WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label kekerabatan dan organisasi sosial. Show all posts
Showing posts with label kekerabatan dan organisasi sosial. Show all posts

ORANG JAWA DI KABAWETAN KABUPATEN KEPAHIANG PROVINSI BENGKULU

JudulOrang Jawa Di Kabawetan Kabupaten Provinsi Bengkulu
Penulis/Editor       Ajisman, Jumhari
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Cetakan2016
Tebal         xiv + 198  halaman
Desain Sampul     

SATU DESA BANYAK AGAMA Harmonisasi Kemajemukan Beragama Di Bumi Raflesia

JudulSatu Desa Banyak Agama Harmonisasi Kemajemukan Beragaman Di Bumi Raflesia
Penulis/Editor       Undri, Nurmatias
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Padang
Cetakan2016
Tebal         xiii + 150  halaman
Desain Sampul     

MARGA DAN PEMERINTAHAN DESA DI KABUPATEN BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN

JudulMarga Dan Pemerintahan Desa Di Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan
Penulis/Editor       Zusneli Zubir, Seno
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Cetakan2016
Tebal         ix + 226  halaman
Desain Sampul     

Tritangtu Di Bumi Di Kampung Naga : Melacak Artefak Sistem Pemerintahan (Sunda)

Tritangtu Di Bumi Di Kampung Naga : Melacak Artefak Sistem Pemerintahan (Sunda)
(Drs. Agus Heryana)


ABSTRAK

Tritangtu di bumi adalah sistem pemerintahan tradisional di tatar Sunda yang membagi kekuasaan dalam tiga peran yaitu Rama (Tuhan), Prabu (manusia), dan Resi (alam). Keberadaannya masih dapat dilacak di kampung-kampung adat, salah satunya adalah Kampung Naga. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi yang mampu menjelaskan secara rinci perihal perikehidupan masyarakat Kampung Naga. Di samping itu, penelusuran terhadap teks naskah-naskah Sunda Kuna masa pra-Islam telah memberikan informasi lengkap terdapat keberadaan konsep pemerintahan Sunda masa lampau. Tujuan penelitian ini adalah menemukenali prinsip-prinsip pemerintahan tradisional dalam kerangka memahami kepemimpinan orang Sunda. Kampung Naga dalam kesehariannya dewasa ini lebih kental dan menonjol unsur keagamaannya, yaitu agama Islam. Akibatnya adalah konsep tritangtu nyaris hilang dan tak dikenal lagi. Hasil penelusuran pada tatanan pemerintahan dan ’artefak’ fisik Kampung Naga ciri pemerintahan tradisional masih terlihat dalam bentuk lain.
Kata kunci: Tritangtu, rama, prabu, resi, leuweung (hutan), kampung naga.


