WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Mengenal Kota Depok

Oleh Muhammad Aditya

Pendahuluan
Latar Belakang Penulisan

Penulisan karya tulis ini dilatarbelakangi oleh suatu lomba yang diadakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Sekaligus dilatarbelakangi oleh keinginan saya selaku penulis yang ingin mengetahui Sejarah Kota Depok. Selain itu, penulisan ini dikarenakan masih banyaknya warga-warga yang masih tabu akan sejarah kotanya sendiri.

Permasalahan
Banyak warga Depok yang belum mengetahui perkembangan Kota Depok dari sebuah dusun terpencil sampaimenjadi kota besar.

Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari pembuatan karya tulis ini adalah mengikuti Lomba Penulisan Sejarah Daerah Lokal. Kedua sebagai acuan para pembaca dalam membelajari sejarah Kota Depok agar tidak ada kebingungan nantinya.

Metode Penulisan
Data-data yang ada di dalam karya tulis ini diperoleh melalui berbagai macam cara. Cara yang utama adalah dengan mencari artikel-artikel tentang Kota Depok di internet dan wawancara dengan narasumber.

Kegunaan Penulisan
Kegunaan karya tulis ini adalah:
Sebagai bahan acuan dalam mempelajari sejarah Kota Depok

Melatih kreatifitas murid-murid SMA pada umumnya dalam menyusun sebuah karya tulis yang baik dan benar

Mengenal obyek-obyek sejarah Kota Depok
Sistematika Penulisan
Penyusunan karya tulis ini diatur dalam susunan:
BAB I : Pendahuluan
BAB II,III : Pembahasan
BAB IV : Kesimpulan
Daftar Pustaka

Sejarah Kota Depok
Asal Mula Kota Depok

Kota Depok dahulu merupakan sebuah dusun terpencil di tengah hutan belantara, yang kemudian pada tanggal 18 Mei 1696 seorang saudagar Belanda eks VOC bernama Cornelis Chastelein membeli tanah di kawasan Depk seluas 1224 hektar dengan harga 70o ringgit. Selain di Depok ia juga membeli tanah di Jatinegara, Kampung Melayu, Karang Anyer, Pejambon Mampang dan khusus tanah Depok bersifat tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Belanda.

Sebagai tuan tanah partikelir, Chastelein berhak mengurus tanahnya dan memerintah sesuai dengan garis kebijaksanaan yang ditetapkannya sendiri. Dan ia memang menyiapkan dengan sirus pemerintahannya yang sekarang digunakan sebagai rumah sakit harapan yang terletak di jalan Pemuda.

Dengan mengerahkan 150 orang budak yang ia dapat dari kawasan Indonesia Timur (kalimantan, sulawesi, Bali dan sedikit Betawi). Ia menetapkan cukai sebesar 20% dari setiap panen padi yang berlangsung.

Rupanya Chastelein berhasil membangun Depok sampai awal abad 20. Suasana Depok memang asri, iklim sejuk dengan hamparan sawah di sana sini. Pohon babmbu merumpun dan jalan berbatu nampak bersih. Selama di Depok Chastelein mengawini dua wanita pribumi. Dari salah seorang isterinya lahirlah Maria Chastelein yang diakuinya dihadapan notaris.Kemudian seorang anaknya lagi diberi nama Catharina van Batavia.

Padahal ketika ia baru tiba beberapa bulan di Batavia ia menikahi seorang gadis Belanda bernama Catharina van Vaalberg yan dikaruniai seorang putera yang dinamakan sama dengan ayahnya Antoni Chastelein.

Chastelein juga melancarkan misi menyebarkan agama Kristen di Depok. Dengan membangun sebua gereja yang terbuat dari kayu pada tahun 1700. Awal abad ke-19 gereja itu direnovasi dan hancur karena gempa pada tahun 1836. Tetapi gereja tersebut dibangun kembali. Setelah bertahun –tahun lamanya. Gereja yang terletak di jalan Pemuda itu masih kokoh sampai sekarang. Gereja Emmanuel begitu biasanya ia sebut.

Selain gereja di Depok dibangun sekolah seminari pertama di Indonesia, pada tahun 1878 sekiolah itu teah berhasil menghasilkan pendewta-pendeta baru. Dan setiap tahunnya para penginjil itu banyak tumbuh di Indonesia. Sekarang gedung sekolah tersebut digunakan sebagai panti wreda yang letaknya di dekat stasiun Depok Lama.

