WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Nasi Ulam

Nasi ulam merupakan perpaduan kuliner dari beberapa budaya. Nasi putih bertaburkan serundeng kelapa dan kacang merupakan pengaruh dari India. Semur dan perkedel adalah pengaruh dari Belanda. Sedangkan bihun goreng dan dendeng manis dipengaruhi oleh kuliner Tionghoa. Nasi ulam sendiri mempunyai dua varian jenis, yaitu varian kering dan varian basah. Komposisi nasi ulam varian kering adalah nasi putih yang dicampur serundeng. Lauk-pauk sebagai pelengkapnya adalah dendeng, sambal goreng telur, tempe-tahu goreng. Di atasnya diberi rajangan timun dan daun kemangi serta kerupuk. Adapun nasi ulam varian basah yaitu nasi putih dilengkapi dengan bihun goreng, perkedel, dendeng sapi manis, cumi kering asin, disiram dengan kuah semur tahu kentang. Tidak lupa diberi rajangan ketimun dan daun kemangi pada bagian atasnya. Sajian ini banyak dijumpai sebagai menu untuk sarapan pagi yang padat gizi karena praktis dan lauknya yang beragam. Bahan pembuatan nasi ulam terdiri dari nasi putih, kelapa muda parut, dan minyak untuk menumis. Adapun bumbu yang dihaluskan adalah : ketumbar, garam, bawang putih, cabe rawit, ebi yang direndam dalam air panas, dan serai. Nasi ulam ini dilengkapi dengan telur didadar dan diiris tipis, ketimun dirajang, taoge pendek, daun kemangi, dan bawang goreng. Adapun cara pembuatannya adalah semua bumbu yang dihaluskan ditumis hingga harum, kelapa parut dimasukkan hingga kelapa mengering, harum, dan berwarna kuning. Setelah itu nasi dimasukkan diaduk hingga rata.

Nasi ulam tidak termasuk makanan sehari-hari, karena biasanya disajikan pada saat istimewa seperti hajatan pernikahan, khitanan, syukuran, dan arisan. Sesekali saja orang membuat nasi ulam di rumah untuk suguhan tamu atau keluarga.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Potensi Budaya di Kabupaten Tangerang

Perkembangan teknologi di era globalisasi saat ini bila tidak segera diantisipasi dapat mengakibatkan budaya yang selama ini diyakini sebagai pedoman hidup masyarakat bergeser ke arah kehidupan yang melepaskan diri dari akarnya, yaitu budaya asli sendiri.
Indonesia merupakan salah satu negara yang berpenduduk terdiri dari banyak suku yang tersebar di seluruh kawasan. Masing-masing suku mengembangkan kebudayaannya masing-masing. Kemajemukan masyarakat Indonesia ini bukan saja dibentuk karena keragaman etnisnya, melainkan juga perbedaannya dalam latar belakang sejarah, kebudayaan, agama dan sistem kepercayaan yang dianut, serta lingkungan geografisnya.
Dalam hal ini diperlukan adanya Penyusunan Dokumentasi Pelestarian Nilai Budaya yang memuat berbagai informasi tentang karya budaya yang dimiliki oleh setiap suku bangsa yang tersebar di daerah-daerah dalam wilayah kerja BPNB Jawa Barat, salah satunya adalah Kabupaten Tangerang yang ada di Provinsi Banten. Kabupaten Tangerang termasuk wilayah yang memiliki banyak keragaman budaya. Permasalahannya adalah masih adakah nilai tradisi leluhur tersebut?
Dari hasil pendataan diperoleh informasi mengenai kekayaan budaya dan wisata yang ada. Adapun sisi kekayaan budaya yang dimaksud terbagi dalam beberapa unsur, yaitu sistem religi, sistem kemasyarakatan, sistem kekerabatan, sistem ekonomi, sistem peralatan hidup, sistem transportasi, perabotan rumah tangga, arsitektur, kesenian, upacara adat, pakaian adat, masakan tradisional, sistem pengetahuan lokal, sistem pengobatan tradisional, dan sebagainya. Sementara untuk potensi wisata dalam pendataan kali ini dikhususkan pada jenis wisata budaya.
Kesenian :
Barongsai, Cokek, Lenong, Patingtung, Jaipong, Degung, Calung, Pencak Silat, Angklung Gubrag, Reog, Wayang Golek, Debus, Rudat, Rampak Kendang, Topeng, Gambang Kromong, Qasidah, Marawis, Tari Cukin, Tanjidor, Bedug Lojor/ Ngadu Bedug,
Upacara Tradisional :
Upacara Perkawinan adat Sunda, Upacara Daur Hidup, Upacara Tradisional Masyarakat Cina Benteng.
Kuliner Tradisional :
ketan bintul, pindang bandeng, sayur besan, laksa, asinan tangerang, nasi sumsum, sate bebek, sayur asem, sayur lodeh, gereng asem, sayur nangka, semur jengkol, sambel goreng kentang, perkedel kentang, pepes tahu, pepes hayam, pepes ikan, gecom.
Cemilan:
Kue balok, kue cucur, kue dodol cina, kue jongjorong, kue cecuer, kue bakpao, sorabi, telur gabus, rangginang, kripik cau, otak-otak, kue pasung, kacang sangray, lapis pepe.
Pengobatan Tradisional :
Pengobatan Masuk Angin, Pengobatan Tekanan Darah Tinggi, Obat Sakit Demam, Obat Sakit Kepala, Obat Perut Kembung, Obat Panas Dalam, Obat Batuk, Obat Mimisan, Obat Sakit Maag, Obat Panas pada Anak, Obat Rematik, Obat Typus, Obat Pilek pada Anak, Obat Sakit Mata, Rambut Rontok, Batuk Berlendir, Batuk Seratus Hari, Jerawat, Bintik-Bintik Hitam Pada Wajah (Kokoloteun), Kolesterol, Keseleo, Cacar Air.
Wisata Budaya :
Klenteng Tjoe Soe Kong, Pantai Tanjung Kait, Tanjung Pasir, Pulo Cangkir, Taman Wisata Keramat Solear, Danau Biru Cisoka.
Permainan Tradisional :
Egrang, Gebug Bantal, Terompah Panjang, Lari Balok, Tarik Tambang, Hadang, Benteng, Dagongan, Gasing, Anjang-anjangan, Bebentengan, Beklen, Boy-boyan, Talawengkar, Cacaburange, Cingcipirit, Damdaman, Endog-endogan, Empet-empetan, Encrak, Engkle, Galah asin, Gatrik, Gugunungan, Hahayaman, Loncat Tali, Oray-orayan, Paciwit-ciwit Lutung, Perepet Jengkol.(Irvan)

