WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Penayangan Film dan Diskusi Nilai Budaya, Sukabumi 2019 (2)

Pindang Gunung Ayam Kampung ala Desa Sukamulya Pangandaran, Rasa Asam Gurih yang Bikin Nagih


Pangandaran dikenal dengan wisata pantainya yang eksotis. Tak hanya itu, sajian kuliner laut (seafood) dan berbagai olahan ikannya juga tak kalah menarik untuk dicoba, salah satunya ada pindang gunung.

Pindang gunung merupakan kuliner khas Pangandaran yang dibuat penduduk dari resep yang telah diwariskan secara turun temurun.

Jika mendengar kata ‘pindang’ yang terlintas pada masyarakat pada umumnya adalah jenis sajian ikan yang diawetkan. Ternyata, berbeda dengan pindang gunung Pangandaran.

Titan Firman, pamong budaya Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat yang kerap mengunjungi berbagai daerah mengungkapkan, menariknya dari kuliner ini ternyata berupa kuah sejenis sop.

Pindang gunung ini memiliki cita rasa asam, gurih dan segar dengan kuah yang tidak begitu kental biasa disajikan dengan nasi. Bagi penggemar pedas, bisa menambahkan cabe rawit sebagai penambah rasa.

Sementara kata ‘gunung’ dalam penamaan kuliner ini, menuruntya, karena bumbu dan rempah yang digunakan sebagian besar berasal dari daerah pegunungan.

Bagi masyarakat pesisir, mereka biasanya menggunakan ikan hasil tangkapan laut seperti ikan kakap, kerapu dan tongkol sebagai bahan pokok sop ini.

Namun lain lagi dengan pindang gunung ala Desa Sukamulya. Pindang gunung di desa ini menggunakan daging (ayam,sapi atau kambing) sebagai bahan utama sop.

Sari salah satu warga Desa Sukamulya menuturkan, pindang gunung ala desa ini bisa juga berbahan dasar sayuran dari seperti pucuk kelapa (humbut kelapa), tangkal taleus (pohon talas), jamur dan batang pohon pisang kole bagian dalam.

Meskipun memiliki keragaman dalam hal bahan utama, namun untuk bumbu rempah pindang gunung tidak ada perbedaan. Misalnya, masih menggunakan buah honje atau kecombrang dan daun kedongdong sebagai cita rasa khas pindang gunung.

Lebih lanjut Sari menambahkan, perbedaan pindang gunung justru terletak pada proses pengolahannya. Jika menggunakan bahan dasar daging, tentu perlu direbus lebih lama agar daging lebih empuk.

Selanjutnya pada rebusan kedua, untuk menghilangkan bau amis dagingnya ditambahkan salam, sereh, lengkuas. Beda lagi dengan pengolahan pindang gunung berbahan dasar sayuran, di sini lengkuas tidak digunakan.

Menariknya lagi, di Sukamulya perangkat masak yang digunakan dalam membuat pindang gunung masih mempertahankan teknologi tradisional, yaitu hawu dan wajan berbahan dasar tanah liat.

Menurut Sari, penggunaan tungku tradisional (hawu) dengan kayu bakar memberikan aroma yang khas pada pindang gunung. Selain itu wajan berbahan dasar tanah liat juga mampu memberikan cita rasa yang unik.

Di kesempatan yang sama, Dede Arief, penggiat budaya dari Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi, menjelaskan bahwa keragamaan bahan dasar pindang gunung, salah satunya disebabkan karena perbedaan alam tempat dimana masyarakat tinggal.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir, menggunakan ikan laut sebagai bahan utama lantaran bahan tersebut mudah ditemukan.

Lain halnya dengan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, dan biasa berprofesi sebagai petani. Mereka memanfaatkan tumbuhan yang ditemukan di hutan (seperti pisang kole) sebagai bahan dasar pindang gunung.

Lebih jauh masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, selain mengelola lahan pertanian, mereka juga biasa memelihara ayam, kambing dan sapi. Sumber-sumber protein tersebut mereka manfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat pindang gunung.

