WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label rosyadi. Show all posts
Showing posts with label rosyadi. Show all posts

Mengenali Kembali Permainan Tradisional Anak-Anak

Oleh: Rosyadi

I PENDAHULUAN
Wacana tentang kebudayaan lokal atau kebudayaan suku bangsa dewasa ini nampaknya tenggelam, tersisihkan oleh wanana-wacana yang lebih populer seperti wacana tentang dunia politik, ekonomi, dan hukum. Terbukti dengan sangat sedikitnya sosialisasi, publikasi, maupun tayangan-tayangan di media elektronik yang berani menampilkan wacana kebudayaan lokal ketimbang wacana politik, ekonomi, dan hukum. 

Keadaan ini terkait erat dengan kondisi budaya masyarakat dewasa ini yang lebih memunculkan konsep-konsep modernisasi, sehingga segala sesuatu yang berbau tradisi, adat-istiadat ataupun kebudayaan dipandang tidak bermutu, tidak rasional, dan jalan di tempat. Berbicara tentang adat istiadat seolah tidak lagi memberikan manfaat dan kontribusi bagi kemajuan, dan kehidupan di masa kini dan ke depan. Wacana tentang kebudayaan lokal pun akhirnya hanya bergulir di antara para pemerhati dan peminat kebudayaan saja, dan sangat kurang menarik fihak lain untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Ironisnya, mereka yang peduli dengan kebudayaan lokal ini umumnya adalah yang termasuk golongan atau generasi tua, Sangat jarang generasi muda yang tertarik dan meminati kebudayaan lokal. Itulah fenomena kebudayaan yang kita dapati sekarang ini. 

Salah satu kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan nasional adalah mensosialisasikan berbagai unsur kebudayaan lokal atau kebudayaan etnik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu unsur kebudayaan yang hingga kini masih ada adalah permainan tradisional, atau lazim juga disebut permainan rakyat, yang merupakan bagian dari folklor. 

Menurut Alan Dundes, folklor memiliki ciri-ciri pengenal sebagai berikut:
a) penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan;
b) bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar, dan telah beredar sedikitnya selama dua generasi;
c) terdiri atas berbagai versi atau varian;
d) bersifat anonim;
e) biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola;
f) mempunyai kegunaan bagi kehidupan kolektif pendukungnya;
g) menjadi milik bersama kolektif tertentu;

Pada umumnya permainan tradisional sangat menonjolkan fungsi sosial. Ini dapat dilihat dari sifat-sifat permainan tradisional yang biasanya dilakukan di luar rumah atau di tempat terbuka dengan pelaku yang lebih dari satu orang. Demikian pula nilai-nilai sosialnya cukup menonjol, seperti nilai kerjasama, sportifitas, dan kompetitif. Karena sifatnya yang harus dimainkan di luar rumah, maka biasanya untuk melakukan permainan tradisional diperlukan halaman yang cukup luas atau tanah lapang. Dulu prasarana berupa tanah lapang ini masih cukup banyak tersedia. Namun kini, sejalan dengan perkembangan zaman dan pertambahan penduduk yang sangat pesat, mengakibatkan luas lahan yang tersedia untuk bermain menjadi semakin berkurang.

Hal lain yang mempengaruhi keberadaan permainan tradisional adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan iptek bukannya memperkokoh keberadaan permainan tradisional, akan tetapi sebaliknya malah semakin menyisihkan keberadan permainan tradisional. Kini permainan tradisional semakin jarang dikenali oleh anak-anak. Mereka, khususnya di daerah perkotaan memiliki jenis-jenis permainan baru melalui media komputer, dengan berbagai jenis gamesnya. Melalui jenis-jenis permainan baru ini, tanpa harus keluar rumah, dan tanpa harus ada teman, mereka bisa melakukan permainan di dalam rumah. 

Ada beberapa perbedaan yang sangat mendasar antara jenis-jenis permainan tradisional dengan permainan modern. Kalau permainan tradisional lebih menonjolkan nilai-nilai sosial, maka permainan modern lebih bersifat individualis, karena mereka tidak memerlukan teman bermain untuk melangsungkan permainan ini. Permasalahannya adalah dengan semakin terpinggirkannya permainan tradisional, akankah nilai-nilai sosial dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam permainan tradisional ikut musnah? Hal ini pula yang melatarbelakangi pentingnya dilakukan kegiatan perekaman audio-visual mengenai permainan tradisional.

II ANEKA RAGAM PERMAINAN TRADISIONAL ANAK-ANAK
Dunia anak adalah dunia bermain. Tiada hari tanpa bermain, itulah dunia anak-anak. Anak-anak di Desa Banyuresmi - Kabupaten Garut mengenal beberapa jenis permainan tradisional, yang sekali-sekali masih mereka mainkan, seperti permainan panggal (gasing), egrang jajangkungan, egrang batok, perepet jengkol, rorodaan, gampar atau gagamparan, dan beberapa jenis permainan lainnya. Kendatipun permainan-permainan ini kini sudah tidak seperti dulu lagi, khususnya dalam hal intensitas permainannya, akan tetapi beberapa di antaranya masih suka dimainkan oleh anak-anak, sehingga permianan-permainan ini tidak sampai musnah. Kondisi ini adalah berkat inisiatif dan kreatifitas para orang tua yang menghendaki agar permianan tradisional anak-anak yang dulu mereka gemari tidak sampai hilang. Atas dasar pemikiran itu, para orang tua membentuk suatu komunitas yang khusus melestarikan permainan tradisional. 

Selanjutnya, yang juga mendukung upaya pelestarian permainan tradisional ini adalah penyelenggaraan lomba dan festival permainan anak-anak yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, yang dikenal dengan event “Alimpaido”. Pemerintah Daerah Kabupaten Garut sendiri cukup rajin menyelenggarakan event-event semacam ini. Kerjasama yang baik antara masyarakat, budayawan dan pemerintah daerah inilah yang turut mendukung lestarinya permainan tradisional anak-anak di Garut.