Dikutip dari : Euis Thresnawaty dkk, “Potensi Budaya di Kabupaten Tangerang”, Laporan Pendataan, Bandung: BPNB Jabar, 2017.

Permainan Congkak: Nilai dan Potensinya Bagi Perkembangan Kognitif Anak

Oleh Dheka D. A. Rusmana

Abstrak
Penelitian berjudul Permainan Congkak: Nilai dan Potensinya bagi Perkembangan Kognitif Anak ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap permainan tradisional yang merupakan warisan nenek moyang. Interpretasi yang penulis lakukan berupaya menggali nilai dan potensi yang terdapat dalam permainan congkak dalam hubungannya dengan bidang psikologi khususnya perkembangan anak. Penelitian terhadap permainan tradisional sebagai salah satu bentuk folklor nusantara secara interdisipliner terhadap ilmu psikologi ini mengungkapkan bahwa permainan congkak sebagai permainan tradisional yang berkembang di banyak daerah di nusantara ini memiliki berbagai nilai dan memiliki potensi dalam memengaruhi perkembangan anak khususnya pada aspek kognitif.

Kata kunci: congkak, nilai, kognitif, anak.

Abstract
The research tittle is Congkak’s Game: Potential and Values for Children Kognitive Development. The research background is interest of writer about traditional games, which is a legacy of our ancestor. The writer interpretation has found a potential corelations in Congkak’s game in childrens kognitive development. The research about traditional games as one of the form in archipelago folklore interdisciplinary toward psychology science in children development, and revealed that Congkak’s game has a potential and values in influencing children development especially in cognitif aspect.
Keywords: congkak, values, cognitif, childrens.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Lomba Lukis Kesejarahan 2011












Upacara Mapag Tamba Di Indramayu

Oleh:
Dra. Ria Intani T.

Indonesia terdiri atas jajaran pulau yang dihuni oleh beragam suku bangsa. Keberagaman suku bangsa menjadi penanda adanya ke-beragaman kebudayaan. Hal ini disebabkan karena tiap-tiap suku bangsa mengembangkan kebudayaannya sendiri-sendiri. Masing-masing ke-budayaan memiliki kekhasan yang wujudnya merupakan hasil bentukan dari kondisi geografis dan sejarah perkembangan masyarakatnya.

