WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan sebagai Objek Wisata di Kabupaten Ciamis

Oleh: Drs. Adeng

Abstrak
Uraian masalah peninggalan sejarah dan kepurbakalaan di Kabupaten Ciamis ini mencakup beberapa peninggalan sejarah kepurbakalaan yang sekaligus beberapa di antaranya dijadikan sebagai objek wisata, yaitu Situs Astana Gede (Kawali), Situs Panjalu, Situs Pangandaran, Situs Jambansari, dan Situs Bojong Galuh. Adapun dua situs lainnya yang tidak dapat dijadikan objek wisata adalah Situs Citapen dan Situs Candi Ronggeng. Dalam penelitian ini penulis menguraikan latar belakang sejarah dari keberadaan masing-masing situs tersebut.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Pola Kehidupan Santri di Pesantren Jagasatru

Oleh: Hermana

Abstrak
Pendidikan Pesantren Jagasatru mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya. Hal ini membuktikan kesadaran dan penghargaan tentang pentingnya pendidikan agama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Dampak lainnya adalah adanya perubahan cara berfikir dan persepsi setiap individu dalam usaha mengadakan perubahan dan dengan berdirinya pondok pesantren ini sangat menunjang program pemerintah di bidang pendidikan Hubungan santri dalam lingkup pesantren terjalin hubungan kekeluargaan yang terikat oleh atuan-aturan pondok pesantren. Dengan rasa solidaritas yang tinggi, begitu juga hubungan dengan warga masyarakat sekitar cukup erat karena para santri memahami pentingnya hidup.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 8, Desember 1995

Jejak Pahlawan di Jawa Barat

Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok, di Kampung Bojong, Desa Rengasdengklok Utara, Jawa Barat. Sebuah patung berbentuk kepalan tangan kiri, adalah tanda kebulatan tekad Bung Karno dan Bung Hatta membuat Indonesia merdeka.

Ruang kosong berukuran 2,5 x 1,5 meter itu terasa hampa. Tidak ada jejak peninggalan atau bukti sejarah apapun. Konon, ruang kosong dengan tembok kokoh berterali besi itu pernah ditempati Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno.

Ya, ruangan itu memang salah satu sel di Penjara Banceuy, tempat pertama Soekarno menerima hukuman dari Pemerintah Belanda. Tepatnya, pada 30 Desember 1929, Soekarno bersama dua rekannya Gatot Mangkupradja dan Maskun Soemadiredja masuk dalam penjara Banceuy. Sejak 18 Agustus 1930, Soekarno menempati sel nomor 5 blok F itu.

Meskipun terkurung di penjara, Soekarno terbukti masih bisa membuat naskah pledoi yang dikenal sebagai Indonesia Menggugat. Bermodal selembar kertas dan pena selundupan, Soekarno bisa menuliskan harapan dan keinginannya untuk Indonesia merdeka.

Soekarno yang dikenal dengan sebutan Bung Karno, adalah Bapak Proklamator Indonesia. Semasa hidupnya, pria kelahiran Blitar, 6 Juni 1901 itu, tidak pernah berhenti memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Penjara Banceuy, menjadi kenangan pahit bagi Bung Karno. Sel kecil dengan lebar 1,5 meter itu, ditempati selama delapan bulan oleh Soekarno. Saat ini, kondisi Penjara Banceuy kurang terpelihara. Bahkan bisa dibilang, tempat tersebut bukan lagi sebuah penjara yang terdiri dari puluhan atau ratusan sel.

Faktanya, penyelu- suran selama tiga hari ke tempat bersejarah di Karawang dan Bandung, pada 14-16 Oktober 2008, berbuah kekecewaan. Tempat yang pernah menjadi persinggahan Soekarno itu, benar-benar sel mati bisu. Hampir tidak ada bukti keberadaan Soekarno, yang pernah tinggal di sana.

Penjara Banceuy tidak lagi pantas disebut penjara. Saat ini, hanya satu sel yang masih berdiri kokoh di antara pertokoan di Kota Bandung. Tidak ada bukti reruntuhan atau benda sejarah, untuk menguatkan keberadaan Penjara Banceuy. Hanya sebuah sel nomor 5, yang masih dipertahankan oleh pemerintah daerah setempat. Tidak ada tulisan atau tanda apa pun yang menyatakan sel tersebut adalah bekas Penjara Banceuy.

