WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Upacara Babarit

Sejarah Singkat Karya Budaya
Upacara Babarit merupakan salah satu tradisi yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Betawi yang tinggal di wilayah Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur atau warga masyarakat keturunan Kramat Aris. Upacara babarit adalah upacara selamatan bagi warga masyarakat agar hasil pertanian mereka tetap bagus dan meningkat, serta hasil ternak masyarakat juga tetap meningkat. Pada mulanya upacara babarit adalah upacara untuk menghormati roh halus atau roh nenek moyang sebagai pelindung kampung. Dalam perkembangannya, upacara tersebut merupakan sarana penyampaian ucapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas berkah yang dilimpahkan, terutama menyangkut hasil pertanian atau hasil bumi.

Deskripsi Singkat Karya Budaya
Nama lain dari upacara babarit adalah upacara baritan. Kata babarit atau baritan sendiri berarti sedekah bumi. Karena upacara tersebut dilaksanakan pada bulan maulud, Pesta Mauludan juga merupakan nama lain dari upacara babarit. Karena tempat pelaksanaan upacara tersebut di lokasi Kramat Aris, Pesta Kramat Aris juga menjadi istilah lain dari upacara babarit atau upacara baritan.

Tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan upacara babarit, yaitu: (1) menghormati roh halus atau roh nenek moyang sebagai pelindung kampung; (2) penolak bala atau permohonan perlindungan kepada Yang Maha Kuasa agar kampung tersebut berikut para penghuninya terhindar dari berbagai hal atau peristiwa yang tidak diharapkan terjadi, seperti musibah, penyakit, dan paceklik; (3) sarana penyampaian ucapan terima kasih dan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkah yang dilimpahkan, terutama menyangkut hasil pertanian atau hasil bumi dan ternak; (4) mempererat tali silaturakhim antarwarga masyarakat Betawi keturunan Kramat Aris, baik yang menetap di dalam dan di luar wilayah Kelurahan Setu; (5) menghidupkan perekonomian warga setempat karena pada saat berlangsung upacara, warga masyarakat diizinkan berjualan di sepanjang Jalan Kramat Aris; (6) mengenang keberadaan Kramat Aris; dan (7) melestarikan budaya agar tidak punah.

Upacara babarit diselenggarakan setiap tahun, tepatnya pada bulan Maulud. Pemilihan tanggal pekalsanaan upacara tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan ada syaratnya. Yang pertama, upacara babarit harus diselenggarakan setelah pelaksanaan upacara Mauludan di Cirebon; yang kedua, hari pelaksanaan upacara babarit harus jatuh pada Jumat. Meskipun demikian, tidak ada ketentuan yang mengatur jaraknya hari pelaksanaan upacara babarit dari hari penyelenggaraan Mauludan di Cirebon. Yang pasti, waktunya masih tetap berada pada bulan Maulud dan harus jatuh pada hari Jumat.

Orang yang bertugas menentukan tanggal pelaksanaan upacara babarit biasanya juru kunci Kramat Aris. Kelebihan dia seagai juru kunci dipandang mampu menentukan hari baik untuk pelaksanaan upacara tersebut. Ketika tanggal yang didapat ternyata bukan jatuh pada hari Jumat, dapat dipastikan harus diundur ke tanggal lainnya yang bertepatan dengan Jumat.

Tempat pelaksanaan upacara babarit dipusatkan di Kramat Aris yang terletak di Jalan Kramat Aris, RT004/RW03, Kampung Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur. Selain itu, ada lokasi lain yang digunakan untuk kepentingan upacara tersebut, yakni sepanjang jalan Kramat Aris, Jalan Bambu Ulung, Jalan Raya Setu, dan jalan Hankam.

Melaksanakan upacara babarit setiap tahun merupakan pesan leluhur masyarakat Betawi di Kampung Setu, atau keturunan Aris Wisesa. Oleh karena itu, upacara tersebut merupakan salah satu tradisi masyarakat Betawi, khususnya keturunan Aris Wisesa, baik yang ada di dalam maupun di luar wilayah Kampung Setu. Dahulu memang seperti itu, tetapi sekarang banyak juga warga masyarakat di luar itu yang mengikuti upacara tersebut, di antaranya mereka yang biasa berziarah ke Kramat Aris meski bukan keturunan Kramat Aris.

