dibuka, maka jalur lintas kereta api yang meng¬hubungkan Jakarta-Surabaya, ya¬ng rampung dibangun pada tahun 1894. Jalur tersebut dihubungkan pula dengan jalur Bandung-Bata¬via yang melewati Purwakarta yang selesai dibangun pada tahun 1900. Perkembangan selanjutnya, Bandung yang dikenal sebagai daerah perkebunan dipercaya sebagai tuan rumah penyeleng¬garaan "Konggres Tuan Gula" pada tahun 1896. Konggres ini dihadiri para pengusaha perkebunan gula baik dari Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Pelaksanaan kongres berjalan lancar, bahkan dengan adanya acara tersebut. Bandung kemu¬dian mendapat julukan "Kota Kembang".

Kota Bandung yang terletak di ketinggian 721m di atas permukaan laut, memiliki angka rata- rata per tahun : curah hujan 1.961 mm, lama hujan 143,9 hari de¬ngan temperatur 22,5° C. Akibat¬nya hawa Kota Bandung terasa nyaman, segar, dan sehat. Dengan kondisi alam seperti itu, apalagi tanahnya yang subur, Bandung sangat cocok dan ideal buat bertanam bunga atau pohon¬-pohonan. (Haryoto Kunto, 1994: 117). Sehingga orang-orang Ero¬pa merasa semakin betah tinggal di Bandung,

b. Pendidikan
Sekitar abad 19, Bandung telah dikenal sebagai kota pendidikan. Para orang tua di Tatar Sunda banvak yang mengimpikan agar dapat menyekolahkan putra¬-putranya ke Bandung. Hal itu terungkap dalam lirik lagu Sunda berikut ini:

Neleng neng kung
Neleng neleng neng gung
Geura gede geura jangkung
Geura sakola ka Bandung

Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan :
Cepatlah besar, cepatlah dewasa, lekaslah sekolah ke Bandung. Penjabaran dari lirik itu terkandung makna bahwa betapa pentingnya lembaga sekolah di Kota Bandung. Sesuai dengan konsep awal bahwa Bandung akan dijadikan kota pendidikan, Prof. Dr. E. C Godee Molsbergen (Kepala Arsip Negara) di Batavia, pada tanggal 24 April 1820 mengadakan inspeksi ke Kota Bandung. Tujuannya adalah ingin mendirikan sekolah. Dalam pen¬jajagan tersebut ia sempat ber¬temu dan melakukan pembica¬raan dengan bupati dan penghulu Bandung. Dan hasil jajak pen¬dapat tersebut, tiga tahun kemu¬dian di Kota Bandung telah ber¬diri 4 sekolah gubernemen pemerintah/negeri), yaitu sekolah dasar Bumi Putera di Karang Pamulang (belakang terminal Kebon Kelapa sekarang), sebuah Frobelschool (taman kanak-ka¬nak), sekolah dasar khusus bagi orang-orang Eropa (lokasinya ter letak di sekitar patung badak putih di halaman Balai Kota Bandung sekarang ini), dan sekolah pertukangan.

Berdirinya sekolah-sekolah tersebut ternyata kurang mendapat sambutan dari masyarakat Bandung, karena sebagian dari mereka menganggap bahwa rak-yat biasa tidak perlu sekolah. Mereka berpikir, tak ada peluang bagi mereka untuk diangkat menjadi orang berpangkat, karena sekolah hanya diperuntukan bagi kaum bangsawan. Rakyat kecil lebih baik memilih pesantren. Adanya anggapan masyarakat yang keliru seperti itu berakibat sekolah menjadi kekurangan murid (Haryoto Kunto, 1986, 153). Meskipun demikian, dari tahun ke tahun perkembangan masalah pendidikan di daerah Priangan mengalami kemajuan. Seperti yang terjadi pada masa pemerin-tahan Bupati R.A Martanegara (1893-1918). Di Tatar Bandung terdapat enam sekolah dasar buat penduduk pribumi (yaitu di dae¬rah Cibadak, Ujungberung, Cica¬lengka, Ciparay, Majalaya, dan Kopo). Adapun di wilayah Pri¬angan terdapat 22 buah Sekolah Dasar Pribumi.

Dengan didirikannya Sekolah Dasar di beberapa tempat ter¬sebut, masyarakat Bandung tam¬paknya mulai berantusias untuk bersekolah. Untuk menampung masyarakat yang ingin bersekolah pihak sekolah, tidak membatasi umur. Seperti halnya ketika DK. Ardiwinata memulai mengajar ia mendapatkan murid-muridnya berusia dewasa, bahkan ada juga yang sudah berkeluarga, padahal waktu itu ia sedang menginjak di kelas III (Haryoto Kunto, 1986: 154).

Setelah Belanda datang ke Indonesia, di Jawa Barat yang terdiri atas 5 karesidenan yaitu Ban- ten, Batavia (Jakarta), Karawang, Priangan, dan Cirebon, masing¬masing memiliki satu Sekolah Dasar (Edy S Ekadjati, 1986: 44). Tetapi kenyataannya program pendidikan tersebut lebih diprioritaskan untuk sekolah anak-anak Belanda, sedangkan anak-anak pribumi dinomor duakan. Belanda sengaja menciptakan lembaga pendidikan yang panjang, baik diklasifikasi sesuai dengan ting¬kat derajat seseorang maupun tingkat keahlian. Tujuan sebenar¬nya menciptakan pendidikan tersebut antara lain Belanda ingin menjadikan bangsa pribumi sebagai warga negara yang me-ngabdi pada kepentingan pen¬jajah. Jenis pendidikan yang di¬dasarkan pada jenjang (derajat), diantaranya (kelas): - Bangsa Eropa (ELS) dan pendidikan Menengah Lanjutan. Belanda menyelenggarakan jenis pendi¬dikan buat golongan bumi putera adalah untuk mendapatkan tenaga terdidik dengan biaya murah, sebab andaikata Belanda menda¬tangkan tenaga kerja dari dae-rahnya (Belanda) tentu raja akan menelan biaya yang .mahal. Untuk itu bagi kelompok bumi putera, Belanda juga mendirikan Sekolah Dasar Bumi Putera yang dibagi menjadi 2 bagian:

Sekolah Dasar Kelas Satu
(De Scholen der Eerste Klasse), yaitu sekolah yang didi¬rikan di ibukota karesidenan, kabupaten, kawedanaan, atau yang sederajat. Murid yang diterima di sekolah ini adalah anak-anak golongan masyarakat atas, seperti anak anak bangsawan, tokoh-tokoh ter¬kemuka, dan orang-orang bu¬mi putera yang terhormat. Lulusan sekolah ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan administrasi kepemerintahan, perdagangan, dan perusahaan. Sekolah ini kemudian berkembang menjadi HIS.

Sekolah Dasar Kelas Dua
(De Scholen der Tweede Klasse), sekolah ini dibuka untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi masyarakat umum. Dengan kata lain sekolah ini didirikan untuk anak-anak bumi putera dengan tujuan untuk mendidik calon-calon pegawai rendah. Sejalan dengan lahirnya Poli tik Etis, yaitu garis politik kolo nial baru, yang pertama-tama di harapkan secara resmi oleh Van Dedem sebagai anggota parlemen Belanda adalah adanya upaya pemerintah kolonial. Untuk memisahkan keuangan Indonesia dari Negeri Belanda. Harapan itu di kemukakan dalam pidatonya tahun 1891 di depan anggota parlemen. Keharusan adanya pemisahan pengelolaan keuangan ter sebut ia perjuangkan guna kemajuan dan kesejahteraan rakyat serta ekspansi yang pada umum¬nya menuju ke suatu politik yang konstruktif (Edy S Ekadjati, 1986: 54). Politik Etis ini telah mengubah pandangan dalam po¬litik kolonial, sehingga pemerin¬tah Belanda beranggapan bahwa Indonesia tidal( lagi sebagai Wingewest (negara yang me¬nguntungkan), tetapi menjadi daerah yang periu dikembangkan. Pengembangan yang terjadi, khususnya dalam sistem pendi¬dikan, antara lain :

kesempatan-kesempatan untuk belajar bahasa Belanda diperbanyak, serta kesempa¬tan masuk HIS pun diperluas.

Sekolah-sekolah untuk orang Indonesia mulai diperbaiki (sarana atau sistemnya ?).

Mulai didirikan sekolah-sekolah untuk anak perempuan.
Berdirinya beberapa sekolah di Bandung, tak lepas dan upaya¬upaya para pengajar asal Jawa Barat sendiri, Dewi Sartika (pendiri sekolah Raden Dewi Sar¬tika), Rd Ayu Lasminingrat, Ny. Rd. Siti Jenab. Merekalah yang telah mengupayakan adanya se¬kolah-sekolah untuk anak perem¬puan.

Perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1943 dibuka 2 buah SMT di Bandung yang dipimpin oleh Ir. Abdul Karim. Sekolah ini mempunyai sifat pengajaran umum ditujukan untuk menyiapkan para pelajar yang akan me-lanjutkan pada Sekolah Tinggi.

Siswa yang dapat diterima pada SMT ini ialah mereka yang telah lulus ujian penghabisan negeri SM Pertama. Selain itu sekolah ini menampung murid-murid AMS, baik negeri maupun swasta, dan murid-murid kelas IV dan V HBS dengan lama belajar 3 tahun. Sehubungan dengan pre¬dikat baru "Bandung sebagai Kota Pelajar", maka dibentuklah beberapa .percetakan dan pener-bitan. Hal itu dilakukan sebagai upaya penyediaan sarana penya¬luran kreatifitas pelajar dalam menuangkan ide/tulisannya. Saat itu muncullah berbagai maja¬lah/surat kabar (bentuk pener¬bitan). Penerbit dan percetakan paling tua di Bandung adalah NV Mij Vorkin (TB Sinar Bandung sekarang) yang didirikan tahun 1896. Melalui percetakan itu terbitlah surat kabar dengan nama "Preanger-bode". Terbitan perdana tertanggal 6 Juli 1896 de¬ngan redakturnya Tuan J.H.L.E Meeverden, dengan uang lang¬ganannya sebesar f. 250 untuk 1/2 tahun. Percetakan lain-nya adalah Firma A.C.NIX (yang kemudian jadi NV Masa Baru) yang di¬dirikan tahun 1901, kemudian menyusul penerbit/percetakan Vi¬sser, de kleine dan van dorp di Jalan Braga. Selain Preanger¬bode, terbit pula mingguan "De Indische Post", Harian bahasa Melayu "Kaoem Moeda", dan minggium de School" dengan bulanan "Ititertnediair" (sebuah media eetak dari "Kadin" Ilan- dung tempo doeloe (Handels vereeniging to Bandoeng) (Haryoto Kunto, 1984: 190).

