WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Fungsi Keluarga Dalam Penanaman Nilai-nilai Budaya Pada Masyarakat Betawi di DKI Jakarta

Oleh: Drs. Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Fungsi keluarga dalam penanaman nilai-nilai budaya pada masyarakat Betawi, pendidikan anak dilakukan dengan memakai cara tradisional. Anak-anak dididik secara formal, tujuannya adalah agar mereka sadar dan tahu akan kewajiban serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua merupakan guru utama bagi kehidupan anak-anak yang berawal dari lingkungan keluarga. Pada masyarakat Betawi pendidikan dilakukan orang tua dalam lingkungan keluarga masing-masing agar mampu memenuhi kebutuhan hidup baik bagi dirinya maupun dalam kehidupan berkeluarga.

Ketaatan seorang anak kepada orang tua dalam sebuah keluarga tercermin dalam tingkahnya. Hal ini ditentukan dari peranan orang tua dalam penanaman nlai-nilai budaya yang berlaku kepada anak. Aturan-aturan yang ada dalam suatu keluarga banyak tergantung pada keluarga itu sendiri sesuai peranan orang tua berdasarkan budaya yang dimilikinya. Oleh karena itu semenjak dini anak sudah dibiasakan berperilaku baik seperti melaksanakan syariat agama, bermain, belajar dan lain-lain yang bisa mengembangkan diri sendiri dan mengangkat derajat keluarga dan masyarakat.

Mengungkap Tokoh Sunan Gunung Jati

Oleh: Drs. Heru Erwantoro, dkk.

Abstrak
Penelitian ini melakukan kritik atas semua buku ilmuah yang menceritakan Sunan Gunung Jati. Dari telaah kritis tersebut didapatkan tiga penulis buku yang isinya berbeda, yaitu pertama; karya Hoesein Djajadiningrat, Faletehan, Fadhillah Khan, dan Tagaril adalah nama-nama dari seseorang yang itu-itu juga. Kedua; karya Pangeran Wangsa Kerta, ”Carita Purwaka Caruban Nagari”, Bagara Kertabhumi, dan Pustaka Pararatwan; Bhumi Jawadwipa yang menceritakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah mertua dari Faletehan. Ketia; karya H.J. De Dreff dan Th.G. Th Pigeaud yang merupakan pembahasan kritis terhadap teks catatan Melayu yang menjadi lampiran buku M.O. Parlindungan, ”Tuanku Rao”. Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa Sunan Gunung Jati sebagai menantu Faletehan.

Atas dasar penelitian historis terhadap karya-karya para penulis tersebut, penyusun memberikan rekomendasi bahwa karya-karya Pangeran Wangsa Kerta yang menceritakan Sunan Gunung Jati lebih dapat diterima.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 19, Juli 1999

Pelabuhan Penyeberangan Merak (1957-2004)

Oleh: M. Halwi Dahlan

Abstrak
Indonesia yang dianugerahi lautan demikian luas membuat negeri ini mendapat julukan negeri bahari. DI atas permukaan laut terdapat gugusan pulau-pulau yang terhubung oleh sarana transportasi perairan dari kapal kecil sampai kapal-kapal besar. Hal ini menyebabkan dibutuhkannya pelabuhan untuk tempat sandar kapal-kapal tersebut yang disebut Pelabuhan Penyeberangan. Dari beberapa pelabuhan penyeberangan tersebut salah satu di antaranya adalah Pelabuhan Penyeberangan Merak.

Pelabuhan Merak adalah perintis pelabuhan penyeberangan yang dibangun pada tahun 1912 oleh pemerintah Hindia Belanda. Pelabuhan yang memiliki tujuan politis kolonial ketika dibangun, kemudian menjadi asset bangsa Indonesia setelah merdeka. Bagi Propinsi Banten yang memiliki arah kebijakan angkutan laut dengan visi dan misi sebagai “Propinsi Pelabuhan Terkemuka di Indonesia”, kehadiran pelabuhan ini menjadi aset ekonomi strategis.

Kata kunci: sejarah, pelabuhan penyeberangan, Banten.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 1 Maret 2010

Struktur Informal di Kota Bandung (Studi tentang Pedagang Pakaian Kaki Lima di Sekitar Pasar Cicadas Bandung)

Oleh: Drs. Yudi Putu Satriadi

Abstrak
Penelitian ini mengungkap perihal kehidupan pedagang kaki lima di sekitar Pasar Cicadas yang ternyata terdiri atas para pendatang. Dari penelitian ini dapat diketahui cara mereka beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan, denga masyarakat yang baru mereka lihar dan lingkungan sosial budaya setempat.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 18, April 1999

Sekilas Mengenal Peninggalan Sejarah di Kabupaten Garut

Oleh: Dra. Lasmiyati

Abstrak
Penelitian ini tentang peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Garut. Sebagaimana diketahui Kabupaten Garut merupakan satu di antara 25 kabupaten/kotamadya di Provinsi Jawa Barat yang memiliki peninggalan sejarah, di antaranya berupa monumen/bangunan sejarah candi. Peninggalan yang bernilai sejarah tersebut merupakan satu bukti tinggalan budaya yang perlu dilestarikan dan diperingati agar dapat dijadikan suri teladan. Oleh karena itu, peninggalan sejarah dengan segala dimensinya sangat penting diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 18, April 1999

Popular Posts