WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Ngajodang di Pangandaran

Oleh :Irvan Setiawan
(BPNB Jabar)

Sungai atau danau di wilayah pesisir merupakan salah satu tempat berkumpul dan berkembang biaknya beragam satwa air termasuk beragam jenis ikan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakat di wilayah pesisir terutama para nelayan atau para pemancing sangat mengetahui akan hal itu. Dengan membawa peralatan menangkap ikan, mereka kemudian memilih lokasi yang sekiranya menjadi tempat berkumpulnya ikan. Selain alat pancing sebagaimana yang banyak digunakan oleh para pemancing, warga pesisir yang telah menghuni wilayah pesisir sejak lama memiliki kebiasaan untuk menggunakan peralatan tradisional dalam menangkap ikan. Salah satunya adalah seperti yang digunakan oleh warga di pesisir selatan kabupaten Pangandaran. Mereka telah sejak lama menangkap ikan dengan cara ngajodang.

Ngajodang berasal dari kata “jodang” atau “sirib”, yaitu peralatan menangkap ikan tradisional berupa jaring yang diberi kerangka bambu berbentuk segi empat. Sirib atau nyirib dapat diartikan sama dengan jodang. Bedanya adalah sirib lebih kecil daripada jodang. Ukuran jodang bisa mencapai 12 meter persegi, sedangkan sirib ukurannya jauh lebih kecil, namun prinsip kerja sirib adalah sama dengan jodang.

Proses pertama dalam membuat jodang adalah mencari lokasi yang sekiranya banyak terdapat ikan. Ukuran jodang yang besar membuat pencarian lokasi harus berada di wilayah sungai yang cukup besar. Setelah dirasa mendapatkan lokasi yang tepat, mereka lalu membuat semacam dermaga kecil yang berfungsi sebagai pijakan alat ungkit jodang. Jaring jodang ditautkan ke tiang bambu berukuran lumayan panjang. Pada bagian tengah tiang bambu ditaruh di pengungkit. Pada saat dirasa ikan sudah mulai berkumpul dalam jodang, mereka kemudian mulai mengungkit jodang dengan cara menarik tali yang telah tersemat di ujung jodang. Digunakannya tali karena posisi ujung bambu yang cukup tinggi sehingga tidak dapat diraih dengan tangan. Setelah ditarik, ujung tiang bambu kemudian diikat. Sementara jodang yang berada di ujung bambu satunya lagi yang berada sekitar sepertiga lebar sungai juga ditarik karena tidak dapat dijangkau dengan tangan.

Jaring jodang adalah sebagaimana biasanya jaring yang digunakan untuk menjala ikan. Bedanya. Jaring jodang berbentuk bujursangkar. Keempat sudut jaring diikatkan pada dua bambu berukuran kecil namun liat. Dengan demikian. Satu bambu diikatkan pada dua sudut jaring dan satunya lagi juga sama namun dipasang secara menyilang. Saat ini, ada juga masyarakat yang menggunakan besi behel untuk menggantikan bambu karena dianggap lebih lentur dan tidak mudah patah ketika ditarik. Titik silang dari kedua bambu tersebut kemudian ditautkan pada tiang bambu berukuran lumayan panjang. Masyarakat di Kabupaten Pangandaran saat membuat jodang biasanya menggunakan jenis bambu bokor atau bambu bitung. Meskipun ukuran jodang cukup besar namun pengoperasiannya cukup dilakukan oleh satu orang saja. Hasil yang diperoleh dari jodang tergantung dari cuaca dan musim ikan. Namun demikian, udang akan selalu ada dalam hasil tangkapan jodang tersebut. Upaya untuk menghasilkan ikan dalam jumlah banyak tidak dapat dilakukan dalam sistem jodang karena pola pengoperasian yang bersifat statis artinya tidak dapat memindahkan jodang secara fleksibel. Oleh karena itu, tangkapan jodang biasanya tidak dari jenis ikan tertentu saja namun bervariasi.

Hasil tangkapan biasanya tidak berlimpah dalam satu kali angkatan. Maka dari itu, biasanya mereka cukup membawa keranjang berukuran sedang yang terbuat dari anyaman bambu. Selain itu, peralatan yang dibawa saat hendak mengangkat jodang adalah berupa jaring yang diikat pada bambu berukuran sekitar 1-2 meter yang berfungsi sebagai alat untuk mengambil hasil tangkapan dalam jaring jodang. Ataupun digunakan untuk membersihkan sampah yang masuk dalam jaring jodang.

Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/ngajodang-di-pangandaran/

Popular Posts