WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Kajian Akulturasi Budaya dan Sejarah

Oleh Rameli Agam

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat menitikberatkan kajiannya pada akulturasi budaya.

Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) pada Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, BPNB Jawa Barat mengemban tugas teknis pelestarian aspek-aspek tradisi, kepercayaan, kesenian, perfilman, dan kesejarahan.

BPNB Jawa Barat yang berlokasi di Jalan Cinambo 136, Ujungberung, Kota Bandung ini, telah lama berkiprah dalam berbagai bentuk pengkajian, pelestarian, perlindungan, pendokumentasian, pendataan, dan penyebarluasan informasi di bidang nilai budaya.

Dengan wilayah kerja mencakup Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung, BPNB Jawa Barat juga melakukan analisa kesejarahan dan nilai tradisional daerah.

Nilai-nilai tradisional itu tercermin dalam sistem sosial, sistem kepercayaan, lingkungan budaya, dan tradisi lisan.

Sebagaimana dilansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar, analisa kesejarahan dan nilai tradisional itu dikaitkan dengan akulturasi, yakni proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi.

Pada tahun 2020, BPNB Jawa Barat telah melakukan kajian nilai budaya 8 naskah, karya budaya yang dilestarikan 22 naskah, serta 3 gelaran event nilai budaya yang dilestarikan dan dimanfaatkan.

Secara garis besar, fungsi BPNB Jawa Barat adalah upaya pengkajian, perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, kemitraan, serta pendokumentasian dan penyebarluasan informasi.

Upaya-upaya tersebut meliputi aspek tradisi, kepercayaan, kesenian, perfilman, dan kesejarahan.

Dengan demikian, BPNB Jawa Barat berupaya menjadi pusat informasi kesejarahan dan kebudayaan lokal guna memperkokoh ketahanan sosial dan jatidiri bangsa.

Selain kajian dan pengembangan, penyebaran informasi, dan bimbingan edukatif-teknis, BPNB Jawa Barat juga melakukan kegiatan pelestarian kebudayaan.

Kegiatan tersebut diantaranya pendokumentasian dan penyebarluasan informasi: perekaman peristiwa sejarah dan budaya, pembuatan Peta Kebudayaan Indonesia, penerbitan Jurnal Ilmiah Patanjala, buku-buku referensi dan Bunga Rampai hasil kajian.

Inventarisasi dan dokumentasi karya budaya Indonesia/pencatatan warisan budaya takbenda, sosialisasi serta bimbingan dan penyuluhan, pemutaran film, lawatan sejarah, jelajah budaya/tradisi, festival, seminar, dan temu tokoh.

Sebagai pusat informasi kesejarahan dan kebudayaan, perpustakaan BPNB Jawa Barat juga dapat langsung diakses terbuka bagi masyarakat luas. ***

Sumber: https://sumenep.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-2184516115/balai-pelestarian-nilai-budaya-bpnb-jawa-barat-kajian-akulturasi-budaya-dan-sejarah?page=4

Kampung Naga Dari Kacamata Antropologi: Review Film Warisan Indonesia Episode 2 Produksi BPNB Jawa Barat

Oleh Flutterdust

Kampung Naga dihuni oleh sekelompok masyarakat yang erat dalam menjaga dan melestarikan budaya peninggalan leluhurnya, letaknya di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Di mata masyarakat Sunda umumnya, Kampung Naga lebih dikenal sebagai sebuah perkampungan adat. Nah, secara audio-visual, BPNB (Badan Pelestarian Nilai Budaya) Jawa Barat telah mengabadikan kampung tersebut dalam sebuah film pendek yang diposting di kanal youtubenya dengan judul Warisan Indonesia Episode 2. Supaya lebih asik, mudah dan objektif dalam menyelami film tersebut, Antropologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia lewat fisik, kepribadian hingga tingkah laku dalam masyarakat dapat menjadi alternatif kacamata pandang.

Pada scene pembuka awal film ditampilkan abangreng, salah satu kesenian di Kampung Naga yang masih dilestarikan. “Abangreng itu terbang, reng itu ronggeng. Kalau sekarang juru kawi atau sinden, kalau dulu itu ronggeng namanya,” begitu tutur pelaku kepada host. Lebih lanjut dijelaskan, biasanya kesenian ini diadakan atas undangan sebuah acara, misalnya hajatan, dilengkapi penari khusus yang berjumlah minimal dua hingga lima orang. Berikutnya dijelaskan oleh narator, mula perkembanganya dari seni terbang yang memiliki nilai religi cukup tinggi bagi masyarakat pendukungnya menjadi seni gembyung—sejurus bertambah penggunaan alat pengiring, kemudian bertahan lebih kurang 10 tahun sebelum menjadi seni abangreng yang terlihat hingga sekarang.

Pokok bahasan yang dilontarkan tersebut bila dilihat sekilas tampak utama pada kesejarahanya, sehingga perlu ada garis bawah. Definisi budaya secara umum adalah hasil cipta karya karsa manusia. Bilamana ahli sejarah melihat kebudayaan menekankan pada pertumbuhanya dan definisinya sebagai warisan sosial, maka lain soal dengan ahli antropologi yang melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life atau kelakuan (Filsafat Kebudayaan, hal. 27). Nah, sebelum beranjak lebih jauh untuk memberikan sebuah gagasan, sintesis atau solusi dari sebuah permasalahan yang terjadi dalam suatu masyarakat, ahli antropologi biasanya dituntut untuk membedah dulu budaya masyarakat tersebut. Maka ada istilah wujud kebudayaan dan unsur kebudayaan yang ditawarkan untuk memudahkan kegiatan memilah dan memahami budaya sebuah masyarakat.

Wujud kebudayaan ada 3 kata J.J. Hoenigman (Pengantar Ilmu Antropologi, hal. 186) yaitu ide, aktivitas dan benda. Norma sosial berupa etika dalam penampilan seni abangreng misalnya, merupakan wujud kebudayaan berupa ide yang sifatnya abstrak, tidak bisa diraba dan terdapat dalam alam pikiran individunya. Ngibit dalam seni abangreng misalnya, merupakan wujud kebudayaan berupa aktivitas yang sifatnya konkret, bisa dilihat dan berpola. Terbang dan gendang dalam seni abangreng misalnya, merupakan wujud kebudayaan berupa benda yang sifatnya konkret, dapat dilihat dan diraba oleh pancaindra— lebih lanjut bisa dianggap pula sebagai hasil kebudayaan masyarakat dari perpaduan ide dan aktivitas. Menyelami film tersebut dengan ini semakin asik, bisa lebih mudah dalam mendapati dan menelaah.

Setelah abangreng, ditampilkan kesenian reog yang memiliki perbedaan dengan seni reog Ponorogo. Reog yang dimaksud lebih ke arah penampilan komedi musikal, perpaduan gerak tari dan sketsa komedi pemain yang diiringi alat musik dogdog serta calung. Baik perempuan maupun laki-laki, bisa menjadi pemain dalam kesenian ini. Pada scene-scene mendekati akhir, ditampilkan kesenian gambang yang alat musiknya bernama saron, menggunakan sepenuhnya bahan dari bambu. Kesenian ini diadakan ketika ada acara besar seperti upacara adat dan hajatan. Selanjutnya ada kesenian angklung buhun dengan karakteristik khas semisal tinggi bendanya dan diferensi lagu. Pun, ada terbang sejak yang juga khas menggunakan lagu dan ibing buhun.

Dari hal-hal yang telah tersebut—mana kebudayaan berwujud ide, mana kebudayaan berwujud aktivitas dan mana kebudayaan berwujud benda bisa didapati. Lalu, apakah hanya kesenian yang bisa disebut sebagai kebudayaan? Tentu tidak, ada lebih banyak lagi yang disebut sebagai kebudayaan. Kata Koentjaraningrat (2011, hal. 190-202) Unsur kebudayaan ada 7, yakni sistem religi dan upacara keagamaan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi. Di sini kita diingatkan lagi bahwa yang disebut sebagai tujuh unsur kebudayan, ternyata juga merupakan hasil cipta karya karsa manusia. Sehingga bila ada pertanyaan kebudayaan apa yang dilestarikan masyarakat Kampung Naga? Jawabanya, ya, itu hehe..

Mulai scene awal sampai akhir film, banyak cuplikan-cuplikan kebudayaan yang ditampilkan secara visual, baik sebagai wujud maupun unsur. Di scene bagian tengah sampai ke akhir yang belum kita singgung misalnya, ada pertemuan dengan Pak Kuwu, Sobirin yang sedang berkebun dan meminjamkan motornya dengan sukarela. Berikutnya aksesoris, fisik dan baju masyarakat, sawah terasering di bebukitan, rumah dan letak kampung di tengah lembah bisa dilihat. Ada salah seorang warga, Bu Rohilah membersihkan rumput di sawah sebulan minimal sekali, padinya sebagian dijual dan digunakan sebagai biaya mencangkul serta pemupukan. Dari keteranganya didapati bahwa hampir semua masyarakat Kampung Naga bertani, disamping membuat kerajinan bila lenggang.

Belum sampai bertemu Gouide Tour, Pak Tatang Sutisna dan Pemangku Adat, Pak Ade—nyatanya sudah banyak hal yang belum bisa didetailkan dan dijabarkan satu-persatu dalam tulisan pendek ini. Hampir kesemua aspek tidak lepas dari warisan budaya leluhur yang dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Kampung Naga. Masyarakatnya mempunyai cara tersendiri bagaimana menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur, begitu juga bagaimana cara mewariskanya pada generasi berikutnya. Tampak tidak ada permasalahan yang ditampilkan memberi kesan bahwa kehidupan sehari-hari di Kampung Naga berjalan dengan baik dan lancar. Akhir kata, Antropologi sebagai alternatif kacamata pandang untuk menyelami film ini bisa diandalkan!

Sumber: https://www.kompasiana.com/flutterdust/622e057380a65a6bd20ac233/kampung-naga-dari-kacamata-antropologi-review-film-warisan-indonesia-episode-2-produksi-bpnb-jawa-barat

Salak Condet Kebanggaan Masyarakat Betawi

Pada masa jayanya salak dari Condet pernah ditanam di lahan seluas 300 hektare dan sanggup berproduksi hingga hampir 300 ton per tahun. Kini, salak kebanggaan masyarakat Betawi itu tetap bisa dinikmati sepuasnya di Cagar Buah Condet.

Condet tidak hanya dikenal sebagai sentra parfum isi ulang dan kuliner khas Timur Tengah. Kawasan yang namanya diambil dari anak Sungai Ciliwung, yaitu Ci Ondet, memiliki sejarah yang panjang.

Terletak di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, kawasan ini seperti ditulis pemerhati budaya Jakarta, mendiang Alwi Shahab dalam bukunya Betawi: Queen of the East, dulunya merupakan lahan swasta atau tanah partikelir. Lahan sejuk di pinggiran Batavia dengan pepohonan rimbun seluas 816 morgen atau sekitar 52.530 hektare itu merupakan hasil penjualan kolonial Belanda di Batavia kepada Frederik Willem Freijer pada 8 Juni 1753.

Kawasan Condet kemudian menjadi bagian dari wilayah yang disebut sebagai Groeneveld atau Lapangan Hijau. Ini adalah daerah peristirahatan yang disukai para pejabat Belanda karena letaknya tak jauh dari pusat kota.

Sejumlah rumah peristirahatan atau villa dibangun di sekitar Condet. Dikenal juga sebagai Tanjung Oost atau Tanjung Timur, Groeneveld membentang dari Depok hingga Srengseng dan Condet serta menjadi bagian besar dari Meester Cornelis, kota satelit penyangga Batavia seperti disebutkan dalam Laporan Tahunan Hindia Belanda (Regeeringsalmanak) tahun 1927. Meester Cornelis saat ini dikenal sebagai Jatinegara.

Suburnya lahan Condet karena berada di tepi aliran Sungai Ciliwung membuat Willem Vincent Helvetius van Riemsdjik jatuh hati. Dikenal sebagai Daniel Cornelius Helvetius, ia adalah tuan tanah sekaligus putra Gubernur Jenderal Jeremies van Riemsdjik yang membeli Condet dari Jacobus Johannes Craan pada 1770. Mengutip tulisan Iim Imaduddin, peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung pada Jurnal Patanjala edisi Maret 2015, disebutkan bahwa Craan adalah pemilik ketiga Condet setelah membelinya dari Adrian Jubels pada 1763 di mana Jubels menguasainya dari Freijer.

Oleh Helvetius, Condet dikembangkan menjadi sebuah kawasan pertanian dan peternakan terkemuka. Selain menghasilkan beras, dari kawasan ini juga tumbuh tanaman buah berkualitas, seperti salak, duku, durian, gandaria, nangka, mangga. Pemberian pupuk organik dari kotoran sapi, kerbau, dan kambing menjadikan kualitas serta rasa buah-buahan asal Condet terkenal di kalangan elite Belanda.

Dalam perkembangannya pascakemerdekaan, Condet terus tumbuh menjadi kawasan penghasil buah terutama salak dan duku yang dikelola oleh masyarakat Betawi, suku asli Jakarta. Bahkan hasil bumi dari Condet ini bersama produk buah nusantara lainnya acap mengisi piring-piring hidangan di Istana Negara untuk disuguhkan kepada para tamu di era Presiden Pertama RI, Sukarno.

