WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Patanjala Volume 1, No. 3 September 2009

Sejarah Uang Republik Indonesia Banten (Uridab) (1945-1949)

Lasmiyati

Abstrak
Setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, di Serang Banten terdapat dua peristiwa penting, yaitu revolusi sosial dan tempat pencetakan uang daerah untuk Banten. Tahun 1947, di Serang, tentara Belanda di bawah naungan Pasukan Sekutu melakukan blokade darat dan laut. Pemerintahan di Serang pun putus komunikasi dengan Pemerintah RI yang berada di Yogyakarta. Agar perekonomian di Serang tetap berjalan, pemerintah pusat mengizinkan daerah Banten untuk mencetak uang daerah sendiri bernama Uang Republik Indonesia Daerah Banten (URIDAB). Menjadi pertanyaan tersendiri mengapa Serang Banten dipercaya oleh pemeritah pusat untuk mencetak uang dan mengapa pasukan Belanda melakukan blokade ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengapa Serang Banten dipercaya oleh pemerintah pusat untuk mencetak uang sendiri, adakah hubungannya antara URIDAB dan revolusi sosial. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Melalui hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa pencetakan uang daerah di Banten diawali dengan perpindahan ibu kota RI dari Jakarta ke Yogyakarta. Belanda yang datang ke Indonesia dengan cara membonceng NICA melakukan kekacauan, penyerangan, dan memblokade ekonomi. Daerah-daerah yang lokasinya jauh dengan ibu kota RI sangat kesulitan berkomunikasi, sehingga pemerintah pusat yang berkedudukan di Yogyakarta memberikan wewenang kepada Residen Banten Achmad Chatib untuk mencetak mata uang sendiri dengan nama URIDAB kepanjangan dari Uang Republik Indonesia Daerah Banten.

Abstract
There were two important things that happened in Serang (Banten) after the Indonesian independence was proclaimed on August 17, 1945: social revolution, and printing of money for Banten. In 1947 the Dutch army under the protection of the Allies blockaded either land and sea, cutting off communications between central (Yogyakarta) and regional (Serang) government. The central government in Yogyakarta gave permission to Serang to print money so that economic activity could still be running. The money was called URIDAB (Uang Republik Indonesia Daerah Banten, or the money of the Republic of Indonesia in Banten). The research questions are why central government gave permission to Banten to print money and why the Dutch army blockaded the economy. To answer these questions the author conducted histoy methods: heuristic, critique, interpretation, and historiography. Research finds that when the capital of Indonesia moved from Jakarta to Yogyakarta during the Dutch military aggression, communications were cut off and it was difficult for central government in Yogyakarta to make contact to regional governments. Therefore, the central government authorized the Resident of Banten, Achmad Chatib, to print its own money.

Keywords: sejarah, uang daerah Banten, history, the money of Banten.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 4, No 3, September 2012

Batik Ciamisan di Imbanagara Kabupaten Ciamis (Sebuah Kajian Nilai Budaya)

Lina Herlinawati

Abstrak
Perkembangan industri tekstil yang semakin maju mengakibatkan keberadaan batik tradisional kini mulai surut, termasuk yang dialami batik tulis Ciamisan. Kerajinan tersebut merupakan aset kerajinan tradisional yang perlu dipertahankan agar tidak punah. Untuk itu dilakukan upaya pelestarian dengan melakukan penelitian perihal kajian nilai budaya pada batik tulis Ciamisan tersebut di Dusun Ciwahangan Kecamatan Imbanagara Kabupaten Ciamis, sebagai satu-satunya daerah yang masih terdapat aktivitas kerajinan batik tulis Ciamisan. Penelitian tersebut bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, dengan cara mempelajari arsip-arsip literatur yang menunjang pelaksanaan penelitian. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan, wawancara, dan pemotretan di daerah objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perjalanan keberadaan batik tulis Ciamisan dari awal perkembangannya hingga kini dapat dikatakan, corak batik tulis Ciamisan tidak memiliki makna filosofi perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Namun penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang, sinjang ‘kain’ bagi masyarakat. Nilai filosofi kesederhanaannya itu terlihat dalam bentuk-bentuk motif yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari. Selanjutnya teknik membuat batik berkembang, tidak hanya batik tulis saja, muncul batik cap, batik sablon, batik painting/lukis, dan batik printing. Demikian pula dengan motif batiknya, para perajin tidak hanya menghidupkan kembali motif-motif lama batik Ciamisan, juga meluncurkan motif baru hasil inovasi.

Abstract
The progress in the development of textile industry has made batik tulis or traditional batik (hand-drawn batik) less popular, including batik Ciamisan. This kind of craftsmanship actually must be preserved. Therefore, in order to do that the author conducted a research on cultural values of batik tulis Ciamisan which took place in Dusun (village) Ciwahangan, Kecamatan (district) Imbanagara, Kabupaten (regency) Ciamis. This is a descriptive analytical study with qualitative approach. Data were collected either primarily (by observation, interviews, and taking photographs) or secondarily (bibliographic studies). The result shows that motifs of batik Ciamisan do not have symbolic nor sacred values. They do not reflect certain social status as well. Even since its very beginning until its development today. The creation of motifs is simply stressed on fulfilling the need of cloth for apparel (sinjang) with simple designs inspired from the mother nature and everyday life. The technique varies from traditional (batik tulis), stamping (batik cap), painting and printing. The craftsmen also have innovated new motifs.

Keywords: batik tulis, Ciamisan, kesederhanaan, batik tulis, Ciamisan, simplicity

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 4, No 3, September 2012

Pameran Produk BPNB Jawa Barat, Lebak 2018 (4)












Popular Posts