Pelaksanaan upacara babarit dipimpin oleh seorang juru kunci Kramat Aris. Hal itu berlaku dari dahulu hingga saat ini. Juru kunci adalah orang yang diberi kepercayaan dan tanggung jawab untuk menjaga area Kramat Aris dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kramat Aris. Selain merupakan keturunan Aris Wisesa, juru kunci juga merupakan keturunan dari para juru kunci sebelumnya.

Persiapan upacara dilakukan dua minggu sebelum Maulud, diantaranya dengan mengadakan rapat pertemuan antara juru kunci, tokoh masyarakat, ketua RT, dan Ketua RW untuk membahas berbagai hal berhubungan dengan pelaksanaan upacara babarit. Beberapa hal penting di antaranya adalah tentang waktu, dana, acara, juga tentunya tentang pembentukan kepanitian yang akan bertanggng jawab terhadap pelaksanaan upacara babarit. Satu hal yang paling penting adalah segala sesuatunya dilakukan secara gotong royong, termasuk untuk pendanaan kegiatan tersebut.

Upacara babarit dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama disebut dengan istilah mangkatan, yaitu ritual awal yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan upacara babarit. Ritual tersebut diisi dengan acara Maulud Nabi yang diisi dengan acara doa bersama dan tahlilan. Setelah itu, dilanjutkan pada acara budaya berupa pertunjukan kesenian tradisional masyarakat Betawi. Waktunya dimulai dari Magrib sampai dengan larut malam.

Hari kedua, kira-kira pukul 07.00 WIB, dilakukan penyembelihan seekor kambing yang harus berkalamin jantan dan berukur kira-kira satu tahun. Selain itu, juga dilakukan pemotongan ayam jantan. Jumlahnya tidak terbatas satu saja, bisa juga lebih dari satu. Hal itu sangat bergantung pada dana yang tersedia.

Sekitar pukul 15.00 WIB, semua peserta arak-arakan dengan segala perlengkapannya sudah siap memulai perjalanan arak-arakan dengan rute jalan meliputi Jalan Kramat Aris, Jalan Bambu Ulung, Jalan Raya Setu, dan Jalan Hankam. Namun sebelum hal itu dilakukan, ada pembukaan secara resmi. Diawali dengan sambutan dari juru kunci dan perwakilan dari instansi pemerintah; lalu doa bersama dipimpin oleh tokoh agama setempat; dan diakhiri dengan memecahkan kendi yang dilakukan oleh tokoh dari pemerintahan setempat serta dimeriahkan dengan bunyi petasan dan irama musik dari kesenian barongan. Hal itu sebagai tanda acara arak-akaran secara resmi dapat segera dilaksanakan.

Perjalanan arak-arakan dilanjutkan kembali menyusuri Jalan mabes Hankam hingga ke perbatasan antara jalan tersebut dengan Jalan Kramat Aris. Di ujung jalan tersebut, sesepuh meletakkan ancak dan sebutir kelapa muda. Rute terakhir pun ditelusuri oleh rombongan arak-arakan, yakni menyusuri Jalan Keramat Aris. Selanjutnya, mereka berhenti di belokan yang mempertemukan Jalan Kramat Aris dan Gg. Rawa. Ancak yang terakhir dipasang di tempat tersebut.

Semua ancak yang dibawa dalam perjalanan arak-arakan sudah habis disimpan sesuai dengan tempat peruntukannya. Ancak yang dipasang pada keempat tadi, ada yang sama dan ada pula yang berbeda. Perbedaan tersebut semata-amata untuk menghargai dan menghormati entitas supernatural yang begitu erat kaitannya dengan kehidupan keturunan Kramat Aris. Hal itu diwujudkan dengan cara menyajikan apa yang disukai oleh entitas supernatural.

Perjalanan rombongan arak-arakan menuju ke tempat-tempat penyimpanan ancak menghabiskan waktu sedikitnya 1,5 jam. Setelah itu, rombongan kembali ke tempat semula, yakni ke arah Kramat Aris. Suasana di tempat tersebut masih ramai karena panggung hiburan akan diisi dengan acara pertunjukan berbagai kesenian tradisional khas Betawi hingga larut malam. Sementara itu, arena bazar akan kembali ramai pada sore hingga larut malam bersamaan dengan berakhirnya acara hiburan pertunjukan kesenian.