Kembali ke masa Chastelein, Chastelein pada waktu itu sangatlah murah hati. Buktinya beberapa bulan sebelum ia meninggal ia sempat membuat surat wasiat yang berisikan seluruh tanahnya uang serta emas dan hewan-hewan ternaknya diwariskan kepada pekerjanya yang terdiri dari 12 warga.

Marga-marga tersebut adalah Soedira, Leander, Laurens, Jonathans, Loen, Tholense, Samuel, Joseph, Bacas, Jacob, Isakh, Zadokh.

Pada tahun 28 Juni 1714 Chastelein wafat. Kedua belas marga tersebut masing-masing tiap keluarga memperoleh uang sebesar 16 ringgit. Selain itu, ia juga mewariskan 2 perangkat gamelan bertahtakan emas dan 60 tombak berlapis perak. Namun sayangnya benda-benda itu hilang ketika revolusi terjadi.

Tak hanya sampai disitu, isteri pertama Chastelein, Catharina van Vaalberg menggugat atas warisan yang diberikan kepada 12 marga itu. Namun gugatannya ditolak.

Penamaan Kota Depok
Banyak kalangan yangbingung dengan asal muasal Kota Depok. Ada yangmengatakan kata padepokanlah asal dari kata Depok. Kenapa? Karena menurut sejarah singkat KotaDepok dulu di Depok merupakan padepokan para pejuang Pajajaran yang kala itu berseteru dengan Banten dan Cirebon.

Menurut sesepuh asli Depok, kata Depok bisa berart pemukiman yang dapat dibanggakan atau berasal dari De Volk.

Ada juga yan mengatakan bahwa Depok merupakan singkatan dari De Everste Protestante Organisatie van Kristenen yang dibuat oleh Chastelein.

Namun pendapat-pendapat di atas disanggah oleh H. Nawawi Napih, seorang warga Depok asli yang sejak 1991 mengadakan penelitian membantah “Depok baru Dikenal” sejak masa Cornelis membangun perkebunan di sini.

Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh H. Bahrudin Ibrahim dalam tulisannya di dalam buku “Meluruskan Sejarah Depok”. Ia mengutip cerita Abraham van Riebeeck ketika pada tahun 1703, 1704 dan 1709 mengadakan ekspedisi menyusuri sungai Ciliwung melalui rute Batavia – Cililitan – Tanjung Barat – Seringsing (srengseng) – Pondok Cina – Depok – Pondok Pucung (terong).

Jadi sampai sekarang masih rancu tentang asal muasal nama Kota Depok.

Peninggalan Chastelein
Selama masa hidupnya Chastelein meninggalkan beberapa bangunan sejarah antara lain:

Gereja Immanuel lokasi di jalan Pemuda Depok

Rumah Sakit Harapan (dahulu ada kantor pemerintahan Chastelein) lokasi di jalan Pemuda Depok

Rumah Cornelis Chastelein sendiri yang sekarang menjadi kantor Yayasan Cornelis Chastelein

Serta bangunan-bangunan para pengikut Chastelein di Depok berjumlah + 120 namun sekarang hanya ada 45 yang asli dan yang lainnya sudah direnovasi.

Sejarah Baru Depok
Bergabungnya Depok dengan RI

Perlu diketahui setelah proklamasi 17 Agustus 1945 wilayah Depok masih dalam kekuasaan Belanda. Hal ini tetap berlangsung meskipun kedaulatan Indonesia telah diakui tahun 1949.

Pada tanggal 4 Agustus 1952 pemerintah Indonesia mengambil daerah Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok denganmembayar ganti rugi sebesar Rp. 229.261.26 kepada seluruh marga yang ada di Depok. Seluruh tanah di Kota Depok resmi menjadi milik pemerintah Republik Indonesia kecuali hak-hak Eingendom dan beberapa bangunan seperti: gereja, sekolah, pastoran, balai pertemuan dan pemakaman. Dan sejak saat itu pula berdiri LCC (Lembaga Cornelis Chastelein).

