Patanjala Vol. 11 NO. 1 Maret 2019
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.468
Gani Achmad Jaelani
KEBUDAYAAN HIBRID MASA KOLONIAL DI PERKEBUNAN BATU LAWANG BANJAR
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.427
Lia Nuralia, IIm Imadudin
NASKAH SURAT AKTA JUAL BELI TANAH SAWAH: KEPEMILIKAN TANAH PADA AWAL ABAD KE-20
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.441
Hata Nurhata
AKULTURASI DALAM TRADISI LISAN MACA SYEKH DI KABUPATEN PANDEGLANG
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.481
Irvan Setiawan
TOLERANSI KERAGAMAN PADA MASYARAKAT CIGUGUR KUNINGAN
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.467
Ani Rostiyati
SENI BORDIR TASIKMALAYA DALAM KONSTELASI ESTETIK DAN IDENTITAS
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.476
Agus Nero, Kunto Sofianto, Maman Sutirman, Dadang Suganda
NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL UPACARA ADAT NGIKIS DI SITUS KARANGKAMULYAN KABUPATEN CIAMIS
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.445
Sarip Hidayatloh
PERANAN WANITA DALAM TRADISI LISAN CARITA PANTUN NYAI SUMUR BANDUNG
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.479
Yuzar Purnama
MASKULINITAS TENTARA DALAM SINEMA PASCA ORDE BARU; ANALISIS NARATIF DOEA TANDA CINTA (2015) DAN I LEAVE MY HEART IN LEBANON (2016)
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.483
Hary Ganjar Budiman, Aquarini Priyatna Priyatna, R.M. Mulyadi
AKULTURASI BUDAYA SUNDA DAN JEPANG MELALUI PENGGUNAAN IGARI LOOK DALAM TATA RIAS SUNDA SIGER
DOI : 10.30959/patanjala.v11i1.399
Fauziah Ismi Desiana, Reiza D. Dienaputra
AKULTURASI BUDAYA SUNDA DAN JEPANG MELALUI PENGGUNAAN IGARI LOOK DALAM TATA RIAS SUNDA SIGER
Fauziah Ismi Desiana, Reiza D. Dienaputra
ABSTRACT
Akulturasi budaya Jepang dan Sunda dalam bingkai tata rias Sunda Siger membuktikan bahwa tata rias tradisional dapat dikemas modern dalam balutan teknik Igari Look. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data didapatkan dari wawancara dengan make-up artist yang menggunakan teknik make-up Igari Look dalam tata rias Sunda Siger dan aktif mengunggah hasil tata riasnya dalam sebuah portofolio di Instagram. Akulturasi kebudayaan Sunda dan Jepang dalam tata rias Sunda Siger merupakan bukti bahwa masyarakat Sunda terbuka dengan situasi multikultural. Keberadaan Igari Look dalam bingkai tata rias Sunda Siger pada hakikatnya bukan bertujuan untuk memarjinalkan makna filosofis dan historis dalam setiap unsur tata rias Sunda Siger, namun proses inovasi dari make-up artist ini perlu dimaknai sebagai sumbangsih untuk menghidupkan kembali tata rias tradisional agar lebih diminati oleh kaum muda.
Acculturation of Japanese and Sundanese culture in frame Sunda Siger cosmetology proves that traditional cosmetology can be filled with modern dressing in the Igari Look technique. This study uses qualitative methods using descriptive. Data collection was obtained from interviews with make-up artists who used the Igari Look make-up technique in the Sunda Siger makeup and actively uploaded the makeup results in a portfolio on Instagram. Acculturation of Sundanese and Japanese culture in Sundanese Siger makeup is proof that Sundanese society is open with multiculturalism. The existence of Igari Look in the Sunda Siger makeup frame in essence is not an agreement to marginalize philosophical and historical meanings in any Sundanese Siger makeup, the innovation process of this make-up artist needs to be interpreted as cleft of young people.
KEYWORDS
Akulturasi, Jepang-Sunda, Tata Rias, Igari Look, Sunda Siger
FULL TEXT:PDF
REFERENCES
DAFTAR SUMBER
Jurnal, Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, dan Tesis
Kusumah, Allizia Zulfa . 2017.
Pembentikan Perilaku Konsumerisme Global dan Difusi Budaya Jepang: Studi Kasus Yoshinoya di Bandung. Skripsi Fakultas Hubungan Internasional Universitas Katholik Parahyangan.