Dengan tersedianya sarana sekolah serta, didukung pula adanya penerbitan dan percetakan, akhirnya Bandung mantap mendapat sebutan sebagai Kota Pendidikan. Apalagi kemudian didirikan Sekolah Guru (Kweek-school) atau yang lebih dikenal dengan sekolah raja, yang letak¬nya di Jalan Merdeka sekarang dan Sekolah Osvia atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Menak karena sebagian besar pelajarnya adalah anak para menak, seperti Bupati, patih, dan wedana. Lengkaplah sudah Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan dengan sarana untuk berbagai jenjang pendidikan, mulai dan taman-kana-kanak atau Froberschool, sekolah guru taman kanak-kanak (Opleidings¬shool voor Frobelonder wijzeres¬sen), Van deventershool (sekolah putri), sekolah dasar Belanda (HIS), SLP (MULO), SLA (AMS) dan sekolah-sekolah swasta milik zending Kristen dan China. Bahkan tahun 1916 pun telah dibuka Hoogerere Burger- school (HBS) di J1. Belitung, dan Wain 1922 telah dibuka HBS Katholik beserta asrama khusus bagi siswa putri di J1. Merdeka. Dan yang lebih penting lagi adalah dibukanya Technische Hoogeschool (TH) tanggal 3 Juli 1920. Dari lembaga inilah kemudian lahir tokoh-tokoh nasional, bahwa hal itu membuktikan kemampuan inlelektual bangsa pribumi ternyata bisa disejajarkan dengan orang barat Eropa lainnya.

c. Pembukaan Jalur Kereta Api.
Sebagian para menak dari luar Bandung yang bersekolah di Bandung, menggunakan sarana angkutan kereta api. Dan bila diamati lebih jauh, ternyata setelah dibukanya jalur kereta api yang menghubungkan kota Ban-dung dengan kota-kota kecil lain¬nya, menurut "Nota Kepala Dinas Kereta Api dan Trem Ne¬gara (Het Hoofd van den Dients der Staattspoor end Tramwegen), bahwa lebih dari 80% penum¬pangnya yang turun di stasiun kereta api Bandung adalah para penumpang yang datang dari kota-kota kecil yang tujuannya antara lain berdagang dan ber¬belanja (Haryoto Kunto, 1984: 107). Mereka dinamakan pe¬dagang musiman.

Selain pedagang musiman yang berasal dari kota-kota kecil di daerah sekitar Bandung, Kota Bandung pun didatangi orang¬orang dari daerah lain, yang lama-lama mereka membentuk suatu kampung. Mereka hidup secara berkelompok dan menem¬pati suatu daerah. Temp at tinggal mereka biasanya dinamakan se¬suai dengan asal mereka datang, seperti Kampung Bogor. Peng¬huni Kampung Bogor adalah kaum migran yang datang dari Bogor ke Bandung sekitar abad 19, yaitu ketika dibukanya jalur kereta api. Mereka berprofesi sebagai buruh bengkel kereta api yang ikut membangun jaringan rel kereta api dari Bogor ke Bandung. Migran dari Bogor yang kira-kira berjumlah 400 orang ini menempati sebuah kampung yang tidak jauh dari stasiun kereta api. Mereka menamakan kampungnya dengan nama Kampung (Babakan) Bo¬gor, (sekarang dikenal dengan nama Kebon Kawung). Migran¬-migran lain datang dari Garut, Ciamis, mereka pun membentuk suatu perkampungan dan dinamakannya Babakan (Kampung) Tarogong, dan Babakan Ciamis. Para migran tidak hanya datang dari kota-kota di Jawa Barat, juga Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Migrasi yang datang dari Jawa Tengah menempati daerah sekitar Kiara Condong dan menamakan huniannya dengan nama Kampung Jawa (Tito Setiato, 1996/1997:55). Akan halnya kaum migran yang datang dari Surabaya (Jawa Timur). Awalnya datang ketika teijadi pemindahan Instalasi Militer pabrik mesiu di Ngawi Jawa Timur dan Artillerie Constructia Winkel (ACW) atau yang disebut Pabrik Senjata (sekarang bernama Pindad) di Sura-baya dipindahkan ke Bandung. Pemindahan yang dilakukan pada tahun 1898 ini, dalam rangka pemantapan pertahanan militer kolonial Belanda. Pemindahan tersebut bukan hanya mesiu dan peralatannya, melainkan juga kru yang terdiri atas teknisi dan karyawan beserta seluruh keluarganya. Mereka pun menempati daerah yang sekarang masuk ke Desa Kiara Condong dengan nama Kampung (Babakan) Sura¬baya. Pusat kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang berasal dari Jawa Tengah adalah di Pasar Kosambi (Pasar Cicadas dan Kiara Condong waktu itu belum ada), maka di Pasar Kosambi inilah dapat ditemui makanan (masakan) khas Jawa Tengah seperti gudeg, pecel, rujak cingur, botok, buntil, gatot, tiwul, bahkan jamu-jamuan seperti jamu candring, binteng jahe sampai rokok, (Haryoto Kunto, 1984: 165).

Sekitar tahun 1919 Ambtenaar asal Jawa yang agak ter¬pandang hanya ada 26 orang, dengan pangkat komis, dan "Kierk" dari Jawatan Negara seperti P.T.T, S.S, B.O.W, dan Pegadaian Negeri. Kemudian dalam bilangan yang belum men¬capai ribuan, orang Jawa yang ada di Bandung di antaranya menjadi militer, guru, palajar, dan pedagang (pada umumnya pedagang batik). Selain profesi ter¬sebut, masyarakat Jawa Tengah yang bermigrasi ke Bandung me¬letakkan pilihannya di sektor pertanian. Sekelompok masya¬rakat ini kebanyakan berasal dari Brebes Jawa Tengah. Mereka pergi meninggalkan daerahnya karena lidak tahan menanggung derita atas keria paksa yang ditetapkan Daendels dalam pembangunan jalan dari Anyer sam¬pai Pamanukan di Bandung, daerah yang dituju adalah Cicalengka (Rancaekek) Kabupaten Bandung.

Selain para migran dari daratan Pulau Jawa, orang asing dari negeri China pun turut ber¬datangan ke Bandung. Sekitar tahun 1874, di Bandung telah tinggal migran asal China. Mereka tinggal bersama keluar¬ganya. Waktu itu migran asal China masih sedikit, kira-kira 6 umpi/keluarga. Orang China pertama yang tinggal bernama Tam Long, yang kemudian namanya diabadikan menjadi Tamblong. Kedatangan China berikutnya ke Bandung, dengan cara semacam koloni (menge¬lompok) dengan dipimpin oleh seorang Wijkmeester. Wijkme¬ester China untuk daerah Sunia¬raja pada tahun 1914 adalah Thong Pek Koey dan untuk daerah Citepus Tan Nyim Coyt, dan di daerah ini pula mereka menamakan jalan dan gang dengan nama China, seperti Gang Gwan An dan Jap Lim. Bahkan kelornpok China berikutnya ada yang menempati kawasan tertentu dan menamakan daerah huniannya dengan nama Pacinan.

Adapun para migran yang datang dari kawasan Pulau Su¬matra adalah dari Palembang.. Salah satunya adalah Tamim, seorang niagawan yang sukses dalam usahanya di Bandung, Ia migrasi bersama temannya yang bernama Encek Aziz, Aschari, dan Asep Berlian. Nama orang-orang asal Palembang ini juga akhirnya diabadikan sebagai nama jalan.

Kembali Ke Fitrah
Setelah sekian lama, orang¬orang migrasi ke Bandung, suatu ketika mereka akan ingat pada kampung halamannya. Apalagi di kampung halamannya masih terdapat banyak kerabat dan sanak saudara mereka. Moment yang paling penting bagi mereka untuk menemui kerabatnya tersebut adalah pada saat Idul Fitri. Idul Fitri dapat dijadikan momen¬tum untuk bersilaturahmi, yaitu kunjung mengunjungi sanak ke¬luarga dan tetangga guna memin¬ta maaf dan memaafkan. Sebenar¬nyaiah silaturahmi dapat mem¬buka pintu rejeki dan pahala dari Allah, silaturahmi dapat memper¬erat persaudaraan antar seseorang, begitulah sabda Rasulullah SAW; tidak masuk surga orang yang memutuskan tali kekeluargaan (HR Bukhari dan Muslim).

Penutup
Awal masyarakat luar
Bandung melakukan migrasi ke Bandung kira-kira abad ke-19, yaitu ketika dibukanya jalur ke¬reta api yang menghubungkan Bandung dengan kota-kota kecil di sekitar Bandung, dan Bandung dengan daerah-daerah lain seperti Yogyakarta (Jawa Tengah), dan Surabaya (Jawa Timur). Hal ter¬sebut juga dapat dipastikan sebab dengan adanya kampung (baba¬kan) Bogor yang terletak di dekat Stasiun Bandung, berarti me mungkinkan bahwa merekapun pemakai sarana angkutan kereta api.

Sejalan dengan upaya pemekaran kota, pemerintahan kolonial mulai melakukan pembenahan¬-pembenahan sarana umum, se¬perti ke arah timur dibangun Pasar Kosambi, Pasar Cicadas, dan Pasar Kiaracondong. Begitu pula untuk Bandung barat dibangun Pasar Andir, Pasar Ciroyom, sedangkan ke arah se¬latan dibangun Pasar Tegallega dan Pungkur. Kemudian untuk mengurangi kepadatan penum¬pang kereta api yang turun di stasiun Bandung, dibangunlah pemasangan jalur rel kereta api serta penentuan halte baru. Secara berturut-turut dibangunlah halte Andir, untuk pengunjung Pasar Andir, halte Ciroyom untuk pengunjung Pasar Ciroyom, halte Cikudapateh untuk pengujung Pasar Kosambi, dan halte Kiara¬condong untuk pengunjung Pasar Kiaracondong.

Dan pemaparan di atas, temyata para migran mengambil tempat tinggalnya tidak jauh dari halte-halte kereta api tersebut, seperti Babakan Surabaya dan Babakan Jawa lebih dekat ke halte Kiaracondong, Babakan Bogor dan Babakan Ciamis lebih dekat dengan stasiun kereta api Bandung. Begitu pula dengan tempat tinggal H. Tamim, Aziz Asmi, dan komplek Suniaraja tempat komunitas China lokasi¬nya tidak jauh dari stasiun kereta api Bandung.

