WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Staf BPNB Jawa Barat (15)

Bupati Sumedang Buka Acara Saresehan Titimangsa Penetapan Milangkala Kecamatan Sumedang Selatan

Pemerintah Kecamatan Sumedang Selatan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) menggelar acara Saresehan Titimangsa Penetapan Milangkala Kecamatan Sumedang Selatan di Gedung Kandaga Guru Sumedang (KGS), Senin (11/4/2021).

Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir, dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumedang Harry Tri Santosa, Camat Sumedang Selatan Syarif Efendi Badar, Forkopimcam, para Kepala Desa, lurah, Kepala sekolah, anggota TP. PKK, serta para seniman dan budayawan se-Kecamatan Sumedang Selatan.

Pelaksanaan acara ini dirangkaikan dengan launching Gerakan Kencleng Amal BAZNAS serta diisi dengan penampilan beragam potensi kesenian dari Kecamatan Sumedang Selatan (Songah, Witong, Jaipongan, Kecapi Suling dan Pop Sunda), Talkshow dan seminar kebudayaan.

Camat Sumedang Selatan Syarif Efendi Badar menyampaikan, bahwa penetapan titimangsa ini merupakan salah satu program quick win Kecamatan Sumedang Selatan yang disusun dalam rencana kinerja Kecamatan Sumedang Selatan tahun 2021.

Penetapan titimangsa milangkala ini, kata Syarif, sudah melalui proses kajian dan rujukan dari berbagai sumber. Berdasarkan hasil kajian dan rujukan tersebut, titimangsa hari jadi Kecamatan Sumedang jatuh pada tanggal 19 Agustus 1945.

“Kami mendapatkan rujukan dan kesimpulan bahwa titimangsa hari jadi kecamatan Sumedang pada tanggal 19 Agustus 1945 dan hari ini melalui acara saresehan ini akan disepakati bersama oleh segenap masyarakat Sumedang Selatan,” ujarnya.

Dikatakan Syarif, penetapan milangkala Kecamatan Sumedang Selatan ini tidak terlepas dari kerjasama dan koordinasi serta konsultasi dari Balai pelestarian nilai Budaya wilayah Jawa Barat dan beberapa balai lainnya di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

“Alhamdulillah, berkat kerjasama, koordinasi dan konsultasi, kami mendapatkan fasilitasi dan dukungan dari Balai pelestarian nilai Budaya wilayah Jawa Barat dan beberapa balai di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir mengapresiasi positif acara yang digagas Kecamatan Sumedang Selatan. Ia memandang, acara ini merupakan ikhtiar untuk mencari dan menelusuri sejarah sebagai sumber motivasi dan inspirasi bagi generasi penerus.

“Harus sudah mulai mendokumentasikan dan mengadministrasikan segala hal dan tentunya hal ini akan menjadi patokan untuk kedepannya,” kata Bupati.

Secara substantif, sambung Bupati, adanya milangkala ini harus bisa membangkitkan semangat masyarakat dan mengguyubkan masyarakat, serta menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya terutama nilai budaya yang mengungkit etos kerja.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini dan tentunya dengan kegiatan ini Sumedang sebagai Sumedang Puseur Budaya lebih kuat lagi. Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan mengali nilai-nilai baru yang lebih baik,” kata bupati.

Lebih lanjut, ia pun berpesan kepada para peserta dalam penetapan titimangsa milangkala dikaji secara mendalam berdasarkan kajian ilmiah dan empirik disertai data dan bukti yang menguatkan terhadap penetapan milangkala kecamatan.

“Silahkan dikaji, tentunya penulusurannya harus berdasarkan ilmiah dan empiris. Selain itu, harus ada bukti pendukung berupa fakta, data dan evidencenya. Ini harus betul-betul matang,” pungkasnya.(abas)

Sumber: https://eljabar.com/bupati-sumedang-buka-acara-saresehan-titimangsa-penetapan-milangkala-kecamatan-sumedang-selatan/

Contoh Kearifan Lokal Masyarakat Sunda di Jawa Barat

Oleh: Ilham Choirul Anwar

Indonesia memiliki banyak suku yang tersebar di berbagai daerah. Keunikan suku-suku ini yaitu memiliki budaya yang khas dan sering kali berbeda dengan suku lainnya. Kekhasan tersebut lantas menjadikan setiap suku memiliki kearifan lokal dalam kehidupan bermasyarakat. 

