WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Kebijakan Pembangunan Kebudayaan sebagai Pondasi Pengelolaan Kebudayaan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

Oleh : Dr. Nanang Koswara
Disajikan pada acara :
Sosialisasi Saka Widya Budaya Bakti Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan
Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung
Bandung, 28 Oktober 2014,  Hotel Puri Khatulistiwa Jalan Raya Jatinangor

Selayang Pandang
  • Undang-undang No. 11 tahun 2010, tentang Cagar Budaya
  • Undang-undang Kebudayaan Masih dalam Rancangan
  • Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang  Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan
  • Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman
  • Permendikbud Nomor 85 Tahun 2013 tantang Standar Pelayan Minimal Bidang Kesenian
Manajemen Kebudayaan dan Pembudayaan Jawa Barat
Provinsi Jawa Barat dalam bidang kebudayaan termasuk ke dalam  misi 5 : Meningkatkan kehidupan sosial, seni dan budaya, peran pemuda dan olah raga serta Pengembangan pariwisata dalam Bingkai Kearifan Budaya Lokal dengan kebijakan :
  • Meningkatnya pelestarian budaya lokal
  • Mendukung terwujudnya Jawa Barat sebagai pusat budaya
  • Meningkatnya pelestarian seni dan perfilman daerah  serta meningkatnya kualitas dan kuantitas pusat gelar karya seni dan budaya
  • Meningkatnya perlindungan dan pengakuan atas seni dan budaya Jawa Barat
  • Meningkatnya penghargaan dan pembinaan kepada seniman, budayawan, komunitas seni, budaya, dan pariwisata, serta masyarakat
Visi Misi Disparbud Provinsi Jawa Barat
  • Visi, mewujudkan Jawa Barat sebagai pusat budaya dan destinasi wisata berkelas dunia.
  • Misi, meningkatkan pembangunan perekonomian regional berbasis potensi local, melestarikan aset budaya local, mengefektifkan seni dan budaya sebagai aset daerah yang mendukung kepada pengembangan kepariwisataan Jawa Barat dalam bingkai kearifan lokal, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang kebudayaan dan pariwisata
Aspek Penting Pengelolaan Kebudayaan
  • pengadopsian metode perencanaan baru, sebuah perencanaan yang memiliki pendekatan multidimensi yang dapat mengakomodasi sifat-sifat multidimensi, pertentangan, dan ketidaksepadanan
  • dari partisipasi menjadi kemitraan, sebuah manajemen yang menjadikan masyarakat tidak hanya memenuhi kewajiban administrasi, tetapi melibatkan mereka lewat berbagi informasi, konsultasi, pembuatan keputusan dan pelaksanaan aksi.
  • membuat sistem informasi dari bawah ke atas atau sebaliknya
  • memberi pelatihan bagi pembuat keputusan (agen) terhadap pendekatan budaya yang sensitif bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan
Kebijakan Pembangunan Jawa Barat
  • Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang  Bendera,Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan;
  • Undang – Undang Nomor  33 Tahun 2009 tentang Perfilman;
  • Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
  • Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;
  • Permendikbud Nomor 85 Tahun 2013 tentang Standar Pelayan Minimal Bidang Kesenian;
  • Permenbudpar  No PM.45/UM.001/MKP/2009 tentang Pedoman Permuseuman;
  • PERDA No. 5 tahun 2003, Tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra dan Aksara Daerah;
  • PERDA No.6 tahun 2003, Tentang Pemeliharaan Kesenian; dan
  • PERDA No.7 tahun 2003, Tentang Pengelolaan Kepurbakalaan, Kesejarahan, Nilai Tradisional dan Museum.
Bidang yang menangani Program Kebudayaan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Provinsi Jawa Barat
  • Bidang Kebudayaan;
  • Bidang Kesenian;
  • Balai Pengelolaan Museum;
  • Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, dan Nilai Tradisional;
  • Balai Pengelolaan Taman Budaya;
  • Balai Pengelolaan Anjungan Jawa Barat (TMII) Jakarta
Program Kegiatan yang berhubungan dengan Remaja
Kebijakan-kebijakan itu melahirkan berbagai program kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan kepemudaan, diantaranya :
  • Duta Seni Remaja;
  • Mitra Praja Utama;
  • Lomba Menulis Puisi Berbahasa Daerah;
  • Kemah Sastra;
  • Workshop Perfilman;
  • Festival Kaulinan Urang Lembur;
  • Lomba Presenter Berbahasa Sunda;
  • Festival Pantun Melayu Betawi;
  • Worksop Bahasa dan Sastra Daerah, dll.

Darmaraja Festival 2013 (4)












Bunda PAUD Dessy : Jangan Sampai Budaya Kita Diakui Bangsa Lain

Waykanan- Kebanggaan bangsa akan budaya yang beraneka ragam menjadi tantangan bagi seluruh rakyat untuk mempertahankan budaya lokal agar tidak hilang atau pun dicuri oleh bangsa lain.

Hal itu dikatakan Bunda pendidikan anak usia dini Kabupaten Waykanan Dessy Afrianti Adipati dalam pagelaran seni daerah Lampung dan Gebyar Paud di perayaan HUT ke 19 kabupaten setempat.

