WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Pemkab Way kanan gelar Gebyar PAUD dan Pagelaran Seni Daerah

Peringatan HUT Way kanan ke 19 Pemerintah Setempat menggelar Gebyar Paud dan pagelaran seni daerah yang dibuka oleh Bunda Paud Way kanan Hj. Dessy Afriyanti Adipati Di komplek Rusunawa Blambangan Umpu, Senin (23/04/2018).

Gebyar PAUD itu memperlombakan 11 jenis perlombaan yakni, Hafalan Surat-surat Pendek, Melengkapi Gambar, Memasang Puzzle Lantai Huruf dan Bilangan.,Bermain Drama/Karakter., Mengdongeng Boneka Tangan, Senam Ceria.,Fariasi Balok Susun., Fashion Show, Lomba APE Dalam, Tari Siger Pengunten dan Storytelling dengan jumlah 378 peserta dari lembaga pendidikan anak usia dini dan TK se Kabupaten ini.

Sementara itu, pagelaran seni yang juga dihadiri oleh Drs. Nandang kusnandar, M.Si dari Balai Pemerhati Nilai Budaya, Jawa Barat menampilkan kesenian Kuda Lumping, Pagelaran Seni Tari Kreasi Lampung, Kesenian Marawis, Seni Kulintang Lampung, Seni Gamolan Lampung dan Pagelaran Seni Gitar Klasik Lampung.

Bunda Paud Way kanan HJ Dessy Afriyanti Adipati yang membuka acara tersebut mengatakan pelaksanaan gebyar paud dalam rangka Hut Way kanan sebagai komitmen kita bersama terhadap kemajuan pendidikan PAUD di Kabupaten Way Kanan.

“Pendidikan anak usia dini sangat penting, mengingat kebutuhan masyarakat untuk mengoptimalkan tumbuh kembangkan anak secara holistik lewat layanan pendidikan anak usia dini semakin meningkat.”Kata Istri Bupati Waykanan itu.

Dibeberkan pula, Menurut hasil penelitian 0-6 tahun merupakan usia perkembangan emas saat fisik dan otak anak berada dimasa pertumbuhan terbaiknya. Dimana kemampuan otak menyerap informasi sangat tinggi. Dimasa ini, stimulasi pendidikan yang positif sangat penting bagi perkembangan anak karena stimulasi yang tidak tepat akan berdampak negatif bagi kehidupan selanjutnya dan tidak dapat di perbaiki.

Pada saat ini kita juga akan ada Pagelaran Budaya Daerah, yang pelaksanaannya bekerja sama antara Pemkab Way kanan dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Jawa Barat.

“tujuan pagelaran ini adalah mem perkenalkan kepada generasi muda budaya daerah, yang merupakan menjadi tanggungjawab kita bersama agar tetap lestari, karena budaya merupakan salah satu Identitas suatu negara.” Papar Dessy Afriyanti. (Fikri)

Sumber: http://lampungvisual.com

Menelusuri Jejak Tradisi dan Budaya Ciamis

Kabupaten Ciamis, Jawa Barat yang terletak sekitar 121 km dari Kota Bandung ini, menyimpan banyak warisan budaya dan tradisi. Terutama peninggalan dari Kerajaan Galuh yang dulu pernah berjaya di kawasan Ciamis. Tentunya peninggalan tersebut pun sarat akan nilai-nilai luhur yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masa kini.

Demi melestarikan warisan budaya serta pengenalan kepada generasi muda, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat menggelar kegiatan “Jejak Tradisi Daerah 2018” ke wilayah Kabupaten Ciamis. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 26 – 28 April 2018, dengan mengusung tema “Mengenal Tradisi dan Ekspresi Budaya di Kabupaten Ciamis”.

Agenda tahunan BPNB Jabar ini, diikuti sebanyak 150 peserta yang terdiri dari siswa tingkat SMA/SMK-sederajat dan para guru pembimbing. Mereka mewakili sekolah-sekolah yang berada di empat wilayah kerja BPNB Jabar, meliputi Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung.

