WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Penayangan Film dan Diskusi Nilai Budaya, Bandarlampung 2017 (4)












Penayangan Film dan Diskusi Nilai Budaya, Bandarlampung 2017 (5)







Keindahan Alam Parahyangan dalam motif Batik Tasikmalaya

Sejak ditetapkannya Batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO, Indonesia hingga saat ini kerap menyemarakkan dan menyelengggarakan event kain batik baik di tingkat daerah maupun nasional. Salah satu daerah yang memang memiliki sejarah perbatikan cukup panjang adalah Tasikmalaya. Menurut cerita yang beredar turun temurun pada masyarakat setempat, batik mulai dikenal di daerah wilayah Tasikmalaya, dan jawa barat secara umum, terjadi pada masa ”Tarumanegara”. Populasi pembatik yang cukup dikenal di antaranya ada di pusat pemerintahan pada masa Tarumanegara, yaitu Sukapura. Banyak pembatik dari Jawa Tengah, utamanya dari wilayah Tegal dan Pekalongan, yang membuat dan berjualan batik. Keahlian membatik tersebut kemudian mulai ditularkan pada penduduk setempat dan wilayah sekitarnya seperti di Mangunreja, Sukapura, Wurug, dan Manonjaya.

Karakter Batik Tasikan sedikit demi sedikit mulai diperkenalkan dan lambat laun menjadi ciri khas yang dinamakan Batik Tasik. Karakter batik Tasik dapat dilihat dari motif dan warna. Warna yang dipakai cenderung cerah, diantaranya terdiri dari warna orang, merah, biru, dan hijau. Motif batik tasikmalaya dikenal sangat kental dengan keindahan alam nuansa parahyangan, seperti motif burung (merak ngibing), motif payung, dan motif kacang panjang.

Sumber:
Irvan Setiawan, dkk., 2019. “Potensi Budaya Kota Tasikmalaya”, Laporan Penyusunan Dokumentasi Pelestarian Nilai Budaya, Bandung, BPNB Jabar.

Pesantren Cipasung di Bawah Kepemimpinan K.H. Ruhiat (Studi Keterlibatan Kiai dalam Perjuangan Kemerdekaan)

Adeng

Abstrak
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam secara tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, pondok pesantren tradisional berubah menjadi pondok pesantren modern dengan tidak meninggalkan agama sebagai pijakan. Perkembangan ini sudah mulai tampak sejak awal abad ke-20, dengan berdirinya pesantren-pesantren modern dan atau berubahnya pesantren tradisional menjadi pesantren modern. Pesantren tersebut mengalami pergeseran orientasi, dengan tidak hanya mengajarkan masalah uhkrowi (keagamaan/akhirat) semata tetapi juga masalah keduniawian. Hal ini tercermin dari penyesuaian-penyesuaian yang telah pesantren lakukan dalam menghadapi zaman yang semakin maju, salah satu pesantren tradisional yang berkembang menjadi pesantren modern adalah Pesantren Cipasung Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap sejarah perkembangan Pesantren Cipasung Singaparna. Fokus bahasan mendeskripsikan secara historis tentang gerak perjalanan Pesantren Cipasung mulai dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, zaman kemerdekaan, dan kiprah pesantren di Nahdlatul Ulama (NU). Penulisan sejarah Pesantren Cipasung Singaparna dilakukan dengan menggunakan metode sejarah, yaitu: heuristik, kritik, intepretasi, dan historiografi. Pondok pesantren sekarang ini tidak hanya mengajarkan ilmu keagamaan, tetapi ilmu pengetahuan dan masalah keduniawian. Oleh karena itu, pondok Pesantren Cipasung Singaparna mempunyai tiga peranan penting, yaitu: sebagai lembaga pendidikan Islam, pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan masyarakat.

Abstract
Muslim boarding school (pesantren) is an educational institution and study of Islamic which develop in the middle of the society in the traditional ways. Along with the developing of the era, traditional Muslim boarding school also become modern but still keep the religion values. This era can be seen in the 20th century, the appearance of modern Muslim boarding school or the changes of traditional Muslim’s boarding school into modern one. Thus boarding school got the displacement of orientation because they are not only teaching about ukhrowi (religiousness/the hereafter) but also about worldliness. It is because they need to adjust the period that they live right now. One of the Muslim’s Boarding schools that has changed is Pesantren Cipasung Singaparna, Tasikmalaya Regency. The objective of this research is to reveal the history of Pesantren Cipasung Singaparna since the Dutch and Japanese colonialism, the era of Indonesian independence, until in the pace of NadhlatulUlama (NU) as the biggest Muslims organization in Indonesia. The method that the writer used is historical method, which contains; heuristic, criticism, interpretation, and historiography. Muslim boarding schools in this era are not only taught about religiousness or the hereafter but also teach about worldliness or scientific knowledge. That is why Pesantren Cipasung Singaparna have three important roles; the institution of Islamic Study, the developing of human resources, and the developing of the society.

Keywords: pondok pesantren, Cipasung, perjuangan kemerdekaan, Muslims Boarding school, Cipasung, struggle for Independence.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 6, No 2, Juni 2014

Studi Kepercayaan Masyarakat Jatigede

Yuzar Purnama

Abstrak
Masyarakat Jatigede berada di wilayah administrasi Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. Istilah “masyarakat Jatigede” merupakan gabungan masyarakat 5 kecamatan yang terkena dampak pembangunan Waduk Jatigede. Nama Jatigede diambil dari salah satu kecamatan dari kelima kecamatan yang terkena dampak. Wilayah ini berada di bawah perbukitan dengan bentuk permukaan yang cekung sehingga memenuhi syarat untuk dijadikan sebuah bendungan raksasa, waduk. Oleh karena posisinya berada di bawah dengan permukaan yang cukup luas, daerah ini terkenal dengan kesuburannya, baik ditumbuhi dengan berbagai macam tumbuhan tropis maupun dengan tanaman padi yang hijau membentang luas. Masyarakat Jatigede merupakan masyarakat agraris yang kesehariannya dominan berkecimpung dalam pertanian, masyarakat ini dalam kehidupan sehari-harinya kental dengan budaya Sunda. Masyarakatnya sejak dulu sampai kini relatif memegang teguh warisan budaya karuhun (leluhur), mulai dari perilaku bertani, daur hidup, kesenian, perilaku berbahasa, dan sebagainya. Penelitian ini dibatasi pada kepercayaan masyarakat Jatigede yang tertuang dalam upacara pertanian, upacara daur hidup, dan ungkapan tradisional. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang kepercayaan masyarakat Jatigede Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Abstract
The Jatigede society is located under the administration region of Sumedang sub district West Java Province. The term “Jatigede Society” is a combination of five sub districts which is affected by Waduk Jatigede. The name of Jatigede is taken from one of the subdistrict name. The territory is under the valley which have concave surface form and make it eligible to be used as a giant dam, reservoir. Because of its position, the area is famous for its fertility, either overgrown with a variety of tropical plants or with stretches of green rice plants widely. Jatigede community is predominantly agrarian society, daily engaged in agriculture, and their life is thick with Sundanese culture. Relatively, since the beginning until now this society upholds cultural heritage (ancestors), ranging from farming behavior, life cycle, arts, language behavior, and so on. This study is limited to Jatigede belief which formed in agricultural ceremonies, life cycle ceremonies, and traditional expressions. The purpose of the study is to get an overview of Jatigede Sumedang belief. This study uses descriptive qualitative approach.

Keywords: kepercayaan, masyarakat Jatigede, belief, Jatigede Society.

Sumber: Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 6, No 2, Juni 2014

Popular Posts