WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Pemerintah Revitalisasi Komunitas Budaya & Desa Adat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan menyelenggarakan Workshop Fasilitasi Komunitas Budaya dan Revitalisasi Desa Adat pada tanggal 20-24 Juni 2016, di Hotel Ciputra, Jakarta.

Workshop Fasilitasi Komunitas Budaya di Masyarakat (FKBM) dan Revitalisasi Desa Adat (RDA) tahun 2016 dilaksanakan dalam 2 (dua) tahap. Workshop tahap 1 telah dilaksanakan di Makassar pada tanggal 13-17 Juni 2016 yang diikuti oleh komunitas budaya dan desa adat yang berasal dari wilayah kerja BPNB Sulawesi Selatan, BPNB Sulawesi Utara, BPNB Maluku dan BPNB Papua.

Sedangkan workshop tahap 2 dilaksanakan di Jakarta tanggal 20-24 Juni 2016, dengan wilayah kerja BPNB Aceh, BPNB Kepualauan Riau, BPNB Sumaera Barat, BPNB Jawa Barat, BPNB Yogyakarta, BPNB Kalimantan Barat, dan BPNB Bali.

Program FKBM dan RDA merupakan salah satu program prioritas Kemdikbud. Program FKBM telah dilaksanakan sejak tahun 2012 dan RDA telah dilaksanakan sejak tahun 2013. Bentuk kegiatan ini adalah pemberian bantuan pemerintah kepada komunitas budaya dan desa adat yang dimanfaatkan untuk revitalisasi, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas keberadaan komunitas budaya dan desa adat dalam rangka pelestarian kebudayaan.

Pada tahun 2016 ini, akan difasilitasi 334 komunitas budaya dan 139 Desa Adat yang akan direvitalisasi. Sementara itu, sampai dengan tahun 2015 Komunitas Budaya dan Desa Adat yang telah difasilitasi berjumlah 1226 komunitas budaya dan 156 Desa Adat.

Seluruh komunitas budaya dan desa adat yang diundang dalam kegiatan Workshop FKBM dan RDA tahun 2016 telah melalui proses administrasi maupun verifikasi lapangan, selain itu Workshop ini merupakan seleksi akhir dan penetapan penerima bantuan pemerintah di mana Komunitas Budaya dan Desa Adat harus menunjukkan dokumen asli sesuai dengan persyaratan administrasi.

BPNB Gelar Dialog Budaya Banten

SERANG – Balai Pelestari Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat menggelar dialog budaya Banten di Aula Wanda Galuh, Kota Serang, Kamis (25/8/2016). Dialog budaya ini dihadiri sejumlah seniman, budayawan, akademisi, wartawan, mahasiswa, dan instansi pemerintahan.

“Dari dialog ini diharapkan ada berbagai masukan tentang warisan budaya tak benda Indonesia yang ada di Banten dan masukan untuk pelestariannya,” ujar Toto Sucipto, Kepala BPNB Jawa Barat, saat memberi sambutan.

Dikatakan, wilayah kerja BPNB Jawa Barat meliputi Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung. Dikatakan, sejauh ini BPNB Jawa Barat telah mendata 1.752 warisan budaya tak benda Indonesia (WBTBI). “Dari jumlah itu 288 di antaranya berasal dari Banten,” ungkapnya.

Dikatakan, hingga kini baru 8 WBTBI yang sudah diakui Unesco, di antaranya adalah wayang, keris, batik, noken, dan tari saman. “Tahun ini kita usulkan perahu phinisi. Dan ke depan yang akan diusulkan ke Unesco adalah pencak silat,” ujarnya. (Ink/Red)

Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan, Cianjur 2014













Takhayul Seputar Kehamilan dan Kelahiran dalam Pandangan Orang Labuan Bajo: Tinjauan Antropologi Sastra

