WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Perlawanan Radin Intan Dan Raden Imba Terhadap Penjajahan Belanda Di Provinsi Lampung (1825-1860)

Oleh : Lasmiyati

Pendahuluan
Bila kita mengingat-ingat masa lalu mengenai bentuk pemerintahan di Indonesia sekitar abad 15-an, Indonesia masih menganut sistem kerajaan. Di wilayah Indonesia yang sekarang terdiri atas ribuan pulau tersebut, terdapat beberapa kerajaan. Misal-nya di Pulau Jawa terdapat Ke-rajaan Mataram, Kerajaan Sunda, Kerajaan Majapahit. Di Pulau Kalimantan terdapat Kerajaan Kutai, begitu pula di Pulau Sumatra, terdapat Kerajaan Jambi dan Lampung.

Pada tahun 1596, Belanda mulai datang ke Indonesia (AH. Nasution, 1973: 30). Awalnya kedatangan Belanda tersebut hanya berdagang dan pulang ke negerinya membawa rempah-rempah, kebetulan waktu itu potensi Indonesia sebagai tempat yang kaya akan rempah-rempah. Sebelum kedatangan Belanda tersebut, di Indonesia terlebih dahulu telah datang bangsa-bangsa Eropa lainnya seperti Portugis, Inggris, maupun Perancis. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa tersebut bertujuan sama, yaitu mencari rempah-rempah, sehingga terjadilah persaingan dagang di antara mereka. Untuk meng-antisipasi agar Belanda tidak kehabisan rempah-rempah, didirikanlah VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie, atau yang dikenal dengan kumpeni). Persekutuan ini melakukan monopoli di mana-mana. Badan ini selain untuk melindungi para pedagang Belanda, juga untuk menghadapi persaingan dengan para pedagang Inggris yang tergabung dalam East India Company (EIC). Selain itu VOC mempunyai hak-hak khusus, seperti, monopoli untuk berdagang di wilayah antara Amerika dan Afrika, membentuk angkatan perang sendiri, mengadakan peperangan, mendirikan benteng, bahkan menjajah. Karena bangsa-bangsa Eropa mempunyai niat untuk mencari rempah-rempah, maka VOC melakukan jalan pintas yaitu penguasaan wilayah Indonesia. Tindakan Belanda tersebut sangat merugikan rakyat Indonesia, sehingga perlawanan terhadap Belanda pun tidak dapat dihindari. Perlawanan terjadi hampir di semua wilayah secara sporadis. Karena waktu itu sistem perlawanan masih bersifat kedaerahan, dan waktu perlawanan antara daerah satu dan daerah lain, tidak bersamaan, maka Belanda pun dengan mudah menghadapinya. Salah satu perlawanan itu terjadi di Lampung. Untuk mengetahui bagaimana bentuk perlawanan terhadap penjajahan Belanda di daerah Lampung, kami akan menulis mengenai Perlawanan Radin Intan dan Raden Imba terhadap penjajahan Belanda di Propinsi Lampung (1825-1860), Tujuannya adalah untuk mengetahui lebih jauh bagaimana perjuangan Radin Intan dan Raden Imba dalam melawan penjajahan Belanda.

Radin Intan I Dan Silsilahnya

Oo ….. ternyata di Propinsi Lampung juga terdapat Pahlawan Nasional, ….. baru tau.”

Itulah sekilas yang terungkap dari suara salah satu siswa SMU di Bandung saat mengikuti Lawatan Sejarah tingkat daerah di Propinsi Lampung, yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Tempat-tempat bersejarah yang dikunjungi di antaranya Makam dan Monumen Sejarah Radin Intan II. Dari suara salah satu siswa SMU di Bandung tersebut, menggambarkan bahwa nama pahlawan nasional Radin Intan II belum dikenal di kalangan luas.

Radin Intan II adalah salah satu pahlawan nasional dari Propinsi Lampung. Dahulu ia adalah pejuang yang memimpin perlawanan rakyat Lampung ketika melawan penjajahan Belanda. Atas jasa dan pengorbanannya dalam membela kepentingan rakyat, oleh pemerintah dijadikan sebagai pahlawan nasional, dan dibuatlah monumen di sekitar lokasi makamnya. Radin Intan II sebenarnya putra dari Raden Imba II, sedangkan Raden Imba II adalah putra dari Radin Intan

Apabila dilihat dari silsilahnya Radin Intan I adalah keturunan dari Fatahillah yang merupakan anak dari Ratu Darah Putih dan Tun Penatih. Dia adalah pemimpin Keratuan Darah Putih di Lampung. Sedangkan Raden Imba II adalah keturunan Fatahillah anak dari Ratu Darah Putih dan Tun Penatih yang menikah dengan Ratu Mas. Sedangkan Radin Intan II adalah satu keturunan dari Fatahillah yang menyebarkan agama Islam di Banten sekitar abad XVI. Radin Intan II dikenal sebagai pejuang dalam menentang penjajahan Belanda di Lampung dan gugur sebagai pahlawan. Ia adalah putra dari Raden Imba II, beliau dipelihara dan dibesarkan oleh ibu dan keluarganya dengan penuh rahasia. Ia lahir di hutan tahun 1831. Ketika Benteng Raja Gepei jatuh ke pemerintahan Belanda tahun 1834, ia berusia 3 tahun. Saat kecil Radin Intan II diliputi suasana perang melawan Belanda dan sekutu-sekutunya. Raden Intan II meninggal saat usia masih muda di saat ia belum menikah, sehingga tidak mempunyai keturunan lagi.

Perlawanan Radin Intan Dan Raden Imba Terhadap Penjajahan Belanda
Sebelum kedatangan Belanda
ke Lampung, Lampung merupakan salah satu daerah yang mendapat pengaruh kekuasaan dari Banten, hal itu disebabkan Lampung waktu itu, kaya akan rempah-rempah. Namun di saat kedatangan Belanda, secara perlahan Lampung dapat dikuasai oleh Belanda. Kedatangan Belanda ke Indonesia, tujuan utama adalah berdagang sambil mencari rempah-rempah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata perlawanan mengandung arti perjuangan yaitu usaha mencegah, menangkis, bertahan, dan sebagainya. Atau perlawanan juga mengandung arti pertentangan (Tim Penyusun Kamus, 1990: 1503). Mengacu pada makna kedua, yaitu perlawanan adalah pertentangan, yaitu satu kelompok yang berlawanan arah atau tujuan dengan kelompok yang lain. Perlawanan yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah “Perlawanan Radin Intan dan Radin Imba terhadap penjajahan Belanda. Dalam perlawanan tersebut rakyat Lampung melakukan perjuangannya dalam rangka ingin keluar dari cengkeraman penjajah, sebab adanya penjajahan tersebut sangat menyengsarakan rakyat. Untuk itu penjajahan apapun bentuknya harus dilawan.

Dalam setiap bentuk perlawanan yang masuk dalam memori kita sebagai generasi muda, hanyalah bentuk-bentuk perlawanan besar untuk melawan penjajahan Belanda. Perlawanan besar yang dimaksud seperti Perang Diponegoro di Jawa Tengah, ataupun Perang Padri yang dipimpin Panglima Polim. Seolah-olah kita dikaburkan oleh peristiwa-peristiwa kecil yang sebenarnya itu merupakan peristiwa nasional, misalnya Perlawanan Radin Intan dalam melawan penjajahan Belanda.

Perlawanan Radin Intan terhadap penjajahan Belanda, pertama dilakukan oleh Radin Intan I. Raden Intan I (1751-1828), adalah penguasa Keratuan Darah Putih atau Negara Ratu yang berpusat di Kahuripan. Daerah ini sekarang termasuk wilayah Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Bagi Belanda Radin Intan I dianggap sebagai orang yang keras kepala, ia tidak mau menuruti apa perintah Belanda, bahkan iapun cenderung untuk melawan dari segala kebijakan yang dibuat pemerintah Belanda, seperti monopoli perdagangan lada. Bagi Belanda sikap dan tindakan yang dilakukan Radin Intan I tersebut semakin lama semakin menjengkelkan. Meskipun demikian dibalik sikap Radin Intan I yang keras kepala tersebut, Belanda tetap memperlakukan Radin Intan I dengan sifat yang lunak. Sikap lunak sengaja diperlakukan oleh pemerintah Belanda (khususnya Gubernur Jenderal Belanda, H.W. Daendels), sebab Daendels mengakui kepemimpinan Raden Intan I sebagai penguasa di Lampung. Disamping itu, perlakukan lunak Belanda khususnya Daendels tersebut didasarkan atas perhatian Belanda yang terpecah, dikarenakan perhatian Belanda lebih tercurah pada persiapan untuk menghadapi ancaman pasukan Inggris. Selanjutnya pada kwartal I abad 19 ini, Belanda juga harus menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1825-1830). Dengan ketidak mampuan Daendels dalam mendekati Radin Intan I tersebut, akhirnya Radin Intan I mengambil langkah-langkah yang bagi Belanda sangat membahayakan, seperti menjalin hubungan persahabatan dengan Daeng Gajah dari Tulang Bawang dan Seputih. Raden Intan pun sengaja melepaskan diri dari ikatan Belanda. Dengan tindakan yang diambil Raden Intan ini, menandakan bahwa Radin Intan I dianggap oleh Belanda sebagai pemberontak dan akan melakukan suatu pemberontakan. Dengan adanya kekhawatiran tersebut, akhirnya fihak Belanda mengadakan perundingan dengan Radin Intan I yang isinya :

Radin Intan I bersedia mengakiri kekerasan dan membantu pemerintah Belanda.

Raden Intan I akan diakui kedudukannya, sebagaimana pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal H.W. Daendels.

Radin Intan I mendapat pensiun sebesar f.1200 per tahun dan saudara-saudaranya masing-masing sebesar f.600 per tahun.

Dari isi perundingan tersebut, pemerintah Belanda memberikan janji-janji kepada Radin Intan I, sehingga terciptalah suasana damai. Namun suasana damai tersebut, ternyata tidak memakan waktu lama, karena hubungan antara pemerintah Belanda dengan Radin Intan I kembali meruncing. Sebab-sebab meruncingnya hubungan kedua belah pihak tersebut dikarenakan Pemerintah Belanda secara sepihak melanggar kesepakatan damai dan dengan terang-terangan menempuh jalan kekerasan. Pada awal bulan Desember 1825 pemerintah Belanda mengirim utusan untuk menangkap Radin Intan I, dengan cara mengirim Gezaghebber Lelievre di Telukbetung bersama Letnan Misonius. Kedatangan kedua orang Belanda tersebut dilengkapi dengan 35 serdadu dan 7 opas, bergerak menuju Negara Ratu. Awalnya Radin Intan I menerima dengan baik kedatangan kedua orang Belanda tersebut, dan Radin Intan pun bersedia dibawa ke Teluk Betung, tetapi dengan syarat Radin Intan meminta waktu 2 hari dikarenakan sedang sakit. Tatkala kedua orang Belanda tersebut sedang istirahat di Negara Ratu, tiba-tiba diserang oleh pasukan Radin Intan I tanggal 13 Desember 1825, dan orang-orang Belanda pun berhasil dilumpuhkan. Korban tewas menimpa Lelievre bersama seorang sersan, sedangkan Letnan Misonius luka tertembak. Dengan kekalahan Belanda ini maka untuk sementara keadaan di Lampung kembali tenang, sebab Belanda mulai mencurahkan kekuatannya untuk menghadapi penyerangan Pangeran Diponegoro. Tiga tahun kemudian Radin Intan I jatuh sakit hingga meninggal dunia, sedangkan tahta sebagai pemimpin di Keratuan Darah Putih diwariskan kepada putranya yaitu Raden Imba II.

