WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Festival Seni Multatuli Wujud Lestarikan Seni Tradisional

Lebak - Festival Seni Multatuli bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung merupakan upaya mewujudkan pelestarian seni tradisional yang berkembang di masyarakat Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

"Pelestarian seni tradisional itu agar tidak terancam punah," kata Kepala BPNB Bandung Wilayah Kerja Empat Provinsi Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta dan Lampung Jumhari di Lebak, Jumat.

Kegiatan Festival Seni Multatuli dengan menggelar pertunjukan seni tradisional bertempat di Alun-alun Multatuli Rangkasbitung.

Mereka peserta permainan seni tradisional itu dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Lebak.

Kesenian tradisional itu umumnya ditampilkan oleh masyarakat saat perayaan panen, pengembangan siar agama Islam dan perayaan pernikahan.

Namun, keberadaan seni tradisional tersebut terancam punah sehubungan berkembangnya teknologi.

Masyarakat Kabupaten Lebak, Provinsi Banten tak pernah kembali menampilkan seni tradisional itu.

"Kami berharap pelestarian seni tradisional itu bisa dikembangkan lagi oleh masyarakat," katanya menjelaskan.

Menurut Jumhari, seni tradisional yang berkembang di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten antara lain seni beluk sama (seni tari dan suara), seni pokplod (seni angklung buhun dan gendang panjang), seni kromong (seni gamelan Badui).

Begitu pula seni gegendeh (mukul lesung),seni rengkong dan wayang golek.

Mereka permainan seni tradisional itu dimainkan lima sampai 30 orang.

"Kami mengapresiasi pertunjukan seni tradisional yang digelar di Alun-alun Multatuli itu dipadati penonton," katanya.

Sahri (55), seorang seniman Kabupaten Lebak mengaku dirinya menyambut positif adanya pertunjukan seni tradisional yang digelar pada kegiatan Festival Seni Multatuli.

Selama ini, dirinya mengapresiasi seni gegendeh dari Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak hingga kini masih berkembang di masyarakat.

Umumnya, kata dia, permainan gegendeh itu ditampilkan saat perayaan pernikahan.

"Kami berharap pemerintah daerah terus melestarikan seni tradisional itu agar tidak terjadi kepunahan,"katanya. (Mansyur)

Sumber: https://banten.antaranews.com

Arsitektur Masjid Merah Panjunan Kota Cirebon

Oleh Hermana

Abstrak
Perkembangan ajaran agama ditandai dengan adanya pembangunan tempat peribatannya. Cirebon yang terkenal dengan sebutan “kota wali” merupakan salah satu tongggak berkembangnya ajaran Islam di pantai utara wilayah Kerajaan Pajajaran. Pembangunan Masjid Merah yang diprakasai oleh Syekh Syarif Abdurrahman dibangun pada tahun 1480 Masehi. Bangunan Masjid Merah tidak terlepas dari seni arsitektur dengan segala ornamennya berbentuk piring porselin yang dipasang di dinding tembok dan juga terbuat dari susunan bata merah sehingga mesjid ini dinamakan Masjid Merah, serta didukung oleh tiga unsur kebudayaan besar. Saat ini Masjid Merah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Pemerintah Kota Cirebon. Sebagai benda cagar budaya perlu adanya pemeliharaan berkesinambungan yang diharapkan dapat dijadikan sebagai objek wisata sejarah dan budaya atau sebagai pembelajaran bagi generasi muda untuk menghormati karya leluhurnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan data dan informasi di bidang kebudayaaan mengenai seni arsitektur Masjid Merah Panjunan di Cirebon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif.

Abstract
The development of religion is characterized by the construction of its place of worship. Cirebon which is known as the "city of wali" is a milestone in the development of Islam in the north coast area of the Kingdom of Pajajaran. The construction of Masjid Merah (the Red Mosque) was initiated by Syekh Syarif Abdurrahman in 1480 CE. The mosque was made of red bricks and has plates mounted on the walls as its ornament depicting harmony of three cultures which make it considered cultural heritage by local government. As the object of cultural heritage the mosque needs to be conserved for the benefit of historical and cultural tourism attraction or as learning experience for younger generation in respecting the work of their predecessors. This study aims to giving data and information in cultural area, especially architecture of the Red Mosque of Panjunan in Cirebon. The author conducts a descriptive-analytical method, and datat are obtained through primary and secondary sources.

