WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Pemberdayaan Nilai Etika, Estetika, dan Ekonomi sebagai Upaya Pelestarian Kesenian Tradisional Kuda Renggong

oleh Irvan Setiawan

Makalah dalam kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung pada hari Selasa, tanggal 28 April 2015 di Aula Srimanganti, Kabupaten Sumedang

A. Pendahuluan
Kebudayaan merupakan kerangka acuan atau pedoman bagi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan antarsesama warga masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan akan mempunyai pengaruh besar terhadap pengetahuan, pembentukan sikap, kepercayaan, dan perilaku setiap individu. Pada masa sekarang, ketika kontak kebudayaan semakin meningkat dan intensif, banyak sekali terjadi pergeseran dan perubahan dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam perubahan pengetahuan, pandangan, sikap dan tingkah laku mengenai budaya tradisional.
Pergeseran atau perubahan kebudayaan yang terlihat pada saat ini salah satunya ada pada bidang tradisional. Pengaruh unsur budaya global yang menampilkan banyak hal berbeda sekali dengan kesenian tradisional ternyata banyak diminati masyarakat. Sebuah kecenderungan atau kenyataan yang memang tidak dapat terhindarkan. Apalagi dengan berangsur-angsur sejalan dengan semakin maraknya berbagai tawaran seni melalui media, terutama media televisi. Kesenian yang semula menjadi milik masyarakat semakin terpinggirkan. Bahkan tidak sedikit kesenian, khususnya yang berkembang di masyarakat saat ini secara perlahan, namun pasti memasuki masa kepunahan atau sama sekali sudah punah karena dilupakan oleh komunitasnya.
Saat ini banyak terlihat unsur-unsur dalam sebuah kesenian tradisional – yang masih bertahan – banyak mengalami perubahan di berbagai sisi sementara nilai estetika dan nilai budi pekerti yang terkandung di dalamnya banyak dikesampingkan. Unsur hiburan mendominasi pergeseran atau perubahan pada kesenian tradisional. Mereka hanya menganggap bahwa sebuah hiburan kesenian (tradisional) dianggap sukses apabila banyak ditonton masyarakat. Apalagi bila mendatangkan banyak keuntungan dalam satu kali pergelaran. Sungguh disayangkan apabila kesenian tradisional kehilangan jati dirinya dan “berselingkuh” dengan kesenian modern untuk kemudian “menanggalkan” baju kebesaran yang pernah membesarkan mereka dahulunya. Kolaborasi atau apapun bentuknya memang sah-sah saja diterapkan pada kesenian tradisional namun tidak boleh seenaknya saja berganti rupa dengan alasan melestarikan kesenian tradisional.
Kabupaten Sumedang merupakan salah satu gudang kesenian tradisional di Jawa Barat. Pemerintah Daerahpun selama ini sudah cukup tanggap akan hal back to the nature. Kembali ke “alam”, yang pernah membesarkan mereka hingga pada tingkat kerajaan (Sumedang Larang). Sebuah langkah positif dan patut mendapat acungan jempol. Kegiatan untuk menggalakkan kembali kesenian tradisional di antaranya dengan membuat sebuah Kampung Adat Rancakalong, Festival kesenian tradisional setiap tahunnya, serta banyak lagi dengan harapan agar masyarakat mengerti dan mencintai warisan budaya leluhur mereka.
Kuda Renggong yang menjadi maskot Sumedang tentu saja mendapat perlakuan serupa. Sebagai seni pertunjukan rakyat yang berbentuk seni helaran (pawai, karnaval), Kuda Renggong telah berkembang dilihat dari pilihan bentuk kudanya yang tegap dan kuat, asesoris kuda dan perlengkapan musik pengiring, para penari, dll., dan semakin hari semakin semarak dengan pelbagai kreasi para senimannya. Hal ini tercatat dalam setiap festival Kuda Renggong yang diadakan setiap tahunnya. Akhirnya Kuda Renggong menjadi seni pertunjukan khas Kabupaten Sumedang. Kuda Renggong kini telah menjadi komoditi pariwisata yang dikenal secara nasional dan internasional.
Perkembangan yang begitu pesat untuk sebuah kesenian tradisional seperti kuda renggong jika dicermati secara mendalam tampak adanya keapikan penataan value arrangement yang menyangkut tiga sektor, yaitu etika, estetika, dan ekonomi. Nilai etika mengacu pada nilai kerjasama, kekompakan, ketertiban, dan ketekunan. Nilai estetika terlihat dari wujud kesenian kuda renggong yang sangat khas dan memancarkan aroma seni sangat kental. Nilai ekonomi merupakan nilai ketiga namun menjadi faktor yang menentukan kelangsungan nilai etika dan estetika. Beranjak dari ketiga nilai tersebut, akan dideskripsikan tiga buah nilai tersebut sebagai upaya pelestarian kesenian kuda renggong.

B. Pembahasan
1. Nilai Etika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah: 1 ilmu tt apa yg baik dan apa yg buruk dan tt hak serta kewajiban moral; 2 kumpulan asas atau nilai yg berkenaan dng akhlak; 3 asas perilaku yg menjadi pedoman. Berdasarkan pengertian tersebut, kuda renggong merupakan kesenian yang pada beberapa bagian mengambil sudut etika yang mengajarkan kepada manusia mengenai sebuah kebenaran yang hakiki. Kebenaran yang salah satunya dibalut dalam sebuah tradisi dengan mengacu pada agama tertentu (Islam) yang mewajibkan laki-laki untuk dikhitan. Fungsi kuda renggong dalam sudut nilai etika dalam hal ini digambarkan sebagai pelengkap dari tradisi khitanan pada masyarakat Sumedang.
Fungsi pelengkap yang mungkin pada sebagian orang dirasa tidak perlu untuk menghadirkan kesenian kuda renggong dalam tradisi khitanan pada masyarakat Sumedang pada masa kekinian memang sah-sah saja apabila mempertimbangkan status ekonomi orangtua sang anak. Namun, pendapat tersebut akan berbalik arah apabila sang anak berkeras untuk menghadirkan seni kuda renggong sebagai bentuk “pamrih” atas rasa sakit yang diderita sang anak saat dikhitan. Dan, pada sebagian orangtua tentu ada yang merasa tidak tega untuk menolak keinginan sang anak yang sedang menjalani proses inisiasi (pendewasaan) tersebut.
Terlepas dari keterpaksaan orangtua dalam menghadirkan kuda renggong dalam tradisi khitanan, terselip di dalamnya sebuah nilai etika yang seakan menjadi kewajiban untuk “berlaku baik” kepada sang anak. Istilah “berlaku baik” akan mengedepan apabila ada rasa keterpaksaan yang didasarkan atas kebiasaan yang membudaya pada masyarakat sekitar yang mewajibkan kehadiran seni kuda renggong saat melaksanakan tradisi khitanan.