1. Permainan Egrang
Egrang atau jajangkungan, yaitu sebuah permainan berjalan menggunakan alat yang terbuat dari bambu. Istilah “egrang “ di samping nama sebutan sebuah permainan, juga sekaligus nama alat yang digunakan untuk permainan tersebut.

Pemain
Permainan egrang dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki maupun perempuan yang berusia 7- 13 tahun. Permainan egrang kerap diperlombakan. Jenis perlombaannya adalah adu kecepatan dengan melintasi rintangan yang menyerupai jembatan terbuat dari bambu. Peserta perlombaan biasanya adalah anak-anak yang berusia antara 7 - 13 tahun, dengan jumlah pemain 2 - 5 orang.

Tempat dan Peralatan Permainan
Untuk melakukan permainan egrang, tidak dibutuhkan tempat atau lapangan yang khusus, karena permainan ini dapat dimainkan di mana saja seperti di tepi pantai, di tanah lapang atau pun di jalan. 

Peralatan yang digunakan adalah dua batang bambu yang relatif lurus dan sudah tua dengan panjang masing-masing antara 2 - 3 meter. Cara membuatnya adalah sebagai berikut. Mula-mula bambu dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya masing-masing sekitar 2 - 3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain menjadi dua bagian dengan ukuran masing-masing sekitar 20-30 cm untuk dijadikan pijakan kaki. Selanjutnya, salah satu ruas bambu yang berukuran panjang dilubangi untuk memasukkan bambu yang berukuran pendek. Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut sudah menjadi egrang, dan siap untuk digunakan.

Jalannya Permainan
Apabila permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari), maka permainan ini diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu egrangnya masing-masing. Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain egrang, mereka dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan tangga, lalu berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Setelah diberikan aba-aba, para pemain segera berlari menuju garis finish. Pemain yang lebih dahulu mencapai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya.

2. Permaianan Egrang Batok
Selain mengenal egrang dari bambu, anak-anak masyarakat Garut juga mengenal egrang batok. Egrang jenis terakhir ini dibuat dari bahan dasar tempurung kelapa (batok kalapa) yang dipadu dengan tambang plastik. Fungsi utamanya adalah alat untuk berjalan yang diciptakan dan dibuat untuk bermain bagi dunia anak. Egrang batok tidak terbatas untuk dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi juga kadang dipakai untuk bermain anak perempuan. Permainannya pun cukup mudah, kaki tinggal diletakkan di atas masing-masing tempurung, sementara kedua tangan memegangi talinya. Selanjutnya pemain berjalan di atas tumpuan kedua batok kelapa tersebut. 

Tempurung yang dipakai biasanya berasal dari buah kelapa tua yang telah dibersihkan dari sabutnya. Kemudian tempurung itu dibelah menjadi dua bagian. Isi kelapa dikeluarkan dari tempurung. Tempurung yang terbelah menjadi dua bagian ini kemudian dihaluskan bagian luarnya agar kaki yang berpijak di atasnya bisa merasa nyaman. Masing-masing belahan tempurung kemudian diberi lubang di bagian tengah. Masing-masing lubang tempurung dimasuki tali sepanjang sekitar 2 meter dan diberi pengait. Tali yang digunakan biasanya tali lembut dan kuat, bisa berupa tambang plastik. 

Permainan egrang batok bisa dimainkan secara individu maupun kelompok. Kadang-kadang, permainan, biasa pula dipakai untuk perlombaan. Tentu di sini anak diuji ketangkasan dan kecepatan berjalan di atas egrang batok. Anak yang paling cepat berjalan tanpa harus jatuh dianggap sebagai pemenang.

3. Permainan Rorodaan
Permainan “rorodaan” jenis ini dibuat dari bahan papan dan bambu. “Rorodaan” tidak hanya dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi juga dimainkan oleh anak perempuan. Permainannya pun cukup mudah, tinggal duduk di atas “rorodaan”, sementara teman yang lainnya mendorong dari belakang agar “rorodaan” berjalan.

Permainan tradisional yang menggunakan alat seperti permainan “rorodaan” ini, pada umumnya bahan dasarnya banyak diperoleh di sekitar lingkungan anak. Papan yang dipakai biasanya papan albasia tua yang telah diserut dibersihkan dari sabutnya. Kemudian papan itu digergaji berbentuk bundar, fungsinya buat roda. Demikian juga karoserinya (badannya) terbuat dari papan, sedangkan tempat duduknya terbuat dari bambu, pengendali atau stirnya dari bambu dan ranting kayu.

4. Permainan Engkle
Permainan engkle merupakan permainan tradisional lompat – lompatan pada bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah. Di beberapa daerah, permainan engkle ini disebut dengan istilah sondah. Pertama-tama dibuat 8 buah kotak berbentuk salib di atas tanah. 

Cara bermainanya sederhana saja, cukup melompat menggunakan satu kaki disetiap petak – petak. Untuk dapat bermain setiap anak harus mempunyai “kojo” yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai atau pun batu yang pipih. “Kojo” dilempar ke salah satu petak. Petak yang ada “kojo”nya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak- petak yang ada. Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang telah disediakan jika melebihi maka dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya. 

Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu melemparkan “kojo”nya ke dalam petak dengan cara membelakangi. Di petak mana “kojo”nya itu jatuh, maka petak itu akan menjadi “sawah”nya, artinya di petak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak tersebut dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki “sawah” paling banyak adalah pemenangnya.

5. Gasing dari Garut
Bahasa daerah yang digunakan masyarakat Jawa Barat untuk menyebut gasing adalah Panggal. Dalam lingkup terbatas, ulin panggal, demikian masyarakat Jawa Barat menyebutnya, masih hidup. Namun di beberapa daerah (perkotaan) pengetahuan tentang panggal didominasi oleh kalangan generasi tua. Nyaris generasi muda (baca : anak-anak) tidak lagi mengenalnya.

Sampai tahun-tahun awal kemerdekaan, gasing masih menjadi permainan anak-¬anak, bahkan orang dewasa. Terdapat beberapa jenis gasing dan cara memainkannya. Gasing kayu dimainkan dengan tujuan untuk menikmati putaran dan juga bunyinya, khususnya dalam permainan "babantaan". Permainan-permainan itu menuntut si pemain untuk terampil, khususnya dalam mengukur ketepatan kekuatan yang dipergunakan dan arah yang dituju. 