Raden Imba II yang mewarisi tahta sebagai Ratu di Lampung ternyata juga mewarisi sifat-sifat ayahnya yaitu anti terhadap penjajahan Belanda, dan berusaha untuk melawannya. Sikap anti terhadap penjajahan Belanda tersebut juga mendapat dukungan dari ayah mertuanya yaitu Kiai Arya Natabraja dan Kepala Marga Teratas Batin Mangundang, serta rakyat daerah Semangka. Semasa Raden Imba II menjabat sebagai Ratu Lampung, ia mempunyai hubungan ke luar istana yang sangat luas, yaitu menjalin hubungan persahabatan dengan kesultanan Lingga yang diwujudkan dengan perkawinan saudara perempuannya dengan Sultan Lingga, disamping itu Raden Imba II juga menjalin persahabatan dengan pelaut Bugis dan Sulu. Dengan jalinan persahabatan yang dibina Raden Imba dengan beberapa wilayah di luar Lampung, membuat kekhawatiran di pihak tentara Belanda, sebab dikhawatirkan Raden Imba II menjalin suatu kekuatan untuk menyerang Belanda. Ternyata dugaan Belanda tersebut benar, Raden Imba II melakukan penyerangan di Teluk Lampung. Dengan bantuan rakyat setempat, Raden Imba II berhasil mengalahkan pasukan Belanda di dekat Kampung Muton. Serangan yang dilakukan Raden Imba II ini berakibat buruk, sebab petinggi pemerintah Belanda menderita kerugian, sehingga Asisten Residen Belanda untuk Lampung yaitu J.A. Dubois meminta bantuan bala tentaranya dari Batavia, untuk segera mengirim bantuannya guna memadamkan perlawanan Raden Imba II. Bala bantuan pun datang dengan kekuatan lima buah Kapal Alexander dan Dourga, 300 serdadu Belanda, serta 100 serdadu Bugis. Bala bantuan tersebut dibawah pimpinan Kapten Hoffman dan Letda Kobold. Pasukan Belanda ini mendarat di Kalianda tanggal 8 Agustus 1832. Pasukan Belanda juga menuju Kampung Kesugihan dan Negara Putih, tapi sayang tempat tersebut sudah ditinggalkan oleh Raden Imba II. Untuk melampiaskan kekesalannya, Belanda membakar semua rumah yang ada di kampung tersebut.

Raden Imba II yang mengetahui kejadian tersebut langsung membangun kubu pertahanan yang tersebar di beberapa daerah, seperti di Raja Gepeh, Pari, Bedulu, Huwi Perak, Merambung, Katimbang, dan Sakti. Agar tidak kehabisan bahan makanan, Raden Imba II juga membangun lumbung-lumbung persedian makanan, begitu pula untuk mengimbangi kekuatan Belanda, Raden Imba II menambah senjata, dengan cara melakukan barter dengan Inggris yang berkuasa di Bengkulu. Pertempuran melawan Belanda pun kembali terjadi tanggal 9 September 1832 di daerah Gunung Tanggamus. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Belanda dibawah pimpinan Kapten Hoffman. Namun dalam perlawanan melawan Belanda kali ini pasukan Raden Imba II kembali mengalami kemenangan. Dari pasukan Belanda banyak yang tewas, sedangkan Kapten Hoofman mengalami luka-luka. Dengan kekalahan tersebut, akhirnya pasukan Belanda ditarik mundur.

Dengan ditariknya pasukan Belanda dari daerah Gunung Tanggamus tersebut, bukan berarti pasukan Belanda menerima kekalahan. Artinya justru pasukan Belanda membangun kekuatan untuk membalas kekalahannya terhadap Raden Imba II. Kapten Hoffman untuk kedua kalinya memimpin penyerangan terhadap Raden Imba II. Kali ini Kapten Hofman mengerahkan kekuatan yang lebih besar, yaitu ditemani oleh 600 serdadu Belanda yang direkrut dari pasukan yang telah berpengalaman dalam melawan Pangeran Diponegoro. Kapten Hoffman juga mendapat bantuan pasukan dari Letnan Vicq de Cumtich. Pertempuran kali ini dapat dikatakan pertempuran besar yang terjadi di Benteng Raja Gepei. sebab dari keduanya mengalami kerugian yang sangat besar, yaitu pasukan Raden Imba II kehilangan 100 pasukannya, sedangan pasukan Belanda hanya 65 orang termasuk Letnan Neuenborger dan Letan Huiseman. Namun demikian Raden Imba II masih dapat berhasil memimpin pasukannya untuk mempertahankan Benteng Raja Gepei. Begitu pula pasukan Belanda masih tertahan dan mendapat bantuan pasukan dibawah pimpinan Kapten Beldhouder dan Kapten Pouwer. Namun kedua kapten tersebut tewas.

Beberapa kali kekalahan yang dialami oleh pasukan Belanda dalam menghadapi setiap perlawanan, bagi Belanda menjadikan suatu cambuk untuk mengirimkan bala bantuan yang lebih besar, begitu pula yang dialami Belanda dalam menghadapi beberapa kali perlawanan yang dilakukan oleh Raden Imba II. Tanggal 23 September 1834, pemerintah Belanda di Batavia kembali mengirimkan bantuan dalam jumlah yang besar, yaitu 21 opsir (perwira), dan 800 serdadu istimewa yang dilengkapi dengan meriam besar, bantuan tersebut dibawah pimpinan Kolonel Elout. Benteng Raja Gepei yang selama ini dijadikan tempat persembunyian Raden Imba II, oleh Belanda berhasil dihancurkan dan diduduki, namun Raden Imba II dan mertuanya Kyai Arya Natabraja berhasil meloloskan diri. Selanjutnya Raden Imba dan beberapa pasukannya menyingkir ke Kesultanan Lingga sekaligus minta perlindungan. Namun sayang tempat persembunyiannyapun diketahui oleh Belanda. Raja Lingga akhirnya mendapat tekanan dari Belanda, yang isinya apabila tidak menyerahkan Raden Imba II, Kerajaan Lingga akan mendapat serangan dari Belanda. Akhirnya Raden Lingga pun menyerahkan Raden Imba II meskipun dengan terpaksa.

Dengan diserahkannya Raden Imba II dan beberapa pengikutnya ke Belanda, maka mereka ditangkap dan dibawa ke Batavia. Pada saat di Batavia itulah mertua Raden Imba II dan hulu balangnya Raden Mangunang meninggal dunia. Sedangkan Raden Imba II dibuang ke Pulau Timor. Raden Imba II pun akhirnya meninggal di Pulau Timor. Sedangkan istrinya yang sedang hamil tua dipulangkan ke Lampung.

Dengan meninggalnya Raden Imba II, maka kekuasaan Lampung berada sepenuhnya di tangan Belanda. Selama itulah kurang lebih 15 tahun, Lampung sepi dari pemberontakan.

Istri Raden Imba yang telah hamil, beberapa waktu kemudian melahirkan seorang laki-laki sebagai anak yatim, karena Raden Imba II telah meninggal dunia. Anak tersebut diberi nama Radin Intan II. Ia meneruskan jejak leluhurnya sebagai orang yang anti penjajahan.

Pada tahun 1850, Radin Intan II telah menginjak usia 15 tahun, karena ia sebagai anak tunggal dari Raden Imba II, maka ia pun berhak meneruskan tahta memimpin Keratuan Darah Putih di Lampung, sehingga ia pun dilantik sebagai penguasa Negara Ratu tersebut. Ia mulai menata segala sarana dan prasarana yang telah rusak akibat perlawanan ayahnya terhadap Belanda. Di antaranya Radin Intan II memperbaiki benteng yang rusak, dan iapun membangun kembali benteng-benteng baru di antaranya di Galah Tanah, Pematang Sentok, Kahuripan, dan Salaitahunan. Semua benteng tersebut dilengkapi dengan parit dan terowongan rahasia. Sedangkan persenjataannya masih sangat sederhana untuk ukuran sekarang seperti keris, badik, pedang, dan meriam besar dan kecil. Sedangkan pasukannya dibagi menjadi unit-unit kecil yang terdiri atas 40 orang dengan dipimpin oleh seorang komandan prajurit, begitu pula sarana lain juga dipersiapkan seperti dapur umum atau pejunjongan (untuk menopang pejuang). Pertahanan dipusatkan di Gunung Rajabasa, yang secara militer letak gunung ini sangat strategis dalam menghadapi serangan lawan dari manapun karena letaknya yang dikelilingi benteng-benteng pertahanan, seperti sebelah barat dan utara terdapat Benteng Merabung, Galah Tanah, Pematang Sentok, Katimbang, dan Salai Tabuhan. Sebelah timur terdapat Benteng Bendulu dan Hawi Perak, sedangkan di kaki-kaki gunung terdapat Benteng Raja Gepei Cempaka dan Kahuripan Lama.

Sepak terjang Radin Intan II hampir menyerupai ayahnya, yaitu menggalang persahabatan dengan beberapa tokoh penting seperti Singabranta, Wak Maas, dan Haji Wakhia, serta rakyat dari Marga Ratu dan Dataran. Tujuannya penggalangan tersebut adalah untuk meningkatkan kekuatan pasukan. Bagi Belanda, sepak terjang yang dilakukan oleh Radin Intan II ini dianggap membahayakan. Oleh sebab itu Belanda mengambil tindakan yaitu berupaya untuk membujuk dan melakukan diplomasi dengan Radin Intan II. Dengan syarat-syarat yang cukup menjanjikan, Belanda berusaha membujuk Radin Intan II agar menghindari permusuhannya dengan Belanda, dengan imbalan akan diberi pengampunan, ditawari biaya pendidikan, dan sebagainya. Namun Radin Intan II menolak segala bujukan tersebut. Karena tawaran Belanda ditolak, maka Belanda pun pada tahun 1851 mengirim pasukan yang berkekuatan 400 serdadu yang langsung dipimpin oleh Kapten Tuch. Pasukan Belanda pun langsung menyerang/menyerbu Benteng Merambung, tetapi sayang penyerangan Belanda ini mengalami kegagalan. Dan kemenangan ada di pihak Radin Intan II. Kemudian pada tahun 1853, pemerintah Belanda kembali mengajukan suatu perdamaian yang isinya agar Radin Intan II menghentikan penyerangan. Usulan perdamaian kali ini diterima oleh Radin Intan II, dan Radin Intan II pun menghentikan suatu peperangannya dengan Belanda sehingga suasana menjadi tenang. Namun sayang suasana tenang itupun hanya berlangsung 2 tahun yaitu sampai 1855. Dan tahun 1856 Radin Intan II kembali melakukan penyerangan.