Ningtyas, Asmaus Salama Suwita dan Faidah. “Representasi Budaya Tata Rias Pengantin Malang Keputren dan Malang Keprabon”. E-Journal Tata Rias Unesa Volume 02 Nomor 01 Tahun 2013.
Nurhasan, Annisa Perbawasari. 2014. Kontribusi Hasil Kursus Tata Rias Pengantin Sunda Siger terhadap Kesiapan Menjadi Penata Rias Pengantin. Skripsi. Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia.
Pebrianti, Yossi. 2017.
Tinjauan tentang Tata Rias Pengantin Koto Nan Gadang di Kota Payakumbuh. Skripsi Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang.
Priendarningtyas. 2012.
Keberhasilan Soft Power Jepang dalam Pengaruh dan Perkembangan Komik Jepang. Skrips Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Safariani, Putri. “Penyebaran Pop Culture Jepang oleh Anime Festival Asia (AFA) di Indonesia tahun 2012-2016” dalam Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 2017.
Sartini. “Nilai-nilai Budaya Jepang: Tinjauan Aspek Nilai Progresif dan Ekspresif Kebudayaan dalam Jepang” dalam Jurnal Filsafat Universitas Gadjah Mada. Vol. 29, Juni 1999.
Buku
Ajidarma, 2016.
Jokowi, Sangkuni, Machiavelli. Bandung: Penerbit Mizan.
Adorno dan Horkheimer. 1979.
The Culture Industry Enlighment as Mass Deception. London:Verso.
Caturwati. Endang. 1997.
Tata Rias dan Busana Tari. Bandung: STSI Press.
Endraswara, Suwardi. 2006.
Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Giadi,Reita 2010.
Selamanya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ibrahim, Subandy Idi dan Akhmad. 2014.
Komunikasi dan Komodifikasi: Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta:Buku Obor.
Ida, Rachmah. 2014.
Metode Penelitian: Studi Media dan Kajian Budaya.Jakarta: Prenada Media Grup.
Ismayanti. 2010.
Pengantar Pariwisata.Jakarta:Grasindo.
Koentjaraningrat. 1990.
Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Liliweri, Alo. 2007.
Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LkiS.
Sachari, Agus. 2007.
Budaya Visual Indonesia: Membaca Makna Perkembangan Karya Visual di Indonesia Abad ke-20. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Santoso,Tien. 2010.
Tata Rias & Busana Pengantin Seluruh Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wibisana, dkk. 1986.
Arti Perlambang dan Fungsi Tata Rias Pengantin dalam Menanamkan Nilai-nilai Budaya Daerah Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Yusuf, Muri. 2017.
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan. Jakarta: Penerbit Kencana.
Website
www.bridestory.com/id/blog/2017-indonesia-wedding-trends-report-by-bridestory diakses pada 27 Novermber 2017
www.bridestory.com/id/blog/14-mahkota-adat-pernikahan-tradisional-indonesia diakses pada 27 November 2017.
www.Business.bridestory.com diakses pada 7 November 2017.
www.cewekbanget.grid.id/Fashion-And-Beauty/Tutorial-Igari-Makeup-Riasan-Cute-Yang-Hits-Banget-Di-Jepang diakses pada 2 Mei 2018.
www.kemenperin.go.id/artikel/18957/Industri-Kosmetik-Nasional-Tumbuh-20 diakses pada 29 Mei 2018.
Sumber Lisan/Informan
Eviyawati (55 tahun). Instruktur senior Sanggar Liza dan Marketing
Manager PAC Mazaya Cosmetic. 10 Mei 2018.
Mya (23 tahun). Make-up Artist.. 14 April 2018.
Salma, Muthia Khairunnisa (25 tahun). Make-up Artist. 13 April 2018
ABSTRACT
Akulturasi budaya Jepang dan Sunda dalam bingkai tata rias Sunda Siger membuktikan bahwa tata rias tradisional dapat dikemas modern dalam balutan teknik Igari Look. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data didapatkan dari wawancara dengan make-up artist yang menggunakan teknik make-up Igari Look dalam tata rias Sunda Siger dan aktif mengunggah hasil tata riasnya dalam sebuah portofolio di Instagram. Akulturasi kebudayaan Sunda dan Jepang dalam tata rias Sunda Siger merupakan bukti bahwa masyarakat Sunda terbuka dengan situasi multikultural. Keberadaan Igari Look dalam bingkai tata rias Sunda Siger pada hakikatnya bukan bertujuan untuk memarjinalkan makna filosofis dan historis dalam setiap unsur tata rias Sunda Siger, namun proses inovasi dari make-up artist ini perlu dimaknai sebagai sumbangsih untuk menghidupkan kembali tata rias tradisional agar lebih diminati oleh kaum muda.
