Sebelum Melangkah ke UNESCO, BPNB Jabar Dorong Karinding Jadi Warisan Budaya Nasional
Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Jumhari mengatakan, pihaknya mendukung usulan musik tradisi Sunda karinding menjadi warisan budaya dunia tak benda ke UNESCO. Namun sebelum melangkah ke UNESCO, karinding akan diusulkan terlebih dahulu menjadi warisan budaya nasional.
"Insyaalloh nanti, yang paling penting sejauh mana mata budaya tersebut adalah keberlanjutannya bagi masyarakat yang berkepentingan langsung dengan keberadaan karinding seperti halnya angklung," ujar Jumhari dalam kegiatan Karinding's Day Out 2020, di kantor BPNB Jawa Barat, Jalan Cinambo 136 Kota Bandung, Jumat, 11 September 2020.
Lalu, untuk mencapai pengukuhan status warisan budaya dunia tak benda itu, kata Jumhari, bagaimana karinding bukan hanya berkait dengan kesenian saja, tetapi juga ekonomi dan kesejahteraan masyarakat luas.
"Terakhir bagaimana karinding dalam konteks kekinian di era industri 4.0, bukan hanya hadir hanya sebatas wariasan budaya leluhur, tetapi juga bagaimana mendorongnya menjadi warisan budaya dunia tak benda.
"Karinding nantinya diharapkan tidak hanya untuk teman-teman komunitas, tetapi juga masuk mulok (muatan lokal) di sekolah," katanya.
Dalam diskusi itu, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menegaskan, pihaknya mendukung penuh karinding menjadi warisan budaya dunia tak benda. Terlebih dalam situasi Pandemi Covid 19 seperti ini, tradisi kebudayaan dan strategi kebudayaan benar-benar bisa dijalankan untuk membentuk nilai-nilai kemanusiaan secara utuh.
"Anak-anak didik kita mungkin cerdas, tapi kecerdasan batinnya hilang. Hari ini kebudayaan kita terpenggal-penggal, pengetahuan terpenggal dengan kebudayaannya dan kebudayaan terpenggal dengan perilaku kehidupan sehari-hari," tegas Huda.***
Sumber: https://literasinews.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-92735552/sebelum-melangkah-ke-unesco-bpnb-jabar-dorong-karinding-jadi-warisan-budaya-nasional?page=2
Melawan Lupa: Catatan Kecil tentang Penyebaran Penyakit di Jawa Barat
Oleh Nandang Rusnandar
Jawa Barat khususnya dan Indonesia secara keseluruhan atau bahkan dunia pernah mengalami serangan wabah yang cukup mengerikan dan banyak memakan korban. Seperti yang sekarang kita rasakan wabah Covid-19 menyerang seluruh jagat raya. Ratusan negara secara bersamaan mengalami wabah ini, tidak terkecuali Indonesia. Begitu pula dampaknya di Jawa Barat sangat terasa. Dosen sekaligus Sejarawan dari Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Singgih Tri Sulistiyono mengatakan, Indonesia khususnya Jawa sebagai wilayah tropis dengan cuaca yang memiliki kelembapan tinggi dan lingkungan yang basah, dalam sepanjang sejarahnya selalu menghadapi berbagai macam penyakit.
Menurut catatan penyakit yang pernah mewabah di antaranya, penyakit Cacar pertama kali menjangkiti Batavia pada tahun 1644. Penyakit tersebut masuk ke Batavia lalu menyebar ke seantero Jawa. Hingga akhir abad ke-18, cacar telah memakan korban ribuan buruh pekerja perkebunan dan melumpuhkan ekonomi pada waktu itu.
Berikutnya penyakit Malaria, salah satu wabah yang pernah melanda Indonesia, awal mewabah di Batavia sejak tahun 1733. Selain Malaria, Kolera juga sempat mewabah dan diperkirakan masuk ke wilayah Jawa pada tahun 1800-an akibat hubungan dagang antara India dan Jawa melalui Malaka. Penyakit Kolera disebut juga muntaber atau buang air terus menerus dan muntah-muntah. Daerah yang pertama terindikasi penyakit Kolera adalah daerah di sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Batavia, Semarang, hingga Surabaya. Barulah pada tahun 1883, kuman Kolera (Vibrio cholerae), berhasil diidentifikasi. Sepanjang tahun 1821 sekitar 125.000 orang di Jawa meninggal dunia gara-gara Kolera. Tak hanya berjangkit di permukiman pribumi dan Cina, Kolera juga berjangkit di permukiman orang Eropa yang sebenarnya memiliki kondisi yang lebih baik.
Pada tahun 1918, wabah Influenza juga pernah mewabah kawasan di Hindia Belanda. "Flu tersebut juga disebut juga dengan Flu Spanyol. Wabah Flu tersebut merupakan wabah penyakit yang terganas dalam sejarah umat manusia karena telah meminta korban juta-an orang. Diperkirakan antara 20 hingga 40 juta orang meninggal dunia karena wabah penyakit mematikan tersebut.