Bentuk prosesi seni kuda renggong dalam tradisi khitanan memang seakan memancarkan sebuah permainan yang menyenangkan dan meriah khususnya bagi sang anak. Sisi permainan yang menjadi faktor pemicu menjadikan sang anak begitu ingin ada seni kuda renggong saat ia dikhitan. Keinginan yang dapat dianggap wajar apabila pemikiran diarahkan pada salah satu sifat manusia sebagai mahluk bermain (homo ludens).
Peningkatan status kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan setelah sang anak diarak dengan menggunakan seni kuda renggong. Ia akan merasa bangga di saat berada di punggung kuda yang berjalan melalui rute tertentu serta dilihat oleh teman-teman sepermainannya.
Alih-alih peningkatan status, prosesi arak-arakan kuda renggong juga dapat dilihat dari sudut etika saat penyambutan tamu agung. Beberapa sesi acara saat kunjungan tamu “agung” di Kabupaten Sumedang kerap memakai seni kuda renggong. Sang tamu agung dipersilahkan menunggangi kuda renggong yang bergerak melewati rute yang telah ditentukan untuk menuju lokasi acara.

Nilai etika dan status sang tamu saat pelaksanaan arak-arakan secara tidak langsung akan terangkat di saat ia melewati kerumunan masyarakat yang seakan menyambut kedatangannya. Memang bukan menjadi sebuah tradisi wajib bagi sang tamu dalam setiap kunjungan di wilayah Kabupaten Sumedang untuk menggunakan kuda renggong, namun hal ini sudah menjadi kebiasaan (bukan tradisi) – belum diketahui sejak kapan – yang digunakan untuk menghormati tamu agung.
Kepiawaian kuda renggong dalam memperagakan berbagai gerak tidak terlepas dari kepiawaian sang pelatih. Ada nilai etika dalam proses pelatihan kuda renggong. Pedoman pelatih adalah pelatihan yang baik akan menghasilkan lulusan yang baik. Definisi “baik” dalam hal ini tergantung dari karakter kuda itu sendiri. Bagi kuda yang berkarakter halus, pelatih akan menggunakan cara halus dan berperasaan sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal. Sementara kuda yang berkarakter keras dan pemberontak tentunya akan diperlakukan sesuai dengan karakter kuda tersebut.
Dengan demikian, terlaksananya pementasan seni kuda renggong baik dalam proses pelatihan, tradisi berkhitan, dan penyambutan adalah beberapa contoh sebuah nilai etika yang dibentuk oleh sekumpulan perilaku yaitu : kerja sama, kekompakan, ketertiban, dan ketekunan. Nilai kerjasama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan gerakan-gerakan tarian.

2. Nilai Estetika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, estetika adalah: 1 ilmu (ajaran atau falsafat) tt seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya; 2 kepekaan thd seni dan keindahan. Antara keindahan dan seni merupakan sebuah kesatuan yang saling mengikat. Kehausan manusia untuk memperoleh keindahan mau tidak mau akan mengarahkan kreatifitas manusia dalam mengolah jiwa dan raga untuk berkreasi menciptakan sebuah tema yang diwujudkan dalam sebuah karya seni.
Seni sebagai ekspresi jiwa manusia sudah barang tentu mengandung nilai estetika, termasuk kesenian tradisional kuda renggong yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat Cikurubuk, Kabupaten Sumedang. Nilai estetika yang mendominasi seni kuda renggong dapat dilihat mulai dari pemilihan kuda, pola gerak, dan busana. Dalam proses pemilihan kuda, akan dilihat beberapa bagian dari anatomi kuda menjadi pusat perhatian untuk memilih kuda, diantaranya kaki, wajah, dan badan. Tiga bagian tersebut akan dilihat puseur (ciri-ciri) yang akan menentukan apakah kuda tersebut membawa keberuntungan/kesialan, berkarakter halus/keras, dan berbakat/tidak berbakat.

kuda renggong 3 kuda renggong 1 kuda renggong 2

Nilai estetika juga dapat dilihat dari pola gerak kuda renggong. Ada beberapa gerakan yang wajib dilakukan oleh kuda renggong, di antaranya Adean (lari melintang), hayam beger (gerak lari kepinggir), torolong (gerak langkah pendek tapi cepat), derep,/jogrog (melangkah cepat), dan congklang (gerak kaki kedepan cepat). Kerapihan dan keteraturan gerak akan terlihat indah dan menarik dimata penonton. Dan, hal tersebut tentu menimbulkan perasaan bangga dari sang pelatih karena kuda yang dilatihnya dapat tampil maksimal.

Busana sebagai unsur pelengkap dalam seni kuda renggong pada masa kini dikemas serius dan apik untuk menambah nilai estetika pada saat pementasan. Gemerlap dari untaian aksesoris dengan warna kontras sengaja diterapkan baik pada busana kuda renggong maupun pengiringnya.

3. Nilai Ekonomi

Segi ekonomi dalam pertunjukan kuda renggong pada masa lalu bukan menjadi prioritas yang akan menentukan bagus tidaknya pertunjukan kuda renggong. Lain halnya dengan kondisi kekinian. Nilai ekonomi dapat dikatakan menjadi faktor penentu kelangsungan dan keseriusan dalam seni kuda renggong. Proses pelestarian budaya tergantung dari 2 faktor, yaitu pekerja seni dan penonton. Sinergi di antara keduanya akan menimbulkan efek berkepanjangan antara yang memberi dan menerima. Sang pemberi yang dalam hal ini adalah pekerja seni berusaha tampil maksimal agar penonton (penerima) lebih tertarik dan memberikan nilai tambah pada pekerja seni tersebut. Bentuk resiprositas yang saling menguntungkan tersebut mengakibatkan semakin tenarnya sang pekerja seni sehingga bukan tidak mungkin order pertunjukan atau pementasan akan mengalir deras. Tentunya hal tersebut akan menambah pundi-pundi rupiah pekerja seni kuda renggong.