PENDAHULUAN

Keberadaan Kampung Adat, khususnya di Jawa Barat, yang memiliki kekhasan dan kemandirian sikap sangat menarik untuk dikaji. Kita tidak bisa menutup mata akan kemampuan mereka mempertahankan diri di tempat yang jauh dari keramaian, bahkan seringkali mencengangkan orang lain dan dianggap memiliki nilai budaya yang tinggi. Misalnya makna yang dapat diambil dari ‘pikukuh’ (adat, aturan) orang Kanekes (Baduy) yang berbunyi : Najan nepi ka mupak alam dunya, adat mah teu wasa dirobah, lojor teu meunang dipotong, pandak (pondok) teu meunang disambung, sajadina bae (Walau hingga alam dunia hancur, adat tak kuasa diubah, panjang tak boleh dipotong, pendek pun tak boleh di sambung). Ungkapan ini memberi petunjuk akan pola pikir positif yang merupakan dasar normatif bagi kaedah dan hukum sebagai pedoman hidup warga masyarakat (Garna, 1994/1994:4).
Namun hal terpenting bagi kita dalam kaitannya dengan keberadaan kampung adat adalah menjadikan kampung adat sebagai "prototipe" masyarakat Sunda. Artinya keberadaan kampung adat cukup representatif guna mewakili tata kehidupan orang Sunda masa silam. Dalam pengertian, -walau tidak secara utuh- dapat memberikan pemahaman atas sejumlah persoalan mengenai adat-istiadat, kepercayaan (religi), pemerintahan, seni budaya, sistem pertanian dan berbagai aspek kehidupan orang Sunda.
Kesalahan yang tidak disengaja ketika sosok orang Sunda mencari jati dirinya adalah mengabaikan peranan masyarakat adat. Ketika seorang budayawan berbicara tentang budaya Sunda, seringkali menafikan atau mengabaikan tatanan kehidupan masyarakat yang berada di kampung adat. Padahal tidak mustahil pada diri mereka sebenarnya letak semua jawaban atas pertanyaan yang dicari orang Sunda masa kini. Berdasarkan pendataan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional terdapat beberapa kampung adat yang memiliki pendukung cukup besar, salah satunya adalah Kampung Naga di Tasikmalaya. Secara administratif kampung ini masuk wilayah Kecamatan Salawu Desa Neglasari dan berada di tepi Sungai Ciwulan.
Penelaahan atas buku atau laporan penelitian mengenai Kampung Naga telah banyak dilakukan, terutama dari sisi kultur dan sosial-budaya. Misalnya, Murniatmo G. et al. (1987) mengenai Kehidupan Sosial Budaya Orang Naga, Salawu Tasikmalaya Jawa Barat; Oyon Sofyan Umsari, dkk. (1985/1986) mengenai Bahasa Sunda Kampung Naga; A. Suhandi Sumamihardja mengenai Kesenian, Arsitektur Rumah dan Upacara Adat Kampung Naga Jawa Barat; di bidang lingkungan penelitian tercatat dilakukan oleh Sony Suhandono (1996) tentang Etnobotani Orang se Naga yang mengemukakan tumbuh-tumbuhan obat. Penelitian-penelitian lain pun yang berkaitan dengan Kampung Naga masih banyak dan (sebaiknya) dijadikan acuan dalam meneliti berbagai persoalan di Kampung Naga.
Persoalan lain yang tak kalah menarik adalah sistem pemerintahannya, yakni pikukuh tilu atau hukum tangtu yang merupakan sistem pemerintahan tradisional ala Sunda. Konsep pemerintahan tersebut baik tersirat dalam sisa-sisa budaya maupun tersurat dalam naskah-naskah Sunda menjadi pijakan awal dalam penelusuran sistem (organisasi) pemerintahan masa lampau. Jadi, masalah yang akan dikaji adalah apakah pikukuh tilu (Tritangtu di Bumi) - yang merupakan konsep pemerintahan Sunda masa lalu - masih digunakan oleh penduduk Kampung Naga ? Atas dasar tersebut maka tujuan penelitian adalah menemukenali prinsip-prinsip pemerintahan dan kepemimpinan orang Sunda.
Selanjutnya, guna mencapai tujuan yang diharapkan, penelitian menempuh pendekatan kualitatif (Maryaeni, 2005: 3) yaitu memahami fakta yang ada di balik kenyataan yang dapat diamati atau diindra secara langsung. Dengan bahasa lain penelitian kualitatif adalah medan penemuan pemahaman yang merupakan kegiatan yang tersusun atas sejumlah wawasan, disiplin, maupun wawasan filosofis sejalan dengan kompleksitas pokok permasalahan yang digarap. Sementara itu Surakhmad, (1982:139) mengemukakan metode deskriptif-kualitatif adalah suatu cara yang digunakan untuk menyelidiki dan memecahkan masalah yang tidak terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data saja, tetapi meliputi analisis dan interpretasi data sampai kepada kesimpulan yang didasarkan atas penelitian. Atas uraian tersebut metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.