Pada 1974, saat Jakarta dipimpin Gubernur Ali Sadikin, kawasan yang terdiri dari Kelurahan Balekambang, Batu Ampar, dan Kampung Tengah itu ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. D.IV-1V-115/e/3/1974 tentang Penetapan Kampung yang Diperkembangkan sebagai Daerah Tempat Tinggal Baru di Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Tidak hanya sampai di situ saja karena Bang Ali, sapaannya, juga menerbitkan keputusan mengenai Condet sebagai cagar buah-buahan. Ia menetapkannya lewat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta No: D.I.-7903/a/30/75 tentang Penegasan Penetapan Kelurahan Condet Batu Ampar, Kelurahan Condet Balekambang, Kelurahan Kampung Tengah, Kecamatan Kramatjati, Wilayah Jakarta Timur sebagai Daerah Buah-Buahan.

Saat penetapan itu diterbitkan, kawasan Condet masih dihuni oleh masyarakat Betawi dengan jumlah 90 persen dari populasi yang ada. Selain itu Condet juga dijadikan sebagai pusat konservasi salak (Sallaca zallaca) dan duku (Lansium domesticum) yang menjadi buah endemik di tempat ini.

Pada masa jayanya di era 1970-an, produksi salak condet rata-rata per tahun menyentuh angka 285,7 ton dari dua kali masa panen, utamanya di bulan Desember. Panen sebesar itu didapat dari 1.656.600 rumpun pohon salak yang tumbuh di atas lahan seluas total 300 ha.

Buah warna cokelat dengan kulit bersisik serta sedikit duri tipis tersebut saat itu banyak tumbuh di wilayah Kelurahan Balekambang. Hasil panen salak biasanya langsung dijual penduduk ke sentra buah Pasar Minggu yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari Condet melewati aliran Sungai Ciliwung memanfaatkan eretan, perahu penyeberangan terbuat dari susunan bambu. Belakangan, untuk mempermudah pergerakan masyarakat Condet, pemerintah daerah pun membangun jembatan di Balekambang yang terhubung dengan Pasar Minggu.

Upaya Pelestarian
Dibukanya Jalan Raya Condet sebagai jalur alternatif penyeimbang Jalan Raya Bogor jelang akhir 1970-an, mulai menimbulkan arus urbanisasi di wilayah cagar budaya Jakarta itu. Bak permainan sulap, lahan-lahan perkebunan yang luas, empang-empang berisi ikan dan kandang-kandang ternak milik warga perlahan berubah bentuk. Mulai bermunculan permukiman warga pendatang. Udara sejuk dan letaknya yang tak jauh dari pusat kota menjadi alasan utama para pendatang untuk mengisi petak-petak hijau Condet dan menggantinya menjadi tempat tinggal.

Kondisi tadi membuat keberadaan suku Betawi sebagai orang asli Condet perlahan ikut tersisihkan hingga pada 2004 statusnya sebagai cagar budaya dicabut. Status sebagi cagar budaya suku Betawi kemudian disematkan kepada kawasan Setu Babakan. Ini karena di kawasan yang masuk dalam Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan itu masih terdapat banyak orang Betawi yang masih mempertahankan tradisi budayanya.

Nasib serupa juga menghantam salak condet. Buah khas Condet yang dikenal memiliki rasa asam dan manis dalam satu rumpun buah dengan daging buah yang tebal itu mulai langka. Padahal, salak dari Condet ini mempunyai sembilan varietas dengan rupa dan bentuk yang tidak sama satu dengan yang lain. Pada 2007, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun membeli sebidang lahan di Balekambang sebagai habitat salak asli Condet untuk dijadikan kawasan konservasi.

Seperti dikutip dari Antara, lahan seluas 3,7 ha dibeli seharga nilai jual objek pajak (NJOP) dari sejumlah warga Betawi yang sebagian masih menanam buah berjuluk sisik ular itu. Sebagai penanda batas antara kebun salak dan permukiman warga dibangunlah pagar besi di sekelilingnya.

Cagar Buah Condet, demikian nama lokasi konservasi yang berada di bantaran Sungai Ciliwung di Jl Kayu Manis RT 7 RW 5. Sempat terbengkalai hampir tujuh tahun, pada 2013 Pemprov DKI Jakarta melalui Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Jakarta Timur menugaskan beberapa pekerja harian lepas (PHL) untuk merawat Cagar Buah Condet. Mereka dibantu sejumlah warga setempat yang semula menjadi pemilik lahan. Ada 8 orang yang tercatat merawat tanaman salak dan duku di lahan konservasi ini.

Salah satunya adalah Asnawi, asli Betawi dan mantan pemilik salah satu bidang lahan Cagar Buah Condet. Ia rela lahannya yang masih terdapat pohon berakar serabut ini beserta duku usia puluhan tahun warisan engkong, bahasa setempat untuk kakek, dibeli pemerintah untuk dibuat konservasi. “Antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum, saya lebih mengutamakan kepentingan umum yang dampaknya kalau masih ada pohon akan terjadi penyerapan dan kedua untuk berbagi oksigen,” kata Asnawi.

Setidaknya sudah ada 3.000 pohon salak ditanam di Cagar Buah Condet. Bibit-bibit dari tanaman berbentuk palem dengan banyak duri di antara batangnya itu baru mulai berbuah setelah 4-5 tahun ditanam. Proses persemaian hingga menjadi buah salak memerlukan waktu lima bulan. Dari 3.000 pohon, hanya 200 pohon saja yang aktif berbuah, di antaranya bahkan sudah berusia di atas 1 abad.

Ketika panen, jangan membayangkan hasilnya akan serupa di era 1970-an yang mencapai ratusan ton, karena yang didapat saat ini jumlahnya pun tak sampai 200 kilogram saja. Panen langsung diambil pihak Pemprov DKI dan sebagian diberikan kepada warga sekitar, kendati tak sedikit yang kemudian menjualnya lagi di tepi Jalan Raya Condet.

Musibah banjir bandang yang menerjang sebagian lahan Cagar Buah Condet pada 2018, ikut merendam mayoritas habitat salak. Akibatnya banyak pohon yang membusuk dan tidak lagi produktif meski beberapa rumpunnya masih dapat diselamatkan. Sesuai fungsinya sebagai kawasan konservasi, Cagar Buah Condet pun ikut melestarikan salak asli masyarakat Betawi.

Setiap tahunnya ribuan bibit hasil cangkok dari pohon induk atau hasil tanam dari bijinya berhasil dikembangkan pengelola dan warga. Untuk satu polybag bibit salak condet, dilepas mulai dari harga Rp40.000-Rp65.000 bergantung ukuran besaran pohon.

Semoga saja upaya ini mampu mempertahankan keberadaan salak yang pernah menjadi favorit para pembesar sejak era kolonial hingga pascakemerdekaan dan tidak lagi sekadar kisah dongeng sebelum tidur.

Penulis: Anton Setiawan

Sumber: https://prosesnews.id/salak-condet-kebanggaan-masyarakat-betawi/

Kisah Saedah Saenih di Balik Budaya Mengais Koin di Jembatan Indramayu

Melintasi wilayah Pantura, di kawasan jembatan Sewo, Indramayu, akan ditemui belasan hingga puluhan warga tengah memegang sapu. Bukan untuk membersihkan jalan, mereka menyapu koin yang dilempar para pelintas ke dari tengah ke pinggir jalan, sebagai bagian tradisi.

Tradisi mengais koin nampaknya telah bertahan sejak puluhan tahun lamanya. Mereka menganggap bahwa tradisi mengais koin berawal dari kepercayaan masyarakat lokal tentang kisah Saedah Saenih. Kisah ini melegenda di masyarakatnya yang mempercayai hal berbau mistis atau klenik.

Yuzar Purnama menulisnya dalam jurnal Patanjala, berjudul Mitologi Saedah Saenih, Cerita Rakyat dari Indramayu, terbit pada 2016. Ia membahas mitos dari kisah Saedah Saenih yang menjadi alasan utama terbentuknya tradisi mengais koin di jembatan Kali Sewo, Indramayu.

"Terdapat sebuah keluarga di Desa Karang Turi, Indramayu, yang terdiri atas suami istri bernama Ki Sarkawi dan Maimunah," cerita Yuzar. Sarkawi menikahi Maemunah setelah ditinggalkan istrinya. "Dari pernikahan pertamanya, ia dianugerahi dua orang anak, bernama Saedah dan Saenih," lanjutnya.

Maemunah, istri mudanya, merupakan penari ronggeng yang populer di pesisir utara dan Indramayu. "Suatu ketika, saat Ki Sarkawi pergi ke hutan, ia meninggalkan Saedah dan Saenih kepada istri mudanya yang merupakan ibu tiri mereka," tambahnya.

Sayangnya, Maimunah tak pernah menginginkan keberadaan Saedah dan Saenih. Ia kerap berlaku kasar kepada keduanya. Yuzar menambahkan, "Saat Maimunah hendak ke pasar, ia berpesan untuk tidak menggunakan beras dan uang yang ada di rumah".

Kondisi perut yang lapar, membuat Saedah tak tega melihat adiknya menderita. Namun, ia nekat memasak beras, yang sejatinya merupakan pantangan ibu tirinya. "Sepulangnya dari pasar, Maimunah sontak naik pitam melihat Saedah tak mengindahkan pantangannya, ia pun berlaku kasar hingga diketahui Ki Sarkawi yang pulang dari berburunya," tambahnya.

Ki Sarkawi kemudian memarahi Maemunah. Dia pun segera berpikir untuk menceraikannya. "Maimunah bergegas ke dukun, meminta pertolongannya untuk membuat suaminya itu, lebih memilih dirinya daripada kedua anaknya," terangnya.

Hingga di suatu sore, Ki Sarkawi terbesit untuk mengajak anaknya berburu di hutan. "Saedah dan Saenih bersemangat untuk turut serta ayahnya berburu," lanjut Yuzar.

Suatu ketika, Saenih kelelahan dan kehausan di tengah hutan belantara. "Ayahnya kemudian bergegas mencarikan minum untuk anak bontotnya itu, ia pun meninggalkan kedua anaknya di tengah belantara yang sunyi," tulis Yuzar. Berjam-jam kedua anak kecil itu menunggu, sampai langit malam dan kegelapan pekat menyelimuti hutan.

Mereka tak pernah menyadari bahwa ayahnya telah meninggalkan mereka. Saedah dan Saenih dibiarkan berdua di hutan yang gelap dan menerbitkan ketakutan. "Ki Sarkawi telah diguna-guna, untuk meninggalkan kedua anaknya ditengah hutan," tambahnya.

"Tibalah seorang tua renta menghampiri mereka," lanjutnya. Kakek itu menghampiri dan menawarkan sejumlah kesepakatan. "Saedah dan Saenih bisa ia ikutkan dengan grup penari ronggeng hingga mereka berhasil, hingga tiba saatnya salah satu mereka dijemput ajal," Yuzar berkisah dalam tulisannya.

Benar saja, tahun-tahun berganti, grup mereka laris manis di pasaran. Tak pelak membuat keduanya menjadi kaya raya. "Saedah dan Saenih memiliki rumah di Sewo dan hanya hidup berdua," kisahnya. Waktu-waktu berlalu, Saenih akhirnya menemui ajalnya.

Berita tentang kesohoran Saedah dan Saenih sampai kepada kedua orang tuanya. Diketahui bahwa Ki Sarkawi dan Maemunah sudah melarat, tak sekaya dulu. Mereka akhirnya berniat untuk mengunjungi kediaman kedua anaknya tersebut.

Yuzar menjelaskan dalam tulisannya bahwa Ki Sarkawi merasa terpukul mendengar kabar kematian anaknya Saenih. "Saedah memberikan koper dan sejumlah uang, pesan yang dititipkan Saenih sebelum ajal menjemputnya," tambah Yuzar.

"Ini adalah uang dan barang untuk mengganti beras yang sudah Saenih gunakan dulu untuk bapak (Ki Sarkawi) dan mimi (Maimunah)," ujaran lirih Saedah dalam kisah yang ditulis oleh Yuzar. Ki Sarkawi menyesali segala perbuatan yang dilakukannya dulu.

Saat perjalanan pulang mekintasi kali Sewo, dalam beberapa penuturan menyebutkan bahwa Ki Sarkawi bersama istrinya tewas tergelincir ke sungai. Sementara penuturan lain mengisahkan bahwa Ki Sarkawi bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya ke sungai. Menurut pengakuan warga, makamnya masih bisa ditemui hingga hari ini.

Kisah tersebut tentunya melegenda bagi masyarakat Indramayu, khususnya yang tinggal di sekitar kali Sewo, Indramayu. Mereka berkeyakinan bahwa Ki Sarkawi dan istrinya masih bersemayam di kali Sewo menjadi penghuni kali tersebut. Maka dari itu, masyarakatnya meminta koin agar para pelintas dapat melalui jembatan Sewo dengan aman.

Mereka juga mengaitkan kutukan tersebut dengan kecelakaan tragis yang terjadi pada 11 Maret 1974. Kecelakaan tersebut melibatkan para transmigran Boyolali dalam perjalanannya ke Sumatra. Busnya terguling ke dasar sungai, menewaskan 67 penumpang dan menyisakan 3 anak yang selamat. (Galih Pranata)

Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/read/132920876/kisah-saedah-saenih-di-balik-budaya-mengais-koin-di-jembatan-indramayu?page=all

Sumedang Larang, Jejak Kejayaan Kerajaan Islam di Tatar Sunda

Tak hanya terkenal dengan Kerajaan Pajajaran, Keraton Kasepuhan, Kerajaan Banten dan Jejak Kerajaan Galuhnya saja, ternyata di Jawa Barat juga terdapat kerajaan lain yang cukup berpengaruh bernama Kerajaan Sumedang Larang.