Daftara Pustaka
Edy S Ekadjati, Sejarah Kota Bandung 1945-1979, Depdikbud, Direktorat Jenderal Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek IDSN, Jakarta, 1985

--------- , Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Barat, sampai dengan
tahun 1950, Depdikbud, Proyek IDKD, 1986

Haryoto Kunto, Wajah Bandung Tempo Doeloe, PT Granesia, Bandung, 1984
------------, Semerbak Bunga di Bandung Raya, PT Granesia, Bandung, 1986.

Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Marwati Djoened. Poesponegoro, dkk, Sejarah Nasional Indonesia, jilid V, Depdikbud, Balai Pustaka

Tito Setiato, Drs, dkk, Toponimi di Kotamadya Bandung, Laporan Penelitian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Kajian Jarahnitra Bandung, 1996-1997.

Usman Pelly, Urbanisasi dan Adaptasi, Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing, LP3ES, Jakarta, 1994.


Sumber :
Jurnal Ilmiah Sejarah dan Budaya Buddhiracana Volume 11 Nomor 10 Januari 2000. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Kuta

Oleh: Drs. Endang Nurhuda, dkk.

Abstrak
Kampung Kuta adalah sebuah kampung adat yang memiliki adat istiadat khas dan berada di sebuah lembah dengan dinding-dinding yang tinggi. Pada awal tulisan diungkapkan keadaan lokasi penelitian mengenai Desa Karangpaninggal dan Kampung Kuta yang meliputi asal-usul, keadaan alam, kependudukan, dan pola pemukiman. Selanjutnya dibahas mengenai religi dan sistem pengetahunan, sistem kemasyarakatan, stratifikasi sosial, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, upacara tradisional, bahasa, dan kesenian. Bagian akhir berisi kesimpulan yang merupakan analisis dari seluruh tulisan. Dengan demikian secara keseluruhan penelitian ini membahas tentang keberadaan Kampung Kuta sebagai sebuah kampung adat.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 16, Desember 1998

Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Sukabumi (1945-1950)

Oleh: Drs. Herry Wiryono, dkk.

Abstrak
Penelitian ini menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, yang terjadi di daerah Sukabumi dan sekitarnya. Dalam perjuangan tersebut seluruh potensi rakyat Indonesia baik yang terdapat di Kota Sukabumi dan sekitarnya maupun di kota-kota di seluruh Indonesia, dikerahkan untuk menolak semua bentuk penjajahan dari luar karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 16, Desember 1998

Kajian Isi Naskah Wawacan Rawi Mulud

Oleh: Dra. Yanti Nisfiyanti, dkk.

Abstrak
Naskah Wawacan Rawi Mulud yang isinya dikaji oleh penulis, ternyata di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang sangat relevan dengan tujuan pembangunan nasional, khususnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Isi naskah Wawacan Rawi Mulud mengungkapkan hubungan manusia dengan Penciptanya, manusia dengan lingkungan sosialnya, serta nilai-nilai keteladanan wanita.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 13, Juni 1997

Pengkajian Kekuatan Tenaga Dalam pada Pencak Silat

Oleh: Drs. Agus Heryana

Abstrak
Penulis dalam kesempatan ini mengadakan pengkajian masalah tenaga dalam pada pencak silat, yang khusus menggarap masalah aspek mental spiritual. Pembahasannya lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat internal, pengolahan rasa atau pengolahan diri, sehingga seseorang dapat menguasai suatu ilmu tenaga dalam.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 13, Juni 1997

Jaipong dan Seren Taun Layak Diajukan ke UNESCO

Dipati Ukur, Jabar - Seni jaipongan dan upacara adat seren taun layak untuk dimasukkan ke dalam nominasi "The Intangibel Cultural Heritage of Humanity". Kedua seni budaya tersebut merupakan bagian dari 100 kesenian dan kebudayaan dari empat provinsi yang layak masuk nominasi warisan budaya tak benda.

"Seni jaipongan bukan hanya berkembang di wilayah Jabar, tetapi berkembang di Nusantara, bahkan dunia," ungkap Kepala Balai Peninggalan Nilai Sejarah dan Tradisi (BPNST) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Toto Sucipto kepada wartawan di Monumen Perjuangan Rakyat Jabar (Monju), Jln. Dipati Ukur Bandung, Kamis (18/11).

Begitu pun dengan upacara adat seren tahun. Menurut Toto, upacara seren tahun bukan hanya dilaksanakan masyarakat adat yang ada di wilayah Jabar, namun banyak digunakan masyarakat adat lainnya di Indonesia. "Alasan inilah yang menjadikan kedua seni dan budaya tersebut sangat layak untuk diusulkan sebagai nominasi warisan budaya tak benda ke UNESCO," ujarnya.

Dikatakan Toto, selain dari Jabar, seni lainnya yakni topeng Betawi dari Jakarta dan tari zapin dari Lampung layak diajukan sebagai nominasi warisan budaya tak benda. Tahun ini Indonesia baru mengajukan tari saman dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ke UNESCO.

"Tahun 2011, tari saman akan diresmikan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO melalui sidang yang rencananya digelar di Indonesia," ujarnya.

Menurut Toto, tari saman diajukan karena tarian ini sudah dilengkapi dengan data dan informasi mengenai perkembangannya saat ini. Sedangkan empat seni lainnya belum dilengkapi dengan data dan informasi.

"Padahal, sidang Inter-Governmental Committee UNESCO akan dilaksanakan di Indonesia tahun depan. Seharusnya Indonesia bisa mengajukan seni lebih dari satu untuk diakui sebagai warisan budaya tak benda," ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, pihaknya terus menggalakkan program inventarisasi dan dokumentasi warisan budaya tak benda (Indok WBTB) ke daerah-daerah untuk mendata dan inventarisasi kesenian dan kebudayaannya masing-masing. Namun sayang, program tersebut tidak mendapat sambutan dari pemerintah daerah sebagai pemilik kesenian dan kebudayaan masing-masing.

"Saya kurang tahu apa alasannya, kenapa setiap daerah tidak tanggap dengan program tersebut. Padahal yang memiliki kesenian adalah kabupaten/kota," ujarnya.

Menurut Toto, program Indok WBTB ini dinilai penting agar pemerintah pusat memiliki data dan bisa melengkapi deskripsi serta sejarah kesenian dan kebudayaan dari daerah tersebut. Seni budaya yang akan diajukan untuk masuk nominasi warisan budaya tak benda oleh UNESCO, harus memiliki deskripsi, sejarah yang lengkap serta masih digunakan dan dikembangkan masyarakat.

"Kami memiliki tim yang mengajukan ke UNESCO, namun kesenian dan kebudayaan mana yang dipilih bergantung pada tim dari UNESCO. Mereka mempunyai kriteria tersendiri untuk memilih, yang penting seni dan budaya yang diajukan harus memiliki data yang lengkap," paparnya.

Toto menyebutkan, pihaknya sudah mendata sekitar 100 kesenian dan budaya yang ada dari empat provinsi, yakni Jabar, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Dari 100 kesenian dan budaya yang telah didata, sekitar 75 persennya berasal dari Jabar.

"Namun sayang, ke-100 kesenian dan budaya tersebut masih minim data, deskripsi, dan sejarahnya. Karena itu, saya meminta kepada daerah untuk melengkapi data, deskripsi, sejarah, dan perkembangan kesenian dan budaya tersebut," paparnya. (B.81)

Sumber: http://www.klik-galamedia.com

Sastra Lisan (Jampe), Suatu Kajian Struktur dan Fungsi

Penulis: Drs. Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Penelitian ini mengkaji tentang Jampe, yaitu sebuah karya sastra lama yang tumbuh dan berkembang secara lisan di kalangan masyarakat Sunda. Jampe tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteks budaya masyarakat yang menghasilkannya. Oleh karena itu, dengan adanya kajian tentang struktur dan fungsi Jampe pada masyarakat Sunda akan membantu pemahaman masyarakat luar terhadap isi jampe, serta mengetahui sosio-budaya masyarakat Sunda pada masanya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 17, Februari 1999

Program Peningkatan Kinerja Kemampuan Staf Peneliti dan Pengkajian Naskah Kebudayaan Daerah Pada Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Oleh: Dra. S. Dloyana Kusumah

Abstrak
Keberhasilan suatu mekanisme kerja sebuah lembaga, salah satunya adalah bergantung pada kinerja SDM-nya. Demikian pula halnya dengan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, sebagai salah satu lembaga yang bertugas menyediakan informasi kebudayaan daerah, pada dasarnya akan berhasil dalam melaksanakan program kerjanya, jika staf peneliti, tenaga administrasi, dan tenaga dokumentasi sebagai SDM memiliki kinerja yang dapat diandalkan.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 13, Juni 1997

Carita Pantun Dadap Malang Ci Mandiri: Kajian Isi dan Peranannya dalam Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

Oleh: Drs. Suwardi A.P. dan Dra. Yanti Nisfiyanti

Abstrak
Penulis membatasi tulisannya pada aspek bentuk dan isi. Aspek bentuk yang dimaksud adalah cara pengarang menyampaikan ide-ide atau gagasan. Sedangkan yang dimaksud dengan isi adalah ide atau gagasan yang ngin disampaikan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka kajiannya meliputi alur cerita, tokoh dan penokohan, latar, tema serta peranan cerita pantun dalam pengembangan kebudayaan nasional.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 10, April 1996

Budaya Tradisional Masyarakat Betawi

Oleh: Drs. Yuzar Purnama, dkk.

Abstrak
Masyarakat Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, sampai kini tetap memelihara budaya tradisional mereka. Budaya itu mencakup sistem organisasi sosial, sistem pengetahuan, teknologi, religi, kesenian, dan bahasa.

Eksistensi masyarakat Betawi berikut budaya tradisionalnya merupakan hal yang unik. Permasalahannya adalah mereka sekarang hidup di zaman modern. Namun ternyata mereka tidak banyak terpengaruh oleh arus globalisasi yang makin kuat.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 39, Desember 2007

Peninggalan Sejarah sebagai Obyek Wisata di Pandeglang

Oleh: Drs. Herry Wiryono dan Drs. Heru Erwantoro

Abstrak
Peninggalan sejarah di Kabupaten Pandeglang jenisnya beragam yang mewakili tiga zaman, yaitu prasejarah, Islam, dan kolonial. Peninggalan sejarah itu dapat menjadi obyek wisata yang lebih menarik, apabila dalam pengelolaannya dipadukan secara baik dengan lingkungan alam disekitarnya. Salah satu kendala bagi pemeliharaan peninggalan sejarah/obyek wisata di Pandeglang prasarana transportasi yang tidak memadai. Kondisi jalan perlu mendapat perhatian daerah Pemerintah Kebupaten Pandeglang.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 39, Desember 2007

Upaya Perlindungan Sosial Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi

Oleh: Drs. Toto Sucipto

Abstrak
Upaya untuk meningkatkan taraf hidup dan derajat kemanusiaan bangsa Indonesia telah banyak dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai lembaga kemasyarakatan. Demikian juga, dana yang dihabiskan untuk keperluan pemberdayaan masyarakat sudah tidak terhitung banyaknya. Namun kenyataannya, masih saja dijumpai dan erat melilit kehidupan sebagian besar warga masyarakat.

