WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label permainan. Show all posts
Showing posts with label permainan. Show all posts

Permainan Tradisional Anak di Kabupaten Lampung Utara

Lampung Utara merupakan salah satu kabupaten yang berada dalam wilayah Provinsi Lampung dengan Ibukotanya bernama Kotabumi. Lampung Utara terdiri atas 23 kecamatan, dan salah satunya adalah Kecamatan, Abung Timur. Kecamatan ini memiliki beragam kekayaan budaya. Salah satunya adalah permainan anak tradisional. Beberapa permainan yang hingga kini biasa dimainkan adalah Kebabeng, Kikhikan, Pidak, Bedil Betung, Balang-balang, Gasing, Taplak, Bola Beracun.

Kebabeng
Kebabeng. Adalah nama permainan yang lebih bersifat perorangan. Namun, dapat juga dimainkan secara berkelompok. Persaingan hanya dilihat dari ketangkasan dan keahlian pemain agar buah karet miliknya dapat berputar dengan kencang. Bahan yang diperlukan untuk membuat alat permainan ini tergolong mudah didapat, yaitu sehelai tali, sebilah bambu, dan buah karet. Teknik memainkan permainan ini adalah dengan menarik kedua ujung tali yang telah diberi dua bilah bambu. Pada bagian tengah sudah terpasang buah karet yang telah dilubangi pada kedua sisinya. Kesenangan yang diperoleh adalah saat buah karet miliknya dapat berputar dengan kencang.

Kikhikan
Bahan yang sama dengan permainan ke ba beng – juga dapat digunakan untuk membuat permainan bernama kikhikan. Permainan ini menggunakan prinsip kecepatan putaran baling-baling karena ditarik oleh benang. Proses pembuatannya adalah: poros baling-baling dilubangi dan diberi sebilah bambu. Kemudian, biji karet dilubangi pada bagian atas dan bawah serta bagian tengah. Lubang bagian atas dan bawah digunakan untuk memasukan sebilah bambu. Sementara, lubang bagian tengah digunakan untuk memasukan tali sebagai alat penariknya.

Pidak
Selain dapat digunakan untuk membuat permainan sebelumnya. Buah karet juga dapat digunakan sebagai bahan permainan yang bernama Pidak. Permainan ini dimainkan paling sedikit oleh dua orang. Masing-masing memiliki sejumlah buah karet. Persaingan untuk menang ada dalam permainan ini. Caranya, dua buah karet yang ditumpuk kemudian dipukul dengan menggunakan tangan salah seorang pemain hingga salah satu buah karet yang ditumpuk itu pecah. Penentuan pemenang adalah, apabila setiap pemain memiliki 10 buah karet. Enam di antaranya pecah, maka ia dianggap kalah. Karena, hanya 4 buah karet yang tidak pecah. Sementara lawannya memiliki 6 buah karet yang tidak pecah.

Bedil Betung/Jejok
Berbeda halnya dengan tiga permainan di atas. Permainan ini lebih mengandalkan keakuratan dan kekuatan tembakan. Sumber tenaga tembakan berasal dari dorongan satu tangan pemain. Sementara tangan lainnya digunakan untuk memegang selongsong. Bahan yang diperlukan adalah bambu, dan buah leak. Satu ruas bambu digunakan sebagai selongsong.

Selain itu. Diperlukan juga satu bilah bambu sebagai alat pendorong pada selongsong yang telah diberi buah leak. Para pemain terbagi dalam dua kelompok. Posisi kelompok saling berhadapan dengan jarak sekitar enam meter. Setelah aba-aba permainan dimulai. Mereka saling serang dengan akurasi tembakan pada badan hingga kaki kelompok lawan. Layaknya seperti di medan pertempuran. Para pemain yang telah terkena tembakan dinyatakan gugur. Pemenang adalah kelompok yang berhasil menembak seluruh anggota kelompok lawan.

Balang-balang
Selanjutnya adalah permainan bernama balang-balang. Sebuah permainan yang mengandalkan keahlian pemain dalam memukul baling-baling hingga terlempar sambil berputar kencang. Pemenang ditentukan pada pemain yang melempar bilah balang-balang paling jauh.

Gasing
Prinsip putaran juga ditemukan pada permainan bernama gasing. Bahan yang digunakan untuk membuat permainan ini terdiri dari laher dan sehelai tali. Bagian tengah Laher bekas onderdil motor diberi poros yang diperkuat agar tidak lepas. Untuk memainkannya, tali dililit rapi di atas poros laher. Sambil mengambil aba-aba, pemain kemudian melempar gasing sekaligus sambil menarik tali yang melilit gasing tersebut. Agar lebih menarik. Dibutuhkan pemain paling sedikit dua orang untuk memainkan gasing. Dua atau lebih pemain melempar gasing ketengah arena secara bersamaan. Gasing yang paling lama berputar adalah pemenang dari permainan ini.

