WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Kebudayaan akan Jadi Bidang Garap Kemendiknas

Kebudayaan akan Jadi Bidang Garap Kemendiknas

Sabtu, 15 Oktober 2011, 21:13:45 WIB


Cikeas, Bogor: Kebudayaan akan masuk ke dalam bidang kerja Kementerian Pendidikan Nasional, yang kemungkinan akan kembali menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu (15/10) malam, memanggil Wiendu Nuryanti ke Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, untuk membantu Mendiknas Muhammad Nuh sebagai Wakil Mendiknas bidang Kebudayaan.

"Saya mendapatkan tugas untuk membantu Mendiknas, terutama di bidang kebudayaan." kata Wiendu Nuryanti, seusai audiensi dengan Presiden SBY. Dengan demikian, Kemendiknas akan diperkuat dua Wamen, setelah Jumat (14/10) siang kemarin Presiden menunjuk Musliar Kasim sebagai Wamendiknas bidang Pendidikan.

Presiden, lanjut Wiendu, menyampaikan tiga amanah penting terkait tugas barunya. Pertama, kebudayaan perlu mendapat ruang yang sentral sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan bangsa dan negara. Kedua, Indonesia memerlukan adanya satu perumusan kebijakan-kebijakan mengenai kebudayaan, dalam arti luas, yang nantinya akan diikuti oleh program strategis secara menyeluruh.

"Terakhir, bagaimana fungsi Wakil Menteri Diknas bidang Kebudayaan nanti akan bekerja sama dengan Wakil Menteri Diknas bidang Pendidikan membantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk merumuskan agar pendidikan dan kebudayaan, sebagai pilar penting pembangunan Indonesia, ke depan bisa menjadi salah satu faktor akselerasi penting untuk mencapai kesejahhteraan masyarakat," Wiendu, Guru Besar Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan.

Wiendu Nuryanti dipanggil Presiden SBY di Cikeas bersamaan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dan Eko Prasojo, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Rusman diminta menjadi Wakil Menteri Pertanian, sedangkan Eko Prasojo sebagai Wakil Menteri Penertiban Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi.

Seusai diterima Presiden SBY, Rusman Heriawan menjelaskan, dalam pertemuan tadi Presiden SBY menegaskan bahwa pertanian merupakan sektor strategis. Presiden meminta Kementerian Pertanian meningkatkan produksi pangan sebagai Wakil Mentan. "Tugas kami nanti selalu secara konsisten bisa meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian, memenuhi kebutuhan dalam negeri, mencapai keberlanjutan swasembada, dan lebih khusus lagi kalau bisa kita bisa mencapai surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014, dan kemudian swasembada yang lain," ujar Rusman. Ia mengisi posisi Bayu Krisnamurti yang pindah pos Wakil Menteri Perdagangan.

Peningkatan produksi dan produktivitas pertanian dan swasembada pangan ini menjadi penting untuk menjaga ketahanan pangan dan menjamin kebutuhan pangan 240 juta lebih penduduk Indonesia. Presiden SBY berharap Rusman bersama Mentan Suswono merumuskan rencana jangka pendek dan panjang yang akan dicapai.

Sedangkan Eko Prasojo diminta Presiden untuk membantu Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi untuk melakukan percepatan reformasi birokrasi. "Reformasi birokrasi menjadi prioritas program nasional karena birokrasi menjadi tulang punggung pembangunan nasional, dan awak yang menerbangkan pembangunan nasional ini harus melakukan reformasi secara lebih cepat," kata Eko Prasojo.

Secara khusus, Eko melanjutkan, tujuan dari reformasi birokrasi adalah bagaimana menciptakan pemerintahan yang efektif, akuntabel, dan bersih. Presiden menyampaikan lima hal utama dalam reformasi birokrasi ini. Pertama, perbaikan proses implementasi dan kebijakan publik di sektor pemerintahan, khususnya dalam birokrasi. Kedua, perbaikan proses pelayanan. Ketiga, reformasi kepegawaian.