Istilah kearifan lokal kerap diserupakan dengan kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge), atau kecerdasan setempat (local genious). 

Kearifan lokal adalah semua bentuk keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002). Kearifan lokal menjadi sebuah sarana mengolah kebudayaan dan mempertahankan diri dari kebudayaan asing yang tidak baik. 

Kearifan lokal menjadi pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi dengan wujud aktivitas yang dilakukan masyarakat lokal.

Bentuk kearifan lokal cukup beragam. Ia tertuang dalam adat istiadat, tata aturan/norma, budaya, bahasa, kepercayaan, hingga kebiasaan sehari-hari. Adanya kearifan lokal ini membuat kehidupan bermasyarakat lebih bernilai. 

Kearifan Lokal Masyarakat Sunda dan Contohnya
Suku Sunda mendominasi wilayah Provinsi Jawa Barat. Fakta ini terlihat dari bahasa daerah yang dipakai mayoritas warga di provinsi itu, yakni bahasa Sunda. 

Di masyarakat Sunda, banyak kearifan lokal berkembang serta beragam, baik berkaitan dengan petuah kehidupan, menjaga alam, dan lain sebagainya. 

Dalam hal petuah hidup, misalnya, masyarakat Sunda memiliki kearifan lokal berupa nukilan atau kutipan. Nukilan ini berhubungan dengan anjuran dan larangan dalam hidup bermasyarakat. 

Nukilan sebagai salah satu kearifan lokal yang menjadi peninggalan peradaban masa lalu. Menurut Sudjana dan Sri Hartati, dalam Nukilan Kearifan Lokal Suku Sunda Berupa Anjuran dan Larangan (PESAT, 2011), setidaknya ada 317 nukilan yang berkembang di masyarakat Sunda. 

Semuanya dapat diklasifikasikan berupa anjuran dan larangan, yang sebagian besar bersumber dari naskah klasik ataupun sumber tertulis lainnya. 

Contoh nukilan anjuran yaitu "Indung suku ge moal dibejaan" yang berarti "Ibu jari pun tak akan diberi tahu." Nukilan ini adalah anjuran untuk berkomitmen saat menjaga rahasia ketika seseorang diberikan amanah untuk hal itu. 

Sementara itu contoh nukilan larangan yaitu "Dikungkung teu diawur, dicangcang teu diparaban (Dikurung tidak dirawat, diikat tidak diberi makan)". Petuah ini ditujukan pada suami yang tidak merawat istrinya dengan menafkahinya. Setiap suami yang punya tanggung jawab tidak akan memperlakukan istri seperti itu. 

Kearifan lokal suku Sunda lainnya terlihat dari budaya mengurangi risiko bencana. Masyarakat Sunda memiliki bangunan rumah bambu tahan gempa. Dalam sebuah eJurnal UPI disebutkan, bahan rumah ini 80 persen memakai bambu dan bahan alami lainnya. Ketahanannya bahkan mencapai lebih dari 20 tahun dan masih kokoh.

Kelebihan rumah bambu khas Suku Sunda yaitu tahan terhadap guncangan saat gempa. Bambu memiliki sifat fleksibel dan lentur. Jika saja rumah bambu roboh akibat gempa, risiko korban jiwa juga lebih rendah dibanding kasus serupa di rumah tembok. 

Contoh kearifan lokal masyarakat Sunda lainnya diulas di artikel "Kearifan Lokal Masyarakat Sunda dalam Memitigasi Bencana dan Aplikasinya sebagai Sumber Pembelajaran IPS Berbasis Nilai," yang dimuat Jurnal Penelitian Pendidikan (Vol 14, No 2, 2014) terbitan LPPM UPI. 

Artikel ilmiah karya Enok Maryani dan Ahmad Yani tersebut merupakan hasil riset di enam lokasi komunitas adat di Jawa Barat dan Banten. 

Keenam lokasi penelitian kearifan lokal itu adalah Desa Pangandaran (Pangandaran, Jawa Barat; Kampung Kuta (Ciamis, Jawa Barat); Kampung Naga (Tasikmalaya, Jabar); Desa Kanekes (Lebak, Banten); dan Kasepuhan Ciptagelar (Sukabumi, Jawa Barat). 

Di antara kearifan lokal yang ditemukan dalam penelitian itu adalah Konsep Leuweung Kolot yang mirip dengan konsep hutan lindung sebagai kawasan yang sama sekali tidak boleh dimasuki. 