"Kebudayaan Bangsa Indonesia adalah harta yang mempunyai nilai yang cukup tinggi di mata masyarakat dunia. Dengan melestarikan budaya lokal kita bisa menjaga budaya bangsa dari pengaruh budaya asing, dan menjaga agar budaya kita tidak diakui oleh negara lain," kata dia dalam rilisnya.

Dessy pun mengapresiasi kepada Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, yang telah mendukung Pelaksanaan gebyar PAUD, dan itu menunjukan komitmen bersama terhadap kemajuan pendidikan PAUD di Kabupaten Waykanan.

Menurutnya, Pencanangan gerakan nasional PAUD berkualitas, khususnya di Kabupaten Waykanan harus terus berbenah agar memiliki PAUD yang berkualitas. Pendidikan anak usia dini sangat penting, mengingat kebutuhan masyarakat untuk mengoptimalkan tumbuh kembangkan anak secara holistik lewat layanan pendidikan anak usia dini semakin meningkat.

Ia menjelaskan, hasil penelitian 0 – 6 tahun merupakan usia perkembangan emas saat fisik dan otak anak berada dimasa pertumbuhan terbaiknya. Dimana kemampuan otak menyerap informasi sangat tinggi.

Stimulasi pendidikan yang positif sangat penting bagi perkembangan anak, karena tidak tepat akan berdampak negatif bagi kehidupan selanjutnya dan tidak dapat diperbaiki.

“Hari ini akan ada pagelaran budaya daerah, bertujuan bertujuan memperkenalkan kepada generasi muda budaya daerah, yang merupakan menjadi tanggung jawab kita bersama agar tetap lestari, karena budaya merupakan salah satu identitas suatu negara,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, gebyar PAUD memperlombakan 11 jenis perlombaan yaitu, hafalan surat-surat pendek, melengkapi gambar, memasang puzzle, Lantai huruf dan bilangan, Bermain Drama/Karakter, mendongeng boneka tangan, senam ceria, variasi balok susun, fashion show, lomba APE dalam, tari siger pengunten dan dan masih banyak lainnya.

Sementara, Nandang Kusnandar dari BPNB Jawa Barat mengatakan kesenian sudah seharusnya sejak dini di kenalkan kepada anak – anak, agar pelestariaanya terus dapat terjaga dengan baik.

Selain itu, banyak sekali kebudayaan asli Indonesia diakui oleh negara lain, lantaran kurangnya perhatian dari Pemerintah. Dengan adanya pendidikan seperti ini, anak – anak yang akan datang dapat melestarikan dan terus menjaga kebudyaan asli Indonesia agar tidak di akui oleh negara tetangga.

“Kalau bukan sejak dini tidak mungkin anak – anak yang akan bisa mengenali kebudayaan Indonesia, alhamdulilah antusias sekolah untuk mengantarkan anak didiknya ke acara ini harus di berikan apresiasi karena ingin menjaga kelestarian budaya Indonesia Khususnya Provinsi Lampung,” kata dia.

Pada kesempatan ini juga, BPNB Jawa Barat menampilkan kesenian Kuda Lumping, Tari Kreasi Lampung, Kesenian Marawis, Seni Kulintang Lampung, Gamolan dan Gitar Klasik Lampung. (**)

Sumber: http://www.saibumi.com

Staf BPNB Jawa Barat (6)












BPNB Jawa Barat Gelar Jejak Tradisi Daerah

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) JawaBaratGelar Jejak Tradisi Daerah. Kegiatan ini diikuti 150 Siswa-Siswi SMU dari 4 Provinsi yaitu provinsi Lampung, DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

Agus Setiabudi S.Ip Kasubag TU BPNB Jawa Barat menyampaikan bahwa kegiatan jejak jejak tradisi daerah ini di selenggarakan selama 3 Hari . BPNB Jawa Barat memiliki 4 Wilayah Kerja yaitu Provinsi Lampung,DKI Jakarta , Jawabarat dan Provinsi Banten hal itu di sampaikan Agus Setiabudi saat di temui Fokupriangan Di Objek wisata Karangkamuliayan Sabtu Pagi (28/04/2018).

Dalam Kunjungannya ,menurut Agus di Kab.Ciamis mengunjungi beberapa tempat yaitu kecamatan Sukamantri yang terkenal dengan Bebegig Sukamantri , ke sentra Gelendo Kuliner Khas Ciamis di Cilame , ke Kampung Angklung di Panyingkiran , dan terakhir mengunjungi situs karangkamulyan.

“Adapun Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkenalkan kekayaan Budaya Bangsa kepada generasi muda , menumbuhkan pemahaman generasi Muda tentang keanekaragaman budaya bangsa yang satu dengan lainnya mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri dan menumbuhkan sikap saling menghargai antara pendukung budaya yang satu dan lainnya,” terang Agus.

Berharap dengan kegiatan jejak-jejak tradisi daerah bisa lebih menambah kecintaan generasi Muda akan Budaya Bangsa, mengenal lebih dekat kekayaan Budaya, Juga bisa melestarikan Budaya Bangsanya Sendiri Pungkasnya.” (Fahmi)

Sumber: https://fokuspriangan.com

Popular Posts