Bila diruntut dari perlawanan satu ke perlawanan berikutnya, baik yang dilakukan oleh Radin Intan I, Raden Imba II, dan Radin Intan II, ternyata pemerintah Belanda selalu dipihak yang kalah. Oleh karena pemerintah Belanda ingin mengerahkan bala bantuannya sebanyak mungkin yang diminta dari Batavia, yang tujuannya untuk menghentikan perlawanannya di Keratuan Darah Putih Lampung. Pada tahun 1856, bala bantuan dari Batavia tersebut benar-benar datang. Untuk bala bantuan kali ini dibawah pimpinan Kolonel Walleson yang dibantu Mayor Nauta, Mayor Van Oostade, dan Mayor AWP Weitzel. Bala bantuan ini/atau yang disebut ekspedisi ini terdiri atas 9 buah kapal perang, 3 buah kapal angkut peralatan, puluhan perahu mayung, dan jung dengan mengangkut 1.000 serdadu, dan 350 perwira, 12 meriam besar, serta 30 satuan zeni. Dengan datangnya bala bantuan tersebut, pasukan Belanda mendarat untuk merebut Pulau Sikepal (yaitu daerah Teluk Tanjung Tua), pada tanggal 10 Agustus 1856, dua hari kemudian pimpinan pasukan Belanda mengeluarkan ultimatum kepada Radin Intan II dan pimpinan rakyat lainnya agar menyerahkan diri dalam tempo 5 hari.

Dari Pulau Sikepal pasukan Walseson kemudian bersiap untuk menyerang Benteng Bendulu, penyerangan tersebut dilakukan pada tanggal 16 Agustus 1856 yaitu melalui daerah Ujau dan Kenali. Benteng Bendulu dapat dikuasai keesokan harinya tanpa perlawanan. Kemudian pasukan Belanda bergerak menuju Benteng Hawi Perak, sekitar pukul 8 pagi tanggal 18 Agustus 1856. Namun berita yang beredar, Benteng Bendulu telah direbut kembali oleh pasukan Radin Intan II. Dengan begitu Walleson dan pasukannya segera kembali berbalik arah ke Benteng Bendulu. Beteng Bendulu berhasil direbut kembali oleh Walleson dan selanjutnya dijadikan sebagai pangkalan (markas) pasukan Belanda dalam penyerbuan ke benteng-benteng pertahanan Radin Intan yang lain.

Dalam melakukan penyerangan terhadap benteng Katimbang, Walleson memecah kekuatan pasukan menjadi tiga kelompok yang bergerak melalui tiga arah yang berbeda;

pasukan pertama dipimpin langsung oleh Kolonel Walleson yang bergerak dari pesisir selatan terus melingkar melalui lereng timur Gunung Rajabasa ke arah utara.

pasukan kedua yang dipimpin oleh Mayor van Costade bergerak dari pesisir selatan (Pulau Palubu, Kalianda, dan Way Urang) melingkar melalui lereng sebelah barat dan utara menuju Kelau dan Kunyaian, untuk merebut Benteng Merambung dan kemudian menuju Benteng Katimbang.

pasukan ketiga dipimpin oleh Mayor Nauta bergerak dari Penengahan melalui hutan untuk merebut Benteng Salaitahunan dan akhirnya menuju benteng Katimbang.

Keesokan harinya tanggal 19 Agustus 1856, pasukan Walleson berhasil merebut Benteng Hawi Perak, namun karena sesuatu hal, yaitu cuaca buruk, maka pasukan Walleson pun terpaksa balik kembali ke Bendulu. Sedangkan Benteng Hawi Perak dibakar. Setelah membakar benteng tersebut, selanjutnya pasukan Walleson bergabung dengan pasukan Mayor van Costade yang bergerak melalui lereng barat Rajabasa. Kemudian pada tanggal 27 Agustus 1856, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Walleson dan Van Costade berhasil merebut Benteng Merambung, Galah tanah, dan Pematang Sentok. Benteng Merambung berhasil direbut pada pukul 7 pagi dan Benteng Pematang Sentok direbut tanpa perlawanan. Pada saat merebut Benteng Galah Tanah tersebut, pasukan Belanda mendapat perlawanan yang cukup sengit, sebab pasukan Radin Intan II siap bertahan, dalam mempertahankan benteng dengan senjata meriam dan ranjau darat. Akan tetapi akhirnya sekitar pukul 09.00 pagi Benteng Galah berhasil direbut pasukan Belanda. Sementara itu pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor Nauta dengan susah payah berhasil merebut Benteng Salai Tahunan. Dengan dikuasainya Benteng Galah dan Benteng Salai Tahunan, terbukalah jalan kearah Benteng Katimbang.

Tanggal 27 Agustus 1856, Benteng Katimbang mulai diserang oleh Belanda, sekitar pukul 12 siang. Alasan diserangnya benteng ini, karena memiliki persediaan logistik yang cukup besar yang dipertahankan oleh Raden Intan II dan pasukannya. Tetapi karena demi segi persenjataan yang tidak seimbang itulah maka Benteng Katimbang berhasil direbut oleh Belanda pada pukul 05.00 subuh. Radin Intan dan kawan-kawannya seperti Haji Makhia, Singa Branta, dan Wak Maas berhasil meloloskan diri.

Dengan larinya Radin Intan II dan beberapa temannya, pasukan Belanda berusahan mengejarnya. Dengan pengejaran pasukan Belanda tersebut, maka Radin Intan II melakukan gerilya untuk menghadapi pasukan Belanda. Akhirnya pasukan Belanda pun dibuat jengkel oleh Raden Intan II. Oleh karena itu untuk menangkap Radin Intan II di persembunyian, pasukan Belanda melakukannya dengan berbagai cara yaitu menanyakan dimana keberadaan Radin Intan kepada penduduk ataupun beberapa wanita, sehingga keberadaan Radin Intan II pun dapat diketahui oleh Belanda, namun demikian Radin Intan II tidak dapat ditangkap karena tempat persembunyian Raden Intan selalu berpindah-pindah, yaitu dari tempat satu ke tempat lain.

Dengan kesulitan untuk menangkap Radin Intan tersebut, Belanda mulai membabi buta yaitu melakukan cara-cara yang tidak pada tempatnya seperti menangkap saudara atau orang-orang terdekatnya Radin Intan II seperti istri, anak, menantu, maupun saudara-saudara teman seperjuangan Radin Intan II. Kemudian pada tanggal 9 September 1856 bersamaan dengan hukuman mati Kiai Wakhia, dan dalam pertempuran berikutnya Wak Maas dibunuh oleh pasukan Belanda, dan lama-kelamaan Radin Intan II melakukan perjuangan secara sendirian.

Karena Belanda masih kesulitan dalam menangkap Radin Intan II, maka satu-satunya jalan Belanda melakukan tipu muslihat, yaitu dengan cara meminjam orang Lampung sendiri. Pasukan Belanda berhasil membujuk Kepala Kampung Tataan Udik yaitu Raden Ngarupat. Raden Ngarupat akhirnya termakan bujukan Belanda, iapun melalukan perintah Belanda dalam melakukan tipu muslihatnya. Caranya Raden Ngarupat mengundang Radin Intan II untuk makan malam di rumahnya. Ketika Raden Ngarupat sedang menghadapi hidangan, pasukan Belanda langsung menyergapnya. Radin Intan II yang ditemani saudara sepupunya langsung memberikan perlawanan. Namun sayang dengan kekuatan yang tidak seimbang, akhirnya Radin Intan II gugur. Dengan gugurnya Radin Intan II, perlawanan terhadap Belanda sifatnya kecil yang bagi bagi Belanda mudah untuk mengalahkannya.

Dengan gugurnya Radin Intan II oleh pemerintah daerah setempat ia diangkat sebagai pahlawan nasional. Benteng dan Makam Radin Intan II terletak di Desa Gedungharta, Kelurahan Cempaka Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Apabila akan mengunjungi tempat ini pengunjung dapat menuju ke Komplek Makam Radin Intan II yang berjarak 75 km dari Kota Tanjungkarang, dan 167 km dari Bakauheni. Lokasinyapun mudah dijangkau dengan semua jenis kendaraan, sebab berada di pinggir jalan yang memakan area 3.750 m² yang terdiri dari makam, taman, benteng, dan rumah informasi. Semasa hidupnya Radin Intan II mendirikan benteng-benteng yang pada umumnya berupa benteng alam berbentuk gundukan tanah dan parit-parit buatan. Saat ini Benteng-benteng tersebut sebagian telah hilang dan tidak ditemukan sisa-sisanya. Sedangkan benteng pertahanan yang masih tersisa adalah benteng pertahanan Radin Intan II di Cempaka Desa Kahuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Pada benteng ini didalamnya terdapat makam Radin Intan II. Saat ini, benteng dan makam telah dijadikan sebagai makam pahlawan dan juga objek wisata sejarah yang diharapkan dapat menarik pengunjung. Adapun para pengunjung yang datang kebanyakan dari masyarakat Lampung dan bertujuan untuk berziarah ke Makam Radin Intan II. Pada lokasi makam dan benteng Radin Intan II ini ditemukan beragam benda-benda bersejarah seperti batu, peluru, mata tembok, dan lain-lain. Adapun temuan benda-benda ini menjadi bukti sejarah perlawanan Radin Intan II. Pada saat ini benda-benda bersejarah itu disimpan dalam sebuah lemari sederhana di rumah informasi makam pahlawan ini.

Benda-benda tersebut antara lain :
batu peluru meriam ( 1 buah).
Mata tembok besi (2 buah)
Gagang keris terbuat dari kayu ( 1 buah)
Gantungan lampu Besi (1 buah)
Mata Uang Logam VOC
Piring Kuno Peking ( 2 buah)
Batu Permata
Batu Bergores kecil ( 2 buah)
Tutup botol gelas putih ( 2 buah)
Satya Lencana VOC dari Besi (1 buah)
Sendok keramik ( 2 buah)
Bokor kecil besi ( 1 buah)
Gelang Tembaga (1 buah)
Selongsong meriam ( 1 buah)
Nampan Kuningan ( 1 buah).