Lawatan Sejarah BPNB Jawa Barat Menengok Kemasyhuran Mantan Presiden RI dan Patriotisme Tentara PETA (Bagian 2)

Enam patung presiden Republik Indonesia yang telah menyelesaikan masa baktinya menyambut para peserta Lawatan Sejarah Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Rabu (22/3/2017) pagi. Di hari kedua agenda lawatan, kunjungan diawali ke Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Museum yang diresmikan pada 18 Oktober 2014 ini berada di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Jalan Ir H Juanda Nomor 1, Kota Bogor.

Sebagaimana namanya, Balai Kirti yang berasal dari bahasa Sanskerta mengandung makna “ruang menyimpan kemasyhuran”. Dalam bahasa Inggris selaras dengan kata “hall of fame”. Tentu saja, pendirian museum ini punya tujuan menjadi rujukan sejarah mengenai kisah kemasyhuran para pemimpin bangsa Indonesia. Pun sebagai inspirasi bagi generasi sekarang dan mendatang dalam membangun bangsa.

Balai Kirti yang dibangun di atas lahan sekira 3.212 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 5.865 meter persegi ini menyajikan karya dan prestasi enam presiden Republik Indonesia—Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Meski ada tiga lantai museum yang dapat dikunjungi, para peserta Lawatan Sejarah BPNB hanya melakukan lawatan wajib ke Galeri Kebangsaan dan Galeri Kepresidenan yang terletak di lantai 1 dan 2. Selain ke enam patung tadi, di Galeri Kebangsaan para peserta beroleh wawasan kesejarahan lainnya yang disampaikan langsung pemandu museum. Ada sejarah patung Garuda Pancasila, teks Proklamasi, teks Pancasila, Pembukaan UUD 1945, teks Indonesia Raya hingga Sumpah Pemuda.

Mereka begitu antusias menyimak paparan yang disampaikan secara lugas dan mudah dipahami. Sesekali, sang pemandu berinteraksi dengan mengajak berpikir para peserta tentang wawasan kebangsaan. Seperti siapa saja perumus teks Pancasila hingga makna simbolis yang terdapat dalam lambang negara Burung Garuda.

Beranjak ke lantai 2 yang diberi nama Galeri Kepresidenan, para siswa penyuka sejarah ini pun dibuat kagum. Mereka dapat secara langsung melihat berbagai koleksi dan informasi penting para pemimpin bangsa. Sebut saja antara lain foto-foto, buku karya presiden, pakaian, penghargaan hingga quote masyhur dari keenam presiden. Namun, berada di ruangan eksklusif ini siapa pun tidak diperkenankan memotret atau mendokumentasikan koleksi pameran.

Kebanyakan para peserta siswa yang rata-rata berusia 16-17 tahun memang lahir, tumbuh dan berkembang pada masa kepemimpinan Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan tentu saja Presiden RI saat ini Joko Widodo. Kendati begitu, mereka demikian kagum mengapresiasi prestasi kemasyhuran keenam presiden yang masing-masing ditata di ruangan berbeda dengan tata pamer yang apik. Dokumentasi foto Presiden Soekarno memang agak berbeda dengan kebanyakan foto presiden lainnya lantaran tercetak dengan warna hitam-putih.

Sejarah adalah cerminan hari ini dan masa mendatang. “Saya dan kami para pelajar, sebagai pemuda generasi penerus wajib mengetahui dan memahami sejarah bangsa ini. Kalau bukan oleh kita yang menghargai jasa para pemimpin bangsa, siapa lagi?” kata Ridwan, peserta pelajar dari SMAN 1 Kabupaten Purwakarta, menggebu.

Masih memegang buku catatan dan alat tulis, imbuh dia, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Toh, dulu para pemuda pun turut andil mengupayakan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.

Menjelang siang, langit Kota Bogor sempat mendung bahkan turun hujan ringan. Rintik mengiringi peserta lawatan sejarah saat hendak menuju Monumen dan Museum Pembela Tanah Air (PETA). Di bilangan Jalan Jenderal Sudirman, di gedung bekas markas Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tersaji banyak informasi sejarah cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

Peserta dibagi dalam dua kelompok besar dengan bimbingan seorang pemandu saat menjelajah ruang museum. “Berada di Museum PETA, hati dan pikiran kita seakan terbawa mengenang jasa perjuangan masa silam para pejuang patriot tanah air.Mereka berani mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk cita-cita kemerdekaan Indonesia,” kata Ridwan yang baru pertama kali ikut lawatan sejarah seperti ini. Selama ini, lanjut dia, sejarah tentang tentara PETA hanya dipelajari dalam buku teks, tetapi dalam kunjungan ini bisa melihat secara langsung apa saja yang digunakan para perwira dan kisahnya.