Masyarakat awam yang berkunjung ke lokasi tersebut, kemungkinan tidak menyadari ruang kosong tersebut adalah sel penjara Bung Karno. Terlebih lagi, pagar yang melindungi sel berfungsi ganda menjadi tempat jemuran warga sekitar.

Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) wilayah Jawa Barat, Toto Sucipto menuturkan, Penjara Banceuy yang terletak di tengah Kota Bandung itu belum resmi terdaftar sebagai tempat bersejarah. Sampai saat ini, prosesnya masih diusahakan.

Tidak terpeliharanya lokasi sekitar Penjara Banceuy, menjadi alasan utama sulitnya proses pendaftaran. Warga sekitar penjara, bahkan tidak peduli pada keberadaan tempat bersejarah tersebut. Penjara yang awalnya terdiri dari ratusan sel, kini berubah menjadi pertokoan dan pasar.

“Kami masih mengusahakan agar sel tempat Bung Karno ditahan bisa masuk dalam daftar tempat bersejarah. Nantinya, akan diberikan jupel (juru pelihara) khusus untuk sel nomor 5 ini,” ujar Toto.

Sel yang sempit itu memang tidak meninggalkan bukti-bukti fisik keberadaan Bung Karno. Satu-satunya bangunan yang masih berdiri kokoh selain sel nomor 5, yakni menara pengawas Belanda. Menara tersebut berbentuk bangunan seluas tak lebih dari 20 meter persegi. Tinggi menara, empat meter dengan bangunan dua lantai.

Ruang tamu rumah tinggal Djiaw Kie Siong berisi foto-foto Bung Karno dan sebuah altar sembahyang. Rumah tinggal Djiaw Kie Siong, menjadi bukti sejarah perjuangan Bung Karno dan Hatta membuat naskah teks proklamasi.

istimewa

Blok Timur, tempat sel Bung Karno berada. Sel bertuliskan TA 01 berada di pojok kiri Blok Timur Penjara Sukamiskin.

Penjara Sukamiskin

Penjara Banceuy bukanlah satu-satunya tempat mengurung raga Bung Karno. Setelah melewati proses pengadilan, pada 22 Desember 1930, Presiden RI pertama tersebut resmi dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Ia menghabiskan waktu dua tahun dalam penjara, yang terletak di Jalan AH Nasution, Sukamiskin, Bandung itu.

Penjara Sukamiskin, sejak zaman pemerintahan Belanda menjadi tempat tahanan kelas satu bagi penjahat politik. Saat itu, Bung Karno dianggap penjahat kelas satu yang membahayakan Belanda. Ia mendekam di ruangan seluas 2,2 x 3 meter. Dalam ruangan dua pintu tersebut, Bung Karno ditemani sebuah tempat tidur lipat, kursi, meja kayu, dan kloset duduk.

Sementara itu, di sisi kanan, terdapat rak buku dengan 11 buku tentang sejarah perjuangan Bung Karno. Ruangan juga dilengkapi sebuah kursi rotan dan satu kursi kayu lengkap dengan mejanya. Sekilas, ruangan tersebut sangat mewah bagi tahanan politik sekelas Bung Karno. Namun, harus diakui dalam ruangan itu Bung Karno tetap berkarya. Ia mampu menyelesaikan sebuah tulisan yang menjadi buku Mencapai Indonesia Merdeka.

Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Penjara Sukamiskin, Yunianto saat ditemui menuturkan, petugas di Penjara Sukamiskin minim informasi tentang Bung Karno. Kebanyakan dari petugas hanya tahu, Bung Karno pernah mendekam di penjara tersebut. Namun, tingkah laku dan kebiasaan Bung Karno selama di penjara tidak pernah ada yang tahu. “Sampai saat ini kami masih menggali informasi tentang siapa dan bagaimana Bung Karno selama di dalam sel. Jadi, kami bisa memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat,” jelas Yunianto.