PENUTUP

Konsep Tritangtu di bumi merupakan rucita kepemimpinan masyarakat Sunda yang sangat tua. Embaran-embaran mengenai Tritangtu di bumi ini ditunjang atau didasarkan pada naskah-naskah Sunda Buhun dan perikehidupan masyarakat kampung adat yang kini masih dapat kita saksikan salah satunya di Kampung Naga. Sementara itu, embaran naskah yang memuat rucita Tritangtu di bumi dapat ditelusuri pada naskah Siksa Kanda ng Karesian (1518), Carita Parahyangan (1580), dan Sewekadarma (masih abad ke-15).
Secara rinci Tritangtu di bumi terdiri atas 3 (tiga) unsur yairu : raja/ratu (prabu), rama, dan resi. Kekuatan Tritangtu terletak pada kekukuhan atau keteguhannya pada masing-masing unsur. Tidak ada diantara ketiga unsur tersebut saling berebut kekuasaan, tetapi masing-masing berjalan pada tempatnya sesuai dengan kapasitas dan profesialismenya masing-masing. Tujuannya adalah untuk menyentosakan pribadi (seseorang). Ia harus sentosa bagaikan raja, ucapannya harus dapat dipegang bagaikan petuah para tetua (rama), sedangkan budinya haruslah bagaikan budi seorang resi.
Tritangtu Di Bumi adalah sistem kepemimpinan Sunda secara tradisional, yaitu sistem kepemimpinan yang dilakukan oleh tiga orang (Rama - Resi - Prabu). Meskipun tidak sama persis, karena telah mengalami perubahan istilah dan ada sedikit perbedaan dengan aslinya, sistem ini pada saat ini masih dipertahankan dan dijalankan oleh warga Kampung Naga. Sistem organisasi pemerintahan Kampung Naga yang terdiri atas tiga perangkat, yaitu Kuncen, Lebe dan Punduh telah mengindikasikan penggunaan konsep tritangtu di bumi. Di samping itu, penerapan tritangtu di bumi tidak terbatas dalam sistem pemerintahan saja, tetapi juga telah merambah ke bidang kosmologi dan tata letak perkampungan.
Selanjutnya, guna memahami lebih mendalam mengenai peran tritangtu pada masyarakat Sunda tidak ada salahnya disarankan untuk melakukan 2 (dua) hal berikut.
Penelusuran atas sejumlah kampung adat secara integral dan terpadu dari berbagai aspek kehidupan sosial budaya, termasuk sejarah di dalamnya tidak menutup kemungkinan akan memperjelas peranan tritangtu sesungguhnya.
Dalam cakupan lebih luas konsep Tritangtu di bumi adalah konsep dasar dari berbagai sistem dan subsistem budaya Sunda. Setiap budaya (Sunda) nyaris tidak bisa dilepaskan dengan konsep yang dimaksud. Oleh karena itulah, upaya penggalian dan penelusuran Tritangtu hakikatnya menelusuri benang merah kebudayaan Sunda yang terputus selama ini. Dengan kata lain, konsep tritangtu dapat disarankan untuk dijadikan media dalam memahami kearifan dan nilai filosofis yang terkandung pada sebuah produk budaya Sunda. 


DAFTAR PUSTAKA

Adimihardja, Kusnaka dkk. 1984.
Sistem Kepemimpinan di dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Jawa Barat. Depdikbud Ditjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional

------------------. 1986.
Kesadaran Budaya Tentang Ruang Pada Masyarakat di Daerah Jawa Barat. Depdikbud Ditjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional

Ahman Sya,M,dkk. 2008.
Sejarah Kampung Naga. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat Balai Pengembangan Kemitraan dan Pelatihan Tenaga Kepariwisataan.

Al-Bustomi, Ahmad Gibson. Kamis, 30 Januari 2003.
Islam-Sunda Bersahaja di Kampung Naga. Pikiran Rakyat,

Ayatrohaedi. 2002.
Kepemimpinan Dalam Masyarakat Sunda Berdasarkan Naskah. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

--------------- 1987.
Masyarakat Sunda Sebelum Islam: Data Naskah. Laporan penelitian untuk Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.

--------------- 2001.
Nganjang ka Kalanggengan. Makalah disampaikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda. Bandung

Asal usul Kebudayaan dan Perkembangan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Dirjen Kebudayaan Depdikbud.

Djati Sunda, Anis.2002. (Makalah)
Teuleu Tangtu Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Adat Urang Rawayan dan Pancer Pangawinan. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Danasasmita, Saleh. 1984.
Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, 4 jilid. Bandung: Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat.