Letak Kerajaan yang berpusat di Citembong Girang, Desa Cikeusi, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang ini ternyata memiliki pengaruh yang kuat dalam pengukuhan trah Sunda di Jawa Barat pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran.

Sejarah terkait kejayaan kerajaan Islam penerus Pajajaran ini dicapai pada era pemerintahan Prabu Geusan Ulun yang bertahta pada tahun 1579-1601 Masehi. Dari penelitian Euis Thresnawaty yang bertajuk “Sejarah Kerajaan Sumedang Larang” dalam jurnal Patanjala (2011) terungkap, ibu kota kerajaan yang semula bernama Tembong Agung atau Himbar Buana ini terletak di Citembong Karang, kini termasuk wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Pada masa awal berdirinya, Kerajaan Sumedang Larang sudah menjadi bawahan dari kerajaan lain, yakni kerajaan kembar pecahan Tarumanegara, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh antara abad ke-8 hingga abad ke-16 Masehi.

Sumedang Larang Menjadi Kerajaan Islam
Pada 1482, Kerajaan Sunda dan Galuh bersatu berkat peran Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Pakuan Pajajaran. Bersatunya Sunda dan Galuh, Sumedang Larang otomatis beralih di bawah naungan Kerajaan Pajajaran. Dikutip dari buku Sejarah Daerah Jawa Barat (1984) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kerajaan Sumedang Larang yang semula menganut Hindu kemudian berubah menjadi kerajaan bercorak Islam pada masa pemerintahan Pangeran Santri (1530-1578 M).

Pangeran Santri sendiri merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon. Ia menjadi pemimpin Kerajaan Sumedang Larang setelah menikah dengan putri dari kerajaan tersebut, yakni Ratu Pucuk Umun.

Seperti menurut Apipudin S.M. dalam ‘Penyebaran Islam di Daerah Galuh sampai dengan Abad 17’ (2010) menyebut bahwa, Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun dikaruniai anak laki-laki bernama Angkawijaya atau yang nantinya dikenal sebagai Prabu Geusan Ulun setelah naik tahta. Sumedang Larang pun menjadi kerajaan merdeka pada era pemerintahan Prabu Geusan Ulun yang bertahta sejak tahun 1578 dan dilantik oleh Raja Pajajaran yakni Prabu Suryakancana (1567-1579 M).

Setahun pasca Prabu Geusan Ulun menjadi raja di Sumedang Larang, Kerajaan Pajajaran pun hancur akibat serangan Kesultanan Banten pada 1579. Pada situasi kacau itu, seperti tertulis dalam ‘Widyasancaya suntingan Agus Arismunandar’ (2006), Prabu Geusan Ulun mendeklarasikan bahwa Sumedang Larang adalah penerus Pajajaran.

Prabu Geusan Ulun pun memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Sumedang Larang dari Citembong Karang ke Kutamaya, masih wilayah Sumedang. Pendeklarasian Sumedang Larang sebagai penerus Kerajaan Pajajaran pun mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak, hal ini mengingat bahwa Prabu Geusan Ulun adalah keturunan raja-raja di telatah Sunda.

Setelah itu, Kerajaan Sumedang Larang di bawah pemerintahan Prabu Geusan Ulun pun mencapai puncak kejayaannya. Tak hanya memiliki legitimasi yang kuat, wilayah kekuasaan Sumedang Larang pun bertambah luas akibat dari hibah Kerajaan Pajajaran.

Daftar Raja Sumedang Larang diantanya; Prabu Aji Putih (900 M), Prabu Tajimalela (950 M), Prabu Gajah Agung (980 M), Sunan Guling (1000 M), Sunan Tuakan (1200 M), Nyi Mas Ratu Patuakan (1450 M), Ratu Pucuk Umun (1529 M), Pangeran Santri (1530-1579 M), Prabu Geusan Ulun (1579-1601 M) dan Prabu Suriadiwangsa (1601-1620 M). (EK)

Sumber: https://postpangandaran.com/pendidikan/1216/sumedang-larang-jejak-kejayaan-kerajaan-islam-di-tatar-sunda?3

Review : Social-Cultural History of Cina Benteng in Tangerang City

by Anthony Khoo

The paper by Euis Thresnawaty S. investigates a largely undocumented group of marginalized Chinese group in Tangerang, Java of Indonesia referred to as ‘Cina Benteng’. The paper focuses on the delineation of their historical and genealogical origin, relating the group to a precolonial Chinese voyagers that settled and acculturated with the local community, as well as the group’s very own culture which is a mixture of archaic Chinese customs and local traditions.

In this reflection I would like to ponder on certain themes that promulgated in the study. For first the paper presents us with an evidence of intermarriage between chinese migrants with local communities as a point of departure signifying the marriage of two cultures, while this process of intermarriage is presented as commonplace in historical context, I often speculate about the individual contexts of these interethnic unions, if the social tolerance towards intermarriages in different periods of history reflects the different normative patterns of that society, and how was the normative patterns evolved over time by influence of extraneous factors such as religious diffusion, colonialism, nationalism etc.

Another theme I would like to point out is a recurring theme of ethnic (or racial) violence against Chinese migrants, for genocidal attempts had occurred throughout history in Indonesia, from early Dutch forces in 1740 up until locally organised riots against Chinese in 1946 Republic of Indonesia, and not to mention the May 1998 riot of post-reformation Indonesia. As it is noted that most Chinese communities of Indonesia had assimilated or acculturated into the vast Indonesian culture, therefore in ways dissolved or detached of their original cultures and identities. Case in point the group of Cina Benteng who had lost their language, more so phenotypic differences as they are not at all different looking from their austronesian counterparts. However, the elimination of differences did not stop aggression oriented towards the ‘other’ in contemporary Southeast Asia. Therefore, the retention of certain aspects of their culture through modification as means of maintaining identity as a distinct group while evading antagonism from others is to me, a profound look at culture and ethnicity as elastic, malleable forms of human adaptation, an evolutionary adaptation for acclimatizing the fundamental need of humans to draw boundaries, the human nature to segregation.

The customary practices of Chiou-Thaou in Cina Benteng particularly sparked my interest as it was indicated Cina Benteng was linguistically related to a Hokkien lineage. As I myself am of Hokkien heritage, I tried to identify the origin of the tradition. The closest resemblance of a conventional Hokkien marriage custom is referred to as ‘上頭’ (siang-thau) or ‘嬙頭’ which describes the procedure of combing the hair (‘梳頭’ sue-thau) three times at the morning of the wedding. Thereupon, the difference of Cina Benteng culture from the Malaysian Chinese or Hokkien culture in general is evident not only in terms of the practice itself but the linguistic aberration, for it is only partly traceable from the similarities observed in some aspects of the overall custom. In retrospective, though classical social evolutionary perspectives had been largely dismissed in the anthropological field, the existence of Cina Benteng culture could well serve as an exemplary testimony of multilinear evolution of culture.

Returning to the Malaysian landscape of ethnic interrelations, even though tinted with tensions and frictions in the course of colonial and post-colonial periods, had been in less discordance and much more accommodating. Is our state of being therefore better or superior than our counterparts in the Malay Archipelago, for growing out of distinct colonial past, different set of nationalistic sentiments, and separate means of garnering unity? I believe the nature of human to seek difference, the demand of categorization and classification would continue to exists, however, it is only through conversations and empathy, people are able to look for mutually favourable solutions.

References
Euis Thresnawaty S. (2015). Sejarah sosial-budaya masyarakat Cina Benteng di Kota Tangerang. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 7(1), pp. 49–64.

Source: https://medium.com/@anthony403/review-social-cultural-history-of-cina-benteng-in-tangerang-city-978c2177f67f

Mereview Silat Beksi dan Tokoh-Tokohnya di Petukangan

Pencak silat telah berhasil menjadi warisan budaya dunia bangsa Indonesia yang telah diakui UNESCO pada 12 Desember 2020 melalui persidangannya di Bogota, Kolombia. Berita tersebut membuat masyarakat Indonesia terutama yang menggeluti dunia persilatan menjadi bangga dan semakin percaya diri, tak terkecuali yang dilakukan oleh Yayasan Kampung Silat Petukangan sejak 2018 lalu yang meneliti sejarah dan perkembangan Pencak Silat Beksi dan akhirnya baru pada tahun 2021 lalu terbit menjadi sebuah buku. Penulis Reyha Biadillah yang menulis Beksi khas Betawi dalam buku tersebut tidak hanya menuliskan bagaimana sejarahnya, para tokohnya dan perkembangannya serta bentuk pelestariannya yang dilakukan oleh masyarakat atau pun pemerintah, tetapi juga bagaimana lekatnya Beksi dengan unsur ajaran Islam.

Buku yang diterbitkan melalui Yayasan Obor Indonesia ini merupakan upaya lain dalam melestarikan pencak silat. Sebab selama ini mayoritas pencak silat belum banyak tertuliskan secara ilmiah. Data yang ditemukan hanya berupa cerita rakyat atau folklore bahkan seringkali dibumbui oleh hal-hal mitos. Terkait dengan buku ini berupaya mengenalkan para tokoh yang berkontribusi dalam terbentuk dan lestarinya Beksi saat ini. Menurut data Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Beksi memiliki perguruan dan jumlah pelakunya yang paling banyak di tanah Betawi. Hal inilah yang menjadi menarik mengapa Beksi dapat berkembang pesat. Bisa dikatakan banyak orang Betawi jika ditanyakan menyebut aliran silat di Betawi pasti selalu Beksi yang dijawab.

Dalam buku ini Beksi bermula di sebuah kampung bernama Dadap yang letaknya di Tangerang, Banten. Berdasarkan folklor yang berkembang di masyarakat, Beksi dikreasikan oleh seorang Tionghoa bernama Lie Tjeng Hok namun pada saat itu belum memiliki sebutan atau nama silat tersebut. Pada saat itu orang-orang yang mempelajari gerak silat tersebut menyebutnya dengan istilah jurus atau maen pukul. Lie Tjeng Hok yang berdarah Tionghoa sebelumnya juga belajar dari Ki Jidan, seorang jago dan pendakwah yang sudah lama pula menetap di Kampung Dadap. Berkat kemampuan yang dimiliki Lie Tjeng Hok, akhirnya memadukan aliran silat yang bernafas Tiongkok dan hasil pembelajarannya dengan Ki Jidan. Lie Tjeng Hok lah yang kemudian mengenalkan jurusnya ke sanak saudaranya dan satu orang muridnya pribumi bernama Ki Marhali.

Pertanyaan mungkin akan muncul mengapa nama judul dalam buku ini menuliskan nama tokoh-tokohnya di Petukangan? Buku ini menjelaskan bahwa penamaan “Beksi” merupakan asli dari para pengkreasi di Petukangan. Secara geografis, Kampung Petukangan saat ini berlokasi di Jakarta Selatan bagian dari Kecamatan Pesanggrahan. Adapun tokoh-tokoh dari Petukangan antara lain Haji Godjalih, Haji Hasbullah, Kong Simin, M. Noer, dan Mandor Minggu. Lima tokoh itu merupakan pribumi asli Petukangan Haji Godjalih merupakan tokoh utama yang mengembangkan Beksi di Kampung Petukangan hingga menyebar ke berbagai daerah lainnya.

Haji Godjalih yang pernah menjadi kepala kampung pada masa kolonial Belanda merupakan sosok yang sangat anti terhadap kompeni. Meski ia menjabat sebagai kepala kampung, otoritasnya digunakan untuk membantu warga dan sering menjadi buronan pasukan tentara Belanda. Dalam masa buronan ini sekitar dekade 1900-an, Haji Godjalih yang dijelaskan dalam buku juga seorang pemain rebana mendapat panggilan pentas di Kampung Dadap. Ketika sampai di sana dan selesai acara pada waktu malam hendak ingin pulang, ia melihat sekelompok orang yang sedang belajar silat yang dipandu oleh Ki Jidan. Lantas pada waktu itu Haji Godjalih yang juga pandai bersilat mencoba jurus yang dipandu Ki Jidan, namun ternyata dpaat dilumpuhkan oleh Ki Jidan. Jiwa zaman pada masa itu siapa yang kalah ia harus belajar kepada yang menang sehingga Haji Godjlaih pun belajar kepada Ki Jidan. Purna belajar dari Ki Jidan ia pun meneruskan ke Lie Tjeng Hok melalui Ki Jidan. Haji Godjalih pun purna dengan sempurna dan kemudian megenalkan aliran silatnya ke saudara dan rekannya di Kampung Petukangan dan munculah empat sosok yang sampai sekarang dikenal yaitu Haji Hasbullah, Simin, M. Noer, dan Minggu. Semua muridnya juga sebelumnya telah memiliki silat kemudian kelima tokoh tersebut sepakat menyempurnakan jurus-jurus yang dimiliki. Sekitar tahun 1920-an jurus pun terbentuk dan dinamai Beksi yang memiliki akronim Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan. Arti dan makna ini disarikan berdasarkan ajaran Islam yang harus saling menghargai, membantu, dan berlomba dalam kebaikan sebagai seorang manusia. Hal inilah yang akan dibahas dalam buku ini bagaimana kemudian Beksi memiliki inisiasi Rosulan yang wajib dilakukan sebelum calon pesilat belajar silat.