Ketua Panitia Jetrada Ciamis, Irvan Setiawan menyebutkan, kegiatan kali ini berkunjung ke empat lokasi, yakni daerah Sukamantri yang memiliki tradisi seni Bebegig dan kesenian Gembyung, Kampung Angklung, Situs Karang Kamulyan dan sentra kuliner khas Galendo.

“Dari tiga objek budaya tersebut, kami utamakan seni tradisi Bebegig untuk diperkenalkan kepada para siswa karena seni ini sekarang sedang didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda Nasional yang dimiliki Ciamis dan Jawa Barat,” terang Irvan di sela-sela keberangkatan rombongan di Kantor BPNB Jabar, Jalan Cinambo No.136 Bandung, Kamis 26 April 2018 lalu.

Hari pertama, peserta berkunjung ke daerah Sukamantri, Ciamis. Di sana mereka melihat secara langsung atraksi budaya seni “bebegig” dan kesenian “gembyung”. Dua kesenian tersebut merupakan warisan budaya asli dari Sukamantri yang dilestarikan secara turun-temurun. Tak hanya melihat aksi, peserta pun diperkenalkan cara membuat “bebegig”.

Selanjutnya pada hari kedua diisi dengan kegiatan mengunjungi sentra kuliner khas Ciamis yaitu Galendo di Dusun Cilame, Desa Cigembor, Kab. Ciamis. Para peserta pun melihat secara langsung pembuatan galendo yang berbahan dasar kelapa.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Kampung Angklung di Desa Panyingkiran, Kab. Ciamis. Di sana peserta belajar membuat dan memainkan angklung. Setelah kembali ke hotel, peserta pun menyiapkan aksi pentas seni berkelompok pada malam harinya.

Di hari terakhir, rombongan berkunjung ke Situs Budaya Karang Kamulyan (Ciung Wanara). Di lokasi seluas 25 Ha tersebut, peserta berkelilingi untuk mengenal dan observasi langsung situs-situs peninggalan budaya dari Kerajaan Galuh pada zaman Ciung Wanara. Di sana terdapat sembilan situs, diantaranya Pangcalikan, Tempat Sabung Ayam, Sanghyang Bedil, Cikahuripan, Lambang Peribadatan, Panyandaan, Pamangkonan, Makam Adipati Panaekan, dan Patimuan.*** (Teks & Foto: KELANA/Iwan)

Sumber: https://www.majalahkelana.id

BPNB Jabar Gelar Jejak Tradisi Daerah Ciamis

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat menggelar kegiatan “Jejak Tradisi Daerah 2018” ke wilayah Kabupaten Ciamis. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 26 – 28 April 2018.

Jetrada 2018 tersebut diikuti sebanyak 150 peserta yang terdiri dari siswa tingkat SMA/SMK-sederajat dan para guru pembimbing. Mereka mewakili sekolah-sekolah yang berada di empat wilayah kerja BPNB Jabar, meliputi Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung.

Rombongan pun dilepas secara resmi Kepala BPNB Jabar, Jumhari di Kantor BPNB Jabar, Jalan Cinambo No. 136, Ujungberung, Bandung. Setelah melepas rombongan, Jumhari tak ikut serta dalam perjalanan Jetrada kali ini karena harus menghadiri lokakarya di Kota Bandung.

Dalam sambutannya, Jumhari hanya berpesan dan berharap kepada para peserta Jetrada untuk mengikuti semua kegiatan secara tertib. “Saya juga berharap agar kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada halangan dan semua peserta berada dalam keadaan yang sehat semua sampai kegiatan beres,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Jetrada Ciamis, Irvan Setiawan menyebutkan, kegiatan kali ini akan berkunjung ke empat lokasi, yakni daerah Sukamantri yang memiliki tradisi seni Bebegig dan kesenian Gembyung, Kampung Angklung, Situs Karang Kamulyan dan sentra kuliner khas Galendo.