Pada masa pendudukan Jepang sekira tahun 1943, gedung bekas markas KNIL itu digunakan sebagai pusat pelatihan pasukan yang dikenal sebagai Pembela Tanah Air. Saat itu tentara pribumi yang dilatih masih di bawah pengawasan Dai Nippon. Namun, alih-alih dibentuk untuk membantu Jepang melawan sekutu, PETA kemudian berubah menjadi pasukan yang disiapkan untuk menggapai Indonesia merdeka.

Di museum yang diresmikan 18 Desember 1995 tersebut seluruh peserta diajak melihat berbagai koleksi bersejarah. Ada koleksi berupa patung, pakaian, perlengkapan perang, meriam, replika tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman, senapan dan berbagai senjata lainnya. Sebagian peristiwa sejarah diceritakan dalam bentuk diorama, relif hingga monumen.

Di muka museum, berdiri patung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Panglima TKR Shodancho Supriyadi dengan gestur yang heroik. Tangan kanan mengepal ke atas, sementara tangan kiri menggenggam sebilah samurai. Supriyadi berperan memimpin pemberontakan tentara PETA terhadap pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945.

Pembentukan Karakter
Ini bukan sekadar lawatan sejarah. Ada makna yang terkandung, salah satunya pembentukan karakter bangsa. Direktur Sejarah Ditjenbud Kemdikbud Triana Wulandari memaparkan dalam sebuah pertemuan dengan seluruh peserta, Rabu (22/3/2017) malam. “Dalam makna sejarah ada peristiwa panjang yang mengandung nilai-nilai keteladanan, karakter, jatidiri yang bisa diambil pelajaran untuk kehidupan, pembentukan karakter hingga fungsi kognitif,” paparnya.

Menurut dia, sejarah memiliki peran yang kuat dalam membentuk karakter. Pun sejarah memberi inspirasi, spirit dan motivasi terutama untuk generasi muda. (IA/DTN)*

Kajian Pustaka dalam Penelitian

Oleh Dade Mahzumi

Pendahuluan
Dalam penelitian kebudayaan, kajian pustaka atau studi pustaka merupakan salah satu tahap yang penting. Menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya secara tekun merupakan kerja kepustakaan yang sangat diperlukan dalam mengerjakan penelitian. Suatu penelitian yang baik dan bermutu tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan kegiatan belajar terlebih dahulu tentang masalah terkait lewat bacaan-bacaan yang ditulis oleh para ahli. Dengan membaca terlebih dahulu tentang masalah terkait, peneliti dapat mendeteksi masalah yang kira-kira penting untuk diteliti lebih lanjut. Literatur yang memadai juga akan memberi kepada peneliti gambaran akan hal-hal apa yang kurang dalam penelitian terdahulu sehingga dapat memberi pengarahan pada penelitiannya (Kuntjara, 2006:11).

Dengan melakukan studi pustaka, peneliti juga dapat menggali teori-teori yang berkembang dalam bidang ilmu yang bersangkutan, memperoleh metode-metode serta teknik penelitian yang pernah digunakan peneliti-peneliti terdahulu, memperoleh orientasi yang lebih luas dalam permasalahan yang dipilih, serta menghindari terjadinya duplikasiduplikasi atau plagiasi yang tidak diinginkan. Studi pustaka atau studi literatur, selain dari mencari sumber data skunder yang akan mendukung penelitian, juga diperlukan untuk mengetahui sampai ke mana ilmu yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang. Dengan melakukan studi pustaka, peneliti juga dapat belajar secara sistematis lagi tentang cara-cara menulis karya ilmiah, cara mengungkapkan ide atau pikiran yang lebih kritis dan analitis dalam mengerjakan penelitiannya sendiri (Nazir, 1988:111). Menurut Creswell (1994:20), dengan melakukan kajian pustaka memberikan kerangka untuk menentukan signifikansi penelitian, dan juga sebagai acuan untuk membandingkan hasil suatu penelitian dengan temuan-temuan lain.

