WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Sejarah Kerajaan Sumedang Larang

Oleh Euis Thresnawaty S.

Abstrak
Menelusuri sejarah keberadaan sebuah kerajaan merupakan salah satu upaya melakukan revitalisasi dengan semangat reformasi dengan mengambil hal-hal yang baik dan membuang yang buruk. Kerajaan dalam sejarah bangsa Indonesia menyimpan cerita kejayaan dengan berbagai pencapaian keunggulan budaya. Hal ini dapat menjadi pelajaran dan sumber kearifan di dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar itu maka dilakukan penelitian mengenai sejarah Kerajaan Sumedang Larang dengan tujuan untuk mengungkap proses berdiri dan berkembangnya. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah. Ternyata Kerajaan Sumedang Larang memiliki catatan sejarah yang cukup panjang, karena mengalami tiga masa dalam catatan sejarahnya, yaitu saat didirikan masa klasik menjadi kerajaan bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran, menjadi kerajaan Islami dan merdeka, serta menjadi kabupaten di bawah Kerajaan Islam Mataram.

Kata kunci: sejarah kerajaan, Jawa Barat.

Abstract
Tracing the history of a kingdom is one of the efforts to revitalize the spirit of good old things and abandoning bad ones. In the history of Indonesian people kingdoms have contributed to the glorious story of the people’s cultural achievements. We can learn our lessons from the old wisdoms for the benefit of our lives today. Based on this point of view, the author has conducted a research on the Kingdom of Sumedang Larang in order to know its process of esblishment and development. History method is used in this research. Actually, Sumedang Larang had a quite long records of history because it had witnessed three periods of time: a) as a vassal of the Sunda Kingdom of Pajajaran in its classical period; b) as an independent Islamic kingdom, and c) as a kabupaten (regency) under the Islamic Kingdom of Mataram.

Keywords: history of kingdom, West Java.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 1 Maret 2011

Wawacan Buhaer Kajian Struktural dan Analisis Isi

Oleh Agus Heryana

Abstrak
Wawacan Buhaer adalah sebuah naskah koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sribaduga Provinsi Jawa Barat dan École Française d’Extréme-Orient (EFEO-Jakarta) yang ditulis tangan dengan menggunakan huruf Arab Pegon serta dalam Bahasa Sunda. Teks Wawacan Buhaer berisi mengenai tokoh Buhaer. Buhaer adalah nama seorang pemuda miskin yang menjadi kaya karena faedah tiga buah azimat sakti. Tujuan penelitian teks Wawacan Buhaer adalah untuk mengungkap dan menyosialisasikan nilai budayanya. Guna mengungkap kandungannya, teks Wawacan Buhaer dikaji dari sudut bidang sastra dengan menggunakan pendekatan stuktural dan analisis isi. Hasil pengkajiannya memberikan gambaran bahwa di dalam mencapai cita-cita atau keinginan seseorang harus mempunyai semangat, keteguhan hati, ketabahan dan kesabaran dalam penderitaan, serta kekuatan atau kemampuan diri di dalam menanggulangi rintangan atau gangguan.

Kata kunci: naskah, Wawacan Buhaer, kajian stuktural, analisis isi.

Abstracts
Wawacan Buhaer is a manuscript that belongs to Balai Pengelolaan Museum Negeri Sribaduga, the Province of West Java and École Française d’Extréme-Orient (EFEO), Jakarta. It is written in Arab Pegon with the Sundanese language. It tells about Buhaer, a poor young man who became rich because he had three magical amulets. The research tried to reveal and to socialize its cultural values from literature point of view by means of structural approach and content analysis. The result gives us view that if we have a desire then we have to have the strength, either mentally or spiritually, to cope with any kinds of obstacles.

Keywords: manuscript, Wawacan Buhaer, structural study, content analysis.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 1 Maret 2011

Fungsi dan Peranan Pemimpin Informal Masyarakat Kampung Urug di Kabupaten Bogor Jawa Barat

Oleh Tjetjep Rosmana

Abstrak
Pemimpin informal dalam suatu kampung adat sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, oleh sebab itu eksistensinya tidak dapat dihilangkan. Ia tumbuh dan berkembang serta muncul dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakatnya. Oleh karena itu penulis sangat tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Kajian mengenai Fungsi dan Peranan Pemimpin Informal pada Masyarakat Kampung Urug, di Kabupaten Bogor. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana, mengapa dan dalam hal apa saja pemimpin adat di kampung adat tersebut berperan. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif. Metode ini digunakan untuk memperoleh data seluas-luasnya di lapangan dalam rangka mempelajari kondisi masyarakat yang sedang diteliti. Kegiatan yang dilakukan adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai peranan pemimpin adat dalam kehidupan masyarakat. Data dianalisis secara kualitatif dan diharapkan dapat menggambarkan mengenai peranan pemimpin adat.

Kata kunci: Fungsi dan Peranan Pemimpin Informal.

Abstract
Informal leaders play an important role in daily life of a kampung adat. Therefore, his existence can not be eliminated. This kind of leaders grow and develop within, by, and for his community. The author is interested in studying the role and function of an informal leader in Kampung Urug in Kabupaten Bogor, in order to know to what extent is his function and role in the community. The author has conducted a descriptive method, the one that is used to get data as vast as possible during fieldwork to study the community in question and collecting information concerning the role of the adat leader in the life of the society. Data were analysed qualitatively and hopefully they can describe the role of the adat leader.