Setelah daerah kekuasaan penuh RI Depok merupakan sebuah kecamatan yang berada di bawah lingkungan kawedanan wilayah Parung yang meliputi 21 desa.

Namun pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun di Depok. Dan pada tahun 19881 Depok resmi menjadi Kota Administratif. Peresmian dilakukan oleh menteri dalam negeri pada saat itu yaitu H. Amir Mahmud.

Selama 17 tahun, Kota Administratif Depok mengalami beberapa kali pergantian walikota yaitu:

(Alm) Drs. Rukasah Suradimadja (1982 – 1984)
Drs. H.M.I. Tamdjid (1984 – 1988)
Drs. H. Abdul Wachyah (1988 – 1991)
Drs. H. Muhammad Masduki (1991 – 1992)
Drs. H. Sofyan Safari Hamim (1992 – 1996)
Drs. H. Badrul Kamal (1997 – 1999)

Pada tanggal 27 April 1999 Depok secara resmi berubah menjadi Kota Depok dan Drs. H. Badrul Kamal resmi menjadi Walikota Madya yang pertama periode 1999 – 2004. Untuk periode 2005 – 2010 belum ada hasil pasti dari pilkada kemarin. Dua kubu yang berseteru adalah Drs. H. Badrul Kamal dan Nur Mahmudi Ismail.

Mengenal Kota Depok
Sebelum mengenal kota Depok lebih jauh ada kiranya kita mengetahui terlebih dahulu menenal letak geografis kota Depok, dan keadaan penting lainnya di kota Depok.

-

Luas wilayah: 20.504.54 Ha (200,29 Km)

-

Jumlah penduduk: 1.335.734 jiwa (tahun 2005)

-

Jumlah Kecamatan 6 buah di antaranya adalah:

Pancoran Mas (6 kelurahan 5 desa)
Beji (6 kelurahan)
Sukma Jaya (11 kelurahan dan 11 desa)
Cimanggis (1 kelurahan dan 12 desa)
Sawangan (14 desa)
Limo (8 desa)

-

Letak geografis kota Depok:


Secara administratif kota Depok mempunyai batasan-batasan sebagai berikut:


a.

Sebelah utara berbatasan dengan DKI Jakarta dan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangerang


b.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bojonggede dan Cibinong Kabupaten Bogor


c.

Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gunung Sindur dan Parung Kabupaten Bogor


d.

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor dan Kecamatan Pondok Gede Kota Bekasi

-

Daerah wisata di Kota Depok:


a.

Hutan raya Pancoran Mas


b.

Kawasan pemancingan yang tersebar di seluruh kota Depok


c.

Depok Lama (rumah peninggalan Chastelein) dan bangunan tempo dulu


d.

Studio Alam TVRI.

Tumbuh Kembang Kota Depok
Pada tahun 1976 Presiden Soeharto meresmikan perumnas di Depok dan pada saat itu penduduk di Kota Depok hanya sekitar 100.000 jiwa saja.

Namun setelah ada keputusan resmi mengenai pemindahan sebagian besar kegiatan akademis Universitas Indonesia ke Depok yang akan menempati areal seluas 318 hektar pada tanggal 5 September 1987 menjadi faktor pertumbuhan kota Depok seperti sekaranga. Kala itu jumlah penduduk hanya di bawah 700.000 jiwa.

Dahulu pemerintah meramalkan Depok pada tahun 2005 ini dihuni tidak lebih dari 800.000 jiwa. Namun pada daya ternyata sampai semester pertama tahun 2005 ini jumlah penduduk kota Depok telah mencapai 1.335.734 jiwa. Angka pertumbuhan yang menakjubkan bukan?

Saat ini perbandingan lahan terbuka hijau dengan kawasan terbangun adalah 55 : 45. Sampai dengan tahun 2010 pemerintah Depok mengalokasikan 50% areal kota untuk kawasan hijau dan sisanya sebagai kawasan terbangun. Angka yang tinggi dibanding kota-kota penunjang jakarta lainnya.

Untuk perencanaan pembangunan perumahan Pemkot Kota Depok telah memperkirakan kebutuhan penggunaan tanah untuk perumahan seluas 6.024 hektar atau sekitar 30% dari total wilayah pada tahun 2010 menjadi 90.667unit.