Masyarakat Sunda di Jawa Barat mengenal dua jenis gasing, yaitu gasing untuk “kalangenan” dan gasing untuk aduan. Gasing untuk “kalangenan” biasa dibuat dari bahan pohon yang lunak atau ringan. Oleh karena pada jenis gasing ini yang dijadikan tujuan adalah menghasilkan bunyi atau suara sekeras mungkin. Tercatat pohon (kayu) galinggem dan waru sering dijadikan bahan untuk jenis gasing kalangenan. Sedangkan jenis adu biasanya terbuat dari pohon (kayu) keras, misalnya jambu klutuk (jambu batu), pohon pete cina (sunda : peuteuy selong).

Bentuk gasing Jawa Barat relatif kecil dan bervariasi. Ada yang berkepala, ada juga yang tidak. Secara umum gasing atau panggal dapat dibagi kedalam tiga (3) bagian, yaitu :
1. Hulu (kepala)
2. Awak (badan)
3. Suku(kaki)

Ciri khas panggal Jawa Barat terletak di samping pada kerampingan bentuknya, juga terletak pada bagian sukunya yang terbuat dari logam (paku). Pada bagian ini pemain sering memipihkan pakunya sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentuk seperti kapak. Fungsinya adalah untuk menancapkan sekaligus membelah gasing lawan.

Selanjutnya, guna menambah nilai estetika, baik gasing kalangenan maupun gasing adu, sering diberi cat warna-warni. Tak ada warna khusus atau aturan yang mengatur tentang pewarnaan ini. Biasanya tergantung selera pembuat atau pemilik gasing.

Sebuah gasing atau panggal belumlah bisa dimainkan tanpa disertai dengan tali pemutarnya. Tali ini dibuat (dahulu) dari kain bekas (sunda: samping kebat butut) yang “dirara” (dipilin atau dipintal). Belakangan, tali ini dibuat dari bola kanteh (benang katun). Tali yang baik adalah tali yang tidak berminyak atau licin. Oleh karena itu, guna menghasilkan tarikan yang keras dan cepat tali tersebut sebelum dipakai direndam dalam air beberapa saat. Tujuannya agar tali dapat mengcekram lebih kuat dan tidak licin (sunda : seuseut).

Tempat bermain dapat dilakukan di dua tempat yang sangat bergantung juga pada jenis panggal yang dimainkan. Untuk jenis gasing kalangenan relatif tidak memerlukan tanah lapang yang luas. Cukup dijauhkan dari benda-benda yang mudah pecah, seperti kaca atau barang pecah belah lainnya. Namun untuk gasing adu sebaiknya di tanah lapang datar yang tidak bergelombang agar lebih leluasa dan jauh dari kerusakan benda-benda sekitarnya. Ukuran tidak ditentukan dengan jarak yang pasti, namun lebih dititikberatkan pada kondisi tanah lapangan itu sendiri.

Ada dua jenis permainan yang sering dilakukan (dimainkan). Pertama, palelet-lelet (lama berputar), dan kedua rawatan atau ngadu panggal. Penentuan kalah menang dalam palelet-lelet adalah lamanya berputar yang dihitung dari saat gasing mendarat hingga berhenti dengan sendirinya. Gasing yang lebih awal berhenti adalah gasing yang mati atau kalah. Sementara, gasing yang masih berputar itulah pemenangnya.

Ada dua cara bertanding: pertama, mengadu bunyi; dalam hal ini yang diperlombakan adalah kenyaringan bunyi panggal, yang dalam istilah setempat disebut patarik-tarik sora. Kedua, lomba yang disebut palelet-lelet; dalam hal ini yang diperlombakan adalah lama putaran. Jenis lomba mana yang akan diambil, bergantung pada kesepakatan pemain, apakah akan “mengadu” bunyi (patarik-tarik sora) atau palelet-lelet atau keduanya.

Pada jenis permainan ini sering pula disertai dengan pintonan untuk memperlihatkan kepiawaiannya memainkan gasing. Misalnya, gasing diangkat dengan tali dan diterima dengan telapak tangan atau tidak menutup kemungkinan dimainkan di atas dahi. 

Berbeda dengan palelet-lelet, jenis permainan (Rawatan) adu panggal membutuhkan aturan tersendiri. Prinsip dasarnya adalah memindahkan gasing (panggal) dari kalang kecil ke kalang besar. Jarak antara kalang tersebut disesuaikan dengan kondisi tanah lapang. Kalang biasanya berupa lingkaran kecil dan lingkaran besar.

Sumber: Makalah disampaikan pada acara Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan Subang 2012 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung.

Kesenian Jaipong : Antara Karawang – Bandung

Oleh Rosyadi

Pendahuluan
Masyarakat Sunda memiliki khasanah seni budaya yang amat kaya dan beragam. Kreativitas seniman tradisional Sunda telah menciptakan berbagai jenis kesenian tradisional yang mampu mengangkat kebudayaan Sunda. Satu di antaranya adalah kesenian jaipong. 

Jaipong termasuk ke dalam genre seni tari yang mengutamakan keindahan gerak tubuh. Seni tari merupakan gerak-gerak yang memiliki unsur keindahan, di dalamnya memiliki pola-pola gerak khusus sesuai dengan masing-masing tariannya. Yang membedakan gerakan-gerakan tari dengan gerak-gerak tubuh lain pada umumnya adalah terletak pada pola-pola, unsur keindahan, dan ekspresi. Royce (2007:4) menjelaskan, bahwa dasar semua definisi tari adalah anggitan ritme atau gerak yang terpola. Definisi ini belum cukup untuk membedakan gerak tari dari berbagai aktivitas ritmis yang lain, seperti olah raga, baris berbaris,dan aktivitas gerak lainnya. Dalam hal ini, Murgiyanto (2002:10) menambahkan, bahwa gerak dalam sebuah tarian harus ekspresif atau mengungkapkan sesuatu. Jadi, gerak tari itu ditandai dengan sebuah ekspresi yang lebih daripada gerak biasanya. 