Selain itu ada konsep Leuweung Larangan yang mirip dengan hutan penyangga yaitu hutan yang dilarang dirambah atau dibuka tetapi masih boleh dimasuki dengan seizin para ketua adat.

Di Kanekes, Leuweung Larangan digunakan sebagai lokasi pemahaman para pu’un atau ketua adat sehingga menambah kewibawaan hutan. 

Kearifan lokal di masyarakat Jawa Barat (Sunda) juga bisa ditemukan di sejumlah dongeng yang mengandung nilai-nilai yang positif untuk membentuk karakter anak-anak. 

Contoh cerita rakyat yang sering didongengkan kepada anak-anak di masyarakat Sunda misalnya, ialah dongeng sasakala gunung tangkuban parahu, dongeng si kabayan, dongeng kancil dan kura-kura, serta banyak lainnya. 

Dongeng-dongeng itu mengandung pesan-pesan moral yang bisa dijadikan cerminan anak-anak dalam menjalani hidup, demikian dijelaskan dalam salah satu karya ilmiah terbitan Badan Bahasa, Kemdikbud.

Peribahasa yang hidup di masyarakat Sunda (Jawa Barat) juga banyak yang memuat nilai-nilai kearifan lokal. Sejumlah contohnya diulas artikel ilmiah "Nilai Kearifan Lokal dalam Peribahasan Sunda: Kajian Semiotika" karya Siti Kodariah dan Gugun Gunardi yang dimuat Jurnal Patanjala (Vol 7, No 1, 2015) terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. 

Contoh kearifan lokal Sunda termuat dalam peribahasa "cul dogdog tinggal igel" yang mengandung ajaran moral bahwa orang yang serakah dan lupa diri akan tercela di masyarakat dan dianggap tidak bertanggung jawab. 

Kearifan lokal Sunda lainnya ada di peribahasa "nété tarajé nincak hambalan" yang mencerminkan pandangan mengenai ketertiban dan kedisiplinan dalam mencapai suatu maksud yang diinginkan.

Sumber: https://tirto.id/contoh-kearifan-lokal-masyarakat-sunda-di-jawa-barat-gbtp

Tradisi Kesenian Ronggeng Pangandaran yang Berjuang Menantang Zaman

Secara kebahasaan, Ronggeng berasal dari kata renggana yang berarti perempuan pujaan dalam bahasa Sansekerta. Tak diketahui pasti bagaimana asal mula kesenian Ronggeng di Pangandaran hingga dapat bertahan seperti saat ini.

Namun menurut Gilang Campaka lewat skripsinya berjudul Lagu Kudup Turi dalam Kesenian Ronggeng Gunung di Ciamis Selatan, diperkirakan kesenian ini sudah ada sejak abad VII pada masa Kerajaan Galuh. Tariannya berperan sebagai penghibur tamu kerajaan yang berkunjung.

Dikisahkan pula dalam legenda Dewi Siti Samboja dari Kerajaan Pananjung yang menyamar sebagai penari ronggeng. Karena tewasnya sang suami, Raden Anggelarang, dalam penyamarannya di pegunungan Pangandaran ia mengungkapkan kesedihannya lewat lagu Manangis.

Senandung itu kemudian menjadi bagian dalam pertunjukkan ronggeng dan dianggap sebagai salah satu asal-usulnya.

Tetapi versi lainnya, menurut Ria Andayani lewat bukunya, Ronggeng Gunung: Menggali Seni Tradisi bagi Pengembangan Pariwisata dan Seni Modern di Kabupaten Ciamis, bahwa tarian ini diciptakan oleh Raden Sawung Galing. Raden Sawung Galing sendiri merupakan bala bantuan dari Galuh untuk menyelamatkan Pananjung yang kemudian menjadi raja.

Ketika berkuasa, ia membuat tarian sebagai sarana hiburan resmi bernama Ronggeng Gunung. Seleksi penarinya pun cukup ketat dengan syarat cantik, mampu menari dan menyanyi, serta terpandang.

Kesenian ini juga tercatat di masa penjajahan oleh bangsa Eropa, termasuk Gubernur Jenderal Stamford Thomas Raffles dalam bukunya The History of Java. Ia menulis, Ronggeng merupakan pertunjukkan keliling yang dilakukan oleh perempuan yang berasal dari gunung. Pertunjukannya biasa dilakukan di ruang publik, bahkan di tempat tinggal para bangsawan dan penguasa kolonial.