Penjara Sukamiskin, merupakan peninggalan pemerintah Belanda. Penjara tersebut dibangun pada 1918 dan baru berfungsi pada 1924. Dalam penjara terdapat 552 sel. Saat ini, penjara dihuni sekitar 480 narapidana. Bangunan asli khas Belanda, kental terlihat di Penjara Sukamiskin. Bahkan, ruang bawah tanah yang dipakai untuk penjahat berbahaya masih tetap dipelihara oleh petugas. Sayangnya, penjara bawah tanah tersebut tertutup untuk umum. “Penjara bawah tanah tidak dipergunakan lagi. Sejak 1945, penjara bawah tanah sudah ditutup. Ruangan tersebut kini dipakai sebagai gudang penyimpanan saja,” kata Yunianto.

Rumah Rengasdengklok

Sepanjang sejarah hidup Bung Karno, Penjara Banceuy dan Sukamiskin berhasil membelenggu raganya. Namun, saat bebas Bung Karno kembali melanjutkan perjuangan. Tempat lain yang juga mengandung nilai sejarah adalah, rumah kediaman Djiaw Kie Siong. Rumah berukuran 9 x 6 meter, di Kampung Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Utara itu, menjadi bukti sejarah kemerdekaan Indonesia. Dalam ruangan bertembok kayu jati tersebut, pada 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta menuliskan naskah teks proklamasi.

Kini, rumah tinggal tersebut berada dalam kepemilikan cicit Djiaw Kie Siong, yakni Djiaw Kwin Moi. Keaslian rumah tersebut tetap dipertahankan Kwin Moi. Bagian depan rumah yang pernah dipakai oleh Bung Karno tidak pernah diganti. Bahkan, tempat tidur dan kamar Bung Karno serta Bung Hatta masih sama dengan kondisi tahun 1945-an.

“Ruangan yang pernah dipakai oleh Bung Karno dan Bung Hatta dipelihara oleh negara. Bahkan untuk merenovasi, harus seizin pemerintah setempat. Biasanya pada 17 Agustus, rumah ramai dikunjungi tamu dari luar dan dalam kota. Kebanyakan dari tamu ingin melihat kamar Bung Karno,” cerita Kwin Moi.

Satu lagi pahlawan yang berjasa dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan meninggalkan jejak bersejarah di Jawa Barat, yakni perempuan asal Aceh, Tjut Nja Dhien. Pejuang perempuan tersebut, dikenal dengan sebutan Nyai Prabu, di Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan. Desa tersebut, merupakan tempat pengasingan Tjut Nja Dhien. Ia diasingkan bersama dengan anak berusia 15 tahun dan seorang pengawal.

Pada 6 November 1908, perempuan berdarah Aceh tersebut meninggal dunia. Sayangnya, sampai akhir hayat, jati diri Tjut Nja Dhien tidak terbongkar. Ia dikuburkan dengan nama Nyai Prabu, guru mengaji bagi warga Sumedang.

Namun, setelah 51 tahun berlalu makam Nyai Prabu akhirnya berganti nama. Saksi hidup, yang tak lain adalah cucu dari Kiai Haji Ilyas dan Hajjah Solehah, bersumpah bahwa Nyai Prabu adalah Tjut Nja Dhien. Akhir-nya, pada 1987, makam tersebut direnovasi menjadi makam pahlawan nasional.

Seluruh makam Tjut Nja Dhien ditutup dengan marmer. Pada sisi kanan dan kiri terdapat tulisan Arab disertai dengan tulisan berbahasa Aceh. Sedangkan, gaya arsitektur khas Aceh, terlihat pada bentuk atap makam.

Nana Sukmana, juru kunci generasi ke-4 makam Tjut Nja Dhien menuturkan, banyak warga Aceh yang mengunjungi makam. Bahkan mantan Kepala Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf pernah berkunjung, pada 10 Agustus 2008 lalu. Kebanyakan pengunjung yang datang hanya berdoa sejenak. Selain mantan Panglima GAM, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sudah dua kali mengunjungi makam. [EAS/N-5]

Sumber: Suara Pembaruan

Kekayaan Kultural: Belajar Kemajemukan dengan Lawatan Budaya

Tasikmalaya, Kompas - Teori dan konsep tentang masyarakat dan kebudayaannya selama ini masih diajarkan di dalam kelas. Jarang pembelajaran tentang budaya dilakukan di lapangan dengan obyek studi kampung-kampung adat, misalnya. Padahal, langkah inilah yang dapat lebih memberikan kesan dan pengenalan terhadap kebudayaan bagi siswa.