“Dari tiga objek budaya tersebut, kami utamakan seni tradisi Bebegig untuk diperkenalkan kepada para siswa karena seni ini sekarang sedang didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda Nasional yang dimiliki Ciamis dan Jawa Barat,” terang Irvan di sela-sela keberangkatan rombongan.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, peserta pun tiba di Kantor Kecamatan Sukamantri. Di sana mereka disambut dan diarak Bebegig serta alunan kesenian Gembyung menuju ke balai desa. Dari situ peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan observasi dan penelitian seni Bebegig dan Gembyung dari mulai sejarah, pembuatan, dan penampilan kesenian tersebut.

Malam harinya, bertempat di Hotel Tiara, Ciamis, peserta mengikuti seminar panel mengenai pengenalan BPNB Jabar, potensi daerah dan budaya Ciamis. Dengan pemateri diantaranya Agus Setiabudi S.Ip Kasubag TU BPNB Jawa Barat, Kabid Kebudayaan Disbudpora Kab. Ciamis, Dede Hermawan, serta Miming Mujamil selaku Kasi kebudayaan Disbudpora Kab Ciamis.

Selanjutnya pada hari kedua diisi dengan kegiatan mengunjungi sentra kuliner khas Ciamis yaitu Galendo di Jl. Kapten Harsono Sudiro No. 60, Dusun Cilame, Desa Cigembor, Kab. Ciamis. Para peserta diajak melihat secara langsung pembuatan galendo yang berbahan dasar kelapa tersebut.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Kampung Angklung di Desa Panyingkiran, Kab. Ciamis. Di sana peserta belajar membuat dan memainkan angklung. Setelah kembali ke hotel, peserta pun menyiapkan aksi pentas seni berkelompok pada malam harinya.

Di hari terakhir, rombongan berkunjung ke Situs Budaya Karang Kamulyan (Ciung Wanara). Di lokasi seluas 25 Ha tersebut, peserta berkelilingi untuk mengenal dan observasi langsung situs-situs peninggalan budaya dari Kerajaan Galuh pada zaman Ciung Wanara. Di sana terdapat sembilan situs, diantaranya Pangcalikan, Tempat Sabung Ayam, Sanghyang Bedil, Cikahuripan, Lambang Peribadatan, Panyandaan, Pamangkonan, Makam Adipati Panaekan, dan Patimuan.*** (IWN)

Sumber: http://destinasianews.com

Sejarah Maritim

oleh Dr. Mumuh Muhsin Z, M.Hum. (Sejarah UNPAD)

(Makalah pada Kegiatan Pembekalan Teknis Penelitian yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 23 Februari 2015 bertempat di aula Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung Jalan Cinambo No. 136 Ujungberung Bandung.

Pengantar
Terdapat dua istilah yang digunakan untuk melabeli sebuah negara dilihat dari kondisi geografisnya. Pertama adalah negara pesisir atau maritim; kedua adalah negara pedalaman atau agraris. Indonesia termasuk negara maritim karena dilihat dari konstruksi kewilayahannya, yang terdiri dari 17.000 buah pulau dan garis pantai sepanjang sekira 81.000 km. Selain dari faktor geografis, dari faktor historis pun sejarah Indonesia identik dengan sejarah maritim.

Kondisi Indonesia seperti itu sangat ironis jika dilihat realitas lainnya yang sama sekali sangat berlawanan secara diametral dengan karakter kemaritiman. Atau, dengan kata lain, realitas yang ada tidak berkorelasi positif dengan sifat-sifat kemaritiman. Misalnya saja, contoh sederhana: produktivitas ikan laut, prosentase penduduk sebagai konsumen ikan laut, identifikasi masyarakat nelayan sebagai masyarakat miskin. Belum lagi bila ditunjukkan contoh-contoh lain yang lebih serius. Tidak sampai di situ, “pengasingan” terhadap dunia kelautan pun ternyata dilakukan oleh ilmu sejarah.