Seni tari sudah sejak jaman dulu dikenal oleh masyarakat Sunda. Kesenian ronggeng, doger dan ketuk tilu, misalnya, merupakan jenis-jenis kesenian tradisional masyarakat Sunda yang sudah ada sejak jaman dulu. Dalam khasanah seni pertunjukan, ronggeng, doger dan ketuk tilu termasuk ke dalam genre seni tari yang dalam setiap pertunjukan sangat menonjolkan unsur-unsur gerak ritmis diiringi hentakan musik gamelan. Penarinya adalah satu atau beberapa perempuan yang sudah dilatih secara khusus dengan gerakan-gerakan tubuh yang lemah gemulai. 

Mengenai penamaan jaipong, Soepandi, (1998:49) menjelaskan bahwa penamaan jaipong berasal dari masyarakat Karawang. Jaipong pada mulanya sebagai istilah kepada bunyi-bunyi (onomotofe) kendang iringan tari rakyat yang menurut mereka berbunyi/jaipong/, jaipong/. Tepak kendang jaipong yang pada mulanya sebagai iringan tari pergaulan ini, dalam bajidoran di daerah Subang dan Karawang selanjutnya dijadikan nama jenis tari pergaulan kreasi baru, yaitu jaipong. Tepak atau bunyi kendang tersebut merupakan asal-muasal lahirnya sebutan tari jaipong.

Jaipong : Antara Karawang – Bandung
Belakangan ini terdapat polemik mengenai asal usul kesenian jaipong; dari mana asal usul kesenian jaipong dan siapakah penciptanya. Berbicara tentang asal usul kesenian jaipong, tidak dapat dilepaskan dari dua orang maestro seniman besar Sunda, yaitu H. Suwanda dan Gugum Gumbira. 

H. Suwanda adalah seorang seniman dari Karawang yang memiliki keahlian dalam memainkan gendang. Melalui tangan dinginnya pula lahir kesenian jaipong, seperti yang dituturkan kepada penulis ketika ditemui di kediamannya yang beralamat di Kampung Karangsambung RT.06/05 Kelurahan Tanjung Mekar, Kecamatan Karawang Barat - Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

“Jaipong adalah asli ciptaan saya yang diciptakan pada tahun 1976 di padepokan ini (Padepokan Suwanda Group). Ketika itu saya masih cerdas, saya coba meramu dari tepak-tepak gendang ketuk tilu, wayang, kendang penca (pendak silat), doger, banjet, dan bahkan tarling. Semua kesenian itu saya ramu yang kemudian melahirkan seni jaipong. Ketika itu hasil-hasil karya saya sudah mulai direkam, tapi dengan cara yang sederhana karena terbentur faktor ketiadaan modal. Tapi Alhamdulillah hasil ciptaan saya itu diterima baik oleh masyarakat, sehingga semenjak saat itu Karawang “geunjleung” (santer) dengan kesenian jaipongnya. Hampir pada setiap hajatan selalu ditampilkan kesenian jaipong.

Tahun 1976 saya ditarik ke Bandung oleh Gugum Gumbira untuk bergabung dengan group Jugala yang dipimpin oleh Gugum Gumbira. Di Jugala Group, saya menjadi pemukul gendang sekaligus peñata karawitannya. Gugum Gumbira sendiri sangat mengapresiasi kemampuan saya dalam memainkan gendang, sehingga dengan keahliannya dalam bidang koreografi, Gugum Gumbira menciptakan beberapa tarian jaipong. Akhirnya kerjasama saya dengan Gugum Gumbira mampu mengangkat jaipong menjadi kesenian Sunda yang sangat popular, bukan hanya di dalam negeri, melainkan telah memancanegara…..” Demikian penuturan H. Suwanda.

Jaipong lahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H Suwanda sekitar tahun 1976 di Karawang. Jaipong merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi Karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain. Jaipong di Karawang pesat pertumbuhannya, ditandai dengan munculnya rekaman Jaipong SUANDA GROUP dengan instrumen sederhana yang terdiri dari kendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih. Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut, jaipong mulai didistribusikan secara swadaya oleh H Suwanda di wilayah Karawang dan sekitarnya. Ternyata jaipong mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat Karawang, sehingga jaipong menjadi sarana hiburan masyarakat Karawang dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari segenap masyarakat Karawang. Jaipong pun menjadi fenomena baru dalam ruang seni budaya Karawang, khususnya seni pertunjukan hiburan rakyat. Posisi jaipong pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan alternatif dari seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di Karawang seperti penca silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek. Keberadaan jaipong memberikan warna dan corak yang baru dan berbeda dalam bentuk pengemasannya, mulai dari penataan pada komposisi musikalnya hingga dalam bentuk komposisi tariannya.

Seorang seniman Sunda lainnya yang juga berperan besar dalam proses penciptaan kesenian jaipong adalah Gugum Gumbira. Ia adalah pimpinan sebuah grup kesenian Sunda di Bandung yang diberi nama JUGALA GRUP. Jugala adalah akronim dari Juara dalam Gaya dan Lagu. Kecintaannya pada seni tari, telah melambungkan Gugum Gumbira menjadi seorang seniman besar tari yang telah melahirkan karya-karya besar. Jaipong adalah salah satu di antara hasil karyanya. 

Gugum sangat tertarik dengan kemampuan Suwanda dalam memukul gendangnya yang enerjik, dinamis, dan khas. Gugum Gumbira pun akhirnya merekrut Suwanda ke dalam grup jaipong yang dipimpinnya. Bergabungnya Suwanda ke Jugala Grup semakin mendorong Gugum Gumbira untuk menciptakan tarian-tarian kreasi baru yang diolah dari tari-tari tradisional. Tarian karya Gugum Gumbira pada awal munculnya disebut “ketuk tilu perkembangan”, karena memang dasar tarian itu merupakan pengembangan dari ketuk tilu.