Penutup
Dalam perlawanan terhadap Belanda di Propinsi Lampung, peranan Radin Intan dan Raden Imba, dan lebih-lebih Radin Intan II sangat besar. Pemerintah Belanda mengalami kesulitan untuk menangkap Raden Intan II dan Raden Imba, sebab mereka selalu bersembunyi di benteng persembunyian dan selalu berpindah-pindah. Dalam setiap perlawanan yang dilakukan baik oleh Radin Intan I, Raden Imba II, maupun Radin Intan II, pemerintah Belanda selalu mengalami kekalahan meskipun telah meminta bantuan ke Batavia. Bantuan demi bantuan didatangkan dari Batavia dapat Batavia pada akhirnya dapat menguasai beberapa benteng pertahanan Radin Intan maupun Raden Imba. Akhirnya, Belanda dapat menghentikan perlawanan perlawanan Raden Intan II dengan politik pecah dan adu dombanya (devide et impera).

Daftar Pustaka
A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan, jilid 1, Disjarah AD bekerjasama dengan Angkasa, Bandung, 1973.

Dean G. Pruitt, dkk, Teori konflik Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004.

Pahlawan Nasional Radin Intan II, Leaflet, Pemerintah Propinsi Lampung, Dinas Pendidikan, tahun 2004

Tim Penyusun Kamus, kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990

Kajian Mitos: Motivasi Peziarah Pada makam Keramat Embah Kuwu Sangkan Cirebon Girang

Pendahuluan
Ziarah atau berkunjung ke makam pada dasarnya merupakan salah satu rangkaian kegiatan religius manusia. Rachmat Subagio (1980) mengartikan bahwa ziarah mengandaikan kondisi manusia sebagai pengembara di dunia yang hanya mampir ngombe. Ziarah menuju ke tempat suci, pepundhan, pura, watu kelumpang, makam leluhur, nenek moyang atau cikal bakal desa. Orang yang berziarah ke makam pada umumnya dihubung-kan dengan tokoh orang keramat yang dimakamkan di tempat itu. Dalam kepercayaan orang Jawa, yang Koentjaraningrat menyebutkan dengan istilah agami Jawa (1984:325) yang termasuk orang keramat antara lain guru-guru agama, tokoh-tokoh historis maupun setengah historis, tokoh-tokoh pahlawan dari cerita mitologi yang dikenal melalui pertunjukan wayang dan lain-lain, juga tokoh-tokoh yang menjadi terkenal karena suatu kejadian tertentu.

Bagi orang yang memiliki kesenangan melakukan ziarah ke tempat-tempat yang mereka anggap sebagai makam ulama, wali maupun makam tokoh sejarah yang telah memiliki pengaruh kuat di suatu daerah seperti halnya makam keramat Embah Kuwu Sangkan di Kampung Talun, Desa Cirebon Girang, bukanlah tempat yang asing.

Para peziarah seperti ini umumnya telah mengetahui kekeramatan tokoh yang dimakam-kan di tempat ini. Bahkan peziarah seperti ini melakukan ziarah secara berantai dari suatu makam keramat ke makam keramat yang lainnya.

Riwayat Embah Kuwu Sangkan
Embah Kuwu Sangkan adalah anak pertama Prabu Siliwangi dari hasil perkawinan dengan Nyai Mas Subanglarang, yaitu putri Mangkubumi Mertasinga Cirebon. Embah Kuwu Sangkan dilahirkan pada tahun 1423 Masehi di keraton Pajajaran. Semasa remajanya ia bersama adiknya bernama Nyai Mas Ratu Rara Santang pergi meninggalkan keraton Pajajaran, karena mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan ayahnya.

Dalam pengembaraannya, mereka mencari seorang guru yang sesuai dengan petunjuk dalam mimpinya. Mereka bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw yang memerintahkan untuk mencari ajaran syariat Islam yang dapat menyelamatkan manusia di dunia maupun di akhirat. Akhir dari pengembaraannya, dan berdasarkan beberapa petunjuk, akhirnya mereka bertemu dengan Syech Nurul Jati di Gunung Jati yang mampu mengajarkan syariat Islam di antaranya mengajarkan tentang Dua Kalimah Syahadat, Sholawat, membaca Al-Qur’an, Dzikir, Sholat, Zakat, Puasa , Kitab Piqih, Ibadah Haji dan lain sebagainya.

Setelah dianggap cukup menimba ilmu tentang Syariat Islam, akhirnya ia diberi kesempatan oleh Syech Nurul Jati untuk menyebar-kan ajaran Islam dan membuka pemukiman baru baik di wilayah Cirebon maupun daerah sekitarnya.

Motivasi Peziarah
Peziarah datang berkunjung dengan rombongan besar maupun perorangan tentu didorong oleh berbagai motivasi atau niat yang berlainan antara satu dengan lainnya, yang masing-masing mempunyai motivasi yang belum tentu sama, tergantung apa yang akan “diminta dan kepentingan”. Peziarah yang datang berkunjung ini kebanyakan mendengar dan diberitahu oleh teman, tetangga atau kerabatnya tentang “kekeramatan, karisma Embah Kuwu Sangkan yang dapat memberi harapan untuk hidup yang lebih baik dan lain sebagainya Motivasi mereka untuk berziarah itu ada karena kemauan sendiri, tetapi ada juga yang diajak atau dianjurkan teman, tetangga atau kerabatnya yang merasa berhasil. Oleh karena itu, cara mereka berkunjung itu ada yang seorang diri, mengajak teman atau saudara, ada pula secara berombongan.

Peziarah yang mengunjungi tempat keramat, termasuk mereka yang datang ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan pada umumnya dilandasi oleh niat, tujuan yang didorong oleh kemauan batin yang mantap.

Berdasarkan kenyataan di-lapangan terdapat berbagai macam motivasi para peziarah datang ke makam keramat tersebut. Salah satu di antara motivasi peziarah datang berkunjung ke makam Embah Kuwu Sangkan adalah untuk menenangkan bathin. Motivasi ini didukung oleh persepsi yang menyebutkan bahwa makam Embah Kuwu Sangkan itu adalah tempat yang sakral. Para peziarah merasa menemukan tempat yang cocok dengan maksud atau niat mereka datang ke tempat ini.

Bapak Ukri (bukan nama sebenarnya) yang berusia 53 tahun, adalah peziarah dari Indramayu menjelaskan, “saya ke ke tempat ini bermaksud menenangkan bathin, karena banyak masalah yang mengganggu pikiran saya”. Ia yang berprofesi sebagai pedagang onderdil motor bekas. Dalam kehidupan keluarga ada permasalah yang melilit, di antaranya selain usahanya bangkrut juga ia perlu biaya untuk anak. Selama di makam keramat ini ia sudah melakukan puasa selama 37 hari. Menurutnya, ia berpuasa atas kemauan sendiri. Selain berpuasa. Ia melakukan sholat malam atau Sholat Tasbih, kemudian dzikir. Setelah beberapa kali melakukan kegiatan tersebut, Bapak Ukri sedikit demi sedikit pengalami perubahan dalam kehidupannya, bahkan akhirnya ia mendapat pekerjaan diperusahaan swasta. Selanjutnya, menurut bapak Ukri , ia selalu melaksanakan wirid, di antaranya :

Wirid sebelum sholat fardu (qobla) dan sesudah sholat fardlu (ba’da) yang lima waktu, yaitu 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat Maghrib, 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat Isya, 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat Subuh, 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat dhuhur, 2 s/d 4 rakaat sebelum sholat Ashar.

Sesudah matahari naik sepenggal kira-kira pukul 06.00, shalat Isroq, Isti’adah dan Istikharah.
Sholat Dhuha yang waktunya kurang lebih sampai pukul 11.00 sebanyak 8 rakaat
Sholat Tasbih, dilakukan setiap malam
Sholat yang merupakan bagian penutup diteruskan dengan wirid dzikir sebanyak-banyaknya.

Setelah sembahyang Magrib dilakukan wirid Dzikir sekurang-kurangnya 165 kali, dilanjutkan dengan khotaman dan witir-witir lainnya samapai waktunya shalat Isya. Kemudian dilakukan sholat malam hari, yaitu sholat Tahiyatul Masjid dan Syukrul wudhu sebelum kering air wudlu, sholat hayat yang lebih baik dilaksanakan di malam hari, sholat Taubat yang gunanya untuk mencuci dosa yang telah diperbuat oleh manusia, sholat Tahajud yaitu 40 malam mandi 40 kali tiap-tipa malam, 40 malam “melek” (tidak tidur), 40 hari berpuasa, 40 hari tidak makan nasi atau ‘niis’, 40 hari tidak makan garam, 40 hari tidak minum, dan lain-lain.

Peziarah lain yang mengaku bernama Karwati (bukan nama sebenarnya), usia 36 Tahun. Ia berasal dari Majalengka menyebutkan, ia datang ke Cirebon pada mulanya hanya diajak oleh tetangga. Sejak awal ia merasa tidak memiliki motivasi datang ke makam Embah Kuwu Sangkan, namun setelah beberapa kali datang makam keramat tersebut ia berperasaan lain. Sejak itulah memiliki itikad untuk merubah nasibnya. Ia di makam Embah Kuwu Sangkan bermalam sambil melakukan sembahyang malam dan membaca wirid dan dzikir. Wirid yang ia baca atau diamalkan dimakam itu bukan wirid seperti yang dianjurkan melainkan yang dia miliki sendiri. Setelah sholat subuh di masjid, biasanya ia membaca wirid dimakam keramat itu sampai pagi sekitar pukul 06.15. Kegiatan dimakam dilakukan kembali setelah sholat Isya hingga larut malam. Ia tidak tidur di makam, melainkan di mesjid yang letaknya berdampingan dengan komplek makam keramat. Untuk keperluan makan tinggal pergi ke warung yang berada di dekat mesjid itu juga. Menurut pengakuannya, ia sering pergi ke tempat-tempat yang menurutnya merupakan tempat sakral. Menurutnya, baru ia pulang kerumah apabila setelah mendapat ilapat (ilham). Hingga sekarang, menurut pengakuan-nya kehidupannya sudah ada sedikit perubahan.

Motivasi peziarah yang lainnya menyebutkan bahwa ia datang ke makam Embah Kuwu Sangkan bermaksud untuk merubah nasib. Motivasi seperti ini disebutkan oleh Bapak Badru (bukan nama sebenarnya) 47 tahun peziarah dari Cirebon Utara yang profesinya sebagai buruh bangunan maupun Eko ( 23 tahun) yang belum memiliki pekerjaan tetap berziarah ke makam ini niatnya untuk mencari keberkahan sehingga ada perubahan pada nasibnya. Bapak Badru baru mengetahui bahwa makam keramat Embah Kuwu Sangkan itu sebagai makam yang banyak dikunjungi peziarah setelah diberitahu oleh teman sekerjanya. Namun terdorong oleh niatnya untuk mencoba melakukan ziarah sambil mencoba berusaha mengubah nasibnya, ia mengatakan:

“Saya datang ke makam wali ini bermaksud berziarah, semoga dengan perantaraan ziarah ini ada perubahan kepada nasib saya. Semoga ada rizki saya dengan sebab ziarah ini).

