WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Membedah Budaya di Pandapa Paramarta

KOTA : Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Kementerian Kebudayaan Pariwisata, bekerja sama Pemerintah Kabupaten Kuningan menggelar Pekan Budaya
Seni dan Film, di Pandapa Paramarta Kuningan, Kamis (22/9/2011). Acara yang berlangsung selama tiga hari kedepan itu, merupakan rangkaian agenda peringatan Hari Jadi ke-513 Kuningan.
Ketua panitia penyelenggara Toto Sucipto mengatakan, kegiatan meliputi pameran, lomba, pergelaran seni dan dialog. Diharapkan kegiatan ini menjadi salah satu acuan kegiatan yang dapat menghimpun beragam potensi karya budaya Indonesia yang dapat memberikan kontribusi bagi upaya pengembangan industri kreatif di tanah air.
Menurut dia, hal itu dilakukan dalam upaya pelestarian kebudayaan, yang sering digelar dalam serangkaian kegiatan kebudayaan yang melibatkan partisipasi dari seluruh daerah di Indonesia.
“Hal ini didorong keyakinan untuk menunjukkan dan menegaskan kepada kita semua bahwa aktivitas kebudayaan mampu mempertautkan simpul-simpul kebhinekaan menjadi kekuatan yang harmonis, serta memberikan rasa damai, tentram dan nyaman bagi seluruh masyarakat sekaligus sebgai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. kata Toto Sucipto.
Sementara, Wakil Bupati Kuningan H. Momon Rochmana, dalam sambutannya berharap Pekan Budaya Seni dan Film mampu mendorong masyarakat dan pemerintah daerah untuk memanfaatkan kekayaan pariwisata dan budaya yang dimilki secara maksimal guna memacu pembangunan daerah.
Wabup Momon berpesan agar kegiatan dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata ini terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Sebab kegiatan ini penting untuk menjaga serta melestarikan nilai-nilai budaya yang ada ditanah air sebagai warisan leluhur budaya bangsa.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Dirjen Nilai Budaya Seni dan fFilm yang telah memberikan kepercayaan kepada Kabupaten Kuninganuntuk menjadi penyelenggaraan kegitan ini, semoga kegiatan ini dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar dmampu mengembangkan pariwisata dan kebudayaan di daerah,” papr Momon Rochmana.
(jun/kuninganmedia.com)*

Sumber: http://kuninganmedia.com

Cigugur Dijadikan Kampung Sunda

KUNINGAN (CP),- CIGUGUR akan dijadikan Kampung Sunda. Demikan diungkapkan Kadis Parbud Kab. Kuningan, Drs. Tedi Suminar, MSi melalui Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Suyono, kepada CIREMAIPOST di Pendopo Kuningan, (24/9).

Rencana itu terkuak ketika acara Dialog Budaya yang termasuk dalam rangkaian acara Pekan Budaya, Seni dan Film yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Budaya Seni dan Film bekerjasama dengan Pemkab Kuningan.

“Pak Kadis Parbud Kuningan menyebutnya Kuningan The Truly Sundanese bermaksud ingin membuat kuningan benar-benar sunda, baik dari aspek budaya, seni dan adat istiadatnya,” katanya.

Pemahaman ini, lanjut Suyono, tidaklah mudah karena tidak semua masyarakat akan mudah menerimanya. Untuk usai dewasa akan cepat memahami berbeda dengan anak ABG perlu proses lama agar mengerti apa arti budaya, terutama tanah kelahirannya yaitu tanah sunda.

Program The Truly Sundanese dimulai pada 2012. Pemkab Kuningan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan mengajukan raperda termasuk alokasi dana. “Mekanisme program ini, minimalnya bupati mengajukan raperda dan tentunya alokasi dana tidak ketinggalan,” candanya. (faruq)

Sumber: http://www.ciremaipost.com

Pekan Budaya, Seni dan Film Sepi Pengunjung

KUNINGAN (CP),- KEGIATAN Pekan Budaya, Seni dan Film yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jendral Budaya Seni dan Film bekerjasama dengan Pemkab Kuningan, di Pandapa Paramarta, ternyata sepi pengunjung, (22/9).

Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Budaya Kab. Kuningan, Suyono, kepada CIREMAIPOST mengatakan, rangkaian acara ini berlangsung tiga hari dan saat ini sedang berlangsung lomba melukis tingkat SLTP, yang diikuti 10 sekolah. Tiap sekolah tiga orang, namun sayangnya sepi pengunjung.

“Nanti sore ada workshop film dan pada malam harinya ada pemutaran film documenter. Semoga acara tersebut sukses dan diharapkan banyak pengunjung yang datang,” katanya.

Dijelaskan, tujuan kegiatan ini mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kalangan generasi muda, supaya lebih mengenal lebih jauh budaya lokal sendiri dan budaya Indonesia. Kendala yang dihadapi terutama sedikitnya jumlah pengunjung, padahal pihaknya sudah mengririm surat ke sekolah-sekolah.

“Kemungkinan kami akan mengirim surat lagi supaya sekolah yang ada di Kabupaten Kuningan supaya mereka bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini,” katanya. (faruq)

Sumber: http://www.ciremaipost.com

Wisata Sejarah di Kabupaten Kuningan (Studi tentang Perkembangan Wisata Sejarah di Kabupaten Kuningan)

Oleh: Dra. Euis Thresnawati

Abstrak
Wisata sejarah merupakan sebuah perjalanan menelusuri jejak-jejak masa silam. Kegiatan ini cenderung menyerupai kegiatan napak tilas terhadap jejak-jejak peninggalan sejarah yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang. Tujuan dari perjalanan ini beraneka ragam, misalnya untuk rekreasi, ziarah, dan pengembangan keilmuan. Perjalanan wisata sejarah sering dilakukan terhadap peninggalan sejarah yang umumnya berupa makam-makam tokoh yang dikeramatkan atau tempat-tempat peninggalan yang dikeramatkan.

Kabupaten Kuningan, salah satu wilayah yang ada di bagian timur Jawa Barat memiiki potensi wisata sejarah yang menarik dan dapat dijual kepada wisatawan. Sejak lama Kabupaten Kuningan telah mengembangkan potensi wisata sejarah yang ada di daerahnya, hal ini merupakan satu andalan bagi peningkatan pendapatan asli daerah. Objek wisata sejarah tersebut adalah objek wisata sejarah Linggar Jati, objek wisata sejarah Taman Purbakala Cipari, objek wisata sejarah Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, dan lain-lain

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Budaya Spiritual di Makam Syeh Sunan Rohmat Kampung Godog Karangpawitan Kabupaten Garut

Oleh: Drs. Endang Supriatna

Abstrak
Upaya manusia dalam memenuhi kebutuhannya tidak hanya berupa pengendalian lahir tetapi ditunjang dengan upaya batiniah dengan cara berziarah. Dengan berziarah, manusia pada hakekatnya menonjolkan ketidakmampuan, sekaligus mencari keseimbangan dengan bahasa Tuhan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Popular Posts