Idealnya, sebuah penelitian profesional menggunakan kombinasi kajian pustaka dan lapangan. Namun demikian, sejumlah ilmuwan seperti dari disiplin ilmu sejarah, sastra, dan studi agama, tidak selamanya tergantung dengan data primer dari lapangan. Seringkali mereka membatasi penelitian pada studi pustaka saja, dengan alasan: pertama, karena masalah penelitian tersebut hanya bisa dijawab lewat penelitian pustaka dan tidak mungkin mengharapkan datanya dari riset lapangan; kedua, studi pustaka diperlukan sebagai salah satu tahap tersendiri, yaitu studi pendahuluan untuk memahami lebih dalam gejala baru yang tengah berkembang di masyarakat. Para pakar Islam misalnya, terdorong mempelajari kembali gejala ideologi-ideologi dalam agama Islam di masa lalu untuk mengkaji maraknya aliran-aliran Islam "sempalan" dewasa ini. Alasan ketiga, data pustaka tetap andal untuk menjawab masalah penelitian. Perpustakaan merupakan tambang emas yang sangat kaya untuk riset ilmiah. Lagi pula informasi atau data empirik yang telah dikumpulkan orang lain, baik berupa laporan hasil penelitian atau laporan resmi, serta buku-buku yang tersimpan di perpustakaan tetap dapat dipergunakan oleh peneliti perpustakaan. Dalam kasus tertentu, data lapangan diperkirakan tidak cukup signifikan untuk menjawab masalah penelitian yang akan dilakukan (Zed, 2004:2).

Studi pustaka tentu saja tidak hanya sekedar urusan membaca dan mencatat literatur atau buku-buku sebagaimana yang dipahami banyak orang selama ini. Studi pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Makalah ini tidak bermaksud untuk mengajarkan seseorang menjadi ahli perpustakaan, melainkan untuk memperkenalkan studi atau penelitian kepustakaan secara garis besarnya saja.

Mengenal Perpustakaan
Banyak orang yang menganggap bahwa studi pustaka identik dengan mempelajari buku-buku. Hal ini dikarenakan perpustakaan selama ini selalu diasosiasikan dengan gedung tempat menyimpan buku-buku. Akan tetapi sebenarnya, sejak lama perpustakaan standar selain menyimpan berbagai jenis bahan informasi media cetak, seperti buku, jurnal, majalah, koran, berbagai jenis laporan dan dokumen (yang belum maupun sudah diterbitkan) juga menyimpan karya non-cetak seperti hasil rekaman audio (misalnya kaset), video film (mikrofilm, disket) yang berhubungan dengan teknologi kompuer. Jenis koleksi perpustakaan semacam ini sudah lazim dikenal di perpustakaan-perpustakaan besar, seperti di Perpustakaan Nasional, juga di sebagian perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia.

Berbagai jenis koleksi perpustakaan yang disebutkan di atas, disimpan atau dipajang dalam sistem klasifikasi tertentu. Salah satu sistem klasifikasi koleksi perpustakaan yang paling umum digunakan adalah sistem Dewey Desimal (DD). Sistem ini membagi koleksi perpustakaan (cabang ilmu pengetahuan) ke dalam 9 kelompok ditambah dengan 1 kelompok yang bersifat umum sehingga mencakup bidang ilmu yang lain. Kesepuluh kelompok utama itu adalah sebagai berikut:

000 Karya Umum
100 Filsafat
200 Agama
300 Pengetahuan Sosial
400 Bahasa
500 Pengetahuan Alam
600 Pengetahuan Praktis/Teknologi
700 Kesenian
800 Kesuusastraan
900 Sejarah, Geografi, dan Biografi

Kesepuluh kelompok utama tersebut (000 s.d 900) selanjutnya dirinci lagi ke dalam bidang-bidang tertentu. Jadi jika diinginkan suatu buku mengenai pengetahuan alam, maka kodenya pada digit pertama adalah 5 (kode 500), untuk ilmu sosial, digit pertamanya adalah 3 (kode 300), dan seterusnya. Contoh beberapa kode untuk ilmu sosial:

300 Ilmu Sosial
301 Sosiologi
306 Kebudayaan
321 Bentuk Negara
321.1 Keluarga
321.2 Tribal
321.3 Feodalisme
330 Ilmu Ekonomi
340 Ilmu Hukum

Meskipun ke sepuluh kelompok utama Sistem DD tersebut sampai saat ini tetap dipertahankan secara permanen, tetapi rincian dari masing-masing itemnya terus menerus mengalami perubahan. Oleh karena itu, peneliti yang ingin tahu lebih jauh edisi yang dipergunakan di perpustakaan tertentu, dapat menceknya sendiri dalam buku katalog atau mengkonsultasikannya kepada petugas perpustakaan.