Keempat, penguatan dan mesin untuk menggerakan reformasi birokrasi itu sendiri. "Kelima, memperkuat hukum administrasi negara dalam rangka untuk memperkuat perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh pejabat publik agar sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan sehingga akan mengurangi potensi korupsi di dalam birokrasi," Eko menambahkan. (dit)

Peta Sejarah Provinsi DKI Jakarta


PROVINSI DKI JAKARTA

Kabupaten

KEPULAUAN SERIBU
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah




Kota

JAKARTA PUSAT
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


JAKARTA TIMUR
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


JAKARTA BARAT
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


JAKARTA UTARA
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


JAKARTA SELATAN
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah

Peta Sejarah Provinsi Jawa Barat


PROVINSI JAWA BARAT

Kabupaten

 BANDUNG
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


BANDUNG BARAT
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


BEKASI
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


BOGOR
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


CIAMIS
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


CIANJUR
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


CIREBON
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


GARUT
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
PERISTIWA SEJARAH
Pendudukan Jepang,
Tokoh Sejarah


INDRAMAYU
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


KARAWANG
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Tokoh Sejarah


MAJALENGKA
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


PURWAKARTA
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


SUBANG
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah




SUKABUMI
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


SUMEDANG
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


TASIKMALAYA
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah




Kota

BANDUNG
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


BANJAR
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


BEKASI
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


BOGOR
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


CIMAHI
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


CIREBON
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


DEPOK
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


SUKABUMI
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah


TASIKMALAYA
Geografi Sejarah
Nilai Sejarah
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah

Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan, Karawang Juni 2011

A. Latar Belakang Masalah
Kebudayaan merupakan kerangka acuan atau pedoman bagi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan antarsesama warga masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan akan mem-punyai pengaruh besar terhadap pengetahuan, pembentukan sikap, kepercayaan, dan perilaku setiap individu. Pada saat ini, ketika kontak kebudayaan semakin meningkat dan intensif, banyak sekali terjadi pergeseran dan pe-rubahan dalam kehidupan masyarakat, ter-utama dalam perubahan pengetahuan, pandangan, sikap, dan tingkah laku mengenai budaya tradisional, termasuk kesadaran ter-hadap perjalanan sejarah, baik lokal maupun kebangsaan. Pergeseran yang menyebabkan memudarnya penghargaan terhadap kebudaya-an tersebut akan sangat berpengaruh besar tidak saja bagi individu melainkan juga masyarakat secara keseluruhan yang pada akhirnya akan kehilangan jatidiri bangsa. Oleh karena itu, dalam pengembangan nilai ke-budayaan, harus mengutamakan pengemba-ngan karakter bangsa atau national character building.

Pergeseran dan perubahan dengan skala perkembangan pembangunan yang pesat terutama tampak sekali di kalangan generasi muda yang dianggap haus akan hal-hal baru dan menantang. Kekurangpahaman akan national character atau jati diri bangsa mengakibatkan lemahnya daya saring (filtering) terhadap masuknya unsur-unsur budaya dari luar yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa kita. Oleh karena itu, dirasa perlu untuk melakukan suatu tindakan, terutama dalam bentuk kampanye/pengenalan, supaya mereka mengenal nilai kebudayaan yang hidup dan berkembang di lingkungannya. Pengenalan tersebut pada gilirannya akan bermuara pada upaya untuk mencintai kebudayaan sendiri. Hal ini menjadi kegiatan prioritas bidang kebudaya-an dalam program kerja Kementerian Ke-budayaan dan Pariwisata karena menyangkut kepentingan seluruh rakyat Indonesia agar tertanam rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.

Sehubungan dengan hal tersebut, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung sebagai UPT Kementerian Kebudaya-an dan Pariwisata Republik Indonesia, memandang perlu melaksanakan program yang mengarah pada pengenalan dan pema-haman kebudayaan bagi kalangan siswa SMU melalui kegiatan yang dinamakan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayan.