Keywords: function and role of informal leader.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 1 Maret 2011

Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Puisi Sisindiran Bahasa Sunda Di Kabupaten Bandung

Oleh Aam Masduki

Abstrak
Sindiran adalah salah satu bentuk puisi Sunda lama yang terdiri atas sampiran dan isi. Namun demikian kepuisiannya terbatas pada rima dan irama, bukan pada diksi dan imajinasi seperti halnya puisi modern (sajak). Bahasanya mudah dipahami seperti bahasa sehari-hari. Dalam sastra Indonesia bisa disebut pantun. Sisindiran “pantun” merupakan puisi rakyat yang sangat digemari masyarakat. Sisindiran dapat mengungkapkan atau mencerminkan perasaan, keadaan lingkungan, dan situasi masyarakat desa, petani, dan lain sebagainya. Biasanya dituturkan dalam suasana santai, berkelakar, berbincang-bincang, dan suasana formal, misalnya dalam upacara adat perkawinan, melamar, dan sebagainya. Dalam perkembangannya, sangat luwes, mudah memasuki berbagai gendre sastra lainnya, seperti cerita pantun, wawacan, novel, cerpen, novelet bahkan kadang-kadang muncul juga pada puisi modern. Dilihat dari pembentukannya, kata sisindiran berasal dari bentuk dasar sindir ‘sindir’. Dengan demikian sisindiran merupakan bentuk kata jadian yang diperoleh dengan cara dwipurwa (pengulangan awal) disertai akhiran-an. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yaitu seluruh data yang diperoleh dari lapangan dikumpulkan, kemudian dianalisis dengan cara dikaji dan diklasifikasikan menurut struktur, isi, dan fungsi yang dikandungnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Adanya sisndiran dalam bentuk tertulis merupakan dokumentasi pengawetan karya sastra agar tidak mengalami kepunahan, (2) Menunjang kemudahan untuk menyusun sejarah sastra, serta pengembangan teori sastra, khususnya sastra lisan Sunda,.(3) Hasil pendokumentasian ini akan sangat bermanfaat untuk perbendaharaan bahasa, sastra, dan budaya daerah. Hasil akhir dari penelitian ini ungkapan-ungkapan dalam sisindiran diharapkan menjadi bahan bacaan yang dapat menuntun generasi berikut ke jalan kebaikan melalui ungkapan yang disampaikan secara langsung atau tidak langsung (menyindir).

Kata kunci: nilai-nilai, puisi, sisindiran, bahasa Sunda.

Abstract
Sisindiran is a type of old Sundanese poem. It consists of sampiran and content. Sampiran is the first two rows that have nothing to do with the content but functions as rhyme to the sentence of the content. Unlike modern poems, sisindiran is practically limited to rhyme and rhythm, excluding diction and imagination. The language used in sisindiran is everyday and easy-to-understand one. Indonesian literature call it pantun. As a pantun, sisindiran is very popular amongst Sundanese people as it reflects feelings, village environment (the peasants and the village itself). Sisindiran is usually used either in formal and informal settings because it is very flexible, in terms of it is easily fitted to other genres such as carita pantun, wawacan, novels, short stories, even modern poems. Etymologically, sisindiran derives from the word sindir that has been duplicated and suffixed. This research has conducted a descriptive-analytical method. Data were collected then analysed by studying and classifying the structure, content and function they contain. The purpose of the research are: 1) to preserve literature arts by providing their written documents, 2) to make it easier to arrange literature history and developing theory of literature, especially for Sundanese oral literature, and 3) to enrich the treasures of regional languages, literatures, and cultures. Hopefully, the expressions used in sisindirann can be a guidance for young generations in order to make them take the good path in their future lives, either directly or indirectly (through allusions).

Keywords: values, poems, sisindiran, Sundanese language.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 1 Maret 2011

Arsitektur Tradisional Rumah Kampung Pulo

Oleh Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Rumah tradisional Kampung Pulo dibangun oleh Embah Dalem Syarif Muhammad, sekitar abad ke-17. Pembangunan keenam rumah dan sebuah masigit yang kini berada di Desa Cangkuang Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, diperuntukkan keenam putrinya dan seorang putranya. Arsitektur tradisional rumah Kampung Pulo, mencirikan unsur budaya Sunda, baik bentuk, struktur, dan ragam hiasnya walau tidak secara langsung, tetapi tetap mempertahankan tata nilai yang ada sepanjang perjalanan sejarahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami peranan masyarakat di dalam mempertahankan arsitektur rumah serta fungsi simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat serta hubungannya dengan arsitektur rumah Kampung Pulo. Adapun metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif analitis.

Kata kunci: arsitektur, tradisional, Kampung Pulo.

Abstract
Traditional houses of Kampung Pulo were built around 17th century by Embah Dalem Syarif Muhammad. These houses comprise six houses for his daughters and a mosque for his son. As a whole, the architecture of the houses reflect Sundanese traditional architecture that preserved its values over history. The goal of the research is to dig and to comprehend the role of the society in preserving the architecture and the function of symbols in the society in relation to the architecture itself. The methodology of research is based on Winarno Surakhmad (1985:139): a method that is used to investigate and to solve problems that covers collecting, analysing and interpreting data, as well as making conclusion based on the research. The author has conducted a descriptive-analytical method.

Keywords: architecture, traditional, Kampung Pulo.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 1 Maret 2011

Popular Posts