Rosulan dalam buku ini merupakan inisiasi ritual yang di dalamnya adalah zikir, tahlil dan solawat. Pengisian ruhani inilah yang berguna bagi pesilat nanti sebagai bekal iman setelah memiliki ilmu bela diri karena belajar ilmu diri bukan untuk menyombongkan diri tetapi harus memahami makna kehidupan. Makna kehidupan inilah yang disimbolkan melalui benda-benda rosulan mulai dari kembang tujuh rupa yang maknanya wangi harum nama sang pesilat setiap hari dalam seminggu dalam kebaikan, pisau cap garpu yang artinya ketajaman gerak pesilat, ayam jago perlambang kejantanan. Selain itu pesilat juga harus mengucap sumpah perguruan terhadap sang guru. Peristiwa ini juga membaca syahadat dan janji yang disepakati oleh guru dan murid.

Metode yang digunakan buku ini adalah metode sejarah mengingat penulis buku ini adalah lulusan sejarah dan kebudayaan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pendekatan yang digunakan pun antropologi namun tidak secara spesifik apakah antropologi agama atau tidak. Namun dalam buku sumber-sumber yang digunakan cukup lebih baik dari karya yang sejenis sebelumnya berjudul Beksi Maen Pukulan Khas Betawi yang terbit pada tahun 2002 oleh Yahya Andi Saputra dan H. Irwan Syfaei. Buku tersebut masih banyak menggunakan cerita-cerita mitos sebagai sumber awalnya tetapi paling tidak memperkaya khazanah tentang Beksi itu sendiri.

Meski demikian karya ini merupakan upaya yang bagus masih kurang dengan penemuan-penemuan bagaimana Beksi memiliki peran dan pengaruh dalam perang revolusi kemerdekaan mengingat tanah Betawi dikenal sebagai tanah pejuang dan jago sampai sekarang. Selain itu keterkaitan antara jago dan ulama juga kurang diulas dalam buku ini mengingat lagi tokoh-tokoh yang berperan dalam buku ini hidup pada rentang masa 1900-1990-an dan pada masa itu banyak kelompok-kelompok pergerakan yang dimotori oleh ulama atau ahli agama setempat. Akhirnya saya sangat mengapresiasi terbitnya buku ini, semoga menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi akademisi, pesilat, pegiat seni budaya, dan masyarakat luas.

Muhamad Rido

Mahasiswa Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumber: https://retizen.republika.co.id/posts/26283/mereview-silat-beksi-dan-tokoh-tokohnya-di-petukangan

5 Destinasi Wisata Lampung yang Memesona

Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi wisata alam hingga budaya. Di samping itu, terdapat pula wisata buatan yang tak kalah mengasyikan untuk dijajal. Provinsi Lampung terbilang strategis bagi kunjungan wisata. Berbagai objek wisata, mulai dari pegunungan, hutan, sungai, air terjun, mudah dijangkau dari pusat Kota Lampung.Meneruskan jurnal "Potensi Wisata di Lampung dan Pengembangannya" oleh Ani Rostiyati, Bandar Lampung merupakan penyatuan dari dua kota, yakni Telukbetung dan Tanjung Karang. Pada 1984, Kota Teluk Betung dan Tanjung Karang digabung menjadi satu kesatuan wilayah kota di Bandar Lampung. Selanjutnya, Kota Tanjung Karang dan Teluk Betung berubah menjadi Kotamadya TK. II Tanjung Karang-Teluk Betung dan sekaligus menjadi Ibukota Provinsi Lampung.

Wisata Lampung
Di Lampung, terdapat tujuh wisata unggulan yang sering dikunjungi para wisatawan, yakni krakatau, Bandar Lampung, Laut Kiluan, Bukit Barisan Selatan, Tanjung Setra, Way Kambas, dan Menara Siger

Sementara itu, di pusat ibu kota Lampung terdapat potensi wisata unggulan seperti museum yang terletak di tengah kota, sentra kerajinan tapis, sentra penjualan kuliner keripik pisang, dan berbagai sanggar seni. Adapun pantai, laut, rumah tradisioal, danau, alam pegunungan, biasanya terletak jauh dari ibu kota Lampung dan merupakan wisata non unggulan.

Wisata Buatan di Lampung
Di samping jajaran wisata alamnya, Lampung menyuguhkan sejumlah wisata buatan yang layak untuk dikunjungi. Mengutip Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Provinsi Lampung, berikut 5 wisata buatan Lampung.

1. Penangkaran Rusa Tahura Wan Abdul Rachman
Penangkaran rusa ini berada di Desa Sumber Agung Kecamatan Kemiling. Dari arah Kemiling dapat dijangkau dengan jarak yang cukup dekat dengan kondisi jalan yang baik. Lokasi penangkaran berada sekitar 1 km sebelum Taman Kupu-Kupu.

Di penangkaran ini wisatawan diajak bercengkerama dan memberi pakan yang telah disediakan untuk rusa-rusa di tempat penangkaran. Lokasi penangkaran dilengkapi dengan taman, arena bermain anak, kantin, musala dan berbagai spot menarik untuk berswafoto.

Tempat wisata penangkaran rusa ini buka setiap hari dengan tarif tiket masuk yang cukup terjangkau, yakni Rp 3.000 dan Rp 2.000 untuk parkir kendaraan roda dua Rp 4.000 untuk kendaraan roda empat.

2. Taman Kupu Kupu Gita Persada
Taman Kupu-kupu Gita persada Bandar Lampung, terletak di kaki Gunung Betung Kemiling Bandar Lampung atau sekitar 30 menit dari pusat kota dan sekitar 1 km dari Bumi Kedaton arah Kemiling.

Hanya dengan Rp 10.000, pegunjung sudah bisa menikmati alam sejuk taman sekaligus menemukan berbagai jenis kupu- kupu dan mengamati perkembangan metamorfosis dari mulai telur, ulat, kepompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang berwarna-warni.

Taman yang telah berdiri selama lebih dari 20 tahun ini kini telah memiliki lebih dari 140 jenis kupu-kupu Sumatra, termasuk Attacus atlas.

Terdapat beberapa fasilitas wisata yang tersedia di taman ini, yaitu sangkar kupu-kupu, rumah pohon, children's playground, museum, kafetaria, dan toilet. Taman Kupu-Kupu Gita Persada beroperasi pukul 8 pagi hingga 5 sore.

3. Lembah Hijau
Tempat wisata yang terletak di Bandar Lampung ini berdiri di atas kawasan lembah seluas 30 hektare. Taman ini memadukan antara wisata rekreasi dan edukasi.

Lembah Hijau menyediakan berbagai wahana rekreasi keluarga menarik, mulai dari yang bernuansa hiburan, ilmu pengetahuan alam hingga petualangan.

Saat ini, Lembah Hijau memiliki kebun binatang dengan pengelolaan yang terbaik di Sumatra. Di sini, Gajah Sumatra dari Way Kambas siap menyambut pengunjung dengan atraksinya. Selain itu, pengunjung bisa berkeliling taman wisata serta arena panggung hiburan yang menampilkan satwa-satwa pintar seperti orang utan, burung dan berang-berang.

Di sini, tersedia beberapa fasilitas wisata berupa cottages, restoran, meeting room, hiburan keluarga, waterboom, outdoor activity (Outbound Training Center, Outbound Kids & Children Playground, Camping Ground, Paint Ball & Air Soft Guns), Taman Satwa, Wahana Permainan (Mini Train, Carousel, Cinema 4 Dimensi, Boom-Boom Car, Rumah Hantu). Lembah Hijau buka setiap hari pukul 8 pagi – 6 sore.

4. Bumi Kedaton
Tempat wisata buatan di Lampung selanjutnya yakni Bumi Kedaton. Destinasi wisata yang satu ini merupakan taman satwa dan wisata yang menyediakan cottage dan aneka permainan rekreasi yang terletak di Kampung Batu Putuk, Telukbetung, Bandar Lampung atau sekitar 20 menit dari pusat kota. Bumi Kedaton dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata, di antaranya rumah khas Lampung, area kamping di bagian utara dari sungai yang mengalir dari lereng Gunung Betung, cottage, water park, jalur jogging. Di samping itu, terdapat koleksi tumbuhan dan hewan langka secara bertahap dengan tujuan memperkenalkan kekayaan fauna yang ada di penjuru Nusantara, khususnya Sumatra. Di tempat ini, tersedia Siger Cafe, yakni sebuah restoran yang terletak di daerah perbukitan dengan pemandangan yang indah di atas bukit berpadu suara gemericik air. Restoran ini menyediakan menu-menu yang akan membangkitkan selera, seperti ikan mas panggang, ayam panggang, dan makanan khas Lampung.

5. Gua Maria Padang Bulan Terletak di Pringsewu Lampung, arah barat kota Bandar Lampung atau sekitar 3 km dari Pringsewu arah Kabupaten Tanggamus, tempat ini sering dijuluki sebagai Lourdes van Lampung. Lourdes di Perancis adalah destinasi wisata ziarah umat katolik paling terkenal di dunia. Tempat ziarah Gua Maria Lourdes diyakini umat katolik merupakan petilasan penampakan bunda Maria. Berdasarkan sejarah yang ditulis oleh Uskup Tanjung Karang, Mgr Andreas Henrisoesanta, lokasi tempat Gua Maria didirikan dulunya adalah tempat para imam dan masyarakat sekitar bersembunyi pada masa penjajahan Jepang. Gua ini jadi lokasi para gerilyawan menyusun siasat untuk melawan penjajah. Lokasinya yang berada di lembah perbukitan, di tengah hutan kecil, dan di tepi sebuah sungai yang jauh dari suara bising perkotaan, ditambah suara hewan-hewan kecil dan gemericik air menjadikan Gua Maria sebagai tempat yang pas bagi peziarah yang berniat mencari ketenangan batin di dalam doa.

Sumber: https://katadata.co.id/safrezi/berita/6194d0778884a/5-destinasi-wisata-lampung-yang-memesona

Tarling, Musik Khas Indramayu Tentang Ketabahan dalam Penderitaan

Oleh Galih Pranata

"Mang Sakim mulai memainkan gitar dan menguji kesamaan nada dengan musik gamelan Cirebon," tulis Ivan Setiawan. Ia mengisahkan sosok Sakim yang berupaya mewujudkan seni musik anyar di wilayah Indramayu.

Ivan menuliskan kisah Sakim pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, dalam artikelnya berjudul Tarling, Seni Tradisional Pantura, yang dipublikasikan pada tahun 2018. Sakim saat itu diminta oleh seorang Belanda untuk menyetel gitarnya.

"Saat itu, sekitar tahun 1931, di Desa Kepandean, Indramayu, seorang komisaris Hindia-Belanda meminta pada warga sekitar untuk memperbaiki gitarnya," tambahnya. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Sakim untuk mengulik lebih jauh tentang gitar. Wajar saja, tak mudah bagi pribumi mendapat gitar pada zamannya.

"Mang Sakim merupakan ahli gamelan Cirebon. Sampai gitar seorang komisaris Belanda itu berhasil di perbaiki, ia tak juga mengambil gitarnya," lanjut Ivan. Sakim kemudian memiliki waktu lebih banyak lagi dalam mempelajari nada-nada gitar sekaligus membandingkan nada-nada pentatonis gamelan.

Kemudian upaya Sakim dilanjutkan oleh anaknya, Sugra. Ia bereksperimen dengan memindahkan nada-nada pentatonis gamelan ke dawai-dawai gitar yang bernada diatonis. Agaknya, ia telah berhasil menciptakan genre musik baru dengan perpaduan-perpaduan itu.

"Karenanya, kiser (tembang-tembang) Dermayonan (Indramayu) dan Cerbonan (Cirebon) yang biasanya diiringi dengan gamelan, bisa menjadi lebih indah dengan iringan petikan gitar," tambahnya. Keindahan itu, menjadi semakin lengkap setelah petikan dawai gitar diiringi dengan suling bambu yang mendayu-dayu.

Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan kiser Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar 1932-an. "Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Indramayu dan Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup," tulis Ivan.

Pada tahun 1935, alunan musiknya mulai dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunannya diiringi dengan alat musik lain, berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.

"Nama tarling baru diresmikan saat Radio Republik Indonesia sering menyiarkan jenis musik ini dan oleh Badan Pemerintah Harian (saat ini DPRD). Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1962, melalui siaran RRI, nama Tarling mulai dikenal sebagai nama resmi jenis musik tersebut," terang Ivan.

GAYA MUSIK TARLING DARI PENGARUH GEOGRAFISNYA
Suwarjono, seorang bapak berusia 53 tahun, duduk di serambi rumahnya, tengah bersantai sambil menikmati musik tarling dari radionya. "Sudah sejak kecil saya mendengar tarling dari radio," ungkapnya kepada National Geographic Indonesia. Ia merupakan penikmat setia musik tarling.

Ia berasal dari wilayah pesisir utara Subang, tepatnya di daerah Pusakajaya, dekat dengan Pantai Patimban. "Mulai dari Indramayu, Cirebon, sampai Subang bagian Pantura, pasti kenal sama yang namanya tarling," ungkap Suwarjono.

Kesenian tarling lebih populer di daerah Indramayu dan Cirebon, serta beberapa wilayah lain seperti wilayah Pantai Utara Subang juga turut dalam tren musik tarling. Wilayah geografis pesisir utara lantas memengaruhi gaya musik tarling.

"Masyarakat di daerah pesisir, seperti contohnya orang-orang di sepanjang wilayah Pantura, lebih terbuka dan suka mengungkapkan perasaannya langsung secara omongan (verbal)," jelas Suwarjono berdasar pengamatannya.
Tarling adalah salah satu bentuk kesenian yang berkembang di wilayah pesisir pantai utara Jawa Barat, terutama wilayah Cirebon dan Indramayu. Nama tarling diidentikkan dengan nama instrumen sitar dan suling serta istilah 'Sing nelatar kudu eling, Eling kepada Tuhan Yang Maha Esa, Eling terhadap tanah kelahirannya.'