Karya awal Gugum Gumbira itu masih sangat kental dengan warna ibing ketuk tilu, baik dari segi koreografis maupun iringannya. Kemudian, tarian itu menjadi populer dengan sebutan jaipong. Kurnia, (2003:12) menjelaskan bahwa Jaipong adalah seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Ia terinspirasi pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah ketuk tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada kliningan atau bajidoran atau ketuk tilu. Sehingga ia dapat mengembangkan tarian atau kesenian yang kini di kenal dengan nama Jaipong. Tari kreasi baru ini diciptakan dan dikembangkan oleh Gugum Gumbira Akhirnya membudaya di Jawa Barat dan di seluruh Indonesia.

Karya jaipong pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari daun pulus keser bojong dan rendeng bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Awal kemunculan tarian tersebut semula dianggap sebagai gerakan yang erotis dan vulgar, namun semakin lama tari ini semakin popular dan mulai meningkat frekuensi pertunjukannya baik di media televisi, hajatan, maupun perayaan-perayaan yang disenggalarakan oleh pemerintah atau oleh pihak swasta.

Pada tahun 1979 jaipong mengalami proses transformasi dan penataan (stilisasi), baik dalam pola tepak gendang maupun dalam ibing (tarian), juga dalam penciptaan komposisi tembang (lagu). Melalui tangan dingin seorang seniman asal Bandung, yaitu Gugum Gumbira, maka mulai saat itu jaipong yang terlahir di Karawang dibesarkan dalam khasanah kemasan seni yang mutakhir dan lebih modern. Semua bentuk dan model tepak gendang disusun dan diberikan pola yang lebih terstruktur yang kemudian diurai dan dituangkan ke dalam beberapa komposisi lagu yang sesuai dengan tuntutan pasar (commercial). Maka muncullah pada saat itu di Kota Bandung grup kesenian jaipong yang melegenda, yaitu JUGALA (Juara dalam gaya dan Lagu) dengan tembang hitsnya seperti “Daun Pulus Keser Bojong”, “Serat Salira”, “Randa Ngora” dan banyak lagi. 

Komposisi yang dibawakan oleh Jugala berbeda dengan komposisi awal yang dimainkan oleh Suwanda Grup selaku pelopor dari lahirnya musik jaipong di Karawang, meskipun Suwanda sendiri terlibat di dalamnya sebagai penabuh gendang. Ini disebabkan Suwanda memainkan gendang berdasarkan pada pola yang sudah disusun secara cermat oleh komposernya, yaitu Gugum Gumbira. Gaya dari bentuk elemen jaipong serta kualitas dan ekspresinya dikemas dalam pola-pola yang terbarukan, sehingga sosok jaipong seolah terlahir kembali dengan balutan gaya modern. 

Puncaknya, pada tahun 1984, Suwanda bersama Jugala Grup melanglang buana ke Jerman Barat. Seperti pernyataan yang terdapat di dalam dokumen Asep Saepudin (2007:25), bahwa: Suwanda bersama Jugala melanglang buana ke Jerman Barat. Bagi Suwanda, saat melanglang buana ke Jerman, merupakan pengalaman yang paling berkesan dalam menjalani hidupnya sebagai seniman. “Saya bersama rombongan manggung di beberapa kota di Jerman,” ungkap Suwanda tanpa menyebutkan nama kotanya. Ternyata orang luar negeri sangat menghargai kesenian kita. Mereka sangat antusias, ada beberapa di antaranya, ketika musik melantun turut serta ngibing, meskipun tidak sesuai dengan irama gendang.

Jaipong sebagai Seni Pertunjukan Rakyat
Jaipong adalah salah satu kesenian tradisional Sunda yang termasuk ke dalam jenis seni pertunjukan rakyat. Sayutini (2012:20) memaparkan bahwa seni pertunjukan rakyat merupakan sebuah bentuk kegiatan seni yang dipentaskan dalam bentuk tarian atau pertunjukan musik yang ditujukan kepada masyarakat. Dalam seni pertunjukan rakyat ada yang dinamakan aksi dan reaksi. Aksi berarti sebuah penampilan atau pertunjukan kesenian, baik itu tari-tarian maupun pertunjukan musik dengan segala teknik-tekniknya untuk mendapatkan respon dari orang yang menyaksikannya. Sedangkan reaksi adalah respon atau akibat dari aksi yang dipertunjukkan oleh seniman dalam panggung seni. Reaksi dapat berupa senyuman, tawa, canda, maupun tepuk tangan dari penonton ketika melihat sebuah pertunjukan seni. 

Gerak-gerak tarian jaipong dengan gerak tubuh yang menghibur dimaknai sebagai sebuah pesan atau komunikasi oleh para penontonnya. Penonton, sebagai komunikan, memaknai gerak-gerak tubuh penari sesuai dengan persepsinya masing-masing, sehingga antara seniman (komunikator) dan penontonnya (komunikan) terjadi interaksi atau hubungan timbal balik di antara keduanya dalam sebuah pertunjukan seni.

Dalam seni pertunjukan jaipong, komunikasi antara penari dengan penonton terjalin dengan erat. Penonton dapat pula terlibat secara aktif dalam seni pertunjukan Jaipong. Soedarsono (2002:58) menjelaskan, bahwa biasanya di Indonesia bentuk pertunjukan yang berfungsi sebagai sarana hiburan pribadi disajikan oleh wanita, dan yang ingin mendapatkan hiburan adalah pria yang bisa menari bersama penari wanita tersebut.

Sang penari laki-laki dari kalangan penonton dikenal dengan sebutan “bajidor”. Dalam seni pertunjukan Jaipong, penari laki-laki yang berasal dari kalangan penikmatnya (“bajidor”) tidak dituntut untuk menari sama persis dengan penari wanitanya; Tidak ada aturan ketat bagi penari laki-laki yang ikut menari bersama penari wanitanya. Sang penari laki-laki dapat menari sesuka hati sesuai kemampuannya, mengikuti iringan tepukan gendang yang dominan dalam pertunjukan seni jaipong. Artinya, ada keleluasaan bagi penari laki-laki untuk mengekspresikan tariannya. Hal ini menjadikan keunikan tersendiri dari seni pertunjukan jaipong yang berfungsi sebagai sarana hiburan pribadi, yang mampu menciptakan suasana kebersamaan, keakraban, dan kegembiraan. Lain halnya dengan penari wanita, yang merupakan seniman di atas pentas yang wajib memperagakan tariannya sesuai dengan pola-pola latihan yang ditekuninya.