Acculturation of Japanese and Sundanese culture in frame Sunda Siger cosmetology proves that traditional cosmetology can be filled with modern dressing in the Igari Look technique. This study uses qualitative methods using descriptive. Data collection was obtained from interviews with make-up artists who used the Igari Look make-up technique in the Sunda Siger makeup and actively uploaded the makeup results in a portfolio on Instagram. Acculturation of Sundanese and Japanese culture in Sundanese Siger makeup is proof that Sundanese society is open with multiculturalism. The existence of Igari Look in the Sunda Siger makeup frame in essence is not an agreement to marginalize philosophical and historical meanings in any Sundanese Siger makeup, the innovation process of this make-up artist needs to be interpreted as cleft of young people.
KEYWORDS
Akulturasi, Jepang-Sunda, Tata Rias, Igari Look, Sunda Siger
FULL TEXT:PDF
REFERENCES
DAFTAR SUMBER
Jurnal, Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, dan Tesis
Kusumah, Allizia Zulfa . 2017.
Pembentikan Perilaku Konsumerisme Global dan Difusi Budaya Jepang: Studi Kasus Yoshinoya di Bandung. Skripsi Fakultas Hubungan Internasional Universitas Katholik Parahyangan.
Ningtyas, Asmaus Salama Suwita dan Faidah. “Representasi Budaya Tata Rias Pengantin Malang Keputren dan Malang Keprabon”. E-Journal Tata Rias Unesa Volume 02 Nomor 01 Tahun 2013.
Nurhasan, Annisa Perbawasari. 2014. Kontribusi Hasil Kursus Tata Rias Pengantin Sunda Siger terhadap Kesiapan Menjadi Penata Rias Pengantin. Skripsi. Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia.
Pebrianti, Yossi. 2017.
Tinjauan tentang Tata Rias Pengantin Koto Nan Gadang di Kota Payakumbuh. Skripsi Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang.
Priendarningtyas. 2012.
Keberhasilan Soft Power Jepang dalam Pengaruh dan Perkembangan Komik Jepang. Skrips Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Safariani, Putri. “Penyebaran Pop Culture Jepang oleh Anime Festival Asia (AFA) di Indonesia tahun 2012-2016” dalam Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 2017.
Sartini. “Nilai-nilai Budaya Jepang: Tinjauan Aspek Nilai Progresif dan Ekspresif Kebudayaan dalam Jepang” dalam Jurnal Filsafat Universitas Gadjah Mada. Vol. 29, Juni 1999.
Buku
Ajidarma, 2016.
Jokowi, Sangkuni, Machiavelli. Bandung: Penerbit Mizan.
Adorno dan Horkheimer. 1979.
The Culture Industry Enlighment as Mass Deception. London:Verso.
Caturwati. Endang. 1997.
Tata Rias dan Busana Tari. Bandung: STSI Press.
Endraswara, Suwardi. 2006.
Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Giadi,Reita 2010.
Selamanya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ibrahim, Subandy Idi dan Akhmad. 2014.
Komunikasi dan Komodifikasi: Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta:Buku Obor.
Ida, Rachmah. 2014.
Metode Penelitian: Studi Media dan Kajian Budaya.Jakarta: Prenada Media Grup.
Ismayanti. 2010.
Pengantar Pariwisata.Jakarta:Grasindo.
Koentjaraningrat. 1990.
Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Liliweri, Alo. 2007.
Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LkiS.
Sachari, Agus. 2007.
Budaya Visual Indonesia: Membaca Makna Perkembangan Karya Visual di Indonesia Abad ke-20. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Santoso,Tien. 2010.
Tata Rias & Busana Pengantin Seluruh Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wibisana, dkk. 1986.
Arti Perlambang dan Fungsi Tata Rias Pengantin dalam Menanamkan Nilai-nilai Budaya Daerah Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Yusuf, Muri. 2017.