Selanjutnya, penyakit Pes yang disebabkan oleh tikus (Xenopsylla cheopsis) juga pernah mewabah di Jawa. Pes diperkirakan berasal dari Asia Tengah atau Asia Timur. Inang bakteri Yersinia pestis adalah kutu tikus atau marmut. Penyakit ini merambah ke Eropa dan Afrika bagian utara melalui Jalur Sutra yang merentang di pedalaman Eurasia. Pandemi Pes pertama yang mematikan diperkirakan terjadi di Byzantium semasa Kaisar Justinian I pada tahun 541-542. Tak hanya melumpuhkan Konstantinopel, wabah juga menyebar ke beberapa tempat di Asia dan Afrika. Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini termasuk ganas karena mudah menyebar dan menyerang bagian tubuh yang vital. Sampai abad ke-19, orang sudah mengenal tiga jenis Pes: Pes pada sistem limfatik alias Pes bubo, Pes pada aliran darah atau Pes Septikemik, serta Pes pada paru-paru alias Pes Pneumonik. Mereka yang terserang pes akan menunjukkan gejala demam, diare, nyeri otot, beberapa bagian tubuh menghitam (Pes Septikemik), pembengkakan di sekitar kelenjar getah bening (Pes Bubo), hingga batuk dan sesak napas (Pes Pneumonik).
Sampai 1952 Pes telah menyerang kurang lebih 240.000 orang di Pulau Jawa. Penyakit Pes (sampar) yang telah mewabah di daerah Garut dimulai sekitar tahun 1930-an dan telah tercatat sebagai berikut: Pada 25-26 April 1933, berita dari koran AID De Preanger-Bode yang disadur oleh media-media yang terbit di Hindia Belanda dan Belanda, seperti De Indische courant, Soerabaijasch Handelsblad, Nieuwe Apeldoornsche courant, De Standaard, De Tijd, dan Bredasche courant. Isinya perihal kematian asisten wedana atau Camat Kota Garut Raden Kanduruan Kertanegara, akibat tertulari sampar yang menjangkit pada 1933, bahwa camat tersebut pernah berhubungan dengan bupati Garut (tot de contactpersonnen behoort de regent). Bupati Garut menjadi orang dalam pantauan (ODP) selama sembilan hari, sehingga tidak boleh ke mana-mana (“De regent van Garoet, die, in verband met het overlijden aan longpest van den assistent-wedana van de kota Garut, negen dagen in observatie is geweest, als contactpersoon, is thans practisch buiten gevaar”). Kabar ini disampaikan oleh kantor berita Aneta pada 2 Mei 1933.
Nama Rumah Sakit Dr. Slamet yang ada di Garut sekarang diambil dari nama dokter yang ikut berjuang memberantas wabah Pes pada waktu itu, yaitu Dr. Slamet Atmosoediro selaku Kepala RSU, ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai ketua tim pemberantasan penyakit Pes. Saat menjalankan tugasnya itu, ia terkena pula penyakit Pes sampai akhirnya meninggal dunia pada tanggal 11 Mei 1930.
Disarikan dari berbagai referensi
Mengabadikan Konferensi Asia Afrika Ala Ayahku
Oleh: Heru Erwantoro
Bulan April merupakan bulan yang bersejarah bagi masyarakat Kota Bandung, karena pada bulan itu, 65 tahun yang lalu diselenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang sangat monumental. Berbicara KAA dari kaca mata politik hubungan internasional, sudah banyak sekali dikupas. Kali ini aku ingin bercerita KAA di mata rakyat biasa yang langsung menyaksikan peristiwa bersejarah itu.
Sebelum meninggal dunia ayahku sempat bercerita. Pada tahun 1954, dia dari Surabaya berangkat ke Bandung karena ditempatkan oleh Djawatan Kereta Api. Baru setahun di Bandung, ada KAA yang sangat meriah dan spektakuler. Sebagai rakyat, ayahku sangat bangga pada negaranya yang mampu menyelenggarakan konferensi tingkat dunia. Ayahku sangat mengagumi tokoh-tokoh dunia yang hadir di KAA, apalagi terhadap kecantikan putrinya PM India, Indira Gandhi. Begitu kagumnya, ketika istrinya melahirkan anak perempuan pada bulan April 1955 juga, langsung diberi nama Kunjung Indrawati. Kunjung itu merujuk pada kunjungan, dan Indrawati mengacu ke Indira Gandhi. Kunjung Indrawati untuk mengenang kunjungan Indra Gandhi pada tahun 1955 dalam rangka menghadiri KAA di Bandung. Ya, kalau orang Jawa meniru tak pernah sama persis. Rupanya kekaguman itu masih berlangsung, ketika istrinya melahirkan anak yang kedua, perempuan juga pada tahun 1957, diberi nama Kunjung Indraningsih. Berikutnya, ketika lahir anak perempuan yang ketiga pada tahun 1959, diberi nama Kunjung Indranani. Pada tahun 1961 lahir anak yang keempat, laki-laki, yaitu Aku, diberi nama Heru. Kata Ayah, “ Ada kesamaan bunyi di akhir kata antara Neh(ru) dan He(ru). Beda kata depannya saja”. Saat itu aku tidak peduli. Sekarang aku baru sadar perbedaan itu menunjukkan perbedaan kualitas. Nehru pembuat sejarah, sedangkan Heru pencatat sejarah. Begitulah ceritaku.