Perkembangan Kesenian Jaipong
Era modernisasi dan globalisasi membawa dua sisi dampak bagi keberadaan kesenian-kesenian tradisional. Di satu sisi, modernisasi dan kemajuan iptek membawa dampak negatif bagi keberadaan kesenian tradisional. Berbagai jenis kesenian tradisional yang pada masanya dulu sempat “berjaya”, seiring dengan semakin derasnya arus kebudayaan dan kesenian asing, eksistensi kesenian tradisional pun menjadi terancam. Ia mulai terpinggirkan dan tersisihkan oleh kehadiran kesenian-kesenian baru yang belum tentu sesuai dengan nafas budaya bangsa kita. Tidak jarang pula terjadi proses “pendangkalan” terhadap kesenian-kesenian tradisional. Padahal sesungguhnya ekspresi kesenian yang merupakan bagian integral dari kesenian itu sendiri telah sering kali membanggakan kita ketika bangsa lain di dunia mengaguminya. 

Kondisi ini banyak dialami oleh kesenian-kesenian tradisional, sehingga tidak jarang kesenian-kesenian tradisional, khususnya yang ada di daerah-daerah kini tengah mengalami krisis, bahkan ada beberapa di antaranya yang sudah mulai punah. Sebaliknya, jenis-jenis kesenian yang berkembang dan banyak diminati oleh masyarakat adalah justru kesenian-kesenian yang telah mengalami “proses pendangkalan”, dan mengikuti selera pasar.

Di sisi lain, modernisasi dan kemajuan iptek mampu mendukung perkembangan kesenian tradisional. Berbagai bentuk kesenian baru dan kontemporer bermunculan. Kreativitas para seniman pun semakin dipacu untuk menciptakan bentuk-bentuk kreasi seni yang baru. Bentuk-bentuk kreasi seni yang baru ini merupakan hasil karya cipta kreatif dari para seniman dalam mengkolaborasi jenis-jenis kesenian tradisional dengan kesenian baru, ataupun pengembangan kesenian-kesenian tradisional yang diolah dengan media teknologi, sehingga menghasilkan bentuk kesenian baru tanpa menghilangkan unsur dasar dari kesenian tradisional itu sendiri. 

Demikian pula kesenian tari jaipong tergolong ke dalam jenis kesenian hasil kreasi seniman yang mampu mengemas unsur-unsur tradisi ke dalam sebuah suguhan pertunjukan yang menarik. Hal ini membuat kesenian jaipong mampu mengikuti perkembangan zaman di tengah-tengah terpaan arus seni modern. Dalam konteks ini, Enoch Atmadibrata dalam sebuah makalahnya (1992: 3), menjelaskan bahwa tidak semua yang datang dari luar itu jelek serta tidak semuanya akulturasi itu membunuh kultur asli/pribumi, bila ia secara baik terjaring dan tersaring. Dalam hal ini diperlukan ketahanan budaya dari masyarakatnya, seniman atau budayawan itu sendiri. Ketahanan budaya ini dapat terjadi berkat kehandalan para tokoh budaya atau seniman serta lembaga-lembaga kebudayaannya. 

Munculnya tari jaipong pun telah mampu membuka peluang usaha baru bagi para penggiat seni tari khususnya, dengan membuka lembaga-lembaga kursus tari jaipong. Jaipong pun telah dimanfaatkan oleh para pengusaha hotel dan pub sebagai pemikat datangnya para tamu. Peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat seni tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari, Padepokan, atau grup-grup di beberapa daerah di wilayah Jawa Barat.

Dewasa ini tari Jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat. Hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat seringkali disambut dengan pertunjukan tari Jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari jaipong.

D. PENUTUP
Selama ini terdapat polemik perihal asal usul siapa pencipta, dan di mana kesenian jaipong dilahirkan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kesenian jaipong yang menjadi salah satu kesenian unggulan masyarakat Sunda tercipta sebagai buah karya dua orang seniman besar Sunda, yaitu H. Suwanda dan Gugum Gumbira. Kedua orang ini memiliki keahlian yang berbeda, yaitu Suwanda, seoang juru kendang, dan Gugum Gumbira, seorang koreografer. Suwanda, melalui keahlian memainkan gendangnya telah menciptakan tepak kendang dalam wanda jaipong. Sedangkan gugum Gumbira degan keahlian koreografernya menciptakan gerakan-gerakan tari jaipong, sekaligus lagu-lagu yang mengiringinya. Kedua orang dengan dua latar belakang keahliah ini berkolaborasi dan mampu menciptakan sebuah bentuk seni yang termasuk ke dalam genre seni tari, dan dikenal dengan kesenian jaipong. 

Jaipong adalah salah satu dari sekian banyak kesenian tradisioal Sunda, yang memiliki daya tahan dan daya saing cukup tangguh. Di saat kesenian tradisional lain mengalami degradasi, kesenian jaipong tetap bisa bertahan, bahkan berkembang. 

Bila dibandingkan dengan pada awal kelahirannya, penyajian kesenian jaipong telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada awalnya musik pengiring kesenian Jaipong sangatlah sederhana. Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian jaipong ini mengalami penataan yang lebih menyempurnakan penampilannya, baik dari segi kostum penari, gerak tari, maupun musik pengiringnya (waditranya). Demikian pula lagu-lagunya mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dewasa ini kesenian jaipong tersebar, bukan hanya di Jawa Barat, melainkan telah menasional, bahkan telah dikenal di beberapa negara. 

Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, berikut kami sampaikan beberapa saran. Pertama, eksistensi kesenian jaipong di kalangan masyarakat Sunda di Jawa Barat tidaklah terlalu mengkhawatirkan, karena kesenian ini hingga kini masih tetap hidup dan berkembang serta diminati oleh masyarakat luas. Namun ini tidak berarti bahwa kesenian ini lepas dari perhatian pemerintah ataupun para stakeholder. Upaya-upaya pembinaan, sosialisasi, dan regenerasi tetap harus dilakukan, karena bila tidak, niscaya kesenian ini akan mengalami nasib yang sama dengan beberapa jenis kesenian tradisional lain yang kini kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tidak kalah pentingnya adalah kreativitas dan peran serta para seniman dan lembaga-lembaga seni yang berkiprah dalam kesenian tradisional dalam mengembangkan kesenian jaipong ini. 

Kedua, adanya perbedaan pendapat mengenai asal-usul kesenian jaipong perlu disikapi dengan arif. Apa pun pendapat masyarakat atau seniman mengenai asal usul kesenian ini adalah sah sah saja, karena memang hingga kini belum ada bukti-bukti otentik dan empiris mengenai asal-usul kesenian ini. Adanya perbedaan pendapat ini perlu ditindaklanjuti dengan kajian-kajian yang mendalam mengenai sejarah asal usul kesenian jaipong yang didukung dengan data-data yang sahih dan otentik.
Ketiga, perlu upaya-upaya untuk lebih mengangkat lagi popularitas kesenian jaipong ke tingkat nasional, bahkan didaftarkan ke UNESCO sebagai kekayaan budaya milik bangsa Indonesia.

***

DAFTAR PUSTAKA
Tesis, Skripsi
Nur Sayutini, A, 2012. “Proses Belajar Tari Jaipong Di Suwanda Group Desa Tanjung Mekar Kabupaten Karawang”. Skripsi Universitas Pendidikan Indonesia.

Makalah
Atmadibrata, E. “Pola Pembinaan dan Pengembangan Kesenian daerah Jawa Barat”. Makalah disampaikan pada Pekan Kebudayaan Daerah Jawa Barat tahun 1992.
Buku
Kurnia, G., Arthur S. Nalan. 2003. Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Bandung. Dinas Kebudayaan Pariwisata Jawa Barat & Pusat Dinamika Pembangunan UNPAD.
Murgiyanto, Sal. 2002. Kritik Tari Bekal & Kemampuan Dasar. Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Royce, Anya Peterson. 2007. Antropologi Tari. Bandung: Sunan Ambu Press.
Saepudin, A. 2007. Aktivitas H. Suwanda Dalam Penciptaan Pola-Pola Tepak Kendang Jaipong. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia.
Soedarsono, RM. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia Di Era lobalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soepandi, A. 1998. Ragam Cipta Mengenal Seni Pertunjukan Jawa Barat. Bandung: Beringin Sakti.

Festival Peh Cun Menelusuri Tradisi Etnis Cina di Kota Tangerang

Oleh Rosyadi

Abstrak
Penelitian ini mencoba menelusuri sejarah lahirnya sebuah tradisi Peh Cun yang biasa dilakukan oleh etnis Cina di Kota Tangerang. Peh Cun adalah salah satu perayaan hari besar etnis warga keturunan Cina yang jatuh pada hari kelima bulan kelima (go gwee cee go) di tahun Imlek. Tradisi Peh Cun ini merujuk pada legenda tentang seorang pembesar pada masa Dinasti Couw (340-278 SM), yang juga seorang sastrawan dan budayawan besar, yaitu Khut Goan.Tradisi ini juga identik dengan Festival Perahu Naga di Kali Cisadane, Kota Tangerang. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Prosedur penelitian mengarah pada penggambaran situasi secara sistematik, faktual, dan akurat mengenai sejumlah gejala, seperti fenomena upacara tradisional Peh Cun yang hingga kini masih dilaksanakan oleh komunitas Cina di lokasi penelitian.

Kata kunci: Peh Cun, tradisi, Cina.

Abstract
This research tries traces history of Peh Cun tradition which usualy done by ethnical of China in Kota Tangerang. Peh Cun is one of big celebration of ethnical Chinese, falling at fifth day of fifth month (go gwee cee go) in callender of Imlek. Tradition of Peh Cun refers to legend about a magnifier during Dynasti Couw, also a big man of letters and culture, that is Khut Goan. This tradision is also identical with Festival Perahu Naga in Cisadane River, Town Tangerang. This research use the kualitative research which analysis descriptive aproach. This prosedure differs to description of situations systematicly, factualy and acurately about some phenomenas, such as the existension of traditional ceremony of Peh Cun of the China community in location of this research.

Keywords: Peh Cun, tradition, China.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 2, No 1, Maret 2010: 17-32

Komunitas Adat Kampung Mahmud di Tengah Arus Perubahan

Oleh Rosyadi

Abstrak
Kampung Mahmud adalah sebuah kampung adat yang masyarakatnya teguh memegang dan melaksanakan tradisi yang diwarisi dari leluhurnya. Namun arus modernisasi ternyata membawa dampak terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat setempat yang sudah mulai menampakkan perubahan. Beberapa tradisi yang semula dipegang teguh oleh warga komunitas Kampung Mahmud, kini mulai melonggar. Komunitas adat ini berdomisili di wilayah Kabupaten Bandung. Penelitian ini mencoba mengkaji perubahan-perubahan pada aspek-aspek sosial dan budaya yang terjadi di kalangan komunitas adat Kampung Mahmud. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terbuka dengan beberapa tokoh masyarakat dan warga komunitas terpilih, serta pengamatan langsung di lapangan (observasi).

Kata kunci: komunitas adat, kampung, perubahan masyarakat, perubahan kebudayaan.