Salah satu faktor yang menjadi penyebab tidak suksesnya program-program dalam pemberdayaan masyarakat adalah ketidaktepatan dalam menentukan program atau telah terjadi salah urus. Hingga setiap program yang berkenaan dengan perbaikan kehidupan acapkali tidak mengenai sasaran.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008

Budaya Spiritual Syekh Aulia Abdul Gopur

Oleh: Drs. Hermana

Abstrak
Keberadaan makam keramat Syekh Aulia Abdul Gopur sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya dari segi sosial maupun ekonomi. Dari segi sosial kemasyarakatan, mereka mengenal adat istiadat para peziarah, sehingga dapat belajar dan memaknai kehidupan masyarakat pada umumnya. Para peziarah menginginkan perubahan taraf hidup, ketenangan jiwa, dan ini kebanyakan berhasil. Dengan motivasi seperti itu mereka mendatangi tempat keramat tersebut.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.3 September 2009

Sistem Ekonomi Perajin Rangginang di Desa Cikoneng Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung

Oleh: Dra. Ani Rostiati

Abstrak
Penulis mengungkapkan sistem ekonomi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok hidupnya yang meliputi pola produksi dan pola distribusi. Kemudian, dikaji pengaruh perubahan kebudayaan terhadap sistem ekonomi masyarakat tersebut.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 8, Desember 1995

Keserasian Sosial dan Partisipasi Suku Bangsa Lampung Dalam Pembangunan di Pedesaan

Oleh: Drs. T. Dibyo Harsono

Abstrak
Partisipasi masyarakat Lampung dalam pembangunan sangat besar terlihat dari berbagai peranannya dalam menggerakkan roda pembangunan, perekonomian daerahnya. Mereka saling bahu membahu dan bekerjasama dengan masyarakat pendatang dalam membangun daerahnya dengan meningkatkan kualitas hidup. Penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian, masyarakat Lampung merupakan petani ladang, dalam mengolah lahan menjadi sawah mereka memperkerjakan orang lain (orang Jawa) yang ada di daerahnya. Sehingga dalam pembangunan mereka hidup bersama secara harmonis dilakukan sejak lama. Pemanfaatan tenaga kerja dalam berbagai pembangunan sudah tidak memandang kesukuan, dengan berbeda suku bangsa mereka saling menguntungkan dan ada pemerataan pendapatan dalam bidang pertanian, perekonomian meskipun dalam lingkup lokal.

Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan sebagai Objek Wisata di Kabupaten Ciamis

Oleh: Drs. Adeng

Abstrak
Uraian masalah peninggalan sejarah dan kepurbakalaan di Kabupaten Ciamis ini mencakup beberapa peninggalan sejarah kepurbakalaan yang sekaligus beberapa di antaranya dijadikan sebagai objek wisata, yaitu Situs Astana Gede (Kawali), Situs Panjalu, Situs Pangandaran, Situs Jambansari, dan Situs Bojong Galuh. Adapun dua situs lainnya yang tidak dapat dijadikan objek wisata adalah Situs Citapen dan Situs Candi Ronggeng. Dalam penelitian ini penulis menguraikan latar belakang sejarah dari keberadaan masing-masing situs tersebut.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Latar Belakang Berdirinya Sekolah Staf dan Pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Sespim Polri) di Kabupaten Bandung

Oleh: Drs. H. Iwan Roswandi

Abstrak
Penelitian ini mengungkapkan latar belakang berdirinya Sekolah Staf Pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Sespim Polri) di Kabupaten Bandung, dengan tinjauan latar belakang sejarah Kepolisian, sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang, Kepolisian pada masa Proklamasi dan setelah Proklamasi, struktur POLRI di bawah Kementerian Dalam Negeri dan Perdana Menteri, lahirnya Sespim POLRI, serta struktur organisasi, tugas, dan fungsi Sespimpol.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Sistem Teknologi Tradisional Pembuatan Meja Unyil di Desa Mekar Rahayu Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung

Oleh: Dra. Enden Irma R.

Abstrak
Penulis mengungkap masalah pembuatan meja unyil di Kecamatan Margaasih, yang hingga kini masih dikerjakan dengan sistem teknologi tradisional. Di dalamnya diuraikan masalah pola produksi yang menggambarkan proses yang ditunjang dengan adanya bahan baku, peralatan, serta tenaga kerja. Selanjutnya dibahas masalah pola distribusi, yang ternyata Meja Unyil tidak hanya menjangkau pemasaran di Kota Bandung, juga menembus beberapa kota di Jawa Barat.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Pola Kehidupan Santri di Pesantren Jagasatru

Oleh: Drs. Hermana

Abstrak
Pendidikan Pesantren Jagasatru mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya. Hal ini membuktikan kesadaran dan penghargaan tentang pentingnya pendidikan agama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Dampak lainnya adalah adanya perubahan cara berfikir dan persepsi setiap individu dalam usaha mengadakan perubahan dan dengan berdirinya pondok pesantren ini sangat menunjang program pemerintah di bidang pendidikan Hubungan santri dalam lingkup pesantren terjalin hubungan kekeluargaan yang terikat oleh atuan-aturan pondok pesantren. Dengan rasa solidaritas yang tinggi, begitu juga hubungan dengan warga masyarakat sekitar cukup erat karena para santri memahami pentingnya hidup bermasyarakat.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 8, Desember 1995

Sejarah Kota Sukabumi dari Zaman ke Zaman

Oleh Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Kota Sukabumi memiliki sejarah sangat panjang. Namun dalam tulisan ini, sejarah kota itu dibatasi sampai dengan pertengahan abad ke-20, mengacu pada momentum Indonesia kembali menjadi negara kesatuan (1950).

Uraian kesejarahan kota itu berawal dari asal-usul nama Sukabumi, kemudian mengungkap situasi dan kondisi daerah tersebut dari zaman ke zaman. Masalah yang diungkap mencakup pemerintahan, khususnya perubahan penduduk, sosial ekonomi, politik, serta gejolak zaman penjajahan dan zaman revolusi kemerdekaan.

Pada zaman revolusi kemerdekaan, pemerintah Sukabumi memiliki peranan penting. Waktu itu di Sukabumi berlangsung pemerintahan militer yang berupaya menjadikan RI kembali menjadi negara kesatuan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008

Sejarah Perjuangan Laskar Rakyat Priangan Dalam Mempertahankan Kemedekaan Republik Indonesia

Oleh Drs. Adeng

Abstrak
Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang mmebawa dampak sangat besar bagi kehidupan dan kedudukan bangsa Indonesia, juga membangkitkan semangat juang dan menumbuhkan rasa percaya diri dalam mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.

Perjuangan tersebut dihadapi bangsa Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan pun masih melawan Jepang dan Inggris. Untuk menghadapi tantangan tersebut berbagai upaya ditempuh bangsa Indonesia, salah satunya adalah badan kelaskaran yang lahir di tengah kancah revolusi fisik di kota Bandung yaitu Laskar Rakyat Priangan. Laskar Rakyat Priangan adalah organisasi semi militer yang berdiri sendiri. Aktivitasnya adalah membantu masyarakat yang mengalami kesulitan akibat kekurangan pangan, sandang dan ganguan keamanan.

Laskar Rakyat Priangan dipimpin oleh R. Ema Bratakusmah, organisasi ini bersifat lokal hanya berada di Priangan, anggotanya berasal dari berbagai kelompok sosial. Pada tahun 1946 terjadi reorganisasi militer, sebagian anggota kelaskaran ini berintegrasi dengan TNI dan sebagian kembali pada masyarakat. Begitu juga dengan pemimpin Laskar Rakyat Priangan yaitu R.Ema Bratakusumah, beliau kembali pada masyarakat.

Prasasti Abad 14 Ditemukan di Sungai Cikapundung

BANDUNG - Sebongkah batu besar prasasti tergolek di depan rumah warga yang berjarak 10 meter dari tepi Sungai Cikapundung, Kota Bandung. Prasasti itu diperkirakan dibuat pada abad ke-14 atau 15.

Prasasti itu berada tepat di depan rumah Oong Rusmana, 62 tahun. Warga RT 07 RW 07 Kampung Cimaung Kelurahan Taman Sari Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat, tersebut mengaku batu prasasti itu sudah ada sejak ia menempati rumah pada 1957. "Saya mah nggak peduli, tahunya batu itu ada tulisannya aja," kata dia di rumahnya, Selasa (5/10).

Dari pantauan Tempo, prasasti dari batu kali itu cukup besar. Dari pengukuran, lebarnya 180 sentimeter, tinggi dari tanah 55 sentimeter, sedangkan panjang belum diketahui persis. Soalnya, selain batu terkubur tanah, sisa yang tak tampak itu menghunjam ke dalam rumah.

Prasasti itu pertama kali dilaporkan Budi Sutiyana, 32 tahun, anak Oong Rusmana ke peneliti madya Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Nandang Rusnandar pada 2006 lalu. Nandang kemudian beberapa kali bolak-balik ke lokasi. Tujuannya untuk membaca tulisan yang tertera di bagian batu yang menghadap ke jalan gang.

Menurut Nandang, tulisan dipastikan memakai aksara Sunda kuno. Ia membantah tulisan itu buatan seseorang di zaman modern. "Karena yang tahu aksara Sunda kuno cuma segelintir orang," katanya di lokasi prasasti.

Tulisan tersusun dua baris, terdiri dari 6 huruf di bagian atas sepanjang 15 sentimeter dan 12 huruf di deretan bawah sepanjang 20 sentimeter. Adapun tinggi setiap huruf berkisar 2,5-3 sentimeter. Di sisi kiri tulisan tercetak juga telapak kaki seukuran bayi, di bagian atas terdapat ukiran seperti bunga, dan telapak tangan kecil di bagian kanan aksara.

Rangkaian aksara dalam prasasti, menurut Nandang, dibaca sebagai unggal jagat jalma hdap. Artinya, "Setiap manusia di muka bumi akan mengalami sesuatu," ujarnya. Arti tulisan itu didapat setelah ia membandingkannya dengan 57 jenis aksara kuno.

Telapak kaki dan tangan melambangkan kekuasaan. Prasasti tersebut kemungkinan menandakan wilayah kekuasaan Raja tertentu.