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan. Jakarta: Penerbit Kencana.
Website
www.bridestory.com/id/blog/2017-indonesia-wedding-trends-report-by-bridestory diakses pada 27 Novermber 2017
www.bridestory.com/id/blog/14-mahkota-adat-pernikahan-tradisional-indonesia diakses pada 27 November 2017.
www.Business.bridestory.com diakses pada 7 November 2017.
www.cewekbanget.grid.id/Fashion-And-Beauty/Tutorial-Igari-Makeup-Riasan-Cute-Yang-Hits-Banget-Di-Jepang diakses pada 2 Mei 2018.
www.kemenperin.go.id/artikel/18957/Industri-Kosmetik-Nasional-Tumbuh-20 diakses pada 29 Mei 2018.
Sumber Lisan/Informan
Eviyawati (55 tahun). Instruktur senior Sanggar Liza dan Marketing
Manager PAC Mazaya Cosmetic. 10 Mei 2018.
Mya (23 tahun). Make-up Artist.. 14 April 2018.
Salma, Muthia Khairunnisa (25 tahun). Make-up Artist. 13 April 2018
MASKULINITAS TENTARA DALAM SINEMA PASCA ORDE BARU; ANALISIS NARATIF DOEA TANDA CINTA (2015) DAN I LEAVE MY HEART IN LEBANON (2016)
Hary Ganjar Budiman, Aquarini Priyatna Priyatna, R.M. Mulyadi
ABSTRACT
Artikel ini membincangkan tentara dan maskulinitas melalui film Indonesia kontemporer. Dua film dianalisis dalam penelitian ini, yaitu Doea Tanda Cinta (2015) dan I Leave My Heart in Lebanon (2016). Mengacu pada paradigma kajian budaya yang dikemukakan oleh Stuart Hall, penelitian ini mencoba menempatkan film sebagai teks/wacana budaya yang perlu untuk dianalisis. Metode yang digunakan adalah metode kajian film yang menganalisis unsur sinematik dan naratif (histoire dan discourse). Melalui artikel ini dapat diketahui bahwa representasi maskulinitas tentara dalam film Indonesia kontemporer cenderung dinamis. Film Doea Tanda Cinta merepresentasikan model maskulinitas normatif yang diasosiasikan dengan hegemoni terhadap perempuan. Film ini mengangkat ideologi patriarki. Film I Leave My Heart in Lebanon merepresentasikan model maskulinitas laki-laki peduli (caring masculinity) yang tidak hegemonik terhadap perempuan.
This article discusses the army and masculinity through contemporary Indonesian films. Two films were analyzed in this study, namely Doea Tanda Cinta (2015) and I Leave My Heart in Lebanon (2016). Referring to the cultural study paradigm put forward by Stuart Hall, this study attempts to place film as a cultural text / discourse that needs to be analyzed. The method used is a film study method that analyzes cinematic and narrative elements (histoire and discourse). Through this article, it can be seen that the representation of army masculinity in contemporary Indonesian films tends to be dynamic. Doea Tanda Cinta film represents a model of normative masculinity associated with hegemony towards women. This film elevates patriarchal ideology. I Leave My Heart in Lebanon film represents a caring masculinity model that is not hegemonic to women.
KEYWORDS
army, film, representation, masculinities.
FULL TEXT:PDF
REFERENCES
DAFTAR SUMBER
Jurnal dan Disertasi
Barker, Thomas Alexander Charles. 2011.
Cultural Economy of The Contemporary Indonesian Film Industry. Disertasi. Singapur: National University of Singapore.
Clark, Marshall. “Men, Masculinities and Symbolic Violence in Recent Indonesian Cinema” dalam Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 35, No. 1. Maret 2004: 113-131.
Connell, R.W. dan James W. Messerschmidt. “Hegemonic Masculinity: Rethinking The Concept” dalam Gender and Society, Vol. 19, No. 6. Desember 2005: 829-859.
Donaldson, Mike. “What is Hegemonic Masculinity?” dalam Theory and Society, Vol. 22, No. 5. Oktober 1993: 643-657.
Elliot, Karla. “Caring Masculinities: Theorizing an Emerging Concept” dalam Men and Masculinities, Vol. 19, No. 3. 2016: 240-259.