Selain Sistem DD, dikenal juga sistem Library of Congress (LC) yang mana klasifikasi utama dinyatakan dengan huruf. Dalam sistem klasifikasi ini, ilmu pengetahuan dibagi atas 20 kelompok utama yang simbolnya dinyatakan dengan huruf. Kemudian setiap kelompok utama ini dibagi atas kelompok lagi dan dinyatakan dengan sebuah huruf lagi. Pembagian selanjutnya dinyatakan dengan angka. Dengan demikian, angka kode pada buku terdiri dari huruf dan angka. Kode-kode dan angka tersebut dimuat dalam kartu katalog yang terdapat pada perpustakaan. Kelompok utama dari sistem LC adalah sebagai berikut:

A Umum
B Filsafat, Agama
C Sejarah
D Topografi
E-F Amerika
G Ilmu Bumi, Antropologi
H Ilmu Sosial
I Ilmu Politik
K Ilmu Hukum
L Pendidikan
M Musik
N Seni Murni
P Bahasa
Q Ilmu Alam
R Obat-obatan
S Pertanian, Tanaman, Obat
T Teknologi
U Kewiraan
V Ilmu Laut
Z Bibliografi, Ilmu Pustaka

Contoh klasifikasi sistem LC:
Q Ilmu Alam
QC Fisika
QL Zoologi
QL.460 Insekta

Pada umumnya sistem LC digunakan di perpustakaan-perpustakaan yang memiliki koleksi pustaka yang sangat besar.

Selain kedua sistem klasifikasi yang disebutkan di atas, ada kalanya juga perpustakaan-perpustakaan kecil milik lembaga tertentu (yayasan, masjid, gereja, LSM, dsb) yang tersebar di Indonesia menggunakan sistemnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, peneliti dianjurkan agar berkomunikasi langsung dengan petugas perpustakaan yang bersangkutan.

Pengetahuan tentang sistem klasifikasi buku/literatur jelas dapat membantu peneliti untuk mengarahkan ke dalam kelompok mana saja bahan penelitian yang diperlukan/harus dicari. Dalam perpustakaan dengan sistem DD, jika mencari literatur sejarah, maka peneliti harus mencari koleksi pada kelompok no.900 dan seterusnya mencocokannya dengan nomor-nomor desimal yang lebih kecil berdasarkan budang-bidang yang lebih khusus. Misalnya berdasarkan kategori geografis (Asia, Asia Tenggara, Indonesia, dan seterusnya ke tingkat lokal atau regional). Mungkin juga berdasarkan bidang tertentu (agama, ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan, dsb). Kalau topik penelitiannya menggabungkan sejarah dan agama, ia tentu juga bisa masih lebih jauh ke pengelompokan bidang agama (200) dan dari sana meneruskannya ke nomor yang lebih kecil. Di samping itu, tidak berarti bahwa peneliti hanya perlu bergerak pada dua nomor kelompok koleksi di bidang sejarah dan agama saja (900 dan 200), ia juga sepatutnya melacak koleksi dari kelompok lain, entah itu ensiklopedia, jurnal ilmiah, dan lain-lain di mana informasi tentang bahan yang dicarinya diperkirakan dapat ditemukan.

Selanjutnya untuk lebih jauh ke dalam rak buku perpustakaan, masih diperlukan informasi katalog. Katalog perpustakaan merupakan alat bantu bibliografi berisi daftar koleksi perpustakaan yang dirujuk dengan nomor-nomor tertentu menurut susunan klasifikasi dan letaknya dalam perpustakaan. Katalog perpustakaan, baik yang tersedia dalam bentuk buku katalog maupun dalam bentuk kartu katalog akan menuntun pengunjung perpustakaan untuk mencari letak buku/literatur dan selanjutnya untuk membuat bibliografi kerja bagi penelitiannya. Tentu pada saat seseorang mulai menggunakan buku katalog atau kartu katalog koleksi perpustakaan, ia harus sudah mengetahui apa yang diinginkan dan tidak diinginkan. Di sini ada proses seleksi. Akan lebih baik lagi yang bersangkutan sudah mengetahui judul atau pengarangnya, sehingga lebih hemat waktu lagi.