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberlangsungan dan kelestarian sebuah kesenian tradisional pada saat ini harus didukung oleh kemandirian pekerja seni dan animo masyarakat terhadap kesenian tersebut. Sudah banyak contoh kegagalan akibat ketidakmandirian pekerja seni tradisional yang mengharap bantuan pemerintah dalam upaya pelestarian namun tidak didukung oleh kreativitas sehingga animo masyarakat tetap saja tidak tergerak untuk datang dan menyaksikan pementasan kesenian tradisional tersebut. Kreativitas dalam hal ini terbentuk dari kolaborasi beberapa unsur seni yang dimasukan ke dalam kesenian tradisional tertentu. Kolaborasi yang menjadi pilihan utama dengan memasukan unsur seni lain ke dalam kesenian kuda renggong semata-mata agar sebuah pertunjukan tradisional menjadi lebih menarik dan mampu meraup massa pendukung sebanyak-banyaknya. Satu contoh kecil yang diterapkan adalah dengan memasukan lagu-lagu yang sedang trend saat pementasan kuda renggong. Ada juga upaya kolaborasi warna dalam kostum kuda renggong dan pengiring dengan memasukan unsur warna baru sehingga pementasan seni kuda renggong menjadi semakin meriah dan gemerlap.

C. Penutup
Dapat dirasakan bahwa seni kuda renggong saat ini sudah menjadi salah satu maskot budaya Kabupaten Sumedang. Suguhan kesenian tradisional kuda renggong kerap dihadirkan dalam setiap pagelaran dan festival seni tradisional. Tidak hanya dalam wilayah Sumedang saja, seni kuda renggong bahkan sudah dikenal baik di tingkat kabupaten/kota hingga ke tingkat provinsi bahkan ke mancanegara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penataan dan sinergisitas antara nilai etika, estetika, dan nilai ekonomi yang baik akan sangat membantu proses pelestarian kesenian tradisional.

Kesenian Tradisional Kabupaten Garut

Kesenian Tradisional Kabupaten Garut
Oleh: Wawan Somarwan, S.Sen (Disbudpar Kab. Garut)

Makalah dalam kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan yang diselenggarakan oleh BPNB Bandung pada tanggal 23 Mei 2015 di Aula SMA Negeri 11 Garut

BADENG
Pimpinan : Bapak Mumu (Desa Sanding Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut)
Kesenian tradisional BADENG diciptakan pada tahun 1800 yaitu di jaman Para Wali, kesenian ini mula-mulanya diciptakan oleh seorang tokoh penyebar agama Islam bernama ARFAEN NURSAEN yang berasal dari daerah Banten yang kemudian terus menetap di Kampung Sanding Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut, beliau dikenal masyarakat disana dengan sebutan LURAH ACOK.

Lurah Acok berfikir didalam hatinya bagaimana caranya supaya ajaran agama Islam dapat menyebar luas di masyarakat waktu itu agama Islam sangat asing sekali. Pada suatu saat dia pergi menuju suatu perkampungan di daerah Malangbong dan di tengah jalan beliau menemukan sesuatu benda yang bentuknya panjang bulat terbuat dari bambu serat dengan tidak sadar maka benda itu dibawanya ke rumah dan bambu tersebut dibuat suatu alat yangt bisa mengeluarkan bunyi. Pada saat itu juga ARFAEN mengumpulkan para santri dan mereka disuruhnya membuat alat-alat lainnya yang terbuat dari bambu-bambu yang sudah tua untuk memadukan bunyinya dengan alat yang Arfaen buat tadi dan kemudian bambu-bambu tersebut disusun dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengeluarkan suara yang nyaring dan dicobanyalah semua alat-alat itu ditabuh/dibunyikan maka terdengarlah irama musik, kalau masa kini yang sangat enak didengar ditambah dengan nyanyian-nyanyian yang beriramakan Sunda Buhun dan Arab / Solawatan.

Dari mulai saat itulah Lurah Acok dan Para Santrinya setiap hari, setiap minggu, setiap bulan berkeliling mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat, umaro dan tokoh-tokoh santri untuk berkumpul bermusyawarah sambil memasukan ajaran-ajaran agama Islam dengan menabuh seperangkat alat-alat yang dibuatnya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan lagu-lagu sunda buhun yang isi syairnya mengajak kepada masyarakat banyak untuk masuk agama Islam.

Hampir semua penduduk yang ada di Desa Sanding, di kampung-kampung, di kota-kota sekitar daerah Malangbong bahkan dimana-mana di daerah Kabupaten Garut pada umumnya yang pernah didatangi oleh Lurah Acok menganut ajaran agama Islam. Maka sejak saat itulah Lurah Acok memberikan nama Kesenian Badeng yang artinya “Badeng” adalah dari kata Bahadrang yaitu musyawarah berunding dengan suatu alat kesenian. Badeng adalah suatu jenis kesenian sebagai media untuk menyebarkan agama Islam pada waktu itu.

Sampai sekarang kesenian ini masih ada dan dipergunakan sebagai alat hiburan, untuk menyambut tamu-tamu besar, perayaan, Mauludan, khitanan, hajat dan lain sebagainya, hanya saja para pemainnya sudah tua-tua rata-rata berumur 60 tahunan.

Adapun alat-alat Kesenian Badeng tersebut terdiri dari :

2 (dua) buah Angklung Kecil bernama Roel yang artinya bahwa dua pimpinan pada waktu itu antara kaum ulama dengan umaro (pemerintah) harus bersatu, alat ini dipegang oleh seorang dalang.
2 (dua) buah dogdog lonjor ujungnya simpay lima yang artinya menandakan bahwa didunia ini ada siang ada malam dan laki-laki dengan perempuan, alat ini dipegang oleh dua orang simpay lima berarti rukun Islam.
7 (tujuh) buah angklung agak besar terdiri dari : angklung indung, angklung kenclung dan angklung kecer disesuaikan dengan nama-nama hari, alat ini dipegang oleh 4 orang.