B. Tujuan
Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah:
  1. Untuk meningkatkan pengetahuan para siswa tentang arti penting nilai budaya yang tercermin dalam peristiwa budaya.
  2. Untuk meningkatkan pemahaman generasi muda tentang nilai budaya warisan leluhur yang relevansi dan urgensinya masih sangat tinggi dalam kehidupan kekinian.
  3. Sebagai wahana generasi muda untuk dapat mengenal lebih dekat dan memahami budaya sendiri.
  4. Dengan mengenali dan memahami nilai budaya yang terkandung dalam suatu peristiwa budaya, diharapkan dapat memperkokoh jati diri dan integrasi bangsa.
C. Tema
Tema kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan adalah: “Kenali dan Cintai Budaya Sendiri untuk Memperkokoh Jati diri”

D. Materi dan Narasumber
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penayangan 2 buah film dokumenter tentang kebudayaan, yaitu “Teropong Budaya” dengan nara sumber Obar Subarja dan film “Kampung Sembilan” dengan nara sumber Ketua Adat Kampung Sembilan serta sebagai pembahas Iim Imadudin, S.S. (Peneliti BPSNT Bandung).

E. Peserta
Kegiatan ini akan diikuti oleh 100 peserta yang terdiri atas siswa dan siswi SMU, guru pembimbing yang ada di wilayah Kabupaten Karawang, dan para undangan dari instansi yang terkait, budayawan, serta lembaga-lembaga yang berada di lingkungan pendidikan dan sektor kebudayaan.

F. Pelaksanaan
Penayangan Film dan Diskusi Ke-budayaan diselenggarakan pada tanggal 27 Juni 2011 pukul 08.00 – selesai bertempat di Hotel Permata Ruby jl. Kartini No. 12 Karawang, telp/faks. (0267) 411990.

G. Penyelenggara
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Untuk kelancaran pelaksanaan di lapangan, BPSNT Bandung bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karawang.

Jelajah Budaya, Cirebon Mei 2011

A. Latar Belakang
Pada masa sekarang, ketika kontak budaya semakin meningkat dan budaya asing menerpa secara intensif, terjadi pergeseran dan perubahan dalam kehidupan masyarakat, terutama pada sikap dan perilaku di kalangan generasi muda. Inilah yang menjadi masalah. Generasi muda cenderung kurang memahami budaya sendiri maupun budaya etnik lain. Mereka mudah terbawa arus globalisasi dengan meninggalkan budaya sendiri, yang belum tentu memberi dampak positif. Perhatian khusus pada generasi muda merupakan hal yang menarik, karena mereka adalah penerus dan pendukung kebudayaan yang ada sekarang ini. Perubahan pandangan, pengetahuan, sikap, dan tingkah laku pada diri mereka akan berdampak besar terhadap corak dan nuansa kebudayaan di masa depan. Padahal di sisi lain, mereka sangat mudah dipengaruhi oleh unsur kebudayaan asing atau baru dari luar kebudayaannya yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa sendiri. 

Mencermati paparan di atas, pemahaman kebudayaan dirasa perlu dilakukan, terutama dalam bentuk pengenalan agar mereka mengenal kebudayaan yang hidup dan berkembang di lingkungannya. Pengenalan tersebut pada gilirannya akan bermuara pada upaya untuk mencintai kebudayaan sendiri, sehingga kebudayaan yang ditumbuhkembangkan tidak lepas dari akarnya. Selain itu upaya pengenalan kebudayaan dari etnik lain perlu juga dilakukan, untuk mengikis etnosentrisme yang sempit dan meningkatkan pemahaman bahwa budaya yang ditumbuhkembangkan masing-masing etnik merupakan jati diri etnik yang berangkutan. Menghargai kebudayaan etnik lain dan kebudayaan sendiri, pada akhirnya akan bermuara pada terwujudnya pertahanan kebudayaan yang kokoh sehingga mampu menangkal pengaruh negatif dari arus globalisasi dan informasi yang menembus batas ruang dan waktu. 