Hal itu diungkapkam Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung Toto Sucipto, Minggu (16/9) di Tasikmalaya.

"Dengan melihat secara langsung lokasi yang bernilai budaya, seperti kampung adat, generasi muda akan terkesan. Inilah yang nantinya diharapkan bisa mewarnai perilaku mereka di tengah-tengah masyarakat," tutur Toto.

Upaya semacam itu diharapkan bisa mengikis etnosentrisme sempit dan meningkatkan pemahaman bahwa budaya yang tumbuh dan berkembang di masing-masing etnis merupakan jati diri etnis bersangkutan. Lawatan budaya bisa untuk memperkenalkan kearifan lokal masyarakat adat.

Undang Suheryawan, guru dari Garut, menjelaskan, kontak budaya yang semakin meningkat dan intensif menyebabkan perubahan dalam kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.

Meyrisa Amelia, peserta lawatan budaya dari SMA 26 Bandung, mengatakan, terjun langsung ke lapangan lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. (adh)

Sumber: Kompas, Senin, 17 September 2007

Lomba Penulisan dan Diskusi Kesejarahan Tingkat SMU/Sederajat 2010

A. Latar Belakang
Pada hakikatnya suatu komunitas (bangsa) terbentuk karena adanya persamaan dalam berbagai faktor, antara lain, politik, teritorial, budaya, bahasa, agama, etnisitas, dan pengalaman bersama di masa lalu yang kemudian menjadi ingatan kolektif. Identitas kolektif menjadi perekat suatu bangsa. Apalagi, jika disertai dengan kesetiaan dan tanggung jawab dari setiap anak bangsa.

Ingatan kolektif yang telah terpola dalam kerangka kronologis menjadi tema sentral dalam setiap penulisan Sejarah. Walaupun demikian, ada sandaran yang tidak kalah penting dalam setiap penulisan sejarah, yaitu dukungan data dan fakta akurat.

Pengkajian sejarah adalah suatu poses yang dilakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan data, seleksi data, interpretasi, dan historiografi (penulisan). Tahapan ini diperlukan untuk merekonstruksi dan menganalisis masa lalu. Meskipun demikian, sejarawan, ketika melakukan analisis, tidak dibenarkan berinterpretasi atas dasar pemikiran sendiri tanpa didukung oleh bukti yang akurat. Sementara bukti itu sendiri terkadang menemui kendala kelangkaan sumber. Dan, apabila menemui kendala kelangkaan maka kerap sering dilewati oleh banyak penulis sejarah meski topik yang hendak ditulis sebenarnya sangat menarik.

Kesejarahan selain dapat diketahui dari peninggalannya, juga perlu digali dari berbagai peristiwa yang berpengaruh terhadap sosok bangsa dan negara pada saat ini. Berkenaan dengan hal itu, sebenarnya banyak daerah yang pada masa lalu menjadi medan pergolakan yang penting artinya bagi sejarah nasional, tetapi belum terdokumentasikan dalam sejarah. Akibatnya, banyak anggota masyarakat, terutama generasi muda, tidak mengetahui peristiwa kesejarahan yang terjadi dalam masyarakatnya dan atau daerahnya.

Bertolak dari pemikiran itu, maka Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung memandang perlu untuk melakukan kegiatan yang mengarah pada kepedulian terhadap kesejarahan yang ada di sekitarnya (lokal) melalui Lomba Penulisan dan Diskusi Kesejarahan dengan tema Melalui Penulisan Sejarah Kita Tingkatkan Kesadaran Sejarah di Kalangan Generasi Muda.

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Lomba Penulisan dan Diskusi Kesejarahan adalah peristiwa yang pernah terjadi di sekitar tempat tinggal penulis/peserta paling jauh sebatas propinsi yang ditinggalinya. Alasan tentang digunakannya batasan ini diharapkan para peserta lebih mengenal lingkungan sekitarnya baru kemudian mengembangkannya.