SURAK IBRA
Pimpinan : Hasanah (Kp. Sindangsari Desa Cinunuk Kec. Wanaraja Kab. Garut)

Surak Ibra atau yang juga dikenal dengan sebutan Boboyongan merupakan hasil ciptaan Raden Djajadiwangsa putera Raden Wangsa Muhammad (lebih dikenal dengan nama Pangeran Papak﴿. Raden Djajadiwangsa (meninggal sekitar tahun 1955), pada tahun 1910 di Kampung Sindangsari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut.

Seni tradisional Surak Ibra merupakan suatu sindiran (simbul﴿ atau semboyan tidak setuju terhadap Pemerintahan Belanda pada waktu itu bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat penjajahan. Khususnya di Desa Cinunuk dan umumnya Daerah Kabupaten Garut.

Melalui seni Surak Ibra, memupuk pendirian masyarakat supaya mempunyai pemerintahan sendiri hasil gotong royong bersama untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia, rasa persatuan dan kesatuan antara pemerintah dan masyarakatnya juga ditonjolkan melalui perlambang gerakan dan koreografi, demi menunjang keadilan dan kebijaksanaan pemerintah secara mandiri dengan penuh semangat kebersamaan.

Konon pada awal penciptaannya, pucuk penari yang berada diatas menginjak-injak pemain lain di bawahnya sebenarnya berdiri pada telapak-telapak tangan para penari. Ini merupakan symbol penjajah yang menginjak-injak rakyat, hingga muncullah perlawanan kemudian dengan naiknya salah seorang penari lain dan terjadilah pertarungan (padungdung) memperagakan jurus-jurus silat diatas pijakan telapak-telapak tangan para penari lalu ketika sang wakil rakyat dapat mengungguli penari yang merupakan symbol penjajah, maka diboyonglah sang pemimpin itu dengan cara melempar-lemparkannya sambil bersorak – sorak hal inilah nampaknya yang memunculkan istilah lain, Boboyongan.

Kesenian yang lahir sebagai upaya melawan penjajah Belanda dalam bentuk seni ini menampilkan puluhan orang (60-100 orang) yang terdiri dari pemain Angklung, Dogdog, dan instrument lainnya serta beberapa penari, pada pucuk tarian salah seorang diantar penari akan dilempar-lempar ke atas oleh pemain lainnya sambil di kelilingi oleh pembawa obor dan pemain music yang menyertai, sungguh menghibur dan atraktif.

Dari sejak berdiri pada tahun 1910 sampai sekarang, pada kesenian tradisional Surak Ibra ini sudah dilakoni oleh 4 generasi, bahkan sekarang pun perlu di remajakan sebab sudah banyak pemain yang tua-tua.

Regenerasi ini pun menjadi penting adanya memngingat kedudukan dan presatasi dari seni tradisional Surak Ibra yang seringkali di jadikan ikon kesenian tradisional khas bukan saja bagi Kab. Garut, tetapi dijadikan Ikon seni Helaran Provinsi Jawa Barat.

Waditra yang dipergunakan adalah :

2 (dua﴿ obor dari bambu.
Seperangkat gendang Pencak / lebih.
Seperangkat Dogdog / lebih.
Beberapa buah Angklung / lebih.
Beberapa Keprak / lebih.
Beberapa Kentongan Bambu.
Waditra atau instrument perkusi lain yang diperlukan.

RAJA DOGAR (RAJANYA DOMBA GARUT)
Pimpinan : Entis Sutisna (Kp. Pakemitan Desa Wanaraja Kec. Wanaraja Kab. Garut)

Raja Dogar dapat diartikan Rajanya Domba Garut, karena di dalam pertunjukannya di dominasi oleh kemunculan hewan ternak khas bagi masyarakat Garut, yakni Domba Garut yang divisualisasikan dalam bentuk atau model kostum yang menyerupai seperti Domba adu Garut.

Disebut Raja Dogar karena bentuk tubuh dan tinggi badanya melebihi dari Domba yang sebenarnya. Sementara Domba adu garut adalah salah satu hewan ternak yang diakui sebagai ras domba dengan kwalitas terbaik di dunia yang memiliki simbul “TEUNEUNG LUDEUNG LEBER WAWANEN NANJEURKEUN BEBENERAN” yang dapat diartikan sebagai lambing Berani dan Benar.

Seni Raja Dogar diciptakan oleh Sdr. ENTIS SUTISNA pada tanggal 18 Desember 2005 dan dideklarasikan pertama kali di Kampung Warung Kaler Desa Desa Cikarag Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut.

Bentuk permainan Raja Dogar adalah reflika Laga Domba (Adu Domba) atau sekarang namanya menjadi Ketangkasan Domba Garut, baik cara dan ketentuan ketangkasan Domba tersebut diaplikasikan dengan penampilan layaknya Seni Barongsai yaitu dimainkan oleh dua orang pemain Domba, satu orang sebagai kepala dan satu orang lainnya sebagai badan dan ekor.

Kesenian Raja Dogar berfungsi sebagai Hiburan atau kalangenan yang dapat ditampilkan di berbagai acara dan arena (Panggung dan Helaran) di dalam maupun di luar ruangan. Selain dipergunakan untuk seni pertunjukan, juga sering dipergunalan untuk mengarak anak yang dikhitan dan acara-acara lain.

Musik pengiring Seni Raja Dogar masing menggunakan idiom music tradisional sunda, diantaranya adalah : seperangkat Kendang Pencak, Reog, Angklung, Tarangtang, Simbal, Bass Drum dan Kulanter. Konsep Iringan tersebut didasari karena dalam setiap perhelatan ketangkasan Domba Garut selalu ditampilkan Seni Kendang Pencak sebagai pengirinnya.

Pementasan Seni Raja Dogar, walaupun diusianya masih baru, namun keberadaannya cukup membanggakan masyarakat Garut, selain sering mengisi event berskala regional, nasional malah pernah mengisi kegiatan di tingkat Internasional tepatnya di Negara Singapura.