Gurkan, Hasan dan Aybike Serttas. “The Representation of Masculinity in Cinema and on Television: An Analysis of Fictional Male Characters” dalam Euoropean Journal of Multidisciplinary Studies Vol. 5, No. 1. May-Agustus 2017: 402-408.
Nagel, Joane. “Masculinity and Nationalism: Gender and Sexuality in The Making of Nations” dalam Ethnic and Racial Studies 21, number 2 March 1998: 251–252.
Paramaditha, Intan, “Contesting Indonesian Nationalism and Masculinity in Cinema” dalam Jurnal Asian Cinema, Fall/Winter, 2007: 41-61.
Buku
Chapman, Rowena. 2014.
“Penipu Ulung: Variasi Tema Laki-laki Baru” Dalam Male Order: Menguak Maskulinitas, ed. Rowena Chapman dan Jonathan Rutherford. Yogyakarta: Jalasutra.
Chatman, Seymour. 1980.
Story and Discourse: Narrative Structure in Fiction and Film. United States of America: Cornell University.
Clark, Marshall. 2010.
Maskulinitas: Culture, Gender, and Politics in Indonesia. Australia: Monash University.
Connell, R. W. 1987.
Gender and Power: Society, Person, and Sexual Politics. Cambridge: Polity Press.
________. 2005.
Masculinities. Los Angeles: University of California.
Hall, Stuart. “Encoding Decoding” in The Cultural Studies Reader, ed Simon During. Second edition. London and New York: Routledge, 2001.
Heryanto, Ariel (ed.). 2008.
Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics. New York: Routledge.
________. 2015.
Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: KPG.
Irawanto, Budi. 2017.
Film, Hegemoni, dan Militer; Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia. Yogyakarta: Warning Book.
McClintock, Anne. 1995.
Imperial Lether: Race, Gender, and Sexuality in The Colonial Contest. New York: Routledge.
Peberdy, Donna. 2011.
Masculinity and Film Performance: Male Angst in Contemporary American Cinema. New York: Palgrave Macmillan.
Saukko, Paula. 2003.
Doing Research in Cultural Studies: An Intoduction to Classical and New Methodological Approaches. London: Sage.
Shiraishi, Saya Sasaki. 2009.
Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik. Jakarta: Nalar.
Seidler, Victor J. 2014.
“Fathering, Otoritas, dan Maskulinitas” Dalam Male Order: Menguak Maskulinitas, ed. Rowena Chapman dan Jonathan Rutherford. Yogyakarta: Jalasutra.
Sen, Krishna. 2009.
Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat, dan Sinema Orde Baru. Yogyakarta: Ombak.
Turner, Graeme. 1999.
Film as Social Practice. New York: Routledge.
Film
Nayoan, Ray. Jelita Sejuba. Jakarta: Drelin Amarga Pictures. 2018.
Setiawan, Benni. I Leave My Heart In Lebanon. Jakarta: Tebe Silalahi Pictures, Artha Graha Peduli. 2016.
Soejarwo, Rudi. Mengejar Matahari. Jakarta: Sinema Art, Kipass Communication. 2004.
Soerafani, Rick. Doea Tanda Cinta . Jakarta: Benoa, Cinema Delapan, Inkopad. 2015.
Surawidjaja, Alam. Janur Kuning. Jakarta: Metro 77. 1979.
Website
Heryanto, Ariel. “Historiografi Indonesia yang Rasis” [Video kuliah umum, Miriam Budihardjo Resource Center (MBRC) FISIP Universitas Indonesia, 22 Oktober atau 17 Juli 2017. https://www.youtube.com/watch?v=ejEjVA29lls [diakses 2 Mei 2018].
Matanasi, Petrik. “Dwipajana dan Film-Film daripada Soeharto”. Tirto.id, 23 Februari 2018, dalam https://tirto.id/dwipajana-dan-film-film-daripada-soeharto-cw53 [diakses 20 April 2018].
________. “Momentum Politik I Leave My Heart in Lebanon”. Tirto id, 9 Desember 2016, dalam https://tirto.id/momentum-politik-i-leave-my-heart-in-lebanon-b8PM [diakses, 2 Januari 2019].