Abstract
Kampung (village) Mahmud is an adat kampung that strictly preserves their customs inherited from their ancestors. But, modernization has given strong impacts to the community in terms of socio-cultural life which has gradually changed. Some of their traditions have become loosened. This adat commuity lives in Kabupaten Bandung. The research tries to study socio-cultural changes that has occurred amongst adat community of Kampung Mahmud. The author has conducted a qualitative method with descriptive approach. Data were collected through opened interview with several key persons and selected community member as well as observation.
Keywords: adat community, community change, cultural change.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 2 Juni 2011

Transformasi Nilai Budaya pada Masyarakat di Kabupaten Subang

Oleh: Drs. Rosyadi

Abstrak
Nilai-nilai budaya yang dianut dan dipedomani oleh masyarakat di Kabupaten Subang adalah nilai-nilai budaya Sunda. Namun sejalan dengan perkembangan zaman, keberadaan nilai-nilai budaya Sunda ini mulai tergeser fungsi dan peranannya di dalam masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah karena terhambatnya proses transfusi dari generasi tua kepada generasi selanjutnya. Keadaan ini ditandai dengan tidak berfungsinya media-media transformasi nilai-nilai budaya, turut cerita-cerita rakyat, ungkapan-ungkapan tradisional dan unsur-unsur budaya lain yang sesungguhnya mengandung nilai-nilai budaya Sunda.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 29, November 2003

Tradisi Perlindungan Sosial dalam Rangka Pemberdayaan Ekonomi

Tradisi Perlindungan Sosial dalam Rangka Pemberdayaan Ekonomi
(Studi Kasus pada Komunitas Pendaurulang sampah di Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kuon, Kota Bandung)

Oleh: Drs. Rosyadi

Abstrak
Naluri sosial manusia yang senantiasa harus selalu hidup bersama dalam suatu kelompok masyarakat untuk menciptakan pranata-pranata sosial yang mengatur perikehirupan bermasyarakat. Tradisi perlindungan sosial, adalah salah satu wujud pranata sosial yang berkembang pada masyarakat Cigondewah. Tradisi perlindungan sosial ini berjalan efektif tidak hanya pada sektor kehidupan sosial saja, melainkan juga pada kehidupan ekonomi. Melalui tradisi perlindungan sosial ini warga masyarakat Cigondewah berupaya mengatasi berbagai persoalan ekonomi yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini mencoba menggali berbagai bentuk tradisi perlindungan sosial yang berkembang pada komunitas pendaurulang sampah di Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 24, Oktober 2001

Persepsi Masyarakat Jabong terhadap Upacara Mapag Sri

Oleh: Drs. Rosyadi, dkk.

Abstrak
Dalam kehidupan sehari-hari manusia senantiada dihadapkan pada berbagai macam realitas, antara lain realitas sosial, realitas budaya, dan realitas agama. Masing-masing realitas memuat nilai-nilai yang adakalanya berbenturan satu sama lain, tetapi ada kalanya juga saling mendukung satu sama lainnya.

Upacara Mapag Sri adalah contoh realitas budaya yang sarat dengan nilai-nilai budaya, nilai-nilai sosial, serta nilai-nilai religius. Akan tetapi sejauh mana upacara ini bisa eksis di tengah-tengah arus modernisasi dan globalisasi yang tengah berlangsung saat ini. Inilah yang akan menjadi salah satu kegiatan bahan kajian dari penelitian.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Kelahiran dan Perkembangan Kesenian Sisingaan di Kabupaten Subang

Oleh: Drs. Rosyadi

Abstrak
Kesenian Sisingaan lahir dari gejolak rasa ketidakpuasan dan perlawanan masyarakat setempat atas pendudukan daerahnya oleh bangsa penjajah yang kemudian diolah secara kreatif sehingga melahirkan sebuah bentuk kesenian yang bernafaskan kejuangan. Dengan demikian kesenian ini merupakan refleksi dari jiwa kejuangan masyarakat setempat dalam melawan penjajah. Konsekuensi logisnya, maka nilai-nilai kejuangan sangat melekat dalam falsafah kesenian ini. Bahkan bukan hanya dalam falsafahnya saja nilai-nilai ini terkandung, tetapi juga terrefleksi di dalam gerakan-gerakan tariannya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 19, Juli 1999

Wayang Golek dari Seni Pertunjukan ke Seni Kriya (Studi tentang Perkembangan Fungsi Wayang Golek di Kota Bogor)

Oleh Drs. Rosyadi

Abstrak
Wayang golek adalah suatu jenis seni pertunjukan tradisional yang telah menjadi bagian dari jati diri orang Sunda. Perkembangan dunia hiburan yang kini lebih didominasi oleh jenis-jenis kesenian modern, telah mengakibatkan semakin langkanya pertunjukan kesenian wayang golek dipergelarkan.

Dalam pada itu, perkembangan dunia pariwisata telah menciptakan karya baru bagi wayang golek, yaitu sebagai barang souvenir. Maka fungsi wayang golek pun berkembang dari seni pertunjukan menjadi seni kriya.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.2 Juni 2009

Tradisi Ngahiras sebagai Modal Sosial Kegotongroyongan pada Masyarakat Pedesaan Di Kabupaten Subang

Jurnal Penelitian Edisi 40, No 1/April 2008

Drs. Rosyadi

Abstrak

Ngahiras adalah salah satu bentuk kegotongroyongan yang masih hidup pada beberapa kelompok masyarakat di daerah pedesaan Jawa Barat. Di kalangan masyarakat pedesaan di Kabupaten Subang, ngahiras telah menjadi tradisi yang berlangsung secara turun-temurun. Tradisi itu seolah-olah menjadi kewajiban sosial bagi warga masyarakat. Dengan kata lain, tradisi ngahiras merupakan modal sosial bagi terwujudnya ke-gotongroyongan, sehingga terjadi harmonisasi sosial di kalangan masyarakat setempat.

Kata kunci: Ngahiras. Gotongroyong.

Kepercayaan terhadap Dewi Sri dan Perwujudannya dalam Kehidupan Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Subang

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2007



Drs. Rosyadi


Abstrak:

Pandangan-pandangan yang bersifat religio magis terhadap asal-usul dan keberadaan padi, telah melahirkan sikap dan perilaku yang mensakralkan tanaman padi. Padi dipandang sebagai penjelmaan dari seorang tokoh mitologi Dewi Sri. Sikap dan pandangan sakral ini terwujud dalam berbagai bentuk perilaku ritual yang mengagungkan dan memuliakan padi, bahan kebutuhan utama bagi kelangsungan hidup masyarakat di lokasi penelitian.

Kata kunci: Mitos padi, ritual.

Popular Posts