Untuk penggunaan lahan industri Pemkot Depok telah menyedakan lahan seluas 690 hektar atau hanya sekitar 3% dari lahan kota Depok dan hanya dibatasi sampai 5,49% pada tahun 2010. Kegiatan industri di Depok dibatasi karena Depok dirancang menjadi kota perumahan, perdagangan, dan jasa.

Untuk masalah anggaran belanjda darah, Depok menganggar-kan dana terbesar pada sektor kesehatan dan pendidikan yaitu Rp. 94 milyar (24%). Dan sektor pekerjaan umum termasuk pemukiman Rp. 87 milyar (22,9%), sektor industri hanya mendapat 0,9% / 3,4 milyar. Sisanya dianggarkan untuk pembangunan.

Problematika Kota Depok
Setelah diberi hak otonom permasalahan yang dihadapi oleh Pemkot Depok semakin kompleks saja. Sebagai kota penunjang DKI Jakarta wajar bila laju pertumbuhan penduduk dankebutuhan pemukiman di Kota Depok meningkat tajam. Pemkot Depok menyikapi masalah ini secara serius. Ini terlihat dari banyaknya perumahan yang berdiri di Kota Depok. Dan hadirnya pusat perbelanjaan di Kota Depok.

Meksipun tidak semua permasalahan tertangani oleh Pemkot Depok, kita ambil contoh masalah persampahan di Kota Depok yang sangat tinggi. Dinas Kebersihan dan pertamanan kota Depok hanya dapat melayani 40% dari total seluruh timbunan sampah. Kemudian masalah air bersih yang hanya mencakupi 54,26% dari keseluruhan kebutuhan warga.

Masalah yang lebih kompleks lagi adalah kemacetan yang sering terjadi di Kota Depok. Kemacetan tidak lepas dari tanggung jawab kita semua sebagai warga. Namun, pemerintah Depok hendaknya memperhatikan masalah ini secara serius karena banyaknya penduduk Depok yang notabene mencari nafkah di Kota Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan masalah kemacetan yang terjadi ketika mereka keluar dari rumahnya. Hal itu menyebabkan terlambat sampai pada tujuan yang mereka tuju.

Banyak kalangan yang menilik masalah kemacetan di Kota Depok diakibatkan oleh banyaknya jumlah kendaraan yang keluar masuk koa Depok. Kemudian tidak tertibnya para pengguna jasa angkutan umum yang sering berhenti di tengah jalan danmencari penumpang di tengah jalan. Dan hadirnya pusat perbelanjaan baru seperti ITC Depok yangmenyebabkan macet. Belum lagi Depok Town Square yang sebentar lagi akan rampung dibangun. Bisa dibayangkan kemacetan di Depok akan bertambah. Kiranya Pemkot Depok telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kemacetan tersebut.

Penutup
Kesimpulan

Setelah menyusun arya tulis ini saya dapat menyimpulkan sesungguhnya mempelajari sejarah daerah lokal lebih mengasyikan daripada mempelajari sejarah nasional dan asing, dikarenakan ruang lingkupnya lebih kecil dan mudah dipelajari.

Khususnya sejarah Kota Depok adalah membahasan yan sangat menarik darimulai jaman Cornelis Chastelein sampai dengan sekarang. Tak disangka Kota Depok yang dahulunya terletak di tengah hutan Belantara sekarang sudah menjadi belantara beton karena banyaknya gedung-gedung pencakar langit yang berdiri tegak di Kota Depok.

Selain mempelajari pertumbuhan Kota Depok secara teori lebih baik kita terjun langsung ke daerah Depok sendiri. Selain merasakan sensasi yang lebih asyik kita dapat mengenal lebih jauh Kota Depok.

Saran
Sebagai warga Depok hendaknya kita bersatu membangun kota ini menjadi kota yang aman, nyaman, tertib, santun dan bersih. Kita semua wajib bergotong royong menjaga aset-aset budaya peninggalan Cornelis Chastelein.

Daftar Pustaka
Republikaonline.com
WWW.Gunadharma.com
Situs resmi pemerintah Kota Depok
Wawancara dengan beberapa narasumber


Sumber:
Makalah disampaikan pada “Lomba dan Diskusi Penulisan Sejarah Lokal” yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

http://wisatadanbudaya.blogspot.com

Popular Posts