WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Fungsi Seni Gembyung dalam Kehidupan Masyarakat Panjalu Kabupaten Ciamis

Oleh Endang Supriatna

Abstrak
Gembyung sebagai kesenian buhun yang menjadi sebuah seni pertunjukan di Panjalu, hingga kini tetap bertahan dengan cirri ketradisionalannya. Bersama dengan pelaksanaan Upacara Nyangku maupun peringatan Maulid Nabi Saw. atau pada acara hiburan pada saat khitanan anak, gembyung tampil bersahaja. Namun demikian penampilannya tetap menyampaikan makna baik melalui gerak, lagu, gending musik, maupun sesajennya bahwa hidup akan terus bergerak seiring berlangsungnya sang waktu. Bagi masyarakat Panjalu, seni gembyung tidak hanya sebuah ungkapan ekspresi keindahan, namun lebih dari itu, gembyung memiliki makna kecintaan serta penghormatan kepada asal-usul leluhur mereka. Tulisan ini berupaya mengupas fungsi seni gembyung pada masyarakat Panjalu. Ada dua bagian yang dibahas, pertama menjelaskan seni gembyung, mulai dari perkembangannya, lagu dan teknik pementasan, fungsi dan peranan kesenian ini pada masyarakat pendukungnya. Serta, upaya masyarakat Panjalu memelihara seni gembyung agar tidak tergerus oleh seni modern yang semakin deras berupaya menggeser seni local. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Kata kunci: seni gembyung, tradisi masyarakat, Panjalu.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Kembali ke Alam (Penelusuran Penggunaan Obat-obatan Tradisional di Lingkungan Perkotaan)

Oleh: Dra. Ria Intani T.

Abstrak
Zaman telah memasuki era globalisasi yang ditandai dengan perubahan dari hal-hal yang sfatnya tradisional menjadi modern. Kalaupun harus demikian, kenyataan menunjukkan lain. Adat tinggalan karuhun pada kenyataannya tidak atau belum sepenuhnya ditanggalkan oleh generasi penerus. Apalagi ini terjadi di lingkungan perkotaan. Penelitian ini menggambarkan bahwa kalaupun fasilitas kesehatan di kota sudah demikian memadai, namun demikian penggunaan obat-obatan tradisional masih juga diperlukan. Di sini menunjukkan bahwa masih ada ruang dan waktu bagi hal-hal yang berbau tradisional, dalam hal ini adalah penggunaan obat-obatan tradisional.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 23, Februari 2001

Wawacan Bin Entam (Kajian Nilai Budaya)

Oleh: Dra. Lina Herlinawati, dkk

Abstrak
Perumpamaan naskah sebagai dacing timbangan yang berguna bagi keseimbangan kepribadian manusia terwakili oleh naskah Wawacan Bin Entam. Naskah dengan waktu perubahan tercatat 1324 H ini, di dalamnya terkandung berbagai nilai budaya, seperti nilai agama, nilai sosial, nilai ilmu, dan nilai filsafat yang kesemuanya bermanfaat bagi pembentukan kepribadian serta pemupukan keimanan dan ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Pun dari kandungan nilainya tersebut dapat kita jadikan ajang wawasan dari dalam kehidupan bermasyarakat dengan bercermin pada kehidupan tokoh ceritanya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Upacara Perkawinan Adat Sunda di Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung

Oleh Aam Masduki

Abstrak
Upacara perkawinan adapt Sunda lazimnya disebut Upacara Nikahkeun (dalam bahasa Sunda halus) atau Ngawinkeun (dalam bahasa Sunda kasar), yang artinya menikahkan atau mengawinkan. Nikah atau kawin mengandung arti bersatunya dua insane (laki-laki dan perempuan) yang disahkan secar aagama dan oleh Negara untuk hidup sebagai suami-isteri. Atau dengan kata lain, nikah adalah kesepakatan dua insane yang berlainan jenis untuk mengadakan ikatan guna membentuk keluarga atau rumah tangga untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendokumentasikan salah satu jenis upacara tradisional yang ada di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat agar orang Sunda, terutama generasi mudanya dapat mengetahui, memahami, dan menyayangi budaya sendiri. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa upacara-upacara baik yang dilakukan sebelum acara pernikahan (ngalamar, ngeuyeuk seureuh, seserahan) maupun setelah pernikahan (sawer, ninjak endog, buka pintu, ngunduh mantu) masih tetap dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Bandung.

Kata kunci: upacara tradisional, perkawinan, Sunda.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Perjuangan Batalyon II Tarumanagara Sumedang dalam Mempertahankan Kedaulatan RI (1945 – 1950)

Oleh: Drs. Herry Wiryono, dkk.

Abstrak
Pada masa revolusi fisik (1945 – 1950_ daerah Jawa Barat merupakan salah satu kancah perjuangan perlawanan rakyat semesta, baik perjuangan di bidang politik, maupun perjuangan di bidang militer, oleh karena tu, tidak menjadi heran apabila Divisi Siliwangi sebagai salah satu kesatuan dari TNI ikut berjuang melawan phak Belanda.

Salah satu batalyon kesatuan Divisi/Siliwangi yang cukup besar peranannya dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan RI adalah Batalyon II Tarumanagara. Perjuangan Batalyon II Tarumanagara dalam memperjuangkan kedaulatan RI tidak saja dilakukan di wilayah Jawa Barat, tetapi juga ke daerah lain yaitu Jawa Tengah.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Popular Posts