Keywords: arsitektur, Masjid Merah, architecture, the Red Mosque.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 4, No 2, Juni 2012

Makanan Tradisional di Kabupaten Ciamis

Oleh Aam Masduki

Abstrak
Makanan merupakan kebutuhan yang esensial bagi manusia. Keberadaan makanan tersebut dibutuhkan sebagai sumber energi dan zat tertentu untuk mengatur proses metabolisme. Eksistensi makanan dalam kehidupan masyarakat tidak terbatas hanya untuk memenuhi kepentingan tersebut. Ada nilai sosial atau makna lainnya yang tersirat di balik rasa, warna, dan bentuk suatu makanan. Wujud akhir dari proses tersebut adalah terciptanya jenis dan bentuk makanan berikut peruntukannya, seperti makanan untuk upacara adat atau kenduri, makanan untuk persembahan kepada entitas supranatural, dan makanan dibuat pada saat-saat tertentu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendokumentasikan jenis-jenis makanan yang ada di kabupaten Ciamis. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi dengan pendekatan kualitatif melalui pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Respon kebudayaan terhadap kebutuhan dasar berupa makan akan beragam, mengingat beranekanya kebudayaan yang dimiliki manusia. Tidaklah heran jika budaya masyarakat Indonesia di seputar makan pun akan berbeda antara suku bangsa yang satu dan lainnya. Perbedaan pun terjadi pada suku bangsa yang sama, namun menempati lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan transenden yang berlainan. Dengan demikian perihal makan ini ada di bawah kendali kebudayaan. Beberapa respon kebudayaan di seputar kebutuhan dasar berupa makan di antaranya perilaku makan, cara mendapatkan, mengolah dan membuat makanan, dan makanan sendiri sebagai hasil dari proses.

Abstract
Food is an essential need to human being. It serves energy resources for our body as well as social values reflecting in many kinds of food for different kind of events and situations. This is a cultural respond to the need for food. Every ethnic groups in Indonesia has their own eating habit. It is interesting to know that natural and social environments can affect the habit, even in the same ethnic group. Therefore, culture controls food. It is reflected in eating behaviour, how to get and process food, and the food itself.

Keywords: makanan, khas, Ciamis, food, specialty, Ciamis.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 4, No 2, Juni 2012

Kerak Telor

Hidangan ringan ini identik dengan Pekan Raya Jakarta karena selalu hadir setiap tahun dalam pesta masyarakat Jakarta tersebut. Kerak Telor banyak juga terdapat di selatan dan timur Jakarta. Hidangan ini sering pula disajikan pada saat-saat tertentu yang berhubungan dengan kebudayaan Betawi seperti festival kebudayaan maupun upacara adat Betawi. Bahan yang disediakan adalah beras ketan putih, cabe merah, kencur, jahe, garam, merica bubuk, kelapa muda parut, telur ayam/telur bebek, ebi, dan bawang merah goreng secukupnya. Cara membuatnya beras ketan ditiris dan bumu cabe merah, kencur, jahe, garam dan merica dihaluskan. Campuran tersebut lalu ditumis dengan minyak goreng. Selanjutnya ditambahkan kelapa parut, dan diaduk hingga mengering. Minyak diolesi pada wajan, satu bagian beras lalu diletakkan dan ditekan. wajan ditutup, dan beras dimasak hingga matang. Telur kocok dituangkan bersama dengan kelapa berbumbu, ebi dan bawang goreng lalu diratakan. Wajan ditutup lalu dimasak hingga matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Roti Buaya

Roti buaya merupakan salah satu hidangan ringan yang wajib ada dalam setiap keriaan yang dibuat masyarakat Betawi. Pada acara pernikahan, roti ini disajikan sebagai salah satu hantaran pada prosesi melamar. Roti Buaya melambangkan kesetiaan seperti buaya yang selama hidupnya selalu setia dengan pasangannya. Selain itu, roti ini adalah lambang kesabaran, karena buaya selalu sabar dalam mengintai dan menunggu mangsanya. Bahan yang disediakan kuning telur, air hangat, mentega, tepung terigu, ragi instan, dan gula pasir. Adapun cara membuatnya adalah tepung terigu, ragi, gula, garam, mentega dan kuning telur dicampur. Adonan dibulatkan dan didiamkan hingga mengembang. Adonan lalu dikempiskan, masing-masing dibagi menjadi beberapa bagian dan dibiarkan hingga mengembang. Isi roti meisis atau keju lalu ditambahkan dalam roti yang memanjang serupa tubuh buaya. Bagian badannya lalu digunting berbentuk runcing. Roti kemudian dipanggang sampai matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Popular Posts