Setiap kartu katalog berisi nama pengarang, judul publikasi, edisi, kota penerbit, nama penerbit, tahun, dan keterangan (tentang jumlah halaman, ilustrasi, tabel, dll), dan anotasi. Setiap buku atau literatur biasanya mempunyai buah kartu, yaitu kartu katalog menurut pengarang, kartu menurut isi/subjek, dan kartu menurut judul. Kartu menurut isi menyatakan isi dari suatu bahan bacaan.

Membaca dan Mencatat Bahan Bacaan
Setelah bahan bacaan ditemukan sesuai apa yang diharapkan, maka selanjutnya dilakukan kegiatan membaca dan mencatat untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Membaca dan mencatat informasi merupakan bagian yang penting dalam kajian pustaka. Kegiatan membaca untuk kepentingan penelitian biasanya berlangsung simultan dengan kegiatan mencatat.

Menurut Wilson Jf. (dalam Nazir, 1982: 123) ada dua tujuan utama membaca, yaitu untuk mencari apakan informasi-informasi mengenai penelitian ada dan tersedia, dan kedua, untuk memperoleh latar belakang yang cukup di dalam bidang penelitian yang dilakukan peneliti. Secara umum, kegunaan membaca adalah:
a. Untuk menghindari duplikasi (plagiasi) dengan melihat apakah masalah penelitian sudah pernah diuji ataukah masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang masalah tersebut.
b. Untuk memperoleh ide, keterangan-keterangan, metode-metode yang beguna dalam memecahkan masalah, ataupun dalam rangka memilih masalahnya sendiri.
c. Untuk menunjukkan data komparatif yang berguna dalam melakukan interpretasi hasil penelitian nantinya.
d. Untuk menambah pengetahuan umum si peneliti.

Sebagai petunjuk praktis berkaitan dengan membaca dan mencatat bahan bacaan, di bawah ini dikemukakan beberapa hal yang perlu dilakukan dan dipertanyakan oleh peneliti selama dan setelah membaca bahan bacaan, yaitu sebagai berikut:
a. Kenali siapa pengatang dan bagaimana pengarang melihat (mendekati) topik bukunya? Apakah dia seorang sarjana yang ahli di bidangnya, atau amatiran yang bekerja di bidang tertentu sebagai wartawan, politikus, agamawan, dsb?
b. Buka bahan bacaan, baca Pengantar, Daftar Isi, dan Pendahuluan atau melompat ke bagian simpulan. Ini akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan awal: apa kesan umum tentang tuliasn yang ada di tangan? Apa tujuan pengarang menulis buku/artikel?
c. Identifikasi tesis atau argumen utama pengarang. Tesis berbeda dengan topik suatu tulisan, sedangkan tesis adalah argumen utama yang dikemukakan dan dipertahankan dalam keseluruhan materi (topik). Contohnya dua buku sejarah Islam. Yang pertama ditulis oleh Hamka berjudul "Sejarah Umat Islam" dan kedua oleh Uka Tjandrasasmita tentang "Sejarah Islam di Indonesia". Keduanya sama-sama berbicara tentang topik yang sama yaitu sejarah Islam di Indonesia, tetapi dengan tesis berbeda. Tesis Hamka ialah spirit agama Islam khususnya dakwah Islam yang menjadi faktor utama penyebaran Islam. Sementara tesis Uka ialah materialistik, khususnya perdagangan yang menjadi faktor utama penyebaran Islam di Indonesia. Begitu pula dengan tesis James C. Scott dan Popkin tentang perilaku petani.
d. Apakah bahan bacaan tersebut relevan dengan topik atau materi penelitian atau bahan yang dicari? Sejauh mana relevansinya?
e. Apa pendekatan ataupun aliran pemikiran teoritis yang dilakukan oleh pengarang?
f. Jika peneliti pernah membaca literatur lain mengenai topik yang lebih kurang sama, bagaimana kesimpulan peneliti mengenai literatur yang sedang dibaca itu? Buatlah perbandingan singkat.
g. Jika literatur yang sedang dibaca memuat ilustrasi (seperti gambar, tabel, diagram, dsb) apakah ilustrasi tersebut membantu mempermudah pemahaman peneliti untuk mengikuti alur pemikiran pengarang.
h. Secara keseluruhan, apakah kekuatan utama buku ini, dan kemungkinan sumbangan terpenting darinya (dari segi informasi data atau fakta, teori atau metode atau pendekatannya).