Hal serupa dikatakan oleh Ibu Martina dari Probolinggo, Jatim ini bermaksud ziarah dan berharap dengan berziarah imudah-mudahan dapat menemukan kecocokan dalam berdagang. Katanya, selama berziarah ia sudah berpuasa 12 hari. Dengan berziarah ini mudah-mudahan menemukan jalan yang tepat sehingga ada kemajuan dalam usahanya. Keinginan Ibu Martina ini didorong karena telah menyaksikan temannya yang mencoba berdagang bermacam barang, tapi belum mendapat kecocokan “jodoh”. Setelah berziarah, dan mendapat jodoh, ia berubah usahanya dengan berjualan bakso tahu, ternyata jualannya ada perubahan dan mengalami kemajuan.

Berlainan dengan Bapak Agus (40 tahun), ia berasal dari Sukabumi dan bekerja pegawai swasta, yakni dibidang bangunan. Selama berumah tangga ia belum mendapatka keturunan. Kesana-kemari ia telah berupaya baik ke dokter ataupun ke pengobatan Alternatif tetapi belum membuahkan hasil. Karena ia penasaran ia tekun beribadah, kemudian berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan dan berdoa Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara berulang kali, ia berziarah sambil memohon barokah kepada Yang Maha Kuasa. Berkat kebesaran Yang Maha Kuasa, istri Bapak Agus dikaruniai anak. Menurut pengakuannya, sejak itu Bapak Agus sering ziarah ke makam Embah Kuwu Sangkan, baik untuk keperluan urusan keluarga maupun usaha. Sejak itu pula usahanya mengalami kemajuan.

Peziarah lainnya yang mengaku bernama Ibu Sumarni ( 50 Tahun) berasal dari Indramayu. Menuturkan, ia berziarah ke makam Embah Kuwu Sangkan ini karena ingin berubah nasib, usahanya selalu gagal dan rugi atau dibohongi orang. Ia pada mulanya berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan karena diberitahu oleh orang lain. Tetangganya dulu, yang sehari-harinya bekerja sebagai berjualan di Bandung setelah berziarah ke makam keramai ini jualan semakin laris. Bahkan sekarang sudah bisa membeli rumah kontraknya. Menurut Ibu Sumarni menuturkan keinginannya:

Mudah-mudahan doa saya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, saya hanya ikhtiar sedangkan yang menentukan hanya Dia. Oleh karena itu, semoga menjadi jalan untuk membuka rizki saya”.

Ibu Sumarni bermalam di makam keramat Embah Kuwun Sangkan. Kegiatan yang dilakukan selama semalam yakni sholat Tasbih sembahyah dilanjutjkan dengan membaca wirid-wirid atau zikir. Setelah sembahyang subuh kembali membaca doa wirid dan tak henti-henti berzikir. Sebelum pulang, terlebih dahulu minta “air doa” . Air tersebut untuk diminum atau dipakai mandi.

Peziarah lainnya, Bapak Purwoto (45 Tahun) dari Cilacap menuturkan motivasi berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan ingin menyembuhkan adik perempuannya yang strees. Menurut ceritanya, awalnya adik perempuannya selalu mengurung diri di kamar, seolah-olah dirinya merasa putus asa (apatis), ia tidak mau melakukan apa-apa. Suatu ketika ia ada yang melamar, dan tak lama kemudian ia menikah. Setelah menikah malah justru ia menjadi-jadi, sehingga dapat dikatakan meresahkan tetangga sekitar. Puncaknya, suami menjadi tidak betah dan tidak bertanggung Jawab. Akhirnya, yang bertanggung-jawab Bapak Purwoto sebagai anak yang terua ini. Karena merasa bertanggungjawab, ia kesana-kemari berusaha menyembuhkan adiknya yang malang itu, baik berobat ke dokter jiwa, maupun ke orang pintar. Tapi usahanya nihil, dan nyaris putus asa.

Katanya, ia mengetahui ke makam keramat ini dari teman sekerjanya di kantor. Setelah berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan, kondisi jiwa adiknya menjadi tenang dan terbuka pikirannya karena banyak berdoa dan zikir memohon kepada yang punya-Nya.

Menurut pengakuan peziarah, pada umumnya motivasi mereka berziarah kemakam menginginkan kelancaran dalam arti tidak ada gangguan atau sesuatu hal yang akan menyebabkan usahanya mengalami kegagalan. Pernyataan demikian di lontarkan oleh Bapak Bambang (50 Tahun) berasal dari Tegal. Ia berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan bersama rombongan seprofesinya sebagai pengusaha kecil-kecilan di bidang pertukangan, terutama pemasangan Gypsum di setiap perumahan. Karena sekarang mengalami persaingan yang ketat antar seprofesinya, maka usahanya mengalami kembang kempis. Oleh karena ia, mencoba ziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan. Ia bersama rombongan, mengetahui ke makam keramat ini atas petunjuk seorang teman yang bekerja di PLN.

Bapak Bambang seorang tukang ojeg menyebutkan bahwa ia datang ke makam keramat ini sudah tiga hari. Selama di makam keramat Embah Kuwu Sangkan mereka melakukan sholat malam secara berjamaah dan membaca doa, wirid serta zkikir seperti umumnya dilaksanakan oleh peziarah lainnya. Setelah pajar, mereka melakukan sholat Subuh dan memohon doa restu kepada Allah SWT agar maksudnya dikabul.

Kajian Data
Berziarah berarti mengunjungi atau mendatangi ke makam untuk mendoakan. Berziarah dianjurkan oleh Rasulullah, tetapi sebatas untuk mengingatkan kepada kita bahwa setiap makhluk hidup yang bernyawa akan mengalami mati, dan ada kehidupan tentu ada kematian. Oleh karena kita harus selalu mempersiapkan segalanya untuk bekal di akhirat nanti. Bagi yang shaleh dan beramal baik, selalu di dikenang dan dijadikan tauladan, sehingga tidak sedikit orang yang berkunjung ke makam tersebut untuk mendoakan agar yang bersangkutan ditempatkan disisi-Nya, dan sebagainya. Makam yang dikunjungi adalah makam seorang ajengan atau Kyai. Seorang tokoh yang tekun dan menyebarkan ajaran agama Islam serta dimitoskan oleh masyarakat yang percaya dan meyakininya sebagai penuntun hidup, yakni Pangeran Walangsungsang atau disebut Embah Kuwu Sangkan.

Tatacara berziarah menurut ajaran Islam diatur dalam kitab fiqih, di antaranya bila memasuki makam pertama-tama mengucapkan:

“Assalaamu’alaikum ya ahladiyaari minal mu’miniina wa innaa in syaa-allaahu bikum laahiquun(a). As-aalullaahalanaa wa lakumul’aafiyah.”

Artinya semoga kesejahteraan selalu ada pada kalian, wahai penghuni kampung orang-orang yang beriman, Sesungguhnya kami jika Allah menghendaki akan bertemu dengan kalian. Kami memohon kepada Allah kesejahteraan untuk kami dan untuk kalian semua.

Bila memasuki ke tahan pekuburan dan mencari makam yang dikehendaki misalnya makam orang tua atau makam para wali Allah mengucapkan:

Assalamu’alaikum ayyatuhal arwaahul faaniyatu wal abdaanul baaliyatu wa’izhaamun nakhirah, allatii kharajat minaddun yaa wahiya billaahi mu’minah. Allaahumma adkhil’alaihim rauhan minka wasalaaman minnii”

Artinya, Semoga keselamatan selalu ada pada kalian, wahai para ruh yang telah rusak dan badan yang telah busuk serta tulang-tulang yang telah hancur, yang telah keluar dari dunia dalam keadaan beriman kepada Allah. Ya Allah, masukkanlah kepada mereka rasa kenyamanan dari-Mu dan keselamatan dariku.

Setelah di atas makam mengharap ke timur berarti berhadapan dengan mayat kemudian membaca Al-fatihah dan Surat Yasiin atau bacaan Tahlil. Setelah itu membaca doa yang maksudnya agar pahala bacaan-bacaan bisa diterima oleh ahli kubur. Bacaan doa untuk ahli kubur sebagai berikut:

Bismillaahirrahmaanirrahim.Alhamdulillaahi raabil’aalamiin. Allahumma taqabbal wa aushiltsawaaba maaqara’naa liruuhi sayyidinaa muhammadin washshahaabati wattabi’iina wa mujtahidiina wal muqallidiina wal mushannifiina wal ulamaa-il ‘aamiliina wa arwahi aabaa-inaawa ummahaatinaa wa ajdaadinaa wajaddaatinaa wa a’maaminaa wa’ammaatinaa wa akhwaalinaa wakhaalaatinaa wa ustaadzinaa wa amwaatil muslimina wal muslimaati wal mu’miniina wal mu’minaat. Allahummaghfir lahum warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum wa nawwir qubuurahum wa adkhilhumul jannata ma’al abraari burahmatika yaa arhamarraahimiina wa hamdu lillaahi rabbil’aalamiin”.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah Yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah seru sekalian alam. Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala dari semua yang telah kami baca kepada Ruh Jungjunan kita Nabi Muhammad saw, para sahabat, para Tabi’in, para Mujtahid, orang-orang yang taqlid dan para pengarang kitab-kitab agama, para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan kepada para arwah bapak kami, ibu kami, nenek-nenek kami, paman-paman kami, dan kepada arwah guru-guru kami dan semua orang-orang Islam serta orang-orang Mukmin yang telah meninggal dunia. Ya Allah, ampunilah mereka, kasihanilah mereka, berilah kesejahteraan mereka, hapuskanlah dosa-dosa mereka, sinarilah kuburan mereka dan masukanlah mereka ke dalam sorga bersama-sama orang yang baik, berbat rahmat-Mu, wahai Dzat Yang maha Pengasih. Dan segala puji bagi Allah seru sekalian alam.

Itulah tatacara berziarah ke makam yang dianjurkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Ber-ziarah dianjurkan dan sunat hukumnya. Itu setelah keadaan berubah di mana umat Islam sudah kuat memegang Aqidah. Adapun larangan apabila berziarah ke makam tidak boleh menginjak atau menduduki kuburan, apalagi dibagian kepalanya. Seseorang yang sudah meninggal tidak boleh dibicarakan kejelekannya.

Peziarah mendoakan ahli kubur memang sewajarnya, bukan sebaliknya peziarah mohon bantuan sesuatu kepada ahli kubur. Dalam hal berziarah/mengunjungi atau mendoakan ahli kubur ada dua pendapat: pertama, untuk mendoakan ahli kubur tidak selalu harus diucapkan di depan kuburan orang tersebut. Alasannya, doa itu bukan tali, walaupun disampaikan dari rumah, masjid, dan sebagainya tentu akan sampai kepada Tuhan; kedua, memang doa itu bukan tali tetapi ada tempat utama dan ada pula tempat yang lebih utama. Doa yang disampaikan dari rumah itu pun baik, tapi lebih utama jika secara langsung diucapkan di depan makam orang yang dimaksud. Di depan makam setidaknya akan membantu hati lebih khusuk dalam memanjatkan doa.