Kalimat prasasti yang bernada peringatan itu, ujarnya, sama seperti temuan prasasti di Kawali, Kabupaten Ciamis. Sejauh ini, dugaan tahun pembuatan masih diteliti. Diperkirakan muncul pada abad 11, 14, atau 18. Abad termuda tersebut kemungkinan bekas peninggalan kerajaan Palasari yang berada di wilayah cekungan Bandung. "Tapi bisa jadi hasil perjalanan pemindahan ibukota Bandung dari Dayeuh Kolot (Kabupaten Bandung) ke (wilayah) Kota Bandung sekarang," ujarnya.

Balai Pelestarian kini berupaya meneliti angka tahun pembuatan prasasti tersebut.


Penanaman Nilai Budaya di Pesantren Salafiya Serang Propinsi Banten

Oleh Drs. Endang Supriatna, dkk.

Abstrak
Tiap pesantren pada dasarnya memiliki pola budaya yang sama, yaitu hubungan kyai dan santri terjalin dalam hubungan “patron – klient”. Budaya itu berlangsung pula di Pesantren Salafiyah Serang. Dalam pola hubungan tersebut, kyai merupakan figur berwibawa yang dapat mempengaruhi pola tindak para santri. Oleh karena itu, dalam penanaman nilai-nilai budaya di lingkungan pesantren, kyai merupakan sumber tata nilai bagi para santri khususnya dan warga masyarakat sekitar pesantren pada umumnya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 39, Desember 2007

Toponimi di Kota Cirebon

Oleh Dra. Lasmiyati

Abstrak
Toponimi adalah istilah ilmiah yang berarti asal-usul nama tempat. Pengertian istilah tersebut menunjukkan, bahwa nama-anama tempat di suatu daerah berkaitan dengan sejarah daerah yang bersangkutan.

Berdasarkan sejarahnya, Kota Cirebon termasuk salah satu kota tua. Oleh karena itu, asal-usul nama tempat-tempat di kota tersebut mengacu pada kejadian, situasi, dan hal lain pada zaman yang dilalui. Dalam hal ini, nama tempat-tempat di Kota Cirebon berkaitan dengan suatu peristiwa, situasi daerah, istilah di lingkungan pemerintahan, tokoh dan jabatan dalam pemerintahan, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Dengan kata lain, asal-usul nama-nama tempat itu mencerminkan dinamika perjalanan sejarah Kota Cirebon.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008

Pola Pengasuhan Anak pada Masyarakat Arab Sunda di Kabupaten Purwakarta

Oleh Dra. Yanti Nisfiyanti

Abstrak
Keluarga merupakan kesatuan sosial terkecil tempat pertama kali seorang manusia menerima pengasuhan dan pendidikan dari orang tua. Dalam pola pengasuhan dan pendidikan anak, terdapat proses sosialisasi nilai-nilai yang disampaikan orang tua kepada anak. Pola pengasuhan anak pada setiap keluarga membentuk perkembangan dan karakter anak.

Pada pembentukan karakter anak lebih ditentukan oleh budaya orang tua. Dalam pola pengasuhan anak pada keluarga keturunan Arab Sunda proses sosialisasi nilai-nilai ditentukan oleh budaya akulturasi Arab dan Sunda.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.3 September 2009

Batu Prasasti Peninggalan Kerajaan Kendan

BANDUNG, (PRLM).- Batu prasasti di Kamp. Cimaung, RT 07 RW 07, Kel. Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, akan kembali diteliti Balai Pelestarian Sejaran dan Nilai Tradisi (BPSNT) Jawa Barat. Batu prasasti yang ditemukan Oong Rusmana (62) pada tahun 1959 silam bertuliskan huruf Sunda kuno diperkirakan dari Abad 14 hingga 18 masehi.

Sebagaimana diungkapkan Nandang Rusnandar, Peneliti Madya BPSNT Jabar, prasasti yang bertuliskan huruf Sunda kuno dan bahasa Sunda kuno terdiri dari dua baris, di bagian kiri tulisan ada telapak kaki manusia (anak kecil) dan bagian kanan ada telapak tangan (anak kecil). Sedangkan di bagian atas ada lambang gambar kepala manusia disilang bagian bawahnya. Sedangkan tulisan prasati, baris yang pertama mengandung arti "Unggal Jagat" dan baris kedua mengandung arti "Jalma H Dhap".

"Jika diartikan prasati ini mengandung peringatan bagi warga yang digambarkan melalui gambar kepala di atas tulisan. Sedangkan gambar telapak kaki dan tangan mencirikan hegemoni atau daerah kekuawasan raja kala itu (Kerajaan Kendan) di kawasan tersebut," ujar Nandang.

Dilihat dari huruf dan bahasa Sunda kuno dalam prasati itu, Nandang menduga, prasasti tersebut peninggalan abad ke-14 atau masa kerajaan Kendan. Dimana pada masa itu, terang dia, kerajaan Kendan tengah berkuasa setelah hancurnya kerajaan Tarumanegara. "Itu baru dugaan, jika dilihat dari huruf dan bahasanya prasasti itu kemungkinan peninggalan kerajaan Kendan," ujarnya.

Tulisan tersusun dua baris, terdiri dari 6 huruf di bagian atas sepanjang 15 sentimeter dan 12 huruf di deretan bawah sepanjang 20 sentimeter. Adapun tinggi setiap huruf berkisar 2,5-3 sentimeter. Di sisi kiri tulisan tercetak juga telapak kaki seukuran bayi, di bagian atas terdapat ukiran seperti bunga, dan telapak tangan kecil di bagian kanan aksara. Rangkaian aksara dalam prasasti, menurut Nandang, dibaca sebagai unggal jagat jalma hdap. Artinya, "Setiap manusia di muka bumi akan mengalami sesuatu," ujarnya, seraya menambahkan tulisan itu didapat setelah ia membandingkannya dengan 57 jenis aksara kuno. (A-87/A-147)***

Hubungan Lampung-Banten dalam Perspektif Sejarah

Oleh Iim Imadudin, S.S.

Abstrak
Hubungan Lampung dengan Banten di panggung sejarah berlangsung dalam kurun waktu yang panjang. Ditemukannya prasasti berhuruf Arab di Lampung, menunjukkan kuatnya pengaruh Banten dalam proses penyebaran agama Islam ke daerah tersebut. Hubungan kuat antara kedua daerah itu disebabkan oleh komoditas dan perdagangan lada. Lampung sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil komoditas lada yang merupakan potensi penting di Nusantara, sedangkan Banten adalah bandar lada internasional.

Eratnya hubungan antara Lampung dengan Banten menyebabkan kokohnya ikatan kekeluargaan warga dua daerah itu. Migrasi sosial antar penduduk kedua daerah itu berlangsung cukup dinamis, dengan berbagai motif yang menggambarkan hubungan saling membutuhkan.

Kajian tentang hubungan Lampung dengan Banten dalam perspekitf sejarah, penting artinya dalam kerangka memperkokoh integrasi bangsa. Hubungan kedua daerah itu memberikan pelajaran, bahwa nasionalisme kultural dapat menyatukan wilayah di Indonesia dengan segala perbedaannya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008

Wayang Golek dari Seni Pertunjukan ke Seni Kriya (Studi tentang Perkembangan Fungsi Wayang Golek di Kota Bogor)

Oleh Drs. Rosyadi

Abstrak
Wayang golek adalah suatu jenis seni pertunjukan tradisional yang telah menjadi bagian dari jati diri orang Sunda. Perkembangan dunia hiburan yang kini lebih didominasi oleh jenis-jenis kesenian modern, telah mengakibatkan semakin langkanya pertunjukan kesenian wayang golek dipergelarkan.

Dalam pada itu, perkembangan dunia pariwisata telah menciptakan karya baru bagi wayang golek, yaitu sebagai barang souvenir. Maka fungsi wayang golek pun berkembang dari seni pertunjukan menjadi seni kriya.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.2 Juni 2009

Lintasan Sejarah Pemerintahan Kabupaten Serang Abad XVI – XX

Oleh Dra. Euis Thresnawaty

Abstrak
Sejarah pemerintahan daerah Serang mencakup waktu sangat panjang, karena berawal dari pembentukan Kesultanan Banten abad ke-16. Berarti pemerintahan di daerah tersebut berlangsung pada zaman Kompeni, Hindia Belanda, Pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.

Dalam perjalanan sejarahnya, Kesultanan Banten mengalami dinamika akibat gejolak situasi politik pada zaman penjajahan, bahkan kesultanan itu akhirnya dihapuskan. Zaman Hindia Belanda dan Pendudukan Jepang, Serang menjadi ibukota Keresidenan Banten dan Kabupaten Serang. Mulai akhir tahun 2000, Serang kembali memiliki kedudukan pentng sebagai ibukota kabupaten merangkap ibukota Provinsi Banten sejak tanggal 4 Oktober 2000.

Dalam perjalanan sejarahnya, banyak peristiwa penting terjadi di daerah Serang yang penting dipetik maknanya. Atas dasar itulah tulisan ini dibuat.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.2 Juni 2009

Sistem Pelapisan Sosial dan Dampaknya pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub Kabupaten Lebak-Banten

Oleh Drs. Yudi Putu Satriadi

Abstrak
Untuk mencegah terjadinya konflik akibat stratifikasi sosial, memerlukan suatu penanaman pengertian terhadap sikap masyarakat. Pemberian pengertian ini, di antaranya dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa yang membuat perbedaan kelas sosial dalam masyarakat adalah atas kehendak Allah. Sebenarnya, kesadaran seperti ini sudah terjadi di dalam masyarakat tradisional dengan selalu mencontoh dan melaksanakan semua yang telah diperintahkan oleh leluhur mereka.

Salah satu contoh tentang kesadaran masyarakat dapat mencegah konflik sosial ditemukan di Kasepuhan Cicarucub. Kondisi ini muncul sebagai upaya pemimpin formal dan informal yang berhasil memadukan hukum formal dengan hukum adat. Perpaduan ini terbukti dapat menciptakan suatu situasi masyarakat yang harmonis dengan tetap menjunjung kedua hukum tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.2 Juni 2009

Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat Garut

Oleh Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Warisan budaya pada hakekatnya merupakan pengetahuan yang berfungsi dalam menghadapi tantangan kehidupan. Pada masyarakat tradisional ilmu pengetahuan lebih banyak diperoleh dengan cara turun temurun. Sebagai masyarakat yang mengalami proses sosialisasi dan interaksi dalam arena pergaulan sehari-hari. Salah satu unsur dalam daerah yang bersifat universal yang diwarisi secara turun temurun dan merupakan pengetahuan adalah pengetahuan dan sistem yang berkenaan dengan pegobatan tradisional. Sistem pengobatan tradisional di Kecamatan Tarogong Kabupaten Garut masih mempertahankan nilai-nilai budaya yang di dukung oleh leluhurnya sebagai pedoman dan pegangan hidup.