Dalam Perjalanan Seni Raja Dogar, dari semenjak didirikan sampai sekarang, ada beberapa tempat yang menjadi persinggahan kesenian tersebut, diantaranya :

Pertama kali dibuat di Kampung Warung Kaler Desa Cikarag Kecamatan Malangbong.
Kedua pernah menetap di Kampung Loji Desa Keresek Kecamatan Cibatu
Sekarang menetap dan berkembang di Kampung Pakemitan Desa Wanaraja Kecamatan Wanaraja (tempat kelahiran sang Kreator Entis Sutisna).
Walaupun sempat berpindah-pindah tempat dan bergantinya para personil, karena di tiga tempat yang berbeda tersebut, masih meninggalkan karya Raja Dogar (di Malangbong dan Cibatu) yang masih hidup dan berkembang, namun semuanya ada dibawah management Sdr. Entis Sutisna.

Bobotoh, wasit permainan, dan musik pengiring adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam setiap event di tempat-tempat pamidangan ketangkasan adu doma khas Kabupaten Garut. Rasa percaya diri seorang bobotoh adu domba, apabila domba milik juragannya dapat memenangkan dalam setiap pertandingan. Sementara bagi bobotoh yang dombanya kala terasa hampa lesu dan raut wajah terlihat letih dan sedih, saling ledek pun sering terjadi diantara pada bobotoh dan disitu peran wasit permainan sangat dibutuhkan untuk meredakan suasana yang sedang memanas akibat saling meledek diantara bobotoh tersebut.

Kostum yang dipakai pada Seni Raja Dogar untuk para bobotoh tetap dipertahankan sesuai dengan kebiasaan dimana para bobotoh cara berpakaiannya identik dengan jawara, yaitu memakai Pangsi (kampret) serba hitam dan memakai topi laken, kacamata, Geulang Bahar, Golok.

Sementara para personil lainnya disesuaikan dengan masa yang kekinian, agar para penonton dan personil tidak merasa jenuh dan bosan. Contohnya Personil Pembawa Bandir (bendera) memakai pangsi dengan warna mencolok (genjreng) sementara ikat kepala mereka yang dahulu identik dengan batik, maka pada seni Raja Dogar ini ada inovasi yaitu dengan dibuat dalam bentuk seperti mahkota kepala domba yang dibaut secara abstrak. Termasuk pada pemain Musik (pengiring) memakai kostum yang berwarna mencolok yang disesuaikan dengan masa kekinian.

Jumlah pemain Raja Dogar pada pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan permintaan para pengguna jasa Seni Raja Dogar. Jumlah seluruhnya para pemain Raja Dogar berjumlah 40 orang untuk katagori Helaran (karnaval) dengan rincian sebagai berikut :

4 orang sebagai Pemeran Domba untuk 2 ekor Domba
6 orang sebagai Bobotoh
1 orang sebagai Wasit permainan
6 orang sebagai Pembawa Umbul-umbul (Bandir)
6 orang sebagai Penari (Pesilat)
8 orang sebagai pemain Musik (Pangrawit)
2 orang sebagai pembawa spanduk
3 orang sebagai pembawa roda Sound System
4 orang sebagai pendorong panggung berjalan
Jumlah pemain Raja Dogar cukup Fleksibel, bisa dengan personil 40 orang, 30 orang ataupun 20 orang, bahkan sampai 12 orang disesaukan dengan kondisi lapangan.

Jalanya Permainan Seni Raja Dogar dimulai dengan :

Penampilan pembawa bendera (Bandir) yang dibawakan oleh 6 sampai 8 orang penari putra.
Selanjutnya masuk para penari (Pesilat Putri) yang membawakan beberapa jurus yang dilanjutkan dengan ijen dua orang petarung.
Kemudian masuk 2 ekor Domba, yang berjalan mengitari lapangan (arena pertandingan) kalau dilaksanakan di luar ruangan. Yang selanjutnya diikuti oleh para bobotoh atau pengurus domba-domba dimaksud.
Setelah mengitari arena, selanjutnya para bobotoh mengurus masing-masing Domba jagoannya. Para Bobotoh pun saling sindir dan saling ejek merendahkan kemampuan lawan, dan selanjutnya para bobotoh memamerkan jurus-jurus andalan mereka dengan diiringi tepak dua. Bahkan dalam gerakan-gerakan Silat para Bobotoh dibuat sebagai bahan lawakan untuk menyemarakan suasa sebelum pelaksanaan Raja Dogar Domba dilaksanakan.
Akhirnya Seni Raja Dogar pun mulai diperlihatkan, dimulai dengan :
Jetrakan pertama, kedua Domba mencoba mengukur kekuatan lawan
Jetrakan kedua, masing masing Domba merasakan kekuatan lawan
Jetrakan ketiga, saling adu gesek tanduk
Jetrakan keempat, Kedua Domba saling mengelak sehingga menyeruduk ke penonton, hingga akhirnya para penonton berhamburan menghidar Domba yang kebablasan.
Jetrakan kelima, Domba berwarna putih kalah terlebih dahulu
Jetrakan keenam, Domba warna putih masih memaksakan untuk bertanding, namun kehabisan tenaga dan akhirnya Domba putih ambruk, sehingga para bobotoh sibuk mengurus Domba Putih tersebut agar bisa bertanding kembali.
Jetrakan ketujuh, Doma Putih kembali bisa bangkit dan meneruskan pertandingan, dan pada akhirnya Domba Putih pun dapat memenangkan pertandingan dimaksud.
Terakhir Kedua Domba secara bersamaan memberi hormat kepada para penonton sebagai akhir dari jalanya Pagelaran Seni Raja Dogar.
Dalam pementasan Seni Raja Dogar, dalam setiap gerak yang ditampilkan adalah manivestasi dari filosofi yang telah dilakukan oleh orang tua kita dahulu. Diantaranya :