Cita rasa gurih, asam dan segar dari pindang gunung serta keragaman jenisnya, menjadi salah satu kekayaan masyarakat Pangandaran. Sudah sepatutnya jika warisan budaya tak benda ini terus dilestarikan.***

Sumber:
https://cianjurpedia.pikiran-rakyat.com/wisata-budaya/pr-1032488490/pindang-gunung-ayam-kampung-ala-desa-sukamulya-pangandaran-rasa-asam-gurih-yang-bikin-nagih?page=3

Mengenal Iket Sunda Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asal Jawa Barat, Presiden Jokowi Pernah Memakainya

Baju adat suku Baduy yang dikenakan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPD dan DPR RI untuk menyampaikan Pidato Kenegaraan pada Senin, 16 Agustus 2021, menjadi sorotan publik.

Selain pakaian adat suku Baduy, salah satu yang menarik perhatian lainnya adalah penutup kepala berwarna biru tua dan hitam dengan motif batik yang digunakan Presiden.

Penutup kepala yang biasa disebut dengan "iket" dalam bahasa Sunda ini ternyata banyak jenisnya dan memiliki makna.

Pada zaman dahulu iket atau totopong mencerminkan kelas dalam lingkungan masyarakat, hingga tampak jelas perbedaan kedudukan seseorang (pria) dalam kehidupan sehari-hari.


Biasanya pemakaian iket berkaitan dengan kegiatan sehari-hari atau perhelatan resmi seperti upacara adat dan masyarakat adat.

Dilansir dari instagram Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, bagi orang Sunda, iket bukan hanya sekadar secarik kain (saceundeung kaen) yang digunakan di kepala. Makna iket jauh lebih besar dari hanya sekadar pelindung atau menandakan status sosial.

Akan tetapi, iket dibentuk dari kain berbentuk segiempat yang memiliki empat sudut. Keempat sudut itu memiliki makna sebagai kereteg hate (kereteg= perasaan atau suara yang timbul dengan sendirinya, hate=hati, kereteg hate diartikan sebagai niat), ucap (lisan), tingkah (sikap), dan raga (badan).

Kemudian, kain dilipat dua membentuk segitiga sama kaki dengan tiga sudut. Tiga sudut tersebut mencerminkan kesetaraan dalam hidup kemasyarakatan (tritunggal).

Iket sunda memiliki macam-macam model. Model iket terus berkembang seiring dengan berkembangnya inovasi dan kreativitas masyarakat Sunda.

Kini, selain iket buhun dikenal juga model iket kiwari dengan konsep modern yang lebih praktis. Nama dari iket kiwari pun sesuai rekaan dengan pembuatnya misalnya iket candra sumirat, iket maung leumpang, iket praktis mancala putra, dan masih banyak lagi.

Beberapa model iket lain di antaranya ada barangbang semplak, parekos jengkol, tutup liwet, parekos nangka, porteng dan kole yangsang.

Bagi orang Sunda, harus bangga memiliki warisan budaya yang begitu luhur ini karena iket telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal Jawa Barat pada tahun 2017, oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).***

Sumber:
https://cianjurpedia.pikiran-rakyat.com/wisata-budaya/pr-1032416063/mengenal-iket-sunda-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-asal-jawa-barat-presiden-jokowi-pernah-memakainya?page=2

Libatkan Ratusan Seniman, BPNB Jabar Gelar Festival Kesenian Secara Daring


Ratusan seniman dari 6 kabupaten di Jawa Barat terlibat dalam Festival Kesenian tahun 2021 yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat.

Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini festival dikemas dengan konsep dalam jaringan bertajuk 'Warisan Indonesia'.

Festival Kesenian di tengah pandemi Covid-19 ini menjadi upaya BPNB Provinsi Jawa Barat dalam Pelestarian Nilai Budaya sekaligus menyokong Program Desa Pemajuan Kebudayaan.

Menggandeng aktor sekaligus traveller Adhin Abdul Hakim, tayangan Festival Kesenian 2021 dapat disaksikan masyarakat luas di tayangan televisi dan platform media sosial YouTube @BPNBJabar.