Danasasmita, Saleh dan Anis Djatisunda. 1986.
Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Ditjen Kebudayaan Depdikbud

Danasasmita, Saleh dkk. 1987.
Sewakadarma, Sanghyang Siksa-kandang Karesian, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Ditjen Kebudayaan Depdikbud

Garna, Judistira .1993.
Budaya Daerah Sebagai Sumber Daya Dalam mengatasi arus modernisasi (makalah). Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Ditjen Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Depdikbud

Maria, Siti dkk. 1995.
Sistem Keyakinan pada Masyarakat Kampung Naga dalam Mengelola Lingkungan Hidup (Studi tentang Pantangan dan Larangan). Jakarta : Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Dirjen Kebudayaan

Murniatmo G. et al. (1987).
Kehidupan Sosial Budaya Orang Naga, Salawu Tasikmalaya Jawa Barat. Ditjen Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yogyakarta.

Maryaeni, 2005.
Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sucipto, Toto. 2005,
Masyarakat Adat, Kampung Adat, dan Kampung Khas. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Suhandono, Soni dkk. 1996.
Etnobotani orang se-Naga - Tasikmalaya Jawa Barat: Suatu telaah Pemanfaatan Sumberdaya Hayati Tumbuhan. Bandung: ITB.

Sumamihardja, A. Suhandi. 1984.
Organisasi dan Struktur Sosial Masyarakat Sunda. Jakarta: Girimukti Pasaka.

----------------. 1991.
Pola Hidup Masyarakat Indonesia. Bandung: Fasa Unpad

----------------.1991/1992.
Kesenian, Arsitektur Rumah dan Upacara Adat Kampung Naga Jawa Barat. Depdikbud Proyek Pembinaan Media Kebudayaan Ditjen Kebudayaan.

Umsari, Oyon Sofyan dkk. (1985/ 1986).
Bahasa Sunda Kampung Naga. Depdikbud Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jawa Barat.

DAFTAR PUSTAKA
Adimihardja, Kusnaka dkk. 1984.
Sistem Kepemimpinan di dalam Masyarakat Pedesaan  Daerah Jawa Barat. Depdikbud Ditjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional
------------------. 1986.
Kesadaran Budaya Tentang Ruang Pada Masyarakat di Daerah Jawa Barat. Depdikbud Ditjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional
Ahman Sya,M,dkk. 2008.
Sejarah Kampung Naga. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat Balai Pengembangan Kemitraan dan Pelatihan Tenaga Kepariwisataan.
Al-Bustomi, Ahmad Gibson. Kamis, 30 Januari 2003.
Islam-Sunda Bersahaja di Kampung Naga .Pikiran Rakyat,
Ayatrohaedi. 2002.
Kepemimpinan Dalam Masyarakat Sunda Berdasarkan Naskah. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
--------------- 1987.
Masyarakat Sunda Sebelum Islam: Data Naskah. Laporan penelitian untuk Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
--------------- 2001. Nganjang ka Kalanggengan. Makalah disampaikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda. Bandung