Hal tersebut dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan Rijal Abdillah dan Koentjoro dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam tulisannya yang dimuat pada jurnal Psikologika, berjudul Nilai dan Pesan Moral Tarling Menurut Perspektif Pelaku Kesenian Tarling Cirebon: Studi Psikologi Budaya, terbit pada 2015.

"Pola interaksi yang diturunkan sejak nenek moyang dalam perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Pesisir Utara Jawa, utamanya di Cirebon, mengubah watak penduduknya menjadi terbuka dan berbicara teus terang (apa adanya) dalam mengutarakan perasaannya," tulisnya.

Oleh karena itu, nilai dan makna yang terkandung dalam seni Tarling lebih diarahkan pada segi hiburan, namun disertai dengan syair-syair yang menceritakan ketabahan dalam menghadapi penderitaan. "Itu jadi gaya yang disukai oleh orang-orang Pantura, mulai dari nelayan sampai petani, karena lebih mengena (melalui syair-syairnya)," ujar Suwarjono.

Syairnya ditulis dengan menggunakan basa Cêrbon atau bahasa Cirebon. Salah satu contoh kutipan syair dari lagu berjudul Diusir Laki ciptaan Almin Said.

Apa nasibe badan (Bagaimana nasib diri)
Laki doyan demenan (Suami suka pacaran)
Sekien kawin maning (Sekarang menikah lagi)
Ning kula ora eling (Tapi aku tidak tahu)

Kula kien diusir (saya sekarang diusir)
Ning laki konkong nyingkir (sama suami disuruh pergi)
Megat tanpa lantaran (Cerai tanpa alasan)
Bli eman keturunan (Tidak sayang keturunan/anak-anak)

Lirik dan syairnya begitu menyayat hati, keluar dari perasaan penggubahnya. Gaya bahasa yang digunakan sangat terbuka dan apa adanya. Itu menjadi identitas tersendiri bagi musik tarling, yang tentunya dipengaruhi kondisi geografis dan masyarakat pendukungnya.

Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/read/132920869/tarling-musik-khas-indramayu-tentang-ketabahan-dalam-penderitaan?page=all

Sosok di Dalam Boneka Ondel-ondel

Oleh:Ria Intani T.
(BPNB Jabar)

Ondel-ondel merupakan boneka raksasa. Boneka Ondel-ondel hanya bisa bergerak apabila ada yang menggerakkannya. Penggeraknya adalah orang yang mengusung boneka Ondel-ondel. Siapa mereka? sampai saat ini pengusung boneka Ondel-ondel masih didominasi kaum laki-laki. Hal ini tidak mengherankan mengingat bobot boneka Ondel-ondel cukup berat. Boneka Ondel-ondel mempunyai beban berat berkisar 20-25 kg.

Selain laki-laki, pengusung boneka Ondel-ondel sebaiknya juga mempunyai postur tubuh yang tinggi mengingat boneka Ondel-ondel cukup tinggi. Ketinggiannya berkisar 2.5 m dengan diameter tubuhnya berkisar 80 cm. Selain itu, pengusung boneka Ondel-ondel juga harus mempunyai stamina yang prima. Sebabnya, seorang pengusung harus mampu mengusung boneka Ondel-ondel sambil berjalan dan sambil sesekali menggerakkan boneka tersebut layaknya seperti menari mengikuti irama musik.

Walaupun, gerakan badannya ”hanya” maju-mundur, ke samping kiri dan kanan, atau memutar. Kalaupun gerakan badan boneka terbatas, namun tangan boneka Ondel-ondel bisa bergerak bebas karena dipegang langsung oleh pengusungnya.
Salah satu gerakan yang memerlukan tenaga ekstra bagi pengusung boneka Ondel-ondel adalah pada saat mengikuti irama musik yang cepat dan dinamis. Seirama dengan musiknya, di sini Ondel-ondel harus pula bergerak cepat sambil berputar-putar.

Tidak ada spesialisasi untuk pengusung boneka Ondel-ondel. Artinya, pengusung boneka Ondel-ondel bisa bertukar peran dengan pemain musik pengiring. Meskipun demikian, pertukaran ini harus memenuhi kriteria sebagai seorang pengusung, setidaknya staminanya prima. Sebagaimana boneka Ondel-ondel yang berpasangan maka jumlah pengusung boneka Ondel-ondel pun dua orang. Namun demikian dalam setiap tampilan diperlukan cadangan minimal dua orang pula. Cadangan ini diperlukan karena seorang pengusung boneka Ondel-ondel rata-rata hanya mampu mengusung boneka Ondel-ondel sekitar 15 menit dan maksimal 30 menit. Bukan saja karena bobot bonekanya, melainkan juga karena udara di dalam badan boneka itu panas.

Usia pengusung boneka Ondel-ondel di suatu sanggar ada kalangan remaja, mereka duduk di bangku SMP dan SMA. Keterlibatan generasi muda tersebut selain faktor keturunan, juga lingkungan. Selain merupakan anggota keluarga pegiat Ondel-ondel, juga anak-anak muda yang ada di lingkungan sekitarnya. Mereka bahkan bukan saja orang Betawi, melainkan ada orang Jawa, Padang, dan Batak. Awalnya mereka sekadar coba-coba, kemudian merasa asik memainkan.

Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/sosok-di-dalam-boneka-ondel-ondel/

Ngajodang di Pangandaran

Oleh :Irvan Setiawan
(BPNB Jabar)

Sungai atau danau di wilayah pesisir merupakan salah satu tempat berkumpul dan berkembang biaknya beragam satwa air termasuk beragam jenis ikan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakat di wilayah pesisir terutama para nelayan atau para pemancing sangat mengetahui akan hal itu. Dengan membawa peralatan menangkap ikan, mereka kemudian memilih lokasi yang sekiranya menjadi tempat berkumpulnya ikan. Selain alat pancing sebagaimana yang banyak digunakan oleh para pemancing, warga pesisir yang telah menghuni wilayah pesisir sejak lama memiliki kebiasaan untuk menggunakan peralatan tradisional dalam menangkap ikan. Salah satunya adalah seperti yang digunakan oleh warga di pesisir selatan kabupaten Pangandaran. Mereka telah sejak lama menangkap ikan dengan cara ngajodang.

Ngajodang berasal dari kata “jodang” atau “sirib”, yaitu peralatan menangkap ikan tradisional berupa jaring yang diberi kerangka bambu berbentuk segi empat. Sirib atau nyirib dapat diartikan sama dengan jodang. Bedanya adalah sirib lebih kecil daripada jodang. Ukuran jodang bisa mencapai 12 meter persegi, sedangkan sirib ukurannya jauh lebih kecil, namun prinsip kerja sirib adalah sama dengan jodang.

Proses pertama dalam membuat jodang adalah mencari lokasi yang sekiranya banyak terdapat ikan. Ukuran jodang yang besar membuat pencarian lokasi harus berada di wilayah sungai yang cukup besar. Setelah dirasa mendapatkan lokasi yang tepat, mereka lalu membuat semacam dermaga kecil yang berfungsi sebagai pijakan alat ungkit jodang. Jaring jodang ditautkan ke tiang bambu berukuran lumayan panjang. Pada bagian tengah tiang bambu ditaruh di pengungkit. Pada saat dirasa ikan sudah mulai berkumpul dalam jodang, mereka kemudian mulai mengungkit jodang dengan cara menarik tali yang telah tersemat di ujung jodang. Digunakannya tali karena posisi ujung bambu yang cukup tinggi sehingga tidak dapat diraih dengan tangan. Setelah ditarik, ujung tiang bambu kemudian diikat. Sementara jodang yang berada di ujung bambu satunya lagi yang berada sekitar sepertiga lebar sungai juga ditarik karena tidak dapat dijangkau dengan tangan.

Jaring jodang adalah sebagaimana biasanya jaring yang digunakan untuk menjala ikan. Bedanya. Jaring jodang berbentuk bujursangkar. Keempat sudut jaring diikatkan pada dua bambu berukuran kecil namun liat. Dengan demikian. Satu bambu diikatkan pada dua sudut jaring dan satunya lagi juga sama namun dipasang secara menyilang. Saat ini, ada juga masyarakat yang menggunakan besi behel untuk menggantikan bambu karena dianggap lebih lentur dan tidak mudah patah ketika ditarik. Titik silang dari kedua bambu tersebut kemudian ditautkan pada tiang bambu berukuran lumayan panjang. Masyarakat di Kabupaten Pangandaran saat membuat jodang biasanya menggunakan jenis bambu bokor atau bambu bitung. Meskipun ukuran jodang cukup besar namun pengoperasiannya cukup dilakukan oleh satu orang saja. Hasil yang diperoleh dari jodang tergantung dari cuaca dan musim ikan. Namun demikian, udang akan selalu ada dalam hasil tangkapan jodang tersebut. Upaya untuk menghasilkan ikan dalam jumlah banyak tidak dapat dilakukan dalam sistem jodang karena pola pengoperasian yang bersifat statis artinya tidak dapat memindahkan jodang secara fleksibel. Oleh karena itu, tangkapan jodang biasanya tidak dari jenis ikan tertentu saja namun bervariasi.

Hasil tangkapan biasanya tidak berlimpah dalam satu kali angkatan. Maka dari itu, biasanya mereka cukup membawa keranjang berukuran sedang yang terbuat dari anyaman bambu. Selain itu, peralatan yang dibawa saat hendak mengangkat jodang adalah berupa jaring yang diikat pada bambu berukuran sekitar 1-2 meter yang berfungsi sebagai alat untuk mengambil hasil tangkapan dalam jaring jodang. Ataupun digunakan untuk membersihkan sampah yang masuk dalam jaring jodang.

Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/ngajodang-di-pangandaran/

Pindang Gunung

Oleh:  Irvan Setiawan
(BPNB Provinsi Jabar)

Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu wilayah kab/kota dalam Provinsi Jawa Barat yang diresmikan pada tanggal 25 Oktober 2012. Sebagai wilayah yang identik dengan unsur kepariwisataan, Kabupaten Pangandaran menyimpan beragam kekayaan budaya yang memang ada sejak dahulu. Salah satu dari kekayaan budaya tersebut adalah pindang gunung. Awal mula keberadaan sajian pindang gunung tidak dapat diketahui secara pasti baik melalui pencarian data primer maupun data sekunder. Dari data primer, diperoleh informasi bahwa pindang gunung sudah dikenal dari orangtuanya sejak tahun 1975. Pada waktu itu, pindang gunung masih belum begitu populer pada masyarakat Pangandaran. Awal kepopuleran pindang gunung yaitu sejak berdirinya Kabupaten Pangandaran (2012). Proses pencarian ikon budaya khas Pangandaran menemukan adanya kuliner tradisional bernama pindang gunung yang kemudian diangkat menjadi salah satu ikon budaya khas Pangandaran.

Sebagai salah satu kuliner khas pangandaran, nama pindang gunung kerap disalahartikan. Kata “pindang” dalam definisi umum merupakan jenis ikan yang diawetkan. Berbeda halnya dengan definisi “pindang” dalam pindang gunung yang merupakan sejenis sayur berbahan dasar ikan laut. Jadi, kata “pindang” dalam hal ini dapat diidentikkan dengan kata “angeun” dalam bahasa sunda. Sementara itu, kata “gunung” dalam pindang gunung didasarkan pada bumbu-bumbu kuliner pindang gunung yang diperoleh dari wilayah pinggiran (dataran tinggi/gunung). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa nama pindang gunung merupakan salah satu kuliner yang berbentuk sayur ikan dengan bumbu-bumbu yang berasal dari daerah atau wilayah pegunungan, seperti : daun kedongdong, buah honje (kecombrang), kunyit, dan cabe rawit. Ikan sebagai bahan utama pada waktu itu rata-rata diambil dari hasil laut yang masih segar. Rasa yang ditawarkan kuliner pindang gunung ini adalah kesegaran yang berasal dari paduan rasa asam, gurih, dan pedas.

Pada awalnya, pindang gunung merupakan kuliner yang menjadi konsumsi harian masyarakat pinggiran (dataran tinggi atau pegunungan). Seiring dengan perkembangan zaman, pindang gunung mulai dikenal dan digemari oleh masyarakat di wilayah pesisir. Wilayah pesisir yang identik dengan wilayah pantai membuat sajian pindang gunung mengalami perubahan pada jenis ikan. Masyarakat pantai yang lebih menggemari ikan laut dari jenis tertentu kemudian diadaptasikan pada kuliner pindang gunung. Jenis ikan laut yang disukai dijadikan bahan utama kuliner pindang gunung di antaranya ikan kakap, kue, kerapu, dan tongkol.

Proses pengolahan kuliner pindang gunung pada awalnya hanya menggunakan bumbu yang terdiri dari buah honje, daun kedongdong, kunyit, dan cabe rawit. Seluruh bumbu tersebut berikut dengan ikan sebagai bahan utama dibersihkan tanpa dihaluskan (diulek) terlebih dahulu. Didihkan air dalam panci lalu seluruh bumbu dan ikan di-gebrus (dituangkan semua) kemudian taburi garam secukupnya. Setelah matang lalu sajikan.

Saat ini, banyak inovasi yang dilakukan pada kuliner pindang gunung. Salah satunya adalah dengan cara menggoreng ikan terlebih dahulu sebelum dicampur dengan kuah bumbu. Inovasi lainnya adalah melalui penggunaan bahan terasi yang diulek bersama dengan garam, cabe rawit, dan buah honje, kemudian masukan ke dalam air mendidih bersama dengan ikan dan daun kedongdong.