Seperti pembawa Umbul-umbul melambangkan kegembiraan masyarakat sewaktu menyambut kedatangan tamu kehormatan atau menyambut tamu yang diagungkan (pangagung). Umbul umbul (Bendera) yang berjumlah 6, melambangkan Rukun Iman.
Bobotoh dan Wasit berjumlah 7 orang, melambangkan lapisan bumi dan langit kita ada 7 lapisan, dan warna hitam pada pangsi (kampret) melambangkan warna tanah.
Domba berjumlah 2 ekor, melambangkan dua sisi dari kehidupan di dunia, ada siang dan malam, Baik dan benar, Lelaki dan Perempuan.
Warna Hitam dan Putih pada 2 Domba melambangkan hal baik dan hal buruk.
Pesilat selain dijadikan sebagai kembang desa juga diperlihatkan gerakan kekuatan dalam cara bela diri agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dengan misi dan visi Raja Dogar yang telah diuraikan tersebut diatas, pada intinya Seni Raja Dogar dalam pertunjukannya menampilkan gaya dan tatanan yang berbeda dengan jenis yang lain telah lebih dahulu ada.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar

Upacara Nadran di kabupaten Indramayu

Nadran atau nadir atau nyadran adalah suatu upacara tradisional berupa pesta laut yang diadakan oleh para nelayan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Selain itu nadran juga bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar selalu mendapatkan perlindungan dari makhluk-makhluk halus yang berada di lautan lepas.

Upacara dilaksanakan setiap bulan Syuro karena dianggap berkaitan dengan musibah banjir yang dialami oleh Nabi Nuh AS. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, waktu penyelenggaraannya dilakukan pada masa along, masa dimana para nelayan berhasil memperoleh tangkapan yang melimpah.

Upacara nadran dilakukan di beberapa tempat, yaitu: di rumah pawang atau pemangku kapalan sebagai tempat untuk mempersiapkan dan mendoakan sesajen, di babagan sebagai tempat pemberangkatan kapalan, dan di laut sebagai tempat pelarungan kapalan.

Sebelum upacara nadran diselenggarakan, terlebih dahulu diadakan musyawarah untuk menentukan waktu pelaksanaan dan susunan kepanitiaan yang terdiri dari: ketua panitia, wakil ketua, sekretaris, bendahara, wakil bendahara, dan anggota/pembantu umum. Selain itu juga untuk memilih lebe (orang yang bertugas menyembelih kerbau), pawang (orang yang mendoakan sesajen untuk kapalan), dan pemangku kapalan (orang yang mempersiapkan segala macam sesajen untuk ditaruh di atas kapalan sekaligus juga sebagai pemimpin upacara).

Apabila susunan kepanitian telah terbentuk, maka orang yang ditunjuk sebagai bendahara mulai mengumpulkan dana dari para nelayan. Dana yang terkumpul sebagian digunakan menghias desa, mengadakan pertunjukan wayang kulit, tarling, jaipongan, sandiwara serta pembuatan kapalan dan pembelian barang-barang untuk sesajen.

Adapun sesajen terdiri dari dua bagian, yaitu sesajen yang disediakan oleh pemangku kapalan dan sesajen yang disediakan oleh para nelayan. Sesajen yang disediakan oleh pemangku kapalan meliputi: kepala kerbau dan jerohan wedus kulit kerbau sebagai alas yang nantinya akan dibungkus kain putih sepanjang 10 meter, tumpeng polet, makanan tujuh rupa (nagasari, bugis, dodol, gemblong, wajik, cucur, poci), pisang tujuh rupa (pisang emas, raja, hijau, ambon, klutuk, dan kidang), wuduk liwet gesek (nasi putih, ikankering, kelapa, garam, cabai merah, terasi, bawang merah), kembang tujuh rupa, rujak sebelas rupa (rujak gedang, asem, kambang atau rengginang diberi air, wedang putih, teh manis, teh pahit, kopi manis, kopi pahit, deugan, kolang-kaling, buah selasih), udud serutu, udud putih, udud kawung, seurabi tujuh rupa (terbuat dari singkong yang diberi warna hijau, merah, cokelat, kuning, hitam, abu, dan oranye), deugan, kendi tupi endog, limun, opak angin, kupat, kinang masak, pepesan bekatul, ketan hitam, ketan putih, beras putih, lading/pisau, golok, darah, air, uang receh, bubur merah putih, bubur sumsum (terbuat dari tepung beras yang diberi gula merah), bubur gintir (terbuat dari getan yang diberi gula merah dan dibentuk bulat-bulat), wajik punar, wajik kamyang, kantil merah putih, dupa dan arang, leupeut dan tangtangangin, kain putih berisi beras dan uang receh, dan candu/madat. Seluruh sesajen tersebut akan ditaruh di atas kapalan atau kapal-kapalan yang terbuat dari kayu, tripleks, paku, tambang plastik, kain putih, drum kecil, cat hijau, dan batang pohon pisang sebagai alasnya.

Sementara sesajen yang disediakan oleh para nelayan, antara lain: pisang tujuh macam (pisang raja, emas, ambon, ijo, amnyang, klutuk, kidang), kue tujuh rupa (poci, nagasari, bolu kijing, rempeyek, kajang ijo, rangginang, wajik), rokok cerutu atau kretek, ampo, kinang masak, cangkaruk, gula merah, bubur merah putih, kupat, leupeut, tangtangangin, dan beras ketan itam.

Sedangkan jalannya upacara sendiri diawali dengan ijab kabul (pengesahan) sesajen, penyiapan sesajen, penyimpanan sesajen di atas kapalan, pertunjukan wayang kulit, pelepasan kapalan, pelarungan kapalan ke kalut, dan ditutup dengan perebutan kapalan (ranjahan) yang berlangsung di laut pada kedalaman 4 hingga 7 meter. (irvansetiawan)

Bledukan/Jeduman: Permainan Tradisional Anak Lampung

Bledukan merupakan salah satu permainan tradisional yang terdapat di Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Pada masa lalu, bledukan terbuat dari bambu dengan menggunakan bahan bakar minyak tanah, Bledukan biasa digunakan masyarakat Lampung Utara ketika sedang manjau pada saat upacara adat atau begawi. Pada saat ada kunjungan besan sewaktu lamaran ataupun pernikahan selalu ditandai dengan bunyi bledukan kemudian diikuti dengan alunan musik kolintang.