Net TV. “Talk Show Film Doea Tanda Cinta – Indonesia Morning Show” dalam https://www.youtube.com/watch?v=KusHDTpHxzI [diakses 9 Januari 2019]
Puspen TNI. “Panglima TNI Resmikan Shooting Perdana Film I Leave My Heart in Lebanon” dalam https://www.youtube.com/watch?v=9qMZdAwM7oE&t=287s, [diakses 26 November 2018].
Siregar, Amir Syarif. “Doea Tanda Cinta”. Flickmagazine, 27 Mei 2015, dalam http://flickmagazine.net/news/3016-doea-tanda-cinta.html [diakses 2 Januari 2019].
Tribun News. “Doea Tanda Cinta, Angkat Kisah Siswa Akmil” dalam http://m.tribunnews.com/seleb/2014/10/15/doea-tanda-cinta-angkat-kisah-angkat-kisah-siswa-akmil, [diakses 18 Desember 2018].
ABSTRACT
Artikel ini membincangkan tentara dan maskulinitas melalui film Indonesia kontemporer. Dua film dianalisis dalam penelitian ini, yaitu Doea Tanda Cinta (2015) dan I Leave My Heart in Lebanon (2016). Mengacu pada paradigma kajian budaya yang dikemukakan oleh Stuart Hall, penelitian ini mencoba menempatkan film sebagai teks/wacana budaya yang perlu untuk dianalisis. Metode yang digunakan adalah metode kajian film yang menganalisis unsur sinematik dan naratif (histoire dan discourse). Melalui artikel ini dapat diketahui bahwa representasi maskulinitas tentara dalam film Indonesia kontemporer cenderung dinamis. Film Doea Tanda Cinta merepresentasikan model maskulinitas normatif yang diasosiasikan dengan hegemoni terhadap perempuan. Film ini mengangkat ideologi patriarki. Film I Leave My Heart in Lebanon merepresentasikan model maskulinitas laki-laki peduli (caring masculinity) yang tidak hegemonik terhadap perempuan.
This article discusses the army and masculinity through contemporary Indonesian films. Two films were analyzed in this study, namely Doea Tanda Cinta (2015) and I Leave My Heart in Lebanon (2016). Referring to the cultural study paradigm put forward by Stuart Hall, this study attempts to place film as a cultural text / discourse that needs to be analyzed. The method used is a film study method that analyzes cinematic and narrative elements (histoire and discourse). Through this article, it can be seen that the representation of army masculinity in contemporary Indonesian films tends to be dynamic. Doea Tanda Cinta film represents a model of normative masculinity associated with hegemony towards women. This film elevates patriarchal ideology. I Leave My Heart in Lebanon film represents a caring masculinity model that is not hegemonic to women.
KEYWORDS
army, film, representation, masculinities.
FULL TEXT:PDF
REFERENCES
DAFTAR SUMBER
Jurnal dan Disertasi
Barker, Thomas Alexander Charles. 2011.
Cultural Economy of The Contemporary Indonesian Film Industry. Disertasi. Singapur: National University of Singapore.
Clark, Marshall. “Men, Masculinities and Symbolic Violence in Recent Indonesian Cinema” dalam Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 35, No. 1. Maret 2004: 113-131.
Connell, R.W. dan James W. Messerschmidt. “Hegemonic Masculinity: Rethinking The Concept” dalam Gender and Society, Vol. 19, No. 6. Desember 2005: 829-859.
Donaldson, Mike. “What is Hegemonic Masculinity?” dalam Theory and Society, Vol. 22, No. 5. Oktober 1993: 643-657.
Elliot, Karla. “Caring Masculinities: Theorizing an Emerging Concept” dalam Men and Masculinities, Vol. 19, No. 3. 2016: 240-259.
Gurkan, Hasan dan Aybike Serttas. “The Representation of Masculinity in Cinema and on Television: An Analysis of Fictional Male Characters” dalam Euoropean Journal of Multidisciplinary Studies Vol. 5, No. 1. May-Agustus 2017: 402-408.
Nagel, Joane. “Masculinity and Nationalism: Gender and Sexuality in The Making of Nations” dalam Ethnic and Racial Studies 21, number 2 March 1998: 251–252.
Paramaditha, Intan, “Contesting Indonesian Nationalism and Masculinity in Cinema” dalam Jurnal Asian Cinema, Fall/Winter, 2007: 41-61.
Buku
Chapman, Rowena. 2014.