Asal usul Kebudayaan dan Perkembangan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Dirjen Kebudayaan Depdikbud.
Djati Sunda, Anis.2002. (Makalah)
Teuleu Tangtu Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Adat Urang Rawayan dan Pancer Pangawinan. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
Danasasmita, Saleh. 1984.
Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, 4 jilid. Bandung: Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat.
Danasasmita, Saleh dan Anis Djatisunda. 1986.
Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Ditjen Kebudayaan Depdikbud
Danasasmita, Saleh dkk. 1987.
Sewakadarma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Ditjen Kebudayaan Depdikbud
Garna, Judistira .1993.
Budaya Daerah Sebagai Sumber Daya Dalam mengatasi arus modernisasi (makalah). Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Ditjen Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Depdikbud
Maria, Siti dkk. 1995.
Sistem Keyakinan pada Masyarakat Kampung Naga dalam Mengelola Lingkungan Hidup (Studi tentang Pantangan dan Larangan). Jakarta : Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Dirjen Kebudayaan
Murniatmo G. et al. (1987).
Kehidupan Sosial Budaya Orang Naga, Salawu Tasikmalaya Jawa Barat. Ditjen Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yogyakarta.
Maryaeni, 2005.
Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sucipto, Toto. 2005, 
Masyarakat Adat, Kampung  Adat, dan Kampung  Khas. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
Suhandono, Soni dkk. 1996.
Etnobotani orang se-Naga - Tasikmalaya Jawa Barat: Suatu telaah Pemanfaatan Sumberdaya Hayati Tumbuhan. Bandung: ITB.
Sumamihardja, A. Suhandi. 1984.
Organisasi dan Struktur Sosial Masyarakat Sunda. Jakarta: Girimukti Pasaka.
----------------. 1991.
Pola Hidup Masyarakat Indonesia. Bandung: Fasa Unpad
----------------.1991/1992.
Kesenian, Arsitektur Rumah dan Upacara Adat Kampung Naga Jawa Barat. Depdikbud Proyek Pembinaan Media Kebudayaan  Ditjen Kebudayaan.
---------------. 1992/1993.
Umsari, Oyon Sofyan dkk. (1985/1986).
Bahasa Sunda Kampung Naga. Depdikbud Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jawa Barat.


Diterbitkan dalam Patanjala Volume 2, No 2 / Juni 2010

Pola Hubungan Sosial Antaretnik (Studi Kasus tentang Pembauran Masyarakat Multietnik di Perumnas Cijerah II Kota Administratif Cimahi)

Oleh: Drs. Yudi Putu S.

Abstrak
Penelitian tentang pola hubungan sosial antaretnik di Kota Administratif Cimahi khususnya tentang pembauran masyarakat multietnik di Perumnas Cijerah II.

Penelitian ini mengambil tentang potensi konflik dan potensi pemersatu antaretnik-etnik yang berbeda dengan penitikberatan pada potensi-potensi pemersatunya, yang diharapkan dapat digunakan sebagai penyusun kebiajakan dalam meredam konflik antar etnis di beberapa wilayah di Indonesia.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 27, Desember 2002

Corak dan Pola Hubungan Sosial Budaya Masyarakat Pulomerak Kabupaten Serang

Oleh: Drs. Toto Sucipto, dkk.

Abstrak
Kasus di Pelabuhan Merak setidaknya dapat dijadikan gambaran bahwa walaupun batas-batas etnik diaktifkan, tetapi tidak menimbulkan masalah bahkan mereka dapat hidup berdampingan. Persatuan dan kesatuan secara utuh akan terwujud dengan semakin tingginya perasaan saling mengetahui, menghargai, dan tolong menolong selaras dengan semakin tingginya perasaan saling mengetahui, menghargai, dan tolong menolong selaras dengan semakin tingginya pengetahuan dan pendidikan mereka.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 25, Desember 2001

Pembentukan Norma dan Nilai Baru dalam Pranata Keluarga

Pembentukan Norma dan Nilai Baru dalam Pranata Keluarga (Studi tentang Peran Ganda Perempuan di Kelurahan Cibaduyut)

Oleh: Dra. S. Dloyana K

Abstrak
Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Cibaduyut Kecamatan Bojongloa Kaler Kotamadya Bandung ini mengungkapkan jawaban dan informasi yang berkenaan dengan aktivitas kaum perempuan, khususnya ibu rumah tangga di sektor publik. Fokus perhatiannya ditujukan pada sejumlah kenyataan menarik yang timbul akibat domestic sphere (lingkungan domestik) yang selama ini menjadi dunia perempuan mulai ditinggalkan, yaitu konflik yang timbul dalam keluarga akibat peran ganda perempuan/ibu rumah tangga, sikap kaum laki-laki/suami sebagai mitra terdekat melihat aktivitas isterinya di luar rumah tangga, motivasi kaum perempuan yang memutuskan bekerja di sektor publik, transformasi/sosialisasi nilai-nilai budaya bagi anak-anak dalam keluarga, serta harapan akan masas depan pekerjaannya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 24, Oktober 2001

Budaya Masyarakat Perbatasan

Budaya Masyarakat Perbatasan (Studi tentang Corak dan Pola Interaksi Sosial pada Masyarakat Kecamatan Langensari Propinsi Jawa Barat)