Sehubungan dengan itu, pada tahun anggaran 2011, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung menyelenggarakan kegiatan Jelajah Budaya, yakni suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman generasi muda tentang kebudayaan. Fungsi kebudayaan pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi, pemersatu, dan jati diri. Oleh karena itu, kebudayaan menjadi acuan atau pedoman bagi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan antarsesama warga masyarakat, sehingga akan berpengaruh terhadap pengetahuan, pembentukan sikap, kepercayaan, dan perilaku anggota masyarakat yang bersangkutan.

B. Tujuan
Tujuan kegiatan ini adalah: (1) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman generasi muda tentang arti penting nilai budaya yang tercermin dalam kreativitas budaya masyarakat Kota Cirebon; (2) meningkatkan pemahaman generasi muda tentang keanekaragaman budaya; dan (3) memberikan wawasan kegiatan lapangan sebagai pelengkap pelajaran di sekolah.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan Jelajah Budaya meliputi dua hal, yakni lokasi dan jenis kegiatan. Lokasi yang dipilih untuk melaksanakan kegiatan Jelajah Budaya adalah Kota Cirebon, karena khasanah budaya masyarakatnya begitu kaya dan khas. Adapun jenis kegiatannya: (1) Mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai historis serta mencerminkan kreativitas budaya masyarakat Cirebon; (2) Melaksanakan dialog interaktif dalam kerangka pembentukan karakter bangsa; (3) Menyelenggarakan kegiatan workshop kerajinan batik, lukisan kaca, dan topeng, yang diisi dengan aktivitas penelitian yang sangat sederhana terhadap kerajinan tersebut serta praktik membatik, melukis kaca, dan melukis topeng.

D. Tema
Tema kegiatan Jelajah Budaya pada 2011 adalah ”Kreativitas dan Keanekaragaman Budaya”.

E. Peserta
Kegiatan Jelajah Budaya diikuti oleh 150 peserta, yang terdiri atas siswa/siswi dan guru SMU/sederajat yang ada di wilayah kerja BPSNT Bandung (Provinsi Jawa Barat, Banten, Lampung, dan DKI Jakarta). Selain itu, ikut serta peliput (media massa), peneliti, dan undangan/ peninjau/pengamat.

H. Akomodasi (Tempat Penginapan)
Rombongan Jelajah Budaya menginap di Hotel Intan yang terletak di Jl. Pangeran Drajat, Kota Cirebon. Selain menjadi tempat beristirahat rombongan Jelajah Budaya pada malam hari, tempat tersebut digunakan untuk kegiatan dialog interaktif para peserta dengan sejumlah nara sumber dalam kerangka pembentukan karakter bangsa.

I. Sekretariat Kegiatan Jelajah Budaya
Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Jl. Cinambo No. 136 Tlp. (022) 7804942 Ujungberung Bandung 42094

Deskripsi Singkat Lokasi Kunjungan Jelajah Budaya
1. Keraton Kacerbonan
Komplek Keraton atau Puri Kacerbonan berada di Jln. Pulosaren No. 48. Bangunan Keraton berdenah empat persegi panjang. Posisinya memanjang utara-selatan, dan menghadap ke utara. Luas keseluruhan bangunan keraton sekitar 38.787 m2, terdiri dari bangunan Induk, Paseban, Langgar, Gedong Ijo, Pringgowati dan Kaputren.

Pangeran Anom membangun Keraton Kacerbonan pada tahun 1808. Keberadaan Keraton tersebut terkait dengan peristiwa suksesi kepemimpinan setelah wafatnya Sultan Anom IV (Sultan Anom Muhammad Khaerudin) pada tahun 1802 M. Menurut tradisi, yang harus menggantikannya adalah anak laki-laki atau anak tertua. Sultan Anom IV memiliki anak laki-laki kembar. Pada tahun 1807 Gubernur Jenderal Daendels menetapkan bahwa keduanya mendapat gelar Sultan. 

