WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

BIOSKOP DI MAL: KONSUMSI DAN KOMODIFIKASI DALAM BUDAYA URBAN

Gorivana Ageza, Aquarini Priyatna, R. M. Mulyadi

ABSTRACT
Di kota Bandung, hampir semua mal memiliki bioskop, dan sebaliknya, tidak ada bioskop di luar mal. Artikel ini akan memaparkan konsekuensi dari keberadaan bioskop di mal. Artikel ini disusun berdasarkan observasi lapangan dan studi pustaka, yang kemudian ditafsirkan secara hermeneutika dengan pendekatan teori kritis. Observasi lapangan dilakukan di dua bioskop terbesar di Kota Bandung yakni CGV Cinemas mal Paris van Java dan Ciwalk XXI mal Cihampelas Walk. Fenomena bioskop di mal menunjukkan bahwa kehidupan urban menyebabkan komodifikasi ruang dan pengalaman. Berbelanja di mal dan menonton film di bioskop mal mengarahkan warga urban untuk melakukan konsumsi, serta memaksimalkan keuntungan yang didapat oleh mal dan bioskop.

In Bandung city, virtually all shopping malls list movie theaters among their venue. Conversely, there is no movie theater located out of shopping mall. This article explains consequences of movie theater in shopping malls. This article is written based on field observation and literature study, which then was interpreted hermeneutically, using critical theory approach. Field observations were conducted at two biggest movie theaters in Bandung’s shopping malls, which are CGV Cinemas in Paris van Java Mall and Ciwalk XXI in Cihampelas Walk Mall. This phenomenon indicates that urban life causes commodification on space and experience. Both the act of shopping and watching movies in shopping malls lead urban people to a consumptive lifestyle while maximizing the revenues of both shopping malls and movie theaters.

KEYWORDS
mal, bioskop, ruang, pengalaman, penonton

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal

Corbett, K. J. 2001.

The Big Picture: Theatrical Moviegoing, Digital Television, and Beyond the Substitution Effect. Cinema Journal, 40(2), 17–34. Retrieved from www.jstor.org/stable/ 1225841

Friedberg, A. 1991.

Les Flaneurs du Mal(l): Cinema and the Postmodern Condition. PMLA, 106(No. 3), 419–431. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/462776

Paul, W. 1994.

The K-Mart Audience at the Mall Movies. Film History, 6(4), 487–501.

Buku

Barker, C. 2014.

Kamus Kajian Budaya. Yogyakarta: Kanisius.

Basundoro, P. 2012.

Pengantar Sejarah Kota. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Buck-morss, S. 1989.

The Dialectics of Seeing: Walter Benjamin and the Arcades Project. Cambridge: The MIT Press.

Debord, G. 1970.

The Society of the Spectacle. Detroit: Black & Red.

Friedberg, A. 1993.

Window Shopping: Cinema and the Postmodern. California: University of California Press.

Gilloch, G. 1996.

Myth and Metropolis: Walter Benjamin and the City. Oxford: Polity Press in association with Blackweel Publishers.

Lefebvre, H. 1991.

The Production of Space. Oxford: Basil Blackwell.

Maulana, S. 2002.

Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates hingga Buddhisme Zen. Bandung: Publika Edu Media.

Neumann, J. von, & Morgenstern, O. 2004.

Theory of Games and Economic Behaviour (60th ed.). Princeton: Princeton University Press.

Parker, S. 2004.

Urban Theory and the Urban Experience: Encountering the City. London: Routledge.

Ritzer, G. 2004.

The Globalization of Nothing. California: Sage Publications.

Sen, K. 2009.

Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat, dan Sinema Orde Baru. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Singer, B. 2001.

Melodrama and Modernity. New York: Columbia University Press.

Internet

Adi. 2013. Inilah 5 Bioskop Kenangan di Bandung. Diakses dari http://bandung.bisnis.com/read/ 20130822/34242/418379/inilah-5-bioskop-kenangan-di-bandung, Tanggal 7 Januari 2018 pukul 12.38 WIB.

Bookmyshow. 2017a.

History of Cinema: CGV Cinemas. Diakses dari https://.id.bookmyshow.com/ cinemas-list/cgv-blitz/all-regions/cbof, Tanggal 5 Februari 2018 pukul 20.00 WIB.

Bookmyshow. 2017b.

History of Cinema: Cinema XXI. Diakses dari https://id.bookmyshow.com/cinemas-list/cinema21/all-regions/21c, Tanggal 5 Februari 2018 pukul 20.13 WIB.

CGVCinemas. 2018a.

CGV Cinemas. Diakses dari https://www.cgv.id, Tanggal 10 April 2018 pukul 22.15 WIB.

CGVCinemas. 2018b.

Schedule CGV Cinemas Paris van Java. Diakses dari https://www.cgv.id/en/schedule/cinema/001, Tanggal 5 Februari 2018 pukul 21.30 WIB.

Cineplex21. 2018a.

Cineplex 21. Diakses dari https://21cineplex.com, Tanggal 10 April 2018 pukul 22.20 WIB.

Cineplex21. 2018.

Cineplex 21: About Us. Diakses dari https://21cineplex.com/ gui.about.php, Tanggal 7 Mei 2018 pukul 20.23 WIB.

Halim, A. 2017.

Ini Alasan Harga Pop Corn

dan Minuman Jauh Lebih Mahal Ketimbang Harga Tiket di Bioskop. Diakses dari http://tipstren.pojoksatu.id/hiburan/18/11/2017/ini-alasan-harga-pop-corn-dan-minuman-jauh-lebih-mahal-ketimbang-harga-tiket-di-bioskop/, Tanggal 5 April 2018 pukul 19.07 WIB.

Kompas. 2016.

Singapura Jadi Pemegang Sebagian Saham Cinema XXI. Diakses dari https://ekonomi. kompas.com/read/2016/12/06/075545626/singapura.jadi.pemegang.sebagian.saham.cinema.xxi, Tanggal 5 Februari 2018 pukul 18.45 WIB.

Librianty, A. 2018.

Jaket Dilan Bertebaran di Toko Online. Diakses dari https://liputan6.com/tekno/read/3263108/jaket-dilan-bertebaran-di-toko-online, Tanggal 10 April 2018 pukul 23.37 WIB.

Maradona, S. 2011.

Regent, Salah Satu Bioskop Tertua di Bandung “Tutup Usia.” Diakses dari https://republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/09/08/lr7lb7-regent-salah-satu-bioskop-tertua-di-bandung-tutup-usia, Tanggal 7 Januari 2018 pukul 00.47 WIB.

Nova, R. 2014. Keberpihakan Penonton Indonesia. Diakses dari https://cinemapoetica.com/ keberpihakan-penonton-indonesia/, Tanggal 28 Februari 2018 pukul 01.26 WIB.

Wattimena, R. A. A. 2009. Hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Diakses dari https://rumahfilsafat.com/ 2009/09/21/hermeneutika-hans-georg-gadamer/, Tanggal 6 Mei 2018 pukul 21.45 WIB.

Surat Kabar

Redana, B. (2016). “Welcome You All”. Kompas, 10 Januari 2016.

Popular Posts