Oleh: Drs. Toto Sucipto

Abstrak
Penelitian mengena budaya masyarakat perbatasan ini berupaya menggambarkan bentuk dari hubungan-hubungan yang terjalin akibat hidup bersama/bersatunya etnik yang berbeda, yaitu antara etnik Sunda dan etnik Jawa, dalam sebuah daerah. Hasil penelitian mengungkapkan juga stereotipe antar etnik yang relatif muncul dalam kehidupan sehari-hari, upaya-upaya masyarakat dalam menggalang persatuan dan kesatuan, serta solusi untuk meminimalisir kendala-kendala yang dapat menyebabkan disintegrasi.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 24, Oktober 2001

Sistem Resiprositas pada Masyarakat Desa Tajur Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka

Oleh: Dra. Nina Merlina, dkk.

Abstrak
Gotong-royong merupakan salah satu warisan leluhur yang harus dipertahankan, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah tolong menolong dan kerja sama. Perwujudan dari sistem gotong-royong ini bisa terjadi dalam berbagai aspek kehidupan dan peristiwa. Salah satunya adalah gotong-royong atau sistem resiprositas dalam pelaksanaan hajatan di Desa Tajur, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 24, Oktober 2001

Profil Pemimpin Informal pada Masyarakat Kampung Mahmud

Oleh: Drs. Tjetjep Rosmana, dkk.

Abstrak
Kampung Mahmud merupakan salah satu kampung adat di Jawa Barat. Masyarakatnya sangat patuh terhadap ketua adat. Oleh karena itu kedua adat sebagai pemimpin nonformal di masyarakat penting peranannya untuk mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakat serta mempertahankan tradisi sebagai nilai-nilai luhur budayanya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Pandangan Anak Sunda terhadap Orang Tua

Oleh: Dra. S. Dloyana Kusumah

Abstrak
Mempersiapkan masa depan anak, tidak semata-mata mengandalkan pendidikan formal atau nilai-nilai budaya yang selama ini diandakan adalah masyarakat. ”Komunikasi” atau hubungan antara orang tua dan anak, ternyata menjadi kata kunci untuk menentukan sikap dalam menghadapi anak-anak dewasa ini. Melalui penelitian awal ini, terungkap apa yang diinginkan dan tidak diinginkan yang disukai dan tidak disukai anak dari orang tuanya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Prinsip Resiprositas dalam Aktivitas Gotong-royong

Oleh: Drs. Yudi Putu S, dkk.

Abstrak
Perkawinan bagi masyarakat Sunda merupakan hal yang sangat penting dalam perjalanan hidup. Perkawinan bukan hanya persoalan individual melainkan melibatkan kesatuan sosial mulai dari keluarga, kerabat, tetangga dan kesatuan sosial lainnya. Pada saat itulah pola-pola hubungan sosial dan aktivitas kegotong royongan akan terlihat sejak awal persiapan hingga pelaksanaan upacaranya. Konsep kegotong royongan sudah menjadi ciri khas masyarakat Sunda.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 21, Juli 2000

Pengaruh Religi terhadap Sistem Kepemimpinan Masyarakat Kampung Cireundeu Kotip Cimahi Kabupaten Bandung

Oleh: Drs. Endang Supriatna, dkk.

Abstrak
Masyarakat Kampung Cireundeu adalah masyarakat yang mendiami suatu perkampungan yang terpencil di wilayah Cimahi Selatan Kabupaten Bandung, memiliki keunikan jika dibanding dengena kelompok masyarakat di sekitarnya. Masyarakat Kampung Cireundeu dipimpin oleh kelompok sesepuh kampung yang mendapat pengakuan cukup tinggi di kalangan masyarakat. Sesepuh kampung merupakan kelompok elit para pemimpin masyarakat. Di samping itu terdapat pula pemimpin formal seperti Ketua RT, RW, Lurah dan sebagainya. Para sesepuh masyarakat merupakan penganut aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan pemimpin formal yaitu

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 23, Februari 2001

Popular Posts