Pangeran Raja Kanoman, satu dari dua anak sultan, diangkat sebagai Sultan Kacerbonan sampai akhir hayatnya. Keturunannya melanjutkan kedudukan sultan dengan gelar pangeran saja dan tidak menjadi pegawai pemerintah kolonial. Penguasa Keraton Kacerbonan tidak memiliki wilayah kekuasaan. Sementara itu, putra Sultan Anom IV yang lain, Pangeran Abusaleh Imamudin, ditetapkan oleh Daendels sebagai Sultan Anom V. Keturunannya dapat menggunakan gelar sultan.

Pembangunan Keraton Kacerbonan tidak dilakukan sekaligus. Raja Kanoman pada tahun 1808 hanya mendirikan bangunan induk, Paseban, dan Langgar. Pangeran Daendawijaya yang bergelar Raja Madenda membangun Gedong Ijo pada tahun 1875, dan Pangeran Partaningrat Madenda III membangun Pringgowati pada masa pemerintahannya antara tahun 1915-1931.

2. Keraton Kanoman
Keraton Kanoman berada di Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk. Di sebelah utara keraton terdapat pasar tradisional yang cukup ramai. Di sebelah selatan dan timur merupakan pemukiman penduduk. Di sebelah barat terdapat sekolah Taman Siswa. Bangunan Keraton berdenah empat persegi panjang, arah utara-selatan. Tata ruang komplek ini dibagi empat bagian, yaitu bagian depan komplek, halaman pertama, halaman kedua, dan halaman ketiga. 

Ada dua versi yang menyebut tahun pembangunan Keraton ini. Pertama, tahun 1510 saka (1588 M) ketika Pangeran Mohammad Badridin (Pangeran Kertawijaya), yang bergelar Sultan Anom I mendirikan Keraton Kanoman. Titimangsa ini mengacu pada prasasti berupa gambar surya sangkala dan Keraton Sangkala pada pintu Pendopo Jinem menuju ruang Prabayasa. Matahari berarti 1, wayang Dharma Kusuma berarti 5, bumi berarti 1 dan bintang kemangmang berarti 0. Candarasengkala itu menunjukkan angka tahun 1510 saka (1588 M). Kedua, tahun 1678/1679 M saat penobatan Pangeran Mohammad Badridin menjadi Sultan Kanoman. Pembangunan keraton diperkirakan bersamaan waktunya dengan peristiwa tersebut.

Witana terletak di dalam komplek Keraton. Witana diambil dari kata awit ana, yang berarti bangunan tempat tinggal pertama yang didirikan ketika membentuk Dukuh Caruban. Dalam kakawin Negarakertagama bangunan witana digambarkan berupa panggung kayu dengan atap tanpa dinding sebagai tempat bersemayamnya raja. Menurut Babad Cerbon, Cirebon yang dikenal sekarang bermula dari pedukuhan kecil. Pedukuhan ini dibuka pada abad ke-15, yaitu sekitar 1 sura 1367 Hijriah (1445 M). Perintisnya adalah Ki Gede Alang-alang dan kawan-kawan. Pangeran Cakrabuana pada tahun 1242 M membangun Keraton Pakungwati dan Tajug Pejlagrahan di pedukuhan ini. Dalam perkembangannya, penduduk dari berbagai daerah dengan beragam mata pencaharian menetap di dukuh ini. Itulah sebabnya, dukuh ini disebut juga caruban yang berarti campuran.

3. Keraton Kasepuhan
Keraton ini dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Cakrabuana (Haji Abdullah Iman Al Jawi). Keberadaan keraton ini tidak dapat dilepaskan dari Keraton Pakungwati yang telah mengalami perluasan. Keraton Pakungwati (Dalem Agung Pakungwati) yang terletak di sebelah timur Keraton Kasepuhan merupakan cikal bakal keraton Kasepuhan. Keraton Pangkuwati dibangun oleh Pangeran Cakrabuana. Perluasan dan pelebaran keraton dilakukan pada tahun 1479 hingga luasnya mencapai 4900 m2. Sekarang, situs pertama di Cirebon ini hanya menyisakan reruntuhannya dengan sisa-sisa bangunan, gua buatan, sumur dan taman.