Kepala BPNB Provinsi Jawa Barat, Jumhari, S.S., M. Hum menerangkan, festival tahunan ini biasanya digelar di satu lokasi menghadirkan seni dan budaya dari berbagai daerah. Namun karena pandemi Covid-19, BPNB Provinsi Jawa Barat melakukan terobosan baru dengan menggelar pertunjukan di tempat asal seniman dan pekerja budaya.

"Konsep baru ini sebagai upaya BPNB Provinsi Jawa Barat menampilkan beragam ekspresi budaya dari seniman dan pekerja budaya, konsep ini sekaligus bukti bahwa ditengah kesulitan kegiatan kebudayaan masih tetap berjalan," ungkapnya dalam rilis yang diterima galajabar, Senin 6 September 2021.

Selain itu, untuk menyokong Program Prioritas Desa Pemajuan Kebudayaan yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, seniman dan pekerja budaya yang terlibat berasal dari desa pemajuan kebudayaan.

"Platform kerja bersama membangun desa mandiri melalui peningkatan ketahanan dan kontribusi budaya desa, karena desa merupakan akar atau asal identitas budaya Indonesia dan paradigma pembangunan kebudayaan harus dimulai dari unit kebudayaan terkecil, yaitu desa," terangnya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha, BPNB Provinsi Jawa Barat Hendra Gunawan S.Kom memaparkan, produksi program 'Warisan Indonesia' dilakukan secara maraton selama satu bulan.

Tim BPNB Provinsi Jawa Barat merekam pertunjukan 46 kesenian dari 6 kabupaten di Jawa Barat yakni Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi.

"Festival tetap digelar dengan menyesuaikan aturan protokol kesehatan Covid-19. Konsep baru pada gelaran Festival Kesenian 2021, dikemas secara menarik menjadi tayangan televisi dan YouTube. Kami berharap dengan begitu dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat," kata Hendra.

Dengan konsep ini, Hendra menilai festival daring ini tidak hanya menampilkan kreasi panggung seniman dan pekerja budaya, namun juga memuat 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan, yakni tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

"Jika di satu panggung kita hanya bisa menampilkan aksi panggung seniman dan pekerja budaya, dengan tayangan ini 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan bisa sekaligus ditampilkan," sebutnya.

Sebagai contoh, lanjutnya, di Desa Sukamulya Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran tayangan 'Warisan Indonesia' menampilkan seni Ronggeng Gunung, akulturasi budaya Ebeg, tradisi lisan Kidung dan pengetahuan tradisional Pindang Gunung.

"Di lapangan kami berupaya menampilkan semua unsur 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan, tidak mudah memang namun kami ingin pesan dan target pelestarian nilai budaya berlangsung secara maksimal melalui tayangan ini, sesuai dengan apa yang menjadi tugas dan fungsi BPNB Provinsi Jawa Barat dirasakan kebermanfaatannya oleh seluruh masyarakat." tegasnya.

Ditempat sama, aktor sekaligus traveller, Adhin Abdul Hakim yang didaulat menjadi duta budaya pada program 'Warisan Indonesia' ini mengaku senang bisa mempelajari, memahami, menyaksikan, sekaligus menelusuri jejak nilai budaya yang ada di setiap lokasi yang akan di kunjungi.

Bintang iklan Google ini berharap Festival Kesenian dengan kemasan baru berupa tayangan ini dapat menggugah masyarakat khususnya generasi muda untuk senantiasa melestarikan seni dan budaya ditengah gempuran budaya dari luar melalui jejaring digital.

"Menjaga dan melestarikan nilai budaya ini kewajiban kita bersama, jangan baru ribut jika sudah diklaim negara lain." ucapnya.***

Sumber: https://galajabar.pikiran-rakyat.com/jabar/pr-1082542973/libatkan-ratusan-seniman-bpnb-jabar-gelar-festival-kesenian-secara-daring?page=3

Gandeng Adhin Abdul Hakim, BPNB Jabar Gelar Festival 2021


Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat kembali menggelar Festival Kesenian tahun 2021. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini festival dikemas dengan konsep dalam jaringan bertajuk ‘Warisan Indonesia’.

Melibatkan ratusan seniman dari 6 kabupaten di Jawa Barat, Festival Kesenian di tengah pandemi Covid-19 ini menjadi upaya BPNB Provinsi Jawa Barat dalam Pelestarian Nilai Budaya sekaligus menyokong Program Desa Pemajuan Kebudayaan.