Secara tidak disadari kegiatan peziarah dapat saja tergelincir kepada praktek syirik (menyekutukan Allah) yang bertentangan dengan aqidah Islam. Untuk mencegah dan menanggulangi hal tersebut, perlu adanya pembinaan atau pengarahan dari pemuka agama secara perlahan-lahan.

Sebenarnya bergantung pada motivasi itu sendiri, bila sebatas ingin mendoakan ahli kubur agar diberikan berkah dan diampuni dosanya oleh Allah SWT mungkin tidak tergolong menyekutukan Allah. Tapi bila motivasinya ngalap berkah (mencari berkah) atau mohon bantuan sesuatu yang dari sudah meninggal, tentu masalahnya menjadi lain. Jangankan untuk mengurusi atau membantu orang lain (yang masih hidup), untuk mempertanggungjawabkan diri sendiri pun repot. Jadi, sudah sewajarnya orang yang masih hidup mendoakan kepada orang yang sudah meninggal. Membaca ayat-ayat suci Al-Quran atau mendoakan orang yang sudah meninggal dunia termasuk pula ibadah. Bagi siapa saja yang membacakan ayat-ayatt suci tersebut tentu mendapat pahala dan berkah dari Allah swt.

Oleh karena itu, bergantung dari mana kita memandang segala sesuatu itu. Tidak dapat kita pungkiri, bahwa ada kesalahpahaman dalam memandang tetang ziarah itu. Kesalahpahaman itu semakin lama semakin merebak sehingga sulit dibedakan, mana yang dianjurkan dan mana yang dilarang.

Terlepas dari itu semua, ziarah itu sudah merupakan kebiasaan atau tradisi masyarakat yang sulit ditinggalkan atau dihilangkan. Biarlah itu hilang dengan sendirinya. Akan tetapi, selama kegiatan itu tidak menyesatkan dan tidak keluar dari rambu atau aturan-aturan yang ada, itu tidak menjadi masalah. Atau, selama masih memiliki nilai budaya yang dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat pendukungnya.

Berziarah atau mengunjungi makam keramat merupakan suatu upaya untuk mencari berkah dari Allah swt. Bagi yang memiliki motivasi lain, kegiatan itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam karena termasuk menyekutukan Tuhan. Perbuatan itu tidak dibenarkan karena hukumnya dosa besar.

Peziarah hendaknya pandai memilah-milah agar jangan sampai terjerumus menjadi umat yang rugi. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman yang baik. Bagi yang belum dapat memahami, bila dirasakan besar manfaatnya maupun sebaliknya, merupakan suatu resiko yang harus diterimanya. Namun atas keyakinan, mereka siap melakukan apa saja walaupun memerlukan pengorbanan moril maupun materil. Secara materi misalnya, tidak sedikit jumlah biaya yang harus dikeluarkan, walaupun maksud dan tujuan yang diinginkan belum tentu terkabul. Rupanya masalah itu tidak menjadi problema, karena menyadari bahwa segala suatu itu perlu upaya, walaupun yang menentukan segalanya Allah Swt.

Tidak dapat dipungkiri, itulah salahsatu sistem kepercayaan yang ada dan berkembang di masyarakat kita. Namun itu merupakan nilai budaya bangsa yang sarat dengan nilai luhur.

Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa makam keramat Embah Kuwu Sangkan merupakan salah satu makam keramat di Cirebon yang banyak dikunjungi baik dari dalam wilayah Cirebon maupun daerah lainnya seperti Indramayu, Majalengka, Cilacap, Probolingggo dan sebagainya.

Peziarah berkunjung ke makam Embah Kuwu Sangkan dilandasi beberapa motivasi antara lain:

Perziarah memiliki motivasi untuk menenangkan bathin

Peziarah datang ke makam keramat Embah Sangkan dengan memiliki motivasi untuk merubah nasib.

Peziarah berkunjung kemakam keramat tersebut dilandasi ingin mendapatkan kelancaran usaha.

Peziarah datang karena memiliki motivasi untuk mencari keselamatan jasmani maupun rohani.

Peziarah datang ke makam keramat tersebut semata-mata melakukan latihan ketahanan mental.

Adanya motivasi yang melandasi peziarah terhadap makam keramat Embah Kuwu Sangkan, dari sisi spiritual menandakan bahwa manusia dalam melaksanakan upayanya tidak hanya bermodal kepada upaya lahiriah, namun upaya batiniah menunjukkan bahwa manusia tidak berdaya dalam memenuhi kebutuhannya. Untuk itu, manusia mencari hubungan dengan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Daftar Pustaka
Subagja, Rachmat, 1981. Agama Asli Indonesia, Sinar harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka, jakarta.

Koentjaraningrat, 1990. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, PT. Gramedia Pustaka Utama , Jakarta.

Geertz, Celifford, 1992, Kebudayaan dan Agama, Kanidius, Yogyaka

Dhodier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantran, Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta
_________________

Drs. Tjetjep Rosmana adalah Tenaga Peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni, dan Film. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

Sumber : Buddhiracana ◙ Vol. 10\No. 1\ Januari 2005 BPSNT Bandung

Selayang Pandang Museum di Bandung

Oleh:
Drs. T. Dibyo Harsono, M.Hum
Wawan Suhawan, SE, M.Hum
Zulkifli Harto, M.Hum

Syarif, M.Hum

Pendahuluan
Pasal 1, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum, mengatakan: “Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa”.

Definisi di atas menyebutkan tentang pemanfaatan yang mengandung pengertian bahwa salah satu tujuan museum adalah mengkomunikasikan benda-benda, terutama meliputi benda yang bernilai sejarah alam dan budaya. Upaya ini sejalan dengan program pemerintah untuk melindungi dan melestarikan kekayaan budaya bangsa guna pengembangan kebudayaan nasional. Berkaitan dengan itu, peran museum adalah perlindungan dan pelestarian terhadap materi alam dan budaya (benda cagar budaya), baik yang telah punah maupun bertahan di tengah masyarakat untuk kepentingan pendidikan, pengetahuan, dan kesenangan. Dengan demikian, benda atau disebut koleksi merupakan komponen yang penting bagi suatu museum.

Sejalan dengan tujuan tersebut, dapatlah diartikan bahwa koleksi yang disimpan dan dirawat itu tidak sembarang, tetapi memiliki kriteria-kriteria tertentu. Sebelum disajikan kepada masyarakat, koleksi perlu dikaji secara baik dan benar. Kegiatan ini erat kaitannya dengan dokumentasi koleksi yang cakupannya meliputi penjelasan benda (katalog), hubungan antar benda, latar belakang sejarah, dan lainnya. Istilah dokumentasi yang dimaksud diartikan pula sebagai intellectual collection. Dengan demikian dokumentasi merupakan titik awal kegiatan museum dalam menyajikan informasi, baik yang dibutuhkan oleh staf museum, peneliti, pelajar, maupun masyarakat luas.

Media komunikasi utama antara publik dengan museum adalah melalui pameran. Dalam penyajian materi pameran, tidak pula diartikan sebagai benda atau kumpulan benda yang dijajarkan begitu saja tanpa menghiraukan kaidah-kaidah keilmiahan, serta keindahan. Pameran harus dipandang sebagai sebuah penataan yang mengandung interpretasi, yang menggambarkan dan mengungkapkan suatu hal. Dalam arti, tidak dipikirkan sebagai obyek tunggal, melainkan ungkapan interpretasi dari sebuah subyek atau sekelompok benda yang ditentukan oleh suatu tema.

Pada masa lalu, pameran memang tidak mengindahkan kepada kepentingan pengunjung, apalagi mempertimbangkan prinsip-prinsip keilmiahannya. Tujuan utama dalam pengumpulan koleksi dan pameran lebih ditekankan pada materi yang bernilai seni tinggi dan eksotis. Adapun pandangannya terhadap museum sebagai pelestari budaya leluhur tidak menjadi arti penting bagi publik dalam mempersepsi museum. Museum pada waktu itu masih terbatas pada kalangan tertentu yang selalu mendorong keingintahuan orang. Sebab itu, museum populer disebut sebagai “Cabinets of Curiosities” yang dapat diartikan tempat barang-barang langka. Sebutan lainnya, adalah galery yakni tempat menyimpan patung dan lukisan. Di Jerman disebut Naturalienkabinett, khususnya untuk koleksi pengetahuan alam (natural science).

Ada perubahan pandangan sejak masa Renaissance (abad ke-15), museum adalah ensiklopedi pengetahuan. Sampai akhir abad ke-18, masyarakat baru memandang museum sebagai sebuah bangunan yang digunakan untuk menyimpan dan memamerkan benda-benda sejarah. Sejak itu pulalah muncul kesadaran bahwa museum memiliki arti penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Orang-orang Eropa kemudian merintis dengan apa yang disebut public museum, seperti di Oxford Inggris berdiri The Ashmolean (1683) yang kemudian disusul British Museum (1759), dan Louvre di Perancis (1793) yang sampai kini dikenal dengan lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci.

Pada saat yang bersamaan, bangsa-bangsa di Eropa melakukan perluasan kekuasaan dengan mencari daerah jajahan baru di Afrika, Asia, dan ditemukannya benua Amerika. Pada kesempatan itu dibarengi pengiriman para tenaga ahli di berbagai bidang ilmu pengetahuan untuk mengumpulkan benda-benda (benda yang mempunyai nilai seni, sejarah, budaya), lalu dibawa ke negerinya sebagai bahan penelitian. Dengan banyaknya beragam benda tersebut mendorong mereka untuk merintis pendirian museum atau semacam lembaga ilmu pengetahuan di daratan Asia, diantaranya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (1778), Singapore oleh Raffles (1823), dan Malaysia dengan museum Taiping di Perak (1886).

Merujuk pada sejarah perkembangan museum, maka perhatian para ahli kini mengalihkan pada bagaimana museum itu berkomunikasi dengan pengunjungnya. Berbagai metode dikembangkan dan pameran merupakan media visual yang dominan disamping acara-acara audio visual, ceramah dan penerbitan. Oleh karena itu, materi dan isi pameran tidaklah disajikan sembarangan, akan tetapi merupakan hasil interpretasi yang ditentukan atas dasar konsepsi tertentu. Dalam mewujudkan ini semua, dibutuhkan sumbangan pikiran dari berbagai cabang ilmu. Pendekatan teknologi pendidikan turut memainkan peranan penting, karena akan menjelaskan alternatif tingkat kemampuan orang menangkap pengetahuan dalam penyejian koleksi dalam pameran.