Oleh Uniawati

Abstrak
Penelitian ini dilandasi oleh pemikiran bahwa takhayul merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun modern. Salah satu kelompok masyarakat yang hingga kini masih kuat terpengaruh dengan pola pemikiran lama adalah kelompok masyarakat Labuan Bajo. Masyarakat Labuan Bajo adalah salah satu kelompok masyarakat tradisional yang di dalamnya subur dengan kepercayaan yang bersifat takhayul. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua permasalahan, yaitu mengungkapkan bentuk dan isi takhayul yang terdapat di lingkungan masyarakat Labuan Bajo, serta mendeskripsikan aspek-aspek budaya masyarakat tersebut berdasarkan takhayul yang terdapat di lingkungan mereka. Untuk menjawab kedua permasalah tersebut, digunakan pendekatan Antropologi Sastra. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh secara lisan di lapangan berupa ungkapan tentang kepercayaan terhadap sesuatu yang bersifat takhayul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Labuan Bajo pada dasarnya masih mengakui keberadaan takhayul hingga sekarang, namun tingkat kepercayaannya sudah berkurang dibandingkan dengan kepercayaan yang dimiliki oleh para pendahulunya. Para pendahulu (nenek moyang) orang Labuan Bajo memandang takhayul sebagai suatu bentuk kepercayaan yang akan menimbulkan bahaya atau bencana apabila dilanggar, sedangkan orang Labuan Bajo sekarang sebagian besar memandang takhayul sebagai sarana menyampaikan pendidikan akhlak, etika, dan budi pekerti dalam lingkungannya agar masyarakat hidup lebih beradab dan berbudaya. Untuk itu, beberapa takhayul masih dipelihara dalam komunitas masyarakat tersebut.

Kata kunci: tradisi lisan, takhayul, antropologi sastra.

Abstract
This research was based on the fact that superstitions are a kind of oral tradition that is inherent in the social life of a society, either in modern or traditional ones. The aims of the research are, firstly, to reveal forms and contents of superstitions that live among Labuan Bajo people and secondly, to describe cultural aspects of the people based on their superstitions. The author approaches the problems by using literary anthropology. The result shows that superstitions still exist among Labuan Bajo people but in a lower degree. Contrary to their ancestors who thought of superstitions as harmful if they were broken, today the Labuan Bajo people consider superstitions as a means to convey messages of morals and ethics to the young. Therefore, they tend to maintain some superstitions stories in the society.

Keywords: oral traditions, superstitions, literary anthropology.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 4, No 1, Maret 2012

Wawacan Raden Panji Atmaka: Suatu Kajian Perspektif Historis

Oleh Erlan Saefuddin

Abstrak
Wawacan Raden Panji Atmaka (WRPA) merupakan suatu karya sastra yang diindikasikan mengandung unsur-unsur sejarah. Oleh sebab itu, pengkajiannya menggunakan pendekatan sejarah. Untuk mendukung pendekatan ini, diterapkan metode komparatif-analitis supaya dapat dibuktikan bahwa indikasi-indikasi di dalam teks yang menunjukkan hubungan dengan sejarah. Untuk pemahamannya yang lebih luas, terutama dalam memperkirakan konteks zaman dan akar historis dari karya ini, perlu kiranya dibahas jejak-jejak historis yang relevan secara umum. Selanjutnya dianalisis unsur-unsur historis di dalam wawacan ini untuk memahami maknanya yang merefleksikan realitas zaman tertentu. Pada akhirnya, dapat ditemukan bahwa WRPA adalah sebuah karya yang memiliki unsur-unsur legendaris dari sejarah Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Unsur-unsur legendaris itu meliputi dua aspek penting dalam masalah sejarah, yaitu latar tempat dan nama tokoh. Latar tempatnya adalah Yogya, Solo, Surakarta, Magelang, dan Kedu. Nama tokohnya adalah Sinuhun/Sultan Mataram dan Pangeran Mangkunagara. Latar tempat dan nama tokoh WRPA itu bersifat legendaris karena historis faktualnya hanya dari segi penamaan. Secara umum, WRPA juga menunjukkan satu bukti mengenai sejarah transformasi kebudayaan Sunda dengan kebudayaan Jawa.

Kata kunci: Wawacan Raden Panji Atmaka, aspek historis, sejarah.

Abstract
Wawacan Raden Panji Atmaka (WRPA) is one works of literature indicated to have history elements. Therefore, the research use history approach. For support this approach, Analysis-comparative method is used for can be proved that indications in that text shows relation with history. For understanding in wider range, especially in conjecture period context and history root from this works, it is necessary to discuss the relevant history trail in a general. End then the history elements is to analyze the meaning of in this wawacan which reflects of certain period. In the end can be founded that WRPA is one work have legendary elements from history of Kasunanan Surakarta and Kesultanan Yogyakarta. The legendary elements consist of two important aspects in the historical problems, those are the places and the figures. The places are Yogya, Solo, Surakarta, Magelang, and Kedu. The figures are Sinuhun/Sultan Mataram and Pangeran Mangkunagara. Those becomes a legend because the factual history only in naming. Generally WRPA also shows one prove about transformation history of Sundanese culture and Java culture.

Keywords: Wawacan Raden Panji Atmaka, historical aspect, history.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 2, No 1, Maret 2010

Popular Posts