Pada pementasan Ronggeng Gunung, perempuan memiliki banyak peran, seperti sebagai penari sekaligus penyanyi. Seorang Ronggeng juga berperan sebagai pemimpin sejumlah ritual acara yang melibatkan pementasan ini.

Euis Thresnawaty dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat dalam Raspi, Sang Maestro Ronggeng Gunung (jurnal Panjalu Vol.8 No 2 2016) menulis bahwa untuk menjadi seorang ronggeng tidak memiliki batasan umur.

Tidak mudah bagi setiap perempuan untuk menjadi ronggeng karena memiliki seleksi ketat. Tetapi syarat berparas cantik tak lagi menjadi syarat penting untuk menjadi ronggeng seperti di masa lalu.

Syarat itulah yang membuat profesi ronggeng hingga kini jadi langka. Kesulitan utama, menurut Euis, ialah kemampuan berolah vokal yang unik.

"Perempuan muda di Ciulu misalnya, lebih memilih menjadi penyanyi dangdut atau penaynyi organ tunggal daripada menjadi ronggeng," tulisnya. "Mereka tidak memiliki kesabaran lebih untuk mendapatkan kemampuan menyanyi seperti itu."

Ronggeng Gunung yang sebelumnya menjadi ritual untuk kesuburan pertanian, kemudian berkembang seiring waktu. Nina Herlina Lubis dan Undang Ahmad Darsa dari Universitas Padjadjaran menulis, bahwa perkembangan kemudian diadakan

Jika sebelumnya Ronggeng Gunung digunakan dalam ritual khususnya kesuburan pertanian, dalam perkembangannya menjadi seni pertunjukkan sebagai hiburan pasca bertani. Ketika panen usai, Ronggeng Gunung diadakan di malam hari sebagai rasa syukur.

Nina dan Undang lewat Perkembangan Ronggeng Sebagai Seni Tradisi di Kabupaten Pangandaran, mengungkapkan Ronggeng Gunung berkembang menjadi Ronggeng Amen (disebut juga dengan Ronggeng Kidul). Kehadiran Ronggeng Amen lebih populer di kalangan masyarakat Pangandaran kini.

Kepopuleran ini disebabkan karena penonton dapat ikut menari bersama ronggeng dan memberi saweran. Pementasannya pun dapat dicermati lebih meriah karena diiringi dengan gamelan kliningan dan berbagai tembang yang lebih modern.

Ronggeng Amen biasanya terdiri dari lima hingga tujuh ronggeng, dan belasan pemain musil. Penari Ronggeng Amen juga tidak berperan ganda sebagai pesinden.

Dalam hal gerakan, Ronggeng Amen juga tampak lebih bebas berekspresi dan inklusif kepada penonton. Para penonton berikutnya bisa ikut serta dalam tarian jika dikalungi sampur (selendang) dari ronggeng, dan bebas bergerak menari tanpa patokan gerakan.

Mengingat Ronggeng Gunung dan Ronggeng Amen merupakan kebudayaan khas Pangandaran. Pemerintah setempat berupaya untuk melakukan pembinaan terhadap berbagai kelompok seni Ronggeng agar lebih diterima di masa kini.

Di masa pagebluk, Kang Heri dari Balai Pelestarian Cagar Budaya [BPCB] berujar bahwa kegiatan Ronggeng terhenti sementara. Pementasan Ronggeng yang biasanya dipentaskan dalam bentuk wisata kebudayaan di Pondok Seni Kebudayaan dan Pariwisata Pangandaran, kini hanya mengisi beberapa acara seperti pernikahan dan khitanan.

"Kalau tidak pandemi, kegiatannya dilaksanakan di gedung kesenian (merujuk pada Pondok Seni), di jalan Pantai Barat. Biasa diadakan setiap malam minggu dan ramai pengunjung--baik dari dalam maupun luar [Pangandaran]." ujar Heri pada National Geographic Indonesia (16/02).

"Tapi bukan berarti mereka mati saat pandemi. Komunitas mereka banyak dan enggak selalu di gedung kesenian [untuk latihan], seperti di Sukaresik dan Babakan." (Afkar Aristoteles Mukhaer)

Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/read/132560865/tradisi-kesenian-ronggeng-pangandaran-yang-berjuang-menantang-zaman?page=all

Staf BPNB Jawa Barat (14)

Popular Posts