Ketika kajian sejarah sudah mulai melepaskan diri dari hal-hal yang bersifat konvensional pun dan beralih ke kajian sejarah melalui pendekatan ilmu-ilmu sosial, tetap saja belum banyak mengubah nasib sejarah maritime. Tema sejarah ini belum banyak dihampiri sejarawan. Beberapa sejarawan yang punya perhatian besar terhadap sejarah maritime adalah, hanya menyebut beberapa: F.A Sutjipto, A.B. Lapian, Susanto Zuhdi, Gusti Asnan, Singgih Tri Sulistiyono, E.L.Poelinggomang, dan sebagainya.

Secara kelembagaan, saya kira, baru Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro yang secara serius mengembangkan penelitiannya ke arah sejarah maritim. Program Studi Sejarah Universitas Padjadjaran hampir belum memberi perhatian terhadap sejarah maritim.

Arti Penting Sejarah Maritim
Pentingnya penghampiran terhadap sejarah maritim sesungguhnya bukan sekedar persoalan “keadilan historiografi”, tapi lebih daripada itu. Indonesia sekarang lebih memosisikan diri sebagai negara agraris. Diversifikasi makanan pun lebih berorientasi pada makanan agraris. Aktivitas perekonomian dan komoditas perekonomian pun lebih mengandalkan darat daripada laut. Padahal luasan wilayah Negara Republik Indonesia itu hampir dua per tiganya adalah lautan.

Realitas lain menunjukkan gejala kritis dalam berbagai hal. Misalnya saja berkurangnya luasan lahan sawah akibat dari perubahan fungsi lahan tanah. Hal ini berimplikasi banyak, salah satunya adalah potensi krisis pangan. Perbandingan ketersediaan lapangan kerja dengan jumlah pencari kerja yang tidak seimbang. Hal ini berimplikasi pada terus meningkatnya angka pengangguran yang selanjutnya berpengaruh pada peningkatan angka kriminalitas. Selain itu, potensi terjadinya disintegrasi bangsa selalu menghantaui negeri ini.

Oleh karena itu, salah satu solusi mengatasi berbagai persoalan bangsa adalah memberi perhatian yang wajar dan proporsional terhadap sektor maritim. Bahkan ada yang mengusulkan agar Indonesia menjadi negara maritim, bukan negara agraris lagi.

Bila hal itu disepakati maka untuk membangun negara bahari diperlukan landasan budaya dan nilai bahari yang kuat. Untuk membangun “Indonesia Baru” sebagai negara bahari peran sejarah maritim sangat penting. Melalui pengkajian terhadap sejarah maritim diharapkan terjadi penanaman nilai-nilai budaya bahari dan memperkuat integrasi bangsa. Dikaitkan dengan kepentingan praktis, sejarah maritim dapat mengungkap setidaknya dua persoalan. Pertama seberapa jauh nilai-nilai integrasi bangsa ditanamkan dalam jiwa segenap generasi muda bangsa Indonesia. Kedua adalah sosialisasi dan enkulturasi nilai-nilai budaya bahari kepada segenap anak bangsa.

Urgensitas Sejarah Maritim
Sekait dengan arti pentingnya sejarah maritim, maka kehadiran jenis sejarah ini jadi makin mendesak dengan beberapa pertimbangan (Sulistyo, 2009). Pertama, secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Kawasan yang demikian luas ini dihuni oleh berbagai kelompok etnis yang selama berabad-abad telah menggunakan laut sebagai wahana untuk saling berkomunikasi. Sejarah maritim akan menjadi wahana untuk membangkitkan kesadaran mengenai proses-proses historis yang telah mengantarkan terbentuknya apa yang kemudian disebut sebagai nasion Indonesia.

Kedua, sejarah maritim sangat cocok untuk dijadikan medium sosialisasi dan enkulturasi nilai-nilai budaya bahari sebagai landasan untuk membangun negara bahari di masa yang akan datang.

Ketiga, secara substansial sejarah maritim akan mampu menyediakan wacana yang luas mengenai kemunikasi lintas budaya antara satu komunitas dengan komunitas yang lain yang menjadi dasar bagi proses integrasi di kalangan masyarakat Indonesia. Melalui laut terjadilah komunikasi lintas budaya lewat pelayaran dan perdagangan. Kondisi kebaharian pun mengandung dinamika yang menciptakan kesatuan, hubungan antar manusia dan antar bangsa lewat transportasi, perdagangan, dan pertemuan budaya. Semua ini dapat memperkokoh integrasi bangsa di masa mendatang sebagai negara bahari.