Pengetahuan sistem pengobatan tradisional sering dipengaruhi oleh unsur-unsur kepercayaan yang sulit diterima akal bahkan tidak diimbangi dengan pengetahuan pengobatan modern. Karena jenis penyakit tidak dapat diketahui secara pasti maksudnya tidak lain adalah untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran pengobatan yang membawa akibat buruk, karena telah ada aturan khusus yang berkaitan dengan cara penggunaannya. Penggunaan ramuan obat tradisional perlu mendapat pehatian agar dalam penggunaannya efektif dan terhindar dari terjadinya kesalahan pada saat pengobatan. Pada prakteknya ahli pengobatan tradisonal memiliki peranan yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat selalu taat pada anjuran. Pengobatan tradisional merupakan bagian budaya masyarakat yang sudah ada sejak dahulu yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Seminar Sejarah, Cirebon 2010

A. Latar Belakang
Sejarah mengungkapkan bahwa di Indonesia pernah berdiri beberapa kerajaan yang berjaya, salah satunya adalah di Cirebon. Bahkan hingga kini kharisma keraton masih berkibar, terlebih pada masyarakat di daerah Cirebon.

Berdirinya keraton di Cirebon banyak menyimpan kisah yang panjang, melintasi kurun waktu beberapa abad lamanya. Sebagai sebuah pemerintahan tradisional yang besar dengan wilayah kekuasaan yang luas, kerajaan Cirebon berawal dari abad ke- 14. Berdasarkan manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abad ke- 14 datanglah seorang ulama dari Campa bernama Syekh Hasanudin di Karawang. Di daerah ini Syekh Hasanuddin mendirikan sebuah pondok pesantren Quro.

Setelah berdirinya pesantren ini, perkembangan agama Islam menjadi pesat dan dikenal sampai keluar wilayah Karawang. Salah seorang muridnya yaitu Nyai Subanglarang, anak saudagar kaya di Pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Ketenaran pesantren Syekh Hasanudin mendorong Sri Baduga untuk memeriksa pesantren ini. Pada saat melakukan inspeksi tersebut, Sri Baduga tertarik pada salah seorang santri yaitu Nyai Subanglarang. Atas persetujuan Syekh Hasanuddin, Sri Baduga mempersunting Nyi Subanglarang menjadi permaisurinya.

Hasil perkawinan Sri Baduga dan Subanglarang dikarunia 3 orang putra yaitu Pangeran Walangsungsang, Ratu Larasantang, dan Kian Santang. Setelah ibunya wafat, Pangeran Walangsungsang dan Ratu Larasantang memutuskan untuk memperdalam Agama Islam. Setelah selesai memperdalam Agama Islam, Pangeran Walangsungsang mendirikan pedukuhan di daerah Lemah Wungkuk di sebelah selatan Bukit Amparanjati. Pedukuhan ini berkembang dan semakin ramai, kemudian diberi nama Tegal Alang-alang. Pangeran Walangsungsangpun diangkat menjadi kuwu atau kepala desa dengan gelar Ki Samadullah. Sumber lain mengatakan Pedukuhan ini diberi nama Witana, berasal dari kata Awit ana, yang berart pertama ada.

Pedukuhan ini semakin ramai, sehingga kemudian diberi nama Caruban atau Carubanlarang. Masyarakat pun mengangkat Ki Gedeng Alang-alang sebagai Kuwu Caruban pertama, sedangkan Pangeran Walangsungsang diangkat menjadi Pangraksabumi dengan gelar Ki Cakrabumi.

Pangeran Walangsungsang mempersunting seorang gadis bernama Nyai Indang Geulis, anak dari Ki Gedeng Alang-alang Setelah menunaikan ibadah Haji, Pangeran Walangsungsang membangun sebuah pesanggrahan dekat sungai Kriyan, pesanggrahan tersebut diberi nama Pesanggrahan Pakungwati.

Pada Tahun 1470 M, Pangeran Walangsungsang menyerahkan kendali pemerintahan kepada Syekh Syarif atau Syarif Hidayatullah putera dari adiknya Nyai Lara Santang yang menikah dengan Syarif Abdulah dari Mesir.

Pada tahun 1479, Pesanggarahan ini diperluas menjadi sebuah keraton, dengan nama Keraton Pakungwati. Sejak berdirinya Keraton Pakungwati dengan Rajanya Syarif Hidayatullah yang memperistri Ratu Ayu Pakungwati putri Pangeran Walangsungsang, daerah Cirebon berkembang dengan sangat pesat. Pelabuhan Cirebon menjadi salah satu persinggahan kapal dagang baik dari kerajaan yang ada di walayah nusantara seperti Banten, Aceh, Maluku, maupun dari luar negeri seperti Cina dan Eropa.

Melihat aneka-ragam barang-barang komoditi eskpor dan impor dari dan ke Cirebon dengan kuantitas yang cukup besar dan frekwensi yang cukup tinggi, memberikan indikasi bahwa Cirebon merupakan kota Pelabuhan yang besar dan ramai. Kondisi semacam ini dapat terbentuk bila ditopang oleh adanya sistem pemerintahan yang teratur, kuat, dan stabil. Selain itu, kondisi semacam ini didukung oleh infrastruktur yakni penduduk yang relatif banyak dengan tingkat keahlian yang heterogen.

Menurut sumber tradisi, pada waktu itu wilayah Cirebon meliputi daerah Singapura dan Amparan Jati di sebelah utara Cirebon, dimana terdapat pelabuhan Muhara Jati, Japura dan Losari di pesisir timur Cirebon. Susuhunan Jati (1470) dengan dukungan kaum muslimin setempat dan Sultan Demak, membangun kekuasaan sendiri di Cirebon dan melepaskan diri dari Kerajaan Sunda (Edi S. Ekadjati, 1990:12). Saat itu, wilayah kekuasaan Kerajaan Cirebon meliputi daerah selatan menguasai Luragung, Kuningan, Talaga, dan Galuh. Ke arah barat daya, menguasai Sindang Kasih (Majalengka sekarang), Sumedang Larang, dan Tatar Ukur (Bandung dan sekitarnya). Ke arah barat menguasai daerah Dermayu, Krawang, Banten, Kalapa, Sagalaherang, dan Cibalagung (Atja, 1986:152 dan 189). Adanya pengaruh Cirebon ke daerah Tatar Ukur, terbukti adanya beberapa piagam yang ditandatangai oleh Sultan Cirebon yang ditujukan kepada kepala-kepala di daerah ini, misalnya piagam yang ditujukan kepada Wedana Banjaran (Edi S. Eksdjati, 1982:395-397).

Kejayaan keraton Pakungwati berlangsung sampai pertengahan abad ke-17, yaitu sampai masa pemerintahan Panembahan Pakungwati II (1649-1662) raja ke- lima setelah Sultan Syarif Hidayatullah. Setelah Panembahan Pakungwati II meningal dunia terjadi perpecahan diantara ketiga anaknya. Anak tertua dari Panembahan yaitu Pangeran Muhammad Badarudin pada tahun 1688 membangun keraton tersendiri dengan nama Keraton Kanoman dengan Pangeran Muhammad Badarudin sebagai rajanya, sedangkan Keraton Pakungwati berubah menjadi Keraton Kasepuhan dengan Pangeran Samsudin sebagai Sultan Sepuh pertama.

B. Masalah
Penulisan sejarah keraton Cirebon baik berupa buku, artikel-artikel yang dimuat di koran maupun majalah telah banyak. Namun uraian cerita dari masing-masing tulisan tersebut hampir sama, tidak ada tulisan baru yang dapat memberi nuansa baru sebagai bahan informasi tambahan bagi penulisan sejarah Cirebon.

Lebih jauh ditegaskan oleh Azyumardi Azra bahwa dalam kasus-kasus tertentu, indentitas kerajaan di masa silam sebagian besar tumpang tindih dengan etnisitas dan batas-batas wilayah propinsi. Tentu menjadi menarik untuk diperhatikan atas upaya indentifikasi itu. Di atas telah disinggung bahwa faktor entitas politik, indentitas etnisitas dan daerah di masa lalu, serta alternatif kepemimpinan di masa kini dan masa mendatang, menjadi pendorong munculnya kerinduan dan romantisme pada kerajaan.

Dengan demikian, menjadi suatu keharusan faktor-faktor di atas dijadikan permasalahan utama yang akan digali secara mendalam di dalam seminar ini. Penggalian itu tentu saja harus memakai pendekatan sejarah agar gagasan-gagasan tentang entitas politik, indetitas kedaerahan, dan pola kepemimpinan diletakan dalam kerangka ke-Indonesian. Alhasil, setiap upaya penggalian sejarah dimaksudkan untuk meneguhkan proses menjadi Indonesia

C. Tujuan
Dengan adanya permasalahan di atas kami mencoba untuk menggali, mengungkap lebih jauh peristiwa sejarah Cirebon dengan mengundang berbagai nara sumber yang mengetahui tentang adanya peristiwa sejarah Cirebon yang belum terungkap dalam sebuah seminar.

Di samping itu, seminar ini mengajak generasi muda dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya pemahaman dan pengetahuan kesejarahan guna mempertebal jati diri sebagai putera bangsa Indonesia melalui penggalian sejarah lokal. Dan mengaktuali-sasikan nilai kesejarahan bagi persatuan dan kesatuan melalui pemahaman fungsi, makna, dan manfaat sejarah atas dasar kesadaran sejarah yang tinggi.

D. Tema
Tema yang akan diangkat dalam seminar ini adalah “Dinamika Sosial Politik Cirebon Abad ke-17-18”

E. Pembicara
Dari tema di atas, pembicara dan materi yang akan disampaikan dalam seminar ini adalah:
  1. Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Guru Besar Universitas Indonesia) - Strategi Keraton Cirebon Dalam Menjaga Stabilitas Sebagai Kerajaan Pesisir
  2. Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis (Guru Besar Universitas Padjadjaran) - Situasi Politik Tradisional di Cirebon Abad ke-17-18
  3. Prof. Dr. Dadan Wildan (Staf Ahli Kementrian Sekretariat Negara) - Warisan Kepemimpinan Tradisional Sunan Gunung Jati terhadap Kesultanana Cirebon Abad ke-17-18
  4. Kartani (Budayawan Cirebon) - Gegelan Tanda Kaprabon (kulun-kulun): Pelantikan Adat Kepala Desa
  5. Drs. Raffan Hasyim, M.Hum. - Peristiwa Penting sekitar Abad ke 17-18 Berdasarkan Catatan Lisan dan Tertlis
  6. Drs. Djuanda Syahbudin (Kepala Kantor Pertanahan Kota Cirebon) - Sistem Penguasaan Tanah di Cirebon Dulu dan Sekarang
F. Peserta
Peserta yang akan diundang dalam seminar ini, sebanyak 100 orang yang berasal dari berbagai kalangan seperti generasi muda, tokoh masyarakat, para pengajar di berbagai tingkat, LSM, peneliti dan pemerhati sejarah, kalangan instansi, dan sebagainya. Sedangkan pelaksaan seminar akan dilaksanakan di Cirebon.