Pada saat ini, permainan biasa dilakukan secara beramai-ramai baik oleh anak laki-laki, anak perempuan maupun orang dewasa. Bentuk dari bledukan seperti senapan dengan panjang sekitar 120 -150 cm dan memiliki 2 pegangan yang berukuran sekitar 30-50 cm. Bledukan terbuat dari kaleng-kaleng bekas makanan dan botol-botol bekas minuman yang disambung satu per satu kemudian dibalut oleh kain dan direkatkan oleh karet. Pada masa lalu, bledukan terbuat dari bambu dengan menggunakan bahan bakar minyak tanah. Ketika minyak tanah sukar didapat, berubahlah bahan baku bledukan menjadi menggunakan kaleng bekas makanan dan botol bekas minuman dengan bahan bakarnya spiritus. (irvansetiawan)

Dogdog Lojor, Kesenian Tradisional Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Baduy merupakan nama dari salah satu masyarakat adat, yang masih ada dan bertahan di wilayah Provinsi Banten. Untuk menuju kesana, kita harus melalui jalan darat, yaitu melalui rangkasbitung, kecamatan lewi damar, dan Ciboleger.

Rangkasbitung merupakan kota kecamatan di Kabupaten Lebak yang sudah ada semenjak jaman penjajahan Belanda.Sebelum memasuki wilayah kota. Kita harus melalui dua sungai besar. Yaitu, Ci ujung dan Ciberang. Di tengah kota. Kita akan melihat sebuah tata letak, yang masih sama dengan jaman penjajahan Belanda. Yaitu, dengan adanya alun-alun, masjid, dan pendopo yang menjadi pusat kota. Meninggalkan Rangkas Bitung. Kita kemudian mengarah ke Ciboleger melalui kota Kecamatan Lewi Damar. Jalan dari Lewi Damar menuju Ciboleger cukup sempit. Disertai dengan kondisi jalan yang berlubang. Walaupun demikian. Pemandangan yang cukup indah di sepanjang perjalanan, dapat menjadi hiburan bagi mereka yang hendak menuju Ciboleger.

Memasuki gerbang yang bertuliskan kampung wisata baduy. Menandakan bahwa, kita telah sampai di Ciboleger. Lokasi ini merupakan sebuah terminal angkutan umum. Di tengah terminal, terdapat sebuah monumen sepasang suami isteri dan dua orang anak, dengan mengenakan, pakaian adat baduy. Terdapat juga, warung-warung di sekeliling terminal, yang menjual berbagai makanan kecil, dan suvenir khas baduy.

Lokasi pemukiman masyarakat baduy terletak di wilayah yang terdiri dari bukit dan lembah yang curam, dengan ketinggian antara 500 sampai dengan 1200 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut, membuat keadaan tanah, selalu basah, lembab, dan berlumut. Upaya untuk menjangkau lokasi pemukiman menjadi persoalan tersendiri. Karena, adanya adat yang melarang segala jenis kendaraan, dipergunakan di wilayah pemukiman. Apalagi, jarak antar kampung yang saling berjauhan. Membuat, perjalanan menjadi semakin sulit.

Aktivitas keseharian. Yang tampak dari kehidupan masyarakat baduy, bukan hanya terfokus, pada segi mata pencaharian saja. Kesenian tradisional. Merupakan salah satu bentuk aktivitas, yang, tidak kalah menarik untuk dilihat. Salah satunya adalah dogdog lojor.

Apakah anda tahu, dan pernah mendengar kesenian tradisional tersebut?
Mungkin. Sebagian besar, belum pernah mendengar nama kesenian tradisional tersebut. Namun. Apabila ada pertanyaan tentang kesenian tradisional angklung, tentunya, sebagian besar sudah mengenalnya. Sebenarnya. Kesenian tradisional dogdog lojor dan angklung, khususnya pada masyarakat baduy, memiliki beberapa kesamaan.

Dogdog lojor, merupakan salah satu kesenian tradisional yang hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat baduy yang berada di Desa Kanekes, Kecamatan Lewi Damar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Nama Dogdog lojor diberikan, oleh masyarakat umum, karena terfokus, pada tiga buah alat musik tetabuhan dalam kesenian tersebut. Sementara, alat kesenian lainnya, yang jumlahnya lebih banyak, adalah dari alat seni angklung. Tiga alat musik tersebut oleh masyarakat baduy sebenarnya bukan bernama dogdog lojor, tetapi bernama bedug, talingtit, dan ketug.

Dogdog lojor memang hampir mirip dengan kedua alat seni tradisional tersebut. Karena, penamaan dogdog disebabkan suara yang dihasilkan mengeluarkan bunyi dogdog. Sementara itu. Lojor berarti panjang. Sebuah nama yang diambil dari ukuran peralatan seni tradisional tersebut yang memiliki panjang sekitar 50 hingga 60 sentimeter.

Penamaan dogdog lojor oleh masyarakat umum disebabkan, seni angklung sudah begitu banyak bertebaran di seantero jawa barat. Sehingga, dipilihlah nama dogdog lojor, sebagai nama kesenian tradisional tersebut. Sementara itu. Masyarakat Baduy menamakan kesenian tradisional tersebut dengan nama angklung. Dan, tidak ada nama lain di belakang nama kesenian tersebut.

Belakangan, untuk mem beda kan seni angklung dari Baduy dengan kesenian angklung lainnya, maka, ditambah satu kata lagi, di belakang nama angklung tersebut. Yaitu buhun. Yang berarti kuno atau lama. Sehingga. Kesenian tersebut bernama angklung buhun.

Kesenian Angklung Buhun merupakan kesenian angklung khas masyarakat baduy, yang dibentuk sedemikian rupa. Sehingga, menimbulkan nada-nada yang harmonis. Kesenian tersebut memiliki karakter kesenian yang sederhana, baik dalam lirik, maupun lagunya. Biasanya. Suara yang dihasilkan, menggambarkan suara alam sekitar. Sehingga menciptakan, suasana yang nyaman, damai dan harmonis.

Dinamakan buhun. Karena, kesenian tersebut sudah ada sejak lama sekali. Yaitu sekitar, 18 abad yang lalu. Dan, telah dimainkan oleh 7 generasi. Tidak mengherankan. Apabila kesenian ini mengandung nilai-nilai sakral dan kekuatan gaib.