Taplak
Taplak, adalah nama permainan yang biasa dilakukan oleh anak perempuan. Alat yang diperlukan untuk melakukan permainan ini sangat mudah didapat. Hanya pecahan genting dan sebidang tanah. Mereka – sudah dapat memainkan permainan ini. Persiapan permainan diawali dengan membuat gambar kotak-kotak di atas sebidang tanah. Setelah selesai, para pemain yang paling sedikit berjumlah dua orang kemudian melakukan undian. Urutan pemenang menandakan urutan untuk melakukan permainan ini. Proses memainkan permainan ini adalah. Pemain melempar genting – pada gambar kotak – yang telah ditentukan. Setelah itu,. pemain akan berloncat-loncat dengan sebelah kaki, melompati kotak-kotak yang telah disediakan. Kesalahan hingga harus berganti pemain adalah tatkala pemain salah melempar genting ataupun menginjak garis yang menjadi arena permainan.

Bola Beracun
Permainan bola beracun dilakukan paling sedikit oleh dua orang. Dan, bisa dilakukan oleh anak laki-laki maupun perempuan. Bahan permainan hanyalah sebidang tanah dan beberapa sandal pemain yang dikumpulkan tersusun di tengah arena permainan. Awal permainan adalah dengan melakukan undian untuk menentukan siapa yang menjadi pelempar sandal pertama, kedua, dan seterusnya. Jika pemain pertama gagal meruntuhkan sandal yang telah tersusun, maka ia akan digantikan oleh pemain kedua. Jika sandal yang dilemparkan berhasil meruntuhkan susunan sandal, maka si pemain akan mengejar dan menangkap lawannya. Lawan yang berhasil ditangkap dianggap kalah. Keriangan sangat terasa dalam permainan ini, baik saat pemain melempar sandal, ataupun saat pemain mengejar lawannya untuk ditangkap. (Irvan)

Dikutip dari Nina Merlina dkk, “Permainan Tradisional Anak-anak di Lampung Utara”, Laporan Perekaman Peristiwa Sejarah dan Budaya, Bandung: BPNB Jabar, 2107

Permainan Congkak: Nilai dan Potensinya Bagi Perkembangan Kognitif Anak

Oleh Dheka D. A. Rusmana

Abstrak
Penelitian berjudul Permainan Congkak: Nilai dan Potensinya bagi Perkembangan Kognitif Anak ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap permainan tradisional yang merupakan warisan nenek moyang. Interpretasi yang penulis lakukan berupaya menggali nilai dan potensi yang terdapat dalam permainan congkak dalam hubungannya dengan bidang psikologi khususnya perkembangan anak. Penelitian terhadap permainan tradisional sebagai salah satu bentuk folklor nusantara secara interdisipliner terhadap ilmu psikologi ini mengungkapkan bahwa permainan congkak sebagai permainan tradisional yang berkembang di banyak daerah di nusantara ini memiliki berbagai nilai dan memiliki potensi dalam memengaruhi perkembangan anak khususnya pada aspek kognitif.

Kata kunci: congkak, nilai, kognitif, anak.

Abstract
The research tittle is Congkak’s Game: Potential and Values for Children Kognitive Development. The research background is interest of writer about traditional games, which is a legacy of our ancestor. The writer interpretation has found a potential corelations in Congkak’s game in childrens kognitive development. The research about traditional games as one of the form in archipelago folklore interdisciplinary toward psychology science in children development, and revealed that Congkak’s game has a potential and values in influencing children development especially in cognitif aspect.
Keywords: congkak, values, cognitif, childrens.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Nilai Budaya dalam Permainan Rakyat di Kabupaten Indramayu

Oleh: Drs. Suwardi A.P.

Abstrak
Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Indramayu ini berupaya mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sehingga permainan rakyat yang menempati tempat dalam kehidupan masyarakat dan sumber daya ini mempunyai arti dan guna di dalam menanamkan sikap dan keterampilan bagi masyarakat pendukungnya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda: Makna Pendidikan di Balik Permainan Anak

Oleh: Drs. Nandang Rusnandar

Abstrak
Dari mulai bayi hingga masa baleg ’remaja’, bagi masyarakat Sunda sudah diperkenalkan pola permainan dan jeujeuhananan ’pengasuhan’ yang disimbolkan permainan, baik nyanyian maupun gerakan yang diharapkannya dalam bentuk permainan anak. Dalam permainan itu, si anak tidak terasa telah diajak untuk mengenal dirinya, orang di sekelilingnya, alam, dan Tuhannya. Dengan demikian si anak yang baleg akan mencapai tingkatan hideng ’mengerti’.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Nyanyian Anak-anak Sunda Masa Kini: Analisis Bentuk dan Isi Kakawihan Barudak Kiwari

Oleh: Drs. Agus Heryana

Abstrak
Kakawihan Barudak sering diidentifikasikan kepada nyanyian anak-anak desa. Dalam gambaran keseluruhan istilah tersebut, di dalamnya terdapat aktivitas anak-anak yang sedang melakukan berbagai permainan sambil disertai nyanyian. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika tataran kehidupan manusia terus berkembang dan mencapai titik nadir teratas, perubahan terus berlangsung. Masalahnya adalah bagaimanakah bentuk nyanyian anak-anak di perkotaan. Bagaimanakah bentuk dan isi Kakawih Barudak di perkotaan sedikit banyaknya dapat terjawab pada penelitian ini.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 21, Juli 2000

Popular Posts