Salah satu kebudayaan yang dikembangkan oleh suatu suku bangsa adalah kegiatan upacara, yang selanjutnya karena keber-langsungannya yang menurun dari satu generasi ke generasi menjadi disebut upacara tradisional. Pada hakikatnya, upacara tradisional terbagi dalam dua katagori yaitu upacara lintasan hidup dan upacara meruwat.

Tersebutlah masyarakat Desa Tugu yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat. Mayoritas penduduk Desa Tugu “bergelut” dengan sawah. Mereka ada yang berstatus sebagai petani pemilik maupun buruh tani. Hal ini tidak mengherankan oleh karena wilayah Desa Tugu mayoritas diperuntukkan pemukiman dan disusul kemudian pesawahan. Terkait dengan mata pencahariannya tersebut, mereka mengembangkan upacara mapag tamba.

Upacara mapag tamba dilaksanakan pada saat usia padi menginjak 40 – 50 hari, dan hari pelaksanaannya adalah hari Jumat. Pada intinya, upacara mapag tamba bertujuan untuk menolak bala atau bencana yang kemungkinan dapat menghancurkan sumber mata pencaharian mereka. Bencana yang kemungkinan dapat terjadi di sawah adalah berupa serangan hama, serangan penyakit, kebakaran, banjir, dan lain sebagainya. Demi mencegah terjadinya bencana, maka diberilah sawah mereka dengan tamba (obat) yang diambil dari sembilan sumber. Sembilan sumber tamba itu adalah:
1. Mertasinga Cirebon Utara,
2. air laut,
3. air papagan,
4. air sumur warak di Sukaurip Balongan Indramayu,
5. sumur jaba,
6. air jambangan,
7. air pande,
8. air leri, dan
9. air Bengawan Cimanuk.

Secara garis besar, upacara mapag tamba terdiri atas tiga tahapan yaitu:
1. Mengambil tamba (mapag tamba),
2. menyatukan tamba, dan
3. memberi tamba ke sawah.

Masing-masing tahapan di atas dilaksanakan dalam waktu yang berbeda dan dengan kelengkapan yang berbeda pula.

Tahap pertama dilaksanakan sehari sebelum hari pelaksanaan pemberian tamba ke sawah, yakni hari Kamis. Waktunya dimulai dari pagi hari dan berakhir pada siang hari. Kelengkapannya adalah bareng. Bareng merupakan benda pusaka peninggalan leluhur yang dipergunakan untuk memberangkatkan petugas yang akan mengambil tamba sekaligus menyambut mereka saat pulang dari mengambil tamba. Perlengkapan lainnya adalah wadah tamba itu sendiri. Bisa berupa jerigen, botol, dan lain sebagainya. Petugas yang akan mengambil tamba diberangkatkan oleh kuwu dan kebayan dari balai desa dengan ditandai pemukulan bareng.

Tahap kedua dilaksanakan pada hari yang sama dengan tahap pertama, namun waktunya pada malam hari (Kamis malam). Secara garis besar kelengkapannya berupa paso (ember bermulut lebar dan tanpa pegangan), gayung, bumbung (wadah tamba yang terbuat dari bambu) berjumlah empat belas, klaras (daun pisang yang dikeringkan) sebagai tutup bumbung, dan sesaji tamba. Selain itu juga disiapkan suguhan berupa longsong. Rangkaian acaranya yaitu:
- Tamba dari sembilan sumber disatukan oleh kebayan.
- Sambutan Kuwu Tugu terkait dengan pelaksanaan mapag tamba.
- Tahlil dan doa bersama dipimpin oleh lebe.
- Tamba diisikan ke dalam bumbung oleh kebayan.
Tahap ketiga dilaksanakan pada keesokan paginya, yakni hari Jumat. Kelengkapannya berupa bareng, binang, dan bumbung. Rangkaian acaranya:
- Empat belas orang petugas pembawa tamba dengan berpakaian binang diberangkatkan oleh kebayan dari balai desa.
- Empat belas petugas terbagi menjadi tujuh tim, menuju wilayah tugas masing-masing.
- Di wilayah tugas masing-masing, tamba dikucurkan.
- Mengakhiri pelaksanaan upacara, dipergelarkan wayang kulit.

Sumber:
Makalah disampaikan pada kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan yang diselenggarakan oleh BPSNT Bandung di Bandarlampung 23 Maret 2011

Popular Posts