G. Panitia Pelaksana
Kegiatan ini dilaksanakan oleh panitia yang merupakan gabungan kepanitian antara BPSNT Bandung Disporabudpar Kota Cirebon.

H. Waktu dan Tempat
Pelaksanaan Seminar Sejarah di Cirebon sesuai dengan program kerja Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung dan bekerja sama dengan Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata, Kota Cirebon. Akan dilaksanakan pada tanggal 28-29 September 2010, di Cirebon

Pola Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Situ, Kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut

Oleh Drs. Yudi Putu Satriadi, dkk.

Abtrak
Penelitian ini selain mengungkapkan gambaran umum dan kebudayaan Kampung Situ, yakni meliputi penduduk dan mata pencahariannya, sistem kemasyarakatan, bahasa, sistem teknologi, stratifikasi sosial, religi dan sistem pengetahuan, serta pola perkampungan, letak administratif, sarana komunikasi dan transportasi serta keadaan alam, juga mengungkap prospek dari terjadinya kontak-kontak antarbudaya masyarakat asal dan masyarakat pendatang serta akibat dibangunnya beberapa sarana rekreasi.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 14, Juli 1998

Paraji, Sosok Pesalin Tradisional pada Masayarakat Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur

Oleh Drs. Suwardi Alamsyah P., dkk.

Abstrak
Penelitian ini mengungkapkan peran paraji dalam kegiatan menolong bagi yang ingin mendapatkan keturunan/memeriksa saat ibu hamil, menolong dalam proses persalinan, merawat ibu yang baru melahirkan, serta merawat bayi yang baru lahir. Selain itu diungkapkan pula pandangan masyarakat terhadap peranan peraji dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dua pesalin tradisional di Kabupaten Cianjur.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 14, Juli 1998

Kajian Isi Naskah Wawacan Rawi Mulud

Oleh Dra. Yanti Nisfiyanti, dkk.

Abtrak
Naskah Wawacan Rawi Mulud yang isinya dikaji oleh penulis, ternyata di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang sangat relevan dengan tujuan pembangunan nasional, khususnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Isi naskah Wawacan Rawi Mulud mengungkapkan hubungan manusia dengan Penciptanya, manusia dengan lingkungan sosialnya, serta nilai-nilai keteladanan wanita.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 13, Juni 1997

Pemukiman Sebagai Ekosistem, Studi Tentang Lingkungan Budaya Pedesaan di Kabupaten Subang

Oleh Drs. Toto Sucipto

Abstrak
Pada paparan hasil penelitiannya, penulis mengungkapkan dan mengkaji tingkat kemantapan ekosistem sebuah desa swasembada dalam tahap perkembangan yang telah dicapainya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 8, Desember 1995

Pengkajian Kekuatan Tenaga Dalam pada Pencak Silat

Oleh Drs. Agus Heryana

Abstrak
Penulis dalam kesempatan ini mengadakan pengkajian masalah tenaga dalam pada pencak silat, yang khusus menggarap masalah aspek mental spiritual. Pembahasannya lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat internal, pengolahan rasa atau pengolahan diri, sehingga seseorang dapat menguasai suatu ilmu tenaga dalam.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 13, Juni 1997

Pola Kehidupan Buruh Pelabuhan di Pelabuhan Cirebon

Oleh Drs. Hermana

Abstrak
Penelitian ini memaparkan bagaimana pola kehidupan buruh pelabuhan di Pelabuhan Cirebon, dengan menyoroti hubungan mereka dengan pengusaha, baik dilihat dari tata kerja, masalah upah, serta hubungan buruh dengan pemerintah/negara.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Sistem Ekonomi Perajin Rangginang di Desa Cikoneng Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung

Oleh Dra. Ani Rostiati

Abstrak
Penulis mengungkapkan sistem ekonomi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok hidupnya yang meliputi pola produksi dan pola distribusi. Kemudian, dikaji pengaruh perubahan kebudayaan terhadap sistem ekonomi masyarakat tersebut.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 8, Desember 1995

Kesenian Daerah di Jawa Barat

Oleh Drs. Yuzar Purnama, dkk.

Abstrak
Hasil dari penelitian ini dapat diketahui sejumlah kesenian tradisional yang ada di Jawa Barat. Sekaligus juga mengetahui sejarah, tata cara penyajian, biodata, dan perkembangan kesenian itu pada masyarakat pendukungnya. Berbagai faktor yang menghambat dan mempercepat perkembangan kesenian ini pun dapat diihat dari kupasan ini, demikian pula fungsi kesenian bagi masyarakat pendukungnya dimulai dari alat untuk pengantar upacara adat, tari pergaulan, sampai pertunjukan.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 16, Desember 1998

Perubahan Sikap Masyarakat (Dampak Pembangunan Pabrik Sandang terhadap Proses Sosialisasi dan Sikap dalam Pendidikan Anak di Desa Malakasari Kecamatan

Oleh Dra. S. Dloyana Kusumah

Abstrak
Penelitian ini menggambarkan perubahan mata pencaharian di Desa Malakasari yang mempengaruhi proses sosialisasi dan sikap terhadap pendidikan anak. Adanya pabrik sandang Bajatex di desa tersebut, selain dapat meningkatkan ekonomi keluarga, juga menyebabkan berkurangnya intensitas interaksi antarindividu karena waktu untuk berkumpul/bertemu dengan keluarga dan tetangga sangat terbatas. Dampak lain, digantikannya cara mendidik anak seperti orang tua dahulu dengan cara yang lebih praktis.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 15, Agustus 1998

Struktur dan Isi Puisi Sisindiran Bahasa Sunda di Kabupaten Bandung

Oleh Drs. Aam Masduki

Abstrak
Sisindiran yang merupakan salah satu bentuk puisi Sunda lama, yang banyak digemari masyarakat karena bahasanya sederhana dan mudah dipahami, serta perkembangannya kini makin luwes, mudah memasuki berbagai gender sastra lainnya, ternyata banyak hidup dan bertebaran di berbagai daerah di Jawa Barat, salah satunya adalah daerah Kabupaten Bandung. Dalam laporan penelitian ini penulis berusaha mengupas dan mengkaji masalah struktur dan isi sisindiran yang banyak terdapat di daerah Kabupaten Bandung.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 13, Juni 1997

Program Peningkatan Kinerja Kemampuan Staf Peneliti dan Pengkajian Naskah Kebudayaan Daerah Pada Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Oleh Dra. S. Dloyana Kusumah

Abstrak
Keberhasilan suatu mekanisme kerja sebuah lembaga, salah satunya adalah bergantung pada kinerja SDM-nya. Demikian pula halnya dengan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, sebagai salah satu lembaga yang bertugas menyediakan informasi kebudayaan daerah, pada dasarnya akan berhasil dalam melaksanakan program kerjanya, jika staf peneliti, tenaga administrasi, dan tenaga dokumentasi sebagai SDM memiliki kinerja yang dapat diandalkan.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 13, Juni 1997

Tingkat Kesejahteraan Keluarga Nelayan: Studi tentang Upaya Penanggulangan Kemiskinan Keluarga Nelayan

Oleh Drs. Toto Sucipto

Abstrak
Kemiskinan, ketertinggalan, keterbelakangan, dan kesengsaraan, seolah-olah telah menjadi predikat yang erat melekat dalam kehidupan nelayan. Persoalan eksternal dan internal yang menyebabkan banyak keluarga nelayan berada di bawah garis kemiskinan atau sebagian besar termasuk dalam kategori/tahap Keluarga Pra Sejahtera, barangkali dapat membuka cakrawala pemahaman tentang latar belakang kehidupan mereka.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 13, Juni 1997

Pelestarian Peninggalan Sejarah di Kabupaten Majalengka

Oleh Drs. Endang Nurhuda

Abstrak
Penulis mengungkapkan berbagai peninggalan bersejarah yang terdapat di Kabupaten Majalengka, yang berasal dari masa pra Islam sampai masa Revolusi Kemerdekaan. Peninggalan tersebut, terdiri atas benda-benda peninggalan Kerajaan Talaga yang menjadi koleksi Museum Sunan Talaga Manggung, Tradisi Megalitik, Makam Bersejarah, Bangunan Bersejarah, dan Monumen Perjuangan. Dalam tulisan ini diungkapkan pula bagaimana pentingnya pelestarian peninggalan bersejarah dan langkah yang telah ditempuh dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan peninggalan bersejarah yang terdapat di Kabupaten Majalengka.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Sistem Pertanian Tradisional Jawa Barat

Oleh Drs. Nandang Rusnandar

Abstrak
Penulis membatasi tulisannya pada faktor letak, iklim dan suhu daerah penelitian, latar belakang kebudayaan, proses industrialisasi, sistem pengetahuan tradisional yang melingkupi nama-nama Pranatamangsa atau Mangsa di daerah Baduy, aturan tebar dan tandur di daerah Priangan, sistem pertanian seperti struktur penggarapan, struktur pemeliharaan, serta istilah-istilah keadaan padi di sawah.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 10, April 1996

Kajian Babad Talaga

Oleh: Drs. Tjetjep Rosmana dan Drs. Endang Nurhuda

Abstrak
Penulis membatasi tulisan sekitar aspek kesejarahan, asal usul Kerajaan Talaga, proses penyebaran Islam di Talaga, Kerajaan Talaga masa pemerintahan Kolonial, dan silsilah raja-raja Kerajaan Talaga. Selain itu juga dikemukakan struktur cerita Babad Talaga, antara lain alur cerita, tokoh dan penokohan, setting dan tema. Dari aspek nilai, dikemukakan nilai budaya, nilai moral, nilai sosial yang terdapat dalam Babad Talaga.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 10, April 1996

Babad Dermayu: Sebuah Bentuk Sastra Sejarah

Oleh: Drs. Yuzar Purnama

Abstrak
Penulis membatasi tulisannya Babad Dermayu sebagai analisis struktural yang melingkupi alur cerita, latar, tokoh, dan tema. Babad Dermayu sebuah bentuk sejarah mengetengahkan babad sebagai sebuah cerita yang mengandung sejarah, unsure Islam dalam Babad Dermayu, peranan wanita dalam pembangunan, musyawarah untuk mufakat, tata upacara peresmian.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 10, April 1996

Biografi R. Natakusumah

Oleh: Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Penulis membatasi tulisannya pada lingkungan keluarga dan pendidikan, serta keaktifannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, penumpasan pemberontakan DI/TII SM Kartosuwiryo, penumpasan pemberontakan RSM Maluku Selatan, Konfrontasi dengan Malaysia (Dwikora), Menjalani Tugas di Seskoad, aktivitas Purnabakti, hingga Kehidupan Keluarga dan Kepribadiannya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 10, April 1996

Salah Urus, Seni Tradisi Mendekati Kepunahan

BANDUNG, (PR).- Akibat salah urus, banyak nilai tradisi, kesenian tradisional, serta budaya daerah yang terus mendekati kepunahan. Selain program pemerintah tidak jelas, penempatan pejabat bukan ahli di bidangnya, menjadi penyebab salah urus. Demikian ditegaskan Direktur Tradisi Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI Poppy Safitri saat Temu Tokoh Peranan Perempuan Sunda dalam Perjuangan Bangsa" di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, Jln. Cinambo, Bandung, Kamis (5/8). "Sangat wajar jika banyak kesenian dan nilai tradisi serta kebudayaan di daerah mendekati kepunahan, bahkan hilang atau mati," ujarnya.