Pindang gunung adalah kuliner yang tidak mengandung unsur sakral. Kuliner pindang gunung diciptakan dengan menggunakan bahan-bahan (bumbu) yang diperoleh dari lingkungan alam dan perilaku Keseharian masyarakat (pantai). Dengan demikian, nilai dan makna yang terkandung dalam kuliner pindang gunung hanyalah pada upaya pemanfaatan kekayaan alam. Setelah pindang gunung populer dan menjadi ikon budaya masyarakat Kabupaten Pangandaran pindang gunung memiliki nilai ekonomi. Terlihat dari banyaknya warung makan, restoran dan hotel sepanjang pantai pangandaran yang kerap menyajikan kuliner pindang gunung.

Upaya pemerintah daerah Kabupaten Pangandaran dalam melestarikan kuliner khas Pangandaran ini adalah dengan mengikutsertakannya pada event-event besar, seperti festival kuliner pindang gunung. Bahkan, dalam festival kuliner tersebut telah tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Acara yang digelar oleh Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Padjajaran (UNPAD) Pangandaran, pada tanggal 24 November 2018 berhasil menyajikan 2018 porsi pindang gunung (sindonews, 2018).
Hasil yang diperoleh dari upaya pelestarian yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pengandaran dapat dikatakan sangat memuaskan. Saat ini, sajian pindang gunung dapat dengan mudah dijumpai di berbagai warung makan, restorant, dan hotel-hotel di wilayah Kabupaten Pangandaran.

Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/pindang-gunung/

Berkenalan dengan Hui Cilembu: Si Madu dari Sumedang

Oleh: TiaraSugihHartati

Alkisah, seorang raja dari kerajaan Sumedanglarang melakukan penyamaran menjadi seorang kakek pengembara demi melihat secara langsung keseharian rakyatnya. Kala itu, ia melihat rakyatnya sedang memanen ubi jalar. Warga yang melihat seorang pengembara renta lantas menyilakan kakek tersebut untuk berisitirahat dan menyuguhinya dengan kudapan ubi bakar hasil panen. Sang raja yang senang mendapatkan perlakuan ramah tersebut pun berucap "Kelak, ubi manis nan legit ini akan mengangkat dan membuat sejahtera rakyat dan ubi ini tidak akan bisa ditanam di tempat lain." Begitulah kiranya salahsatu cerita yang berkembang di masyarakat Sumedang tentang Hui Cilembu.

Sebelum cerita tentang Hui Cilembu mari berkenalan dengan Kabupaten Sumedang yang menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sumedang memiliki luas wilayah mencapai 155.871,98. Secara geografis Sumedang terletak di daerah pegunungan Priangan, bagian pedalaman tengah Jawa Barat.

Secara geografis Kabupaten terletak antara 6o 44 ' 7 o 83 ' Lintang Selatan san 107 21 ' Bujur Timur yang berbatasan di sebelah Timur dengan Kabupaten Majalengka, di sebelah Selatan berbatasan dengan Garut dan Bandung. Barat dengan Bandung dan Subang dan di sebelah Utara berbatasan dengan Indramayu juga Majalengka.

Sumber sejarah mengungkapkan hari jadi Kabupaten Sumedang yang diperingati setiap tanggal 22 April erat kaitannya dengan kejadian sejarah dilantiknya Prabu Geusan Ulun sebagai raja dari Kerajaan Sumedanglarang. Konon, pada masa kepemimpinannya lah Sumedang mencapai puncak kejayaannya. Secara historis pada akhir abad ke-16 di daerah ini telah dikenal kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Padjajaran yang dihancurkan oleh kerajaan Islam Banten.

Pembaca yang ingin mencari tahu lebih lengkap lebih lengkap mengenai sejarah ini bisa membaca buku berjudul "Budaya Spiritual Masyarakat Sunda" yang diterbitkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung pada bagian Palintangan (Ilmu Perhitungan Nasib Orang Sunda) bagian gambaran umum yang ditulis oleh Agus Heryana.

Berbicara tentang suatu daerah maka kita akan membicarakan tentang budaya yang ada disana sebagai ciri khas pembeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sumedang memang memesona karena budayanya.

Masyarakatnya yang didominasi oleh petani menjadikan wilayah ini juga memiliki tradisi unik berupa upacara adat dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas kelimpahan panen yang didapat. Upacara ini bernama Upacara Ngarot yang dilaksanakan oleh warga desa karedok kecamatan Jati Gede. Kalau di Kecamatan Rancakalong namanya Upacara Nyalin. Esensinya sama yakni sebagai wujud rasa syukur warga kepada Pencipta atas kelimpahan panen.

Dari sekian banyaknya produk budaya berupa adat istiadat, musik, juga tari. Produk budaya berupa makanan khas bernama hui Cilembu paling menjadi perhatian kali ini. Nampaknya "Hui Cilembu" atau dalam bahasa Indonesia berarti ubi menjadi produk termasyhur dalam maupun luar negeri andalan dari Sumedang.

Hal ini mendorong Tria, seorang Mahasiswi Keperawatan di salahsatu mahasiswi kesehatan di Bandung untuk mengunjungi desa penghasil hui Cilembu. Ia menganggap perjalanannya kali ini menjadi perjalanan yang impulsif. Tidak direncanakan sebelumnya. "Sekalian aja pengen tau desa Cilembu, da aku udah kagok ada di Cibiru habis ada urusan tiba-tiba pengen aja gitu makan ubi ini di desanya, sekalian ngeliat kaya apa sih desa Cilembu teh".

Sepanjang perjalanan menggunakan sepeda motor miliknya, ia mengaku terbayang banyaknya warga yang membuka warung dan menjajakan hui Cilembu. Sambil memakan ubi panggang nan legit itu, ia juga membayangkan matanya tak akan bisa luput dari hamparan tanaman ubi yang mendominasi.

Itulah kiranya ekspektasi Tria saat pertama kali memutuskan untuk berkunjung kesana. Tapi kenyataan memang kadang tak sesuai dengan harapan. Sesampainya di desa tersebut, tak banyak penjual yang ia temukan. Dihitung jari yang terhitung hanya 6 rumah yang menjualnya. "Masa hanya sedikit yang jualan ?", ungkapnya.

Jalan menuju desa Pamijahan ditempuh dengan kondisi jalan yang naik turun ditempuhnya demi mencicipi ubi manis nan legit berjuluk "Si Madu". Dari sekian banyak penjual, Tria memutuskan memilih satu warung yang menjajakannya.

Memang, sebelum sampai di desa tersebut sebenarnya sudah banyak toko oleh-oleh di pinggir jalan sekitaran Cibiru yang menyediakan hui langsung dari oven. Tapi ia tetap pada pendiriannya untuk melihat suasana kampung penghasil ubi terkenal tersebut. Tria mengaku perjalanannya menjadi spesial namanya juga wisata dadakan buat mengenal budaya daerah.

Usut punya usut, hui Cilembu yang berasal dari Desa Cilembu Kecamatan Pamijahan Kab.Sumedang termasuk ke dalam kategori ubi jalar yang nampaknya menjadi salahsatu komoditas ekspor ke berbagai negara seperti Hongkong dan Unit Emirat Arab. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 menyebutkan ekspor ubi jalar dari Provinsi Jawa Barat mencapai 194 kwintal per tahunnya.

Pantas saja tak banyak warga lokal yang sengaja membuka warung ubi bakar Cilembu. Nampaknya kebanyakan dari warga menanam dan menjualnya dalam bentuk mentahan. Entah untuk dipasarkan ke berbagai daerah ataupun diekspor ke luar negeri. Konon katanya, ubi dari desa ini tidak akan semanis jika ditanam di Cilembu. Si Madu menjadi julukan ubi ini karena setelah melalui proses pemanggangan atau pembakaran maka akan keluar cairan seumpama madu yang legit.

Fakta menarik yang membuat orang lain penasaran. Banyak peneliti juga yang mencoba mencari tahu akan hal ini. Salah seorang mahasiswa dari Magister Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung juga sempat meneliti tentang kandungan komposisi tanah yang menjadi media tanam ubi ini.

Penelitiannya yang berjudul "Keanekaragaman Bakteri Rizosfer Pemacu Pertumbuhan Tanaman (Plant Growth Promoting Rhizobacteria/PGPR) selama Pertumbuhan Ubi Jalar Cilembu (Ipomoea batatas L var. Rancing)" tahun 2016 berkesimpulan bahwa bagian dari tanaman bernama rizofer (daerah yang dekat dengan akar tanaman yang tersedia di dalamnya gula sederhana dan asam amino untuk kelangsungan hidup mikroorganisme yang terdiri atas tanaman, tanah, mikroorganisme, nematoda dan protozoa) dalam ubi jalar Cilembu didominasi oleh bakteri jenis Bacillus. Jadi, bakteri inilah dan komposisi tanah subur daerah inilah yang menjadikan ubi jenis ini sangat manis.

Persoalannya, Sumedang sudah memiliki komoditas ubi jalar yang sangat potensial tentu sangat perlu dukungan juga sokongan lebih banyak dari pemerintah. Dari mulai pemerintahan setingkat warga, desa, kecamatan, kabupaten hinggan Kementerian Pertanian juga Kementerian Perdagangan dan Pariwisata untuk memberi nilai lebih.

Agrobisnis ubi cilembu untuk memberikan nilai ekonomi bagi warga secara lebih optimal dari sekadar menanam dan memanennya dalam bentuk mentah. Agrowisata untuk memperkuat nilai potensi pariwisata. Juga berbagai perbaikan dan pembinaan lainnya. Nampaknya hal ini sudah diupayakan oleh banyak pihak. Apa yang diupayakan oleh semoga berbuah kebaikan. Masyarakat Cilembu pun semakin sejahtera.

Jalan menuju desa Pamijahan ditempuh dengan kondisi jalan yang naik turun ditempuhnya demi mencicipi ubi manis nan legit berjuluk "Si Madu". Dari sekian banyak penjual, Tria memutuskan memilih satu warung yang menjajakannya.

Memang, sebelum sampai di desa tersebut sebenarnya sudah banyak toko oleh-oleh di pinggir jalan sekitaran Cibiru yang menyediakan hui langsung dari oven. Tapi ia tetap pada pendiriannya untuk melihat suasana kampung penghasil ubi terkenal tersebut. Tria mengaku perjalanannya menjadi spesial namanya juga wisata dadakan buat mengenal budaya daerah.

Usut punya usut, hui Cilembu yang berasal dari Desa Cilembu Kecamatan Pamijahan Kab.Sumedang termasuk ke dalam kategori ubi jalar yang nampaknya menjadi salahsatu komoditas ekspor ke berbagai negara seperti Hongkong dan Unit Emirat Arab. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 menyebutkan ekspor ubi jalar dari Provinsi Jawa Barat mencapai 194 kwintal per tahunnya.

Pantas saja tak banyak warga lokal yang sengaja membuka warung ubi bakar Cilembu. Nampaknya kebanyakan dari warga menanam dan menjualnya dalam bentuk mentahan. Entah untuk dipasarkan ke berbagai daerah ataupun diekspor ke luar negeri. Konon katanya, ubi dari desa ini tidak akan semanis jika ditanam di Cilembu. Si Madu menjadi julukan ubi ini karena setelah melalui proses pemanggangan atau pembakaran maka akan keluar cairan seumpama madu yang legit.

Fakta menarik yang membuat orang lain penasaran. Banyak peneliti juga yang mencoba mencari tahu akan hal ini. Salah seorang mahasiswa dari Magister Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung juga sempat meneliti tentang kandungan komposisi tanah yang menjadi media tanam ubi ini.

Penelitiannya yang berjudul "Keanekaragaman Bakteri Rizosfer Pemacu Pertumbuhan Tanaman (Plant Growth Promoting Rhizobacteria/PGPR) selama Pertumbuhan Ubi Jalar Cilembu (Ipomoea batatas L var. Rancing)" tahun 2016 berkesimpulan bahwa bagian dari tanaman bernama rizofer (daerah yang dekat dengan akar tanaman yang tersedia di dalamnya gula sederhana dan asam amino untuk kelangsungan hidup mikroorganisme yang terdiri atas tanaman, tanah, mikroorganisme, nematoda dan protozoa) dalam ubi jalar Cilembu didominasi oleh bakteri jenis Bacillus. Jadi, bakteri inilah dan komposisi tanah subur daerah inilah yang menjadikan ubi jenis ini sangat manis.

Persoalannya, Sumedang sudah memiliki komoditas ubi jalar yang sangat potensial tentu sangat perlu dukungan juga sokongan lebih banyak dari pemerintah. Dari mulai pemerintahan setingkat warga, desa, kecamatan, kabupaten hinggan Kementerian Pertanian juga Kementerian Perdagangan dan Pariwisata untuk memberi nilai lebih.

Agrobisnis ubi cilembu untuk memberikan nilai ekonomi bagi warga secara lebih optimal dari sekadar menanam dan memanennya dalam bentuk mentah. Agrowisata untuk memperkuat nilai potensi pariwisata. Juga berbagai perbaikan dan pembinaan lainnya. Nampaknya hal ini sudah diupayakan oleh banyak pihak. Apa yang diupayakan oleh semoga berbuah kebaikan. Masyarakat Cilembu pun semakin sejahtera.