C. Tujuan
  1. Mengajak generasi muda (siswa SMU sederajat) untuk mengekpresikan diri melalui karya tulis sejarah.
  2. Mengajak generasi muda untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya pemahaman dan pengetahuan kesejarahan guna mempertebal jati diri sebagai putera bangsa Indonesia melalui penggalian sejarah lokal.
  3. Memperluas wawasan generasi muda tentang keberagaman peristiwa sejarah lokal.
  4. Menyalurkan kemampuan menemukenali dan menganalisis peristiwa sejarah lokal dan menuliskannya secara runtut sesuai kaidah penulisan karya ilmiah dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam suatu kegiatan yang bermanfaat.
D. Topik Penulisan
  1. Peristiwa sejarah perjuangan di daerah (kriteria zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan kemerdekaan Republik Indonesia; pilih salah satu)
  2. Toponimi atau sejarah asal-usul nama daerah
  3. Peristiwa sejarah sosial di daerah (misalnya pemberontakan petani, konflik sosial, dan sebagainya).
  4. Sejarah lembaga (lembaga ekonomi, sosial, budaya, atau agama)
  5. Sejarah pergerakan kelompok manusia (peristiwa pembukaan areal baru bagi permukiman penduduk)
  6. Peristiwa bergeser dan berubahnya upacara dan acara-acara adat tradisional.
  7. Sejarah kota/desa/kabupaten (berupa perkembangan kota/desa/ kabupaten dari masa ke masa)
  8. Peristiwa atau asal-usul kehadiran obyek-obyek kesenian di daerah misalnya kuda lumping, tanjidor, silat/perguruan silat, debus dan sebagainya.
E. Peserta
Sesuai dengan sasaran lomba yaitu kalangan generasi muda, maka peserta yang terlibat dalam Lomba Penulisan dan Diskusi Kesejarahan ini adalah para pemuda yang pada saat lomba masih berstatus sebagai siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat yang berada di wilayah kerja Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Provinsi: Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung).

F. Ketentuan Lomba
  1. Peserta lomba adalah siswa setingkat SMA (SMA, SMK, Madrasah Aliyah dan sekolah lain yang sederajat) yang berada di wilayah kerja Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung yaitu Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Propinsi Lampung.
  2. Karya tulis harus asli, tulisan sendiri, bukan kutipan utuh, terjemahan, saduran dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba karya tulis lain, serta belum pernah dipublikasikan. Dalam hal ini penggunaan beberapa kutipan yang diperoleh dari penulis lain dibolehkan sepanjang tetap mencantumkan sumber kutipan tersebut.
  3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sekalipun menggunakan gaya bahasa populer.
  4. Isi karya tulis harus relevan dengan topik, sedangkan judul bebas.
  5. Setiap peserta dapat mengirim lebih dari satu karya tulis sepanjang tidak keluar dari topik.
  6. Karya tulis ditik dua spasi (spasi rangkap) pada kertas A4 satu muka (tidak bolak-balik), dengan jumlah halaman 5 sampai 10 halaman atau 2500 sampai 3.000 kata.
  7. Karya tulis harus mendapat pengesahan dari kepala sekolah yang bersangkutan
  8. Karya tulis yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara.
  9. Semua naskah yang masuk akan dinilai oleh tim juri yang dibentuk oleh Panitia Penyelenggara dengan kriteria penilaian pada: isi karangan, penyajian, dan bahasa.
  10. Enam peserta terbaik hasil penilaian tim juri akan diundang oleh BPSNT Bandung untuk mempresentasikan karya tulisnya di depan forum untuk menentukan pemenang utama I, II, III, dan pemenang harapan I, II, dan III.
  11. Karya tulis dari peserta selambat-lambatnya diterima panitia pada tanggal 10 Juni 2010.
  12. Bentuk pengiriman adalah printout dan CD
  13. Keputuan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.
G. Hadiah
Panitia menyediakan hadiah uang tunai, piagam, dan trophi bagi 6 pemenang.
  • Juara I Rp. 1.500.000
  • Juara II Rp. 1.250.000
  • Juara III Rp. 1.000.000
  • Juara harapan I Rp. 800.000
  • Juara harapan II Rp. 650.000
  • Juara harapan III Rp. 500.000
H. Waktu dan Tempat
Penyelenggaraan Final Lomba Penulisan dan Diskusi Kesejarahan dilaksanakan di Aula Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung jln. Cinambo no. 136 Ujungberung – Bandung 42094, telp./faks. (022) 78049942, email: bpsntbandung@ymail.com.

Popular Posts