Sepeninggal Sunan Gunung Jati, Pangeran Emas Zaenal Arifin gelar Panembahan Pakungwati I menggantikan buyutnya. Ia membangun keraton Pakungwati di sebelah barat daya keraton lama. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1529. Nama Pakungwati yang diberikan pada keraton yang baru tersebut dimaksudkan untuk mengenang putri Pangeran Cakrabuana yang meninggal saat memadamkan kebakaran hebat yang melanda Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Kesultanan Cirebon terbagi dua menjadi Kesultanan Kanoman dan Kasepuhan pada tahun 1969. Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya gelar Sultan Anom I, sedangkan Kesultanan Kasepuhan oleh Pangeran Martawijaya gelar Sultan Sepuh I.

Pintu gerbang utama Kraton Kasepuhan memiliki dua pintu gerbang di utara dan selatan komplek. Gerbang utara yang berupa jembatan disebut Kreteg Pangrawit, sedangkan di sebelah selatan disebut Lawang Sanga (pintu sembilan). Kreteg Pangrawit merupakan akses masuk ke bagian depan keraton. Di bagian ini terdapat dua bangunan, yaitu Pancaratna dan Pancaniti.

Bangunan Pancaratna dengan ukuran 8 x 8 m berada di kiri depan komplek arah barat. Bangunan ini berlantai tegel dan berpagar terali besi. Atapnya berbahan genteng disangga 4 sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi dan 12 pada lantai yang lebih rendah. Di bagian puncak atap terdapat mamolo. Di sini, para demang atau wedana sering menerima pimpinan desa atau kampung yang datang hendak menghadap. Selain itu, bangunan ini merupakan tempat seba. 

Bangunan Pancaniti terletak di sebelah kiri bagian depan komplek. Bangunan ini berukuran 8 x 8 m, berlantai tegel, dan menghadap ke utara. Bangunan ini tidak berdinding. Atapnya berbahan sirap yang ditunjang 16 tiang. Bangunan ini memiliki pagar terali besi. Bangunan ini difungsikan sebagai tempat perwira melatih prajurit dalam perang-perangan, tempat istirahat, dan juga sebagai tempat pengadilan. 

Setelah melalui gerbang utama, terdapat halaman pertama melalui gapura adi atau gapura benteng. Halaman pertama merupakan komplek Siti Inggil terdiri dari mande pendawa lima, mande malang semirang, mande semar timadu, mande karesmen mande pengiring, dan pengada. Untuk memasuki halaman kedua melalui dua gerbang, yaitu regol pengada dan gapura lonceng. Halaman kedua terbagi dua, halaman pengada dan halaman komplek langgar agung. Halaman ketiga melalui pintu gledeg (guntur). Di bagian ini terdapat taman bunderan dewandaru, museum benda kuno, museum kereta, tunggu manunggal, lunjuk, sri manganti, dan bangunan induk keraton. Ruangan yang ada dalam bangunan induk keraton, antara lain kuncung dan kutagara wadasan, jinem pangrawit, gajah nguling, bangsal pringgandani, bangsal prabaya, bangsal agung panembahan, pungkuran, bangunan dapur maulid, dan pamburatan.

4. Taman Sari Gua Sunyaragi
Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Gua Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh Pangeran Kararangen. Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon. Gua Sunyaragi saat ini merupakan salah satu bagian dari keraton Kasepuhan. Sunyaragi berada tepat di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, dan termasuk dalam wilayah kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon denganluas sekitar 16 hektar. Di lokasi tersebut terdapat sebuah situs yang mirip candi. Konstruksi dan komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air. Oleh karena itu, masyarakat Cirebon biasa menyebut bangunan tersebut dengan nama Gua Sunyaragi, atau Taman Air Sunyaragi, atau sering disebut sebagai Tamansari Sunyaragi. Air yang keluar dari taman Sunyaragi tersebut pada zaman dahulu mengalir ke sebuah danau yang mengelilingi situs tersebut, yaitu Danau Jati. Saat ini Danau Jati sudah mengering. Lokasi persawahan dahulunya sudah digantikan oleh perumahan penduduk. Beberapa perubahan pada lokasi taman sari tersebut adalah telah dibangunnya air terjun buatan sebagai penghias, dan hiasan taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, dan Patung Garuda.