Sumber: https://www.kompasiana.com/tiarasugihhartati/5fd741188ede48352a6b5f92/berkenalan-dengan-hui-cilembu-si-madu-dari-sumedang?page=all

Contoh Kearifan Lokal Masyarakat Sunda di Jawa Barat

Oleh: Ilham Choirul Anwar

Indonesia memiliki banyak suku yang tersebar di berbagai daerah. Keunikan suku-suku ini yaitu memiliki budaya yang khas dan sering kali berbeda dengan suku lainnya. Kekhasan tersebut lantas menjadikan setiap suku memiliki kearifan lokal dalam kehidupan bermasyarakat. 

Istilah kearifan lokal kerap diserupakan dengan kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge), atau kecerdasan setempat (local genious). 

Kearifan lokal adalah semua bentuk keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002). Kearifan lokal menjadi sebuah sarana mengolah kebudayaan dan mempertahankan diri dari kebudayaan asing yang tidak baik. 

Kearifan lokal menjadi pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi dengan wujud aktivitas yang dilakukan masyarakat lokal.

Bentuk kearifan lokal cukup beragam. Ia tertuang dalam adat istiadat, tata aturan/norma, budaya, bahasa, kepercayaan, hingga kebiasaan sehari-hari. Adanya kearifan lokal ini membuat kehidupan bermasyarakat lebih bernilai. 

Kearifan Lokal Masyarakat Sunda dan Contohnya
Suku Sunda mendominasi wilayah Provinsi Jawa Barat. Fakta ini terlihat dari bahasa daerah yang dipakai mayoritas warga di provinsi itu, yakni bahasa Sunda. 

Di masyarakat Sunda, banyak kearifan lokal berkembang serta beragam, baik berkaitan dengan petuah kehidupan, menjaga alam, dan lain sebagainya. 

Dalam hal petuah hidup, misalnya, masyarakat Sunda memiliki kearifan lokal berupa nukilan atau kutipan. Nukilan ini berhubungan dengan anjuran dan larangan dalam hidup bermasyarakat. 

Nukilan sebagai salah satu kearifan lokal yang menjadi peninggalan peradaban masa lalu. Menurut Sudjana dan Sri Hartati, dalam Nukilan Kearifan Lokal Suku Sunda Berupa Anjuran dan Larangan (PESAT, 2011), setidaknya ada 317 nukilan yang berkembang di masyarakat Sunda. 

Semuanya dapat diklasifikasikan berupa anjuran dan larangan, yang sebagian besar bersumber dari naskah klasik ataupun sumber tertulis lainnya. 

Contoh nukilan anjuran yaitu "Indung suku ge moal dibejaan" yang berarti "Ibu jari pun tak akan diberi tahu." Nukilan ini adalah anjuran untuk berkomitmen saat menjaga rahasia ketika seseorang diberikan amanah untuk hal itu. 

Sementara itu contoh nukilan larangan yaitu "Dikungkung teu diawur, dicangcang teu diparaban (Dikurung tidak dirawat, diikat tidak diberi makan)". Petuah ini ditujukan pada suami yang tidak merawat istrinya dengan menafkahinya. Setiap suami yang punya tanggung jawab tidak akan memperlakukan istri seperti itu. 

Kearifan lokal suku Sunda lainnya terlihat dari budaya mengurangi risiko bencana. Masyarakat Sunda memiliki bangunan rumah bambu tahan gempa. Dalam sebuah eJurnal UPI disebutkan, bahan rumah ini 80 persen memakai bambu dan bahan alami lainnya. Ketahanannya bahkan mencapai lebih dari 20 tahun dan masih kokoh.

Kelebihan rumah bambu khas Suku Sunda yaitu tahan terhadap guncangan saat gempa. Bambu memiliki sifat fleksibel dan lentur. Jika saja rumah bambu roboh akibat gempa, risiko korban jiwa juga lebih rendah dibanding kasus serupa di rumah tembok. 

Contoh kearifan lokal masyarakat Sunda lainnya diulas di artikel "Kearifan Lokal Masyarakat Sunda dalam Memitigasi Bencana dan Aplikasinya sebagai Sumber Pembelajaran IPS Berbasis Nilai," yang dimuat Jurnal Penelitian Pendidikan (Vol 14, No 2, 2014) terbitan LPPM UPI. 

Artikel ilmiah karya Enok Maryani dan Ahmad Yani tersebut merupakan hasil riset di enam lokasi komunitas adat di Jawa Barat dan Banten. 

Keenam lokasi penelitian kearifan lokal itu adalah Desa Pangandaran (Pangandaran, Jawa Barat; Kampung Kuta (Ciamis, Jawa Barat); Kampung Naga (Tasikmalaya, Jabar); Desa Kanekes (Lebak, Banten); dan Kasepuhan Ciptagelar (Sukabumi, Jawa Barat). 

Di antara kearifan lokal yang ditemukan dalam penelitian itu adalah Konsep Leuweung Kolot yang mirip dengan konsep hutan lindung sebagai kawasan yang sama sekali tidak boleh dimasuki. 

Selain itu ada konsep Leuweung Larangan yang mirip dengan hutan penyangga yaitu hutan yang dilarang dirambah atau dibuka tetapi masih boleh dimasuki dengan seizin para ketua adat.

Di Kanekes, Leuweung Larangan digunakan sebagai lokasi pemahaman para pu’un atau ketua adat sehingga menambah kewibawaan hutan. 

Kearifan lokal di masyarakat Jawa Barat (Sunda) juga bisa ditemukan di sejumlah dongeng yang mengandung nilai-nilai yang positif untuk membentuk karakter anak-anak. 

Contoh cerita rakyat yang sering didongengkan kepada anak-anak di masyarakat Sunda misalnya, ialah dongeng sasakala gunung tangkuban parahu, dongeng si kabayan, dongeng kancil dan kura-kura, serta banyak lainnya. 

Dongeng-dongeng itu mengandung pesan-pesan moral yang bisa dijadikan cerminan anak-anak dalam menjalani hidup, demikian dijelaskan dalam salah satu karya ilmiah terbitan Badan Bahasa, Kemdikbud.

Peribahasa yang hidup di masyarakat Sunda (Jawa Barat) juga banyak yang memuat nilai-nilai kearifan lokal. Sejumlah contohnya diulas artikel ilmiah "Nilai Kearifan Lokal dalam Peribahasan Sunda: Kajian Semiotika" karya Siti Kodariah dan Gugun Gunardi yang dimuat Jurnal Patanjala (Vol 7, No 1, 2015) terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. 

Contoh kearifan lokal Sunda termuat dalam peribahasa "cul dogdog tinggal igel" yang mengandung ajaran moral bahwa orang yang serakah dan lupa diri akan tercela di masyarakat dan dianggap tidak bertanggung jawab. 

Kearifan lokal Sunda lainnya ada di peribahasa "nété tarajé nincak hambalan" yang mencerminkan pandangan mengenai ketertiban dan kedisiplinan dalam mencapai suatu maksud yang diinginkan.

Sumber: https://tirto.id/contoh-kearifan-lokal-masyarakat-sunda-di-jawa-barat-gbtp

Tradisi Kesenian Ronggeng Pangandaran yang Berjuang Menantang Zaman

Secara kebahasaan, Ronggeng berasal dari kata renggana yang berarti perempuan pujaan dalam bahasa Sansekerta. Tak diketahui pasti bagaimana asal mula kesenian Ronggeng di Pangandaran hingga dapat bertahan seperti saat ini.

Namun menurut Gilang Campaka lewat skripsinya berjudul Lagu Kudup Turi dalam Kesenian Ronggeng Gunung di Ciamis Selatan, diperkirakan kesenian ini sudah ada sejak abad VII pada masa Kerajaan Galuh. Tariannya berperan sebagai penghibur tamu kerajaan yang berkunjung.

Dikisahkan pula dalam legenda Dewi Siti Samboja dari Kerajaan Pananjung yang menyamar sebagai penari ronggeng. Karena tewasnya sang suami, Raden Anggelarang, dalam penyamarannya di pegunungan Pangandaran ia mengungkapkan kesedihannya lewat lagu Manangis.

Senandung itu kemudian menjadi bagian dalam pertunjukkan ronggeng dan dianggap sebagai salah satu asal-usulnya.

Tetapi versi lainnya, menurut Ria Andayani lewat bukunya, Ronggeng Gunung: Menggali Seni Tradisi bagi Pengembangan Pariwisata dan Seni Modern di Kabupaten Ciamis, bahwa tarian ini diciptakan oleh Raden Sawung Galing. Raden Sawung Galing sendiri merupakan bala bantuan dari Galuh untuk menyelamatkan Pananjung yang kemudian menjadi raja.

Ketika berkuasa, ia membuat tarian sebagai sarana hiburan resmi bernama Ronggeng Gunung. Seleksi penarinya pun cukup ketat dengan syarat cantik, mampu menari dan menyanyi, serta terpandang.

Kesenian ini juga tercatat di masa penjajahan oleh bangsa Eropa, termasuk Gubernur Jenderal Stamford Thomas Raffles dalam bukunya The History of Java. Ia menulis, Ronggeng merupakan pertunjukkan keliling yang dilakukan oleh perempuan yang berasal dari gunung. Pertunjukannya biasa dilakukan di ruang publik, bahkan di tempat tinggal para bangsawan dan penguasa kolonial.

Pada pementasan Ronggeng Gunung, perempuan memiliki banyak peran, seperti sebagai penari sekaligus penyanyi. Seorang Ronggeng juga berperan sebagai pemimpin sejumlah ritual acara yang melibatkan pementasan ini.

Euis Thresnawaty dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat dalam Raspi, Sang Maestro Ronggeng Gunung (jurnal Panjalu Vol.8 No 2 2016) menulis bahwa untuk menjadi seorang ronggeng tidak memiliki batasan umur.

Tidak mudah bagi setiap perempuan untuk menjadi ronggeng karena memiliki seleksi ketat. Tetapi syarat berparas cantik tak lagi menjadi syarat penting untuk menjadi ronggeng seperti di masa lalu.

Syarat itulah yang membuat profesi ronggeng hingga kini jadi langka. Kesulitan utama, menurut Euis, ialah kemampuan berolah vokal yang unik.

"Perempuan muda di Ciulu misalnya, lebih memilih menjadi penyanyi dangdut atau penaynyi organ tunggal daripada menjadi ronggeng," tulisnya. "Mereka tidak memiliki kesabaran lebih untuk mendapatkan kemampuan menyanyi seperti itu."

Ronggeng Gunung yang sebelumnya menjadi ritual untuk kesuburan pertanian, kemudian berkembang seiring waktu. Nina Herlina Lubis dan Undang Ahmad Darsa dari Universitas Padjadjaran menulis, bahwa perkembangan kemudian diadakan

Jika sebelumnya Ronggeng Gunung digunakan dalam ritual khususnya kesuburan pertanian, dalam perkembangannya menjadi seni pertunjukkan sebagai hiburan pasca bertani. Ketika panen usai, Ronggeng Gunung diadakan di malam hari sebagai rasa syukur.

Nina dan Undang lewat Perkembangan Ronggeng Sebagai Seni Tradisi di Kabupaten Pangandaran, mengungkapkan Ronggeng Gunung berkembang menjadi Ronggeng Amen (disebut juga dengan Ronggeng Kidul). Kehadiran Ronggeng Amen lebih populer di kalangan masyarakat Pangandaran kini.

Kepopuleran ini disebabkan karena penonton dapat ikut menari bersama ronggeng dan memberi saweran. Pementasannya pun dapat dicermati lebih meriah karena diiringi dengan gamelan kliningan dan berbagai tembang yang lebih modern.

Ronggeng Amen biasanya terdiri dari lima hingga tujuh ronggeng, dan belasan pemain musil. Penari Ronggeng Amen juga tidak berperan ganda sebagai pesinden.

Dalam hal gerakan, Ronggeng Amen juga tampak lebih bebas berekspresi dan inklusif kepada penonton. Para penonton berikutnya bisa ikut serta dalam tarian jika dikalungi sampur (selendang) dari ronggeng, dan bebas bergerak menari tanpa patokan gerakan.

Mengingat Ronggeng Gunung dan Ronggeng Amen merupakan kebudayaan khas Pangandaran. Pemerintah setempat berupaya untuk melakukan pembinaan terhadap berbagai kelompok seni Ronggeng agar lebih diterima di masa kini.

Di masa pagebluk, Kang Heri dari Balai Pelestarian Cagar Budaya [BPCB] berujar bahwa kegiatan Ronggeng terhenti sementara. Pementasan Ronggeng yang biasanya dipentaskan dalam bentuk wisata kebudayaan di Pondok Seni Kebudayaan dan Pariwisata Pangandaran, kini hanya mengisi beberapa acara seperti pernikahan dan khitanan.

"Kalau tidak pandemi, kegiatannya dilaksanakan di gedung kesenian (merujuk pada Pondok Seni), di jalan Pantai Barat. Biasa diadakan setiap malam minggu dan ramai pengunjung--baik dari dalam maupun luar [Pangandaran]." ujar Heri pada National Geographic Indonesia (16/02).

"Tapi bukan berarti mereka mati saat pandemi. Komunitas mereka banyak dan enggak selalu di gedung kesenian [untuk latihan], seperti di Sukaresik dan Babakan." (Afkar Aristoteles Mukhaer)

Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/read/132560865/tradisi-kesenian-ronggeng-pangandaran-yang-berjuang-menantang-zaman?page=all

Lampu Gentur Cianjur

Oleh:Irvan Setiawan

Lampu Gentur merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang berasal dari Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Nama Lampu Gentur berasal dari dua kata yaitu “Lampu” dan “Gentur”. Lampu diartikan secara umum yaitu sebagai alat penerang, sedangkan Gentur adalah nama lokasi awal mula diperkenalkannya karya budaya tersebut, yaitu di wilayah Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Di wilayah tersebut berdiam seorang alim ulama bernama asli Ahmad Syathibi. Gelar beliau adalah KH. Ahmad Syathibi Al-Qonturi. Masyarakat lebih mengenal beliau dengan sebutan Mama Gentur (Hasan, 2018). Ketenaran Mama Gentur (alm) sebagai sosok alim ulama membuat banyak masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk berziarah.