“Penipu Ulung: Variasi Tema Laki-laki Baru” Dalam Male Order: Menguak Maskulinitas, ed. Rowena Chapman dan Jonathan Rutherford. Yogyakarta: Jalasutra.
Chatman, Seymour. 1980.
Story and Discourse: Narrative Structure in Fiction and Film. United States of America: Cornell University.
Clark, Marshall. 2010.
Maskulinitas: Culture, Gender, and Politics in Indonesia. Australia: Monash University.
Connell, R. W. 1987.
Gender and Power: Society, Person, and Sexual Politics. Cambridge: Polity Press.
________. 2005.
Masculinities. Los Angeles: University of California.
Hall, Stuart. “Encoding Decoding” in The Cultural Studies Reader, ed Simon During. Second edition. London and New York: Routledge, 2001.
Heryanto, Ariel (ed.). 2008.
Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics. New York: Routledge.
________. 2015.
Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: KPG.
Irawanto, Budi. 2017.
Film, Hegemoni, dan Militer; Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia. Yogyakarta: Warning Book.
McClintock, Anne. 1995.
Imperial Lether: Race, Gender, and Sexuality in The Colonial Contest. New York: Routledge.
Peberdy, Donna. 2011.
Masculinity and Film Performance: Male Angst in Contemporary American Cinema. New York: Palgrave Macmillan.
Saukko, Paula. 2003.
Doing Research in Cultural Studies: An Intoduction to Classical and New Methodological Approaches. London: Sage.
Shiraishi, Saya Sasaki. 2009.
Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik. Jakarta: Nalar.
Seidler, Victor J. 2014.
“Fathering, Otoritas, dan Maskulinitas” Dalam Male Order: Menguak Maskulinitas, ed. Rowena Chapman dan Jonathan Rutherford. Yogyakarta: Jalasutra.
Sen, Krishna. 2009.
Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat, dan Sinema Orde Baru. Yogyakarta: Ombak.
Turner, Graeme. 1999.
Film as Social Practice. New York: Routledge.
Film
Nayoan, Ray. Jelita Sejuba. Jakarta: Drelin Amarga Pictures. 2018.
Setiawan, Benni. I Leave My Heart In Lebanon. Jakarta: Tebe Silalahi Pictures, Artha Graha Peduli. 2016.
Soejarwo, Rudi. Mengejar Matahari. Jakarta: Sinema Art, Kipass Communication. 2004.
Soerafani, Rick. Doea Tanda Cinta . Jakarta: Benoa, Cinema Delapan, Inkopad. 2015.
Surawidjaja, Alam. Janur Kuning. Jakarta: Metro 77. 1979.
Website
Heryanto, Ariel. “Historiografi Indonesia yang Rasis” [Video kuliah umum, Miriam Budihardjo Resource Center (MBRC) FISIP Universitas Indonesia, 22 Oktober atau 17 Juli 2017. https://www.youtube.com/watch?v=ejEjVA29lls [diakses 2 Mei 2018].
Matanasi, Petrik. “Dwipajana dan Film-Film daripada Soeharto”. Tirto.id, 23 Februari 2018, dalam https://tirto.id/dwipajana-dan-film-film-daripada-soeharto-cw53 [diakses 20 April 2018].
________. “Momentum Politik I Leave My Heart in Lebanon”. Tirto id, 9 Desember 2016, dalam https://tirto.id/momentum-politik-i-leave-my-heart-in-lebanon-b8PM [diakses, 2 Januari 2019].
Net TV. “Talk Show Film Doea Tanda Cinta – Indonesia Morning Show” dalam https://www.youtube.com/watch?v=KusHDTpHxzI [diakses 9 Januari 2019]
Puspen TNI. “Panglima TNI Resmikan Shooting Perdana Film I Leave My Heart in Lebanon” dalam https://www.youtube.com/watch?v=9qMZdAwM7oE&t=287s, [diakses 26 November 2018].
Siregar, Amir Syarif. “Doea Tanda Cinta”. Flickmagazine, 27 Mei 2015, dalam http://flickmagazine.net/news/3016-doea-tanda-cinta.html [diakses 2 Januari 2019].
Tribun News. “Doea Tanda Cinta, Angkat Kisah Siswa Akmil” dalam http://m.tribunnews.com/seleb/2014/10/15/doea-tanda-cinta-angkat-kisah-angkat-kisah-siswa-akmil, [diakses 18 Desember 2018].