Museum Negeri Provinsi Jawa Barat “Sri Baduga”
Museum-museum di Indonesia pada dekade ini telah banyak mendapat perhatian dari pemerintah. Hingga kini telah difungsikan 27 museum umum tingkat propinsi. Museum tingkat propinsi yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengumpulkan dan menyajikan khasanah kekayaan sejarah alam dan budaya di wilayah masing-masing. Diantara museum umum itu adalah Museum Negeri Propinsi Jawa Barat “Sri Baduga”, yang berada di kota “kembang” Bandung. Letaknya di ruas jalan BKR, berdekatan dengan lapangan Tegallega, yang juga terdapat Tugu Bandung Lautan Api.

Pendirian gedung dirintis sejak tahun 1974 dengan mengambil model bangunan tradisional Jawa Barat, berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Tanah seluas 8.415,5 m² dahulunya adalah areal bekas kawedanan Tegallega. Bangunannya sendiri tetap dipertahankan, sekarang dipakai tempat perkantoran. Tahap pembangunan pertama selesai pada tahun 1980, dan peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan DR. Daoed Joesoef.

Areal seluas itu dibagi menjadi dua bagian, wilayah publik (public area) mencakup gedung pameran dan auditorium, wilayah bukan publik (non public area) yakni ruang perkantoran Kepala Museum, Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja Bimbingan dan Edukasi, Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi, serta Kelompok Kerja Koleksi (termasuk di dalamnya gudang penyimpanan koleksi).

Jumlah koleksi yang terhimpun hingga saat ini (tahun anggaran 1995/1996) sebanyak 4.624 koleksi, terdiri dari jenis koleksi Geologika, Geografika, Biologika, Arkeologika, Historika, Numismatika, Heraldika, Filologika, Keramologika, Seni Rupa, dan Teknologika. Mengingat museum negeri propinsi lebih menampilkan benda-benda budaya daerah, maka koleksi yang dominan adalah Etnografika. Sedangkan dari jumlah itu, koleksi tidak terbatas atas benda realitas saja, tetapi dilengkapi dengan koleksi replika, miniatur, maket, dan offset binatang.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan sebagai upaya menarik pengunjung atau lebih jauh meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum. Diantaranya dengan penyelenggaraan pameran khusus, pameran keliling ke daerah-daerah tingkat II (kabupaten), pameran bersama dengan museum propinsi lain, berbagai lomba untuk tingkat pelajar, ceramah, seminar, lokakarya, dan lainnya. Bahkan dilakukan upaya menggalang kerjasama kegiatan yang bersifat lintas sektoral dengan berbagai instansi pemerintah, swasta maupun lembaga dari luar negeri.

Menginjak dasawarsa kedua, Museum Sri Baduga telah melaksanakan renovasi terhadap tata pameran tetapnya secara bertahap selama tiga tahun (1980 – 1992), juga perluasan ruang pameran baru di lantai tiga. Semenjak direnovasi hingga saat ini, penyajian materi ditambah dan disempurnakan. Penyajian koleksi diupayakan agar lebih menarik bagi pengunjung dan dapat memperoleh gambaran tentang perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa Barat, corak dan ragamnya, serta fase-fase perkembangan dan perubahannya. Pengelompokan koleksi dibagi menjadi: lantai satu menampilkan koleksi sejarah alam, masa pra sejarah dari masa Hindu-Budha; lantai dua dengan materi koleksi budaya tradisional, budaya yang mendapat pengaruh Islam, kolonial, dan peran serta Jawa Barat dalam sejarah perjuangan bangsa; dan lantai tiga menyajikan aneka wadah, khasanah koleksi kesenian daerah dan keramik asing.

Sampai saat ini hanya sekitar 15% saja dari seluruh jumlah koleksi yang dapat dipamerkan, sehubungan dengan terbatasnya ruang pameran tetap. Demikian pula, koleksi wawasan nusantara belum dapat disajikan, meskipun pengumpulannya telah dirintis sejak awal, dan untuk sementara dipakai sebagai bahan studi koleksi.

Museum Geologi
Berdirinya Museum Geologi sangat erat kaitannya dengan sejarah penyelidikan geologi di Indonesia yang telah dimulai sejak tahun 1850-an, oleh Dienst van het Mijnwezen, yang berkedudukan di Bogor (1852-1866). Lembaga ini kemudian pindah ke Jakarta (1866-1924) dan akhirnya pindah ke Bandung, menempati Gedung Gouvernement Bedrijven (sekarang Gedung Sate).

Para ahli geologi dalam melakukan penyelidikan/penelitian geologi di lapangan selalu membawa contoh batuan, mineral dan fosil untuk diteliti di laboratorium. Mulai tahun 1922 penyelidikan geologi di Indonesia semakin meningkat sehingga contoh batuan, mineral dan fosil yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia semakin melimpah. Berbagai contoh tersebut memerlukan tempat khusus untuk didokumentasikan, sehingga pada tahun 1928 dibangunlah gedung yang diperuntukkan bagi Laboratorium Geologi di Rembrandt Straat (sekarang jalan Diponegoro). Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur art deco oleh arsitek Belanda Ir.H. Menalda van Schouwenburg. Kemudian timbul suatu gagasan untuk memperlihatkan koleksi tersebut kepada masyarakat luas, sehingga pada tanggal 16 Mei 1929 bertepatan dengan Konggres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke IV, diresmikanlah gedung tersebut sebagai Museum Geologi dengan nama Geologische Museum. Berbagai koleksi Museum Geologi pada waktu itu disimpan dan ditata di dalam lemari-lemari kaca (vitrin). Setiap koleksi dilengkapi dengan label yang menginformasikan nomor koleksi, nama koleksi, tempat ditemukan, dan kolektornya. Sistem peragaan seperti itu relatif tidak berubah sampai tahun 1998, namun demikian pengunjung yang datang ke Museum Geologi setiap tahunnya terus meningkat, khususnya kalangan pelajar.

Museum Geologi berupaya meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat, dengan rencana pengembangan yang dirintis sejak tahun 1993 atas kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang, meliputi: renovasi, pengembangan sistem dokumentasi koleksi, pengembangan sistem peragaan, pengembangan sistem edukasi, dan pengembangan program penelitian koleksi. Renovasi gedung dan pengembangan peragaan yang pekerjaan fisiknya dimulai pada tanggal 2 November 1998 dapat diselesaikan pada pertengahan Agustus 2000. pada tanggal 22 Agustus 2000, Museum Geologi diresmikan kembali pembukaannya oleh Ibu Megawati Soekarnoputri. Dengan adanya pengembangan ini luas bangunan menjadi 6000 m² dimana sepertiganya sekitar 2000 m² difungsikan sebagai ruang peragaan, sehingga diharapkan Museum Geologi dapat memenuhi kebutuhan pengunjung dan pengguna jasa museum geologi lainnya.

Selasar Sunaryo Art Space
Di salah satu lokasi di kawasan bukit Dago tepatnya di jalan Bukit Pakar Timur nomor 100 Bandung, berdiri sebuah galeri dengan konsep yang unik yakni Selasar Sunaryo Art Space. Galeri ini berada di tengah-tengah komunitas Dago serta menyatu dengan lingkungan di sekitarnya, jauh dari kebisingan kota Bandung. Pembangunan galeri ini memakan waktu 4 tahun, yakni dari tahun 1993 sampai dengan tahun 1997, adapun penggagasnya adalah bapak Sunaryo dan bapak Baskoro Tedjo (keduanya seniman). Selasar Sunaryo Art Space mulai dibuka untuk umum semenjak bulan September 1998. konsep dari galeri ini banyak menampilkan ruang terbuka, antar ruang dihubungkan dengan gang/selasar yang terbuka, hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan keterbukaan dalam menerima tamu/pengunjung yang akan menikmati suatu pengalaman unik sambil mengamati karya seni yang dipamerkan. Keberadaan galeri ini merupakan perwujudan dari impian yang cukup lama dari seorang seniman yang mempunyai dedikasi tinggi pada profesinya.

Adapun fasilitas yang tersedia di galeri ini antara lain Ruang Sayap dan Ruang Tengah, sebagai tempat memamerkan berbagai koleksi lukisan, seni instalasi, untuk keperluan pameran temporer, untuk kegiatan workshop, dan penampilan-penampilan seni lainnya. Ruang Ruparungu merupakan ruangan audio visual yang bisa dimanfaatkan untuk penayangan film/video, diskusi, serta seminar. Amphitheater merupakan ruangan terbuka berbentuk lingkaran dengan bagian tengah dipergunakan sebagai tempat pementasan (teater, musik), dan di sekelilingnya untuk para penonton. Joglo Selasar, bisa dimanfaatkan untuk diskusi, lokakarya. Rumah bambu, merupakan contoh bangunan tradisional Sunda yang terbuat dari bambu, bisa dimanfaatkan untuk menginap pengunjung yang datang. Cinderamata Selasar, menyediakan berbagai cinderamata hasil karya seni maupun berbagai buku seni. Kopi Selasar, sebuah kafe yang menyediakan berbagai minuman serta makanan kecil, dengan ruangan yang terbuka.

Rumah Tradisional Sunda
Rumah tradisional masyarakat Sunda adalah rumah panggung dengan suhunan (bubungan rumah) bertipe julang ngapak, perahu nangkub, jolopong/suhunan panjang. Biasanya rumah tradisional terbagi dalam tiga bagian, yakni bagian depan, bagian tengah, dan bagian belakang. Bagian depan dianggap sebagai daerah laki-laki, meskipun kadang-kadang perempuan juga diperbolehkan masuk. Yang disebut bagian depan antara lain ruang tempat menerima tamu dan emper atau bagian rumah yang terletak di depan, yang terbuka untuk menerima pendatang/tamu. Adapun bagian tengah terdiri dari ruang keluarga atau tengah imah. Tengah imah merupakan daerah netral sehingga terbuka untuk semua jenis kelamin dari seluruh anggota keluarga, dan biasanya dipergunakan untuk berkumpul semua anggota keluarga dan tempat dilaksanakannya upacara-upacara seperti syukuran atau hajatan. Kamar (ruang tidur) merupakan kategorisasi dari daerah perempuan. Meskipun suami dapat masuk ke dalam ruangan ini, ruang tidur lebih menggambarkan ciri kewanitaan. Ruang tidur biasanya terletak di sebelah kanan bagian rumah (merupakan hasil pembagian dengan ruang tengah). Bagian belakang yang terdiri atas padaringan (tempat beras atau padi) dan dapur, dikategorikan sebagai daerah wanita. Padaringan adalah ruang khusus untuk wanita, karena beras identik dengan sifat kewanitaan. Laki-laki dilarang masuk ke ruangan ini. Daerah dapur juga merupakan daerah wanita, laki-laki boleh masuk ke dapur namun mereka tidak boleh banyak bicara (berusaha untuk tidak mengobrol) di dapur, kecuali sesama anggota keluarga atau kerabat dekat. Ruang dapur yang berupa sorondoy, umumnya merupakan suplemen dari bangunan utama. Selain berfungsi sebagai ruangan dapur, dimanfaatkan juga untuk gudang dan ruangan kamar mandi. Pada ruangan dapur ini terdapat berbagai perabotan rumah tangga. Kamar mandi hanya merupakan bagian terkecil dan biasanya ditempatkan di sudut dapur yang tidak terlalu memakan tempat. Untuk sebagian penduduk yang kebetulan rumahnya kecil, kamar mandi ini terletak di luar rumah. Pintu masuk rumah terbagi dua, yakni pintu depan dan pintu belakang yang terletak di samping rumah. Apabila diperhatikan, hampir seluruh rumah yang mempergunakan dua pintu atau lebih, tidak meletakkan pintu belakang sejajar dengan pintu depan. Oleh karena itu, pintu belakang diletakkan di samping rumah menjadi pintu samping.