Awal mula pembuatan Lampu Gentur memiliki beberapa versi. Salah satu Versi menyebutkan bahwa inspirasi awal dari pembuatan Lampu Gentur berasal dari Mus’in pada tahun 1820 yang membuat lentera minyak tanah dengan memanfaatkan kaleng bekas (Gumulya, 2017: 40). Ada sumber lisan yang mengatakan bahwa kaleng yang digunakan adalah bekas kaleng susu.

Versi lainnya, menurut salah seorang informan, proses pembuatan atau penciptaan Lampu Gentur berawal dari seseorang seorang guru ngaji bernama Usin. Menurut Gumulya, guru ngaji tersebut bernama Mus’ín (2017: 40). Guru ngaji tersebut biasa mengajar anak-anak pada malam hari di tempat pengajian. Saat itu, sekitar tahun 1965, kondisi penerangan pada waktu itu sangatlah minim karena belum ada sarana penerangan listrik. Proses belajar mengaji dilakukan hanya diterangi oleh lampu centir, yaitu lampu yang menggunakan bahan bakar berupa minyak tanah yang diberi sumbu. Suasana malam hari yang berangin membuat lampu centir sangat mudah padam karena angin yang cukup kencang. Berawal dari kondisi tersebut, Usin (atau Mus’in) kemudian terinspirasi untuk membuat lampu yang tahan terhadap angin. Inspirasi awal adalah dengan memodifikasi lampu cempor atau lampu centring yang diberi selubung agar tahan terhadap angin (Hasil wawancara). Enang, dapat dikatakan sebagai generasi ketiga, mengembangkan dan mendesain ulang selubung lampu cempor yang telah dibuat Mus’in sebelumnya. Model kerangka atau selubung lampu yang dipakai untuk mendesain ulang diambil dari model lampu “Maroko”, yaitu sejenis lampu hias yang banyak dipakai di negara timur tengah. Masyarakat menyebutnya dengan istilah Lampu Maroko (Radar Cianjur, 2017).

Lampu Gentur model “baru” yang diperkenalkan oleh Enang lama kelamaan diminati oleh warga setempat. Wilayah Kampung Gentur yang banyak dihuni oleh para santri dari berbagai wilayah (bahkan dari luar Kabupaten Cianjur) secara tidak langsung menunjukan ketertarikannya dan mengabarkan keunikan atau bahkan membeli serta membawa Lampu Gentur tersebut ke daerahnya. Di samping itu, Lampu Gentur juga banyak menarik perhatian dari banyak masyarakat yang datang dari berbagai wilayah untuk berziarah ke makam Mama Gentur. Unsur ekonomi kemudian bermain dalam hal ini. Melihat prospek keuntungan dari segi ekonomi tersebut, warga yang tertarik kemudian berupaya untuk membuat Lampu Gentur. Model Lampu Gentur, yaitu Model Lampu Maroko menjadi model awal dan untuk selanjutnya dimodifikasi baik bentuk maupun pernik-pernik dan motif Lampu Gentur. Sementara untuk bahan masih tetap tidak mengalami perubahan. Begitu juga halnya dengan cara pembuatan yang masih menggunakan teknik manual. Saat ini model Lampu Gentur sudah sangat banyak, bahkan tidak terhitung jumlahnya (Radar Cianjur, 2017).

Proses dan bahan pembuatan Lampu Gentur dapat dikatakan cukup mudah namun memerlukan ketelitian dan ketekunan. Lampu Gentur terdiri dari beberapa bagian, yaitu, kerangka, wadah lampu, selubung lampu, dan pengait (apabila digantung) atau dudukan (apabila dipasang pada tiang). Pada awalnya sumber penerang pada Lampu Gentur masih menggunakan bahan minyak tanah. Saat ini, sumber penerang Lampu Gentur sudah menggunakan listrik. Dengan demikian wadah lampu pada Lampu Gentur telah disesuaikan agar dapat menggunakan bohlam berikut dudukannya.

Bahan dasar untuk membuat Lampu Gentur adalah lempengan kuningan dan kaca. Peralatan yang digunakan di antaranya jangka, penggaris, pena, Jarum ukuran besar (mirip peralatan sol sepatu), gunting seng, alat potong kaca, besi bulat kecil sepanjang kurang lebih 1 meter, dan alat patri.

Proses pembuatan tahap awal adalah membuat pola dengan menggunakan jangka, penggaris, dan jarum besar (untuk menggores pola pada lempengan kuningan). Setelah pola terbentuk kemudian digunting atau dipotong. Kerangka dibuat dengan cara membulatkan lempengan seukuran diameter paku 15 cm. Lempengan yang telah dibulatkan tersebut merupakan kerangka yang menutupi setiap kaca yang telah dipotong dengan berbagai ukuran. Setelah seluruh kaca disematkan lempengan kuningan kemudian masing-masing saling direkatkan dengan menggunakan alat patri. Begitu juga halnya dengan wadah lampu dan alat gantung atau duduk Lampu Gentur yang juga disatukan dengan menggunakan alat patri.

Setelah selesai, Lampu Gentur kemudian dipajang dengan cara digantung atau didudukan. Dari sekian banyak Lampu Gentur yang dibuat dan terjual di pasaran, ada satu keunikan tersendiri, yaitu tidak ada satupun merk yang tersemat dalam setiap produk Lampu Gentur.

Proses jual beli dilakukan dengan cara memajang Lampu Gentur di ruko atau kios-kios di sepanjang jalan Cianjur. Biasanya, pihak penjual memesan terdahulu kepada produsen kemudian menjualnya di berbagai wilayah hingga keluar Provinsi Jawa Barat. Ada juga pihak produsen yang juga berperan sebagai penjual. Salah seorang produsen Lampu Gentur ada yang memiliki kios di Provinsi Bali. Menurutnya, prospek penjualan di Bali lebih bagus daripada di wilayah Jawa Barat. Selain penjualan langsung, saat ini proses penjualan telah menggunakan sosial media, atau toko online.

Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur dalam upaya pelestarian Lampu Gentur diantaranya dengan melakukan pembinaan dan pelatihan mengenai cara membuat Lampu Gentur. Unsur promosi juga telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur. Beberapa di antaranya adalah memasang Lampu Gentur di banyak titik / lokasi strategis di wilayah pusat Kota Kabupaten Cianjur. Selain itu, yang monumental adalah pembuatan tugu Lampu Gentur di simpang empat wilayah Kota Cianjur.

Sumber Tulisan
Gumulya, Devanny; Liony Amanda Lee. 2018. “Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur dengan Pendekatan Teori Semiotik”, dalam MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 33, Nomor 1, Februari 2018 halaman 35 – 47.

Radar Cianjur, 2017. “Ternyata Seperti Ini Awal Mula Lentera Gentur di Cianjur”, dalam https://cianjur.pojoksatu.id/ tanggal 11 Agustus 2017.

Hasan, H. Abdul Hadi, 2018. “Biografi Mama Gentur”, dalam https://ltnnujabar.or.id/ tanggal 22 Juni 2018

Gong Si Bolong

Oleh: Irvan Setiawan

Gong Si Bolong adalah seni gamelan khas Kota Depok yang digunakan untuk mengiringi beberapa pertunjukan kesenian tradisional, di antaranya: jaipong, wayang kulit Betawi, dan tari tayub. Jenis iringan musik gamelan Gong Si Bolong mengacu pada seni gamelan ajeng. Namun demikian, ada kekhasan antara musik gamelan Gong Si Bolong dengan seni gamelan ajeng. Iit Septyaningsih (2014) menyebutkan bahwa seni gamelan Gong Si Bolong merupakan perpaduan antara musik Gamelan Betawi, perpaduan dari Gamelan Sunda, Melayu dan Cina.

Nama Gong Si Bolong sering diidentikkan dengan unsur mistis yang mengarah pada sosok astral yang dianggap mampu mengabulkan permohonan atau permintaan seseorang. Sepertihalnya dengan benda yang dianggap “sakti” lainnya, Gong Si Bolong merupakan salah satu instrumen alat musik berbentuk Gong namun di bagian tengah tidak ada pencon atau benjolan, alias berlubang atau dalam bahasa Betawi disebut “bolong”. Maka dari itu, benda tersebut dinamakan Gong Si Bolong.

Ada beberapa versi yang mengarah pada unsur mistis mengenai kemunculan Gong Si Bolong. Salah satu versi seperti dinyatakan oleh Ramdhani (2016: 34) bahwa Gong Si Bolong ditemukan oleh Jimin pada sekitar tahun 1750 M (sumber lain menyebut angka tahun 1648) saat mencari sumber suara gamelan yang terdengar di malam hari. Sumber suara tersebut ternyata berasal dari seperangkat alat gamelan lengkap dengan gendang dan Gong yang berlubang (diameter 10 cm) pada bagian tengahnya. Tiga buah instrumen yang dibawa oleh Jimin, yaitu Gong, Gendang, dan Bende. Gendang dan Bende tidak memiliki keanehan dari segi bentuk. Penerus/pemegang/pewaris Gong Si Bolong setelah Jimin adalah : Sanim; Galuh/Jerah; Saning; Nyai Asem; H. Bahrudin (Bagol); Kamsa S. Atmaja; Buang Jayadi. Pewaris terakhir, Buang Jayadi merawat Gong Si Bolong sejak tahun 2011 hingga sekarang (Ramdhani, 2016: 39-40).

Adapun unsur seni yang mulai dimainkan dengan menggunakan waditra Gong Si Bolong dilakukan sejak kepewarisan Galuh/Jerah, yaitu dengan memainkan musik gamelan ajeng. Saning yang merupakan anak dari Galuh/Jerah kemudian mengembangkan musik Gong Si Bolong sebagai pengiring Tari Tayub dan Tari Jaipong. Rating pertunjukan Gong Si Bolong mencapai puncak saat kepewarisan Nyai Asem. Masyarakat kala itu sangat menyukai alunan musik yang dimainkan oleh seperangkat instrumen Gong Si Bolong. Yang menarik, suara yang dihasilkan tiga waditra temuan tersebut sangat nyaring sehingga mampu terdengar hingga ke kampung sebelah. Keunikan waditra tersebut membuat masyarakat menyebutnya dengan istilah “si gledek”.

Sepeninggalnya Nyai Asem, musik Golong Si Bolong mulai meredup. Pewaris selanjutnya, yaitu H. Bahrudin, berupaya berinovasi dengan memadukan musik Gong Si Bolong untuk mengiringi Wayang Kulit Betawi dan Jaipong. Namun hal tersebut tidak cukup untuk menaikkan rating musik Gong Si Bolong. Setelah vakum beberapa lama, Kamsa S. Atmaja mencoba mengangkat lagi pamor musik Gong Si Bolong. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan cara bergabung dengan Dewan Kesenian Depok pada tanggal 18 April 2000. Alhasil, pamor musik Gong Si Bolong mulai naik. Banyak warga atau instansi yang memesan pertunjukkan Gong Si Bolong. Saat ini, pewaris musik Gong Si Bolong adalah Buang Jayadi setelah Kamsa S. Atmaja menyerahkannya pada tahun 2011 (Ramdhani, 2016: 41-42).

Regenerasi
Proses perekrutan anggota musik Gong Si Bolong dilakukan dilakukan secara kekeluargaan. Anggota baru akan diterima apabila memiliki solidaritas tinggi dan mampu memainkan lebih dari satu waditra. Musik Gong Si Bolong terdiri dari beberapa waditra, yaitu: satu set gendang; dua set saron; satu set keromong; satu set kedemung; satu set kenong; satu terompet; satu set gong; rebab; dan gambang.

Anggota Gong Si Bolong terbagi dalam dua kelompok berdasarkan gender, yaitu laki-laki dan perempuan. Laki-laki. Berperan sebagai pemain instrumen atau nayaga, sedangkan perempuan mengambil peran sebagai penari nayuban dan sinden (Ramdhani, 2016: 44). Selain regenerasi, kebertahanan musik Gong Si Bolong juga ditunjang oleh kemampuan untuk melakukan inovasi yang menjadi kunci keberhasilan musik Gong Si Bolong hingga dapat bertahan sampai saat ini. Selain itu, Pemerintah Kota Depok melalui dinas terkait juga turut membantu untuk mengangkat kembali salah satu aset warisan budaya takbenda ini Kota Depok. Tugu Gong Si Bolong adalah salah satu bukti dari upaya Pemerintah Kota Depok tersebut.

Sumber Tulisan:
Ramdhani, Wahyu, 2016. “Strategi Survival Komunitas Seni Tradisional di Era Modernisasi (Studi Kasus Komunitas Gong Si Bolong di Kota Depok)”, Skripsi, Program Sosiologi, Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Iit Septyaningsih, 2014. “Warga Depok Tampilkan Kesenian Gong Si Bolong”, dalam www.republika.co.id selasa 19 Agustus 2014

Arny Christika Putri, 2017. “STORY Pudarnya Kesenian Gong Si Bolong Asal Depok”, dalam www.liputan6.com 4 Februari 2017

Popular Posts