Sunyaragi menurut bahasa sansekerta berasal dari kata ”sunya” yang berarti sepi dan ”ragi” yang berarti raga atau jasad. Taman ini berada di dalam kekuasaan Keraton Kasepuhan. Taman Sari Gua Sunyaragi sering berubah fungsi menurut kehendak penguasa pada zamannya. Pernah fungsi taman tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Ada juga beberapa fungsi lainnya, namun secara garis besar Taman Sunyaragi adalah taman tempat para pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan.

Taman Sunyaragi terdiri dari 12 bagian: (1) bangsal jinem, tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih; (2) goa pengawal, tempat berkumpul para pengawal sultan; (3) kompleks Mande Kemasan (sebagian hancur); (4) gua Pandekemasang, tempat membuat senjata tajam; (5) gua Simanyang, tempat pos penjagaan; (6) gua Langse, tempat bersantai; (7) gua peteng, tempat nyepi untuk kekebalan tubuh; (8) gua Arga Jumud, tempat orang penting keraton; (9) gua Padang Ati, tempat bersemedi; (10) gua Kelanggengan, tempat bersemedi agar langgeng jabatan; (11) gua Lawa, tempat khusus kelelawar; (12) gua pawon, dapur penyimpanan makanan.

Arsitektur gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa. Ciri arsitektur dari gaya Indonesia klasik atau Hindu terlihat pada beberapa bangunan berbentuk joglo yang dapat dilihat diantaranya pada bangunan Bale Kambang, Mande Beling dan gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular. Dilihat dari ornamen bangunan secara keseluruhan menunjukkan adanya suatu sinkretisme budaya yang kuat yang umumnya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik atau Hindu.

Gaya Cina juga terlihat dari arsitektur gua sunyaragi. Hal ini dicirikan pada pada ukiran bunga seperti bentuk bunga persik, bunga matahari dan bunga teratai. Pengaruh Cina juga diperkuat, pada zaman dahulu, oleh adanya hiasan berbagai ornamen keramik Cina di bagian luarnya. Saat ini banyak hiasan keramik-keramik yang hilang atau rusak sehingga sulit tidak diketahui corak atau motif keramik tersebut. Lokasi hiasan keramik-keramik di antaranya pada bangunan Mande Beling serta motif mega mendung seperti pada kompleks bangunan gua Arga Jumut memperlihatkan bahwa gua Sunyaragi mendapatkan pengaruh gaya arsitektur Cina. Hal ini kemudian diperkuat lagi dengan adanya semacam kuburan Cina. Dikatakan demikian karena fungsi bangunan tersebut bukan layaknya kuburan biasa melainkan sejenis monumen yang berfungsi sebagai tempat berdoa para keturunan pengiring-pengiring dan pengawal-pengawal Putri Cina yang bernama Ong Tien Nio atau Ratu Rara Sumanding yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati.

Gaya Islam dan tikmur tengah juga terlihat pada arsitektur Gua Sunyaragi. Pembangunan gaya arsitektur tersebut adalah tatkala pemimpin pada masa lalu adalah seorang Sultan yang beragama Islam. Beberapa lokasi yang mencirikan gaya keislaman tersebut adalah pada relung-relung dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap pasholatan atau musholla, adanya beberapa pawudlon ‘tempat wudhu’ serta bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Hal tersebut menjelaskan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi juga mendapat pengaruh dari Timur Tengah atau Islam.

Pada masa penjajahan Belanda, Gua Sunyaragi tak luput dari sentuhan arsitektur bergaya kolonial atau eropa. Tanda tersebut dapat terlihat pada bentuk jendela yang tedapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga berputar pada gua Arga Jumut dan bentuk gedung Pesanggrahan.

Popular Posts