Evaluasi
Museum Negeri Propinsi Jawa Barat “Sri Baduga” (Sri Baduga diambil dari gelar seorang raja Pajajaran sekitar abad XV seperti tercantum dalam prasasti Batutulis), museum ini mulai dirintis pembangunannya semenjak tahun 1974 (diresmikan tanggal 5 Juni 1980), merupakan sebuah museum yang cukup lengkap menyajikan berbagai artefak yang berkaitan dengan kehidupan sosial budaya manusia, khususnya di daerah Jawa Barat.

Museum ini disamping koleksinya yang cukup beragam, bisa dijadikan sebagai obyek penelitian, untuk pendidikan, dan juga sebagai obyek wisata sejarah. Bagi kalangan akademisi, peneliti, sejarawan bisa memanfaatkan museum ini sebagai sumber data apabila ingin mengkaji bidang-bidang yang berkaitan dengan sejarah alam, sejarah budaya, masa pra sejarah, masa klasik, budaya tradisional, teknologi tradisional, transportasi tradisional, adanya pengaruh budaya Islam, pengaruh budaya Barat, kemudian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia.

Sementara itu untuk siswa-siswa sekolah (TK, SD, SMP, SMA), paling tidak bisa memperkenalkan kepada mereka benda-benda hasil kebudayaan yang selama ini hanya mereka kenal lewat tulisan saja. Sehingga dengan demikian akan menambah wawasan mereka di bidang sejarah dan kebudayaan.

Sedangkan untuk kalangan umum (awam), bisa memberikan gambaran tentang sejarah, kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa Barat, betapa beragamnya (majemuk) negara kita. Letaknya yang strategis sehingga mudah diakses dari mana saja.

Museum ini dalam segi penataan koleksi, kesannya kurang serius dalam menata semua koleksi yang ada, asal meletakkan atau memajang saja. Seharusnya memasuki sebuah museum ibaratnya kita memasuki sebuah lorong waktu, misalnya saja penataan dimulai dari masa yang paling dahulu (tua) dari sejarah alam/manusia, kemudian berurutan sampai kepada masa kini atau masa sekarang. Sehingga pengunjung akan terbawa larut untuk mengarungi ruang dan waktu, serta membawa imajinasi ke kehidupan masa lalu. Aspek audio visual belum digarap, sehingga terkesan monoton. Promosi kurang digarap secara serius.

Museum Geologi, museum ini diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929 dengan nama Geologische Museum. Seperti namanya museum ini menyajikan koleksi yang berkaitan dengan geologi (batuan, mineral, fosil) dari seluruh Indonesia (bahkan ada yang dari luar Indonesia), sehingga hal ini tentunya akan sangat menarik bagi pengunjung.

Museum ini, karena keberadaannya telah lama maka museum ini sangat lengkap dalam memberikan gambaran tentang geologi Indonesia (asal mula bumi, tektonik Indonesia, dunia batuan dan mineral, survei geologi, dan gunung api di Indonesia), sejarah kehidupan (prakambrium, paleozoikum, mesozoikum, dinosaurus, kenozoikum, vertebrata Indonesia, manusia purba), dan geologi untuk kehidupan manusia (pertambangan mineral dan energi, eksplorasi dan eksploitasi, gempa bumi dan gerakan tanah, bahaya dan manfaat gunung api, air dan lingkungan). Pengelolaan atau menejemen sudah cukup profesional, penataan koleksi cukup bagus (sudah diurutkan sesuai dengan masanya), meskipun masih banyak koleksi yang tidak bisa ditampilkan. Semua koleksi bisa dimanfaatkan sebagai obyek penelitian bagi siapa saja (akademisi, peneliti, dunia pendidikan), sehingga hal ini sangat membantu sekali dalam berbagai kegiatan ilmiah. Juga sebagai obyek wisata ilmu pengetahuan geologi, baik untuk kalangan pelajar maupun umum. Para pelajar akan banyak mendapatkan tambahan pengetahuan tentang geologi, tentang berbagai bentuk bebatuan, mineral, serta fosil (tumbuhan, binatang, manusia). Letaknya yang strategis memudahkan didatangi para pengunjung.

Koleksi yang cukup banyak sehingga terkesan museum ini terasa sempit, koleksi seakan dipaksakan berdesakan, sehingga kurang memberikan kesan yang artistik. Aspek audio visual juga belum digarap secara maksimal. Faktor promosi masih kurang ditangani dengan sungguh-sungguh.

Selasar Sunaryo Art Space, dibuka untuk umum pada bulan September 1998 sebuah konsep art gallery yang dikembangkan oleh Sunaryo dan Baskoro Tedjo.

Selasar Sunaryo Art Space mengkhususkan diri pada penyelenggaraan kegiatan yang berkaitan dengan seni, khususnya seni lukis, seni instalasi, seni musik, teater, dan seni penampilan lainnya. Galeri ini memiliki konsep ruangan terbuka (ada ruang Sayap dan ruang Tengah, ada ruang Rupa Rungu/audio visual, Amphitheater, Joglo Selasar, Rumah Bambu), antara ruangan dihubungkan dengan gang (selasar), dengan penataan yang artistik, mengikuti kontur tanah yang memiliki kemiringan sekitar 20º sampai dengan 40º sehingga ada ruangan yang dihubungkan dengan tangga naik/turun, diselingi dengan banyak pepohonan. Mempunyai fasilitas audio visual yang cukup lengkap, menyediakan barang-barang cinderamata (benda-benda seni). Setelah puas berkeliling, kita bisa santai sambil minum kopi beserta makanan kecil di Kopi Selasar. Secara keseluruhan sangat menarik, dengan pengelolaan yang profesional.

Koleksi yang terasa masih kurang banyak dan kurang variatif. Letak yang agak jauh dari pusat kota, sehingga khalayak banyak yang belum tahu keberadaan Selasar Sunaryo, apalagi kurang didukung adanya promosi yang rutin serta akses yang kurang menunjang.

Untuk pemandu museum di Sri Baduga dan Museum Geologi, seperti halnya pada semua instansi pemerintah (merasa sebagai pegawai negeri), sehingga terkesan dalam memandu pengunjung masih kurang optimal dan maksimal. Apalagi person pemandu tidak dipilih/diseleksi, sehingga terasa kurang menarik (seharusnya sebagai pemandu harus menarik, memberi penjelasan yang menarik). Untuk museum Geologi sudah mulai merekrut pegawai dari luar (non PNS), dipilih yang menarik, ramah, banyak senyum dan profesional, hal ini akan sangat membantu dalam menyedot pengunjung.

Untuk pemandu di Selasar Sunaryo sudah sangat profesional, mereka benar-benar dipilih dan sangat tepat sebagai pemandu. Pemandu yang menarik, ramah, banyak senyum, sudah menunggu kita di pintu masuk, memberikan sambutan, dan mempersilahkan kita masuk, serta memberikan penjelasan dengan menarik, sehingga pengunjung benar-benar merasa diterima sepenuh hati. Hal ini bisa ditiru oleh kedua museum di atas (Sri Baduga dan museum Geologi).

Museum Sri Baduga, bisa dikatakan bahwa semua koleksi memiliki saling keterkaitan yang erat. Sehingga apabila ditata (diorganisir) dengan baik akan menjadi suatu rangkaian peristiwa sejarah yang sangat menarik bagi para pengunjung, hal ini memenuhi syarat sebagai museum yang baik. Kemudian mengenai unsur pelabelan juga sudah diperhatikan, hal ini terbukti dengan pengelompokan koleksi sesuai dengan masanya, sehingga hal tersebut mempermudah pengunjung dalam memahami/membaca suatu rangkaian peristiwa, dan ini sangat menarik. Keberagaman koleksi, variasi benda-benda yang dipamerkan juga sangat menonjol. Hal ini terlihat dari paparan koleksi dari rentang waktu yang sangat panjang, sehingga menimbulkan keingintahuan pengunjung untuk melihat secara keseluruhan. Adanya koleksi prasasti (baik yang tertulis di batu, di lempengan logam, di atas lontar/kertas) dan naskah-naskah kuno, bagi saya masih menyisakan sebuah tanda tanya, karena sampai saat ini koleksi-koleksi tersebut masih belum banyak digali/dikaji apa sebenarnya yang diinginkan dari keberadaan/latar belakang pembuatan/tujuan pembuatan prasasti/naskah kuno tersebut. Sehingga hal ini memberikan daya tarik orang untuk mengetahuinya (mengkaji, meneliti, menulis suatu interpretasi).

Museum Geologi, semua koleksi yang ada memiliki tingkat keterkaitan yang tinggi. Karena semua terkait dengan awal keberadaan alam beserta seluruh isinya, hal ini sangat menarik bagi pengunjung untuk mengetahuinya. Pengelompokan yang runtut berdasarkan waktu/masa maupun jenis artefak, memudahkan pengunjung dalam mencerna informasi yang disampaikan. Meskipun sebatas dalam bidang geologi namun koleksi yang ada sangat lengkap, bervariasi, sehingga hal ini juga merupakan daya tarik museum ini. Dari beragam koleksi tersebut, pengunjung seolah diajak untuk berimajinasi merasakan kehidupan masa lalu dengan kondisi flora dan fauna pada masa itu (masa pra sejarah, masa ratusan tahun lalu).

Selasar Sunaryo, untuk ruang lingkup seni (seni lukis, teater, seni instalasi, seni musik) hampir semua unsur untuk menarik pengunjung ada dan memenuhi syarat. Mungkin inilah perbedaan antara instansi pemerintah dan swasta, pengelola Selasar Sunaryo Art Space adalah swasta murni. Sehingga mereka harus profesional apabila ingin menarik pengunjung, yakni dengan penggarapan yang serius, benar-benar memperhatikan unsur artistik dari sebuah galeri. Sumber daya manusia yang memadai, memberikan nilai plus karena pengunjung (siapa saja, dari latar belakang apa saja) mendapatkan pelayanan dan sambutan yang prima.

Popular Posts