Selain akibat dipegang pejabat yang bukan ahlinya, menurut Poppy, pergantian ataupun rotasi pimpinan dinas yang membawahi seni budaya tradisional yang terbilang cepat, juga menjadi penyebab. "Padahal untuk mengurus seni budaya, dibutuhkan waktu untuk mempelajari kesenian dan kebudayaan daerah. Dengan demikian, pejabat bersangkutan akan paham," tuturnya.

Selain sejumlah program yang tidak tepat sasaran, Poppy juga menyayangkan daerah yang tidak menggelar festival atau pertunjukkan budaya dan kesenian. Festival budaya dan kesenian di daerah merupakan wadah kreasi sekaligus upaya melestarikan kesenian dan kebudayaan di daerah. "Sudah menjadi kewajiban pemerintah daerah menggelar festival kebudayaan dan kesenian daerah. Namun, terkadang dicibir oknum pejabat maupun anggota dewan karena dianggap menghabiskan anggaran," ucapnya. (A-87)***

Sumber: http://bataviase.co.id

Udjo, Seniman Angklung dan Aktifitasnya

Oleh: Dra. Lasmiyati

Abstrak
Penulis mengungkapkan perjalanan hidup seorang seniman Jawa Barat, yaitu Pak Udjo, dalam kiprahnya mengangkat serta mengembangkan kesenian angklung di Jawa Barat. Atas perjuangannya, angklung kini menjadi salah satu kesenian khas budaya Jawa Barat, yang terkenal tidak saja di Indonesia, juga di luar negeri.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Latar Belakang Berdirinya Sekolah Staf dan Pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Sespim Polri) di Kabupaten Bandung

Oleh: Drs. H. Iwan Roswandi

Abstrak
Penelitian ini mengungkapkan latar belakang berdirinya Sekolah Staf Pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Sespim Polri) di Kabupaten Bandung, dengan tinjauan latar belakang sejarah Kepolisian, sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang, Kepolisian pada masa Proklamasi dan setelah Proklamasi, struktur POLRI di bawah Kementerian Dalam Negeri dan Perdana Menteri, lahirnya Sespim POLRI, serta struktur organisasi, tugas, dan fungsi Sespimpol.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Lomba Penulisan dan Diskusi Kebudayaan 2010

A. Latarbelakang

Pada hakekatnya suatu komunitas (bangsa) terbentuk karena adanya persamaan dalam berbagai faktor, antara lain: politik, teritorial, budaya, bahasa, agama, etnisitas, dan pengalaman bersama di masa lalu yang kemudian menjadi ingatan kolektif. Dan, identitas kolektif adalah perekat suatu bangsa. Apalagi, jika disertai dengan kesetiaan dan tanggung jawab dari anak bangsa.

Kesetiaan memang tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus terus menerus dibina atau dipupuk. Salah satu caranya adalah dengan memberi pengalaman dan pengetahuan yang akurat tentang kebudayaan masyarakat dan atau bangsanya. Sebab apa yang kita lakukan di masa kini tidak lepas dari pengalaman masa lalu yang terakumulasi dalam bentuk kebudayaan milik masyarakat yang dijadikan acuan sekaligus merancang kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Kegiatan yang mengerucut pada pemahaman dan pengetahuan yang akurat tentang kebudayaan masyarakat dan atau bangsanya antara lain dapat terwujud melalui penulisan dan diskusi. Perilaku masyarakat atau kebudayaan dalam arti luas, masih banyak yang belum tergali atau diketahui oleh masyarakat lain, sehingga banyak anggota masyarakat, terutama generasi mudanya, tidak mengetahui hal tersebut. Penyuluhan dan penyebaran informasi melalui kegiatan penulisan dan diskusi kebudayaan, dengan demikian, menjadi sesuatu yang perlu dilakukan.

Bertolak dari pemikiran itu, maka Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung memandang perlu untuk melakukan kegiatan lomba penulisan yang berkaitan dengan fenomena budaya yang ada di sekitar kita baik yang terlihat dengan kasat mata (dilihat dan dirasakan langsung), melalui media massa, kepustakaan, maupun fenomena budaya yang disaksikan dari media elektronik, dengan tema ”Memperkokoh Jatidiri melalui Lomba Karya Tulis Kebudayaan”.

B. Ruang lingkup

Ruang lingkup penulisan kebudayaan adalah fenomena-fenomena kebudayaan yang terjadi di lingkungan sekitar peserta yang meliputi tujuh (7) unsur kebudayaan yaitu sistem kemasyarakatan (kekerabatan), sistem teknologi tradisional, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan tradisional, mata pencaharian, kesenian dan bahasa. Dengan demikian diharapkan para peserta lebih mengenal lingkungan sekitarnya baru kemudian mengembangkannya keluar.

C. Tujuan

  1. Mendorong generasi muda agar dapat menuangkan idenya kedalam bahasa tulis (Indonesia) yang baik dan benar;
  2. Menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah;
  3. Membangkitkan keinginan untuk memperkokoh jatidiri dan integrasi;
  4. Mengajak generasi muda (siswa SMU sederajat) untuk mengekpresikan diri melalui karya tulis;
  5. Mengajak generasi muda untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya pemahaman dan pengetahuan kebudayaan guna memperkokoh jati diri sebagai putera bangsa Indonesia melalui penggalian budaya daerah;
  6. Memperluas wawasan generasi muda tentang keberagaman kebudayaan daerah Bangsa Indonesia.
D. Topik Penulisan

  1. Upacara tradisional dan pantangan-pantangan
  2. Peralatan tradisional (peralatan rumah tangga, peralatan pertanian)
  3. Cerita Rakyat.
  4. Ungkapan tradisional misalnya ungkapan (babasan), peribahasa (paribasa), sisindiran dan sebagainya.
  5. Permainan rakyat
  6. Kepercayaan suatu masyarakat misalnya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa, kepercayaan terhadap sesuatu diluar agama yang dianutnya.
  7. Pengetahuan tradisional (tentang hujan, kesuburan tanah, penentuan hari baik, perbintangan, dan sebagainya)
  8. Pengobatan tradisional
  9. Kesenian tradisional
  10. Mata pencaharian dan perekonomian tradicional
  11. Sistem teknologi tradisional dalam pembuatan suatu barang misalnya pandai besi, pembuatan gerabah, pembuatan batik, pembuatan berbagai macam oleh-oleh (cenderamata), dan sebagainya.
  12. Kampung adata tau komunitas adat
  13. Arsitektur tradisional
E. Peserta

Sesuai dengan sasaran lomba yaitu kalangan generasi muda, maka peserta yang terlibat dalam lomba penulisan dan diskusi kebudayaan adalah para pemuda yang pada saat lomba masih berstatus sebagai siswa sekolah menengah atas (SMA/U sederajat) yang berada di wilayah kerja Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Provinsi: Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung).

F. Waktu dan Tempat

Naskah karya tulis kebudayaan harus sudah masuk ke meja panitia paling lambat 31 Agustus 2010. Penyelenggaraan Final Lomba Penulisan dan Diskusi Kebudayaan akan dilaksanakan pada bulan September 2010 di kantor BPSNT Bandung.

G. Ketentuan Lomba

  1. Peserta lomba adalah siswa setingkat SMA (SMA, SMK, Madrasah Aliyah, Mualimin dan sekolah lain yang sederajat) yang berada di wilayah kerja Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung yaitu Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Propinsi Lampung.
  2. Karya tulis harus asli, tulisan sendiri, bukan kutipan utuh, terjemahan, saduran dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba karya tulis lain, serta belum pernah dipublikasikan. Dalam hal ini penggunaan beberapa kutipan yang diperoleh dari penulis lain dibolehkan sepanjang tetap mencantumkan sumber kutipan tersebut.
  3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sekalipun menggunakan gaya bahasa populer.
  4. Isi karya tulis harus relevan dengan topik, sedangkan judul bebas.
  5. Karya tulis ditik dua spasi (spasi rangkap) pada kertas A4 satu muka (tidak bolak-balik), dengan jumlah halaman minimal 5 sampai 10 halaman atau 2500 sampai 3000 kata.
  6. Karya tulis harus mendapat pengesahan dari kepala sekolah bersangkutan
  7. Karya tulis yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara.
  8. Semua naskah yang masuk akan dinilai oleh suatu tim penjurian yang dibentuk oleh Panitia Penyelenggara dengan kriteria penilaian pada: isi karangan, penyajian, dan bahasa.
  9. Enam peserta terbaik hasil penilaian tim juri akan diundang ke BPSNT Bandung untuk mempresentasikan karya tulisnya di depan forum untuk menentukan pemenang utama I, II, III, dan pemenang harapan I, II, dan III.
  10. Karya tulis dari peserta selambat-lambatnya diterima panitia pada taggal 1 September 2010
  11. Bentuk pengiriman adalah printout dan CD
  12. Keputuan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.
G. Hadiah

Panitia menyediakan hadiah uang tunai, piagam, dan trophi bagi 6 pemenang.
  • Juara I Rp. 1.500.000,-
  • Juara II Rp. 1.250.000.-
  • Juara III Rp. 1.000.000,-
  • Juara harapan I Rp. 750.000,-
  • Juara harapan II Rp. 600.000,-
  • Juara harapan III Rp. 500.000,-
Catatan: Pajak 15% terhadap hadiah berupa uang dibebankan kepada pemenang.

Popular Posts