Menggandeng aktor sekaligus traveller Adhin Abdul Hakim, tayangan Festival Kesenian 2021 dapat disaksikan masyarakat luas di tayangan televisi dan platform media sosial YouTube @BPNBJabar.

Kepala BPNB Provinsi Jawa Barat, Jumhari, S.S., M. Hum menerangkan, festival tahunan ini biasanya digelar di satu lokasi menghadirkan seni dan budaya dari berbagai daerah. Namun karena pandemi Covid-19, BPNB Provinsi Jawa Barat melakukan terobosan baru dengan menggelar pertunjukan di tempat asal seniman dan pekerja budaya.

“Konsep baru ini sebagai upaya BPNB Provinsi Jawa Barat menampilkan beragam ekspresi budaya dari seniman dan pekerja budaya, konsep ini sekaligus bukti bahwa ditengah kesulitan kegiatan kebudayaan masih tetap berjalan,” ungkapnya.

Selain itu, untuk menyokong Program Prioritas Desa Pemajuan Kebudayaan yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, seniman dan pekerja budaya yang terlibat berasal dari desa pemajuan kebudayaan.

“Platform kerja bersama membangun desa mandiri melalui peningkatan ketahanan dan kontribusi budaya desa, karena desa merupakan akar atau asal identitas budaya Indonesia dan paradigma pembangunan kebudayaan harus dimulai dari unit kebudayaan terkecil, yaitu desa,” terangnya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha, BPNB Provinsi Jawa Barat Hendra Gunawan S.Kom memaparkan, produksi program ‘Warisan Indonesia’ dilakukan secara maraton selama satu bulan. Tim BPNB Provinsi Jawa Barat merekam pertunjukan 46 kesenian dari 6 kabupaten di Jawa Barat yakni Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi.

“Festival tetap digelar dengan menyesuaikan aturan protokol kesehatan Covid-19. Konsep baru pada gelaran Festival Kesenian 2021, dikemas secara menarik menjadi tayangan televisi dan YouTube. Kami berharap dengan begitu dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” kata Hendra.

Dengan konsep ini, Hendra menilai festival daring ini tidak hanya menampilkan kreasi panggung seniman dan pekerja budaya, namun juga memuat 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan, yakni tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

“Jika di satu panggung kita hanya bisa menampilkan aksi panggung seniman dan pekerja budaya, dengan tayangan ini 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan bisa sekaligus ditampilkan,” sebutnya.

Sebagai contoh, lanjutnya, di Desa Sukamulya Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran tayangan ‘Warisan Indonesia’ menampilkan seni Ronggeng Gunung, akulturasi budaya Ebeg, tradisi lisan Kidung dan pengetahuan tradisional Pindang Gunung.

“Di lapangan kami berupaya menampilkan semua unsur 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan, tidak mudah memang namun kami ingin pesan dan target pelestarian nilai budaya berlangsung secara maksimal melalui tayangan ini, sesuai dengan apa yang menjadi tugas dan fungsi BPNB Provinsi Jawa Barat dirasakan kebermanfaatannya oleh seluruh masyarakat.” tegasnya.

Ditempat sama, aktor sekaligus traveller, Adhin Abdul Hakim yang didaulat menjadi duta budaya pada program ‘Warisan Indonesia’ ini mengaku senang bisa mempelajari, memahami, menyaksikan, sekaligus menelusuri jejak nilai budaya yang ada di setiap lokasi yang akan di kunjungi.

Bintang iklan Google ini berharap Festival Kesenian dengan kemasan baru berupa tayangan ini dapat menggugah masyarakat khususnya generasi muda untuk senantiasa melestarikan seni dan budaya ditengah gempuran budaya dari luar melalui jejaring digital.

“Menjaga dan melestarikan nilai budaya ini kewajiban kita bersama, jangan baru ribut jika sudah diklaim negara lain.” sebut Adhin.

Sumber: https://www.bandungsatu.com/gandeng-adhin-abdul-hakim-bpnb-jabar-gelar-festival-2021/

Popular Posts