Keempat, penanaman civic education diajarkan melalui sosio-kultural dalam menanamkan nilai-nilai integrasi bangsa.

Historiografi dan pembelajaran sejarah seringkali menciptakan dan memperkuat ingatan kolektif mengenai pengalaman masa lampau yang mudah dibangkitkan kembali jika terjadi persoalan-persoalan aktual yang terjadi.

Substansi, Metode, dan Pendekatan
Baik secara historis maupun geografis, Indonesia merupakan negara bahari, maka unsur kalautan menjadi bagian yang inheren dalam sejarah Indonesia. Unsur paling penting sebagai substansi sejarah maritim adalah keseimbangan antara unsur ekspansi (perkembangan) dan integrasi dalam setiap fenomena dan proses historis.

Segi ekspansi banyak menyangkut soal perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh suatu komunitas tertentu baik sebagai kesatuan geografis maupun kesatuan politis. Aspek perkembangan dan kemajuan itu mengacu ke “muncul, berkembang, dan runtuhnya” kesatuan-kesatuan politik yang menyebar di wilayah kepulauan Indonesia. Integrasi mengacu pada proses pembentukan jaringan yang merefleksikan interrelasi di antara unsur-unsur sosial dalam masyarakat atau interkomunikasi lintas budaya masyarakat Indonesia. Dalam hubungan ini perlu dikaji rute perdagangan dan hubungan antarpusat-pusat perdagangan (pasar), arah perdagangan, komoditas yang diperdagangkan, dan sebagainya yang semua itu dapat menggambarkan sebuah jaringan; sedangkan jaringan sendiri merupakan faktor mendasar dari proses integrasi. Dengan demikian jaringan ini melibatkan pusat-pusat perdagangan (kota-kota pelabuhan) yang merupakan titik-titik simpul jaringan perdagangan maritim. Skala besaran atau luasan jaringan perdagangan sangat bervariasi, bergantung pada mobilitas barang, modal, dan tenaga kerja di antara daerah dan pelabuhan (Sulistyo, 2009).

Metode yang digunakan untuk meneliti sejarah maritim adalah metode sejarah dengan empat tahapan kerjanya. Keempat tahapan itu meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.

Adapun pendekatan yang bisa digunakan untuk meneliti sejarah maritim setidaknya ada tiga, yaitu ekonomi, politik, dan antropologi. Untuk meneliti sejarah maritim sangat diperlukan data kuantitatif. Oleh karena itu, sejarah maritim dalam banyak hal identik dengan sejarah perdagangan atau sejarah ekonomi. Terdapat kecenderungan kuat kota pelabuhan menjadi ibu kota kerajaan. Oleh karena itu, aktivitas perekonomian di pelabuhan sangat berkait erat dengan situasi dan kondisi politik. Kota pelabuhan identik dengan heterogenitas sosial, budaya, agama. Di situ pun ada kedinamisan dan keterbukaan. Oleh karena itu pendekatan antropologis sangat diperlukan.

Simpulan
Provinsi Jawa Barat sering mengidentifikasi diri sebagai wilayah pedalaman, mungkin, hanya karena letak ibu kotanya di pedalaman. Padahal Jawa Barat mempunyai dua wilayah pantai, utara dan selatan. Wilayah Pantai Utara meliputi Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon. Wilayah Pantai Selatan meliputi Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran. Ini kondisi sekarang. Secara historis, Batavia dan Banten pun merupakan dua pelabuhan besar yang berada di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Hingga sekarang potensi wilayah pantai yang ada di Jawa Barat, terutama pantai selatan, belum diaktualkan. Padahal potensi ekonominya demikian besar. Guna mengoptimalkan peran wilayah-wilayah pantai itu perlu dilakukan penelitian historisnya. Masih sangat banyak lingkup spasial wilayah pantai yang belum tersentuh oleh sejarawan. Sekarang adalah saatnya untuk dilakukan.