Panduan umum dan daftar pertanyaan yang dikemukakan di atas, paling tidak, dapat menuntun dan merangsang berpikir kritis. Sejauh mana petunjuk ini bermanfaat atau berfungsi efektif, pada akhirnya pengalaman lah yang menentukan keberhasilan peneliti di dalam memahami suatu bahan bacaan.

Sumber:
Makalah disampaikan dalam Kegiatan Pembekalan Teknis Penelitian yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, tanggal 25 Januari 2017.

Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan, Soreang 2017












Dewan Kesenian Lampung Dorong Tapis Jadi Warisan Dunia

JAKARTA - Kain tenun khas Lampung tapis sudah go international. Berbagai perhelatan akbar dunia mencatat pesona dan kemegahan kain tapis. Selebritas dunia Paris Hilton dan Miss Universe asal Puerto Riko Zulyka Rivera pun menggunakan busana rancangan desainer Lampung Aan Ibrahim yang bermotif tapis.

Apalagi tapis juga sudah tercatat mendapat penghargaan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional tahun 2013 dari Kementerian Pariwisata dan Budaya.

Menurut Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung (DKL) Aprilani Yustin Ficardo, pada ajang Miss Intenational 2014 di Jepang saat mewakili Indonesia, Elfin Pertiwi Rappa mengenakan busana tapis dengan paduan mahkota khas Lampung Siger berhasil menyabet The Best National Costum dengan mengusung tema Tale of Siger Crown.

Pada ajang Mister Internasional 2015 di Korea Selatan, Kevin Hendrawan, pemenang L-Men of The Year 2014, mengenakan baju dari kain tapis yang dirancang Rendie Arga, bertema The Invincible Golden Hero of Krakatau.

Kemudian Anindya Kusuma Putri di ajang Miss Universe 2015 di Las Vegas, AS, mengenakan baju berbahan tapis karya perancang asal Lampung Mia Ayunda Sari.

Tapis pun tampil dalam ajang bergengsi Olimpiade 2016 lalu dan menuai banyak pujian. ”Kini para perancang busana dalam dan luar negeri mulai melirik dan mengeksplorasi tapis dalam karya-karyanya,” ujar Yustin sebagaimana siaran pers yang diterima Bisnis.com pada Jumat (7/4/2017).

Untuk itu, lanjut Yustin, sudah saatnya tapis untuk mendapat pengakuan penghargaan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) UNESCO. “DKL terus mendorong dan mengupayakan agar tapis menjadi warisan budaya dunia.”

Sekretaris Umum DKL Bagus S. Pribadi menambahkan tapis sebagai salah satu warisan budaya Lampung secara filosofis dikenal juga menjadi perekat budaya masyarakat Lampung.

Untuk tahap awal ini. lanjut, Bagus, pihaknya membentuk tim kecil, yang bertugas melakukan identifikasi dan penelusuran tahapan-tahapan serta berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait.

”Pada gilirannya nanti perlu membentuk Tim Studi dalam rangka mengusulkan Tapis sebagai warisan budaya dunia,“ ucap Aviv, panggilan akrab Bagus.

Sementara itu, Badan Pembina DKL Y. Wibowo menambahkan secara teknis sudah dilakukan penelusuran ke BPNB (Badan Pelestarian Nasional Budaya) Bandung dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Untuk tahapan awal pencanangan WBTB nasional sebagai pijakan untuk mendorong ke tahap tapis sebagai warisan budaya dunia. “Ini harus terus digesa dan disosialisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti focus group discussion (FGD), seminar, penelitian-penelitian, penguatan, dan eksistensi dalam masyarakat melalui industri kerajinan, pasar pariwisata, dan publikasi,” kata Wibowo.

Staf BPNB Jawa Barat (1)












Pembekalan Teknis Penelitian 2015












Popular Posts