Kekuatan gaib yang dimaksud adalah, berupa ajakan, pemberitahuan, peringatan, penerangan, dan, larangan untuk para petani. Selain itu. Gerak, lirik dan lagu yang dimainkan, juga mengandung nilai-nilai untuk meningkatkan persatuan, kebersamaan, ketahanan dalam setiap langkah dan gerak untuk menuju kesejahteraan.

Kesenian angklung buhun, tidak sembarang waktu, dapat dimainkan. Kesenian ini hanya dapat dimainkan satu tahun sekali. Yaitu, pada bulan ke tujuh dari kalender masyarakat baduy. Tepatnya, pada upacara tanam padi. Upacara tanam padi. Yaitu, suatu upacara, yang bertujuan untuk mengawinkan Dewi Sri, yang dilambangkan sebagai benih padi. Dengan guru bumi, atau tanah. Dalam upacara tersebut, kesenian ini dimainkan dengan menggunakan tema sakral. Namun. Untuk tema yang bukan sakral, kesenian ini dapat dimainkan kapan saja. Tetapi, harus berada di luar wilayah baduy. Sementara itu. Ada satu waktu yang tidak boleh untuk melakukan aktivitas keseharian. Termasuk diantaranya, berlatih angklung. Yaitu, yang dinamakan, kawalu.

Pemain kesenian angklung buhun, harus laki laki. Adapun jumlah pemainnya sebanyak 12 o rang. Terdiri dari 9 orang pemain angklung, dan, 3 orang pemain bedug. Peralatan kesenian berjumlah 12 unit. Terdiri dari 3 unit bedug dan 9 unit angklung.

Adapun 3 unit bedug masing-masing terdiri dari. Satu unit bedug dengan panjang 60 sentimeter, diameter 40 sentimeter. Satu unit talingtit dengan panjang 50 sentimeter, diameter 30 sentimeter. Dan, Satu unit ketug dengan panjang 50 sentimeter, diameter 25 sentimeter. Sementara itu. Sembilan unit angklung, masing-masing terdiri dari. Satu angklung Indung, Satu angklung Ringkung, Satu angklung Gimping, Satu angklung Dongdong, Satu angklung Engklok, Satu angklung Indung letik, Satu angklung Tro lok. Dan, dua angklung Reyol.

9 unit angklung memiliki tinggi antara nol koma enam puluh meter sampai dengan satu koma dua puluh meter. Perbedaan panjang tersebut disertai dengan perbedaan besar kecil ukuran bambu. Sementara. Tinggi angklung berbeda 10 cm sampai dengan 15 cm, pada tiap unit angklung. Sebagai syarat. Pada setiap angklung, ujung bambu penahannya, dipasang daun pelah, sebanyak 7 sampai dengan 9 helai. Hal tersebut sekaligus, menjadikan peralatan kesenian angklung buhun sangat khas. Dan, berbeda dengan jenis angklung lainnya.

Tiap unit angklung memiliki makna dan ciri khas tertentu. Seperti, angklung indung, menggambarkan suara katak. Angklung trolok, menggambarkan suara air. Sedangkan, angklung reyol satu, dan reyol dua, lebih bersifat sebagai nada dasar. Angklung ringkung dan gimping menggambarkan, suara hujan dan suara angin. Untuk suara air mengalir, diperdengarkan oleh suara yang dihasilkan angklung engklok dan angklung letik. Sementara. Suara unggas ada pada angklung dongdong. Adapun fungsi, atau suara, dari 3 unit bedug adalah, sebagai penghentak nada, dan mempertegas irama secara keseluruhan.

Busana yang digunakan dalam pertunjukan angklung buhun. Di dominasi oleh warna hitam. Hal ini merupakan, sebuah cerminan kepercayaan masyarakat baduy, terhadap warna hitam. Yaitu, sebagai simbol bumi. Dan, warna putih sebagai simbol langit. Selain busana. Para pemain juga mengenakan iket, kain sarung, dan koja, serta tanpa alas kaki.

Pertunjukan kesenian angklung buhun, terbagi kedalam tiga tahap. Yaitu, tahap sebelum, tahap pelaksanaan, dan, tahap setelah pertunjukan berakhir. Sebelum pertunjukan dimulai. Kuncen melakukan upacara khusus untuk mengambil, atau mengeluarkan angklung, dari tempatnya. Setelah itu. Angklung kemudian dibagi-bagikan kepada para pemain, dan dibawa ke lokasi pertunjukan. Di tempat pertunjukan, angklung dikumpulkan ditengah-tengah tempat pertunjukan bersama pemain dan sesajen.

Setelah semua siap. Kuncen yang sebelumnya sudah berpuasa tiga hari tiga malam. Kemudian, memulai acara ini, dengan terlebih dahulu, membakar kemenyan. Saat pertunjukan. Para pemain membentuk formasi lingkaran. Setelah itu, para pemain berjalan melingkar, sesuai arah jarum jam.

Sambil memegang peralatan kesenian. Mereka menari sambil menyanyikan lagu-lagu khas angklung buhun, seperti : Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, dan Rangda Ngendong.

Sebagai selingan. Terdapat atraksi adu kekuatan, yang dimainkan oleh dua orang pria. Mereka saling ber adu badan, dengan sekuat tenaga. Sampai, salah satu di antaranya ada yang jatuh tersungkur. Hal seperti itu dilakukan berulang kali. Hingga, batas kekuatan masing-masing pemain. Pertandingan adu kekuatan berakhir, setelah salah seorang menyerah kalah. Dengan berakhirnya permainan tersebut, maka, berakhir pula pertunjukan kesenian tradisional, angklung buhun.

Masyarakat Baduy tidak pernah peduli tentang adanya upaya klaim musik angklung oleh pihak lain. Bagi mereka, pelaksanaan kehidupan sosial dan adat istiadat dapat terus bertahan. Demikian juga dengan pertunjukan kesenian tradisional angklung buhun yang tidak boleh terlewatkan karena telah menjadi bagian dalam pelaksanaan upacara tradisional.

Sumber: Nina Merlina, dkk. Dogdog Lojor, Kesenian Tradisional di Kabupaten Lebak Provinsi Banten, Laporan Perekaman Kebudayaan dan Kesejarahan. Bandung: BPNB Jawa Barat, 2016

Popular Posts