Sumber
Sulistiyono, Singgih Tri. 2009.

“Historiografi Maritim Indonesia; Prospeknya dan Tantangan”, Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Musyawarah Wilayah II DIY – Jateng; diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta di Yogyakarta, 8 Mei.

Sulistiyono, Singgih Tri. 2015.

”Sumber Daya Pangan Bahari dalam Perpektif Sejarah”, dalam ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/article/view/3674 (diakses 21 Februari 2015).

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Candra Naya, Keunikan sebuah Cagar budaya Di Jakarta

Hidup manusia bukan komedi suka dan duka
Tetapi suka dan duka menjalin suatu pelangi kehidupan

Sebuah nasehat yang sarat dengan makna tentang perjalanan kehidupan di atas tertulis di salah satu ruang dalam Situs cagar budaya Candra Naya di jalan Gajahmada Jakarta Barat. Situs Cagar budaya tersebut tepat berada di antara gedung Hotel Novotel dan ICBC. Sementara di belakangnya berdiri menjulang Superblock Grand Central City. Sebuah keunikan tersendiri mengingat jalan Gajah mada Jakarta dipenuhi oleh bangunan bertingkat dengan aktivitas perdagangan dan perkantoran yang sangat sibuk. Tengok ILTC yang berlokasi di depan Hotel Novotel merupakan salah satu referensi pusat perdagangan elektronik yang cukup diperhitungkan tidak hanya bagi warga jakarta dan sekitarnya tetapi juga warga atau konsumen di luar Jakarta. Siapa sangka sebuah cagar budaya berada terselip di tengah-tengah busines centre di Jakarta.

Situs Cagar budaya Candra Naya dibangun tahun 1807 oleh Khouw Tian Sek (Khouw Teng Sek). Sumber dari Wikipedia menyebutkan bahwa Situs Cagar budaya Candra Naya merupakan bekas kediaman Khouw Kim An, seorang mayor tionghoa terakhir di Batavia.

Sementara itu, sumber dari National Geographic mengatakan bahwa Bangunan bersejarah yang awalnya bernama Landhuis Kroekoet ini hingga tahun 1992 masih digunakan sebagai gedung sekolah dan mulai dipugar tahun 1993. Saat ini, berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Klenteng Candra Naya telah dijadikan sebagai salah satu cagar budaya milik Provinsi DKI Jakarta.

Lalu apa keunikan lainnya? Tidak hanya lokasinya yang diapit oleh gedung bertingkat, keunikan lainnya bahwa bangunan di samping Situs cagar budaya digunakan untuk membuka kedai kopi Oey.

Jangan dilihat dari namanya yang terkesan berbau mandarin sehinga mengarahkan kita pada menu-menu yang melulu berasal dari negara tirai bambu. Cukup banyak variasi menu mengundang selera yang sama sekali bukan berasal dari negara tirai bambu, contohnya menu prata kari ajam dan Spagheti Toena Pedas.

Mungkin supaya menarik pengunjung untuk mendatangi salah satu destinasi wisata budaya di DKI Jakarta atau memang sebagai bagian dari tradisi tionghoa, banyak pernak pernik bernuansa merah dan kuning yang menghiasi seluruh bangunan Situs Cagar budaya sehingga memberi keunikan tersendiri. Selain itu, aroma bangunan bersejarah juga dapat dilihat dari dua buah foto Khouw Kim An, nasehat-nasehat di salah satu sisi gedung dan boneka naga yang bergantungan di bagian dalam gedung. Bagian yang lebih dalam lagi terdapat sebuah kolam yang dikelilingi patung-patung kodok yang sedang menggigit koin bertuliskan huruf mandarin. Dan, sebagaimana layaknya sebuah Situs Cagar budaya Tionghoa, sebuah Patung Budha dan Dewi Kwan In juga terpajang di salah satu ruangan Situs.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar

Popular Posts