WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Menak Kanjun

JudulMenak Kanjun
PengarangR. Ng. Yasadipura I
PenerbitProyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1982
Tebal211 halaman
Desain SampulLestari

Pengungkapan Isi dan Latar Belakang Naskah Kuno Jawa Tengah Serat Nayakawara

JudulPengungkapan Isi dan Latar Belakang Naskah Kuno Jawa Tengah Serat Nayakawara
PengarangRatih Umi Wahyuni, Ninien Karlina, H. Achmad Yunus
PenerbitProyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1992
Tebalviii + 99 halaman
Desain SampulLestari

Puisi Pupujian dalam Bahasa Sunda

Oleh Aam Masduki

Abstrak
Sebagai media pendidikan, puisi pupujian mempunyai fungsi sosial. Di Tatar Sunda, umumnya puisi pupujian berbahasa Sunda dinyanyikan di mesjid-mesjid, musola-musola, pesantren-pesantren atau di tempat-tempat pengajian lain. Di mesjid dan musola, waktu pupujian biasanya berlangsung antara azan dan qomat. Di pesantren dan madrasah, pupujian dinyanyikan pada saat pelajaran berlangsung. Di tempat pengajian anak-anak atau ibu-ibu, puisi pupujian dinyanyikan sebelum atau sesudah mengaji.

Kata Kunci: Puisi Sunda, pupujian.

Abstract
“Pupujian” poem is used for affecting mind, feelings, and human behaviors, beside its function to spread religions. As a learning media, “Pupujian” poem, which is containing some advice and religious lessons, were memorized. With this poem repeatedly sang, it’s hoped that kids, santri, and public will be awakened and have wished to follow the advise and the religion lessons which spreaded through the poem. “Pupujian” oftenly sang in pesantren, madrasah or moscue, langgar or any other religious spoots. “Pupujian” sang when the times comes for Shubuh, Maghrib, and Isya pray, and some after it.

Keywords: Sundanese poetry, pupujian.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 1 No. 1 Maret 2009

Kesenian Topeng Masyarakat Kasepuhan Guradog Lebak Banten

Oleh Yuzar Purnama

Abstrak
Kesenian merupakan bagian penting dan salah satu unsur dari kebudayaan. Selain aspek seni, kesenian juga dapat dilihat dari sudut pandang latar belakang kebudayaannya yang akan mampu mengungkap simbol-simbol dan nilai budaya. Kesenian Topeng adalah kesenian tradisional yang merupakan refleksi keindahan, simbolisme dan nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya. Di samping menampilkan keindahan gerak dan suara, juga para pelaku yang menyajikan topik-topik yang hidup di masyarakatnya.

Kesenian Topeng yang tumbuh dan berkembang di Kampung Guradog Lebak Banten, perkembangannya lamban. Kesenian Topeng ini menampilkan dua bentuk seni yaitu Jaipongan dan seni drama. Bentuk cerita yang ditampilkan meliputi cerita babad dan roman. Cerita babad diambil dari cerita klasik yang mengandung unsur kesejarahan dan kepercayaan, sedangkan cerita roman mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari.

Kata Kunci: Seni topeng, nilai moral

Abstract
Art is an important part and unavoidable things from human culture. Besaide artistic aspect, art can also viewed from the background culture which able to reveal symbolic meaning from that art and the values.Topeng art is a traditional art which reflect asthetic, symbolic and moral values for who supported it. Besides showing beautifulness of gesture and sounds, it also performs an actors and useful topics for his community.

Topeng art which grows and develop at Guradog Lebak Village, Banten, was late in development. This Topeng art shows two forms of art, which is Jaipongan and drama. Form of stories that shown includes babad and roman story. Babad story taken from classic story that have part of history and beliefs, while roman story tells about daily lives.
Keywords: Topeng Art, moral values.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 1 No. 1 Maret 2009

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Gelar Bimtek Penelitian

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melalui Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film menggelar acara bimbingan teknis penelitian di Kantor BPSNT (Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional) Jl. Cinambo, Kota Bandung.

Kementerian Budaya dan Pariwisata bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) memberikan seminar gratis tentang penelitian sejarah dan kebudayaan kepada guru, dosen, peneliti, sejarawan dan mahasiswa. Dalam bimbingan tersebut diberikan berbagai materi mengenai teknis penelitian kesejarahan & kebudayaan serta teknis penulisan laporan kesejarahan & kebudayaan.

Menurut Ketua Panitia, Drs. Dibyo Harsono, M.Hum, acara ini dibuat untuk meningkatkan kualitas peneliti dalam upaya inventarisasi dan pengkajian data sejarah dan kebudayaan.

“Acara ini rutin di gelar setiap tahun oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, guna menyempurnakan persiapan, pelaksanaan, penganalisaan, dan pelaporan penelitian sejarah dan kebudayaan. Jika peneliti sudah mudah mengumpulkan data dan pelaporan, maka diharapkan penelitian sejarah dan kebudayaan Indonesia bisa terus berkembang." ungkap Drs. Dibyo Harsono, Senin (14/07/2014).

Bimbingan teknis penelitian ini mendatangkan pembicara pakar antropologi dan sejarawan dari Unpad dan LIPI, yaitu ; Prof. DR Sobana Hardjasaputra, SS, M.A, Ade Makmur Kartawinata M.Phil, Ph.D, dan Prof. Risdi Muctar, MA, APU.

Pada acara tersebut, selain memberikan berbagai pelatihan cara-cara melakukan penelitian sejarah dan kebudayaan disana juga dijelaskan teknis penulisan karya ilmiah seperti ; skripsi, tesis atau disertasi.

Pendapat guru sejarah SMA di Bandung, Dedi Iriandi, adanya bimbingan teknis tentang penelitian sejarah dan kebudayaan adalah sangat penting, karena bimbingan ini selain mengajarkan bagaimana cara dan metode penelitian sejarah dan budaya, juga diterangkan bagaimana cara analisanya.

“Ini sangat perlu untuk para sejarahwan dan budayawan di Indonesia, mengingat di Indonesia masih banyak sejarah dan budaya yang belum terungkap secara runut dari keilmuan dan metode penelitianny," papar Dedi.

Sedangkan mahasiswa UIN SGD (Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati), Bandung, Dwi Ariyanti, ikut acara ini sangat berguna karena disini dijelaskan juga mengenai cara penyusunan penelitian ilmiah untuk skripsi, tesis, dan sisertasi.

“Berguna banget datang ke acara ini, jadi tahu bagaimana untuk persiapan nyusun skripsi nanti”, cetus Dwi. (Red/ADE)

Popular Posts